Aku merasakan orgasme keduanya datang dari cara vaginanya mengejang di lidah. Dindingnya berkontraksi tidak teratur, basah menyembur hangat ke dagu, ke bibir, ke pangkal lidah. Kirana melepaskan mulutnya dari kontolku hanya untuk mengerang panjang, suara pecah di tengah kamar yang tertutup, cairan kembali membasahi wajahku sebelum ia menunduk lagi dan menelanku dalam-dalam seolah hukuman dan hadiah sekaligus. Tenggorokannya bergetar menahan batang, liur mengalir di pangkal, hidungnya menekan perut. Aku mengerang ke dalam vaginanya, lidah masih bekerja, masih menusuk, masih menghisap klitoris yang terlalu sensitif sampai pahanya gemetar di sisi kepala.
477Please respect copyright.PENANASZtnqkQwt4
Aku tidak tahan lama dalam posisi itu. Tubuhku sudah terlalu tegang, kontol terlalu basah oleh mulutnya, dan aku ingin melihat wajahnya ketika aku masuk. Aku membalikkan tubuhnya dengan hati-hati, tanpa melepaskan sentuhan. Kirana terlentang di sprei yang sudah berantakan, kaki terbuka lebar dengan sendirinya, dada naik-turun kacau. Payudaranya bergeser ke samping karena gravitasi, berat, puting kemerahan mengilap oleh liur dan keringat. Perutnya bergetar kecil. Di antara pahanya, vaginanya menganga, bibir luar bengkak, dalam merah basah, cairan menetes pelan ke pantat dan ke kain.
477Please respect copyright.PENANAYIFyPFnOWq
Aku berlutut di antara kakinya. Tidak langsung masuk. Aku pegang batangku, mengusap kepala yang sudah mengilap di sepanjang celahnya, dari bawah ke atas, membasahi sepanjang bibir yang panas, menekan klitoris yang masih berdenyut, turun lagi ke lubang, berputar di mulut vagina tanpa menerobos. Kirana menggeliat, pinggul mencari, mencoba menelan ujung itu sendiri.
477Please respect copyright.PENANAPYtbsXbtqz
“Naufal…” suaranya parau, basah. “Jangan siksa.”
477Please respect copyright.PENANAUgFYrgbjMs
“Aku mau kamu rasakan dulu,” kataku, suara rendah menempel di kulit paha dalamnya. “Rasakan seberapa basah kamu sebelum aku penuhi.”
477Please respect copyright.PENANA8YEaMioDC9
Aku gesek lagi. Lebih lama. Kepala kontolku membuka bibirnya pelan, masuk setengah ruas, mundur, gesek klitoris, mundur lagi. Kirana menggigit punggung tangan. Payudaranya naik setiap kali napas tertahan. Aku tunduk, lidah menjilat puting kiri sambil tetap menggesek di bawah, menghisap sampai ia mengangkat dada ke mulutku.
477Please respect copyright.PENANAQ7lRvlee9P
“Masukkan,” pintanya, mata basah, hampir menangis oleh tunggu. “Pelan. Aku mau rasakan semuanya. Setiap urat. Jangan buru-buru memenuhi.”
477Please respect copyright.PENANAqNChTkeBEX
Aku dorong ujungnya masuk.
477Please respect copyright.PENANAXaT6ZlozKK
Hangat. Ketat. Lebih ketat daripada jari, lebih hidup. Dindingnya membuka setahap, menelan, menyedot. Kirana menggigit bibir sampai putih, leher menegang, urat halus muncul di sisi tenggorokan. Aku masuk pelan-pelan, senti demi senti, berhenti setiap kali ia menahan napas, memberi waktu dindingnya menyesuaikan, merasakan sendiri bagaimana ia meremas batangku tanpa sadar. Aku lihat wajahnya. Kening berkerut, mulut terbuka, mata setengah terpejam menatap ke bawah, ke tempat aku menghilang ke dalam tubuhnya.
477Please respect copyright.PENANAnACUWMf6Fq
Setengah masuk, aku mundur sedikit, dorong lagi lebih dalam. Kirana mendesah panjang. Aku usap klitoris dengan ibu jari sambil terus masuk. Ketika pangkalku akhirnya menempel di pantatnya, ketika tidak ada lagi ruang, kami berdua menahan napas. Aku merasakan denyutnya di sekelilingku. Ia merasakan denyutku di dalamnya.
477Please respect copyright.PENANAYHd0ATJoZi
Aku menunduk, kening di keningnya. Hidung kami bersentuhan. Napas bercampur.
477Please respect copyright.PENANAjQUvYN34ar
“Penuh,” bisiknya, suara pecah di tengah kata. “Kamu memenuhi aku. Tidak ada tempat tersisa. Naufal… kamu di perutku rasanya.”
477Please respect copyright.PENANAb3XK4MfpHO
Aku tidak bergerak dulu. Hanya di dalam, dalam sekali, merasakan panasnya merembet ke pangkal paha. Tangan Kirana naik ke wajahku, ibu jari mengusap bibir bawahku yang masih berbau dirinya. Aku cium jari itu, cium mulutnya, lidah masuk pelan, mencuri desahan yang tertahan.
477Please respect copyright.PENANALaAIk0zLZb
Baru aku bergerak.
