Stabilo kuning itu dilempar dari bangku depan dan mendarat di atas buku catatanku pukul 08.17 WIB, tepat ketika Pak Syamsul menulis kata ta'wil di papan tulis dengan huruf yang makin ke kanan makin turun, seperti jemuran yang talinya kendor.
"Pakai aja, Han. Punyamu habis, kan, tadi?"
Dhimas tak menoleh penuh. Ia hanya memiringkan kepala sedikit dari bangku barisan pertama, ransel hitamnya masih tergantung di sandaran kursi, menggelembung oleh map dan fotokopian yang sudutnya mencuat. Aku memang sudah lima menit menggosokkan stabilo hijaanku yang kering ke kertas tanpa hasil.
"Makasih, Dhim."
"Eh, resume minggu lalu itu dikumpulin hari ini, ya? Atau Senin depan..?"
"Hari ini. Abis kelas."
"Waduh." Dhimas langsung membuka ransel, dan sisa kelas itu ia habiskan menulis resume dengan kecepatan orang yang menyalin surat wasiat.
Aku menggarisbawahi kata ta'wil di catatanku dengan stabilo kuning pinjaman, rapi, dari ujung ke ujung. Di bawahnya aku menulis tanggal. Senin, minggu kedua semester delapan. Bimbingan berikutnya Kamis. Di sudut kanan atas halaman, tanpa sadar, aku menggambar kotak kecil dan mengisinya dengan arsir sampai penuh, kebiasaan yang muncul setiap kali aku sedang memikirkan hal yang tak boleh aku pikirkan di kelas.
Empat hari sudah lewat sejak lantai tiga perpustakaan, dan aku belum melihat sepatu cokelat itu lagi.
* * *10Please respect copyright.PENANAcHMd4iQ0TK
10Please respect copyright.PENANAqtQURz5V0f
Mulustrasi Bu Maryam:10Please respect copyright.PENANAXzjlMrpDQV
10Please respect copyright.PENANAaiEDxRrblo
10Please respect copyright.PENANAZBDrwJ84D9
Bimbingan Kamis pukul 10.00 tak berjalan sebaik Kamis sebelumnya.
Bu Maryam membaca rumusan masalahku yang lama, yang hanya aku ubah sedikit di bagian kata sambung, dan menurunkan kacamatanya ke ujung hidung. Ia tak mencoret apa pun. Itu lebih buruk dari coretan merah.
"Hana, coba kamu lihat ini. Ini pertanyaan, atau pernyataan yang cuma kamu kasih tanda tanya?"
"Tahu, Bu."
"Yang ini masih yang kedua." Bu Maryam mengetuk kertas itu dengan ujung pulpen birunya, dua kali. "Kamu nulisnya masih takut-takut salah. Saya ini bukan lagi nguji hafalan kamu, Hana. Saya mau tahu... kamu sebenarnya penasaran sama apa." Ia mengembalikan kertas itu. "Minggu depan bawa lagi, ya. Nggak usah dipoles-poles. Bongkar aja."
"Na'am, Bu."
Aku keluar ruangan dengan kertas yang tak dicoret sama sekali, dan rasanya seperti membawa rapor yang kosong.
* * *
Malam itu majelis Kamis meluber sampai jalan. Aku tak ikut duduk di serambi masjid. Aku tak pernah ikut. Tempatku di dapur ndalem, membantu Mbak Siti menata pisang goreng dan teh manis di nampan untuk tamu-tamu khusus yang biasanya diajak Abah masuk ke ruang tamu sesudah pengajian: pengurus yayasan, donatur, kyai tamu, kepala desa.
Pukul 21.40 Abah memanggilku dari ruang tamu.
"Hana. Sini, Nak. Salaman dulu."
Aku keluar dengan jilbab yang dirapikan di depan kaca jendela dapur, dengan kepala sedikit menunduk, tak terlalu menunduk. Di ruang tamu ada lima orang: tiga ibu pengurus majelis muslimat dengan kerudung bros besar, seorang bapak donatur pemilik toko besi di pasar kecamatan, dan istrinya. Aku menyalami para ibu satu per satu, mencium punggung tangan mereka yang wangi minyak kayu putih dan bedak. Kepada bapak donatur aku hanya menangkupkan tangan di dada.
