Detik-detik itu memanjang. Napas Kirana mengenai daguku. Matanya turun ke mulutku, lalu kembali. Ada pertanyaan di sana yang tidak ia ucapkan.
504Please respect copyright.PENANAeIL3qQLtxX
Lalu ia menarik tangan, tersenyum kecil yang tidak sampai ke mata, dan berbalik.
504Please respect copyright.PENANAFsYCszax2Z
“Tidurlah. Besok Minggu. Aku masak nasi liwet.”
504Please respect copyright.PENANAop7TEh06fx
Ia pergi menaiki tangga. Aku mendengar pintu kamarnya tertutup pelan.
504Please respect copyright.PENANAZCG9oYeZew
Aku berdiri di dapur sampai air di gelas tidak lagi dingin.
504Please respect copyright.PENANAFThnEIL8x6
Di atas, di balik pintu yang tertutup, ada perempuan yang baru saja menempatkan jarinya di dadaku dan berbicara seolah batas antara kami hanyalah kebiasaan, bukan sumpah.
504Please respect copyright.PENANAuV7cl0pvT1
Aku naik ke kamarku. Lampu kubiarkan menyala. Aku berbaring menatap plafon, tubuh masih mengingat tekanan jari Kirana, masih mengingat bentuk payudaranya di cahaya kulkas, masih mengingat desahan ketika bahunya kupijat.
504Please respect copyright.PENANAHjBLYKBxyj
Farhan akan pulang dalam dua bulan lebih.
504Please respect copyright.PENANARlGuQDEsMU
Dua bulan.
504Please respect copyright.PENANA0uEo38oye8
Rumah ini terlalu sepi untuk dua orang yang mulai saling melihat terlalu lama.
504Please respect copyright.PENANAkvB08ooVVL
Aku memejamkan mata.
504Please respect copyright.PENANAaUuWoKXupM
Di balik kelopak, yang muncul bukan wajah kakakku. Yang muncul adalah Kirana di dapur, kaus tipis, napas yang tidak tenang, dan pertanyaan yang tidak ia selesaikan.
504Please respect copyright.PENANA4nG2ow34Ce
Apakah aku takut padanya?
504Please respect copyright.PENANALMSYHoN4a2
Bukan.
504Please respect copyright.PENANAZHM4pBQXHc
Yang kutakuti adalah betapa mudahnya aku menjawab tidak, dan betapa tubuhku sudah menjawab jauh sebelum mulutku sempat berbohong.
504Please respect copyright.PENANAocPRpW2Ze1
---
504Please respect copyright.PENANA61loSW63uF
Aku tidak tidur.
504Please respect copyright.PENANAIiNP5uoGHE
Lampu kamarku masih menyala ketika aku mendengar langkah di lorong. Pelan. Barefoot. Berhenti tepat di depan pintu. Aku duduk di tepi ranjang, kaus masih basah di punggung oleh keringat yang tidak berasal dari panas, napas tersusun terlalu rapat di dada.
504Please respect copyright.PENANA1onAxhrwhJ
Ketukan itu hampir tidak terdengar.
504Please respect copyright.PENANAhuO3sJU2pv
Aku membuka pintu.
504Please respect copyright.PENANAOnSWLXN5Iq
Kirana berdiri di ambang dengan kaus tidur abu-abu yang sama, helai rambut jatuh di pipi, bibir tanpa warna tapi basah seolah baru ia jilat. Matanya tidak menghindar. Di cahaya lorong yang redup, dada naik-turun lebih cepat daripada orang yang hanya haus di tengah malam.
504Please respect copyright.PENANAlXydBTfi7Z
“Aku tidak bisa tidur,” katanya, suara rendah hampir pecah di ujung. “Dan aku tahu kamu juga tidak.”
504Please respect copyright.PENANAOxSVCkuJrT
Aku tidak menyingkir. Ia masuk. Pintu kututup tanpa berbunyi. Ruang kamarku tiba-tiba terasa terlalu kecil untuk dua tubuh yang sudah terlalu lama menahan.
