“Aldo, anak Teknik Sipil, kampus Bina Bangsa...” gumam gue pelan di dalam kepala.
63Please respect copyright.PENANAPYzLsgzJUK
Sesuai asumsi gue, orang itu memang bukan anak sekolahan. Dari perihal ini aja, gue sudah merasa ada gap yang cukup jauh antara gue dan si Aldo ini. “Sebenernya tuh gue masih mau biasa aja nanggepin dianya. Gue gak ada arah mau kenal lebih dalam atau apa. Lagian gue juga udah bilang ke lo kan, kalau gue masih sewajarnya aja menyikapi DM-DM yang masuk dari dia, jawab pendek-pendek atas segala percakapan yang dia buat. Dan ini tuh sosmed, gue harus bisa jaga diri buat ngobrol sama orang asing. Tapi...”
63Please respect copyright.PENANAwyDcmkubma
Aurel menatap gue dengan sebuah jeda, seolah menimbang seberapa jauh dia mau cerita. Lalu ia melempar senyum tipis, seakan dia sudah yakin untuk lebih lepas menceritakannya. “Di hari gue cerita itu ke lo, pas jam istirahat kedua. Lo kan ke kantin kalau gak salah, dan gue tetap istirahat di kelas. Nah, ada DM masuk lagi dari dia saat itu. Dan DM itu membuka sebuah pikiran baru buat gue,” ujarnya, yang membuat dada gue mulai berdebar.
63Please respect copyright.PENANAtcPS6jNCy0
“Pikiran baru?” ucap gue pelan, agak bingung dengan maksud kalimat itu.
63Please respect copyright.PENANArwoKXJ8SzY
Lirikan matanya mengarah ke atas, seperti sedang menerawang mengingat-ingat. "Jujur ya, Van… waktu kemarin lo ke rumah gue kan, gue juga bilang ke lo kalau gue merasa borongan daddy issue atau mommy issue-nya, Hihihi…”
63Please respect copyright.PENANAJabfYQpXrW
“Dan yang bikin gue ngerasa kesepian juga adalah, gue gak pernah dapet feeling di-reward dengan baik, mungkin atas achievement yang bisa gue raih sebagai anak sekolah. Nilai PR bagus, ulangan bagus, rapot bagus, meskipun itu juga ada bantuan dari lo ya.” lanjutnya.
63Please respect copyright.PENANAQrpGoygrm9
Aurel memiringkan kepalanya, memperat tatapannya ke gue. “Rasa ingin dihargai itu ternyata ada di dalam diri gue, dan inti dari DM itu, Aldo menyadarkan pentingnya sebuah reward… yang gue gak nyangka, bikin gue semakin intens ngobrol sama dia akhirnya.” Gue gak tahu arah pembicaraan ini mau ke mana.
63Please respect copyright.PENANAmysgSj2oSt
Yang jelas, gue begitu fokus mencerna seperti apa situasi hati dan pikiran Aurel terhadap Aldo.
63Please respect copyright.PENANAtUpvJYM9yc
“Dia ngajakin sebuah challenge. Kalau dia bisa bikin goal di turnamen klub bolanya, dan gue juga bisa dapet nilai yang bagus mau itu PR atau apa pun di minggu itu, dia mau ngajak gue ke suatu tempat, yang katanya tempat paling indah buat menatap sunset di kota ini. Padahal mah Jakarta banyak gedung-gedung tinggi ya, emangnya ada tempat buat lihat sunset? Hihihi.” Dada gue mulai terasa berdesir hangat.
63Please respect copyright.PENANAKCQm8tzVe9
Bukan hangat yang nyaman, melainkan sensasi terbakar api cemburu yang merambat perlahan.
63Please respect copyright.PENANAbXTyVjJ1xs
"Terus, pas minggu lalu... atau beberapa hari lalu ya, lupa... inget yang gue bilang pulang dari tempat estetik itu?" Gue mengangguk lagi, tapi kali ini otak gue menangkap sebuah sinyal…
63Please respect copyright.PENANASzvKCbCBQJ
Sinyal bahwa ini…
63Please respect copyright.PENANAWc5KsgqUCV
“Jangan-jangan itu lo ketemuan sama dia ya?” tanya gue memotong, dengan rasa yang makin berdebar di dada.
63Please respect copyright.PENANAdMNS2sM7H2
Aurel melepaskan senyum manisnya… “Iya. Gue sama dia sama-sama sukses memenuhi challenge masing-masing. Gue sempat ragu buat mengiyakan ketemu, tapi entah kenapa gue ngerasa punya kewajiban buat ketemu dia, karena gue sendiri yang menerima tantangan itu.”
