Hana Humaira
514Please respect copyright.PENANAI3W46TYuQ0
Pukul 06.41 WIB aku menyematkan peniti ketiga di bawah dagu, menarik kain jilbab abu-abu itu sampai jatuhnya lurus menutupi dada, lalu memeriksa cermin lemari dari dagu ke bawah seperti petugas memeriksa segel kardus sebelum dikirim. Lurus. Tak ada rambut yang lolos di pelipis. Peniti cadangan sudah ada di saku dalam tas, tiga buah, ditusukkan ke sepotong kardus bekas pasta gigi supaya tak hilang. Semua sesuai. Aku sudah melakukan urutan ini kira-kira dua ribu kali sejak kelas satu Tsanawiyah, dan tanganku bisa melakukannya tanpa kupikirkan.
Lalu, sebelum kain itu jatuh menutup, mataku berhenti di leherku sendiri.
Hanya sebentar. Kulit di bawah rahang yang tak pernah dilihat siapa pun selain cermin ini dan almarhumah ibuku, tempat urat kecil berdenyut pelan setiap kali aku menelan. Aku tak sedang memikirkan apa-apa. Aku hanya melihatnya, seperti orang melihat jendela rumah tetangga yang tirainya kebetulan terbuka, dan heran sendiri kenapa mataku tak lekas pindah.
Kain itu turun. Peniti terkunci. Leher itu hilang.
Aku menghela napas, merapikan bagian dahi dengan dua jari, dan mengambil tas. Di cermin yang sama, gadis berjilbab lebar itu menatapku balik dengan mata besar yang menurut ibu-ibu majelis "teduh sekali, kayak Umminya". Aku mengangguk kecil pada gadis itu, kebiasaan lama yang tak pernah aku ceritakan ke siapa pun, lalu mematikan lampu kamar.
* * *
Ndalem pukul segini selalu berbau dua hal: kopi tubruk Abah dan sabun colek dari tempat cucian di belakang, tempat Mbak Siti sudah berjongkok sejak selesai Subuh. Dari arah masjid pesantren, suara santri putra setoran hafalan masih terdengar putus-putus dibawa angin, dipotong klakson motor yang lewat di jalan depan.
Aku melewati ruang tamu dengan langkah yang kujaga tetap pelan. Di dinding, di atas lemari kaca berisi piala lomba MTQ dan kitab-kitab bersampul kulit, foto ibuku tergantung dalam bingkai kayu jati: perempuan berjilbab putih yang tersenyum dengan mulut tertutup, difoto di studio di pasar kecamatan tahun 2009, tiga tahun sebelum kanker itu ditemukan terlambat. Aku selalu menyapa foto itu dalam hati setiap pagi. Assalamu'alaikum, Ummi. Pagi ini juga.
Abah ada di meja makan, sarung kotak-kotak hijau, kaus oblong putih, peci hitam miring sedikit ke kanan. Tasbih kayu gaharu melingkar di pergelangan tangan kirinya, dan tangan kanannya menyendok nasi uduk yang dibeli Kang Ali di depan gang. HP-nya tergeletak di samping piring, memutar murattal dengan volume kecil dari speaker yang mulai sember.
Mulustrasi Abah:
514Please respect copyright.PENANARGiFk8FOjV
"Sarapan dulu, Nak."
"Na'am, Bah."
Aku duduk, mengambil piring, mengambil nasi setengah centong. Abah memperhatikan centong itu sebentar dan tak berkata apa-apa. Itu cara Abah menegur: dengan memperhatikan.
Di kulkas, di bawah magnet bertuliskan nama toko bangunan, kalender dari koperasi pesantren menunjukkan bulan ini. Aku tak perlu melihat untuk tahu ada satu tanggal di halaman lima bulan dari sekarang yang dilingkari spidol merah, dilingkari dua kali karena lingkaran pertama kurang tebal menurut Abah. Tanggal wisuda. Abah melingkarinya di hari pertama semester delapan, di depanku, sambil berkata Bismillah.
"Bab satunya sudah di-ACC Bu Maryam..?"
"Belum, Bah. Kemarin dicoret lagi bagian latar belakang. Katanya terlalu panjang mukadimahnya."
"Bu Maryam itu teliti. Bagus. Abah dulu juga dibimbing yang teliti, makanya tesis Abah dipakai sampai sekarang." Abah menyeruput kopinya. "Dikerjakan pelan-pelan. Yang penting lulus tepat waktu. Kyai Mahfudz kemarin telepon, nanyain kamu."
