Senin itu mobil operasional masuk ke parkiran distributor pinggir tol tepat pukul 14.30, dengan sein kanan yang seperti biasa, lupa dimatikan oleh Riko sampai mesin benar-benar mati, sehingga lampu kecil itu sempat berkedip tiga kali lagi ke arah tembok gudang yang tak membutuhkan isyarat apa pun dari siapa pun.
61Please respect copyright.PENANA8UErws33BE
Rapatnya berlangsung satu jam dua puluh menit. Tidak ada yang luar biasa di dalamnya, setidaknya tidak ada yang akan tercatat di notulen Riko, yang rapi, bertanggal, dan ditulis dengan huruf kecil-kecil miring seperti tulisan anak yang takut ditegur guru: harga revisi disepakati, PO di-ACC pukul empat kurang sepuluh, pengiriman tetap Kamis.
61Please respect copyright.PENANA3RFQ0SsEmV
Mas Dedi di ujung meja tidak mengangkat kepala dari laptopnya sekali pun. Pak Yoga mengetuk meja dua kali sebelum masuk ke angka, tok tok, sebagaimana ia selalu melakukannya, seakan meja itu sebuah pintu dan ia sedang meminta izin yang jawabannya sudah ia ketahui.
61Please respect copyright.PENANAc0AiPzNFRb
Dari lift ke lobi ada koridor sepanjang dua belas meter, yang ditempuh orang dewasa dengan langkah biasa dalam kira-kira empat puluh detik.
61Please respect copyright.PENANAmLl1mjzA1o
Riko sudah turun lebih dulu membawa semua map. Satpam di meja depan sedang menunduk pada HP-nya, menonton sesuatu yang membuat bahunya sesekali berguncang. Tidak ada kamera di koridor itu, atau kalau ada, tidak ada yang pernah memutarnya ulang. Maka empat puluh detik itu tidak disaksikan oleh siapa pun selain dua orang yang berjalan di dalamnya, dan cerita ini, setidaknya untuk sekarang, memilih untuk tidak menjadi saksi ketiga.
61Please respect copyright.PENANAjFImbUETjM
Yang dapat dicatat hanyalah apa yang terjadi sesudahnya: bahwa di tol, dalam macet yang merayap seperti antrean orang yang tidak yakin sedang mengantre untuk apa, Sinta tidak menangis seperti pada malam keempat minggu lalu; bahwa ia menatap ke luar jendela dengan wajah yang terlalu tenang untuk disebut tenang; dan bahwa tangan kanannya, sekali saja, terangkat dari pangkuan lalu menyentuh pinggang kanannya sendiri, pelan, seperti orang yang meraba saku untuk memastikan dompetnya masih di sana, atau justru untuk memastikan sesuatu sudah tidak di sana lagi.
61Please respect copyright.PENANApDx87hJvmM
Riko melihat gerakan itu dari spion tengah, sekejap, lalu mengalihkan matanya ke jalan dengan kesigapan orang yang sudah terlatih untuk tidak melihat, dan tidak berkata apa-apa.
61Please respect copyright.PENANALCaF6Azt3T
Di rumah, Bimo sudah menunggu sejak pukul enam, meskipun ia sendiri akan menyangkal kata menunggu itu kalau ditanya, dan menggantinya dengan duduk.
61Please respect copyright.PENANAiDZbiFmcn1
Ia duduk di teras dengan kopi sachet yang sudah dingin, dengan laptop yang sudah ditutup tapi lampu indikatornya masih berkedip oranye, dengan kaus oblong yang dipakainya sejak kemarin; dan sepanjang dua jam itu ia menjalankan di kepalanya semacam latihan, latihan untuk menjadi suami yang tidak akan bertanya, sebab sepanjang minggu ia sudah bertanya terlalu banyak dan setiap pertanyaan, ia tahu, meninggalkan bekas yang tidak bisa dicuci di wajah istrinya.
