
61Please respect copyright.PENANAQwjYAtZ06R
Rumah kami membeku selama tiga hari, dan yang paling menakutkan dari beku itu adalah betapa setiap benda tetap berada di tempatnya dan setiap kalimat tetap diucapkan pada jamnya, seakan pernikahan kami telah diganti diam-diam dengan replika yang sangat teliti dan aku satu-satunya orang yang menyadari perbedaannya dari bau.
61Please respect copyright.PENANAHfGDzya9AR
Sinta bangun pukul lima kurang, mandi, menelan pilnya di dapur dengan punggung menghadapku, memakai sepatu dengan dua jarinya tanpa bunyi, lalu pergi.
61Please respect copyright.PENANA0sLtohHwDe
Ia pulang, makan apa pun yang kusiapkan, menjawab setiap pertanyaanku dengan satu kata yang tepat ukurannya, tak lebih dan tak kurang, seperti kasir yang memberikan kembalian pas tanpa menatap wajah pembeli.
61Please respect copyright.PENANA6JptnkzCCi
Aku tidak bertanya apa pun yang terlarang. Aku menepati janji Senin malam itu dengan ketekunan seorang narapidana yang menghitung hari dengan goresan kuku di dinding sel, dan setiap malam, ketika ia tidur memunggungiku, aku menyadari bahwa menepati janji ternyata bisa terasa persis seperti dihukum, dengan perbedaan kecil bahwa di penjara setidaknya orang tahu berapa lama masa hukumannya.
61Please respect copyright.PENANAYYKUChHoQ6
Selasa malam aku mencoba sekali.
61Please respect copyright.PENANAyT1T3tniNe
"Sayang… besok mau dibikinin bekel ga...??"
61Please respect copyright.PENANAw9b9TrTUTJ
Ia sedang mengeringkan rambut dengan handuk di depan lemari. Tangannya berhenti sekejap, lalu bergerak lagi.
61Please respect copyright.PENANAShSs2GBCmH
"Gak usah."
61Please respect copyright.PENANAJFbO7QIw0e
"Nasi goreng aja. Kasih telur dadar ya..."
61Please respect copyright.PENANAlLIKnFs0sY
"Gak usah, Mass…"
61Please respect copyright.PENANAHrFG7bFjm0
Huruf s di ujung namaku dipanjangkan, bukan dengan manja seperti dulu, melainkan dengan lelah, seperti orang yang menutup pintu pelan-pelan supaya tidak membangunkan anak kecil, padahal yang ingin ia hindari adalah percakapan. Aku mengangguk ke punggungnya. Ia tidak melihat anggukan itu, dan aku tahu ia tidak perlu melihatnya, sebab di rumah ini, sejak Senin, semua yang kulakukan sudah ia ketahui sebelum kulakukan.
61Please respect copyright.PENANAmDacWHRNFt
Rabu pagi aku bangun lebih dulu dari biasanya, bukan karena alarm, melainkan karena tubuhku sudah berhenti tahu cara tidur nyenyak. Aku menatap rembesan cokelat di plafon dalam cahaya subuh yang kelabu dan, untuk pertama kalinya sejak Lebaran, benar-benar mengukurnya dengan mata: dari ujung AC sampai ke sudut, lalu melebar ke kanan seperti tanjung. Aku berjanji dalam hati akan membeli cat minggu ini. Aku tahu aku tidak akan membelinya. Ada janji-janji yang diucapkan bukan untuk ditepati, melainkan untuk memberi orang yang mengucapkannya alasan untuk bangun dari ranjang.
61Please respect copyright.PENANAv4dae73IdW
Rabu pukul delapan lewat seperempat, HP kerja Sinta berdering di meja makan.
61Please respect copyright.PENANAL211rcx3fI
Drrrtt… Drrrttt…
61Please respect copyright.PENANAZ5JmrWSaOA
Dari caranya mengangkat, dengan alis yang turun sebelum suara di seberang selesai berbicara, aku tahu harinya baru saja rusak.
61Please respect copyright.PENANAPj9qDQuH4t
"Halo, Rik..? Iya. Iya… Ya ampunn, Panas banget ya..?? Gapapa, gapapa, istirahat aja. Mobilnya biarin di rumah kamu. Cepet sembuh ya.. Minum obat, Rik."
61Please respect copyright.PENANAJrfqwuGMVx
Ia menutup telepon, menatap layar, lalu menatap jam dinding, lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga hari, menatapku dengan mata yang meminta sesuatu.
61Please respect copyright.PENANAjXV31e3m8n
"Riko demam."
61Please respect copyright.PENANAGe1M5kn38n
"Oh."
61Please respect copyright.PENANAWlZupyKjba
"Tiga sembilan katanya. Dari semalem." Ia mengetuk-ngetukkan kuku ke casing HP, kebiasaan yang muncul setiap kali ia sedang menghitung sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan kalkulator. "Aku ada jadwal jam sepuluh. Di tol."
61Please respect copyright.PENANAibNISucnF6
Ia tidak menyebut nama tempatnya, dan justru karena tidak disebut, nama itu memenuhi dapur seperti bau gas yang bocor dari tabung yang tak terlihat.
61Please respect copyright.PENANAmA3pNjjguo
"Ojek kejauhan. Taksi online jam segini muter-muter, bisa sejam baru dapet."
61Please respect copyright.PENANAyKv249oNS6
Aku menunggu. Aku sudah belajar, dalam tiga hari itu, bahwa menunggu adalah satu-satunya bentuk bicara yang masih diizinkan untukku.