Sendokku berhenti di udara sesaat, lalu melanjutkan perjalanannya ke mulut.
"Nanyain apa, Bah?"
"Ya nanyain kabar. Farhan sudah pulang dari Hadramaut, sekarang bantu ngajar di pondok bapaknya." Abah mengusap tasbih di pergelangan dengan ibu jari, satu butir, dua butir. "Nanti setelah wisuda kita silaturahmi ke sana. Sekalian."
Sekalian. Aku mengunyah nasi udukku sampai halus, sampai tak bisa dikunyah lagi. Aku pernah melihat Gus Farhan dua kali: sekali di haul kakeknya sepuluh tahun lalu, waktu Farhan masih kurus dan memegang rebana di barisan belakang, dan sekali lagi di foto yang dikirim ke grup WhatsApp keluarga besar, berdiri di depan sebuah kubah putih dengan gamis dan senyum yang sopan. Selain itu, kosong. Tak ada suara, tak ada cara tertawa, tak ada apa pun yang bisa kupegang.
"Na'am, Bah," kataku.
Abah mengangguk puas, lalu kembali ke nasinya. Murattal di HP sampai di akhir surat dan berpindah ke surat berikutnya dengan jeda dua detik yang selalu terasa terlalu lama.
* * *
Motor matik merah itu sudah dipanaskan Kang Ali di garasi samping, meskipun aku sudah berkali-kali bilang tak usah. Jarum bensinnya di garis kedua dari bawah. Aku mencatat dalam kepala: isi pertalite dua puluh ribu sepulang kampus. Uang saku bulan ini tinggal tiga ratus empat puluh ribu, dan masih ada sebelas hari sebelum Abah memberiku amplop cokelat berikutnya di meja makan, tanpa kata-kata, seperti biasa.
Di gerbang pesantren, dua santriwati yang sedang menyapu daun ketapang berhenti dan menunduk.
"Assalamu'alaikum, Ning Hana."
"Wa'alaikumussalam."
Ning. Aku tersenyum pada mereka dari balik masker, mengangguk, dan memutar gas. Aku selalu merasa panggilan itu seperti jilbab kedua yang dipasangkan orang lain di atas jilbabku sendiri.
Jalan ke kampus empat puluh menit kalau tak macet di pertigaan pasar, dan pagi ini macet. Di lampu merah, aku membuka HP dengan satu tangan. Grup WhatsApp kelas TAFSIR 8A (BISMILLAH LULUS) sudah berisi seratus dua belas pesan baru sejak semalam: jadwal bimbingan yang bentrok, stiker kucing menangis, foto antrean di depan ruang Kaprodi dengan tulisan ya Allah. Aku menggulir sampai bawah tanpa membaca, lalu lampu hijau.
* * *
Kampus Universitas Islam Negeri itu berdiri di atas tanah wakaf yang dulu sawah, dan pada musim hujan bau sawahnya masih naik dari selokan di samping gedung Fakultas Ushuluddin. Aku memarkir motor di parkiran putri, di bawah pohon mahoni yang getahnya selalu menetes ke jok, lalu berjalan ke gedung dengan kepala sedikit menunduk. Tak terlalu menunduk. Abah pernah bilang, perempuan yang terlalu menunduk justru menarik perhatian.
Pak Darno, satpam pos depan, mengangkat tangan dari balik kaca.
"Pagi, Mbak Hana. Salam buat Pak Kyai."
"Insyaallah, Pak."
Pak Darno hafal wajah mahasiswa yang orang tuanya dosen; dari semuanya hanya aku yang ayahnya juga pengasuh pesantren, jadi hanya aku yang setiap kali lewat dikirimi salam buat beliau.
Di depan gedung, kios fotokopi Bang Udin sudah buka, mesin fotokopinya menderu dengan bunyi kipas angin rusak. Aku mampir untuk mencetak revisi Bab I yang semalam aku ketik sampai pukul satu.
"Dua rangkap, Bang. Yang satu jilid lakban hitam."
"Siap, Neng. Ditunggu apa ditinggal..?"
"Ditinggal, nanti siang saya ambil."
