Sidang Perceraian
Ruang persidangan di Pengadilan Agama terasa sesak oleh kamera dan mikrofon. Jule duduk di bangku depan, hijab syarinya rapi menutupi rambut panjangnya, wajahnya dihiasi makeup yang sempurna seolah ini bukan sidang cerai, melainkan sesi photoshoot. Di sebelahnya, Safrie duduk dengan bahu lebar petinju, kaos polo ketat yang memperlihatkan otot lengan. Mahasiswa UII itu menunduk, tapi tangannya sesekali menyentuh paha Jule di bawah meja, diam-diam, seolah mengingatkan siapa yang sekarang “memiliki” tubuh itu.
Wartawan berteriak dari luar pagar kaca. “Jule! Benarkah kamu selingkuh dengan Safrie sejak 2022?” “Bagaimana dengan Junho?” “Apakah Na Daehoon masih mau rujuk?” Jule berdiri, menarik hijab lebih rapat, lalu berjalan cepat melewati koridor samping. Safrie mengikuti di belakang, tubuhnya menjadi tameng. Mereka melewati pintu belakang yang sudah diatur pengacaranya. Di mobil, Safrie langsung menarik Jule ke pangkuannya. Bibir mereka bertemu kasar. Lidah Safrie masuk dalam, tangan petinju itu meremas payudara Jule di balik kain hijab dan dress panjang. “Mereka nunggu di depan,” bisik Jule sambil meremas rambut Safrie. “Biar nunggu. Aku mau kamu dulu.”
Safrie membuka resleting dress Jule dari belakang. Hijab masih menempel, tapi kain di bawahnya sudah longgar. Payudara Jule yang montok terbebas, putingnya mengeras di udara AC mobil. Safrie menunduk, menghisap kasar, giginya menggigit ringan sampai Jule mengerang. Tangan Safrie masuk ke dalam celana dalam renda tipis Jule, dua jari langsung masuk ke dalam vagina yang sudah basah. “Kamu basah banget, Jule. Padahal baru turun dari mobil. Masih mikirin Daehoon di dalam?” Jule menggeleng cepat, pinggulnya bergerak mengikuti jari Safrie. “Nggak. Aku cuma mau kamu. Masukin. Sekarang.”
Safrie membuka celananya. Penisnya yang tebal dan panjang sudah tegang. Ia angkat kaki Jule, posisikan di bangku belakang yang sempit, lalu masuk dalam satu dorongan kasar. Jule berteriak tertahan, kepalanya menabrak jendela. Safrie tidak pelan. Ia hentakkan pinggulnya dengan kekuatan petinju, setiap dorongan membuat tubuh Jule bergoyang hebat. Hijab Jule miring, sebagian rambut terurai. “Lebih dalam,” desah Jule. “Hancurin aku. Biar dia tau aku bukan miliknya lagi.” Safrie memegang pinggul Jule erat, menghentak lebih cepat. Suara kulit bertemu kulit memenuhi mobil. Jule mencapai klimaks duluan, vagina berkedut rapat di sekitar penis Safrie. Safrie menyusul beberapa hentakan kemudian, keluar di dalam, sperma panas mengisi rahim Jule. Mereka berciuman lagi, napas masih terengah, sebelum merapikan pakaian dan masuk kembali ke gedung.
Di ruang mediasi, suasana jauh lebih dingin. Hakim mediator duduk di tengah, dua pengacara di kiri kanan. Na Daehoon duduk di seberang, wajahnya tegang, mata sayu. Ia masih mengenakan kemeja rapi, tapi tubuhnya terlihat lebih kecil dibanding Safrie yang tadi menunggu di luar. Jule duduk dengan kaki bersilang, hijab kembali rapi, seolah tidak ada yang terjadi di mobil beberapa menit lalu.
“Kami sudah berupaya mediasi,” kata hakim. “Namun Ibu Julia tetap pada pendirian.”