61Please respect copyright.PENANAB5dm3qv5qL
"Kamu bisa nganter..??" tanyanya, lalu buru-buru menambahkan, dengan nada orang yang memasang pagar sebelum tamu sempat masuk ke halaman: "Cuma nganter. Gak usah turun."
61Please respect copyright.PENANASPAWwgWgZa
"Iya."
61Please respect copyright.PENANAYRGJir8ukz
Aku mengatakan iya terlalu cepat, ia mendengar kecepatan itu, matanya menyipit sedikit, dan ia tak mengomentarinya, ketidakmauannya berkomentar itu terasa lebih tajam daripada komentar mana pun.
61Please respect copyright.PENANAOmWOC6lBGE
"Kerjaan kamu..??"
61Please respect copyright.PENANA6FGvNHHOf4
"Bisa ditinggal. Cuma tiket kecil."
61Please respect copyright.PENANAkiJZXV68KF
"Hmm."
61Please respect copyright.PENANA6XM8P22LHx
Ia kembali ke kamar untuk berganti pakaian, dan aku berdiri di dapur dengan sendok teh di tangan, menyadari bahwa jantungku berdetak lebih cepat daripada yang sepantasnya untuk seorang suami yang hanya akan mengantar istrinya ke tempat kerja, dan bahwa aku tidak tahu, sungguh tidak tahu, apakah yang membuatnya berdetak adalah rasa takut atau sesuatu yang selama tiga hari ini kucoba kuburkan di bawah janji.
61Please respect copyright.PENANA7vySNhcNQ5
Aku mengganti kaus oblong dengan kaus berkerah biru tua, satu-satunya yang tidak terlalu pudar, meskipun di bahunya warna itu sudah memucat oleh matahari jemuran, dan untuk pertama kali dalam berbulan-bulan duduk di balik kemudi mobil kami sendiri. Mobil keluarga berwarna perak itu lebih sering terparkir di carport dan berdebu seperti kenangan yang tak pernah dikunjungi; ketika kustarter, mesinnya batuk dua kali sebelum mau hidup, seakan ia pun terkejut ada yang masih membutuhkannya.
61Please respect copyright.PENANAmBszcwMg3a
Brrmm… brrmmm…
61Please respect copyright.PENANAo5Eeeewter
Sinta duduk di kursi sebelahku dengan map di pangkuan dan HP kerja di tangan, blazer abu-abu yang sudah dicuci sejak Senin, rok span, rambut diikat dengan ikatan yang terlalu kencang sehingga kulit di pelipisnya tampak tertarik.
61Please respect copyright.PENANAuK1ARc4caA

61Please respect copyright.PENANATLjbDdssLp
Selama dua puluh menit pertama kami hanya ditemani radio yang memutar lagu-lagu yang terlalu riang untuk pagi itu, dan penyiar yang tertawa terlalu keras pada leluconnya sendiri.
61Please respect copyright.PENANAwU1lK2vEE6
"Kecilin dikit, Mas."
61Please respect copyright.PENANAvF14h2aQdD
Kukecilkan.
61Please respect copyright.PENANARiGJyUQUHd
"Itu AC-nya ke aku semua..."
61Please respect copyright.PENANAgCqcrhkVI8
Kubelokkan kisi-kisinya.
61Please respect copyright.PENANABSm6OCAR1U
Lalu, di gerbang tol, terdorong oleh kebiasaan lama yang lebih tua daripada dingin tiga hari ini, kebiasaan istri yang terbiasa mengisi perjalanan dengan cerita, ia mulai berbicara tentang kerja, pelan dan datar tetapi berbicara, dan aku mendengarkannya dengan rasa syukur yang memalukan, seperti anjing yang dipanggil namanya setelah seharian diabaikan di halaman.
61Please respect copyright.PENANA9KOk4kV3nR
"Bulan ini targetnya naik lagi. Gila gak sihh. Udah naik SPV bukannya enak, malah kayak dikejar-kejar terus.."
61Please respect copyright.PENANA5IJ11sD5wi
"Iya..?"
61Please respect copyright.PENANAXGcbbYqAir
"Iya. Terus manajer gudang timur itu kemaren nanya lagi, 'kenapa gak dari kemarin, Bu, kenapa gak dari kemarin'. Ya Allahh, Mass, aku pengen bilang, Pak, kemarinnya kemarin Bapak sendiri yang minta diundur."
61Please respect copyright.PENANAQtTnO1BUfG
"Hahah… terus kamu bilang..??"
61Please respect copyright.PENANAY5aphQdsaB
"Ya enggak lahh. Aku senyum aja. Senyum kerja." Ia mengucapkan senyum kerja dengan nada menyindir dirinya sendiri, dan aku teringat malam itu, malam ketika aku membayangkan senyum yang sama dipakai di ruang meeting lain, dan tanganku mencengkeram kemudi sedikit lebih kencang.
61Please respect copyright.PENANAp8YTy2aoV6
"Riko kasian juga. Kemaren udah pucet banget, tapi tetep nyetir. Aku suruh pulang duluan dia gak mau."
61Please respect copyright.PENANAiiihgG3pbr
"Baik banget ya, Riko.."
