Aku berdiri di pintu.
569Please respect copyright.PENANA0UdHnvv2OJ
Ia melihatku dari cermin dinding.
569Please respect copyright.PENANASREZuByLZS
“Kamu pulang awal,” katanya, masih dalam posisi meregang. Napasnya belum tenang. Dada naik-turun. “Ada yang kurang di kulkas. Nanti kamu bisa antar aku ke minimarket?”
569Please respect copyright.PENANANQJMWs7ctG
“Bisa.”
569Please respect copyright.PENANAr3Ye2oG3BX
Ia berdiri tegak, mengambil handuk, menyeka leher, lalu dada, gerakan yang terlalu lambat untuk sekadar mengeringkan keringat. “Aku mandi dulu. Sepuluh menit.”
569Please respect copyright.PENANAPlkiN6RiQ4
Sepuluh menit terasa satu jam.
569Please respect copyright.PENANAf4glx6EWTK
Di mobil, Kirana duduk di kursi penumpang memakai kemeja flanel oversize dan celana pendek lagi. Lututnya menghadap ke arahku. Aku mencium wangi sabunnya yang masih basah di rambut.
569Please respect copyright.PENANAXscRQqN0ZA
Di minimarket kami berjalan berdua. Beberapa orang menoleh. Mungkin karena Kirana cantik, atau karena kami terlihat seperti pasangan. Aku merasakan sesuatu yang salah di dada—bukan bangga, bukan malu. Sesuatu yang lebih rumit.
569Please respect copyright.PENANA0WN5ufzRXx
Di kasir, tangan Kirana menyenggol tanganku ketika meraih dompet. “Biarkan aku yang bayar. Farhan transfer uang dapur.”
569Please respect copyright.PENANAhfVXwaSBH7
“Tidak usah.”
569Please respect copyright.PENANA0YPjDHtKdq
“Naufal.” Nada itu lembut, tapi ada perintah halus di dalamnya. “Jangan keras kepala seperti kakakmu.”
569Please respect copyright.PENANARzilcwtINC
Aku mengalah.
569Please respect copyright.PENANAZhsIHZ1Wqc
Dalam perjalanan pulang, Kirana memutar radio pelan. Ia menyanyi ikut. Suaranya bagus. Aku menatap jalan, tapi di sudut mata aku melihat jarinya mengetuk-ngetuk paha sendiri mengikuti irama.
569Please respect copyright.PENANAIULycAooks
“Kamu pernah pacaran?” tanyanya tiba-tiba.
569Please respect copyright.PENANAzVVD87L4Lr
Aku terkejut. “Pernah. Namun udah lama sekali.”
569Please respect copyright.PENANAfGw8sFguTA
“Farhan bilang kamu pilih-pilih.”
569Please respect copyright.PENANAFv3sMo6qIq
“Halah kak farhan banyak bicara itu.”
569Please respect copyright.PENANA4SrgxNWQkV
Kirana tertawa. “Ia sayang kamu. Kadang terlalu sayang sampai ikut campur.” Ia terdiam sejenak. “Aku dulu juga pilih-pilih. Sampai ketemu Farhan.”
569Please respect copyright.PENANAG9lg5tiz6n
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
569Please respect copyright.PENANAb3qe9Ckdcm
“Farhan orang baik,” lanjutnya. “Stabil. Dapat diandalkan. Aku menghargai itu.”
569Please respect copyright.PENANAyKgDGUrxeD
Kata “menghargai” tergantung di udara, tidak jatuh ke “mencintai.”
569Please respect copyright.PENANAFL7pcMOpku
Aku pura-pura tidak mendengar nuansanya.
569Please respect copyright.PENANAeG9AJEmK4p
Malam itu hujan.
569Please respect copyright.PENANAIeBZKVZzbR
Listrik sempat padam lima belas menit. Kami duduk di ruang tamu dengan satu lilin. Cahaya kuning membuat wajah Kirana lebih lembut, lebih berbahaya. Bayangan payudaranya bergerak setiap kali ia bernapas.
569Please respect copyright.PENANAu6HpSiFbKc
“Waktu kecil Farhan selalu melindungi kamu, kan?” tanyanya.
569Please respect copyright.PENANA5GEb7iODjW
“Selalu.”