Pengacara Daehoon angkat suara. “Klien saya bersedia rujuk. Ia masih mencintai istri dan ingin anak mereka, Na Jun Ho, tumbuh dalam keluarga utuh. Ia bahkan bersedia mengabaikan semua bukti perselingkuhan.”
Jule tersenyum tipis. “Rujuk untuk apa? Supaya saya terus masak, urus rumah, dan diam saja sementara dia sibuk konten? Saya sudah tidak ada perasaan. Naluri sebagai istri dan ibu sudah mati. Yang saya mau sekarang adalah pembagian harta yang adil. Rumah di Jakarta, apartemen di Bandung, rekening bersama, dan brand yang kita bangun bersama. Semua itu harus dibagi 50-50. Kalau tidak, saya tidak akan tanda tangan apa pun.”
Daehoon menatapnya. “Jule… Junho masih kecil. Dia butuh ibunya. Kamu tidak memikirkan dia sama sekali?”
“Junho bisa tinggal dengan kamu,” jawab Jule datar. “Saya sudah tidak sanggup. Saya ingin hidup saya sendiri. Dengan orang yang membuat saya merasa hidup lagi.” Ia melirik ke arah pintu, di mana Safrie menunggu. Pengacara Daehoon mencoba lagi. “Ada bukti chat dan foto yang beredar sejak akhir 2025. Bahkan rumor sejak 2022. Apakah Ibu tidak merasa bersalah?”
Jule menggeleng. “Bersalah pada siapa? Saya sudah lama tidak merasakan apa-apa di rumah. Daehoon sibuk dapur dan konten. Saya butuh lebih dari itu.” Ia mencondongkan tubuh ke depan, suaranya lebih rendah tapi tegas. “Kalau mau bicara soal bukti, silakan. Tapi yang saya inginkan hanya harta. Anak dan perasaan sudah tidak relevan. Naluri ibu saya sudah tidak ada. Saya hanya peduli berapa banyak yang bisa saya bawa pulang setelah ini.”
Mediasi berlangsung tegang. Hakim mencoba menengahi, tapi Jule tetap pada posisi. Ia tidak menangis, tidak meminta maaf, tidak menyebut nama Junho dengan nada lembut. Setiap kali Daehoon berbicara tentang masa depan anak, Jule memotong dengan angka: nilai properti, jumlah follower bersama, kontrak endorsement yang masih berjalan. “Semua itu harus dibagi. Kalau tidak, kita lanjut ke sidang berikutnya. Saya tidak akan mundur.”
Di luar, setelah sesi berakhir, Jule kembali ke Safrie. Mereka tidak langsung pulang. Di hotel dekat pengadilan, Safrie mendorong Jule ke dinding kamar. Hijab dilepas pelan, lalu dilempar ke lantai. Dress dibuka sepenuhnya. Jule telanjang di hadapannya, tubuh yang dulu hanya Daehoon yang lihat kini terbuka lebar untuk lelaki lain. Safrie angkat kedua kaki Jule, posisi berdiri, lalu masuk lagi dari belakang. Kali ini lebih brutal. Ia pegang rambut Jule, menarik kepalanya ke belakang sambil menghentak. “Kamu bilang di pengadilan naluri ibu kamu sudah mati,” bisik Safrie di telinga Jule. “Tapi tubuh kamu masih hidup banget buat saya.”
Jule hanya bisa mengerang. Setiap hentakan membuat payudaranya bergoyang. Safrie membalik tubuhnya, meletakkannya di ranjang, lalu masuk lagi dalam posisi missionary yang dalam. Kaki Jule diangkat tinggi. Safrie mencium bibirnya kasar, lidah saling bergulat, sementara pinggulnya tidak berhenti. “Keluar lagi di dalam,” desah Jule. “Isi saya. Biar besok saya masih ngerasain kamu waktu sidang lanjut.” Safrie mengabulkan. Ia hentak terakhir yang dalam, lalu keluar lagi di dalam Jule, sperma menetes keluar saat ia menarik diri.
