(2020: Awal Menjadi Selebgram POV Jule)
Aku masih ingat betul hari pertama aku memutuskan untuk mengunggah foto itu. Saat itu aku baru saja pulang dari pesantren. Tiga tahun aku tinggal di asrama, bangun sebelum subuh, menghafal ayat demi ayat, dan mencoba menjaga pandangan serta lisan. Keluargaku di Jakarta tidak keberatan aku mencoba hal baru, asalkan tetap dalam batas. Aku membuka Instagram yang sebelumnya hanya berisi foto-foto kegiatan pesantren dan beberapa cerita Al-Qur’an. Jumlah pengikutku masih di bawah seribu. Kebanyakan teman sesama santri dan beberapa kerabat.
Foto yang aku unggah sederhana. Aku berdiri di balkon rumah, mengenakan gamis hijau tua yang longgar, hijab segi empat berwarna krem yang menutupi dada, dan senyum kecil yang tidak terlalu lebar. Cahaya sore membuat wajahku terlihat lebih lembut. Aku menulis caption singkat: “Alhamdulillah, bisa pulang dan tetap berusaha menjaga apa yang sudah diajarkan di pesantren. Semoga bermanfaat.” Aku tidak mengharapkan banyak. Aku hanya ingin berbagi, seperti yang biasa dilakukan teman-teman santri lain.
Dalam satu jam, komentar mulai berdatangan. Awalnya hanya beberapa. Lalu puluhan. Lalu ratusan. Banyak yang menulis “MasyaAllah, akhwatnya cantik dan alim.” Ada yang bertanya di pesantren mana aku mondok. Ada yang memuji cara aku berpakaian yang menurut mereka sopan tapi tetap terlihat rapi. Aku membaca satu per satu. Sebagian aku balas dengan “Jazakallah khair.” Sebagian lagi aku biarkan. Aku merasa aneh. Selama di pesantren, tidak ada yang memuji penampilanku seperti ini. Yang dipuji biasanya hafalan atau akhlak. Di sini, orang-orang membicarakan wajahku.
Beberapa hari kemudian, aku mengunggah foto lain. Kali ini aku sedang duduk di meja belajar, Al-Qur’an terbuka di depanku, tangan memegang pena. Hijabku masih sama, longgar dan menutupi. Aku menulis bahwa aku sedang muroja’ah beberapa juz yang pernah aku hafal. Aku tidak mengklaim sudah khatam tiga puluh juz. Aku hanya bilang aku berusaha menjaga hafalan yang sudah ada. Tapi caption itu cukup untuk membuat orang-orang semakin antusias. Komentar berubah. Ada yang menulis “Subhanallah, akhwat hafidzah.” Ada yang meminta aku membuat konten mengaji. Ada yang bilang mereka jadi semangat melihat ada wanita muda yang masih menjaga diri di zaman sekarang.
Aku mulai rutin mengunggah. Tidak setiap hari, tapi cukup sering. Foto di masjid, foto saat sedang membaca, foto OOTD sederhana dengan gamis dan hijab yang aku pilih sendiri. Aku tidak memakai filter berlebihan. Aku juga tidak menunjukkan aurat. Menurutku itu sudah cukup. Tapi entah kenapa, jumlah pengikut naik cepat. Dari seribu menjadi lima ribu, lalu sepuluh ribu dalam waktu kurang dari dua bulan. Aku tidak mengerti algoritma. Aku hanya tahu bahwa setiap kali aku mengunggah sesuatu yang terlihat “alim,” orang-orang merespons dengan baik.
Suatu malam, aku membaca komentar yang membuatku diam cukup lama. Seseorang menulis, “Kakaknya mirip artis Korea, tapi tetap sopan. Jarang ada yang seperti ini.” Aku menatap foto diriku sendiri di layar. Aku memang punya wajah yang agak lonjong, mata yang tidak terlalu besar, dan kulit yang cukup cerah. Beberapa teman di pesantren dulu juga pernah bilang begitu, tapi mereka mengatakannya sambil bercanda. Di internet, orang-orang mengatakannya dengan serius. Ada yang membandingkanku dengan aktris Korea tertentu. Ada yang bilang aku cocok menjadi brand ambassador hijab karena “wajahnya bersih dan auranya positif.”
Aku tidak langsung percaya. Aku masih merasa seperti santri yang baru pulang. Aku masih terbiasa bangun subuh, masih mencoba menjaga shalat tepat waktu, dan masih merasa canggung jika terlalu lama menatap layar. Tapi angka pengikut terus naik. Pesan masuk mulai berdatangan. Ada yang menawarkan kerja sama kecil-kecilan, ada yang meminta aku review jilbab, ada yang sekadar ingin menyapa. Aku membalas yang menurutku sopan. Aku menolak yang terasa aneh. Aku masih berusaha memegang prinsip yang aku bawa dari pesantren: jangan terlalu membuka diri, jangan terlalu percaya pujian, dan jangan sampai lupa untuk apa sebenarnya aku mengunggah.
Suatu hari aku membuat video pendek. Aku hanya merekam diriku membaca beberapa ayat pendek, dengan suara pelan. Aku tidak menunjukkan wajah terlalu dekat. Aku berpikir video itu tidak akan banyak ditonton. Ternyata salah. Dalam sehari, videonya sudah dilihat puluhan ribu kali. Komentarnya hampir semuanya positif. Banyak yang bilang suara aku menenangkan. Banyak yang bilang mereka jadi ingin menghafal lagi setelah menonton. Ada juga yang menulis, “Semoga kakak tetap istiqamah. Jangan berubah seperti yang lain.”