"Masyaallah, ini Ning Hana. Makin ayu, ya…," kata ibu yang paling tua. "Matanya teduh sekali, kayak Ummi-nya."
"Iyaa, Bu. Sekarang sudah semester akhir Hana," kata Abah. Ia tak menyembunyikan bangganya, dan tak pernah. "Skripsinya tafsir. Al-Manar."
"Masyaallah. Pinter. Hafalannya juga masih, Ning?"
"Alhamdulillah, Bu, masih dijaga."
"Coba, Ning, bacakan sedikit. Ibu kangen dengar suara Ning, terakhir pas haul kemarin."
Aku melirik Abah. Abah mengangguk kecil, tangannya memutar tasbih, matanya sudah berbinar sebelum aku membuka mulut. Aku menunduk, mengatur napas, dan membaca lima ayat terakhir surat Al-Furqan dengan lagu bayati yang diajarkan guru tilawahku sejak aku umur sembilan tahun. Suaraku naik di tempat yang benar, turun di tempat yang benar, dan berhenti tepat di akhir ayat.
Ruangan itu hening sebentar. Lalu tiga ibu itu serempak bilang masyaallah, dan istri bapak donatur mengusap sudut matanya dengan tisu.
"Sudah ada calonnya, Kyai?" tanya bapak donatur sambil tertawa, mengambil pisang goreng.
"Insyaallah ada," kata Abah. Senyumnya lebar. "Putranya Kyai Mahfudz. Nanti setelah wisuda."
"Wah, Gus Farhan? Yang baru pulang dari Hadramaut itu? Cocok itu, Kyai. Sama-sama ahli Qur'an."
Semua orang di ruangan itu mengangguk. Aku ikut tersenyum, menunduk, dan mundur ke dapur dengan langkah yang tak terdengar. Di belakangku, percakapan sudah pindah ke harga semen.
Di dapur, Mbak Siti sedang mencuci gelas. Ia melirikku, dan tak berkata apa-apa, dan menyerahkan lap piring. Aku mengeringkan gelas satu per satu, dan ketika aku selesai, aku mendapati telapak tangan kananku merah, karena sepanjang membaca tadi aku meremas ujung jilbabku sendiri di balik lengan baju.
* * *
Tafsir al-Manar jilid empat masih di meja belajarku. Rumusan masalahku yang baru, kutulis ulang Sabtu malam sampai jari kelingkingku kesemutan, kubaca keras-keras di kamar: Bagaimana Rasyid Ridha memaknai kebebasan manusia dalam memilih tanpa menafikan kehendak Allah? Terlalu rapi. Seperti pertanyaan yang sudah tahu jawabannya.
* * *
Hari Jumat pukul 11.20 aku membawa buku itu ke kios Bang Udin untuk memfotokopi bab yang aku butuhkan, supaya bisa dicoret-coret tanpa merusak buku perpustakaan. Bang Udin sedang menurunkan rolling door.
"Udah mau Jumatan, Neng. Abis Jumatan ya, jam satu."
"Sebentar aja, Bang. Dua belas halaman."
"Dua belas halaman tuh lima menit, Neng. Lima menit nanti saya masbuk." Bang Udin menunjuk kertas HVS di pintu dengan dagunya. Di bawah TIDAK MELAYANI NGUTANG. ALLAH MELIHAT. kini ada tambahan spidol baru: JUMAT TUTUP 11.15–13.00. "Peraturan, Neng."
Aku tertawa kecil dan mundur selangkah. Rolling door turun dengan bunyi besi beradu.
KREKKK… KREKKK…
"Udah tutup ya, Bang..?"
Suara itu datang dari belakangku, dari jarak yang terlalu dekat untuk tidak membuatku menoleh. Adrian berdiri di trotoar dengan map biru yang sama, kemeja batik cokelat lengan pendek kali ini, dan napas yang sedikit terengah, habis berjalan cepat dari parkiran.
"Tutup, Mas. Jumatan," kata Bang Udin dari balik celah rolling door yang tinggal sejengkal. "Jam satu buka lagi."
Adrian mendesah. Pendek. Ia menatap rolling door itu sebentar, menghitung sesuatu, lalu menoleh, dan matanya sampai padaku, lalu turun ke buku tebal bersampul hijau yang kupeluk di depan dada.
