(Pindahan, Kehamilan, dan Kelahiran Anak Pertama)
Truk pindahan datang pagi-pagi. Dua orang kuli sudah mulai mengangkat kardus dari apartemen. Jule berdiri di tengah ruang tamu yang sudah hampir kosong, memegang daftar barang di ponselnya. Daehoon sedang mengarahkan barang mana yang harus masuk duluan.
“Yang kotak biru itu alat masak,” kata Daehoon. “Taruh di paling belakang. Jangan ketindih.”
“Siap, Pak,” jawab salah satu kuli.
Jule menoleh. “Oppa, baju syuting yang di lemari atas sudah kamu masukin kardus belum?”
“Sudah. Tadi malam. Kamu cuma perlu cek lagi yang di kamar mandi.”
Ibu datang membantu. Ia membawa beberapa makanan untuk para pekerja. “Jangan lupa kunci cadangan apartemen dikembalikan ke pengelola. Dan cek meteran listrik sebelum pergi.”
“Sudah, Bu,” jawab Jule. “Aku sudah foto semuanya.”
Proses pindahan berlangsung sampai siang. Rumah baru mereka berada di cluster yang tenang. Dua lantai, halaman kecil di depan, dan satu ruangan di lantai bawah yang memang mereka rencanakan jadi studio. Ketika semua barang sudah masuk, Ayah ikut datang untuk melihat.
“Lumayan luas,” katanya sambil berjalan ke ruang yang akan jadi studio. “Nanti kalau ada tim syuting, tidak perlu sewa tempat lagi.”
Daehoon mengangguk. “Iya, Pak. Saya sudah ukur. Cukup untuk dua kamera dan meja masak.”
Mereka menghabiskan beberapa hari merapikan. Jule lebih banyak mengatur kamar dan dapur. Daehoon fokus ke studio dan peralatan masaknya. Di sela-sela itu, jadwal konten tidak berhenti. Mereka tetap mengunggah story proses pindahan. Banyak followers yang komentar, memberi saran, atau sekadar mengucapkan selamat.
Dua bulan setelah pindah, Jule mulai merasa mual di pagi hari. Awalnya ia mengira kecapekan. Tapi setelah seminggu, ia membeli test pack. Hasilnya positif. Ia menunggu Daehoon pulang dari meeting sebelum memberi tahu.
“Oppa,” katanya pelan saat mereka duduk di ruang makan. “Aku telat. Dan tadi aku cek.”
Daehoon menatapnya. “Positif?”
Jule mengangguk. Daehoon langsung memeluknya. “Alhamdulillah. Kamu kuat?”
“Masih mual. Tapi tidak terlalu parah.”
Mereka memberi tahu Ayah dan Ibu malam itu juga lewat video call. Ibu menangis bahagia. Ayah hanya tersenyum dan berpesan agar Jule jangan terlalu memaksakan diri dengan jadwal syuting. Dalam beberapa hari, berita kehamilan itu sudah tersebar. Jule mengunggah foto test pack yang sudah diedit agar tidak terlalu vulgar, dengan caption singkat. Interaksi meledak. Banyak brand yang sebelumnya biasa-biasa saja kini menghubungi lebih sering. Ada yang menawarkan paket khusus ibu hamil. Ada yang ingin membuat konten “perjalanan kehamilan.”
Pendapatan mereka naik. Rate card untuk konten bersama semakin tinggi. Beberapa podcast dan talk show kembali mengundang, kali ini dengan topik persiapan menjadi orang tua. Di salah satu acara, host bertanya langsung.
“Sudah siap jadi ayah, Daehoon?”
Daehoon tersenyum. “Masih belajar. Tapi Jule yang lebih hebat. Dia yang mengandung.”
Jule menambahkan, “Kami masih lanjut kerja. Tapi jadwalnya sudah kami atur lebih longgar. Tidak mau penuh seperti dulu.”