61Please respect copyright.PENANAswB2deLfe7
"Baik. Diem. Kadang aku gak tau dia lagi mikir apa." Ia memandang ke luar jendela. "Kayak kamu, Mas"
61Please respect copyright.PENANAlABSDw4iJb
Aku tidak menjawab. Kalimat itu jatuh di antara kami seperti koin yang menggelinding ke bawah jok, dan tak satu pun dari kami membungkuk untuk mengambilnya.
61Please respect copyright.PENANAWvyyuK0MWu
"Terus pengirimannya kan harusnya Kamis kemarin, tapi gudangnya belum siap. Makanya hari ini dicek ulang. Pak Yoga bilang Kamis…"
61Please respect copyright.PENANA8mnv8m1R3j
Ia berhenti.
61Please respect copyright.PENANAoyVe2xTarx
Kalimat itu tergantung di udara mobil seperti benda yang terjatuh dari dasbor dan belum mencapai lantai. Sinta menatap lurus ke depan, ke deretan truk yang merayap di lajur kiri dengan bak penuh karung dan tali-tali yang berkibar, dan bibirnya merapat dengan cara yang kukenal dari tiga tahun pertengkaran kecil: cara orang yang baru menyadari ia telah membuka laci yang seharusnya tetap terkunci.
61Please respect copyright.PENANAgVqrvE19Nv
Aku tidak bertanya Pak Yoga bilang apa soal Kamis.
61Please respect copyright.PENANApJcv1sHD83
Aku memegang kemudi lebih erat, sampai buku-buku jariku memucat, dan merasakan seluruh tubuhku condong ke arah kalimat yang terpotong itu, condong seperti tanaman ke jendela, sementara mulutku tetap tertutup karena janji. Janji itu tidak melarangku mendengar. Janji itu hanya melarangku meminta. Dan di jarak antara mendengar dan meminta itulah, aku menyadari dengan rasa ngeri yang tenang, aku akan tinggal mulai sekarang, seperti orang yang menyewa kamar sempit di antara dua rumah dan menyebutnya tempat tinggal.
61Please respect copyright.PENANAPfcpDICIgP
Lima kilometer berlalu tanpa suara selain radio yang kecil dan desis AC.
61Please respect copyright.PENANAl5TtmyuRMm
"Belok kiri habis ini ya..," kata Sinta.
61Please respect copyright.PENANAqiSTqSsfid
"Iya..."
61Please respect copyright.PENANA3mQeZSsMGZ
"Jangan kebablasan! Kemaren Riko kebablasan, muter lagi lima belas menit jadinya.."
61Please respect copyright.PENANA9pHBUjJcmN
"Iya, Sayanggg."
61Please respect copyright.PENANASp3cJUKQEu
Kata sayang keluar dari mulutku seperti Biasanya, ia mendengarnya, dan pundaknya menegang sedetik. Aku tidak tahu apakah tegang itu karena benci atau karena sesuatu yang lebih menyakitkan dari benci: rindu yang tidak mau ia akui.
61Please respect copyright.PENANA9ajFEd99Bh
Gedung distributor itu ternyata lebih kecil daripada yang kubayangkan selama dua minggu terakhir.
61Please respect copyright.PENANAMo9oAoDUMz

Gudangnya di belakang, panjang.
61Please respect copyright.PENANAz4hcCHUjZz
kantor depannya berlantai tiga, bercat putih yang sudah kekuningan, dengan lobi berdinding kaca yang memantulkan langit kelabu sehingga dari parkiran aku tidak bisa melihat ke dalam, hanya awan dan mobil kami sendiri yang terpantul kecil di sana seperti tamu yang tak diundang.
61Please respect copyright.PENANAg4CAlNPK0U
Aku memarkir di ujung, di bawah pohon ketapang yang daunnya merah separuh.
61Please respect copyright.PENANAgjc0SDOaXh
Sinta melepas sabuk pengaman. Ia memeriksa wajahnya di cermin kecil di balik penahan sinar matahari, menyapukan ujung jari di bawah mata, membetulkan sesuatu yang tidak perlu dibetulkan. Aku memperhatikan gerakan itu. Aku tidak pernah memperhatikan gerakan itu ketika ia berangkat dari rumah.
61Please respect copyright.PENANADcBT0Ce07E
"Jemput sekalian ya. Paling dua jam, Mas."
61Please respect copyright.PENANAfNYRyzPlG7
"Aku tunggu aja disini..."
61Please respect copyright.PENANAvpUgnX2kVS
Ia menoleh. Matanya menatapku sekejap lebih lama daripada yang perlu, mungkin menimbang apakah lelaki yang rela menunggu dua jam di parkiran distributor adalah suami yang setia atau sesuatu yang lain sama sekali.
61Please respect copyright.PENANAuz8FlCWzVi
"Dua jam lho, Mas. Kamu gak bosen..??"
61Please respect copyright.PENANAsbFfXL1Ql3
"Gapapa. Aku bawa laptop ini.."
61Please respect copyright.PENANAdJMX3GF3Xo
Aku tidak membawa laptop. Ia tahu aku tidak membawa laptop; ia melihat jok belakang yang kosong. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia menutup pintu dan berjalan ke lobi dengan langkah kerja yang cepat, sepatu hak rendahnya berbunyi di aspal, tak… tak… tak…, bunyi yang tiga hari ini tidak pernah kudengar di rumah, dan bunyi itu terdengar seperti bahasa yang ia gunakan hanya di luar, bahasa yang tak pernah lagi ia pakai untukku.
61Please respect copyright.PENANAUByCEnDS3L
Aku mematikan mesin. Aku membuka jendela sedikit. Aku menunggu.