"Oh," katanya. "Ternyata kamu."
"Afwan..?"
"Al-Manar empat. Saya cari di perpus dari Rabu, katanya lagi dipinjem." Ia mengangkat dagu sedikit ke arah buku itu. "Di pinjem kamu ya."
Aku memeluk buku itu lebih erat, refleks, lalu sadar sedang melakukannya dan melonggarkan tanganku.
"Kakak butuh?"
"Tiga halaman aja. Buat TOR seminar. Pembicara kuncinya... dia minta kutipan Rasyid Ridha, soal kebebasan beragama. Tim saya nggak ada anak Tafsir." Ia mengatakannya dengan nada orang mengeluh pada cuaca, bukan meminta tolong. "Pembimbing saya juga nagih bab empat hari ini. Eh, fotokopiannya malah tutup."
"Bab empat?"
"Skripsi. Semester sepuluh." Adrian mengangkat alis sedikit, seakan menantangku untuk berkomentar. Aku tak berkomentar. "Sore ini kamu di kampus..?"
"Sampai Ashar."
"Sekretariat BEM. Student Center, lantai dua. Jam tiga, ya. Saya foto aja halamannya. Lima menit. Nggak usah dipinjam." Ia sudah mulai berjalan mundur ke arah masjid kampus, tempat azan pertama Jumat mulai terdengar dari pengeras suara yang serak. "Bisa?"
Aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu yang sopan dan tak mengikat, insyaallah, atau nanti saya kabari, tapi yang keluar justru:
"Bisa, Kak."
Adrian mengangguk sekali dan berbalik. Ia tak berterima kasih. Aku berdiri di depan rolling door yang sudah tertutup penuh, dengan buku hijau di dada dan dua belas halaman yang tak jadi difotokopi, dan menyadari bahwa aku baru saja membuat janji dengan laki-laki yang bukan mahramku, di sebuah ruangan, pada jam tertentu, dalam waktu kurang dari satu menit.
Aku memeriksa janji itu seperti memeriksa uang kembalian. Ruang sekretariat BEM. Pintunya tak pernah ditutup. Ada orang lain. Lima menit. Foto halaman. Urusan akademik. Semua alasan itu kususun berjajar di kepalaku, rapi, seperti piring di rak, dan tak satu pun yang pecah.
* * *
Khutbah Jumat di masjid kampus terdengar sampai ke saf putri di lantai dua, tempat aku duduk bersandar ke dinding, menunggu Bang Udin buka. Mahasiswi tak wajib Jumatan. Aku selalu ikut duduk di sana setiap Jumat karena kebiasaan dari pesantren, dan karena di sana sejuk, dan karena tak ada yang mengajakku bicara.
Khatib siang itu dosen muda dari Fakultas Syariah, suaranya terlalu keras untuk pengeras suara yang sudah keras. Temanya amanah. Ia bercerita tentang Nabi yang dijuluki al-Amin jauh sebelum diangkat menjadi rasul, tentang kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun dan bisa runtuh oleh satu kebohongan kecil.
Dinding di belakang bahuku dingin menembus kain. Di pangkuanku, punggung Al-Manar yang retak menekan lewat rok, dan jariku menahan sampulnya supaya buku itu tidak melorot. Dari bawah, suara khatib naik dan kadang pecah di pengeras suara sebelum sampai ke saf putri.
Khatib itu mengulang frasa itu dua kali, dengan tekanan yang sama, dan aku mendapati diriku menghitung. Kamis minggu lalu, ke Abah, menunggu Bu Maryam. Kamis minggu lalu juga, ke Kang Ali, bimbingan. Itu dua. Aku tak menghitung yang tadi siang ke Zahra, karena itu belum terjadi, karena aku belum tahu aku akan melakukannya.
Aku menunduk ke buku di pangkuanku. Tafsir al-Manar, jilid empat, punggungnya retak di bagian tengah. Aku membuka halaman tiga ratus tiga puluh satu dan membaca lagi penjelasan Rasyid Ridha tentang la ikraha fid din, tak ada paksaan dalam agama, sementara khatib di bawah sana menutup khutbahnya dengan doa yang panjang dan suara jamaah laki-laki yang mengaminkan serempak dari saf-saf di bawah.