61Please respect copyright.PENANA7e9kSUly6Z
Sinta pulang pukul 20.15. Ia tak terlihat kesal ataupun membanting sepatunya.
61Please respect copyright.PENANAcmFfGPQ0n6
Itu hal pertama yang Bimo perhatikan, dan hal itu menghantamnya lebih keras daripada bantingan mana pun: sepasang sepatu hak rendah yang dilepas dengan dua jari, diletakkan berdampingan di lantai teras, rapi, tanpa bunyi, seakan pemiliknya sedang berusaha agar tidak ada satu benda pun di rumah ini yang bisa dijadikan bukti bahwa ia pernah marah. Bimo menatap sepatu itu lebih lama daripada menatap istrinya, dan diam yang panjang sepatu itu terasa baginya seperti dinding yang dibangun dalam satu malam.
61Please respect copyright.PENANARAPCQJ1lFn
Mereka makan nasi goreng dari abang depan cluster. Sinta menghabiskan setengah. Percakapan mereka pendek, seperti dua orang yang berpapasan di lorong kantor.
61Please respect copyright.PENANAuMnwnykd4B
"PO-nya ACC gaa?"
61Please respect copyright.PENANAqtlT1tcMrJ
"ACC.. Sayang"
61Please respect copyright.PENANAooYlbCA7zT
"Kamis kirim..?"
61Please respect copyright.PENANAjFDhRdLpgR
"Iya Kamis..."
61Please respect copyright.PENANAQroK1BlkXd
Bimo menyendok, mengunyah, lalu menelan, lalu tangannya masuk ke saku celana pendek dan mengaduk-aduk di sana tanpa ada yang dicari. Sinta melihat tangan itu. Ia selalu melihat tangan itu. Tiga tahun menikah telah mengajarinya membaca suaminya bukan lewat apa yang diucapkan, melainkan lewat apa yang disembunyikan di dalam saku.
61Please respect copyright.PENANAO3tSV7unwf
Di dinding ruang tengah, foto pernikahan mereka tergantung sedikit miring, sebagaimana sudah miring sejak hari dipasang. Di foto itu Sinta tersenyum lebar sampai matanya terlihat sipit, dan Bimo tampak seperti orang yang baru saja diberi sesuatu yang tidak pernah ia sangka akan diberikan kepadanya. Malam itu, dari kursi makannya, foto itu tepat berada di atas kepala Sinta, dan Bimo, tanpa bermaksud, membandingkan dua wajah istrinya: yang di bingkai, dan yang sedang mendorong piring setengah penuh menjauh.
61Please respect copyright.PENANAiDrZHveowp
Pengakuan itu tidak datang sebagai keputusan. Ia datang sebagaimana air datang dari plafon yang sudah lama rembes, yakni bukan pada saat hujan paling deras, melainkan pada saat seseorang akhirnya mendongak.
61Please respect copyright.PENANAxT6F2HDTaS
Mereka sudah di kamar. AC sudah dinyalakan sejak sore karena kamar depan yang menghadap barat itu menyimpan panas di dindingnya seperti dendam yang belum dibayar. Lampu tidur kuning kecil di sisi Bimo menyala. Sinta duduk bersandar di kepala ranjang, HP kerjanya telungkup di meja, dan ia berkata, tanpa menoleh, dengan suara yang datar sekali sehingga setiap kata terdengar seperti diletakkan satu-satu di atas meja:
61Please respect copyright.PENANAkhEGekjKNx
"Kamu gak nanya hari ini...? Tumben!"
61Please respect copyright.PENANAJhYlx7awSe
Bimo tidak menjawab.
61Please respect copyright.PENANA3MRia3XDL7
"Biasanya kamu nanya tuhh... Dari Senin kemarin kamu nanya muluu tiap malem..." Ia menoleh. "Kenapa..?" Ucapnya Sinta lagi.
