(Proses Menuju Lamaran dan Pernikahan)
Daehoon kembali ke Jakarta tiga bulan setelah kepulangannya ke Korea. Kali ini ia tinggal lebih lama. Ia sudah mulai belajar bahasa Indonesia dengan lebih serius. Setiap kali mereka bertemu, ia mencoba menggunakan kalimat-kalimat yang baru ia pelajari. Jule sering tersenyum mendengar logatnya yang masih kaku, tapi ia menghargai usaha itu.
Suatu sore, mereka duduk di ruang keluarga rumah Jule. Ayah dan Ibu ada di sana. Daehoon sudah beberapa kali datang berkunjung, selalu dengan sikap sopan. Hari itu ia terlihat lebih tegang dari biasanya.
“Pak, Bu,” katanya pelan, “saya ingin bicara sesuatu yang penting.”
Ayah menatapnya. “Silakan.”
Daehoon menarik napas. “Saya sudah memikirkan ini cukup lama. Saya ingin menikahi Jule. Saya tahu kami masih belum terlalu lama mengenal. Tapi saya serius. Saya siap belajar lebih banyak tentang budaya di sini. Saya siap tinggal di Indonesia. Saya juga siap memenuhi semua syarat yang Bapak dan Ibu berikan.”
Ruangan hening sejenak. Jule menunduk, jari-jarinya saling menggenggam. Ibu menatap Ayah, lalu menatap Daehoon.
“Kamu sudah bicara dengan orang tuamu?” tanya Ayah.
“Sudah, Pak. Mereka awalnya kaget. Tapi saya jelaskan semuanya. Tentang Jule, tentang keluarganya, tentang bagaimana saya ingin membangun hidup di sini. Mereka mendukung, asalkan semuanya dilakukan dengan benar.”
Ibu angkat suara. “Kamu yakin? Menikah itu tidak hanya tentang perasaan. Ada tanggung jawab. Ada perbedaan budaya. Kamu harus benar-benar siap.”
“Saya siap, Bu. Saya sudah mulai belajar agama juga. Saya ingin masuk Islam dengan sungguh-sungguh, bukan hanya karena ingin menikah. Saya ingin memahami apa yang Jule yakini.”
Jule akhirnya berbicara. “Aku juga sudah memikirkan ini, Yah, Bu. Daehoon orangnya baik. Dia tidak pernah memaksa. Dia selalu minta izin. Aku merasa nyaman.”
Ayah mengangguk pelan. “Kalau begitu, kita bicarakan lebih detail. Kamu harus bertemu keluarga kami yang lain. Dan prosesnya harus sesuai adat dan agama. Tidak ada yang terburu-buru.”
Daehoon tersenyum lega. “Terima kasih, Pak. Saya akan mengikuti semuanya.”
Setelah pertemuan itu, hubungan mereka semakin terbuka. Mereka mulai mengunggah foto bersama lebih sering. Tidak ada yang berlebihan. Hanya foto di kafe, di dapur saat Daehoon memasak, atau saat mereka berjalan di taman dengan tetap menjaga jarak yang sopan. Netizen menyambut dengan sangat antusias. Komentar membanjir. Banyak yang menulis doa. Banyak yang bilang mereka adalah “couple goals” yang unik. Followers keduanya naik signifikan.
Brand juga mulai bergerak. Salah satu brand perhiasan menghubungi mereka untuk kolaborasi khusus. Mereka ingin membuat konten tentang “perjalanan menuju lamaran.” Sebuah brand hijab lain menawarkan untuk menyponsori seluruh rangkaian acara jika lamaran benar-benar terjadi. Jule dan Daehoon mendiskusikannya bersama keluarga. Setelah disetujui, mereka menerima beberapa tawaran dengan syarat semua konten tetap sopan dan tidak berlebihan.
Proses lamaran diatur dengan sederhana namun tetap terasa istimewa. Keluarga Daehoon datang dari Korea. Mereka membawa beberapa kerabat dekat. Di rumah Jule, suasana penuh kehangatan. Daehoon mengenakan baju koko yang sudah ia siapkan. Jule memakai gamis putih bersih dengan hijab yang senada. Ketika Daehoon secara resmi menyampaikan niatnya di depan kedua keluarga, suaranya sedikit bergetar, tapi jelas.