Aku tak sedang berbohong, kataku pada diriku sendiri. Aku cuma meminjamkan buku, lima menit, di ruang yang pintunya terbuka. Kalimat itu benar.
Hanya saja, aku tak akan memberi tahu siapa pun sebelum ada yang bertanya.
* * *
"Tumben lu nggak langsung pulang," kata Zahra pukul 14.10, di kantin, sambil mengupas jeruk yang ia beli dari ibu-ibu penjual buah di depan gerbang.
"Mau ke perpus. Balikin buku."
"Al-Manar? Kan batasnya masih seminggu lagi."
Aku memasukkan buku itu lebih dalam ke tas. "Udah selesai bacanya."
"Wih. Rajin." Zahra menyodorkan sepotong jeruk. Aku mengambilnya. "Gue balik duluan ya, ibu kos nyuruh bantuin bersihin tandon. Lu jangan sampe sore, nanti Pak Kyai nelpon gue nanyain lu, kayak semester lima dulu."
"Itu karena HP aku mati sih, Ra."
"Ya makanya, jangan sampe mati." Zahra berdiri, menyampirkan tas selempang, menyedot tumbler hijau toscanya sampai bunyi. "Dah. Assalamu'alaikum, Ning."
"Jangan panggil Ning, ih."
Zahra sudah berjalan sambil melambai tanpa menoleh. Aku memakan potongan jeruk itu pelan-pelan. Rasanya asam di pangkal lidah, dan aku tak tahu kenapa aku berbohong soal perpustakaan, padahal kalimat yang benar, mau minjemin buku ke anak BEM, sama sekali tak terdengar salah.
* * *
Mulustrasi Adrian:10Please respect copyright.PENANATojGotYCq0
10Please respect copyright.PENANA5KClS5fLRt
10Please respect copyright.PENANAEOA8OLepCX
Sekretariat BEM pukul 15.02 berbau kertas, kabel panas, dan gorengan yang dibungkus koran di atas meja rapat. Ruangannya tak besar: tiga meja dirapatkan jadi satu di tengah, dua lemari arsip yang pintunya tak bisa ditutup rapat karena terlalu penuh, papan tulis putih penuh coretan susunan acara seminar, dan sebuah dispenser yang galonnya tinggal sepertiga. Kipas angin berdiri berputar ke kiri dan ke kanan, mengangkat ujung-ujung kertas di meja setiap kali lewat.
Pintunya terbuka. Di dalam ada empat orang. Aku menghitung mereka dari ambang pintu sebelum melangkah masuk, seperti menghitung jumlah anak tangga sebelum turun dalam gelap.
Dua mahasiswa laki-laki sedang berdebat soal harga sewa sound system di sudut. Seorang mahasiswi berjilbab ungu sedang mengetik sesuatu di laptop dengan wajah kusut. Dan Adrian, di ujung meja, dengan kemeja batik yang lengannya sudah basah keringat di bagian ketiak, sedang menulis di papan dengan spidol biru yang hampir habis.
"Masuk aja," katanya tanpa menoleh. "Duduk di mana aja bebas."
Aku duduk di kursi paling dekat dengan pintu.
Mahasiswi berjilbab ungu itu menoleh, mengenaliku, dan wajahnya langsung berubah. Senyum sopan, sedikit kaget. "Eh, Mbak Hana. Ada perlu sama BEM, Mbak?"
Tentu saja aku dikenali. Aku tersenyum. "Cuma minjemin buku buat Kak Adrian kok. Bentar aja."
"Oh. Iya, iya." Mahasiswi itu kembali ke laptopnya, tapi aku melihat matanya berpindah sebentar dariku ke punggung Adrian, lalu kembali ke layar. Hanya sebentar. Aku mencatatnya, seperti mencatat nomor plat motor yang lewat terlalu dekat.
Adrian menutup spidolnya, menariknya dari papan, dan duduk di kursi di seberangku, dua kursi dari ujung, sehingga di antara kami ada satu kursi kosong dan meja selebar satu meter. Ia mengulurkan tangan, telapak menghadap ke atas, tanpa kata.