61Please respect copyright.PENANAqu3EiItqmw
Dua jam di parkiran ternyata lebih panjang daripada dua belas jam di kamar kedua, sebab di kamar kedua aku punya tiket dan bug untuk berpura-pura sibuk, sedangkan di sini aku hanya punya pintu kaca, langit yang terpantul, dan kepalaku sendiri yang, tanpa kusuruh, mulai menyusun ruang meeting di lantai atas dengan ketelitian seorang arsitek: meja panjang, delapan kursi, satu kursi yang dipilih persis di sebelah istriku, siku yang bersentuhan setiap kali ada yang menulis.
61Please respect copyright.PENANAeeYeMLcTvD
Seorang satpam keluar dari pos, merokok, melirik mobilku, lalu masuk lagi. Truk boks datang dan pergi. Seorang perempuan berseragam cleaning service menyapu daun ketapang di trotoar dengan sapu lidi, srek… srek… srek…, dan aku teringat bunyi yang sama dari dapurku sendiri malam itu, malam pertama, ketika aku mencuci piring terlalu lama sambil mengulang kalimat orang lain di kepala.
61Please respect copyright.PENANAxQCGRaZPln
Aku memeriksa HP. Tidak ada apa-apa. Aku membuka kalender dan menemukan pengingat yang kupasang sendiri minggu lalu: Konfirmasi meja pojok resto. Sebelas minggu lagi. Aku menatap angka itu seperti orang menatap jam di ruang tunggu dokter gigi, lalu menutupnya seperti orang menutup tirai di kamar orang sakit.
61Please respect copyright.PENANA6AJVySvChV
Pukul sebelas aku membuka chat dengan Sinta. Kursor berkedip. Aku mengetik udah selesai?, lalu menghapusnya, sebab pertanyaan itu bukan pertanyaan, melainkan permintaan yang menyamar. Aku mengetik aku beli minum ya, lalu menghapusnya juga, sebab aku tidak berniat beranjak dari sini. Aku menutup chat dan menatap pintu kaca, dan pintu kaca menatapku balik dengan wajah awan.
61Please respect copyright.PENANAG7USLpiMTc
Pukul 11.40 aku menyadari aku tidak berkedip cukup lama sampai mataku perih, perih yang sama dengan perih dua belas jam di depan layar. Dan aku menyadari bahwa ini memang layar. Pintu kaca itu adalah layar, dan aku adalah penonton yang membeli tiket untuk pertunjukan yang tidak boleh ia masuki.
61Please respect copyright.PENANA10V5HT2yCy
Pukul 12.04 pintu kaca itu terbuka.
61Please respect copyright.PENANACRyb0hkNkx
Sinta keluar lebih dulu, map di dada. Di belakangnya, setengah langkah, seorang laki-laki berkemeja terang yang lengannya digulung sampai siku. Dari tempatku, kira-kira empat puluh meter, wajahnya tidak lebih dari bidang pucat tanpa fitur, sebuah siluet yang bisa saja milik siapa pun: kurir, staf, atau Mas Dedi yang sering Sinta sebut sibuk dengan laptop mungkin. Tetapi aku tahu. Aku tahu sebagaimana orang yang sudah lama menunggu kereta tahu bahwa lampu di ujung terowongan itu adalah keretanya, bukan dari bentuknya, tapi dari betapa lamanya ia telah menunggu.
61Please respect copyright.PENANAgL5dwUyJ4J
Laki-laki itu mengantar Sinta sampai ke pintu kaca yang kedua, pintu luar.
61Please respect copyright.PENANAD8YAyAQeHH
Dan tangannya, tangan kanannya, berada di punggung istriku.
61Please respect copyright.PENANAWrY0WeW2PH
Tidak di pinggang. Di punggung, di antara tulang belikat, dengan telapak terbuka, seperti tangan yang membimbing tamu melewati lantai yang baru dipel. Tangan itu tinggal di sana selama dua, tiga langkah, lalu terlepas tepat sebelum pintu terbuka, terlepas dengan ketepatan yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan, seakan pemiliknya tahu persis di titik mana pandangan dari luar mulai bisa menembus pantulan kaca.
61Please respect copyright.PENANAO9ioE7g52r
Sinta melangkah keluar. Laki-laki itu tetap di dalam, di balik kaca yang kembali menjadi cermin, dan lenyap ke dalam pantulan awan seperti ikan yang kembali ke air keruh.
61Please respect copyright.PENANAKqKd8OHzuQ
DEG.
61Please respect copyright.PENANABdIpJOtvtu
Aku tidak keluar dari mobil. Aku tidak membunyikan klakson. Aku duduk dengan kedua tangan di kemudi dan merasakan sesuatu yang tidak bisa kunamai bergerak dari perut ke dada lalu ke wajah, panas dan berat, yang separuhnya adalah amarah seorang suami dan separuhnya lagi, separuh yang lebih jujur dan lebih kotor, adalah debar seorang penonton yang akhirnya, setelah dua minggu mendengarkan sandiwara radio, diberi sedetik gambar.
61Please respect copyright.PENANAq4BQAv4wln
Sinta berjalan ke arah mobil. Aku melihatnya mencari mobil itu di antara deretan, lalu menemukannya di bawah ketapang, lalu berhenti sesaat, seakan baru teringat bahwa dari tempat ini, dengan sudut ini, aku bisa saja melihat pintu kaca itu.
61Please respect copyright.PENANAeV6BErwyq7
Ia masuk. Ia memasang sabuk.