61Please respect copyright.PENANAompHsdVmqU
"Gapapa.. Sayang. Emang harus banget nanya terus?."
61Please respect copyright.PENANA9QMzovhZkr
"Yaa ga gitu juga.. jadi aneh aja, tau-tau diem mulu kamu."
61Please respect copyright.PENANAb7tv6VI7zL
Sesudah itu datang keheningan yang panjang, keheningan yang di dalamnya hanya terdengar dengung AC dan, dari luar, suara motor tetangga yang sedang dipanaskan.
61Please respect copyright.PENANA9ozNZwnC49
Di dalam keheningan itu Bimo merasakan sesuatu merayap naik dari perutnya, bukan amarah dan bukan takut, melainkan semacam kelelahan yang akhirnya menemukan pintu keluar, kelelahan seorang lelaki yang selama delapan hari menjaga satu kebohongan dengan tangan gemetar seperti orang membawa nampan penuh gelas di lantai yang licin.
61Please respect copyright.PENANANQDy2cGnON
Ia sudah menyangkal tiga kali. Enggak. Lucu aja. Gak tau. Aku beneran gak tau, Sayang. Satu kali lagi badannya yang akhirnya menjawab, dengan cara yang tidak bisa ditariknya kembali.
Maka ketika Sinta bertanya, pelan, "Kamu seneng, kan. Dari awal...?" yang keluar dari mulutnya adalah pengakuan kelima, dan yang pertama kali diucapkan dengan suara:
61Please respect copyright.PENANAUwb2k75b9b
"he-em."
61Please respect copyright.PENANAP3fmt7taLL
Sinta tidak bergerak.
61Please respect copyright.PENANAHwA0HrhC5I
"Hahh.. serius, Mas?!"
61Please respect copyright.PENANACoJOZE2AZd
Bimo menatap rembesan cokelat di pojok plafon, peta pulau yang tak pernah ada, yang sudah ia janjikan untuk dicat sejak Lebaran lalu, dan menjawab ke arah pulau itu, seakan pulau itu yang bertanya:
61Please respect copyright.PENANAvaEFL26up8
"Dari malem pertama, Sayang."
61Please respect copyright.PENANAIMfn1rzibV
Ledakan itu tidak keras pada awalnya. Ia dimulai dengan tawa pendek Sinta, tawa yang lebih mirip udara yang lolos dari ban bocor daripada bunyi gembira, lalu tawa itu berhenti di tengah, dan di tempatnya muncul suara yang Bimo belum pernah dengar keluar dari istrinya selama tiga tahun.
61Please respect copyright.PENANAU1OXksRgua
"Dari malem pertama?!!." Ia mengulang, seperti orang membaca nominal tagihan yang tidak masuk akal.
61Please respect copyright.PENANAboDCenwXIB
"Jadi pas aku cerita dia duduk mepet, kamu seneng?? Pas aku cerita dia pegang siku aku, kamu seneng? Pas aku nangis di tol..., "
61Please respect copyright.PENANA51fBnmfEOm
Ia berhenti. Bimo tidak tahu Sinta pernah menangis di tol. Kalimat itu menggantung di udara kamar, dan Sinta tidak melanjutkannya. Bimo terlalu pengecut untuk meminta kelanjutannya.
61Please respect copyright.PENANAAUiM6wbvQH
"Tau gak si, Mas," kata Sinta, dan kini suaranya turun, justru turun, menjadi sangat jernih, "Lama-lama aku lebih jijik sama kamu, Mas. Daripada sama dia."
61Please respect copyright.PENANAHwdAykeo5z
Bimo diam tak sepatah katapun.
61Please respect copyright.PENANAmoQATYmcED
"Udah ya.. Dia tuh orang asing. Dia mau apa terserah biarin.., Aku bisa jaga diri... Tapi kamu tuh suami aku, Mas... Suami Aku!!" Ia menekan kata itu seperti orang menekan luka untuk menghentikan darah. Kamu suami aku.