Kalimat terakhir itu membuatku termenung. Aku tidak mengerti maksud “seperti yang lain.” Saat itu aku belum banyak melihat dunia selebgram di luar lingkaranku. Aku hanya tahu bahwa beberapa teman mulai mengirimkan tautan akun-akun lain yang juga berhijab, tapi fotonya lebih terbuka, captionnya lebih genit, dan interaksinya lebih bebas. Aku tidak mengklik terlalu lama. Aku merasa itu bukan jalanku. Aku masih ingin tetap seperti yang aku kenal: gadis yang baru lulus pesantren, yang masih berusaha menjaga hafalan, yang masih merasa malu jika terlalu banyak dipuji.
Tapi pujian itu terus datang. Orang-orang mulai memanggilku “akhwat Korea” atau “hafidzah cantik.” Aku tidak pernah mengklaim sudah menghafal seluruh Al-Qur’an. Aku hanya pernah bilang aku punya hafalan beberapa juz dan sedang menjaganya. Namun semakin banyak yang menulis seolah aku sudah khatam dan sempurna. Aku mencoba meluruskan di beberapa balasan, tapi tidak semua orang membaca. Mereka lebih suka versi yang mereka bayangkan sendiri.
Aku mulai menerima tawaran kecil. Sebuah toko hijab lokal meminta aku memakai produk mereka dan mengunggah fotonya. Aku setuju karena modelnya masih longgar dan menutupi. Aku memotret sendiri di rumah, dengan cahaya alami. Foto itu mendapat lebih banyak like daripada biasanya. Toko itu kemudian mengirimkan beberapa potong lagi. Aku merasa aneh menerima barang hanya karena mengunggah foto. Di pesantren, tidak ada yang memberi kami sesuatu hanya karena kami terlihat rapi. Semuanya harus diusahakan.
Malam-malam aku masih membuka Al-Qur’an. Aku masih mencoba muroja’ah. Tapi semakin sering aku membuka Instagram, semakin sering juga aku melihat angka. Jumlah like, jumlah komentar, jumlah pengikut baru. Aku tidak merasa sombong. Aku hanya merasa tanggung jawab yang lebih besar. Jika orang-orang menganggap aku contoh yang baik, maka aku harus berusaha tetap baik. Aku masih menutup aurat. Aku masih menghindari musik yang terlalu keras di story. Aku masih mencoba membalas komentar dengan bahasa yang sopan.
Suatu sore, aku duduk di kamar dan membaca ulang komentar dari unggahan pertama. Banyak yang masih menulis hal-hal baik. Ada yang bilang mereka jadi ingin berhijab lebih rapat setelah melihat fotoku. Ada yang bilang mereka terinspirasi untuk kembali menghafal. Aku tersenyum kecil. Saat itu aku masih percaya bahwa selama aku menjaga niat, selama aku tidak membuka diri terlalu lebar, semuanya akan baik-baik saja. Aku masih merasa seperti gadis pesantren yang kebetulan punya wajah yang disukai banyak orang. Aku masih merasa bahwa pujian itu datang karena aku berusaha taat, bukan karena aku sengaja mencari perhatian.
Aku menutup aplikasi. Di luar, azan maghrib mulai berkumandang. Aku berdiri, merapikan hijab, dan berjalan ke ruang shalat. Saat itu aku belum tahu bahwa angka-angka itu akan terus naik. Aku belum tahu bahwa semakin banyak orang yang mengenal wajahku, semakin banyak juga yang akan memiliki harapan berbeda terhadapku. Aku belum tahu bahwa suatu hari nanti, foto sederhana di balkon itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih rumit dari yang bisa aku bayangkan saat masih merasa seperti santri yang baru pulang.
Yang aku tahu saat itu hanya satu: aku masih ingin menjadi gadis yang baik. Aku masih ingin menjaga apa yang sudah aku pelajari. Dan aku masih percaya bahwa selama aku tetap berhijab, tetap mengunggah hal-hal yang bermanfaat, dan tetap berusaha tidak berubah, maka semuanya akan tetap seperti yang aku kenal. Aku masih percaya itu. Setidaknya, di tahun 2020 itu, ketika semuanya masih terasa sederhana dan ketika aku masih merasa bahwa diriku adalah milik diriku sendiri.
My Jule: Cuckold Selebgram Hijaber Viral850Please respect copyright.PENANAtVk5PItaPN
(2020: Cerita kepada Ayah dan Ibu)
Aku pulang lebih awal hari itu. Biasanya aku masih di kamar sampai maghrib, membuka Al-Qur’an atau membalas komentar yang masuk. Tapi sore itu aku sengaja turun ke ruang keluarga. Ayah sedang duduk di sofa, membaca koran sambil menunggu waktu berbuka. Ibu sedang menyiapkan hidangan di meja makan. Rumah kami tidak besar, tapi cukup nyaman. Ayah bekerja di kantor pemerintahan daerah, Ibu mengurus rumah dan sesekali mengajar mengaji di masjid dekat rumah. Mereka tidak pernah kekurangan, tapi juga tidak berlebihan. Sejak aku kecil, yang paling sering mereka tekankan hanya dua hal: jangan lupa shalat, dan jangan sampai lupa diri.