61Please respect copyright.PENANAYdG29mFiLX
Klik.
61Please respect copyright.PENANA0BEUIaWpXk
"Lama ya..??" tanyanya.
61Please respect copyright.PENANAp4DyFPCNpz
"Enggak..."
61Please respect copyright.PENANAQRRP3kbzzn
"Kamu beneran nungguin di sini dua jam..??"
61Please respect copyright.PENANAbCF6xeBgdp
"Ya iya sayang.."
61Please respect copyright.PENANA5KoFcEYA9Q
"Gak beli minum..? Gak ke mana-mana..?"
61Please respect copyright.PENANAF16aMYJnw6
"Enggak."
61Please respect copyright.PENANA2LaTCj5bfS
Ia menatapku. Aku menatap jalan. Di antara kami, tak terucap, berdiri satu tangan di punggung yang kami berdua tahu telah kulihat, dan yang tak seorang pun dari kami sanggup sebutkan: ia karena janji yang ia minta, aku karena janji yang kuberikan. Dua orang dewasa, terkunci di dalam mobil keluarga yang berdebu, masing-masing memegang satu ujung tali yang sama dan sama-sama berpura-pura tali itu tidak ada.
61Please respect copyright.PENANA5IZ4kM0Eeg
Aku menyalakan mesin. Mesin batuk dua kali.
61Please respect copyright.PENANAOZD94a8G9o
Brrmm…
61Please respect copyright.PENANANJO45guZXA
"Mobilnya harus diservis tuh, Mas."
61Please respect copyright.PENANAuzMgRDilFd
"Iya."
61Please respect copyright.PENANAll1k2nGWbG
"Kamu iya iya terus."
61Please respect copyright.PENANAFaa85Q5uMG
"Ya emang iya."
61Please respect copyright.PENANA7LJbxAGLix
Ia mendengus, hampir tertawa, lalu menahannya, dan kehampiran tawa itu menusukku lebih dalam daripada tangan di punggung tadi.
61Please respect copyright.PENANAoZOA8J5qE4
Di gerbang tol, tanpa kutanya, ia berkata:
61Please respect copyright.PENANA2gvKvdG8Gf
"Dia belum nikah, makanya jam segini masih kerja terus. Gak ada yang nungguin di rumah."
61Please respect copyright.PENANAjpoXgYEAza
Ia mengucapkannya seperti fakta logistik, seperti menyebut jadwal pengiriman, sambil memandang ke luar jendela, tetapi aku mendengarnya sebagai sesuatu yang lain sama sekali: sebagai informasi yang diberikan dengan sukarela, informasi yang tidak kuminta dan karena itu tidak melanggar janji siapa pun, dan yang ia letakkan di pangkuanku seperti orang meletakkan sepotong roti di depan seekor kucing liar untuk melihat apakah kucing itu akan memakannya.
61Please respect copyright.PENANANBvtcjen9y
"Oh," kataku.
61Please respect copyright.PENANA1mv2zN47xp
"Umurnya dua sembilan katanya. Mas Dedi yang bilang."
61Please respect copyright.PENANAoHwhtBAY3m
"Oh."
61Please respect copyright.PENANAZukLoNGPa4
"Ihh, Masss! Jawab yang benerr...."
61Please respect copyright.PENANAsuPcymekwv
Aku tidak menjawab. Aku sudah memakan roti itu. Aku sudah menelannya sebelum ia selesai berbicara, dan rasanya, entah bagaimana, persis seperti rasa yang kucari selama tiga hari: rasa diberi cerita tanpa harus memintanya.
61Please respect copyright.PENANAd4pwnxHNVU
Sisa perjalanan diisi radio. Di rumah ia langsung mandi, dan aku duduk di ruang tengah di bawah foto pernikahan yang miring, mendengarkan air, menghitung menit, menyadari bahwa aku sedang menghitung menit, dan berhenti menghitung, dan mulai lagi.
61Please respect copyright.PENANAnbRtM9wFVB
Malam itu Sinta tidur memunggungiku sejak pukul sepuluh, napasnya cepat turun, layaknya orang yang lelah oleh hal-hal yang tak ia ceritakan.
61Please respect copyright.PENANAuBMhoLnlPm

61Please respect copyright.PENANA8e7ROz6mFL
Aku berbaring lama di bawah rembesan cokelat di plafon, menatap peta pulau yang tak pernah ada, dan berusaha memikirkan hal lain: deploy besok, tagihan listrik yang jatuh tempo Jumat, ibu Sinta yang belum kutelepon sejak Lebaran. Tetapi setiap kali pikiranku berbelok, ia kembali ke tempat yang sama, seperti mobil yang terus tersesat ke jalan buntu yang sama: pintu kaca, telapak tangan terbuka di antara tulang belikat, dan pelepasan yang terlalu rapi.
61Please respect copyright.PENANA0R1lZhqRNJ
Pukul dua belas lewat aku bangun, pelan, mengangkat selimut seperti orang mengangkat perban dari luka yang belum kering, dan berjalan ke kamar kedua.
61Please respect copyright.PENANAnrXb9scdGw
Krekk…
61Please respect copyright.PENANA1VOXO9gCTh
Pintu kamar kedua selalu berbunyi pada engsel atasnya. Aku berhenti di ambang, menahan napas, mendengarkan. Dari kamar depan tidak ada suara apa pun. Aku masuk dan menutup pintu tanpa mengunci, sebab mengunci terasa terlalu seperti pengakuan.