Tidak hanya tawaran kerja yang bertambah. Orang-orang di sekitar juga semakin banyak yang ingin dekat. Ada selebgram yang dulu hanya saling follow, kini lebih sering mengajak kolaborasi. Ada yang mengusulkan buat grup “pasangan konten kreator.” Ada juga yang datang ke rumah dengan alasan silaturahmi, padahal baru kenal lewat media sosial.
Suatu sore, seorang teman lama Jule dari sirkel hijabers datang berkunjung. Namanya Clara. Mereka sudah beberapa kali kolaborasi sebelumnya.
“Jule, aku dengar kamu hamil. Selamat ya,” kata Clara sambil menyerahkan parcel. “Ngomong-ngomong, aku lagi ada proyek dengan brand besar. Mereka mau cari beberapa pasangan. Kalau kamu dan Daehoon mau ikut, rate-nya tinggi. Aku bisa jadi penghubung.”
Jule tersenyum. “Terima kasih. Nanti aku diskusikan dulu sama Daehoon. Soalnya aku lagi mengurangi jadwal.”
Setelah Clara pergi, Daehoon yang mendengar dari dapur berkata, “Dia baik. Tapi akhir-akhir ini banyak yang seperti itu. Datang, bilang selamat, lalu langsung nawarin kerja.”
Jule mengangguk. “Aku juga ngerasain. Ada yang chat cuma buat minta dikenalin ke brand yang sama dengan kita. Ada yang mau diajak collab biar followers-nya naik.”
“Kita saring saja,” kata Daehoon. “Yang memang sudah kenal dari dulu, boleh. Yang baru muncul setelah kita rame, hati-hati.”
Kehamilan Jule berjalan lancar. Ia tetap membuat konten, tapi lebih banyak di rumah. Daehoon sering memasak menu khusus untuk ibu hamil dan mengunggah prosesnya. Video-video itu selalu ramai. Ketika usia kehamilan memasuki delapan bulan, mereka sudah menyiapkan kamar bayi. Ayah dan Ibu sering datang membantu.
Proses kelahiran berlangsung di rumah sakit. Daehoon menemani di dalam. Setelah beberapa jam, bayi laki-laki mereka lahir. Tangisannya keras. Jule lelah tapi tersenyum. Daehoon memotong tali pusat dengan tangan gemetar.
“Namanya Na Jun Ho,” kata Jule pelan. “Sesuai yang kita bicarakan.”
Berita kelahiran langsung tersebar. Foto pertama Junho di akun mereka mendapat ratusan ribu like dalam sehari. Ucapan selamat membanjir. Brand-brand mengirimkan kado. Beberapa di antaranya mengajak kerja sama baru dengan imbalan yang lebih besar. Pendapatan rumah tangga mereka kembali naik signifikan.
Di rumah baru, ritme berubah. Jule lebih banyak di rumah mengurus Junho. Daehoon membantu sebisa mungkin di antara jadwal kontennya. Mereka tetap mengunggah, tapi lebih selektif. Orang-orang yang ingin dekat semakin banyak. Ada yang mengaku ingin jadi “sahabat,” ada yang menawarkan jadi asisten, ada yang sekadar ingin diajak foto bersama agar namanya disebut.
Suatu malam, setelah Junho tidur, Jule dan Daehoon duduk di ruang keluarga.
“Sekarang lebih rame,” kata Jule. “Tapi juga lebih banyak yang datang karena kita terkenal.”
Daehoon mengangguk. “Iya. Kita tetap jaga jarak. Yang penting Junho dan kita berdua tenang.”
Jule bersandar di bahunya. “Setuju. Rumah ini sudah cukup. Kita tidak perlu tambah lagi yang tidak perlu.”
Di luar, nama mereka semakin dikenal. Di dalam rumah, mereka berusaha menjaga agar semua yang masuk benar-benar punya tempat, bukan hanya karena ingin ikut naik bersama popularitas yang terus bertambah.
(Podcast dan Awal Chat Tersembunyi)
Studio podcast berada di sebuah gedung di kawasan Selatan. Jule dan Daehoon datang tepat waktu. Junho dititipkan di rumah bersama Ibu. Mereka diundang untuk berbicara tentang kehidupan rumah tangga beda budaya dan cara membagi peran setelah punya anak. Di ruang tunggu, sudah ada dua pasangan lain yang juga diundang di episode yang sama.