“Saya, Na Dae-hoon, dengan ini menyampaikan niat untuk menikahi Julia. Saya berjanji akan menjaga dia, menghormati keluarganya, dan berusaha menjadi suami yang baik. Saya siap tinggal di Indonesia dan membangun rumah tangga di sini.”
Ayah Jule menjawab dengan tenang. “Kami terima niatmu. Semoga Allah memberkahi kalian berdua.”
Setelah akad nikah sederhana yang disaksikan keluarga dan beberapa teman dekat, mereka mengunggah satu foto bersama. Caption-nya singkat: “Bismillah. Menuju langkah baru.” Foto itu langsung menjadi unggahan dengan interaksi tertinggi di kedua akun. Netizen membanjiri komentar dengan ucapan selamat. Banyak yang menangis bahagia. Banyak yang bilang mereka mengikuti perjalanan ini sejak awal dari komentar iseng sampai akhirnya benar-benar terjadi.
Brand yang sudah bekerja sama dengan mereka segera menindaklanjuti. Salah satu brand besar bahkan menawarkan untuk menyponsori sebagian biaya pernikahan dengan imbalan beberapa konten eksklusif sebelum dan sesudah acara. Setelah berdiskusi panjang dengan kedua keluarga, tawaran itu diterima dengan catatan ketat: tidak ada yang melanggar batas kesopanan, dan semua keputusan akhir tetap berada di tangan keluarga.
Jule dan Daehoon semakin sering menghabiskan waktu bersama, selalu dalam pengawasan. Mereka belajar memasak bersama. Daehoon mengajar Jule beberapa resep Korea yang sudah dimodifikasi. Jule mengajarinya lebih banyak kosakata Indonesia dan kebiasaan sehari-hari. Di salah satu video yang mereka unggah, Daehoon berkata di depan kamera, “Saya senang bisa belajar di sini. Jule dan keluarganya sudah seperti rumah kedua bagi saya.”
Jule membalas dengan senyum. “Aku juga senang. Dia orang yang mau berusaha. Itu yang membuat aku yakin.”
Malam-malam sebelum pernikahan, mereka masih sering berbincang lewat pesan. Daehoon menulis, “Terima kasih sudah percaya. Saya akan jaga kamu.”
Jule membalas, “Aku juga. Kita jalani pelan-pelan. Yang penting kita jujur sama keluarga.”
Semua terasa positif. Keluarga mendukung. Netizen bahagia. Brand berlomba-lomba ingin terlibat. Jule masih merasa semuanya berjalan sesuai harapan. Ia masih bisa pulang dan cerita kepada Ayah dan Ibu. Ia masih melihat Daehoon sebagai seseorang yang tampan, pintar, dan berusaha sekuat tenaga untuk menyesuaikan diri. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa keputusan yang ia ambil bersama keluarganya adalah keputusan yang benar.
Pernikahan tinggal menunggu hari. Semua persiapan sudah hampir selesai. Di tengah sorotan yang semakin besar, Jule masih berusaha menjaga dirinya tetap seperti yang ia kenal: seorang gadis yang taat, yang masih mendengarkan orang tuanya, dan yang kini siap melangkah ke jenjang berikutnya bersama seseorang yang sudah meyakinkan kedua belah pihak keluarga. Setidaknya, pada masa itu, semuanya masih terasa indah dan penuh harapan.
(Pernikahan Mewah dan Kehidupan Setelah Menikah)
Pernikahan Jule dan Daehoon berlangsung di sebuah ballroom hotel besar di Jakarta. Segala sesuatunya diatur dengan rapi. Brand yang sudah bekerja sama sejak masa lamaran ikut menyponsori sebagian dekorasi dan dokumentasi. Warna yang dipilih lembut: putih, krem, dan sedikit aksen hijau. Jule mengenakan gaun pengantin muslimah yang menutupi seluruh tubuh, dengan hijab yang dipadukan secara elegan. Daehoon mengenakan setelan jas yang disesuaikan dengan nuansa acara. Kedua keluarga hadir. Keluarga Daehoon datang dari Korea, sementara keluarga Jule mengundang kerabat dekat dan beberapa teman dari lingkungan pesantren dulu.