Bang Udin mengangguk tanpa melihat, karena matanya sedang menghitung lembar kertas dengan jempol yang sudah hafal tebal lima puluh lembar. Di dinding kiosnya, di antara jasa pas foto kilat dan jilid soft cover, ada kertas HVS yang ditempel selotip: TIDAK MELAYANI NGUTANG. ALLAH MELIHAT. Di bawah kertas itu, di atas tumpukan kertas kosong, Bang Udin meletakkan map revisiku.
* * *
"Han. Han. Hana Humaira binti Kyai Haji."
Zahra muncul dari arah tangga dengan tas selempang yang menggelembung oleh fotokopian, tumbler hijau tosca di tangan kiri, dan jilbab instan hitam yang dipakai agak miring karena, menurut pengakuannya sendiri, ia bangun pukul tujuh kurang lima.
"Jangan panggil gitu, ih."
"Lu udah bimbingan..?"
"Nanti jam sepuluh."
"Gue jam sebelas. Kalo lu selesai duluan, tungguin gue ya. Plis. Gue takut Bu Maryam nyoret pake tinta merah lagi, kemaren kertas gue kayak abis dibacok." Zahra meneguk tumblernya. "Lu udah sarapan? Gue belom. Kantin yuk, ada bakwan baru dateng."
"Udah tadi di rumah."
"Ah, anak Kyai mah sarapannya nasi uduk Kang Ali. Gue mah cuma kopi sachet sama doa ibu kos."
Aku tertawa kecil, menutup mulut dengan punggung tangan. Zahra satu-satunya orang di kampus ini yang bisa membuatku tertawa dengan suara, satu-satunya yang menyebut Abah tanpa nada hormat yang berlebihan, dan satu-satunya yang pernah melihatku menangis, di semester tiga, gara-gara nilai Ulumul Qur'an-ku B plus dan aku takut pulang.
Kami berjalan ke kantin. Bau gorengan sudah menyambut dari ujung koridor, minyak yang sama sejak pagi kemarin, bakwan dan tahu isi dan pisang molen yang ditumpuk di nampan plastik merah. Zahra mengambil dua bakwan dan tiga cabe rawit, membayar empat ribu, lalu duduk di bangku panjang sambil membuka laptop yang stikernya mengelupas.
* * *
Bimbingan dengan Bu Maryam berlangsung sebelas menit.
Bu Maryam duduk di balik meja yang tertata seperti meja apoteker: map nilai berwarna biru di kiri, gelas teh di kanan dengan tutupnya, kacamata berbingkai cokelat yang terus ia naikkan dengan telunjuk. Ia membaca revisiku halaman demi halaman tanpa bersuara, dan aku duduk di kursi di depannya dengan kedua tangan di pangkuan, jari kanan meremas ujung jilbab di balik meja tanpa aku sadari.
"Ini sudah lebih baik," kata Bu Maryam akhirnya. "Cuma rumusan masalahnya... masih normatif, ya. Kamu nulisnya kayak lagi ceramah, Hana. Skripsi itu bukan ceramah. Yang saya mau tahu itu apa yang kamu tanyakan. Bukan yang sudah dijawab ulama."
"Na'am, Bu. Afwan."
"Udah, nggak usah minta maaf. Perbaiki aja." Bu Maryam mencoret dua baris dengan pulpen biru, bukan merah, dan aku menganggap itu kemenangan kecil. "Kamis minggu depan, ya. Jam yang sama."
Di luar ruangan, Zahra masih menunggu giliran dengan muka anak SD antre suntik. Aku memberinya jempol, lalu berbisik: "Pulpen biru."
"Serius..? Alhamdulillah. Doain gue."
Aku mendoakannya, sungguh-sungguh, sambil berjalan menuruni tangga menuju perpustakaan pusat. Aku punya waktu dua jam sebelum kelas Hermeneutika, dan aku butuh Tafsir al-Manar jilid empat untuk rumusan masalah yang katanya terlalu normatif itu.
* * *

Perpustakaan pusat lantai tiga selalu dingin, dinginnya tak masuk akal. AC-nya dipasang di angka enam belas oleh petugas yang entah siapa, dan tak ada yang berani menaikkannya karena remotnya disimpan di laci yang dikunci. Aku suka lantai ini justru karena itu. Hanya sedikit orang yang tahan di sini lebih dari satu jam, dan yang sedikit itu biasanya diam.
Tapi dingin itu tak sampai ke balik jilbabku. Di bawah tiga lapis kain, ciput, jilbab, dan manset di leher, kulitku tetap lembap oleh keringat perjalanan dari gedung fakultas, dan perbedaan itu membuat tubuhku terasa seperti dua tempat: wajah yang kedinginan, dan leher yang gerah. Aku menyusuri rak 297, jari telunjuk di punggung buku, membaca nomor panggil satu per satu.