Aku duduk di sebelah Ayah. Ia melipat korannya dan menatapku. “Ada apa, Jule? Tumben turun sebelum azan.”
Aku tersenyum kecil. “Mau cerita, Yah. Tentang Instagram.”
Ibu yang sedang menata piring berhenti sebentar. Ia menoleh. “Instagram lagi? Kemarin kamu bilang pengikutnya sudah naik.”
“Iya, Bu. Sekarang sudah hampir tiga puluh ribu.” Aku mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi. Aku tunjukkan ke Ayah lebih dulu. Angka pengikut memang sudah melewati dua puluh delapan ribu. Beberapa unggahan terakhir mendapat ribuan like. Komentarnya masih banyak yang baik: ada yang memuji cara berpakaianku, ada yang bilang mereka jadi semangat menghafal lagi, ada yang sekadar menulis “MasyaAllah.”
Ayah mengambil ponselku dan menggulir pelan. Ia tidak banyak komentar pada awalnya. Ibu ikut mendekat, berdiri di belakang sofa. Mereka berdua melihat foto-foto yang aku unggah: gamis longgar, hijab yang menutupi dada, beberapa video pendek saat aku membaca ayat. Ayah berhenti di satu foto di mana aku sedang duduk dengan Al-Qur’an terbuka. Caption-nya tentang muroja’ah.
“Ini yang kemarin kamu bilang banyak yang nonton?” tanya Ayah.
“Iya. Videonya sudah ratusan ribu kali ditonton. Banyak yang komentar positif.”
Ibu mengangguk pelan. “Alhamdulillah. Tapi kamu jangan sampai lupa, Nak. Pujian orang itu tidak selalu baik. Kadang bikin kita lengah.”
Aku sudah menduga Ibu akan mengatakan hal seperti itu. Sejak aku masih di pesantren, Ibu selalu mengingatkan agar tidak terlalu senang dengan pujian. “Aku ingat, Bu. Aku juga tidak membalas semua komentar. Yang aneh-aneh aku biarkan.”
Ayah mengembalikan ponselku. “Tiga puluh ribu itu sudah banyak. Kamu yakin kuat mengurus semuanya sendiri? Jangan sampai ibadahmu terganggu.”
“InsyaAllah tidak, Yah. Aku masih bangun subuh. Masih muroja’ah. Cuma memang sekarang lebih sering buka ponsel karena banyak yang nanya.”
Kami diam sebentar. Ibu kembali ke meja makan, tapi tetap mendengarkan. Ayah bertanya lagi, “Ada yang menghubungi kamu secara pribadi? Bukan cuma komentar?”
Aku mengangguk. “Ada beberapa. Kemarin ada toko hijab yang nawarin kerja sama. Mereka mau kirim beberapa potong, terus aku foto dan unggah. Tidak harus bayar apa-apa. Mereka cuma minta aku pakai produk mereka.”
Ibu menoleh lagi. “Toko hijab? Modelnya bagaimana? Apakah masih menutup aurat dengan benar?”
“Masih, Bu. Aku sudah lihat katalognya. Semuanya longgar. Tidak ada yang ketat atau terbuka. Aku juga bilang ke mereka, kalau ada yang kurang sopan, aku tidak mau pakai.”
Ayah mengangguk. “Bagus. Tapi kamu harus hati-hati. Jangan sampai nanti mereka minta yang lain. Awalnya cuma hijab, nanti bisa jadi yang lain.”
“Aku mengerti, Yah. Aku juga dapat tawaran dari satu butik baju muslimah. Mereka mau aku jadi model untuk koleksi baru. Fotonya di studio mereka. Tapi aku belum jawab. Aku mau tanya kalian dulu.”
Ibu berjalan mendekat dan duduk di sofa sebelahku. “Kamu mau terima?”
“Aku masih bingung. Uangnya tidak besar, tapi mereka bilang ini bisa jadi portofolio. Kalau hasil fotonya bagus, mungkin ada tawaran lain. Tapi aku takut nanti jadwalnya bentrok dengan kegiatan di rumah atau dengan muroja’ah.”
Ayah bersandar. “Kalau memang masih dalam batas, dan tidak mengganggu kewajibanmu, boleh saja kamu coba. Tapi ada beberapa syarat dari kami.”
Aku menatap Ayah. “Syarat apa, Yah?”
“Pertama, semua baju yang kamu pakai harus tetap menutup aurat. Tidak ada yang ketat, tidak ada yang transparan, tidak ada yang belahan. Kedua, kamu tidak boleh pergi sendirian ke studio atau ke tempat yang jauh tanpa ada yang menemani. Kalau perlu, Ibu atau bibi yang ikut. Ketiga, jangan sampai lupa shalat. Kalau ada jadwal syuting yang mepet waktu shalat, kamu harus bilang tidak bisa.”
Ibu menambahkan, “Dan jangan terlalu sering mengunggah. Kamu masih muda. Jangan sampai semua waktumu habis untuk memikirkan berapa banyak orang yang melihat fotomu. Hafalanmu lebih penting daripada angka di ponsel.”