Jule berbaring terengah, hijabnya tergeletak di lantai, tubuhnya penuh bekas ciuman dan gigitan ringan. Di luar jendela, lampu kota Jakarta menyala. Besok sidang lagi. Besok media akan bertanya lagi. Tapi malam ini, di ranjang hotel, Jule tidak memikirkan Daehoon, tidak memikirkan Junho, dan tidak memikirkan harta yang masih diperebutkan. Yang ia rasakan hanya tubuh Safrie yang masih menempel di atasnya, dan kenyataan bahwa ia sudah sepenuhnya memilih jalan ini jalan yang brutal, egois, dan tidak bisa kembali.
My Jule: Cuckold Selebgram Hijaber Viral1261Please respect copyright.PENANAntHt59pkDK
(Flashback: Pertemuan Pertama di Club Malam)
Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam ketika mobil hitam dengan kaca film gelap berhenti di depan club di kawasan Sudirman. Dari dalam, Jule turun lebih dulu. Hijab yang ia kenakan siang hari saat merekam konten OOTD sudah diganti dengan scarf tipis yang hanya menutupi sebagian rambut, digulung longgar di leher. Dress hitam ketat yang ia pakai memeluk tubuhnya rapat, belahan dada terbuka lebar, roknya berakhir jauh di atas lutut. Di belakangnya, Clara dan Ella menyusul. Keduanya juga sudah berganti dari penampilan selebgram hijabers yang biasa mereka unggah ke Instagram menjadi versi malam yang lebih terbuka. Clara mengenakan crop top dan rok mini, Ella memakai bodycon dress dengan belahan tinggi.
Tidak ada yang menyangka. Di feed mereka, foto-foto selalu rapi: kain menutupi aurat, caption tentang kesederhanaan dan gaya hidup islami. Di balik kamera, ketiga wanita itu sudah lama terbiasa dengan dunia malam. Uang dari endorsement, brand deal, dan konten berbayar membuat mereka mampu membayar meja VIP, minuman mahal, dan keamanan pribadi. Mereka bukan pemula. Sudah beberapa kali mereka datang ke tempat yang sama, minum, menari, dan sesekali menghilang ke ruang privat bersama orang-orang yang mereka kenal atau yang baru saja mereka temui.
Di dalam club, bass musik menghantam dada. Lampu strobo berkedip. Jule berjalan di depan, langkahnya yakin. Clara memegang tangannya sebentar sambil tertawa. “Jangan terlalu lama di meja, Jule. Kita mau ke dance floor.” Ella hanya mengangguk, matanya sudah memindai ruangan. Mereka menuju meja yang sudah dipesan. Di sana, beberapa teman selebgram lain sudah menunggu, sebagian masih mengenakan hijab longgar, sebagian sudah melepasnya sepenuhnya.
Safrie duduk di sudut meja yang bersebelahan. Ia datang bersama dua temannya, tapi tidak banyak bicara. Tubuhnya tinggi, bahu lebar khas petinju, kulit sawo matang. Ia mengenakan kemeja hitam yang terbuka dua kancing atas, memperlihatkan dada yang berotot. Rambutnya pendek, wajahnya tenang, hampir tidak tersenyum. Ia lebih banyak mengamati. Minuman di tangannya hampir tidak berkurang. Teman-temannya sudah mulai berbicara dengan Ella dan Clara, tapi Safrie tetap di tempatnya.
Jule melihatnya lebih dulu. Ia sudah mendengar nama Safrie dari beberapa orang di sirkel. Anak orang kaya dari Blitar, ayahnya punya pengaruh di daerah, tapi Safrie sendiri jarang muncul di media sosial secara berlebihan. Ia lebih dikenal di kalangan terbatas sebagai petinju amatir yang serius dan mahasiswa yang tidak banyak omong. Ketika mata mereka bertemu, Safrie tidak langsung menunduk. Ia menatap Jule beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
“Kamu Jule, kan?” suara Safrie rendah, hampir tenggelam oleh musik.