Al-Manar ada di rak paling atas. Tentu saja.
Aku berjinjit. Jariku menyentuh punggung jilid empat, menariknya sedikit, dan jilid tiga yang menempel di sebelahnya ikut miring karena kertasnya sudah lembap dan lengket satu sama lain. Aku mencoba menahan jilid tiga dengan tangan kiri, tapi tangan kiriku memegang map revisi, dan dalam satu detik yang tak bisa diperlambat, dua buku setebal batu bata itu jatuh bersamaan dengan map, kertas-kertas revisiku, dan pulpen.
BRUKK…
Bunyinya terlalu keras untuk lantai tiga. Seseorang di meja baca dekat jendela mendesis. Aku langsung berjongkok, wajahku panas, mengumpulkan kertas yang berserakan dengan tangan yang tiba-tiba tak cekatan.
Sepasang sepatu kulit cokelat berhenti di ujung rak.
Aku tak langsung mendongak. Aku melihat sepatu itu dulu, bersih, ujungnya sedikit lecet, lalu ujung celana bahan abu-abu yang disetrika dengan lipatan tajam. Pemilik sepatu itu berjongkok, mengambil jilid tiga yang jatuh paling jauh, membalik sampulnya, dan membaca judulnya sebentar, memastikan sesuatu yang tak penting.
"Rak atas emang suka gitu," katanya. "Kertasnya lembap. Nempel."
Suaranya rendah, datar, tanpa niat menghibur. Ia meletakkan jilid tiga di atas tumpukan kertasku, lalu, alih-alih membantu memunguti sisa kertas, ia berdiri dan mengembalikan jilid empat ke rak paling atas dengan satu gerakan, tanpa berjinjit.
Aku mendongak. Terlambat setengah detik, dan karena terlambat itu aku melihat wajahnya dari bawah: rahang yang dicukur bersih, kemeja putih yang lengannya digulung dua kali, rambut pendek yang disisir ke samping dengan rapi seperti anak yang mau difoto untuk ijazah. Matanya tak sedang melihatku. Matanya sedang melihat nomor panggil di punggung buku.
"Afwan, Kak," kataku. "Itu, jilid empatnya saya perlu."
Laki-laki itu menoleh. Kali ini matanya berhenti di wajahku, cukup lama untuk membuatku ingin menunduk, tapi tak cukup lama untuk disebut menatap. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mengambil lagi jilid empat dari rak atas dan menyodorkannya. Ia memegang buku itu di ujung yang jauh, sehingga tangan kami tak perlu dekat.
"Tadi bilang dong."
"Afwan."
"Kamu dari tadi afwan terus."
Aku tak tahu harus menjawab apa. Jari kananku, yang tak memegang buku, sudah menemukan ujung jilbabku sendiri dan meremasnya. Mata laki-laki itu turun ke jari itu, hanya sekilas, satu kedipan, lalu kembali naik ke rak.
"Adrian," katanya. "Ekonomi Syariah."
Mulustrasi Adrian:
514Please respect copyright.PENANAUp7A6kJpXx
Bukan uluran tangan. Hanya nama, seperti orang membacakan nomor antrean.
"Hana. Tafsir."
"Iya, tau."
Lalu ia pergi. Sepatu cokelat itu berjalan ke arah tangga darurat, tak tergesa, dan aroma yang tertinggal di lorong rak 297 itu bukan aroma perpustakaan. Kayu. Bau kayu yang dibakar sebentar lalu dipadamkan, bercampur sabun yang mahal. Aroma itu melayang di udara AC enam belas derajat selama beberapa detik, lalu hilang, dan aku masih berjongkok dengan jilid empat di pangkuan dan kertas revisiku yang belum terkumpul semuanya.
Iya, tau.
Aku memunguti kertas terakhir. Halaman tujuh, yang dicoret pulpen biru.
* * *
Selama satu jam berikutnya aku membaca jilid empat di meja paling ujung dekat jendela dan tak mengingat satu kalimat pun.