61Please respect copyright.PENANATmzvw3XBvw
Tangannya gemetar di atas selimut. Bimo melihat gemetar itu dan ingin meraihnya, tapi tak berani, dan ketidakberanian itu, ia sadari kelak, adalah tanda yang selama ini Sinta tunggu dan yang tidak pernah ia berikan.
61Please respect copyright.PENANACKdNaJEnO5
Yang menyusul sesudahnya bukan teriakan, melainkan sesuatu yang lebih menakutkan bagi Bimo, yakni rasa takut di mata istrinya sendiri: takut yang bukan diarahkan pada Yoga, bukan pada kantor klien atau koridor dua belas meter itu, tapi pada lelaki yang tidur di sebelahnya, yang selama delapan malam sangat senang mendengarkan istrinya disentuh orang lain dengan wajah yang dijaga dan tubuh yang tidak.
61Please respect copyright.PENANA0OlViAyCRQ
"Kenapaa diem terus sih..," kata Sinta. "Pokoknya jangan bahas ini lagi! Jangan nanya, Jangan minta aku cerita...!"
61Please respect copyright.PENANAvxWOHqNAJp
"Iya."
61Please respect copyright.PENANAzP5HDKezv8
"Kamu bilang iya doang sekarang??!" Sinta tertawa lagi, tawa yang sama tipisnya. "Besok mesti kumat lagi. udah hafal banget..."
61Please respect copyright.PENANAcLIjMLHe0B
"Enggak, Sayang. Janji, maafin aku ya.."
61Please respect copyright.PENANALaJHwKJrYp
Kata janji jatuh di ranjang itu seperti koin palsu di meja kasir, dan mereka berdua mendengar dentingnya yang salah.
61Please respect copyright.PENANA9424v7dHeO
Sinta menatapnya lama, lalu mengatakan kalimat yang akan Bimo putar ulang di kepalanya berminggu-minggu kemudian, kalimat yang tidak diucapkan dengan marah melainkan dengan semacam kelembutan beracun:
61Please respect copyright.PENANA8BJq6gDFEQ
"Janji kamu tuh ada satu yang kamu tepatin minggu ini.. Sabtu, Kamu keluarin di luar." Ia menunjuk perutnya sendiri, tempat Sabtu malam itu pernah dilap dengan tisu.
61Please respect copyright.PENANA4qN6EBBoPn
Bimo muntah pukul sebelas kurang.
61Please respect copyright.PENANAiM3YVCa0zX
Ia tidak merencanakannya; perutnya yang memutuskan, terdorong oleh nasi goreng setengah cerna, kopi sachet ketiga, dan sesuatu yang lebih berat dari keduanya, sehingga ia berlari ke kamar mandi dan berlutut di depan kloset dengan tangan mencengkeram pinggiran keramik yang dingin, terdengar hoekk, kering dan memalukan, bunyi seorang lelaki yang tubuhnya mencoba mengeluarkan sesuatu yang tidak bisa dikeluarkan lewat mulut.
61Please respect copyright.PENANAjpPorW5K7U
Sinta tidak menyusulnya.
61Please respect copyright.PENANAOSF1TYP4WJ
Ketika Bimo keluar, mengusap mulut dengan punggung tangan, Sinta berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan handuk di bahu. Ia menunggu Bimo lewat, lalu masuk, dan menyalakan shower.
61Please respect copyright.PENANAOlvpHdMhGI
Sshhhh…
61Please respect copyright.PENANA6LRAI8y3kV
Shower itu berjalan empat puluh menit. Bimo menghitungnya dari ruang tengah, duduk di sofa di bawah foto pernikahan yang miring, dan setiap menit air yang mengalir itu terdengar baginya bukan seperti air yang membersihkan, tapi seperti air yang menggerogoti, yang mengikis sesuatu dari kulit istrinya yang tidak ia ketahui namanya, apakah bekas tangan orang lain atau bekas telinga suaminya sendiri.