Aku mengangguk. “Aku janji. Aku juga tidak mau berubah. Aku masih ingin seperti sekarang. Cuma memang… rasanya aneh. Dulu di pesantren tidak ada yang memperhatikan penampilanku seperti ini. Sekarang banyak yang bilang aku cantik, ada yang bilang mirip orang Korea. Aku tidak tahu harus bagaimana.”
Ayah tersenyum tipis. “Cantik itu anugerah. Tapi anugerah juga bisa jadi ujian. Selama kamu masih ingat untuk apa kamu diberi wajah dan suara yang disukai orang, insyaAllah tidak masalah. Yang berbahaya kalau kamu mulai merasa bahwa pujian itu lebih penting daripada ridha Allah.”
Ibu mengelus punggungku. “Kamu anak kami. Kami percaya kamu masih bisa menjaga diri. Tapi kalau suatu saat kamu merasa mulai berubah, atau mulai merasa berat, kamu harus cerita. Jangan dipendam sendiri.”
Aku merasakan dada sedikit berat, tapi juga lega. Aku sudah menduga mereka akan khawatir. Mereka selalu seperti itu. Sejak aku memutuskan untuk membuat akun yang lebih aktif, mereka sudah beberapa kali mengingatkan. Tapi mereka tidak pernah melarang mentah-mentah. Mereka hanya ingin aku tetap ingat batas.
“Ada lagi yang mau kamu ceritakan?” tanya Ibu.
Aku berpikir sebentar. “Ada satu lagi. Beberapa orang mulai memanggilku hafidzah. Padahal aku belum khatam. Aku cuma punya beberapa juz. Aku sudah coba meluruskan di komentar, tapi tidak semua orang baca. Mereka tetap nulis seolah aku sudah hafal semua.”
Ayah mengangguk. “Itu yang harus kamu jaga. Jangan sampai kamu diam saja ketika orang salah paham. Kalau mereka menganggap kamu sudah sempurna, nanti ekspektasinya tinggi. Kalau suatu hari kamu khilaf, mereka akan lebih kecewa.”
“Aku mengerti. Aku akan lebih sering menulis bahwa aku masih belajar dan masih berusaha menjaga yang sudah ada.”
Kami berbicara sampai azan maghrib berkumandang. Ayah berdiri lebih dulu untuk wudhu. Ibu memintaku membantu menata meja. Saat kami sedang makan, percakapan berlanjut lebih ringan. Ayah bertanya tentang teman-teman pesantren yang masih kontak denganku. Ibu menanyakan apakah aku masih rutin muroja’ah setiap hari. Aku menjawab sejujur mungkin. Aku masih melakukan semuanya. Hanya saja, sekarang ada tambahan kegiatan membalas pesan dan memikirkan foto berikutnya.
Setelah makan, aku kembali ke kamar. Aku membuka Instagram lagi. Ada beberapa pesan baru dari toko hijab yang kemarin menghubungi. Mereka menanyakan apakah aku sudah memutuskan. Aku belum membalas. Aku meletakkan ponsel di meja dan mengambil Al-Qur’an. Aku membuka juz yang sedang aku jaga. Sambil membaca, aku masih memikirkan percakapan tadi.
Aku tahu Ayah dan Ibu tidak menentang. Mereka hanya ingin aku tetap menjadi anak yang mereka kenal: anak yang taat, yang tidak mudah terbawa pujian, dan yang masih mau cerita jika ada sesuatu yang berat. Aku juga ingin tetap seperti itu. Tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa melihat angka pengikut naik, melihat komentar yang baik, dan menerima tawaran kerja sama membuatku merasa sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak pernah aku rasakan di pesantren.
Aku menutup Al-Qur’an sebentar dan menatap langit-langit. Di luar, suara Ibu sedang berbincang dengan Ayah di ruang keluarga masih terdengar samar. Mereka sedang membicarakan sesuatu yang tidak aku dengar jelas. Aku tidak ingin menguping. Aku hanya berharap bahwa apa pun yang mereka khawatirkan, aku masih bisa membuktikan bahwa aku bisa menjaga diri.
Aku membuka ponsel lagi dan membalas pesan dari toko hijab. Aku menulis bahwa aku bersedia mencoba, dengan syarat semua produk yang dikirim harus sesuai dengan yang sudah kami bicarakan: longgar, menutup aurat, dan tidak berlebihan. Aku juga menulis bahwa aku akan berdiskusi lagi dengan orang tua jika ada permintaan yang berbeda.
Setelah mengirim pesan itu, aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap bawah. Aku kembali membuka Al-Qur’an. Malam itu aku masih bisa membaca dengan tenang. Aku masih merasa bahwa semuanya masih dalam kendali. Ayah dan Ibu sudah tahu. Mereka sudah memberi batas. Dan aku masih ingin tetap menjadi gadis yang baik, yang bisa pulang dan cerita apa adanya kepada mereka.
Setidaknya, pada malam itu di tahun 2020, aku masih percaya bahwa selama aku jujur kepada mereka dan kepada diriku sendiri, maka tidak ada yang perlu aku takutkan. Angka di Instagram boleh naik. Tawaran boleh datang. Tapi selama aku masih bisa duduk di ruang keluarga dan berbicara dengan Ayah dan Ibu tanpa menyembunyikan apa pun, aku merasa semuanya akan tetap baik-baik saja.