Salah satunya Clara bersama suaminya. Clara sudah lama kenal Jule dari sirkel hijabers. Suaminya, seorang pengusaha muda, duduk di sebelahnya. Pasangan kedua adalah Ella dan kekasihnya yang juga konten kreator. Mereka saling menyapa. Obrolan ringan mulai mengalir sebelum rekaman dimulai.
“Junho sudah berapa bulan sekarang?” tanya Clara.
“Lima bulan,” jawab Jule. “Mulai aktif. Tidur malamnya masih belum teratur.”
Ella tertawa. “Sama. Anakku juga begitu. Kamu kelihatan beda, Jule. Lebih glowing.”
Jule tersenyum. “Mungkin karena kurang tidur. Atau karena Daehoon yang masak terus.”
Daehoon yang duduk di sebelahnya hanya mengangguk. “Dia yang lebih kuat. Saya cuma bantu.”
Rekaman dimulai. Host memandu dengan santai. Mereka bergiliran cerita. Daehoon berbicara tentang belajar menjadi ayah di negara yang bukan asalnya. Jule bercerita tentang menyesuaikan jadwal konten dengan waktu menyusui. Clara dan suaminya berbagi cara mereka membagi keuangan rumah tangga. Ella lebih banyak tertawa dan menyelipkan cerita lucu tentang anaknya yang susah makan.
Di sela-sela, ketika kamera tidak merekam dan host sedang mengatur sesuatu, obrolan terus berlanjut. Suami Clara, yang sejak tadi lebih banyak diam, sesekali melirik ke arah Jule. Ia tidak berkata banyak, hanya tersenyum kecil ketika mata mereka bertemu. Jule tidak terlalu memerhatikan. Ia lebih fokus menjawab pertanyaan host dan sesekali menoleh ke Daehoon.
Setelah rekaman selesai, mereka foto bersama. Suami Clara berdiri tidak jauh dari Jule. Ketika semua sudah selesai dan masing-masing bersiap pulang, ia menghampiri sebentar.
“Konten kalian enak ditonton,” katanya. “Terutama yang masak bareng. Jule kelihatan tenang.”
“Terima kasih,” jawab Jule singkat. “Clara juga sering cerita tentang kamu.”
Ia mengangguk, lalu kembali ke istrinya. Tidak ada yang aneh di permukaan. Mereka semua pulang dengan suasana baik.
Malamnya, Jule sedang berbaring di kamar setelah menyusui Junho. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari akun yang tidak ia kenal dekat. Nama penggunanya adalah nama suami Clara. Pesannya pendek.
“Halo. Tadi sempat ngobrol sebentar. Kamu kelihatan beda setelah punya anak. Lebih cantik.”
Jule menatap layar. Ia tidak langsung membalas. Daehoon sedang di dapur menyiapkan susu untuk tengah malam. Jule ragu, tapi akhirnya membalas sopan.
“Terima kasih. Clara baik sekali tadi.”
Balasan datang cepat. “Clara memang baik. Tapi aku yang lihat kamu dari tadi. Auranya beda. Ibu-ibu tapi tetap menarik.”
Jule merasakan sesuatu yang aneh. Ia seharusnya berhenti. Tapi jari-jarinya tetap mengetik.
“Jangan bilang begitu. Kamu punya istri.”
“Aku tahu. Cuma jujur saja. Tidak ada yang tahu kita chat, kan?”
Percakapan berhenti di situ malam itu. Jule mengunci ponsel dan meletakkannya di meja. Daehoon masuk ke kamar membawa gelas. “Masih bangun?”
“Iya. Junho baru tidur.”
Mereka berbincang sebentar tentang podcast tadi, lalu tidur. Jule tidak menceritakan pesan itu.