61Please respect copyright.PENANA9BFaq7F5qq
Pukul 23.40 ia keluar rumah.
61Please respect copyright.PENANAWR6TieR8eF
Ia tidak membawa apa-apa selain HP dan kunci, berjalan melewati satpam gerbang yang mengangguk setengah tidur, menyusuri gang di belakang cluster yang lampunya mati satu-satu seperti gigi yang tanggal, dan berdiri di ujung gang itu, di depan tembok rumah kosong yang dicoret-coret nama orang yang sudah lama pindah. Di sana ia tidak menangis.
61Please respect copyright.PENANAR1YcWBACnt
Ia hanya berdiri, dengan tangan mengaduk saku celana pendek, mencari sesuatu di saku yang tidak pernah berisi apa-apa selain kunci, dan dalam kepalanya, dengan kejernihan yang membuatnya ngeri, kalimat Sinta berputar bukan dengan nada marah, tapi dengan nada yang lain, yang lebih pelan, nada Sabtu malam: Senin aku ke sana lagi. Kamu mau aku ceritain..?
61Please respect copyright.PENANAUcFagu5muK
Hari ini Senin. Ia tidak diceritakan apa-apa. Dan sebagian dari dirinya, bagian yang paling kosong dan paling jujur, merasa kehilangan.
61Please respect copyright.PENANAgZfXwZ18jW
Mulustrasi Yoga:

61Please respect copyright.PENANAtAmQyvrxbq
Pukul 02.07
61Please respect copyright.PENANAwOPkxWldRo
Di sebuah apartemen studio lantai sembilan belas yang jendelanya menghadap lampu-lampu tol yang tak pernah tidur, Yoga duduk di meja kerjanya dengan kemeja biru muda yang sudah tergantung di sandaran kursi dan jam kulit yang sudah dilepas, terbaring di samping laptop seperti hewan kecil yang patuh.
61Please respect copyright.PENANAbgoWuTENqk
Ia tidak sedang gelisah. Kalau ada kata yang tepat untuk keadaannya, kata itu adalah menjadwalkan. Penolakan Jumat lalu, Maaf Pak, Sabtu saya sama suami, tidak ia simpan sebagai akhir; ia menyimpannya sebagaimana ia menyimpan vendor yang menolak harga pertama: sebagai tanggal yang perlu digeser, bukan pintu yang tertutup. Melainkan mengetuk pintu agar terbuka. Lalu mengetik.
61Please respect copyright.PENANAwt2til3H6V
Pesan itu terkirim pukul 02.08.
61Please respect copyright.PENANA8ZaxCD8B5H
61Please respect copyright.PENANAHvV6fpHRIJ
Pukul 02.08 juga, di rumah cluster pinggiran yang KPR-nya masih dua puluh tahun, HP kerja Sinta menyala sendiri di meja samping ranjang.
61Please respect copyright.PENANAiJQtjER0mV
Sinta tidur memunggungi, rambutnya masih setengah basah, napasnya sudah turun. Bimo tidak tidur. Ia sudah pulang dari gang sejak setengah satu, berbaring telentang di bawah peta pulau yang tak ada, dan ketika layar itu menyala, cahayanya jatuh ke langit-langit seperti senter penjaga malam.
61Please respect copyright.PENANAaMacEsHr8C
Bimo selalu bangga bahwa ia bukan tipe lelaki yang memeriksa HP istrinya. Kebanggaan itu adalah satu-satunya kebanggaan yang masih bisa ia pegang sebagai suami yang bekerja dari kamar kedua, dan malam itu, dalam waktu kurang dari tiga detik, ia meletakkannya.