Aku membaca paragraf yang sama tentang kebebasan berkehendak tiga kali, menggarisbawahinya dengan pensil, lalu sadar garis bawahnya miring karena tanganku sedang memikirkan hal lain. Iya, tau. Tahu dari mana? Tahu namanya, atau tahu ia anak siapa? Kalau yang kedua, itu bukan hal aneh. Separuh kampus tahu aku anak siapa. Tapi cara laki-laki itu mengucapkannya, datar, seakan informasi itu tak lebih penting dari nomor panggil buku, membuatku merasa dilewatkan begitu saja. Dan perasaan dilewatkan itu, anehnya, tak membuatku tersinggung. Perasaan itu membuatku lega, lalu malu karena lega.
Aku mencoba mengingat wajah itu dan yang muncul justru suaranya. Rendah, tak berusaha. Kamu dari tadi afwan terus. Aku mengulangnya dalam kepala dengan nada persis, lalu mengulangnya lagi. Bibirku bergerak mengikutinya, tanpa suara. Pada pengulangan ketiga aku sadar sedang melakukannya. Aku beristighfar dalam hati, sekali, dengan cepat, seperti menepis nyamuk.
Pada pengulangan keempat aku tak beristighfar.
HP-ku bergetar di atas meja.
DRRRTT… DRRRTT…
Grup kelas. Seseorang mengirim foto Bu Maryam yang tertangkap kamera sedang tersenyum di koridor, dengan tulisan TANDA-TANDA KIAMAT. Lima puluh orang membalas dengan stiker tertawa. Aku membalik HP-ku, layar menghadap meja, dan menatap punggung casing bening yang di dalamnya terselip foto kecil ibuku, foto yang sama dengan di ruang tamu tapi dipotong seukuran KTP.
Aku memasukkan HP ke tas.
* * *
"Lu ngelamun."
Zahra meletakkan nampan berisi dua es teh dan sepiring tahu isi di depanku, di kantin, pukul 14.20, sepuluh menit setelah kelas Hermeneutika yang kuikuti tanpa memahami satu pun. Kantin sudah sepi. Kipas angin di langit-langit berputar dengan bunyi.
krek
Di setiap putaran, dan ibu kantin sedang menghitung uang receh di laci kayu.
"Enggak."
"Lu ngelamun, Han. Dari tadi gue ngomong soal Bu Maryam lu cuma ngangguk-ngangguk kayak boneka dasbor."
"Aku dengerin, kok."
"Oh ya? Gue tadi bilang apa..?"
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Zahra mengangkat alis setinggi yang bisa diangkat alis manusia.
"Gue bilang," kata Zahra tanpa mengangkat suara, dengan tekanan di setiap kata, "Bu Maryam nyoret gue pake pulpen merah, Han. Merah. Tiga halaman. Dan lu ngangguk-ngangguk kayak gue lagi cerita menang arisan."
"Ya Allah, Zahra. Afwan, afwan."
"Afwan, afwan." Zahra menirukan dengan suara dicempreng-cemprengkan, lalu menyedot es tehnya sampai bunyi. "Lu kenapa sih? Diomelin Abah?"
Di situ, aku bisa saja bilang. Kalimatnya ada, sudah tersusun, ringan, tak berdosa: Tadi di perpus ada kakak tingkat, nolongin buku jatuh, terus aku kepikiran. Zahra akan berteriak kecil, menutup mulut, memaksaku menceritakan semuanya, lalu dalam lima menit mengetahui nama lengkap, prodi, angkatan, akun Instagram, dan status hubungan laki-laki itu, karena Zahra memang bisa begitu. Lalu semuanya akan menjadi bahan tertawa, dan selesai.
Di laci kayu ibu kantin, uang receh dipindahkan satu keping, lalu satu keping lagi. Aku mengambil satu tahu isi dari piring dan memutarnya di ujung jari. Minyaknya mengilap di kulitku. Tahu itu tak juga kugigit. Zahra menunggu. Di atas kami, kipas berputar sekali lagi.
krek
Aku menggigit ujung tahu isi itu.
"Kepikiran Gus Farhan," kataku, dengan suara yang aku buat lemas seperti orang menyerah.
Zahra langsung tertawa, keras, sampai ibu kantin menoleh.
"Ya ampuunn… Gus Hadramaut! Udah pulang dia..??"
"Udah."
"Terus? Terus? Dijodohin beneran lu?"
"Belum tau. Abah bilang nanti abis wisuda silaturahmi."
"Silaturahmi." Zahra menempelkan tangan di dada dengan dramatis. "Bahasa pesantren buat lamaran, Han. Gue tau. Sepupu gue di Jombang juga gitu. Silaturahmi Kamis, Jumat udah ditanyain mau maharnya apa."