Aku mengeluarkan buku itu dan meletakkannya di meja, lalu mendorongnya melintasi meja. Aku tak menaruhnya di tangan Adrian. Adrian melihat buku yang berhenti di depannya, lalu melihat tangannya sendiri yang masih terulur kosong, lalu menurunkan tangan itu tanpa komentar. Ujung bibirnya bergerak sedikit, terlalu sedikit untuk disebut senyum.
"Halaman berapa?"
"Kakak cari yang tafsir Al-Baqarah dua lima enam. La ikraha fid din. Mulai halaman tiga tiga satu."
Adrian membuka buku itu, menemukan halamannya dalam satu kali coba, dan mulai memotret dengan HP. Kamera HP-nya berbunyi setiap kali.
Cekrek.
"Kamu udah baca semua..?"
"Bagian itu, sudah."
"Menurut kamu dia bilang apa?"
Aku mengerjap. Aku tak menyangka akan ditanya. Di kelas, aku ditanya hanya ketika dosen ingin jawaban yang benar. Di majelis Abah, aku tak pernah ditanya.
"Rasyid Ridha bilang," kataku, memilih kata seperti memilih langkah di jalan berlubang, "paksaan itu... dalam agama, nggak sah. Soalnya iman itu urusannya hati. Hati kan nggak bisa dipaksa. Jadi kebebasan milih itu bukan, apa ya, bukan dikasih manusia. Memang dari cara Allah menciptakan manusia aja."
Cekrek.
"Terus..?"
"Terus apa, Kak?"
"Kamu setuju?"
Aku diam. Di sudut ruangan, dua mahasiswa laki-laki masih berdebat soal sound system, sekarang soal apakah DP lima ratus ribu bisa dicicil. Kipas angin berputar ke arahku, mengangkat ujung jilbabku sedikit, lalu pergi lagi.
"Itu tafsir yang mu'tabar, Kak. Bukan soal saya setuju atau nggak."
"Itu bukan jawaban." Adrian tak mengangkat kepala dari buku.
Cekrek.
"Itu jawaban anak Kyai."
Kalimat itu mendarat di dadaku seperti kerikil yang dilempar ke kaca: tak memecahkan, tapi meninggalkan titik kecil yang bisa dilihat kalau cahaya datang dari sudut tertentu. Aku merasakan wajahku panas. Aku ingin tersinggung. Aku mencoba tersinggung. Tapi yang aku rasakan justru seperti dipergoki, dan dipergokiku adil.
"Saya setuju," kataku, lebih keras dari yang aku maksud. "Tapi kalau kebebasan itu beneran punya manusia, ya orang juga bebas milih yang salah, kan?" Aku berhenti. Kata berikutnya terlalu besar untuk ruangan itu, dan aku mengucapkannya juga. "Dan kalau dia bebas milih yang salah, berarti… berarti orang tua, guru, kyai, nggak berhak maksa dia jadi benar. Cuma boleh ngingetin." Napasku lebih cepat. "Praktiknya... nggak pernah kayak gitu. Di mana pun."
Adrian berhenti memotret.
Ia mengangkat kepala, dan untuk pertama kalinya sejak perpustakaan, ia benar-benar melihatku. Bukan sekilas. Bukan sebatas nomor panggil buku. Ia melihat seperti orang membaca kalimat yang lebih bagus dari yang ia kira, dan membacanya ulang.
"Nah," katanya. "Itu yang mau saya kutip."
Mahasiswi berjilbab ungu berhenti mengetik. Aku bisa merasakan matanya tanpa perlu menoleh.
* * *
Lima menit menjadi empat puluh.
Aku tak tahu bagaimana itu terjadi. Aku hanya tahu bahwa pada suatu titik Adrian bertanya apakah menurutku ayat itu bisa dipakai untuk membela orang yang pindah agama, dan aku menjawab dengan tiga pendapat ulama yang berbeda, dan Adrian bilang semua itu pendapat orang lain, punya kamu mana, dan aku mencoba menjawab dengan pendapatku sendiri, dan ternyata aku punya. Aku punya pendapat. Pendapat itu sudah lama ada di dalam kepalaku, berdebu, seperti barang di gudang yang tak pernah dikeluarkan karena tak pernah ada yang bertanya apakah barang itu ada.