(2020–2021: Tren OOTD, Kolaborasi, dan Pengawasan Orang Tua)
Dalam beberapa bulan setelah foto-foto pertamanya ramai, akun Jule berubah dengan cepat. Jumlah pengikut yang tadinya puluhan ribu kini sudah melewati seratus ribu. Setiap unggahan OOTD hijab yang ia buat hampir selalu mendapat ribuan like dalam hitungan jam. Ia tidak lagi hanya memotret diri sendiri di balkon atau di kamar. Sekarang ia mulai menerima undangan untuk pemotretan di kafe, di taman, bahkan di studio kecil milik teman-teman selebgram lain. Gamis dan hijab yang ia kenakan tetap longgar, tetap menutupi, tapi cara ia memadukan warna dan aksesori semakin rapi. Banyak yang mulai menyebutnya sebagai salah satu wajah baru di tren “OOTD hijabers anak muda.”
Tawaran endorsemen datang lebih sering. Tidak hanya toko hijab lokal. Ada brand baju muslimah yang lebih besar, ada yang menjual skincare halal, ada yang menawarkan paket kolaborasi dengan beberapa selebgram sekaligus. Uang yang masuk ke rekeningnya tidak sedikit. Untuk ukuran anak yang baru lulus pesantren dan belum bekerja tetap, jumlah itu terasa besar. Jule tidak pernah membicarakannya secara terbuka di rumah, tapi Ayah dan Ibu tahu. Mereka melihat paket-paket yang datang, melihat nota transfer yang sesekali Jule tunjukkan, dan melihat bagaimana jadwal anak mereka semakin padat.
Suatu sore, Jule duduk di ruang keluarga bersama Ibu. Di meja ada beberapa sampel hijab baru yang baru saja dikirim salah satu brand. Ibu memeriksa satu per satu, meraba kainnya, melihat panjangnya.
“Ini masih oke,” kata Ibu sambil mengangkat satu hijab segi empat. “Tapi yang kemarin, yang ada renda di bagian bawah, jangan dipakai kalau terlalu transparan. Kamu sudah janji.”
“Iya, Bu. Yang itu aku kembalikan. Aku bilang ke mereka tidak sesuai.”
Ayah yang sedang duduk di sebelah ikut bersuara. “Uangnya bagaimana? Mereka tetap bayar meskipun kamu tidak pakai semuanya?”
“Tetap, Yah. Tapi aku tidak mau ambil yang tidak sesuai. Lebih baik dapat lebih sedikit daripada nanti kalian yang repot.”
Ayah mengangguk. Ia tidak melarang Jule menerima tawaran, tapi ia selalu meminta laporan. Setiap minggu, Jule harus memberi tahu ke mana saja ia pergi, dengan siapa ia bekerja sama, dan jam berapa ia pulang. Jika pemotretan dilakukan di luar rumah, Ibu atau salah satu bibi harus ikut, setidaknya sampai Jule dirasa cukup dewasa untuk pergi sendiri. Jule menurut. Ia masih merasa bahwa batasan itu membuatnya tetap aman.
Kolaborasi mulai sering terjadi. Beberapa selebgram seusianya mengajaknya membuat konten bersama. Ada yang mengusulkan video “OOTD ke masjid,” ada yang mengajak membuat challenge berbagi quotes islami, ada yang ingin membuat serangkaian foto “sahabat hijabers.” Jule menerima sebagian besar ajakan itu. Ia merasa senang bisa bertemu orang-orang baru yang juga berhijab dan membicarakan hal-hal yang masih terasa dekat dengan kehidupannya dulu di pesantren. Mereka makan bersama setelah syuting, bertukar cerita tentang cara mengatur waktu antara konten dan ibadah, dan saling menyemangati agar tidak terlalu larut dalam pujian.
Namun tidak semua kolaborasi berjalan seperti yang ia bayangkan. Beberapa anak muda yang ia temui ternyata memiliki pasangan. Di feed mereka, selain foto OOTD hijab dan caption yang berbau agama, ada juga foto berdua dengan laki-laki. Mereka berpegangan tangan, tersenyum di kafe, atau membuat video pendek yang caption-nya “bersama orang yang selalu mengingatkan shalat.” Jule tidak menghakimi. Ia hanya mengamati. Saat syuting bersama, pasangan-pasangan itu terkadang datang menemani. Mereka duduk di sisi, sesekali memberi masukan soal angle atau pencahayaan. Jule tetap fokus pada pekerjaannya. Ia belum memiliki pasangan, dan ia tidak merasa perlu buru-buru mencari. Baginya, kolaborasi hanyalah cara untuk memperluas koneksi dan membuat konten yang lebih variatif.
Suatu kali, ia diajak bergabung dalam sebuah proyek video yang melibatkan lima selebgram hijabers. Tema yang diusulkan adalah “Tips menjaga batasan dalam pertemanan lawan jenis.” Jule setuju karena topiknya masih terasa sesuai. Saat hari syuting, ia baru sadar bahwa dua dari peserta sudah memiliki pacar, dan pacar mereka ikut hadir di lokasi. Mereka tidak melakukan apa pun yang berlebihan di depan kamera. Semua tetap berpakaian sopan. Tapi di sela-sela pengambilan gambar, Jule mendengar mereka bercanda tentang kencan, tentang saling mengingatkan untuk tidak terlalu lama chat malam-malam, dan tentang bagaimana orang tua mereka sudah mulai bertanya kapan akan dilamar.