"Ih, apa sih."
"Ganteng nggak dia..?"
"Nggak tau. Aku liat cuma di foto."
"Ya ganteng nggak di fotonya..??"
Aku mengangkat bahu dan tersenyum, dan Zahra terus bicara, tentang sepupunya di Jombang, tentang mahar seperangkat alat shalat yang menurutnya klise, tentang syarat suami idealnya sendiri yang harus bisa masak mi instan tanpa membuat dapur kebakaran.
Di dalam kepalaku, sepatu cokelat itu masih berjalan ke arah tangga darurat. Tak tergesa.
Aku mendengarkan dengan baik kali ini, mengangguk di tempat yang benar, tertawa di tempat yang benar. Tahu isinya habis. Es tehnya habis.
* * *
Pukul 16.31 aku tak pulang.
Aku sudah mengambil jilidan revisi di kios Bang Udin, sudah membayar dua belas ribu, sudah memasukkannya ke tas. Motorku di parkiran putri di bawah pohon mahoni, jok kini dihiasi dua tetes getah yang mengering. Rute pulang empat puluh menit, dan kalau aku berangkat sekarang aku sampai sebelum Maghrib, seperti setiap hari selama tiga setengah tahun.
Aku duduk di bangku semen di bawah pohon ketapang di samping gedung Student Center.
Gedung itu tak ada hubungannya dengan apa pun yang aku perlukan. Isinya sekretariat BEM, ruang UKM paduan suara, dan satu ruang rapat yang pintunya tak pernah ditutup. Aku tahu, karena tadi siang di grup angkatan ada yang mengirim pengumuman rapat koordinasi panitia seminar nasional BEM, pukul 15.30, Student Center lantai dua, dan di bawah pengumuman itu nama ketua panitianya tertulis dengan huruf kapital: ADRIAN.
Aku tak sedang menunggu. Aku sedang duduk. Aku sedang membuka jilidan revisi dan membaca halaman tujuh sekali lagi, yang dicoret pulpen biru, dengan pensil di tangan. Kalau ada yang bertanya, aku sedang membaca. Kalau ada yang lewat, aku sedang membaca.
Angin sore membawa bau tanah basah dari selokan. Burung gereja bertengkar di atas atap parkiran. Dari lantai dua Student Center terdengar suara orang tertawa, lalu suara kursi diseret, lalu sunyi lagi. Aku membalik halaman. Aku belum membaca satu baris pun.
Pukul 16.48, HP-ku bergetar.
DRRRTT… DRRRTT…
Abah.
Aku menatap nama itu di layar selama dua getaran. Pada getaran ketiga aku menggeser tombol hijau.
"Assalamu'alaikum, Bah."
"Wa'alaikumussalam. Sudah di jalan, Nak?"
Suara Abah terdengar dari tempat yang ramai. Ada suara orang menata kursi, ada suara mikrofon diketuk. Majelis Kamis malam. Tentu saja. Aku lupa hari ini Kamis.
"Belum, Bah. Masih di kampus."
"Lho. Ada apa? Nanti Maghrib-an di jalan."
Aku melihat ke lantai dua Student Center. Jendelanya ditutup tirai biru yang setengah terbuka. Di balik tirai itu ada bayangan orang berdiri, tak bisa dibedakan siapa.
"Masih nunggu Bu Maryam, Bah," kataku. "Revisinya mau dicek lagi sore ini, katanya biar minggu depan bisa langsung lanjut Bab dua."
Kalimat itu keluar dengan lancar. Terlalu lancar. Aku mendengarnya keluar dari mulutku sendiri seperti mendengar pesan suaraku sendiri diputar ulang: suaraku, tapi rasanya bukan aku yang sedang bicara. Jantungku mengetuk tulang dada, tiga kali, empat kali, dan aku menunggu Abah bertanya sesuatu yang tak bisa aku jawab.
Abah tak bertanya.
"Ya sudah. Bu Maryam memang begitu. Maunya yang terbaik buat muridnya. Pulangnya hati-hati. Jangan ngebut. Kalau sudah Maghrib, berhenti dulu di masjid. Jangan dipaksa."
"Na'am, Bah."
"Abah mulai majelis. Nanti Mbak Siti sudah masak sayur asem."
"Na'am."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah."