Adrian tak banyak bicara. Itu yang aneh. Ia hanya bertanya, pendek-pendek, kenapa, terus, contohnya, lalu diam dan mendengarkan sambil memutar-mutar tutup spidol di jarinya. Kadang ia mengangguk. Kadang ia tak bereaksi sama sekali, dan aku mendapati diriku bicara lebih lama untuk mengisi diam itu, menjelaskan lebih jauh, lebih dalam, lebih jujur, seperti menuang teh ke gelas tamu yang tak pernah bilang cukup.
Dua mahasiswa laki-laki pamit pukul 15.20. Mahasiswi berjilbab ungu pamit pukul 15.31, dengan senyum ke arahku yang terlalu lebar dan "Duluan ya, Mbak Hana" yang diucapkan terlalu jelas. Aku menghitungnya. Sekarang di ruangan itu tinggal kami berdua, satu kursi kosong di antara, meja selebar satu meter, dan pintu yang masih terbuka ke koridor.
Pintunya terbuka, aku mengulang di kepala. Pintunya terbuka. Ini ruang publik.
Dari koridor terdengar langkah orang lewat, sesekali. Dari luar jendela, suara motor di parkiran. Gorengan di atas meja sudah dingin dan koran pembungkusnya transparan oleh minyak.
"Kamu ambil topik apa skripsinya?" tanya Adrian.
"Konsep ikhtiar menurut Rasyid Ridha."
"Kenapa?"
"Karena…" Aku berhenti. Jawaban yang kutulis di proposal adalah untuk memperkaya khazanah tafsir modern di Indonesia. Jawaban yang kuucapkan ke Abah adalah karena Abah dulu juga mengkaji Al-Manar. Jawaban yang ada di bawah keduanya belum pernah kuucapkan ke siapa pun. "Karena saya mau tahu aja, Kak... sebenarnya berapa banyak dari hidup kita yang beneran kita pilih sendiri."
Adrian tak menjawab. Ia menatapku selama tiga detik, empat, lalu menoleh ke jendela.
"Bapak saya..." katanya. "Laporan keuangan telat sehari aja, teleponnya bisa tiga kali. Skripsi saya nggak maju-maju? Nggak ada bunyinya."
Aku tak tahu harus berkata apa. Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa pengantar, tanpa sambungan, seperti benda yang jatuh dari saku seseorang di tengah jalan. Adrian tak menambahkan apa-apa. Rahangnya mengeras sebentar, lalu lemas lagi, dan ia kembali memutar tutup spidol.
"Makanya saya molor, udah semester sepuluh masih bab empat," katanya kemudian, nadanya kembali datar, hampir bercanda. "Biar dia nunggu."
Aku tertawa, pendek, kaget oleh suaraku sendiri. Adrian melirik ke arahku, dan kali ini ujung bibirnya benar-benar naik.
Lalu ia menatapku lagi.
Bukan seperti tadi, ketika ia membaca kalimat yang lebih bagus dari dugaannya. Tatapan ini lebih lambat, lebih rendah, dan tak berhenti di mata. Tatapan itu turun ke tanganku di atas meja, ke jari yang sejak tadi tanpa sadar memilin ujung jilbab, lalu naik lagi, pelan, sampai ke mata, dan tinggal di sana. Ia tak berkata apa-apa. Ia tak perlu.
Aku merasa ruangan itu tiba-tiba kecil. Kipas angin berputar ke arahku dan pergi lagi, dan dalam jeda antara datang dan perginya angin, aku mendengar napasku sendiri, terlalu keras, di balik kain.
Aku berdiri. Terlalu cepat. Kursiku bergeser ke belakang dan berdecit di lantai keramik.
Krieeet.
"Saya… saya harus pulang, Kak. Udah mau Ashar."
"Bukunya."
"Kakak bawa aja dulu. Fotonya mungkin ada yang kurang. Nanti balikin ke… ke perpus aja, atas nama saya."
Aku sudah di ambang pintu ketika suara Adrian menyusul, tak keras, tak tergesa.
"Hana."
Aku berhenti. Aku tak menoleh.
"Nomor kamu. Kalau fotonya ada yang buram, saya tanya ke siapa?"