Hari berikutnya, pesan lagi masuk. Kali ini lebih panjang. Suami Clara bertanya tentang kegiatan Jule, tentang bagaimana rasanya jadi ibu, dan sesekali menyelipkan pujian tentang penampilannya di podcast. Jule membalas dengan singkat di awal. Lama-kelamaan balasannya menjadi lebih sering. Ia merasa aneh, tapi juga penasaran. Tidak ada yang pernah mengatakannya seperti itu setelah ia melahirkan. Daehoon baik dan perhatian, tapi jarang memuji penampilan secara langsung.
Chat mereka berpindah ke jam-jam ketika masing-masing sedang sendiri. Suami Clara biasanya mengirim pesan saat Clara sedang syuting atau mengurus anak. Jule membalas saat Daehoon sedang memasak atau saat Junho tidur siang. Mereka tidak pernah saling menelepon. Hanya teks. Tapi isinya semakin personal.
“Kamu pakai baju apa hari ini?” suatu kali ia bertanya.
Jule mengirim foto cermin dari pinggang ke atas, masih mengenakan kaos longgar di rumah. “Ini. Lagi di rumah.”
Balasan datang dengan cepat. “Kelihatan lembut. Aku jadi ingat tadi di studio. Kamu duduk di sebelah Daehoon, tapi mataku ke kamu.”
Jule tidak memarahi. Ia hanya membalas, “Hati-hati. Clara bisa lihat.”
“Dia tidak cek ponselku. Sama seperti Daehoon, mungkin.”
Kalimat itu membuat Jule diam beberapa menit. Ia tahu itu tidak benar. Tapi ia tidak memblokir. Chat terus berlanjut di hari-hari berikutnya. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil: makanan, jadwal, rasa lelah jadi orang tua. Di antaranya selalu ada kalimat yang lebih dekat. Pujian tentang tubuh Jule yang menurutnya semakin bagus setelah melahirkan. Pertanyaan tentang apakah ia masih sering bermesraan dengan Daehoon. Jule menjawab tidak detail, tapi ia tidak menutup percakapan.
Suatu malam, Daehoon sudah tidur lebih dulu karena kelelahan. Jule masih di ruang tamu, menyusui Junho yang rewel. Ponselnya menyala lagi.
“Masih bangun?”
“Iya. Anak belum tidur.”
“Aku juga. Clara sudah tidur. Aku lagi lihat foto kamu yang kemarin. Yang di rumah.”
Jule menatap layar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tahu ini sudah melewati batas. Tapi jarinya tetap bergerak.
“Jangan simpan foto itu.”
“Terlambat. Aku sudah simpan. Kamu tidak marah?”
Jule tidak menjawab “marah.” Ia hanya menulis, “Hati-hati saja.”
Di seberang, balasan datang dengan sebuah foto. Bukan wajah. Hanya tubuh bagian atas tanpa baju, otot dada dan perut terlihat. Caption-nya singkat: “Ini juga. Biar adil.”
Jule menelan ludah. Ia mengunci ponsel dan meletakkannya jauh. Junho akhirnya tertidur di pangkuannya. Ia membawanya ke kamar, meletakkannya di box, lalu berbaring di sebelah Daehoon yang sudah tidur nyenyak. Ponselnya tetap di ruang tamu. Ia tidak mengambilnya lagi malam itu.
Tapi keesokan paginya, pesan sudah menumpuk. Dan Jule, untuk pertama kalinya sejak menikah, membuka chat itu sebelum memberi tahu suaminya apa pun. Percakapan yang dimulai dari lirikan singkat di studio podcast kini sudah berjalan di balik layar, tanpa diketahui Clara, tanpa diketahui Daehoon, dan tanpa ada yang tahu sampai seberapa jauh itu akan berlanjut.
(POV Jule: Sensasi yang Baru)
Aku masih membuka chat itu setiap malam. Namanya sudah aku simpan dengan inisial saja, biar tidak kelihatan kalau Daehoon atau siapa pun iseng membuka ponselku. Awalnya hanya pujian. “Kamu cantik hari ini.” “Aura kamu beda.” Aku membalas singkat. Terima kasih. Hati-hati. Jangan sampai Clara tahu. Tapi lama-kelamaan pesannya berubah. Ia mulai minta foto.