Jule tersenyum kecil. “Iya. Kamu Safrie?”
“Iya.” Ia menggeser sedikit, memberi ruang. “Duduk sini kalau mau.”
Jule duduk di sebelahnya. Clara dan Ella sudah bergeser ke sisi lain meja, berbicara dengan teman Safrie. Percakapan awal mereka singkat. Safrie bertanya tentang konten Jule, tentang bagaimana ia bisa tetap konsisten mengunggah setiap hari. Jule menjawab dengan santai, tidak terlalu detail. Ia lebih banyak memperhatikan cara Safrie berbicara: pelan, tidak memaksa, tapi setiap kalimatnya terdengar jelas. Tidak seperti banyak pria lain di club yang langsung mencoba mendekat dengan cara yang lebih agresif.
Setelah beberapa lagu, Jule berdiri untuk ke toilet. Ketika ia kembali, Safrie masih di tempat yang sama. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka Instagram, lalu menunjukkan layar ke Jule. “Boleh follow?”
Jule mengangguk. Mereka saling follow di tempat. Akun Safrie tidak terlalu ramai, kebanyakan foto latihan tinju, beberapa foto di kampus, dan sesekali foto mobil atau motor. Tidak ada foto vulgar. Jule membalas dengan follow-back. Setelah itu, percakapan mereka berpindah ke direct message.
Malam itu mereka tidak terlalu lama di club. Jule, Clara, dan Ella pulang sekitar pukul dua. Di dalam mobil, Clara bertanya, “Yang tadi, Safrie, kamu kenal dari mana?”
“Baru tadi,” jawab Jule. “Diam aja. Tapi badannya… gede.”
Ella tertawa. “Hati-hati. Suami kamu orang Korea yang baik-baik.”
Jule tidak menjawab. Ia hanya membuka ponsel dan melihat pesan yang baru masuk dari Safrie.
Safrie: Sampai rumah?1261Please respect copyright.PENANA9DxL5LFsJq
Jule: Belum. Masih di jalan.1261Please respect copyright.PENANAiq5TLAvHS6
Safrie: Besok latihan pagi. Kalau kamu lagi di Jakarta, kabarin.
Pesan itu sederhana. Tidak ada rayuan berlebihan. Tapi sejak malam itu, chat mereka tidak berhenti.
Hari-hari berikutnya, Jule mulai membalas lebih cepat. Ia mengirim foto konten yang baru saja ia unggah, foto OOTD dengan hijab yang rapi. Safrie membalas dengan foto latihan: tubuhnya berkeringat, otot lengan dan dada terlihat jelas di bawah kaos singlet. Jule menatap foto itu lebih lama dari yang seharusnya. Ia sudah menikah hampir empat tahun. Daehoon baik, pekerja keras, dan tidak pernah memaksa. Tapi di ranjang, semuanya terasa datar. Tidak ada desakan, tidak ada rasa ingin yang kuat. Tubuh Jule masih muda, masih haus sentuhan yang lebih kasar.
Suatu malam, setelah Junho sudah tidur dan Daehoon sedang di dapur menyiapkan konten masak untuk esok hari, Jule berbaring di kamar. Ponselnya bergetar.
Safrie: Lagi apa?1261Please respect copyright.PENANANJf7N4Tquu
Jule: Rebahan. Kamu?1261Please respect copyright.PENANA7oxVZ5CFUX
Safrie: Baru selesai mandi.
Beberapa detik kemudian, sebuah foto masuk. Safrie berdiri di depan cermin kamar mandi, handuk masih melingkar di pinggang, tapi sudah longgar. Dada dan perutnya basah, otot-ototnya menonjol. Jule menelan ludah. Ia membalas dengan foto dirinya sendiri: berbaring di ranjang, mengenakan tank top tipis tanpa bra, hijab sudah dilepas dan digantung di kursi. Rambutnya terurai. Ia tidak menunjukkan wajah sepenuhnya, hanya dari leher ke bawah.