Aku berdiri di ambang pintu dengan punggung menghadap ruangan, dengan tangan kanan meremas tali tas sampai buku-buku jariku pucat. Ada jawaban yang benar untuk pertanyaan ini. Aku tahu jawaban itu. Tanya ke grup angkatan aja, Kak. Atau: Saya nggak biasa kasih nomor ke ikhwan. Abah akan bangga pada jawaban itu. Ummi akan tersenyum dengan mulut tertutup.
Aku menyebutkan nomorku. Dua belas digit, pelan, satu kali, tanpa menoleh.
Di belakangku aku tak mendengar Adrian mengetik. Aku tak tahu apakah Adrian mencatatnya, atau menghafalnya, atau tak peduli sama sekali. Aku berjalan menyusuri koridor Student Center dengan langkah cepat, turun tangga, keluar ke udara sore yang lembap, dan baru di parkiran putri, di bawah pohon mahoni, dengan helm sudah di tangan, aku sadar sejak tadi aku menahan napas.
* * *
Azan Ashar dari masjid kampus terdengar ketika aku sudah di atas motor. Aku tak berhenti. Aku shalat Ashar di rumah, terlambat dua puluh menit, di kamarku, dengan pintu dikunci, padahal tak ada yang akan masuk.
Abah ada di serambi masjid pesantren sampai Maghrib, mengajar kitab untuk santri senior. Mbak Siti di dapur menggoreng tempe. Ndalem sepi. Aku duduk di meja belajarku dengan HP di tangan, layar menyala, aplikasi WhatsApp terbuka, dan tak ada pesan baru dari nomor yang tak dikenal.
Aku meletakkan HP, layar menghadap meja.
Aku mengambilnya lagi.
Aku meletakkannya lagi, dan kali ini memasukkannya ke laci meja, dan menutup laci itu, dan membuka laptop untuk merevisi rumusan masalah. Kalimat lamaku ada di layar: Bagaimana Rasyid Ridha memaknai kebebasan manusia dalam memilih tanpa menafikan kehendak Allah? Aku menghapusnya. Kursor berkedip di halaman kosong.
Aku mengetik: Sejauh mana kebebasan memilih dalam tafsir Rasyid Ridha dapat dipraktikkan dalam relasi otoritas keagamaan?
Aku membaca kalimat itu tiga kali. Kalimat itu bukan jawaban anak Kyai. Itu kalimat yang kuucapkan di ruang sekretariat BEM pukul tiga sore tadi, di depan laki-laki yang memutar-mutar tutup spidol, dirapikan dengan bahasa skripsi. Aku tahu Bu Maryam akan menyukainya. Aku juga tahu, dan tengkukku dingin karena tahu, bahwa aku tak akan pernah bisa membacakan kalimat ini di depan Abah tanpa gemetar.
Aku menyimpan file itu.
DRRRTT…
Bunyinya teredam di dalam laci. Aku menatap laci itu. Satu getaran saja, pendek. Aku membiarkannya. Aku menghitung sampai tiga puluh, membuka laci, dan mengambil HP dengan dua jari seperti mengambil sesuatu yang panas.
Nomor tak dikenal. Satu pesan.
Fotonya jelas semua. Makasih ya. Bab 4 aku selamat.
Tak ada nama. Tak ada emoji. Tak ada salam. Aku membaca pesan itu empat kali, lalu memeriksa foto profilnya: hanya foto langit biru dengan sedikit atap gedung di bawahnya, tak bisa dikenali.
Aku menyimpan nomornya. Aku mengetik nama kontak, Kak Adrian, lalu menghapusnya, lalu mengetik Adrian BEM, menghapusnya lagi, akhirnya mengetik Al-Manar 4, dan menyimpannya begitu.
Aku mengetik balasan. Alhamdulillah, Kak. Sama-sama. Aku menghapus Kak. Aku menambahkannya lagi. Aku mengirimnya.
Centang dua. Abu-abu. Lalu biru.
Aku menunggu. Tak ada balasan. Satu menit. Lima. Dari masjid pesantren, suara santri yang menderas Al-Qur'an menjelang Maghrib naik turun seperti dengung lebah, dan Abah, aku tahu, sebentar lagi akan pulang untuk mandi dan berganti sarung sebelum mengimami.
Aku mematikan layar.