“Lagi apa? Kirim foto wajah kamu sekarang.”
Aku sedang di studio, menunggu ganti baju untuk pemotretan skincare. Makeup sudah selesai. Hijab masih setengah terpasang karena stylist sedang merapikan. Aku mengangkat ponsel, memotret dari sudut yang tidak terlalu jelas latarnya, lalu mengirim. Tidak ada senyum lebar. Hanya wajah biasa.
Balasannya cepat. “Cantik. Lebih cantik dari yang kemarin di podcast. Kamu tidak kelihatan seperti baru melahirkan.”
Aku membaca kalimat itu dua kali. Daehoon jarang bilang begitu. Ia lebih sering bilang “kamu kuat” atau “istirahat yang cukup.” Tidak pernah “lebih cantik.” Aku membalas, “Jangan berlebihan.” Tapi aku tidak menghapus fotonya dari chat.
Hari-hari berikutnya polanya sama. Ia minta foto saat aku di mobil, saat aku sedang menunggu di kafe sebelum meeting brand, saat aku baru selesai syuting dan masih di ruang ganti. Aku kirim. Kadang dengan hijab, kadang tanpa jika aku sedang di rumah dan yakin tidak ada orang. Ia selalu membalas dengan pujian yang lebih personal. Tentang mata. Tentang bibir. Tentang bagaimana ia membayangkan aku tanpa makeup. Aku tahu ini sudah tidak wajar. Tapi setiap kali notifikasi itu muncul, ada rasa yang tidak pernah aku rasakan dengan Daehoon akhir-akhir ini.
Di rumah, keadaannya berbeda. Junho semakin aktif. Ia sering rewel di malam hari. Aku sudah mencoba menemaninya, tapi setelah menyusui aku cepat lelah. Jadwal pemotretan tidak bisa banyak aku kurangi. Brand yang sudah deal tidak bisa dibatalkan begitu saja. Akhirnya yang lebih sering begadang adalah Daehoon. Ia menggendong Junho, menenangkan, memberi sufor kalau aku sudah kelelahan. Kadang Ibu datang pagi-pagi dan langsung mengambil alih. Aku hanya sempat mencium Junho sebelum berangkat, lalu pulang saat ia sudah tidur.
Suatu sore aku pulang lebih cepat. Daehoon sedang duduk di lantai ruang tamu, main dengan Junho. Ia menoleh dan tersenyum. “Sudah selesai?”
“Iya. Hari ini cuma setengah hari.”
Aku duduk di sebelah mereka. Junho merangkak ke arahku, tapi begitu aku menggendong, ia rewel dan kembali ke Daehoon. Aku tidak marah. Aku hanya merasa aneh. Anakku lebih tenang dengan ayahnya atau dengan neneknya daripada denganku. Aku yang masih dua puluh tahunan, yang dulu merasa siap jadi ibu, ternyata lebih banyak berada di luar rumah daripada di dalam.
Malamnya, setelah Junho tidur, aku membuka chat lagi. Pesan sudah menunggu.
“Hari ini syuting apa? Kirim foto yang belum di-edit.”
Aku kirim satu foto dari kamera yang belum diunggah. Wajahku tanpa filter, sedikit lelah, tapi menurutnya tetap bagus. Ia membalas panjang. Ia bilang ia suka melihat aku dalam aktivitas biasa. Bukan yang sudah diatur untuk konten. Ia juga bilang, “Kamu masih muda. Jangan terlalu keras sama diri sendiri soal anak. Banyak yang bantu, kan?”
Kalimat itu membuatku diam. Aku memang merasa bersalah setiap kali melihat Daehoon lebih sering mengurus Junho. Tapi dari orang ini, kalimat yang sama terasa berbeda. Seperti izin untuk tidak sempurna.
Aku membalas, “Aku memang masih belajar. Kadang merasa tidak cukup.”
“Kamu sudah cukup. Cuma kamu tidak lihat dari sudut orang lain.”