TUTTT…
Aku menurunkan HP ke pangkuan, di atas halaman tujuh. Tanganku dingin, padahal sore itu gerah. Di bawah jilbab, di tengkuk, keringat merayap turun ke punggung, membuat manset menempel di kulit.
Aku baru saja berbohong pada Abah.
Bukan kebohongan besar. Aku sudah memikirkannya, dalam dua detik yang paling panjang dalam hidupku: tak ada yang dirugikan, tak ada yang tahu, tak ada yang bisa memeriksa. Bu Maryam tak akan pernah mengobrol dengan Abah soal jam bimbingan. Aku pernah berbohong sebelumnya, tentu saja, soal sudah makan padahal belum, soal tak apa-apa padahal menangis. Tapi itu kebohongan untuk menenangkan Abah. Ini berbeda. Ini kebohongan untuk duduk di bangku semen di bawah pohon ketapang dan memandangi jendela lantai dua.
Aku menunggu rasa bersalah itu datang, seperti menunggu bus yang jadwalnya aku hafal. Rasa itu datang. Rasa itu datang dengan wajah Ummi di dinding ruang tamu, dengan tasbih gaharu di pergelangan tangan Abah, dengan dua santriwati yang menunduk di gerbang pagi tadi. Rasa itu datang lengkap.
Tapi di belakangnya, di bawahnya, ada hal lain yang ikut datang dan tak aku undang: rasa hangat yang aneh di perut, ringan dan berbahaya, seperti waktu kecil aku diam-diam memanjat lemari dapur untuk mengambil toples kue lebaran dan berhasil turun tanpa ketahuan. Bukan karena kuenya. Karena turunnya.
Aku menutup jilidan revisi.
* * *
Pukul 17.12 pintu Student Center terbuka dan sekelompok mahasiswa keluar sambil tertawa, membawa gulungan spanduk dan kardus air mineral. Aku menunduk ke HP-ku, membuka grup kelas, menggulir pesan yang tak aku baca.
Adrian keluar paling akhir. Kemeja putihnya sekarang kusut di bagian siku, dan ia sedang menelepon, HP ditempel di telinga kiri, tangan kanan memegang map biru yang terlipat. Ia berjalan melewati bangku semen dengan jarak tiga meter. Aku tak mengangkat kepala. Aku melihatnya dari ujung mata, dari sela kain jilbab yang jatuh di pipi, dan aku mendengar potongan suaranya, rendah, sedikit kesal:
"…iya, Pak. Udah saya kirim kemarin. Iya. Nanti saya cek lagi."
Lalu ia lewat. Ia tak menoleh. Ia tak melambat. Sepatu cokelat itu menuju parkiran mobil di belakang gedung, dan beberapa detik kemudian terdengar bunyi kunci otomatis.
Tit tit.
Aku duduk di sana sampai mobil hitam itu keluar dari gerbang belakang. Lalu aku duduk lagi, sebentar, sampai napasku kembali ke kecepatan yang wajar. Aku tak tahu kenapa aku kecewa. Aku tak tahu apa yang tadi aku harapkan. Bahwa laki-laki itu berhenti? Menyapa? Mengingat namanya? Aku anak Kyai Haji yang jamaah majelisnya meluber sampai jalan, dan aku baru saja berbohong pada ayahku untuk duduk di bangku semen selama empat puluh satu menit dan dilewati.
Aku tertawa kecil sendiri, tanpa suara, dengan bibir terkatup.
Lalu aku berdiri, merapikan rok, dan berjalan ke parkiran putri.
* * *
Azan Maghrib menangkapku di pom bensin dekat pertigaan pasar. Aku mengisi pertalite dua puluh ribu, memberi petugas uang pas, lalu shalat di mushola pom bensin yang karpetnya bau kaki dan mukenanya, mukena umum berwarna krem yang menggantung di paku, berbau apak seperti lemari nenek. Aku memakai mukenaku sendiri dari tas. Aku shalat tiga rakaat dengan bacaan yang rapi dan mata terpejam, dan di rakaat kedua, di antara Al-Fatihah dan surat pendek, suara itu muncul lagi tanpa diminta.
Kamu dari tadi afwan terus.
Aku menyelesaikan suratku. Aku tak salah baca. Rakaatku tak terlewat. Hanya saja, ketika salam, aku tak bisa mengingat surat apa yang tadi aku baca.