Abah pulang dari serambi pukul 17.38, mandi, berganti sarung, dan memanggilku untuk shalat Maghrib berjamaah di mushola kecil ndalem, pada hari-hari ia tak mengimami di masjid pesantren. Aku berdiri di belakang Abah, di saf perempuan yang hanya diisi aku sendiri dan kadang Mbak Siti. Abah membaca surat Al-A'la dengan suara yang tenang dan dalam, suara yang membuat santri-santri baru menangis di malam pertama mereka di pondok.
Aku mengikuti gerakan Abah dengan tubuh yang hafal. Takbir. Ruku. Sujud. Di sujud kedua rakaat pertama, dahiku menempel di sajadah hijau yang bau sabun cuci, dan di dalam kepala, tanpa aku minta, aku mendengar suara rendah dan datar itu bertanya: kamu setuju?
Aku bangkit dari sujud. Abah sudah berdiri untuk rakaat kedua. Aku tertinggal setengah ketukan.
Sesudah salam, Abah berbalik dan mengulurkan tangan, seperti biasa. Aku mencium punggung tangan itu, seperti biasa. Bau minyak kasturi.
"Tadi sampai rumah jam berapa, Nak?"
"Abis Ashar, Bah."
Itu benar. Aku memeriksa kalimat itu setelah keluar dari mulutku dan lega mendapati bahwa itu benar. Abah mengangguk dan mulai berzikir dengan tasbih gaharunya, butir demi butir, dan aku duduk di belakangnya, ikut berzikir dengan jari, dan menghitung tiga puluh tiga tasbih tanpa sekali pun salah, karena hanya itu yang bisa aku lakukan dengan benar malam itu.
* * *
Malam itu, sesudah Isya, sesudah makan malam dengan tempe goreng dan sambal terasi buatan Mbak Siti, sesudah Abah bertanya soal bimbingan dan aku menjawab bahwa rumusan masalahku sudah diperbaiki, alhamdulillah, Bah, lebih tajam, dan Abah mengangguk sambil memutar tasbih di pergelangan, aku berdiri di depan cermin lemari kamarku.
Aku melepas peniti satu per satu dan menusukkannya ke bantalan jarum berbentuk tomat. Jilbab abu-abu jatuh ke pangkuanku. Aku melepas ciput. Rambutku lepek, menempel di dahi dan tengkuk.
Aku menatap wajahku di cermin. Mata besar, kulit bersih yang belum pernah disentuh bedak selain bedak bayi yang dibelikan Mbak Siti di minimarket. Bibir yang kering karena seharian lupa minum. Alis yang tak pernah dirapikan karena Abah bilang mencukur alis itu dilarang.
Aku mengambil sisir dan menyisir rambutku, pelan, dari ubun-ubun sampai ujung yang mencapai punggung. Rambut itu hitam dan tebal dan tak pernah dilihat laki-laki mana pun selain Abah dan tukang cukur waktu aku umur lima tahun. Aku menyisirnya sampai licin. Aku membelahnya di tengah, lalu di samping, lalu kembali di tengah.
Lalu aku berhenti, sisir masih di tangan, dan sadar apa yang sedang aku lakukan.
Aku sedang bertanya pada cermin apakah aku cantik.
Pertanyaan itu bukan untuk Abah. Bukan untuk Ummi di dinding ruang tamu, bukan untuk Gus Farhan di depan kubah putih, bukan untuk ibu-ibu majelis yang memuji mataku teduh. Pertanyaan itu untuk seseorang yang tak akan pernah melihat rambut ini, yang hanya pernah melihatku berjilbab rapat di balik meja selebar satu meter, dan yang barangkali sudah lupa wajahku.
Aku meletakkan sisir di meja. Tanganku sedikit gemetar.
Di laci meja, HP-ku bergetar sekali.
DRRRTT…
Aku tak membukanya. Aku mematikan lampu, berbaring, dan menatap langit-langit. Kipas angin berputar di atas sana tanpa bunyi yang bisa kupegang, dan keheningan itu justru lebih keras, sampai aku tak tahan lagi.
Aku membuka laci dalam gelap. Cahaya layar menyinari wajahku dari bawah.
Al-Manar 4: Pertanyaan kamu tadi. Berapa banyak hidup yang beneran kita pilih. Saya kepikiran.
[BERSAMBUNG]
ns216.73.216.105da2