Acara berlangsung khidmat. Setelah akad, mereka mengunggah beberapa foto resmi. Dalam hitungan jam, unggahan itu menjadi salah satu yang paling banyak dibicarakan. Netizen yang sudah mengikuti perjalanan mereka sejak akhir 2020 membanjiri komentar dengan ucapan selamat. Banyak yang menulis bahwa mereka merasa seperti menyaksikan cerita yang berakhir bahagia. Beberapa brand yang tidak ikut menyponsori acara pun ikut mengucapkan selamat di media sosial dan mengajak kerja sama di kemudian hari.
Beberapa minggu setelah pernikahan, undangan mulai berdatangan. Salah satu yang pertama adalah dari program talk show Rumpi No Secret. Produser menghubungi manajemen mereka dan meminta Jule serta Daehoon hadir untuk berbagi cerita tentang bagaimana mereka bertemu dan proses menuju pernikahan. Setelah berdiskusi dengan keluarga, mereka menerima.
Di studio, suasananya ramai namun tetap terkendali. Host menyambut mereka dengan hangat. Daehoon duduk di sebelah Jule, sesekali tersenyum ketika Jule berbicara.
“Jadi, sebenarnya siapa yang lebih dulu naksir?” tanya host.
Jule tertawa kecil. “Kalau dilihat dari komentar netizen, mereka yang lebih dulu memasangkan kami. Kami hanya mengikuti alurnya pelan-pelan.”
Daehoon menambahkan, dengan bahasa Indonesia yang sudah lebih lancar, “Saya yang menghubungi lebih dulu lewat DM. Tapi saya tidak menyangka akan sejauh ini. Keluarga Jule sangat baik. Mereka mengizinkan saya belajar banyak hal.”
Host kemudian bertanya tentang perbedaan budaya. Daehoon menjawab dengan jujur bahwa ia masih terus belajar, terutama soal kebiasaan sehari-hari dan cara berkomunikasi dengan keluarga besar. Jule menimpali bahwa Daehoon tidak pernah memaksa dan selalu bertanya jika ada yang tidak ia mengerti. Cuplikan acara itu kemudian banyak dipotong dan disebar di media sosial. Banyak yang memuji chemistry mereka.
Tidak lama setelah itu, mereka juga diundang ke Pagi-Pagi Ambyar. Kali ini segmentasinya lebih santai. Selain berbincang, Daehoon diminta menunjukkan sedikit keahlian memasaknya. Di dapur mini studio, ia membuat salah satu hidangan Korea yang sudah dimodifikasi dengan bahan lokal. Jule berdiri di sebelahnya, membantu menyiapkan bahan dan sesekali menjelaskan kepada penonton.
“Ini resep yang sering kami masak di rumah,” kata Jule sambil tersenyum. “Daehoon yang biasanya pegang dapur. Saya hanya membantu.”
Daehoon mengangguk. “Saya senang memasak untuk Jule. Dia tidak banyak komplain, jadi saya jadi semangat mencoba menu baru.”
Penonton di studio tertawa. Setelah segmen memasak selesai, mereka kembali duduk dan menjawab pertanyaan seputar kehidupan sehari-hari. Jule bercerita bahwa mereka masih tinggal di Jakarta dan sedang menyesuaikan ritme sebagai suami istri. Daehoon menambahkan bahwa ia mulai mengurangi frekuensi pulang ke Korea agar bisa lebih fokus membangun hidup di Indonesia.
Selain talk show, mereka juga mulai aktif di podcast. Salah satu podcast yang mengundang mereka membahas topik pernikahan beda budaya. Selama hampir satu jam, mereka menjawab pertanyaan seputar cara mereka berkomunikasi, bagaimana mengatasi perbedaan kebiasaan, dan apa yang mereka lakukan agar tetap saling memahami. Daehoon beberapa kali menekankan bahwa ia belajar banyak dari keluarga Jule. Jule mengatakan bahwa ia merasa terbantu karena Daehoon mau terbuka dan tidak segan bertanya.
Di media sosial, kehidupan mereka terlihat semakin romantis. Hampir setiap hari ada Instagram Story baru. Kadang Daehoon merekam Jule yang sedang menyiapkan sarapan. Kadang Jule memotret Daehoon yang sedang memasak di dapur rumah. Mereka juga sering mengunggah foto bersama dengan berbagai brand yang bekerja sama dengan mereka. Ada foto di kafe, ada konten unboxing produk, ada juga video pendek saat mereka mencoba resep baru yang disponsori salah satu brand makanan.