Safrie: Cantik.1261Please respect copyright.PENANAojBngykV0I
Jule: Kamu juga.
Percakapan berlanjut. Safrie mulai lebih berani. Ia mengirim foto lain: kali ini handuk sudah diturunkan sedikit, memperlihatkan garis V di perut bawah dan awal rambut kemaluan. Jule merasakan panas di antara pahanya. Ia mengirim foto yang lebih terbuka: tank top diangkat, payudaranya terlihat jelas, puting mengeras karena AC kamar.
Safrie: Mau lihat lebih?1261Please respect copyright.PENANAQ2zs1GJpYt
Jule: Mau.
Foto berikutnya membuat Jule diam beberapa detik. Safrie sudah telanjang sepenuhnya. Ia berdiri menghadap cermin, penisnya yang besar dan gelap menggantung berat di antara kedua pahanya. Ukurannya jauh lebih besar dari yang biasa Jule lihat. Tebal, panjang, dengan urat yang terlihat jelas. Kepala penisnya gelap, hampir hitam. Jule merasakan vagina berkedut. Ia sudah lama tidak merasakan sensasi seperti ini hanya dari melihat foto.
Jule: Besar banget.1261Please respect copyright.PENANAA7nYYKc30L
Safrie: Mau dipegang?1261Please respect copyright.PENANAdU4lBkLh95
Jule: Mau. Tapi aku masih di rumah.
Safrie: Nanti. Kalau kamu berani keluar.
Mereka terus bertukar foto. Safrie mengirim video pendek: tangannya memegang penisnya sendiri, mengocok pelan, lalu lebih cepat. Jule menonton berulang kali. Ia memasukkan tangan ke dalam celana dalam, menyentuh dirinya sendiri sambil membayangkan tangan Safrie yang besar itu. Di luar kamar, Daehoon masih berbicara dengan asistennya tentang resep. Jule tidak peduli. Ia mempercepat gerakan jarinya sampai ia mencapai klimaks kecil, tubuhnya bergetar pelan di atas kasur.
Keesokan harinya, chat mereka semakin intens. Safrie mengirim foto pagi hari: penisnya tegang di bawah selimut, hanya ujungnya yang terlihat. Jule membalas dengan foto dirinya di kamar mandi, telanjang dari pinggang ke atas, payudara basah karena baru mandi. Ia menulis, “Kalau ketemu, kamu mau apa?”
Safrie: Mau masukin. Dalam-dalam. Sampai kamu nangis.
Jule membaca pesan itu berkali-kali. Ia tahu risikonya. Ia sudah punya suami dan anak. Tapi setiap kali ia melihat foto penis Safrie yang hitam dan besar itu, rasa ingin tahu dan rasa lapar di tubuhnya mengalahkan semuanya. Ia membalas singkat.
Jule: Kapan?
Safrie: Besok malam. Aku di Jakarta. Datang ke hotel. Aku kirim lokasi.
Jule menatap layar. Di ruang sebelah, suara Daehoon terdengar sedang merekam voice-over untuk konten YouTube. Junho tertawa kecil di ruang bermain. Jule mengunci ponselnya, lalu membuka lagi. Ia mengetik balasan.
Jule: Oke.
Malam itu, sebelum tidur, Safrie mengirim satu foto terakhir. Penisnya tegak penuh, dipegang dari bawah, ukurannya memenuhi hampir seluruh layar. Caption-nya hanya satu kalimat: “Besok ini yang masuk ke kamu.”
Jule menyimpan foto itu di folder tersembunyi. Ia berbaring menghadap dinding, tangan kembali masuk ke dalam celana dalamnya. Kali ini ia tidak hanya menyentuh. Ia membayangkan tubuh Safrie yang berotot menindihnya, penis besar itu masuk dalam satu dorongan kasar, mengisi dirinya sampai penuh. Di luar, Daehoon sudah tidur. Napasnya teratur. Jule mencapai klimaks lagi, kali ini lebih kuat, sambil menggigit bibir agar tidak bersuara.