61Please respect copyright.PENANA6JySkPOFpz
Ia tidak menyentuh HP itu. Ia hanya mengangkat kepala sedikit, cukup untuk membaca layar kunci dari jarak setengah meter, dengan gerakan sepelan orang yang mencuri dari dirinya sendiri.
61Please respect copyright.PENANAJm75zT4bb1
Pak Yoga Purchasing: Bu, Rabu jam 10 ya, sebelum makan siang. Saya tunggu. Selamat istirahat, Bu.
61Please respect copyright.PENANAlHTcVGOmwU
Layar redup. Bimo kembali rebah. Jantungnya berdetak bukan di dada, tapi di telinga, dan ia menyadari, dengan rasa malu yang bercampur sesuatu yang lebih gelap dan lebih hangat, bahwa ia baru saja diberi cerita yang tidak diceritakan, dan bahwa janji yang ia ucapkan empat jam lalu, jangan nanya, jangan minta, sama sekali tidak menyebut apa pun tentang membaca.
61Please respect copyright.PENANAMfQaxxEDV8
Selasa subuh Sinta bangun pukul 04.50, masuk kamar mandi, dan mengunci pintunya.
61Please respect copyright.PENANAxUE60LZIOZ
Ia duduk di atas kloset yang tertutup, dalam cahaya lampu neon yang selalu terlalu putih, dan membuka pesan pukul 02.08. Ia membacanya dua kali. Lalu, dengan jempol yang tidak gemetar, sesuatu yang ia sadari sendiri dan tidak ia sukai, ia mengetik:
61Please respect copyright.PENANAQx8WZkyaaS
Baik Pak, terima kasih.
61Please respect copyright.PENANAS23TCKYesc
Terkirim. Centang dua. Belum biru.
61Please respect copyright.PENANAC8anFK621z
Lalu ia menggulir chat ke atas, melewati percakapan PO yang kering, melewati pesan Maaf Pak, Sabtu saya sama suami yang ia tulis Jumat malam dengan perasaan layaknya orang menunjukkan KTP di pos satpam. Sampai ke pesan yang masuk Sabtu pukul 23.00 ting; Nggak apa-apa Bu, lain kali aja. Suaminya beruntung yah.
61Please respect copyright.PENANAnWqVNrrPLQ
61Please respect copyright.PENANAnueoeZRj99
Sinta membaca kalimat itu lama, sangat lama, sampai kata beruntung kehilangan maknanya dan menjadi sekadar bentuk, deretan huruf yang bersih dan sopan dan sama sekali tidak benar. Di balik pintu kamar mandi, suaminya yang beruntung sedang berpura-pura tidur. Ia tahu suaminya berpura-pura, sebab orang yang benar-benar tidur tidak bernapas serapi itu.
61Please respect copyright.PENANAJkmujjqfSb
Pagi itu rumah membeku dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan AC.
61Please respect copyright.PENANAzb1OQmn7o5
Bimo menyiapkan teh yang tidak diminta, meletakkannya di meja makan, dan Sinta melewatinya. Sinta mengambil strip pil dari laci dapur, memecahkan satu butir dari bungkusnya dengan bunyi kecil, klik, yang terdengar di dapur itu sekeras pintu dibanting, lalu menelannya dengan air putih, berdiri, menghadap Bimo, dengan mata terbuka lurus ke matanya.
61Please respect copyright.PENANA3dPpnUoX5Z
Empat hari ia lupa. Pagi ini ia tidak lupa, dan ia memastikan Bimo melihat ia tidak lupa.
61Please respect copyright.PENANA2vmR5fLcmW
Mereka tidak bicara soal itu. Mereka tidak bicara soal apa pun. Sinta mengenakan blazer abu-abu yang sudah dicuci, rok span, mengikat rambut dengan ikatan yang terlalu kencang, dan di teras ia memakai sepatu hak rendahnya dengan dua jari, tanpa bunyi, sementara di belakangnya Bimo berdiri di ambang pintu dengan kalimat hati-hati yang tertahan di tenggorokan karena kalimat itu, sejak satu minggu lalu, sudah menjadi milik orang lain.