504Please respect copyright.PENANABuwwiDIUPE
Kirana berdiri di tengah, jari-jarinya menggenggam ujung kausnya sendiri. “Kalau aku salah… suruh aku keluar sekarang, Naufal.”
504Please respect copyright.PENANA7KXpekdk0x
Aku tidak menyuruhnya keluar.
504Please respect copyright.PENANA7n6YrhG9O4
Aku melangkah mendekat sampai ujung kaus kami hampir bersentuhan. Wangi kulitnya masuk ke paru-paru, hangat, sedikit asin oleh keringat tipis di lekuk leher. Tanganku naik, ragu di udara, lalu menempel di pinggangnya. Kain tipis itu tidak menyembunyikan apa pun. Lekuknya pas di telapakku, hangat, hidup, berdenyut pelan bersama napasnya.
504Please respect copyright.PENANADK1PeTTNvo
Kirana mengangkat wajah. “Farhan…”
504Please respect copyright.PENANAhQvCdFGK8h
“Jangan sebut namanya sekarang,” bisikku, dan kalimat itu keluar lebih kasar daripada yang kurencanakan.
504Please respect copyright.PENANA84lHWJZ8Yt
Ia mengangguk sekali, kecil, seperti orang yang melepaskan tali terakhir.
504Please respect copyright.PENANA5jxX6QAi4h
Ciuman pertama tidak lembut.
504Please respect copyright.PENANAO250FxYQrZ
Bibirnya menemu bibirku dengan lapar yang sudah menumpuk berhari-hari. Aku menekan balik, tangan di pinggang menariknya sampai dada kami bertemu. Payudaranya menekan dadaku, empuk, berat, putingnya sudah mengeras di balik kain dan aku merasakannya jelas. Lidahnya masuk lebih dulu, basah, mencari, menghisap bibir bawahku sampai aku menggeram ke dalam mulutnya. Kirana menjawab dengan desahan yang patah, jari-jarinya naik ke tengkukku, menarik rambut, menahan kepalaku agar tidak mundur.
504Please respect copyright.PENANAPRDIDgH76O
Kami mundur bersama ke arah ranjang tanpa melepaskan mulut. Betisnya mengenai tepi kasur. Ia jatuh duduk, menarikku ikut. Aku berlutut di antara kedua kakinya yang terbuka. Kaus tidurnya naik sampai pangkal paha. Kulit dalamnya putih, halus, hangat ketika jariku menelusuri dari lutut ke atas, pelan, merasakan getar otot setiap sentuhan.
504Please respect copyright.PENANAIXT9xNgw08
“Naufal…” namaku diembuskan di sela ciuman, basah. “Jangan pelan-pelan kalau kamu sudah tidak tahan.”
504Please respect copyright.PENANAypLoxVL1rq
Aku mencium rahangnya, turun ke leher, menggigit pelan di tempat nadi berdenyut. Kirana mendongak, memberikan lebih banyak kulit. Lidahku basah di lekuk tulang selangka, menghisap sampai ia mengerang. Tanganku masuk dari bawah kausnya, menelusuri perut yang rata dan hangat, naik, sampai telapakku memenuhi payudara kirinya.
504Please respect copyright.PENANAL5OGmwCyJ5
Ia menahan napas.
504Please respect copyright.PENANAGoiZEMCyCA
Payudaranya lebih berat daripada yang kulihat dari jauh. Penuh, padat di pangkal, lembut di ujung, putingnya besar dan sudah tegang menekan tengah telapakku. Aku meremas pelan, ibu jari memutar putingnya di atas kain dalam yang tipis. Kirana menggigit bibir, pinggulnya terangkat tanpa sadar, mencari gesekan yang belum kuberikan.
504Please respect copyright.PENANAQgD6mDpK28
Aku angkat kausnya.
504Please respect copyright.PENANAmomCiYP48j
Ia mengangkat tangan, membiarkan kain itu terlepas dari kepalanya. Rambutnya berantakan jatuh ke bahu. Dadanya telanjang di depanku untuk pertama kali.
504Please respect copyright.PENANAsDaW5rwJpi
Aku menatap lama.