Aku duduk sejenak di atas mukena, di mushola pom bensin yang dindingnya ditempeli stiker JAGA KEBERSIHAN dan jadwal shalat bulan lalu, sementara di luar seorang bapak memaki motornya yang mogok. Aku beristighfar tiga kali. Dengan sungguh-sungguh kali ini.
Lalu aku melipat mukena dan pulang.
* * *
Ndalem sudah terang ketika aku sampai pukul 18.37. Dari masjid pesantren terdengar suara Abah lewat pengeras suara, membaca kitab dengan logat yang kuhafal sejak bayi, berhenti di setiap akhir kalimat untuk memberi makna dalam bahasa Jawa, utawi, iki, iku, dan jamaah yang menjawab dengan gumam. Halaman depan penuh motor jamaah. Kang Ali sedang mengatur parkir dengan senter kecil.
"Telat, Ning," kata Kang Ali sambil tersenyum, bukan menegur.
"Bimbingan, Kang."
Kebohongan kedua keluar lebih mudah dari yang pertama. Aku memperhatikan itu. Aku memperhatikannya sebagaimana aku memperhatikan bekas luka kecil di tanganku yang tak kuingat dapat dari mana.
Mbak Siti menyambut di dapur dengan sayur asem yang masih mengepul dan ikan asin yang digoreng terlalu kering. Aku makan sendirian di meja makan, di kursi yang tadi pagi aku duduki, di depan kursi kosong Abah. Kalender di kulkas, di bawah magnet toko bangunan, tetap menunjukkan bulan ini. Tanggal yang dilingkari merah ada di halaman lain, lima bulan dari sekarang, tak terlihat dari sini. Tapi aku tahu persis tanggal itu ada di sana, dilingkari dua kali.
Aku mencuci piringku sendiri.
Di ruang tamu, aku melewati foto Ummi. Lampu ruang tamu hanya dinyalakan satu, yang dekat pintu, sehingga separuh wajah di foto itu tenggelam dalam bayangan bingkai. Aku berhenti, kebiasaan setiap malam, untuk menyapa dalam hati.
Malam ini aku tak berhenti.
Aku baru sadar sudah melewatinya ketika tanganku sudah memegang gagang pintu kamar, dan aku tak berbalik.
* * *
Di kamar, aku melepas peniti satu per satu dan menusukkannya ke bantalan jarum berbentuk tomat di meja belajar. Peniti ketiga, yang di bawah dagu, aku lepas paling akhir. Kain abu-abu itu jatuh ke pangkuan. Rambutku, yang seharian ditekan ciput, lepek dan hangat.
Di cermin lemari, gadis tanpa jilbab itu menatapku balik. Wajah yang sama dengan pagi tadi. Mata yang sama.
Aku melihat leherku lagi. Kali ini aku tak buru-buru. Aku melihat urat kecil di bawah rahang yang berdenyut, lebih cepat dari pagi tadi, dan aku tak tahu kenapa. Aku menyentuhnya dengan ujung jari, pelan, seperti memeriksa apakah ada luka.
Tak ada luka.
Dari masjid, suara Abah berhenti, lalu jamaah membaca shalawat bersama dengan suara yang naik turun seperti ombak di kolam. Di atas meja belajar, HP-ku menyala sebentar. Grup kelas lagi. Seseorang bertanya apakah besok ada yang mau patungan beli kertas HVS satu rim.
Aku mematikan lampu kamar. Aku berbaring di kasur dengan baju yang belum diganti, menatap langit-langit yang kipas anginnya berputar pelan.
krek
Di setiap putaran, sama seperti kipas di kantin. Aku mencoba memikirkan rumusan masalah. Aku mencoba memikirkan Gus Farhan di depan kubah putih. Aku mencoba memikirkan Ummi.
Yang muncul adalah sepatu cokelat yang berjalan ke arah tangga darurat, tak tergesa, dan aroma kayu yang dibakar sebentar lalu dipadamkan.
Aku bisa saja berhenti. Aku tahu caranya: istighfar, ta'awudz, membaca ayat kursi tiga kali seperti yang diajarkan Abah setiap kali aku takut gelap waktu kecil. Aku tahu semua itu berhasil, karena dulu selalu berhasil.
Aku tak melakukannya.
Aku memejamkan mata, dan dengan sadar, dengan sengaja, seperti menekan tombol putar ulang pada pesan yang tak penting, aku mengulang suara itu sekali lagi.
Adrian. Ekonomi Syariah.
[BERSAMBUNG]
ns216.73.216.105da2