Kami chat sampai hampir tengah malam. Daehoon sudah tidur. Aku masih di ruang tamu, lampu redup, ponsel di tangan. Ada sensasi aneh di dada. Bukan cinta. Aku tahu itu. Lebih seperti rasa ingin tahu yang tidak pernah aku biarkan tumbuh sebelumnya. Sejak menikah, aku tidak pernah berbicara dengan lelaki lain sejauh ini. Tidak pernah mengirim foto wajah hanya karena diminta. Tidak pernah merasa jantung berdetak lebih cepat hanya karena sebuah pesan.
Aku berpikir, mungkin ini karena hormon. Setelah melahirkan, tubuhku berubah. Perasaanku juga. Atau mungkin ini memang hal nakal yang tidak pernah aku lakukan. Di pesantren dulu, hal seperti ini tidak terbayangkan. Bahkan setelah menikah, aku merasa cukup dengan Daehoon. Tapi sekarang, setiap kali aku membalas chat itu, ada bagian dari diriku yang merasa hidup dengan cara yang berbeda. Lebih ringan. Lebih diperhatikan. Lebih… diinginkan.
Keesokan harinya aku tetap pergi syuting. Daehoon tetap mengurus Junho di rumah bersama Ibu. Aku tetap mengirim foto saat diminta. Dan setiap kali ia memuji, aku tetap membalas, meski aku tahu ini sudah melewati batas yang dulu aku jaga sendiri. Aku belum melakukan apa pun yang lebih jauh. Belum ada pertemuan. Belum ada yang di luar teks. Tapi aku sudah tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak menikmati sensasi baru ini. Sensasi mengenal lelaki lain, diam-diam, di saat aku sedang merasa tidak cukup baik sebagai ibu, dan di saat suamiku sedang fokus pada anak kami yang lebih tenang di tangannya daripada di tanganku.
(Komentar, DM, dan Fokus pada Uang)
Jule sedang duduk di ruang ganti setelah sesi pemotretan selesai. Makeup sudah ia hapus sebagian. Ponselnya terbuka di aplikasi Instagram. Ia menggulir komentar di unggahan terbaru: foto dirinya mengenakan hijab baru dari brand yang sedang ia endorse. Seperti biasa, banyak yang memuji. Tapi hari ini ia memperhatikan yang lain.
Ada beberapa akun laki-laki yang fotonya cukup jelas. Wajahnya rapi, beberapa terlihat atletis. Komentar mereka tidak hanya “cantik” atau “masyaAllah.” Ada yang menulis, “Kak, boleh kenalan? Sudah lama follow.” Ada yang lebih berani, “Aura kamu beda. Kalau tidak keberatan, DM ya.” Jule membaca satu per satu. Ia tidak membalas. Jarinya hanya menggulir. Beberapa akun itu ia buka profilnya sebentar. Ada yang followers-nya lumayan, ada yang biasa saja. Ia menutup lagi dan kembali ke komentar.
Di direct message, situasinya berbeda. Selain chat yang sudah berjalan dengan suami Clara, ada banyak pesan dari akun yang tidak ia kenal. Sebagian hanya menyapa. Sebagian lagi langsung mengirim foto. Jule biasanya mengabaikan. Tapi sore itu, karena masih menunggu stylist membereskan baju, ia membuka beberapa.
Satu akun mengirim foto tubuh tanpa wajah. Badan atletis, otot perut jelas, tangan memegang sesuatu di bawah. Foto berikutnya lebih jelas: penis besar, berurat, berwarna lebih gelap dari yang biasa ia lihat. Ukurannya terlihat lebih panjang dan lebih tebal daripada milik Daehoon. Caption-nya singkat: “Ini punya saya. Kalau kamu mau lihat lebih, balas.”