477Please respect copyright.PENANAO84HW0MNC8
Pelan. Sangat pelan. Tarik hampir keluar sampai hanya kepala yang tertahan di bibirnya yang licin, dorong sampai dalam sampai tulang kami beradu. Setiap hentakan membuat payudaranya berguncang, berat, puting menggesek dadaku. Aku cium mulutnya tidak rapi, lebih seperti saling makan napas, gigit bibir, liur di dagu. Tangan Kirana di punggungku, kuku menanam di belikat, kakinya mengait di pinggangku, tumit menarik setiap kali aku masuk seolah takut aku cabut terlalu jauh.
477Please respect copyright.PENANAUCvqDnMEg4
“Rasakan,” bisiknya di sela ciuman. “Rasakan bagaimana aku basah buat adik suamiku.
477Please respect copyright.PENANAjsQqJ65P68
Aku menggeram ke lehernya. Tempo bertambah sendiri, bukan karena aku memaksa, karena tubuhnya menarik. Bunyi basah kulit ke kulit memenuhi kamar—licin, dalam, berirama. Aku angkat satu kakinya ke bahu, mengubah sudut. Lubangnya lebih terbuka dari posisi itu, aku menusuk lebih dalam ke titik di depan yang membuat matanya terbalik, mulut terbuka tanpa suara dulu, baru desahan pecah, kotor, jujur, tidak lagi dijaga.
477Please respect copyright.PENANAuAaBb0Bfrx
“Dalam… Naufal, dalam sekali… di situ… jangan pindah dari situ… ah, penuh… jangan keluar… isi aku, isi sampai mampet…”
477Please respect copyright.PENANAv7gBsSHYFs
Aku meremas payudara kanannya sambil menggenjot, puting besar di antara jari, memilin, menarik pelan sampai ia menggeliat. Mulutku pindah ke payudara kiri, menghisap kuat, lidah menekan puncak yang sudah basah. Kirana memegang kepalaku di dadanya, menekan, memberi. Vaginanya mulai kejang lagi, tidak teratur, meremas-remas batang sampai aku harus menggigit dalam di payudaranya supaya tidak ikut tumpah.
477Please respect copyright.PENANAiADPCsuan0
Ia orgasme dengan kontolku di dalam.
477Please respect copyright.PENANAF1IgtaG7XJ
Dindingnya menyedot, basah menyembur di sekeliling pangkal, paha gemetar di bahuku, suara yang keluar dari mulutnya hampir seperti tangis. Aku tahan diri. Aku tetap bergerak pelan menembus orgasmenya, memanjangkan, tidak memberinya jeda sampai ia mendorong dadaku karena terlalu penuh.
477Please respect copyright.PENANAOyiGY4kxZ4
Aku cabut. Bunyi basah, panjang, cairan kental mengikutiku keluar, menetes ke sprei. Kirana sempat mengerang kecewa karena kosong. Aku membalikkan tubuhnya. Ia berlutut dengan dada di kasur, pipi ke samping, pantat terangkat, punggung melengkung. Dari belakang bentuknya lebih telanjang daripada apa pun yang pernah kulihat di rumah ini. Pinggang ramping turun ke bokong yang berisi, kulit halus mengilap keringat, vagina menganga basah menghadapku, bibir terbuka, lubang kecil di atasnya mengerut setiap kali ia menarik napas.
477Please respect copyright.PENANAqsGjtnYnIo
Aku usap pantatnya dulu, kedua tangan, meremas, memisahkan, melihat lebih jelas bagaimana cairannya menetes dari vaginanya yang baru kutinggalkan. Aku ludahi celahnya, basahi lagi, gesek kepala kontol dari klitoris ke lubang, ke atas sedikit ke arah yang lebih ketat, kembali turun.
477Please respect copyright.PENANATPnSJ7DqOp
“Masuk,” pintanya ke bantal, suara teredam. “Dari belakang. Dalam. Aku mau digenjot seperti bukan istri siapa-siapa.”
477Please respect copyright.PENANAscU5W6ojyd
Aku masuk dari belakang dalam satu dorongan yang lebih dalam daripada tadi. Kirana menjerit ke bantal. Aku pegang pinggangnya, jari menanam di daging lembut, menarik setiap kali pinggulku menampar pantatnya. Suara basah, daging, napas. Setiap hentakan membuat payudaranya yang tergantung berguncang ke depan. Aku condong, dada ke punggungnya, tangan ke depan mengisi payudara yang bergoyang, meremas, memilin puting sambil tetap mengisi dari belakang.
477Please respect copyright.PENANAo0rsdHKwZH
“Lihat,” kataku, suara tidak kukenal, lebih rendah, lebih jujur. “Lihat bagaimana kamu menelanku. Pantatmu menampar perutku. Vaginamu tidak mau lepas.”
477Please respect copyright.PENANA3Ip0eG7HeW
Kirana menoleh, pipi basah, bibir terbuka, mata berkaca. “Mainkan aku. Pakai aku. Jangan anggap aku istri siapa-siapa malam ini. Anggap aku lubangmu. Payudaraku milik mulutmu. Vaginaku milik kontolmu.”
477Please respect copyright.PENANAr11xRm0D7H
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47