569Please respect copyright.PENANAl02Z0KBq6v
“Dan sekarang kamu yang diminta melindungiku.”
569Please respect copyright.PENANA14c9oUTnml
“Bukan melindungi. Hanya menemani rumah.”
569Please respect copyright.PENANAjjjTxLco4l
Kirana menoleh. Lilin membuat matanya basah oleh cahaya. “Sama saja.”
569Please respect copyright.PENANAZJ7oBZlSFo
Jarak di sofa hanya satu bantal. Aku merasakan hangat tubuhnya meskipun tidak bersentuhan.
569Please respect copyright.PENANAxeFjZPFROV
Ketika listrik menyala, kami berdua terdiam sejenak seolah cahaya itu memaksa kami kembali ke peran yang benar.
569Please respect copyright.PENANAN5rsrftx8A
---
569Please respect copyright.PENANAITKL233nSb
Hari Jumat, Kirana meminta bantuan yang lebih berbahaya.
569Please respect copyright.PENANAAmVKzcD2Ql
“Bahuku pegal,” katanya setelah makan malam. “Aku salah tidur. Farhan biasanya yang pijat.”
569Please respect copyright.PENANAsyXrIfUtVg
Aku seharusnya menolak.
569Please respect copyright.PENANAvVsMSDYSiB
Namun aku tidak menolak.
569Please respect copyright.PENANAC8Y8X41Rj2
Kirana duduk di lantai, di antara kedua kakiku yang ada di sofa. Punggungnya menghadapku. Ia menurunkan sedikit kerah daster supaya bahunya terbuka.
569Please respect copyright.PENANANas0Th65IV
Tanganku ragu di udara sebelum akhirnya turun.
569Please respect copyright.PENANA3mL7M0B7Uw
Kulitnya hangat. Lebih hangat dari yang kubayangkan. Aku menekan pelan di antara tulang belikat. Kirana menghela napas panjang, kepala tertunduk.
569Please respect copyright.PENANAAvq8skvNfk
“Lebih dalam,” bisiknya.
569Please respect copyright.PENANAZSFSd26Nhu
Aku menekan lebih kuat. Ia mendesah pelan—bukan desahan sakit, sesuatu yang lain. Tubuhnya sedikit maju, lalu kembali. Dari atas aku melihat belahan dadanya ketika daster meregang. Putingnya menekan kain.
569Please respect copyright.PENANA0P9ToRKFGV
Aku memalingkan wajah.
569Please respect copyright.PENANA9v7R95J4kU
“Sini,” katanya, menangkap salah satu tanganku, menuntunnya ke leher. “Sini juga pegal.”
569Please respect copyright.PENANA5wnEldfTZG
Jari-jariku di lehernya. Denyut nadinya terasa di ujung jari. Aku mengusap pelan, ibu jari di belakang telinga. Kirana memiringkan kepala, memberikan lebih banyak kulit.
569Please respect copyright.PENANAT4q32qZpLi
Wangi rambutnya masuk ke hidungku.
569Please respect copyright.PENANAJB6sISqi3r
Aku berhenti.
569Please respect copyright.PENANA64QuPjujVX
“Sudah?” tanyanya, suara parau.
569Please respect copyright.PENANALC4O7v7lqN
“Sudah.”
569Please respect copyright.PENANAhZYHpby3Ro
Ia berbalik, masih duduk di lantai, menatapku dari bawah. Wajahnya dekat dengan lututku. “Kamu tangannya hangat. Sama seperti Farhan, tapi lebih pelan.”
569Please respect copyright.PENANAvXVReu4gxX
Aku berdiri. “Aku ke kamar.”
569Please respect copyright.PENANAObT35hzwGa
“Naufal.”
569Please respect copyright.PENANAWbtx2Hi8xE
Aku menoleh.
569Please respect copyright.PENANAAmjgHTA9vn
Kirana masih di lantai, daster bergeser, paha terbuka sampai hampir pangkal. Ia tidak merapikan. “Terima kasih.”
569Please respect copyright.PENANAi6TIVE6AAN
Aku mengangguk kaku dan pergi.
