Aku tidak pernah merencanakan untuk tinggal serumah dengan Kirana.
686Please respect copyright.PENANAskEgoAtqMp
Rumah dua lantai di pinggir Kudus itu milik orang tua. Setelah Ibu meninggal dan Ayah lebih sering di Semarang, rumah itu terasa terlalu besar untuk satu orang. Farhan, kakakku, yang menikah dua tahun lalu, memutuskan untuk menempatinya bersama istrinya. Aku sendiri semestinya sudah mandiri di kos dekat kampus, tapi semester terakhir skripsi membuatku kembali. “Sementara,” kata Farhan waktu itu. “Tiga bulan paling lama. Proyekku di Balikpapan mulai bulan depan. Kirana sendirian nanti. Tolong jaga rumah, jaga dia.”
686Please respect copyright.PENANAizSDELoY9l
Tiga bulan. Kalimat itu terdengar ringan. Aku mengangguk, tidak berpikir jauh.
686Please respect copyright.PENANAeFdIdOoirS
Farhan berangkat seminggu yang lalu. Sejak itu, rumah yang dulu ramai oleh langkah kakakku yang berat dan tawanya yang kasar berubah menjadi ruang yang diisi napas perempuan.
686Please respect copyright.PENANAWF2R49aeJU
Kirana bukan perempuan yang ribut. Ia bergerak pelan, berbicara pelan, tapi kehadirannya memenuhi setiap sudut. Aku mendengarnya dari kamar atas: derit pintu kamar mandi, gemericik air, bunyi cangkir diletakkan di meja dapur, dan kadang-kadang dengungan rendah ketika ia menyanyi pelan lagu yang tidak aku kenali.
686Please respect copyright.PENANA5NQWOPlL3k
Pagi pertama tanpa Farhan, aku turun lebih awal dari biasanya.
686Please respect copyright.PENANAD7ylHXgtCX
Dapur masih basah oleh cahaya pagi yang masuk dari jendela samping. Kirana berdiri membelakangiku, memakai kaus putih longgar milik Farhan yang terlalu besar di bahunya, dan celana pendek abu-abu yang berhenti di tengah paha. Rambutnya yang panjang sebahu diikat seadanya, beberapa helai basah menempel di tengkuk.
686Please respect copyright.PENANAQWAu6UNnsG
Aku berhenti di ambang.
686Please respect copyright.PENANAHYOF3q872x
Dari belakang, lekuk pinggangnya terlihat jelas karena kaus itu terselip sedikit di satu sisi. Punggungnya ramping, turun ke bokong yang berisi, terbungkus kain tipis yang naik ketika ia berjinjit meraih toples gula di rak atas. Paha dalamnya terlihat sekejap, kulitnya putih kekuningan, halus, tanpa bekas.
686Please respect copyright.PENANAsY9Bg2xsaa
Aku menelan ludah.
686Please respect copyright.PENANAJJZPyScqcW
“Pagi,” kataku, suaraku lebih serak dari yang kuharapkan.
686Please respect copyright.PENANAYqa8g6S3VX
Kirana menoleh. Senyumnya muncul lambat, seperti orang yang belum sepenuhnya terbangun. “Pagi, Naufal. Kudengar langkahmu. Kopi atau teh?”
686Please respect copyright.PENANApceyeQMfNn
“Kopi aja.”
686Please respect copyright.PENANALnOo7hDXmc
Ia mengangguk, lalu kembali ke kompor. Aku duduk di kursi makan, pura-pura membuka laptop, tapi mataku tidak bisa tidak mengikuti gerakannya. Ketika ia menuang air panas, kaus itu merosot di satu bahu, memperlihatkan tali bra hitam yang tipis. Kulit bahunya halus, ada tahi lalat kecil di dekat tulang selangka.
686Please respect copyright.PENANARkF4S39A6k
Aku sudah melihat Kirana ratusan kali sebelumnya. Di pernikahan Farhan, di Lebaran, di makan malam keluarga. Tapi melihatnya seperti ini—di rumah, pagi-pagi, tanpa riasan, tanpa Farhan—terasa berbeda. Ada keintiman yang tidak seharusnya ada.
686Please respect copyright.PENANA1xfAumF3mT
“Farhan telepon tadi malam?” tanyanya sambil menyerahkan cangkir.
686Please respect copyright.PENANAwFT3MmvBBF
Jari-jarinya sempat bersentuhan dengan jariku. Hangat. Aku menarik tangan terlalu cepat.
686Please respect copyright.PENANASOHheOx3lf
“Sempat. Katanya semuanya lancar. Ia tanya kamu sudah makan teratur atau belum.”
686Please respect copyright.PENANANnycnhZ4Qr
Kirana tertawa kecil. Tawanya rendah, bukan cekikikan. “Dia itu. Selalu khawatir aku lupa makan. Padahal aku yang biasanya mengingatkan dia.”
686Please respect copyright.PENANAIm4yKQN3I1
Ia duduk di seberangku. Kaus itu jatuh longgar di dadanya. Aku berusaha tidak menatap, tapi dari sudut mata aku melihat bentuk payudaranya menekan kain, putingnya samar-samar terlihat karena ia tidak memakai bra yang tebal. Atau mungkin bra-nya tipis sekali.