Jule hanya tersenyum dan tidak banyak ikut bicara. Setelah syuting selesai, ia pulang dan langsung cerita kepada Ibu.
“Hari ini ada yang bawa pacarnya, Bu. Tapi mereka sopan. Tidak ada yang aneh-aneh.”
Ibu mengangguk. “Kamu jangan ikut-ikutan kalau belum siap. Pacaran itu bukan sesuatu yang harus dikejar hanya karena teman-temanmu sudah punya. Kamu masih muda. Masih banyak yang harus kamu jaga.”
“Aku tidak mau, Bu. Aku cuma ikut kolaborasi. Setelah selesai, aku pulang. Tidak ada yang ngajak pergi berdua atau apa.”
Ayah yang mendengarkan dari ruang sebelah ikut menimpali. “Bagus. Terus seperti itu. Kalau ada yang mulai mengajak hal lain, kamu bilang tidak. Dan kamu harus cerita ke kami.”
Jule menurut. Dalam beberapa bulan berikutnya, ia tetap menerima banyak tawaran. Uang yang ia dapatkan semakin banyak. Ada bulan di mana ia menerima lebih dari yang pernah ia bayangkan saat masih di pesantren. Ia menggunakan sebagian untuk membeli peralatan yang lebih baik: tripod, lampu, dan beberapa baju muslimah baru yang sesuai selera. Sebagian lagi ia tabung. Ia juga sesekali memberikan kepada Ibu untuk keperluan rumah, meskipun Ibu selalu menolak dan menyuruhnya menyimpan sendiri.
Lingkungan di sekitarnya terasa mendukung. Teman-teman selebgram yang sering ia ajak kolaborasi tidak memaksanya untuk melakukan hal yang di luar batas. Mereka mengerti bahwa Jule masih tinggal bersama orang tua dan masih dalam pengawasan ketat. Beberapa dari mereka bahkan mengatakan bahwa mereka iri karena Jule masih punya orang tua yang peduli dan mau mengawasi. “Kalau aku dulu seperti kamu, mungkin tidak akan sejauh ini,” kata salah satu dari mereka suatu kali. Jule hanya tersenyum. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Di rumah, pengawasan tetap berjalan. Setiap kali Jule akan pergi syuting, ia harus mengirim lokasi kepada Ayah. Setiap kali ada tawaran baru yang melibatkan perjalanan ke luar kota, ia harus minta izin terlebih dahulu. Jika brand meminta foto yang menurut Ayah atau Ibu terlalu terbuka, Jule menolak. Ia sudah beberapa kali kehilangan kerja sama karena itu, tapi ia tidak menyesal. Ia masih merasa bahwa batasan yang diberikan orang tuanya membuatnya tetap bisa tidur dengan tenang.
Malam-malam, setelah semua jadwal selesai, Jule masih membuka Al-Qur’an. Hafalan yang ia miliki tidak bertambah banyak, tapi ia berusaha tidak menurun. Ia masih merasa bahwa selama ia bisa pulang, duduk bersama Ayah dan Ibu, dan menceritakan apa yang terjadi di luar, maka semuanya masih dalam jalur yang benar. Angka pengikut boleh terus naik. Uang boleh terus masuk. Kolaborasi boleh semakin sering. Tapi selama ia masih belum memiliki pasangan, selama ia masih bisa menolak hal-hal yang tidak sesuai, dan selama Ayah serta Ibu masih mau mendengarkan ceritanya, Jule merasa ia masih menjadi gadis yang sama seperti saat pertama kali mengunggah foto di balkon rumah.
Ia belum tahu bahwa koneksi-koneksi yang ia bangun hari ini akan membawanya bertemu dengan orang-orang yang berbeda di kemudian hari. Ia belum tahu bahwa lingkungan yang sekarang terasa mendukung dan positif bisa berubah. Yang ia tahu saat itu hanya bahwa ia masih bisa mengendalikan semuanya. Ia masih bisa memilih tawaran mana yang diterima dan mana yang ditolak. Dan ia masih bisa pulang kepada Ayah dan Ibu yang tetap menyayanginya, tetap mengawasinya, dan tetap mengingatkannya untuk tidak pernah lupa diri, tidak peduli seberapa banyak uang yang masuk atau seberapa banyak orang yang memuji fotonya di internet.
(Akhir 2020: Perjodohan dengan Daehoon)
Menjelang akhir tahun 2020, komentar di akun Jule mulai berubah arah. Tidak lagi hanya memuji OOTD atau menanyakan pesantren tempat ia belajar. Semakin banyak yang menulis nama yang sama: Daehoon. Seorang selebgram asal Korea yang juga seorang chef. Di feed-nya, ia sering mengunggah video memasak, sesekali foto dirinya di dapur dengan apron, dan beberapa konten yang menunjukkan ia sedang belajar bahasa Indonesia. Wajahnya memang khas Korea. Rambut hitam, mata sipit, senyum yang tidak terlalu lebar. Netizen mulai memasangkan foto Jule dan Daehoon secara berdampingan. Ada yang membuat edit sederhana. Ada yang menulis, “Cocok banget. Akhwat Korea dapat oppa beneran.”