61Please respect copyright.PENANANhuJKZbgui
Aku tidak menyalakan lampu. Hanya laptop, yang layarnya menebarkan cahaya biru pucat ke dinding dan ke wajahku dan membuat kamar itu tampak seperti akuarium yang airnya sudah lama tidak diganti. Aku duduk di kursi kerjaku, di antara bungkus nasi goreng dan cangkir kopi yang belum dicuci, dan membiarkan kepalaku memutar apa yang sejak Sabtu ia simpan seperti rekaman yang tak bisa dihapus: suara Sinta di ranjang kami, menirukan dirinya sendiri di lobi itu, "Makasih, Pakk…", dengan huruf terakhir yang dipanjangkan, sedikit, cukup, manja.
61Please respect copyright.PENANAnhS93YNKlA
Minggu lalu aku pernah ke kamar ini tengah malam dan pikiranku melewatkannya, menyamarkannya, membiarkannya menjadi pintu yang tertutup. Malam ini aku tidak melewatkannya. Aku tahu persis apa yang kulakukan, dan aku melakukannya dengan mata terbuka, dengan siluet empat puluh meter itu di kepalaku dan suara istriku yang mengucapkan terima kasih kepada laki-laki lain, dan aku tidak berhenti, dan seluruh harga diriku duduk di pojok kamar seperti tamu yang dipaksa menyaksikan.
61Please respect copyright.PENANAUxVmH9T6kU
Kamar kedua gelap kecuali lampu siaga laptop yang hijau kecil, berkedip setiap dua detik macam orang yang menunggu jawaban. Aku menutup pintu tanpa bunyi, lalu menguncinya, dan bunyi kunci itu terasa lebih keras dari yang seharusnya, bunyi seseorang yang mengaku bersalah sebelum ditanya.
61Please respect copyright.PENANAEsIzL5cnKI
Aku duduk di kursi kerja. Celana pendek kuturunkan sampai lutut.
61Please respect copyright.PENANA0hg1L2NmNa
Minggu lalu aku melewatinya; aku melakukannya cepat, dengan mata terpejam, seperti menelan obat pahit. Malam ini aku tidak memejamkan mata. Aku menatap layar laptop yang gelap dan melihat wajahku sendiri di sana, samar, dan aku membiarkan wajah itu menonton.
61Please respect copyright.PENANA44tcmouGPN
Aku memulai dari siluet. Empat puluh meter. Kemeja terang, lengan digulung. Telapak tangan di punggung istriku, di antara tulang belikat, di tempat yang biasa kupakai untuk mendorongnya pelan masuk ke lift mal. Tanganku menggenggam kontolku sendiri dan mulai mengocok pelan. aku sudah tegang sejak pintu kukunci, ujungnya sudah basah oleh cairan bening yang membuatku jijik pada betapa cepatnya.
61Please respect copyright.PENANAGvoJszjs3V
Lalu bagian yang paling menyiksa: tangan itu lepas tepat sebelum pintu kaca. Terlalu rapi. Rapi seperti orang yang sudah tahu persis di mana kamera dan di mana mata orang lain. Rapi layaknya orang yang sudah melakukannya lebih dari sekali.
61Please respect copyright.PENANA0hjAjQkc7q
Dia belum nikah, Mas. Gak ada yang nungguin di rumah.
61Please respect copyright.PENANAauTrnhWKRR
Suara Sinta, dari mobil siang tadi, masuk tanpa izin. Tanganku makin cepat.
61Please respect copyright.PENANAVmvpssy7gm
CLOKK… CLOKK… CLOKK…
61Please respect copyright.PENANAZFrAcr8SWU
Bunyi kocokan basah itu terdengar terlalu keras di kamar sekecil ini. Aku membayangkan tangan laki-laki itu turun dari punggung ke pinggang, ke bokong istriku, meremasnya di lift, di mobil, di kamar yang belum pernah kulihat. Aku membayangkan Sinta membungkuk di depannya, rok span tersingkap, dan kontol orang asing masuk ke memek yang tiga tahun ini kukira hanya milikku. Aku membayangkan apartemen laki-laki itu, kosong, rapi, tak ada yang menunggunya, sehingga ia bisa pulang jam berapa pun, sehingga istriku bisa pulang jam berapa pun bersamanya.
61Please respect copyright.PENANAHKPSLkbBx0
Lalu rekaman itu. Rekaman yang kuputar sendiri di kepala sejak Sabtu, suara Sinta yang dipanjangkan di telingaku di atas kasur:
61Please respect copyright.PENANAkWWGX5o17U
"Makasih… Pakk…"
61Please respect copyright.PENANAYYItpr7BVz
Aku mengerang tertahan, menggigit bibir. Kursi kerja berderit pelan.
61Please respect copyright.PENANA934s7H1Kqa
Krekk… krekk…
61Please respect copyright.PENANAp9KGl8AER6
Aku tahu apa yang sedang kulakukan. Aku tahu istriku tidur membelakangi pintu di kamar sebelah, tiga meter dari sini, dengan HP kerja telungkup di nakas. Aku tahu laki-laki yang kubayangkan sedang menyentuh punggungnya adalah orang yang sama yang besok mungkin menyentuhnya lagi. Aku tahu semua itu, dan tanganku tidak berhenti. Harga diriku duduk di pojok kamar, di atas tumpukan kardus monitor bekas, menonton dengan tangan terlipat, dan aku tidak mengusirnya. Biar ia lihat.