686Please respect copyright.PENANA722ztBg2kN
Aku minum kopi terlalu cepat sampai lidahku tersengat.
686Please respect copyright.PENANAQIlbrlWoov
“Kamu tidak usah kaku begitu,” kata Kirana tiba-tiba. Matanya menatapku lurus. “Ini rumah kita berdua sekarang. Farhan sudah bilang kamu boleh anggap sini rumah sendiri.”
686Please respect copyright.PENANAqMA644WyzI
“Aku tahu.”
686Please respect copyright.PENANAAmMJ17hBPe
“Tapi wajahmu seperti orang menumpang.”
686Please respect copyright.PENANAzfcp1c19Zv
Aku tertawa hambar. “Mungkin karena memang menumpang.”
686Please respect copyright.PENANARwTHEu9Tuk
Kirana menyandarkan dagu di punggung tangan. “Farhan bangga sekali punya adik seperti kamu. Rajin, pendiam, tidak banyak tingkah. Ia sering cerita.”
686Please respect copyright.PENANAYi4w1ECXlJ
“Cerita apa?”
686Please respect copyright.PENANACmfrIyWCX2
“Bahwa kamu pemalu. Bahwa kamu jarang dekat dengan perempuan. Bahwa skripsi membuatmu stres.” Ia tersenyum miring. “Ia juga bilang kamu terlalu menghormatiku sampai-sampai tidak berani menatap terlalu lama.”
686Please respect copyright.PENANAHojNIqJyls
Aku terdiam.
686Please respect copyright.PENANA29gtXnZ8Lq
Kirana tidak mengalihkan pandangan. Ada sesuatu di matanya yang tidak kukenali—bukan godaan terang-terangan, lebih seperti rasa ingin tahu yang tenang, berbahaya justru karena tenangnya.
686Please respect copyright.PENANAW2Zi5c27nr
“Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman,” katanya pelan. “Hanya… rumah ini terlalu sepi kalau kita saling menjaga jarak seperti tamu.”
686Please respect copyright.PENANAU9uBuBV0dX
Aku mengangguk. “Baik.”
686Please respect copyright.PENANAPBv8RSfVQs
Sejak pagi itu, jarak yang kubangun mulai retak pelan-pelan.
686Please respect copyright.PENANAYgp2Ha0Uw5
---
686Please respect copyright.PENANAMyYTVAZOzg
Siang harinya Kirana mencuci mobil di halaman depan.
686Please respect copyright.PENANAX6ZXqaiQk0
Aku melihat dari jendela kamar. Ia memakai tank top hitam dan celana training pendek. Rambut diikat tinggi. Air selang membasahi lengannya, dada, perut. Kain basah menempel. Payudaranya yang penuh terangkat setiap kali ia menggosok kap mesin, lekuk pinggangnya bergerak mengikuti ayunan tubuh.
686Please respect copyright.PENANAFb4jzZ6kvn
Aku seharusnya menutup gorden.
686Please respect copyright.PENANAQP7Rn0wX4s
Tapi aku tidak menutupnya.
686Please respect copyright.PENANAfxDb9TToii
Ketika ia menoleh ke atas dan menangkapku di jendela, ia tidak marah. Ia hanya mengangkat tangan, menyeka keringat di pelipis, lalu tersenyum seperti orang yang sudah tahu ia sedang dilihat.
686Please respect copyright.PENANAynatqttD6E
Aku mundur.
686Please respect copyright.PENANAJabfBAOV6r
Jantungku berdetak terlalu cepat untuk sesuatu yang seharusnya biasa.
686Please respect copyright.PENANAo1cvwjV8bI
Sore itu ia mengetuk pintu kamarku.
686Please respect copyright.PENANAgkmDbqzkWH
“Naufal, kamu bisa bantu aku sebentar? Lampu ruang tamu mati.”
686Please respect copyright.PENANAAP8R0NsGe8
Aku turun. Kirana sudah menyiapkan tangga kecil. Ia berdiri di bawah, menengadah, lehernya membentuk garis yang panjang dan halus. Aku naik tangga, mengganti bohlam, sementara ia memegang kaki tangga “supaya tidak goyang.”
686Please respect copyright.PENANAg2SdnSOEaG
Tangannya ada di betisku.
686Please respect copyright.PENANA5CCPbNGEcF
Hanya sebentar. Tapi cukup untuk merasakan hangat telapaknya menembus celana kain.
686Please respect copyright.PENANAUaE25w0NxA
“Sudah,” kataku, turun terlalu cepat sampai hampir tersandung.
686Please respect copyright.PENANAKdsWegwiGi
Kirana tertawa. “Kamu kaku sekali hari ini.”
686Please respect copyright.PENANAPhSWfkB1wP
“Bohlamnya panas.”
686Please respect copyright.PENANAKVST7ShaTl
“Bohlamnya, atau kamu?”