61Please respect copyright.PENANAkrpi6l3clX
Riko tidak menjemput pagi itu; mobil operasional sudah lebih dulu di gudang timur. Sinta naik ojek.
61Please respect copyright.PENANAazy0Iy2i6t
Di jok belakang, ia membuka chat ibunya dan mengetik: Ma, akhir bulan ini aku mungkin pulang ya, sendiri, kangenn. Ia menatapnya. Ia menghapus kata sendiri, sebab kata itu terlalu jujur untuk dikirim ke seorang ibu yang setiap telepon menanyakan momongan. Lalu ia menatap sisanya, dan menghapus semuanya, huruf demi huruf, sampai kotak chat itu kosong kembali dan hanya kursor yang berkedip, sabar, seperti seseorang yang tahu ia akan kembali.
61Please respect copyright.PENANAPUXTsWet9u
Gudang timur, pukul 09.00. Manajer baru yang cerewet itu bertanya "kenapa gak dari kemarinn.." dua kali sebelum mereka sempat duduk.
61Please respect copyright.PENANACKy2FP3fsK
HP kerja Sinta mati sejak pukul delapan lewat. Riko, yang memperhatikan semuanya tanpa pernah tampak memperhatikan, berkata pelan, "Charger-nya ada di tas ya, Bu."
61Please respect copyright.PENANA6J3FR956Rb
"Iya," kata Sinta. "Nanti..."
61Please respect copyright.PENANA2TW72vlsTM
HP itu tidak diisi sampai sore. Itu fakta, dan fakta itu dibiarkan tanpa penjelasan, sebab penjelasan apa pun akan lebih sederhana daripada apa yang sebenarnya terjadi di kepala perempuan yang memilih untuk tidak bisa dihubungi.
61Please respect copyright.PENANAh7D9tAGC4j
Yang juga tak Sinta ketahui: pukul 08.30, ketika HP-nya baru saja mati, Yoga menelepon nomor Riko. Suaranya ramah, profesional, tanpa satu pun nada yang bisa disebut janggal. Ia menanyakan Bu Sinta baik-baik saja atau tidak, karena chatnya dibalas subuh, dan apakah jadwal Rabu jam sepuluh tetap. Riko menjawab "iya, Pak, nanti saya sampaikan", dan tidak menyampaikannya.
61Please respect copyright.PENANAoVly5rFwaU
Riko tak menyampaikannya kepada Sinta. Tiga jam kemudian, di toilet gudang timur, dengan pintu bilik tertutup dan HP pribadinya di tangan, ia membuka kontak yang ia simpan sejak hari pertama bekerja, kontak darurat di formulir pegawai yang ia salin tanpa tahu alasannya. Dengan pintu bilik tertutup dan HP pribadi di tangan, ia mulai mengetik pesan kepada suami atasannya.. Motifnya belum ia rumuskan, bahkan untuk dirinya sendiri. Barangkali karena tangan di pinggang kanan yang ia lihat dari spion. Mungkin karena ia anak bungsu dari ibu yang dulu ditinggal. Barangkali bukan apa-apa.
61Please respect copyright.PENANAVHZ8muBAbD
Bimo sedang tidak bekerja ketika pesan itu masuk.
61Please respect copyright.PENANAYdijAJF5UW
Sejak pukul sembilan ia duduk di kamar kedua dengan laptop terbuka pada tab-tab yang tidak ada hubungannya dengan tiket mana pun, sebab yang ia ketik di kolom pencarian, dengan jari yang lebih lambat dari biasanya, adalah kalimat-kalimat yang tidak akan pernah ia ucapkan keras-keras: suami terangsang istri karena cerita laki-laki lain, lalu apakah itu normal, lalu, setelah lama, cara berhenti. Hasilnya forum-forum anonim, artikel psikologi berbahasa Inggris, dan satu thread yang ia tutup sebelum selesai membaca karena di dalamnya ada seseorang yang menulis it never stops, it only gets quieter, dan ia tidak tahan melihat dirinya dideskripsikan oleh orang asing.