569Please respect copyright.PENANAIbLugEnfCd
Di kamar, aku duduk di tepi ranjang lama sekali tanpa mematikan lampu. Tubuhku tegang. Aku membenci diri sendiri karena merasakan sesuatu yang tidak boleh ada. Kirana adalah istri kakakku. Farhan mempercayaiku. Aku seharusnya tidak mengingat hangat kulitnya, tidak mengingat desahannya, tidak mengingat bagaimana payudaranya bergerak di balik kain.
569Please respect copyright.PENANArbYfkQAGJX
Tapi aku mengingat semuanya.
569Please respect copyright.PENANAJxRGFQznSs
---
569Please respect copyright.PENANArm8zOoFXVt
Sabtu malam, aku tidak bisa tidur.
569Please respect copyright.PENANAxSBDfdzuFj
Dapur masih terang ketika aku turun minum air. Kirana ada di sana, berdiri di depan kulkas yang terbuka, memakai kaus tidur tipis abu-abu dan celana pendek dalam. Cahaya kulkas menyinarinya dari depan.
569Please respect copyright.PENANAKx1v6RRqbw
Aku melihat siluet tubuhnya dengan jelas.
569Please respect copyright.PENANAPkjzL0twmQ
Payudara yang penuh, puting yang mengeras karena udara dingin kulkas, lekuk pinggang, perut rata, dan di antara kedua pahanya—bayangan gelap yang membuatku menahan napas.
569Please respect copyright.PENANAF972ojzI2m
Kirana menutup kulkas. Gelap sejenak sebelum matanya menyesuaikan.
569Please respect copyright.PENANAshjqJP7GLa
“Tidak tidur?” tanyanya.
569Please respect copyright.PENANAoxga8m1Rfq
“Haus.”
569Please respect copyright.PENANAwLfqzWhiB6
Ia mengambil gelas, mengisinya, menyerahkannya. Jari kami bertemu lagi. Kali ini tidak ada yang menarik diri.
569Please respect copyright.PENANA059EIamVNW
“Aku juga tidak bisa tidur,” katanya. “Rumah ini aneh tanpa Farhan. Terlalu sunyi, tapi sekaligus… terlalu penuh.”
569Please respect copyright.PENANA96BAcHUiqe
“Penuh?”
569Please respect copyright.PENANAaexpEC32PC
Kirana menatapku. Di cahaya lampu dapur yang kuning, wajahnya tidak bisa kubaca sepenuhnya. “Kamu membuatnya penuh.”
569Please respect copyright.PENANAUMWOBzccYv
Kalimat itu jatuh di antara kami seperti sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.
569Please respect copyright.PENANAzKDOl1zd0I
Aku minum air. Gelas bergetar sedikit di tanganku.
569Please respect copyright.PENANAU44V9P41FI
Kirana melangkah mendekat, bukan banyak, hanya cukup untuk membuatku mencium wangi tubuhnya tanpa sabun—wangi kulit, wangi tidur, wangi perempuan yang baru bangun. “Naufal, kamu takut padaku?”
569Please respect copyright.PENANAmIiHhXX7mr
“Tidak.”
569Please respect copyright.PENANAP9rL3viXZw
“Kalau begitu jangan lari setiap kali aku mendekat.”
569Please respect copyright.PENANAg4ZkrxE2r9
“Aku tidak lari.”
569Please respect copyright.PENANAMdjOArhNix
“Kamu lari.” Suaranya lembut, hampir sayang. “Aku lihat. Dari hari pertama Farhan pergi, kamu menjaga jarak seperti aku api.”
569Please respect copyright.PENANAD92XuRPHwi
Aku menelan. “Karena kamu istri kakakku.”
569Please respect copyright.PENANAtOIDrpShpN
“Aku tahu siapa diriku.” Ia mengangkat tangan, merapikan kerah kaus tidurku yang berantakan—gerakan yang terlalu akrab, terlalu domestik, terlalu berbahaya. Ujung jarinya mengenai leherku. “Aku tidak meminta kamu melupakan itu. Aku hanya meminta kamu berhenti berpura-pura aku tidak ada.”
569Please respect copyright.PENANA8PGqtvbGPh
Tangannya turun, tapi tidak sepenuhnya lepas. Jari-jarinya masih di dadaku, di atas kain.
569Please respect copyright.PENANAB4vCOjp2xX
Aku seharusnya mundur.
569Please respect copyright.PENANAJGxgNodnvW
Aku tidak mundur.569Please respect copyright.PENANAKahrHQh8He