686Please respect copyright.PENANA4FjRyJjooy
Aku menatapnya. Ia tidak mengedip. Senyumnya masih ada, tapi nada suaranya berubah—lebih rendah, lebih dalam.
686Please respect copyright.PENANA37tf0W2Way
“Bercanda,” katanya kemudian, menepuk lenganku pelan. “Pergi sana, selesaikan skripsimu. Nanti aku masak ayam rica. Farhan bilang itu kesukaanmu.”
686Please respect copyright.PENANAB22HfPPWjy
Ayam rica.
686Please respect copyright.PENANAFagNuQI6qW
Farhan memang selalu ingat hal-hal kecil tentangku. Dan Kirana, tanpa diminta, mengingatnya juga.
686Please respect copyright.PENANAONGWIR6E9W
Malam itu kami makan berdua.
686Please respect copyright.PENANAs8ERxi2wfz
Meja makan yang biasanya diisi tiga orang terasa terlalu dekat. Kirana memakai daster katun biru muda dengan kancing depan sampai dada. Beberapa kancing atas terbuka. Aku melihat lekuk payudaranya setiap kali ia condong ke depan mengambil lauk.
686Please respect copyright.PENANAWHCyjhTZMG
Aku berbicara tentang skripsi supaya tidak diam.
686Please respect copyright.PENANActH9ZsZVEv
Kirana mendengarkan sungguh-sungguh. Ia bertanya, menyela dengan pendapat yang tajam, kadang tertawa ketika aku mengeluh dosen pembimbing. Di sela-sela itu, kakinya di bawah meja sesekali mengenai kakiku. Ia tidak menarik. Aku juga tidak.
686Please respect copyright.PENANAAxgq4J0aAp
Setelah makan, ia mencuci piring. Aku mengeringkan.
686Please respect copyright.PENANAZ3FE3WD2UH
Berdiri berdampingan di wastafel yang sempit membuat bahuku hampir menempel ke bahunya. Wangi sabun dan wangi tubuhnya—sesuatu yang lembut, seperti vanila basah—bercampur. Ketika ia menyerahkan piring, jari-jarinya basah menyentuh punggung tanganku lebih lama dari yang diperlukan.
686Please respect copyright.PENANAtQQXkVs0gp
“Terima kasih sudah mau tinggal di sini,” katanya tanpa menoleh. “Aku tidak suka rumah kosong. Suara orang lain… membuatku merasa masih ada yang menjaga.”
686Please respect copyright.PENANA62eCsxnB9G
“Farhan yang minta.”
686Please respect copyright.PENANAcCIKmfHlmg
“Aku tahu. Tapi kamu yang memilih untuk tinggal, bukan pergi ke kos.”
686Please respect copyright.PENANAeGw9e47KWE
Aku tidak menjawab.
686Please respect copyright.PENANAaUN0bVcV9b
Malam semakin larut. Kirana duduk di sofa, kaki dilipat, membaca di ponsel. Aku duduk di kursi seberang dengan laptop. Televisi menyala tanpa suara.
686Please respect copyright.PENANA8YvoL681iP
Sesekali aku mengangkat wajah.
686Please respect copyright.PENANA2p8vjT2ySd
Ia tidak sadar—atau pura-pura tidak sadar—bahwa dasternya naik sampai paha atas ketika ia mengubah posisi. Kulit pahanya halus, ada bayangan gelap di antara kedua kakinya yang tertutup kain. Aku menatap terlalu lama.
686Please respect copyright.PENANAtOzTzvrtih
Kirana mengangkat kepala. Mata kami bertemu.
686Please respect copyright.PENANAanRJ3BHxTU
Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.
686Please respect copyright.PENANADXNbXBWl5O
Lalu ia tersenyum kecil, menurunkan dasternya pelan, dan kembali ke ponselnya seolah tidak terjadi apa-apa.
686Please respect copyright.PENANAkmnMxV1VCV
Aku menutup laptop. “Aku tidur dulu.”
686Please respect copyright.PENANAQja7V5VwuC
“Selamat malam, Naufal.”
686Please respect copyright.PENANA4znvrToayW
Namaku di mulutnya terdengar berbeda malam itu.
686Please respect copyright.PENANAYERlHZIFO4
---
686Please respect copyright.PENANA8iCNC5UMrE
Dua hari berikutnya berjalan dengan ritme yang sama, tapi ketegangannya mengental.
686Please respect copyright.PENANAbFgXyygZmH
Aku mulai mengenali kebiasaan Kirana. Ia bangun pukul lima, merendam kaki di bak kecil sambil minum air hangat. Ia menyetrika pakaian Farhan yang tertinggal meskipun suaminya tidak ada. Ia suka duduk di teras belakang sore hari, rambut basah sehabis mandi, handuk kecil di bahu.
686Please respect copyright.PENANANXiZbbqBud
Suatu sore aku pulang dari kampus lebih cepat. Kirana sedang di ruang tengah, baru selesai olahraga. Tank top-nya basah keringat, menempel di perut dan dada. Celana pendeknya naik. Ia sedang meregangkan tubuh, tangan di belakang kepala, punggung melengkung.686Please respect copyright.PENANADvxS41kkB0