Jule awalnya hanya membaca. Ia tidak membalas komentar-komentar semacam itu. Menurutnya itu hanya bercanda biasa di internet. Ia masih fokus pada kontennya sendiri: foto hijab, video pendek muroja’ah, dan beberapa endors yang sudah ia terima. Tapi semakin hari, jumlah komentar yang menyebutkan Daehoon semakin banyak. Beberapa orang bahkan mulai men-tag akun Daehoon di unggahan Jule. Ada yang menulis, “Oppa, lihat ini. Cocok sama kamu.” Jule merasa canggung, tapi ia tidak menghapus komentar-komentar itu. Ia hanya membiarkannya.
Suatu malam, notifikasi direct message masuk dari akun yang tidak ia kenal sebelumnya. Nama penggunanya adalah nama Daehoon. Pesannya singkat, dalam bahasa Indonesia yang masih kaku.
“Halo. Saya Daehoon. Maaf mengganggu. Banyak orang tag saya di foto kamu. Saya lihat akun kamu. Bagus.”
Jule menatap layar cukup lama sebelum membalas. Ia tidak menyangka orangnya akan benar-benar menghubungi. Ia membalas dengan hati-hati.
“Halo. Terima kasih. Iya, saya juga lihat komentarnya. Maaf kalau mengganggu.”
Percakapan itu tidak langsung panjang. Daehoon bertanya tentang konten Jule, tentang bagaimana ia bisa konsisten mengunggah, dan tentang apakah ia benar-benar hafal beberapa juz seperti yang ditulis orang-orang. Jule menjawab seadanya. Ia tidak melebih-lebihkan. Ia bilang ia masih belajar dan masih menjaga yang sudah ada. Daehoon membalas dengan cerita singkat tentang dirinya: ia tinggal di Korea, bekerja sebagai chef, dan sedang mencoba membuat konten yang lebih banyak tentang masakan Indonesia karena banyak pengikutnya dari sini.
Hari-hari berikutnya, mereka saling membalas. Tidak setiap saat, tapi cukup sering. Daehoon mengirim foto masakan yang baru ia buat. Jule membalas dengan foto OOTD yang baru saja ia unggah. Percakapan mereka masih terasa ringan. Jule tidak merasa ada yang aneh. Ia menganggap Daehoon hanya salah satu dari sekian banyak orang yang menghubunginya karena konten. Bedanya, Daehoon orang Korea, dan netizen sudah lebih dulu memasangkan mereka.
Di rumah, Jule tidak langsung cerita. Ia menunggu beberapa hari. Ketika akhirnya ia memberi tahu Ibu, reaksi Ibu biasa saja.
“Dia orangnya baik?” tanya Ibu.
“Sejauh ini iya, Bu. Dia cuma nanya-nanya tentang konten. Tidak ada yang aneh.”
Ayah yang mendengar ikut bertanya. “Dia sudah punya pasangan?”
“Katanya belum. Tapi aku tidak nanya lebih jauh.”
Ayah mengangguk. “Kalau cuma bicara biasa, tidak masalah. Tapi kalau mulai ada yang lain, kamu harus bilang.”
Jule menurut. Ia tetap membalas pesan Daehoon, tapi ia tidak pernah mengajak bertemu atau melakukan video call. Semuanya masih lewat teks dan sesekali foto. Netizen yang melihat interaksi mereka di komentar semakin antusias. Setiap kali Daehoon membalas komentar di unggahan Jule, atau setiap kali Jule membalas story Daehoon, jumlah like dan komentar melonjak. Beberapa orang mulai membuat utas panjang tentang “jodoh yang dipertemukan netizen.”
Sekitar dua bulan setelah pesan pertama, Daehoon mengirim pesan yang lebih panjang.
“Saya ada rencana ke Indonesia bulan depan. Untuk syuting konten dan bertemu beberapa teman. Kalau kamu tidak keberatan, boleh kita ketemu? Hanya untuk kenalan. Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau.”
Jule membaca pesan itu berkali-kali. Ia tidak langsung membalas. Ia turun ke ruang keluarga dan menunjukkan pesan itu kepada Ayah dan Ibu. Ayah membaca dengan seksama. Ibu duduk di sebelahnya.
“Dia mau ke sini?” tanya Ibu.
“Iya. Katanya untuk kerja. Dia tanya apakah boleh ketemu.”
Ayah diam beberapa saat. “Kamu mau?”
“Aku tidak tahu, Yah. Takutnya nanti orang-orang semakin heboh. Tapi kalau hanya ketemu sebentar, di tempat umum, mungkin tidak apa-apa.”
Ayah menatap Jule. “Kalau kamu mau, boleh. Tapi ada syarat. Pertama, tempatnya harus terbuka. Kafe atau restoran, bukan tempat sepi. Kedua, Ibu atau bibi harus ikut. Ketiga, tidak boleh lama-lama. Dan kamu harus cerita semuanya setelah selesai.”
Jule mengangguk. Ia membalas pesan Daehoon malam itu juga. Ia menulis bahwa ia bersedia bertemu, dengan catatan ada keluarganya yang menemani. Daehoon setuju. Ia bahkan menulis bahwa ia menghargai keputusan itu.