Salah satu unggahan yang cukup ramai adalah ketika mereka membuat konten “sehari bersama kami.” Dari pagi hingga malam, mereka merekam aktivitas sederhana: shalat berjamaah, memasak bersama, Jule mengurus beberapa endors, dan Daehoon menyiapkan bahan untuk konten masaknya sendiri. Caption-nya ringan, tapi banyak yang berkomentar bahwa mereka terlihat harmonis. Beberapa netizen menulis bahwa mereka jadi ingin memiliki hubungan yang sama.
Di rumah, ritme mereka mulai terbentuk. Daehoon biasanya bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Jule kemudian bergabung setelah menyelesaikan shalat subuh dan muroja’ah singkat. Siang hari mereka sering bekerja masing-masing Jule dengan jadwal pemotretan atau syuting konten, Daehoon dengan pengembangan resep atau pertemuan dengan beberapa rekan di bidang kuliner. Malam hari mereka berusaha makan bersama. Jika ada yang masih bekerja, mereka saling menunggu.
Jule masih rutin mengabari Ayah dan Ibu. Setiap beberapa hari ia menelepon atau datang berkunjung. Ia bercerita tentang jadwal yang semakin padat, tentang tawaran baru yang masuk, dan tentang bagaimana Daehoon menyesuaikan diri. Ayah dan Ibu selalu mengingatkan agar tidak terlalu larut dalam pekerjaan dan tetap menjaga komunikasi. Jule menurut. Ia merasa bahwa meskipun sekarang sudah menikah dan tinggal terpisah, pengawasan dan nasihat orang tuanya masih ia butuhkan.
Brand terus berdatangan. Beberapa di antaranya secara khusus meminta konten yang melibatkan keduanya sebagai pasangan. Ada yang mengajak mereka ke luar kota untuk pemotretan, ada yang meminta mereka membuat seri video memasak bersama, ada juga yang menawarkan paket endorsement jangka panjang. Mereka tidak menerima semuanya. Setiap tawaran selalu didiskusikan terlebih dahulu. Jika dirasa terlalu padat atau berpotensi mengganggu waktu bersama, mereka menolak dengan sopan.
Di salah satu podcast lain, host bertanya apa rencana mereka ke depan. Daehoon menjawab, “Saya ingin terus belajar dan membangun sesuatu di sini. Mungkin suatu hari kami bisa punya tempat usaha sendiri. Tapi sekarang masih fokus menikmati proses.”
Jule menambahkan, “Yang penting kami tetap saling support. Dan tetap ingat untuk pulang ke keluarga.”
Semua terlihat berjalan baik. Pernikahan mereka yang mewah menjadi awal dari banyak undangan media. Kehidupan sehari-hari yang mereka tunjukkan di Instagram Story dan feed membuat banyak orang merasa dekat dengan mereka. Daehoon yang dengan senang hati menunjukkan keahlian memasaknya di berbagai acara semakin memperkuat citra mereka sebagai pasangan yang kompak. Di tengah semua sorotan itu, Jule masih berusaha menjaga keseimbangan. Ia masih merasa bahwa keputusan yang mereka ambil bersama keluarga adalah keputusan yang tepat. Dan untuk saat ini, segala sesuatunya masih terasa hangat, penuh dukungan, dan berjalan sesuai dengan apa yang mereka harapkan.
(Malam Pertama)
Kamar hotel yang sudah disiapkan terasa hangat ketika mereka masuk. Pintu baru saja tertutup. Di luar, suara keluarga dan teman-teman yang masih berbincang di ballroom sudah tidak terdengar. Jule berdiri di dekat ranjang king size yang dilapisi sprei putih bersih. Gaun pengantinnya masih melekat di tubuh, kainnya berat dan berlapis. Hijabnya masih rapi menutupi rambut. Daehoon berdiri di hadapannya, jas sudah ia lepas dan digantung di kursi. Kemeja putihnya terbuka dua kancing atas.
“Capek?” tanya Daehoon pelan. Suaranya rendah.
Jule menggeleng. “Tidak terlalu. Cuma… gugup.”
Daehoon mendekat. Tangannya mengangkat dagu Jule dengan lembut. “Tidak perlu gugup. Kita pelan-pelan.”