61Please respect copyright.PENANAF6e9G2SRGS
Pukul 11.52 HP pribadinya bergetar.
61Please respect copyright.PENANACFHkESBlOw
Drttt... Drttt...
61Please respect copyright.PENANA6flxNxp3Sr
Riko (Kantor Sinta): Pak, maaf ganggu. Ini Riko, anak buah Bu Sinta. Tadi pagi Pak Yoga telpon saya nanya Bu Sinta, sama jadwal Rabu jam 10. HP Bu Sinta mati, Pak.
61Please respect copyright.PENANAppvK7C6B9n
Hanya itu. Tidak ada tanda tanya, tidak ada penjelasan mengapa seorang anak buah merasa perlu melapor kepada suami atasannya soal jadwal kerja yang sepenuhnya biasa. Justru kebiasaannya itulah yang membuat Bimo membaca pesan itu tujuh kali, sebab ia tahu, sebagaimana orang yang sakit tahu letak sakitnya tanpa perlu ditunjukkan, bahwa tidak ada orang yang mengirim pesan biasa dengan cara seperti itu.
61Please respect copyright.PENANAG7cvhVi72g
Ia mulai mengetik balasan, bukan untuk Riko, tapi untuk istrinya, di chat yang sejak semalam tidak bergerak:
61Please respect copyright.PENANAxPA2aRVbpW
kamu gak usah ke sana
61Please respect copyright.PENANAJFyslPVvsd
Jempolnya berhenti di atas tombol kirim, dan di sedetik itu ia mendengar suaranya sendiri semalam, iya, aku janji, dan suara Sinta yang menjawab, besok kamu kumat lagi, aku hafal kamu, dan ia menyadari bahwa larangan yang ia ketik ini, yang seharusnya suara seorang suami, akan terdengar di telinga istrinya justru sebagai hal yang sama sekali lain: sebagai pertanyaan yang menyamar, sebagai permintaan untuk diceritakan.
61Please respect copyright.PENANAFL4UCt6XNS
Ia menghapusnya. Huruf demi huruf, seperti Sinta menghapus pesan untuk ibunya di jok ojek pagi tadi, meskipun ia tidak akan pernah tahu bahwa mereka melakukan hal yang sama, pada pagi yang sama, dengan jempol yang sama tidak gemetarnya.
61Please respect copyright.PENANAO51AoA8lwz
Di layar laptop, di pojok kalender kerja, ada pengingat yang ia pasang sendiri minggu lalu: Konfirmasi meja pojok resto, H-80. Dua belas minggu lagi. Ia menatap angka itu dan angka itu menatapnya balik, tanpa belas kasihan, seperti tagihan yang tahu ia tidak akan lari.
61Please respect copyright.PENANAcWgcqvCTKh
Bimo membalas Riko satu kata: Makasih, Rik.
61Please respect copyright.PENANAoVvMKG8xKv
Lalu ia menutup laptop, menyandarkan kepala ke kursi, dan berkata kepada dirinya sendiri, kepada kamar kedua yang baunya kopi basi dan AC lembap, kepada janji yang baru berumur tiga belas jam, sesuatu yang ia kira adalah tekad dan yang bahkan saat diucapkan sudah terdengar seperti pengakuan keenam:
61Please respect copyright.PENANAJoEKRbaNZG
Belum besok.
61Please respect copyright.PENANAUSlgWkHxry
Di kepalanya, dengan suara yang terlalu mirip suara istrinya, seseorang menjawab:
61Please respect copyright.PENANAlYno38vXXV
Dia sudah kumat.
ns216.73.216.105da2