504Please respect copyright.PENANAQJcUADlocZ
Payudara Kirana indah dengan cara yang membuat perutku mengencang. Bulat penuh, sedikit berat ke bawah, kulitnya halus tanpa cacat kecuali tahi lalat kecil di sisi kanan dekat rusuk. Areolanya lebar, coklat muda keunguan, putingnya menonjol, mengeras, mengilap oleh keringat tipis. Aku menunduk, tidak langsung mengulum, hanya mengembuskan napas panas ke puncaknya. Kirana menggeliat.
504Please respect copyright.PENANALAucYo1eO4
“Jangan lihat saja,” suaranya pecah. “Mulutmu. Pakai mulutmu.”
504Please respect copyright.PENANA9BN1sUCcH2
Lidahku menyentuh puting kanan. Asin. Hangat. Aku menjilat pelan dulu, memutar, merasakan tekstur kerut areola sebelum bibirku menutup dan menghisap. Kirana menjerit tertahan, tangan mencengkeram belakang kepalaku, menekan wajahku lebih dalam ke dadanya. Aku menghisap lebih kuat, gigi menggeser pelan, lidah menekan-nekan puncak yang sudah basah oleh liurku. Tangan kiriku mengisi payudara satunya, meremas, memilin puting sampai ia menggeliat di bawah.
504Please respect copyright.PENANAcZl90NiyCU
“Ah… Naufal… dalam… hisap yang dalam…”
504Please respect copyright.PENANADiUgB6CQaC
Aku berpindah ke payudara kiri, memberi perhatian yang sama, lebih lama, lebih basah. Air liurku mengalir di celah dadanya. Aku menjilat naik ke leher lagi, kembali ke mulut, menciumnya kotor, saling menggigit bibir, lidah bergulat. Sementara itu jariku turun, masuk ke dalam celana pendek tidurnya, menelusuri perut bawah yang hangat, rambut halus, sampai menyentuh bibir vagina yang sudah basah.
504Please respect copyright.PENANAtRDYQpdnAZ
Kirana menahan napas di mulutku.
504Please respect copyright.PENANAXrUdnKIemD
Basahnya bukan basah biasa. Licin, panas, sudah membuka sendiri. Jari tengahku menyusur celah, dari atas ke bawah, merasakan klitorisnya yang bengkak tersembunyi di lipatan. Ia mengangkat pinggul, menggesekkan dirinya ke jariku.
504Please respect copyright.PENANAAkFYbBktnT
“Di dalam,” pintanya, hampir menangis. “Masukkan. Aku sudah basah dari tadi di dapur.”
504Please respect copyright.PENANAX8TbWPsMu8
Aku mendorong satu jari masuk.
504Please respect copyright.PENANAk43xcISAUg
Dindingnya ketat, hangat, menyedot. Kirana membuka mulut tanpa suara, kening berkerut, paha mengatup di pergelangan tanganku. Aku menggerakkan jari pelan, mencari, sampai menyentuh titik di depan yang membuat tubuhnya tersentak. Jari kedua menyusul. Basahnya terdengar setiap kali aku menarik dan mendorong.
504Please respect copyright.PENANAj3cYzOo7Hp
Aku turun dari mulutnya, mencium di antara payudara, perut, pusar, turun lagi. Celana pendeknya kutarik bersama dalamannya. Kirana mengangkat pinggang membantu. Ia telanjang dari pinggang ke bawah di ranjangku, kaki terbuka, vagina mengilap di cahaya lampu kamar, bibir luar agak tebal, merah muda ke dalam, klitoris menonjol, cairan bening sudah mengalir ke pantat.
504Please respect copyright.PENANAqjcLznUAbh
Aku berlutut di lantai, menarik pinggangnya ke tepi ranjang, meletakkan kedua pahanya di bahuku.
504Please respect copyright.PENANA1ahG4rhc5u
“Naufal, jangan—”
504Please respect copyright.PENANA3NKVUIPCWN
Lidahku menempel.