63Please respect copyright.PENANAzSLuCWdrwY
Kedua tangan gue yang berada di bawah meja mengepal begitu erat. Ada rasa perih yang muncul ketika kuku gue menekan telapak tangan dengan kencang. Jantung gue yang sudah berdegup tidak beraturan berdetak seperti drum perang yang dipukul sembarangan. “Tapi Van… gue tuh sempet takut ya, dia orangnya aslinya kayak gimana. Kan kalau di foto IG kadang beda sama aslinya, hihihi.”
63Please respect copyright.PENANAPZAEwALOBJ
“Ya lo gimana sih?! Kalau lo diculik gimana?!” Ingin rasanya gue berteriak seperti itu, tapi gue menahannya.
63Please respect copyright.PENANAR1JOW48tCb
Gue yakin banget, kalau gue memberikan respons yang salah, itu bakal bikin Aurel berhenti bercerita. Dan gue gak bakal pernah tahu seperti apa hubungan mereka sekarang. Di tengah rasa yang udah kacau balau ini, gue mencoba bertahan untuk tetap menjadi pendengar yang baik untuknya.
63Please respect copyright.PENANAYSCVmnXv72
“Ternyata, Aldo aslinya cukup ganteng… Pas pertama kali kita janjian ketemu di GBK... di situ gue tahu, gue enggak salah berkenalan sama dia.”
63Please respect copyright.PENANA6DNYR5Nbdb
***
63Please respect copyright.PENANA2HbTJCQL3W
“APA?!” jerit gue dalam hati.
63Please respect copyright.PENANAfOnjTMXBPu
Kepala gue serasa dihantam palu godam. Otak gue bergerak liar memutar ulang seluruh rekaman memori dari hari-hari yang sudah berlalu itu. GBK dan foto meja makan, kuteks warna butter yellow di kuku jarinya, hari Senin saat dia dijemput seseorang di bawah pohon rindang, sampai perjalanan ke tempat estetik itu.
63Please respect copyright.PENANA0jlFtwR9tA
Seluruh kepingan puzzle yang tadinya samar, kini terhubung dengan begitu jelas.
63Please respect copyright.PENANAntz3akwo08
Jadi... Saat dia gak bales chat Line, apa gara-gara dia sedang asyik menikmati ketertarikan sama cowok itu? Saat gue uring-uringan cemburu sendirian di kamar hari Minggu itu, Aurel beneran lagi duduk berhadapan sama Aldo di GBK?
63Please respect copyright.PENANAxWfhHiRbII
Gue gak tahu lagi harus bersikap apa, dan Aurel makin menambahkan penderitaan itu saat ia berkata, “Gue sengaja ngajak janjian lebih dulu di GBK, gue ingin tahu dia orang yang seperti apa. Lagian GBK kan tempat umum paling aman ya, jadinya gak mungkin dia macem-macem.” Alasannya memang cukup cerdas, tapi fakta bahwa dia memikirkan konsekuensi sejauh itu justru membuat gue menderita.
63Please respect copyright.PENANAPgFs5aGhmj
Membayangkan kalau sampai Aurel kenapa-kenapa.
63Please respect copyright.PENANA47ttKor4al
“Dan gara-gara pertemuan di GBK itulah, gue sama dia memutuskan buat hari Seninnya aja kesana. Ke tempat yang dia bilang tempat paling indah buat ngeliat sunset di Jakarta,” ucapnya tanpa ragu-ragu.
63Please respect copyright.PENANAaxrcIwQThP
Dari nada suaranya, ia sama sekali tidak menyesal dibawa ke tempat itu. Matanya begitu berbinar-binar, seakan ia ingin sekali lagi mengulang keindahan momen tersebut. Rasa cemburu dan ingin tahu yang berlebih membuat tenggorokan gue terasa makin kering. Entah sudah berapa kali gue menelan air liur sendiri. “Terus…?” tanya gue lagi, masih menuntutnya buat melanjutkan cerita.
63Please respect copyright.PENANAN1S8PHz4WH
"Hmmm... Dia bawa gue ke sebuah tempat, yang ternyata itu adalah tempat pelariannya ketika ingin menghindari bully-an dulu. Tempatnya agak masuk ke dalam gang, terus ada tangga ke atas yang diapit dua dinding rumah. Dan tempat itu jadi kedai kopi. Meskipun terpencil, tapi estetik banget," ia bercerita dengan rasa bahagia, dan itu sukses membuat perasaan gue makin iri.
63Please respect copyright.PENANAhRMGk9180a
Karena itu tanda kekalahan gue. Fakta bahwa ada alasan lain yang lebih kuat untuk membuat Aurel bahagia.