Pertemuan di club malam itu hanya berlangsung beberapa jam. Tapi follow-back, chat, dan foto-foto yang dikirim Safrie sudah cukup untuk membuka sesuatu yang selama ini tertutup rapat di dalam diri Jule. Ia masih mengenakan hijab setiap kali keluar rumah untuk konten. Ia masih tersenyum di samping Daehoon di video keluarga. Tapi di dalam ponselnya, di folder yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, sudah tersimpan puluhan foto dan video dari lelaki yang tubuhnya lebih besar, lebih kasar, dan lebih berani mengatakan apa yang ia inginkan.
Besok malam, ia akan pergi ke hotel. Ia akan meninggalkan rumah dengan alasan meeting brand. Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Jule akan membiarkan tubuhnya diisi oleh penis lelaki lain penis yang hitam, besar, dan sudah ia lihat berkali-kali di layar ponselnya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Yang ia tahu hanya satu: ia sudah tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana rasanya ketika Safrie benar-benar masuk ke dalam dirinya.
(Setelah Sidang: Di Dalam Rubicon)
Mobil Rubicon hitam milik Safrie melaju pelan meninggalkan kawasan pengadilan. Kaca filmnya gelap total, tidak ada yang bisa melihat ke dalam. Di kursi penumpang, Jule sudah melepas hijabnya sepenuhnya. Rambut panjangnya terurai bebas, sebagian menempel di pipi karena keringat. Dress panjang yang ia kenakan di ruang mediasi sudah digulung sampai pinggang. Ia tidak memakai celana dalam. Sejak mereka naik mobil, tangannya sudah sibuk membuka resleting celana Safrie.
Safrie mengemudi dengan satu tangan. Tangan satunya memegang kepala Jule, mendorongnya turun. “Mulut kamu masih basah dari tadi,” katanya pelan, suaranya rendah. “Habis aku keluar di dalam kamu di mobil sebelumnya. Sekarang giliran kamu yang kerja.”
Jule tidak menjawab. Ia sudah menunduk sepenuhnya. Bibirnya terbuka, lidahnya menjilat kepala penis Safrie yang masih setengah tegang. Ukuran itu masih sama seperti yang pertama kali ia lihat di foto bertahun-tahun lalu: tebal, panjang, berwarna gelap kehitaman, dengan urat yang menonjol saat mulai mengeras. Jule memasukkan kepala penis itu ke dalam mulutnya, menghisap pelan sambil tangannya mengocok batang yang belum masuk. Air liurnya sudah membasahi seluruh permukaan. Setiap kali Safrie menginjak gas atau mengerem, kepala Jule terdorong lebih dalam.
Mereka sudah tinggal bersama di apartemen Safrie sejak beberapa bulan sebelum foto dan video mereka bocor. Awalnya hanya beberapa malam. Lalu Jule mulai membawa baju, alat makeup, dan beberapa barang Junho yang ia ambil diam-diam. Daehoon mengira ia sedang sibuk syuting konten di luar kota. Padahal Jule sudah lebih sering tidur di ranjang Safrie daripada di rumahnya sendiri. Di apartemen itu mereka sudah melakukan hampir semua hal yang kemudian tersebar: di kasur king size, di sofa ruang tamu, di dapur, bahkan di balkon saat malam hari. Salah satu video yang paling banyak beredar adalah rekaman dari atas, Jule telanjang total tanpa hijab, rambutnya tergerai, tubuhnya naik-turun di atas Safrie sambil mengerang keras. Wajahnya terlihat jelas. Tidak ada yang bisa menyangkal itu dirinya.
Di dalam Rubicon, Jule memperdalam hisapannya. Ia menurunkan kepala sampai hidungnya menyentuh rambut kemaluan Safrie. Penis itu masuk jauh ke tenggorokannya. Ia tersedak pelan, air mata keluar di sudut mata, tapi ia tidak menarik diri. Safrie mengerang rendah, tangannya semakin erat memegang rambut Jule. “Terus. Jangan berhenti. Besok media masih nunggu di depan apartemen. Biar mereka dengar suara kamu dari dalam mobil kalau perlu.”