61Please respect copyright.PENANAevaHCAwOEc
"Ahh…"
61Please respect copyright.PENANAl8rK7cO8XB
Aku menarik tisu dari kotak di meja dengan tangan kiri, dua lembar, tiga, tergesa, dan sampai dengan punggung melengkung dan dahi hampir menyentuh pinggir meja; pejuku muncrat ke tisu yang tipis itu sampai tembus dan membasahi jariku, berdenyut, lama, lebih lama dari yang pernah kualami dengan istriku sendiri dalam setahun terakhir.
61Please respect copyright.PENANAavrnYn7GEU
Lampu siaga laptop berkedip. Hijau. Gelap. Hijau.
61Please respect copyright.PENANAqyagJsgvzw
Sesudahnya hanya ada tisu, kursi yang berderit, dan dengung kipas laptop yang tidak peduli.
61Please respect copyright.PENANA74aMJqgc5C
Dan jijik.
61Please respect copyright.PENANABuhwpYS3jX
Jijik itu tidak datang seperti gelombang; ia datang seperti air banjir yang naik pelan-pelan di dalam rumah, dari mata kaki ke lutut ke dada, dingin dan sabar, sampai aku duduk terendam di dalamnya dan menyadari bahwa aku tidak akan tenggelam, bahwa aku akan tetap bernapas, bahwa besok malam pun aku barangkali akan kembali ke kamar ini, dan kesadaran bahwa jijik tidak cukup untuk menghentikan apa pun itulah yang paling menggerogotiku. Aku membuang tisu itu ke tempat sampah di bawah meja, menutupinya dengan bungkus nasi goreng, seperti orang mengubur sesuatu di halaman sendiri dan menanam bunga di atasnya.
61Please respect copyright.PENANAup05JnvxIs
Di layar laptop, di tab yang tak kututup sejak Selasa, masih terbuka thread forum itu, dan kalimat orang asing itu masih di sana, berbahasa Inggris, sabar: it never stops, it only gets quieter.
61Please respect copyright.PENANAAL5HWACHWr
Aku menutup tab itu. Lalu membukanya lagi, menggulir ke bawah, membaca balasan-balasan yang belum pernah kubaca: seseorang dari Ohio yang menulis bahwa istrinya kini tidur dengan cowok lain, seseorang yang lain yang menulis bahwa ia dan istrinya happier than ever, dengan tiga tanda seru, dan aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan bagiku, yang pertama atau yang kedua.
61Please respect copyright.PENANA32kurnjRUU
Aku kembali ke kamar depan pukul satu lewat. Sinta masih memunggungi. Napasnya terlalu teratur.
61Please respect copyright.PENANA3dwUFDr8GV
Aku tidak tahu apakah ia mendengar kursi berderit, atau engsel atas pintu kamar kedua. Aku tahu ia pernah mendengar sebelumnya, dan memilih untuk tidak mendengar, dan malam itu, berbaring di sebelah punggungnya, aku berharap dengan sangat ia memilih hal yang sama, sementara bagian lain dariku, bagian yang tak pernah tidur, berharap ia tidak.
61Please respect copyright.PENANAbWkX37z5Ii
Kamis lewat seperti angka di kalender yang dicoret tanpa dibaca.
61Please respect copyright.PENANAo6tMJEBAzK
Aku bekerja. Aku sungguh bekerja; aku menutup empat tiket dan memperbaiki satu bug yang sudah dua minggu dibiarkan oleh tim lain, dan atasanku menulis mantap, Bim di grup, dan aku menatap dua kata itu lama, menyadari bahwa itu adalah pujian pertama yang kuterima dalam sebulan, dan bahwa aku tidak merasakan apa-apa. Pukul satu siang Sinta mengirim chat, satu-satunya hari itu:
61Please respect copyright.PENANA8TO3Cum9sk
Mas, galon abisss. Pesen yaa.
61Please respect copyright.PENANAHrsbDDY556
Aku membalas iyaa dalam empat detik. Lalu menatap chat itu, menunggu titik-titik yang menandakan ia sedang mengetik sesuatu yang lain. Titik-titik itu tidak muncul. Tukang galon datang pukul tiga, satu-satunya manusia yang kuajak bicara dengan suara hari itu, dan ia bertanya, "Ibu belum pulang, Pak..?", dan aku menjawab "Belum Bang, masih kerja," dan setelah ia pergi aku berdiri lama di ambang pintu, menyadari bahwa bahkan tukang galon pun sudah hafal bahwa di rumah ini yang pergi adalah istrinya, dan yang menunggu adalah aku.
61Please respect copyright.PENANAgPxms2Tmzm
Jumat Sinta tidak pulang pukul delapan.
61Please respect copyright.PENANAbRFiAXv7gS
Pukul delapan aku sudah di teras dengan kopi sachet. Tetangga sebelah, Bu Ratna, sedang menyiram tanaman di pot-pot semennya dengan selang yang bocor di sambungan.
61Please respect copyright.PENANALYWrqhWJyy
"Nunggu Mbak Sinta, Mas..?"
61Please respect copyright.PENANAwn945wprBq
"Ohh Iya, Bu."
61Please respect copyright.PENANA0VejVOUKpl
"Lembur terus ya sekarang. Hebat lho, SPV. Anak saya aja masih staf." Ia mematikan keran. "Mas Bimo enak, kerja di rumah. Bisa jagain rumah ya, Mas."