Ia mencium kening Jule lebih dulu, lalu turun ke pelipis, lalu ke bibir. Ciuman pertama mereka malam itu masih hati-hati. Bibir Jule terasa lembut. Ia membalas dengan kaku pada awalnya, lalu mulai mengikuti. Daehoon memperdalam ciuman. Lidahnya menyentuh bibir Jule, meminta izin. Jule membuka mulutnya. Lidah mereka bertemu. Jule mengeluarkan desahan kecil di sela ciuman.
“Oppa…”
Daehoon tersenyum di bibirnya. Tangannya bergerak ke belakang, mencari kait gaun. Butuh waktu untuk melepaskan semua kancing dan resleting. Ketika gaun itu akhirnya longgar, ia menurunkannya perlahan dari bahu Jule. Kain berat itu jatuh ke lantai, mengumpul di kaki Jule. Yang tersisa hanya lingerie putih sederhana yang sudah ia siapkan: bra renda tipis dan celana dalam yang senada. Hijabnya masih terpasang.
Daehoon menatapnya. “Cantik.”
Jule merasakan pipinya panas. Ia tidak terbiasa dilihat seperti ini. Daehoon memeluknya dari depan, mencium lehernya. Tangan Jule naik, memegang bahu Daehoon. Desahannya mulai lebih sering keluar setiap kali bibir Daehoon menyentuh kulit sensitif di bawah telinga.
“Oppa… di situ…”
Daehoon mengangkatnya dengan mudah dan meletakkannya di atas ranjang. Ia ikut naik, berlutut di antara kaki Jule. Dengan hati-hati ia melepas hijab Jule, membiarkan rambut panjangnya terurai di atas bantal. Jule tidak menolak. Ia sudah siap. Daehoon menciumnya lagi, kali ini lebih dalam. Tangannya meraba sisi tubuh Jule, naik ke payudara yang masih tertutup bra. Ia meremas pelan. Jule melengkungkan punggungnya.
“Ahh… Oppa…”
Daehoon membuka kait bra dengan satu tangan. Ketika kain itu lepas, ia menunduk dan mengecup payudara Jule. Lidahnya menjilat puting yang sudah mengeras. Jule mengerang lebih keras. Tangannya meremas rambut Daehoon. “Oppa… enak…”
Daehoon bergantian menghisap kedua puting Jule, sesekali menggigit ringan. Tangan satunya turun, mengusap paha dalam Jule, lalu menyentuh selangkangan yang sudah mulai basah di balik celana dalam. Jule tersentak.
“Sudah basah,” bisik Daehoon.
Ia menurunkan celana dalam Jule perlahan. Ketika kain itu lepas, ia melihat vagina Jule yang masih rapat, sudah berkilau oleh cairan. Daehoon mencium perut Jule, turun semakin ke bawah. Ketika lidahnya akhirnya menyentuh klitoris Jule, tubuh Jule melonjak.
“Oppa! Ahh… jangan… di situ… ahh!”
Daehoon tidak berhenti. Lidahnya bergerak memutar, sesekali masuk sedikit ke dalam. Jule tidak bisa menahan desahannya. Kedua tangannya mencengkeram sprei. Pinggulnya bergerak sendiri mengikuti lidah Daehoon. “Oppa… aku… aneh… ahh… terus…”
Daehoon menghisap klitorisnya lebih kuat. Jule mencapai klimaks pertama malam itu. Tubuhnya bergetar hebat, mulutnya terbuka, desahan panjang keluar tanpa bisa ditahan. “Oppaa…!”
Daehoon naik kembali. Ia membuka celananya. Penisnya sudah tegang penuh, ukurannya sedang, bersih, dengan kepala yang kemerahan. Jule menatapnya dengan napas masih tersengal. Daehoon memposisikan diri di antara kaki Jule yang terbuka. Ujung penisnya menyentuh vagina Jule yang masih sensitif.
“Aku masuk pelan, ya?”
Jule mengangguk. “Iya… Oppa… pelan…”
Daehoon mendorong masuk. Awalnya sulit. Jule masih sangat rapat. Ia meringis, kukunya mencengkeram lengan Daehoon. “Sakit… Oppa… pelan…”
Daehoon berhenti sejenak, mencium kening Jule, lalu mendorong lagi sedikit demi sedikit. Ketika kepala penisnya akhirnya masuk sepenuhnya, Jule mengeluarkan desahan campur antara sakit dan nikmat. Daehoon terus masuk sampai pangkal. Ia diam beberapa detik, membiarkan Jule menyesuaikan diri.