Jule mengangguk kecil sambil tetap menghisap. Lidahnya bergerak memutar di bawah batang penis, lalu ia tarik keluar sampai hanya kepala yang tersisa peju di bibirnya, kemudian ia telan lagi dalam satu gerakan. Saliva menetes dari sudut mulutnya ke paha Safrie dan ke jok kulit mobil. Ia sudah terbiasa. Di apartemen, Safrie sering memintanya melakukan ini sambil menonton video mereka sendiri yang bocor di ponsel. Jule akan berlutut di lantai, mulutnya penuh, sementara Safrie memegang ponsel dan memperlihatkan cuplikan di mana ia sedang ditiduri dari belakang tanpa busana.
Mobil berbelok masuk ke jalan tol. Safrie menambah kecepatan. Getaran mesin membuat kepala Jule bergoyang mengikuti ritme. Ia memegang pangkal penis dengan satu tangan, mengocok sambil mulutnya tetap bekerja di bagian atas. Tangan lainnya meremas buah zakar Safrie, memijat pelan. Safrie mendesah lebih keras. “Kamu enak banget, Jule. Lebih enak dari waktu pertama kali di hotel dulu. Waktu itu kamu masih kaku. Sekarang mulut kamu sudah hafal.”
Jule mengeluarkan penis itu sebentar untuk bernapas. Benang saliva masih menghubungkan bibirnya dengan kepala penis yang basah dan mengkilap. “Aku sudah lama tinggal sama kamu,” katanya serak. “Setiap malam kamu masukin. Setiap pagi juga. Aku sudah tidak ingat rasanya penis Daehoon.” Ia menunduk lagi, kali ini lebih cepat. Kepalanya naik-turun dengan ritme yang lebih agresif. Suara basah dari mulutnya memenuhi kabin mobil, bercampur dengan deru mesin Rubicon.
Safrie mengalihkan pandangan sebentar ke spion, memastikan tidak ada mobil yang terlalu dekat, lalu ia dorong kepala Jule lebih dalam lagi. “Telan. Sampai mentok.” Jule menurut. Ia membuka tenggorokannya, membiarkan penis Safrie masuk sampai pangkal. Matanya berkaca-kaca, hidungnya tertekan. Ia tetap di posisi itu beberapa detik, lalu menarik diri sambil terbatuk kecil. Air liur dan precum sudah membasahi dagunya dan dada atasnya. Dress yang digulung tidak menutupi apa pun. Payudaranya bergoyang setiap kali ia bergerak.
Mereka sudah melewati beberapa gerbang tol. Apartemen Safrie masih sekitar dua puluh menit lagi. Di dalam mobil, Jule tidak berhenti. Ia mengubah posisi sedikit, berlutut di atas jok penumpang yang sudah ia turunkan, tubuhnya membungkuk sepenuhnya ke pangkuan Safrie. Posisi itu membuatnya bisa menghisap lebih dalam dan lebih lama. Safrie memegang setir dengan kedua tangan sekarang, pinggulnya sesekali terangkat kecil untuk mendorong lebih jauh ke dalam mulut Jule.
“Foto yang kemarin viral itu,” kata Safrie sambil napasnya memburu, “yang kamu telanjang di kasur, kaki kamu diangkat tinggi. Banyak yang bilang itu video AI. Padahal itu asli. Aku yang rekam. Kamu yang minta diulang karena belum puas.” Jule mengerang di sekitar penisnya sebagai jawaban. Getaran dari tenggorokannya membuat Safrie semakin dekat. “Sekarang juga kamu mau direkam lagi? Nanti di apartemen. Aku taruh kamera di atas. Biar semua orang lihat lagi kalau kamu lebih suka kontol aku daripada suami kamu.”