504Please respect copyright.PENANAt9iJNJObBL
Kirana memekik, tertahan di telapak tangannya sendiri. Aku menjilat dari lubang ke atas, pelan, lebar, meratakan basahnya, lalu memusatkan di klitoris. Aku mengulum puncak kecil itu, menghisap, lidah bergetar. Tanganku tetap di dalam, dua jari bergerak mengikuti irama mulut. Kirana menggeliat, mencoba menutup paha, tapi bahuku menahan. Desahannya pecah-pecah, namaku keluar tanpa bentuk, kadang “dalam”, kadang “jangan berhenti”, kadang hanya suara basah dari tenggorokan.
504Please respect copyright.PENANAbGg9AyjQum
Aku makan dia dengan lapar yang tidak kusisakan. Lidah masuk ke lubang, mengganti jari sesaat, menusuk, menarik keluar cairan yang kutelan. Rasanya asam manis, hangat, kental di pangkal lidah. Aku kembali ke klitoris, menghisap sambil jari menekuk di dalam, menggosok dinding depan. Paha Kirana gemetar. Perutnya mengencang. Ia menarik rambutku sampai sakit.
504Please respect copyright.PENANAhOYOn5YuC1
“Aku… aku mau…”
504Please respect copyright.PENANA8a4HSmw7gh
Aku tidak meredakan. Aku mempercepat, menghisap lebih kuat, jari menekan lebih dalam. Kirana menegang seluruh tubuh, punggung melengkung dari kasur, mulut terbuka dalam jeritan yang ia tahan di bantal yang ia gigit. Vaginanya berdenyut di jariku, basah menyembur ke dagu dan mulutku. Aku tetap di situ, menjilat pelan-pelan melalui orgasmenya, sampai ia mendorong kepalaku karena terlalu sensitif.
504Please respect copyright.PENANAFRXIsSKICw
Aku naik, mencium mulutnya supaya ia merasakan dirinya sendiri. Kirana mengulum lidahku kotor, tangan sudah di pinggang celanaku, menarik turun. Kontolku sudah sakit menekan kain. Ia menatap ketika benda itu terbebas, basah di ujung, tegang penuh.
504Please respect copyright.PENANAY6Wamq9moZ
“Besar,” bisiknya, bukan pujian sopan, lebih seperti pernyataan lapar. “Aku mau di mulut.”
504Please respect copyright.PENANAqQEWMwur7P
Ia mendorong dadaku sampai aku terlentang. Kirana berpindah, rambut jatuh menutupi wajahnya ketika ia menunduk. Lidahnya menyentuh kepala kontolku dulu, menjilat celah, mengulum pelan ujungnya sambil mata menatap ke atas. Aku menggeram. Ia turun lebih dalam, basah, hangat, tenggorokan menahan, liur mengalir ke pangkal. Tangannya memegang yang tidak masuk, memutar, mengocok pelan mengikuti mulut.
504Please respect copyright.PENANAnL6WleH5Ta
Aku menahan kepalanya, tidak memaksa, hanya merasakan. Kirana mengulum dengan cara yang tidak terburu-buru dan justru karena itu gila. Ia menarik sampai hampir lepas, lidah memutar di bawah kepala, lalu turun lagi sampai hidungnya menempel di perutku. Desahan tertahan di tenggorokannya bergetar di batangku.
504Please respect copyright.PENANAAbBKnQmNPe
“Sini,” kataku serak, menariknya naik. “Aku belum selesai di bawah.”
504Please respect copyright.PENANAFjw8DBq20V
Kirana mengerti. Ia memutar tubuh, lutut di sisi kepalaku, vaginanya turun ke mulutku lagi sementara ia kembali mengulum kontolku. Kami makan satu sama lain. Lidahku masuk ke lubangnya yang masih berdenyut sisa orgasme, jariku membuka pantatnya supaya lidah sampai lebih dalam. Di atas, mulut Kirana basah dan berisik, liur, hisapan, desahan yang terhalang batang. Pinggulnya bergoyang di wajahku, menggesek klitoris ke lidah dan hidungku.504Please respect copyright.PENANAHKBG2iTuru