“Gerak… Oppa… boleh gerak…”
Daehoon mulai menggerakkan pinggulnya. Pelan pada awalnya. Setiap dorongan membuat Jule mengerang. “Ahh… Oppa… dalam… ahh…” Lama-kelamaan rasa sakit berkurang. Jule mulai menikmati. Kakinya melingkar di pinggang Daehoon. “Lebih… Oppa… lebih cepat…”
Daehoon menambah tempo. Suara kulit bertemu kulit mulai terdengar. Jule tidak bisa berhenti bersuara. “Oppa… enak… ahh… terus… jangan berhenti… Oppa…” Setiap hentakan membuat payudaranya bergoyang. Daehoon menunduk, menghisap putingnya lagi sambil tetap bergerak. Jule semakin liar. “Oppa! Aku… mau lagi… ahh!”
Ia mencapai klimaks kedua. Vaginanya berkedut rapat di sekitar penis Daehoon. Daehoon mengerang, menahan diri agar tidak langsung keluar. Ia terus bergerak melewati kontraksi itu. Jule terengah, tapi tidak menyuruhnya berhenti. “Masih… Oppa… masih kuat…”
Daehoon membalik tubuh Jule dengan hati-hati. Sekarang Jule tengkurap, pinggulnya diangkat. Daehoon masuk dari belakang. Posisi ini membuatnya bisa masuk lebih dalam. Jule membenamkan wajahnya di bantal, tapi desahannya tetap keras. “Oppa… dalem banget… ahh… ahh… Oppa…”
Daehoon memegang pinggul Jule, menghentak dengan tempo yang semakin stabil. Satu tangannya meraih ke depan, memainkan klitoris Jule. Kombinasi itu membuat Jule hampir tidak bisa berpikir. “Oppa… aku gila… ahh… terus seperti itu… Oppa!”
Mereka berganti posisi beberapa kali. Daehoon mengangkat kaki Jule ke bahunya, masuk dalam-dalam sambil mencium bibirnya. Jule memeluk lehernya erat, desahannya langsung masuk ke telinga Daehoon. “Oppa… aku sayang… ahh… jangan keluar dulu… masih mau…”
Daehoon menurut. Ia menahan selama mungkin. Ketika akhirnya ia merasa tidak kuat lagi, ia berbisik, “Aku mau keluar… di dalam boleh?”
Jule mengangguk cepat, matanya sayu. “Boleh… Oppa… keluar di dalam… aku mau…”
Daehoon menghentak beberapa kali lagi dengan kuat, lalu menekan dalam-dalam. Sperma hangat menyembur di dalam rahim Jule. Jule mencapai klimaks lagi bersamaan, tubuhnya gemetar hebat di bawah Daehoon. “Oppaa…! Ahh… penuh…”
Mereka tetap menyatu beberapa saat. Daehoon mencium pelipis Jule yang basah oleh keringat. Jule memeluknya erat, napasnya masih memburu. “Enak… Oppa… aku suka…”
Daehoon tersenyum, masih di dalam dirinya. “Aku juga. Kamu luar biasa.”
Malam itu mereka belum selesai. Setelah beristirahat sebentar, Daehoon kembali mengeras. Jule yang tadinya merasa lelah malah menariknya lebih dekat. “Lagi… Oppa… aku masih mau…”
Daehoon memenuhi permintaan itu. Kali ini lebih lambat, lebih dalam, lebih penuh ciuman. Jule terus memanggilnya “Oppa” di setiap desahan, di setiap hentakan, sampai tubuhnya lemas dan tidak kuat lagi. Ketika mereka akhirnya benar-benar berhenti, Jule tertidur dalam pelukan Daehoon, masih telanjang, dengan cairan Daehoon masih tertinggal di dalam dirinya.
Di luar, kota Jakarta tetap ramai. Di dalam kamar itu, malam pertama mereka baru saja selesai. Jule masih merasakan sisa nikmat di seluruh tubuhnya. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa sepenuhnya menjadi milik suaminya.
Bersambung...
ns216.73.216.62da2