Jule mengangguk tanpa melepaskan mulutnya. Ia sudah tidak peduli. Sejak video dan foto mereka tersebar, ia sudah kehilangan banyak endorsement. Beberapa brand membatalkan kontrak. Tapi Safrie menanggung semuanya. Apartemen, mobil, pengeluaran harian, bahkan biaya pengacara untuk sidang cerai. Sebagai gantinya, Jule memberikan tubuhnya hampir setiap saat mereka bersama. Di kasur, di sofa, di kamar mandi, dan sekarang di dalam Rubicon yang sedang melaju di tol.
Safrie mulai kehilangan kendali. Pinggulnya bergerak lebih sering, mendorong penisnya masuk-keluar dari mulut Jule dengan tempo yang semakin cepat. “Aku mau keluar,” katanya tegang. “Di mulut kamu. Telan semuanya.” Jule mempercepat gerakannya. Tangannya mengocok bagian yang tidak masuk, mulutnya menghisap kuat di kepala penis. Beberapa detik kemudian Safrie mengerang panjang. Sperma panas menyembur ke dalam mulut Jule, mengenai langit-langit mulut dan lidahnya. Ia terus menghisap, menelan setiap semburan yang keluar. Ada yang meluber dari sudut bibirnya, menetes ke dagu dan ke paha Safrie. Ia tidak berhenti sampai penis itu mulai melemas di dalam mulutnya.
Jule akhirnya mengangkat kepala. Bibirnya bengkak, dagu dan lehernya basah oleh campuran saliva dan sperma. Ia menelan sisa peju yang masih ada di mulutnya, lalu menjilat bibirnya sendiri. Safrie menatapnya sebentar sambil tetap mengemudi. “Bersih-bersihin. Nanti kita sampai. Masih ada sisa peju di kontol aku.” Jule menurut. Ia menunduk lagi, menjilat bersih batang penis yang masih sensitif, membersihkan setiap tetes yang tersisa peju. Setelah selesai, ia duduk kembali, menarik dressnya turun sedikit, tapi tidak memakai kembali celana dalam. Hijabnya tetap tergeletak di dashboard.
Rubicon terus melaju. Di luar, lampu jalan mulai menyala. Di dalam mobil, aroma seks masih tercium kuat. Jule bersandar di kursi, napasnya masih sedikit tersengal. Tangannya sesekali menyentuh paha Safrie, meremas pelan. “Nanti di apartemen,” katanya pelan, “aku mau kamu masukin lagi. Dari belakang. Seperti di video yang kemarin. Aku mau kamu rekam lagi.”
Safrie mengangguk tanpa menoleh. “Bisa. Tapi kali ini kamu yang pegang kamera. Biar kelihatan muka kamu waktu aku hentak dalem-dalem. Biar semua orang yang nonton tahu kalau kamu sudah sepenuhnya milik aku.” Jule tersenyum kecil. Ia sudah tidak memikirkan sidang yang baru saja selesai, tidak memikirkan Daehoon yang masih mencoba memperjuangkan Junho, dan tidak memikirkan komentar netizen yang menghujatnya. Yang ada di kepalanya hanya rasa penis Safrie yang masih terasa di tenggorokannya, dan kepastian bahwa dalam kurang dari dua puluh menit mereka akan sampai di apartemen yang sudah menjadi rumah mereka berdua.
Mobil berbelok keluar tol. Jarak semakin dekat. Jule menurunkan kaca sedikit untuk membuang udara panas di dalam kabin, lalu menutupnya lagi. Ia menatap Safrie yang masih fokus ke jalan. Tanpa banyak bicara, ia kembali menunduk, membuka kembali resleting yang tadi sudah ia tutup, dan memasukkan penis Safrie yang mulai mengeras lagi ke dalam mulutnya. Mereka masih punya waktu. Dan Jule tidak ingin menyia-nyiakan satu menit pun di dalam Rubicon ini sebelum mereka sampai dan melanjutkan semuanya di ranjang yang sama, tempat semua foto dan video itu pertama kali direkam.
Bersambung...
ns216.73.216.62da2