Kedatangan Daehoon ke Jakarta tidak sepenuhnya tenang. Beberapa netizen yang mengetahui rencananya sudah menunggu di bandara dan di beberapa tempat yang diduga akan mereka kunjungi. Foto-foto Daehoon di Indonesia mulai tersebar. Ketika akhirnya mereka bertemu di sebuah kafe di kawasan Selatan, suasana memang ramai. Ibu duduk di meja sebelah, tidak terlalu jauh. Jule dan Daehoon duduk berhadapan. Percakapan mereka masih canggung di awal. Daehoon lebih banyak bertanya tentang Jakarta, tentang makanan yang ia ingin coba, dan tentang bagaimana Jule mengatur waktu antara konten dan kegiatan lain. Jule menjawab dengan singkat. Ia masih merasa aneh duduk berhadapan dengan orang yang selama ini hanya ia kenal lewat layar dan komentar netizen.
Setelah pertemuan itu, interaksi mereka semakin sering. Daehoon tinggal di Indonesia selama hampir tiga minggu. Mereka bertemu beberapa kali lagi, selalu dengan Ibu atau kerabat yang menemani. Mereka membuat satu konten bersama: Daehoon memasak, Jule membantu menyiapkan bahan dan sesekali menjelaskan dalam bahasa Indonesia. Video itu mendapat banyak sekali penonton. Komentarnya hampir semuanya positif. Banyak yang menulis bahwa mereka senang melihat “pasangan” yang unik: selebgram hijaber Indonesia dan chef Korea.
Brand mulai memperhatikan. Salah satu brand hijab besar menghubungi keduanya secara terpisah, lalu mengusulkan kolaborasi bersama. Mereka ingin membuat seri konten OOTD dan masakan dalam satu paket. Jule berdiskusi lagi dengan Ayah dan Ibu. Setelah beberapa pertimbangan, mereka mengizinkan. Syaratnya tetap sama: tidak ada yang berlebihan, tetap menutup aurat, dan keluarga tetap mengawasi.
Followers Jule naik lebih cepat setelah kolaborasi itu. Banyak pengikut baru yang datang dari akun Daehoon. Sebaliknya, akun Daehoon juga mendapat tambahan pengikut dari Indonesia. Netizen semakin yakin bahwa mereka memang cocok. Setiap unggahan yang melibatkan keduanya selalu ramai. Ada yang membuat fan art sederhana. Ada yang menulis doa agar mereka segera menikah. Jule membaca komentar-komentar itu dengan perasaan campur aduk. Ia senang karena kontennya semakin dilihat banyak orang. Tapi ia juga merasa bahwa hubungannya dengan Daehoon masih terlalu baru untuk dibicarakan sejauh itu.
Di rumah, Ayah dan Ibu tetap mengawasi. Setiap kali Jule akan bertemu Daehoon, mereka selalu menanyakan lokasi dan siapa yang menemani. Jule tidak pernah berbohong. Ia masih merasa bahwa selama ia jujur, semuanya akan tetap terkendali. Daehoon sendiri tidak pernah memaksa. Ia selalu menunggu jawaban Jule sebelum mengusulkan pertemuan berikutnya. Ia juga tidak pernah meminta untuk bertemu tanpa ada keluarga Jule yang hadir.
Menjelang Daehoon kembali ke Korea, mereka bertemu sekali lagi. Kali ini di rumah Jule, atas izin Ayah. Daehoon membawa beberapa oleh-oleh dari Korea. Mereka duduk di ruang keluarga bersama Ayah dan Ibu. Percakapan berlangsung lebih lama dari biasanya. Daehoon berbicara tentang rencananya untuk lebih sering ke Indonesia. Ia juga mengatakan, dengan hati-hati, bahwa ia ingin mengenal Jule lebih baik, jika Jule dan keluarganya tidak keberatan.
Ayah tidak langsung menjawab. Ia menatap Daehoon cukup lama, lalu berkata, “Kalau niatnya baik, dan kamu bisa menjaga batas, kami tidak keberatan. Tapi semuanya harus jelas. Tidak ada yang sembunyi-sembunyi.”
Daehoon mengangguk. Jule duduk di sebelah Ibu, mendengarkan. Ia masih merasa semuanya berjalan terlalu cepat. Baru beberapa bulan lalu ia hanya membaca komentar netizen yang bercanda. Sekarang ada orang sungguhan yang duduk di ruang keluarga mereka dan berbicara tentang ingin mengenal lebih jauh.
Setelah Daehoon pulang ke Korea, chat mereka tidak berhenti. Mereka saling mengabarkan kegiatan masing-masing. Daehoon mengirim video masakan baru. Jule mengirim foto konten yang baru selesai. Netizen yang melihat interaksi itu semakin bahagia. Jumlah followers Jule terus bertambah. Brand lain mulai menghubungi, beberapa di antaranya secara khusus meminta kolaborasi yang melibatkan keduanya.
Jule masih mencoba menjaga semuanya tetap sederhana. Ia masih pulang tepat waktu. Ia masih cerita kepada Ayah dan Ibu. Ia masih merasa bahwa apa yang terjadi hanyalah kelanjutan dari komentar-komentar iseng di internet yang entah bagaimana menjadi sesuatu yang lebih nyata. Ia belum tahu ke mana semua ini akan mengarah. Yang ia tahu saat itu hanya bahwa ia masih bisa mengendalikan langkahnya, bahwa keluarganya masih mengawasi, dan bahwa Daehoon, setidaknya untuk sementara, masih bersedia berjalan sesuai dengan batas yang mereka berikan.
Bersambung...
ns216.73.216.62da2