61Please respect copyright.PENANAFggEFFtEOX
"Hehe… iya, Bu."
61Please respect copyright.PENANAH00pgieoCB
Bisa jagain rumah. Aku mengulang kalimat itu di kepala setelah Bu Ratna masuk, dan mendengar di dalamnya, entah benar entah tidak, nada kasihan yang biasa dipakai tetangga untuk anjing yang setia.
61Please respect copyright.PENANAZ0oVdxipNb
Pukul setengah sembilan aku mengirim chat:
61Please respect copyright.PENANAH9gU7qWD9F
udah di jalan yangg?
61Please respect copyright.PENANArE1F68azzA
Centangnya tetap abu-abu. Satu centang.
61Please respect copyright.PENANA1aPoL6yFNn
Pukul sembilan kurang sepuluh aku berdiri, berjalan sampai pagar, kembali ke kursi, tangan di saku celana pendek, dan menyadari bahwa dalam tiga tahun pernikahan, Sinta belum pernah pulang selarut ini tanpa memberi kabar, dan bahwa aku tidak tahu apakah yang kurasakan adalah kecemasan seorang suami atau ketegangan seorang penonton di detik-detik sebelum layar menyala. Aku menelepon. Nada sambung berbunyi lima kali, lalu suara perempuan rekaman yang sopan dan tak peduli.
61Please respect copyright.PENANAUN3Sy9eQrc
Tuuut… tuuut…
61Please respect copyright.PENANAdkJT56cdVB
Pukul 21.00 lampu mobil operasional menyapu pagar tetangga. Riko sudah sembuh rupanya; ia menurunkan Sinta di depan pagar dan langsung pergi, tanpa masuk carport, tanpa lampu sein yang lupa dimatikan, seakan ia pun tidak ingin berlama-lama di depan rumah ini.
61Please respect copyright.PENANAPzpNuL8wCy
Sinta berjalan ke teras dengan HP kerja menempel di telinga.
61Please respect copyright.PENANAdCpfngOaGL
Ia sedang tertawa.
61Please respect copyright.PENANAqFwoWAgC4D
Bukan tawa jijik yang ia pakai di meja makan dua minggu lalu, tawa yang artinya liat kan, nyebelin kan. Bukan pula tawa capek, atau tawa yang ia berikan kepadaku Sabtu itu, tawa pendek yang menular di bawah lampu kuning. Ini tawa lain, tawa yang ringan dan agak tinggi, yang naik di ujungnya seperti tangan yang terangkat untuk menutup mulut, tawa kerja yang sudah lupa bahwa ia sedang bekerja.
61Please respect copyright.PENANAwrB3OYKYOu
"Iya, Pak, hahahah… iyaa, iyaa, besok saya kirim. Ya ampunn Bapak nihh…"
61Please respect copyright.PENANA8WeaSH5uQK
Lalu ia melihatku.
61Please respect copyright.PENANAfy9RVDmERW
Tawa itu tidak berhenti seperti mesin yang dimatikan; ia mati seperti lampu yang kehabisan daya, meredup dalam sekejap, dan di tempatnya muncul wajah yang kukenal tiga hari terakhir, wajah replika yang rapi dan teliti.
61Please respect copyright.PENANAmHBZasD93i
"Iya, Pak. Selamat malam," katanya ke telepon, dengan suara yang sudah sepenuhnya suara kantor, dan memutuskan sambungan.
61Please respect copyright.PENANAqvOqNYMtrz
TUTT.
Ia melepas sepatunya dengan dua jari. Tanpa bunyi.
61Please respect copyright.PENANAubCkLugVVz
"Lembur," katanya. "Laporan bulanan."
61Please respect copyright.PENANAatdhdFyPkI
"Aku chat kamu tau..."
61Please respect copyright.PENANA3csujPJFBl
"HP pribadiku lowbat, Mas."
61Please respect copyright.PENANALuSE6gbY22
"Oala.. Aku telpon juga tadi."
61Please respect copyright.PENANADHyxTQr28s
"Kan aku bilang lowbat, Mass." Ia mengangkat HP kerja yang menyala terang di tangannya, lalu menyadari apa yang ia angkat, lalu menurunkannya pelan. "Yang ini kan buat kerja."
61Please respect copyright.PENANAWmFzbHcEpb
"Iyaaa."
61Please respect copyright.PENANAdJx2MWwuvr
Ia masuk. Aku duduk di teras dengan kopi yang sudah dingin, menatap dua sepatu hak rendah yang berdiri berdampingan dengan kesopanan yang kejam, dan mendengarkan, dari dalam rumah, suara shower yang mulai mengalir.
61Please respect copyright.PENANAaqL9Z7fgLU
Sshhhh…
61Please respect copyright.PENANAHzJn6Ayfri
Aku tahu kalimat itu belum boleh kutanyakan. Aku tahu janji itu masih berlaku, masih menjadi satu-satunya benda yang membuat rumah ini tetap berdiri seperti replika. Tetapi tidak ada janji yang bisa melarang seseorang mendengar, dan yang kudengar malam itu, di teras, dengan talang yang kering dan Bu Ratna yang pasti juga mendengar dari balik jendelanya, akan tinggal di kepalaku lebih lama daripada kalimat mana pun yang pernah diceritakan kepadaku dengan sukarela:
61Please respect copyright.PENANA0VMy8IhMgl
Sinta pulang jam sembilan malam, dengan tawa yang bukan untukku.
ns216.73.216.105da2