Jule menatap layar beberapa detik. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia langsung menutup chat itu. Tidak membalas. Tidak menyimpan. Tapi gambarnya tetap tertinggal di kepalanya. Ia membuka chat lain. Polanya mirip. Ada yang mengirim foto badan di gym. Ada yang lebih vulgar, penis tegang dipegang dari bawah, uratnya jelas, kepala penisnya besar. Semua dikirim tanpa basa-basi. Jule tidak membalas satu pun. Ia hanya membaca, melihat, lalu keluar dari aplikasi.
Di mobil pulang, ia masih memikirkan itu. Ia mencoba menyangkal. Ia sudah menikah. Ia punya anak. Ia tidak butuh hal seperti itu. Daehoon baik. Ia tidak pernah memaksa. Tapi setiap kali ia membandingkan, ukuran yang ia lihat di foto-foto itu memang berbeda. Lebih besar. Lebih berurat. Lebih… menakutkan sekaligus membuatnya penasaran. Ia menggeleng sendiri. “Tidak,” bisiknya. “Aku tidak seperti itu.”
Sampai di rumah, Daehoon sedang menggendong Junho di ruang tamu. Anaknya tertawa kecil. Daehoon menoleh. “Sudah pulang? Capek?”
“Lumayan. Hari ini agendanya padat.”
Jule mencium Junho sebentar. Anaknya tidak rewel, tapi juga tidak langsung ingin digendong lama olehnya. Ia kembali ke pelukan Daehoon. Jule meletakkan tas dan berjalan ke dapur untuk minum. Dari sana ia bisa mendengar Daehoon berbicara pelan pada Junho, menenangkannya. Ia merasa aneh. Siang ini ia yang menghasilkan uang dari pemotretan. Rate-nya tidak kecil. Tapi di rumah, yang lebih banyak terlihat sebagai orang tua adalah Daehoon.
Malamnya, setelah Junho tidur, Jule membuka ponsel lagi. Ia tidak berniat membalas siapa pun. Ia hanya ingin melihat. Ada tiga pesan baru dari akun berbeda. Dua di antaranya berisi foto. Satu foto badan di kamar mandi, otot dada dan perut basah. Satu lagi lebih eksplisit: penis besar di atas handuk, ukuran yang membuatnya menahan napas. Ia menutupnya cepat. Tapi ia tidak menghapus chat-nya. Ia hanya membiarkannya menggantung.
Ia berpikir tentang uang. Bulan ini pemasukan dari endorse dan konten lebih besar dari bulan lalu. Ia yang lebih banyak pergi syuting. Daehoon lebih banyak di rumah karena Junho masih kecil dan butuh perhatian. Pembagian itu masuk akal. Tapi ada rasa yang mengganjal. Ia yang capek di luar, ia yang dihampiri komentar dan foto-foto itu, sementara di rumah ia merasa tidak terlalu dibutuhkan. Junho lebih tenang dengan ayahnya. Daehoon tidak pernah mengeluh. Tapi Jule mulai merasa ada jarak kecil yang tidak ia mengerti.
Ia mencoba fokus. Besok masih ada meeting dengan brand. Ada tagihan yang harus dibayar. Ada tabungan yang terus bertambah. Ia tidak punya waktu untuk membalas pesan-pesan aneh. Ia masih merasa dirinya tidak seperti itu. Masih denial. Masih ingin percaya bahwa melihat foto-foto itu tidak mengubah apa pun. Bahwa ia masih bisa menutup aplikasi dan kembali menjadi istri yang baik, ibu yang sedang belajar, dan wanita yang hanya peduli pada pekerjaan.
Tapi sebelum tidur, ia membuka satu chat lagi. Foto yang sama masih ada di sana. Penis yang lebih besar dari milik suaminya. Ia menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Lalu ia mengunci ponsel, meletakkannya di meja dengan layar menghadap bawah, dan berbaring di sebelah Daehoon yang sudah tidur. Ia tidak membalas. Ia tidak menyimpan. Tapi ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa gambar itu tidak membuatnya sedikit terganggu dan sedikit penasaran di saat ia sedang menjadi satu-satunya yang membawa uang ke rumah, sementara suaminya sibuk mengurus anak yang lebih memilih pelukan ayahnya.
Bersambung...
ns216.73.216.62da2