63Please respect copyright.PENANA6ncm9cWZ9o
"Waktu kesana, kedai itu lagi agak sepi, jadi view menikmati sunset di Jakarta itu bisa gue nikmati berdua sama dia. Terus... dia mulai ngajarin gue sesuatu."
63Please respect copyright.PENANAgRcwsLKe1D
“Ngajarin sesuatu?!” pikiran gue bergemuruh hebat. “N-ngajarin... ngajarin apa?” tanya gue terbata-bata dan agak serak. Suara gue terdengar sangat menyedihkan, nyaris tenggelam oleh suara detak jantung gue sendiri yang berdentang keras di telinga.
63Please respect copyright.PENANA5PzwAtv04G
“Hihihi... penasaran ya? Yang jelas ucapan dia saat itu menyadarkan gue, kalau rasa bahagia itu harus bisa diciptakan. Dalam kondisi apa pun, sesulit apa pun, sesedih apa pun. Bagaimanapun rasa dan rupanya, serta segimana kita mau meraihnya.”
63Please respect copyright.PENANApzm23EWMTa
“Gue ngerasa dibimbing jadi dewasa di momen itu sama Aldo. Hal yang seharusnya gue dapet dari orang tua gue. Ironis ya, Van…”
63Please respect copyright.PENANAi509vBsSDN
Gue yang adalah teman sebangkunya, merasa gagal total untuk melihat tanda-tanda kesedihan yang terpendam dalam dirinya. “Kenapa gue gak bisa baca tanda itu? Gue bener-bener bego!” gue mengutuk diri sendiri dalam hati.
63Please respect copyright.PENANATfYESSq2lC
Gue tatap mata Aurel. Di sana, pandangan kami terkoneksi, seolah baru menyadari apa yang menjadikan kami tidak pernah bisa lebih dari sekedar teman. Lalu, apakah gue masih berhak buat mengungkapkan perasaan gue?
63Please respect copyright.PENANAfrQKWu8awG
Apa gue terlalu pengecut buat mengutarakan perasaan itu saat ini?
63Please respect copyright.PENANAZSI00j0fpy
Tapi, masih ada hal yang harus gue ketahui kebenarannya, apalagi berkaitan dengan kejadian di rumahnya kemarin malam. “Jadi sekarang... lo sama dia gimana, Rel?”
63Please respect copyright.PENANAXQFU3zV0bm
KRIIIINGGGG!
Tiba-tiba ponsel Aurel berdering.
63Please respect copyright.PENANA0QmDlzKaYz
Aurel mengeluarkan ponsel itu dari saku celananya, lalu melihat layarnya sambil tersenyum manis. Ia kemudian membalikkan layar ponselnya menghadap ke arah gue, membuat gue bisa membaca nama sang penelpon dengan jelas.
63Please respect copyright.PENANAjPHKVaACRz
Di situ tertulis: “Sayangku ❤️”
63Please respect copyright.PENANA2c5jImwieH
“Jadi… lo… sama dia…?” Gue menatapnya dengan rasa terkejut yang membakar dada.
63Please respect copyright.PENANAyCXuSPmynC
Dia mengangguk.
63Please respect copyright.PENANA51EjNUrGB9
“Sejak kapan?” tanya gue lagi, yang masih tak kuat menahan rasa yang sedang menguliti diri gue perlahan-lahan.
63Please respect copyright.PENANALHa29xTqD9
Dia hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng pelan. “Gak tahu pastinya kapan, tapi dengan sebuah tindakan, udah cukup buat jadi pertanda, kalau emang pacaran aja.”
63Please respect copyright.PENANAJqZXK5IArb
“Tindakan apa?” Gue tidak memahami maksud Aurel. Otak gue mendadak blank bahkan cuma untuk sekadar mengerti arti ucapannya.
63Please respect copyright.PENANATrM7kepJpk
“First kiss gue sama dia.”
Lalu ia mengangkat telepon itu. “Bentar, Yank, kamu udah sampe ya? Aku ke depan sekarang, tadi lagi ngobrol dulu di kantin. Tunggu ya,” ucapnya manis sebelum menutup telepon itu.
63Please respect copyright.PENANAXG9bGgIjLx
“Van, gue duluan ya!” Ia beranjak dari bangku kantin, sedangkan gue masih terdiam kaku di sini.
63Please respect copyright.PENANAH0gB2lNgFL
Gak tahu apa yang harus gue proses dari semua ini.
Apakah gue ingin merelakan, atau mencoba merebut cintanya dari orang lain?
63Please respect copyright.PENANAWfcyBnp0fr
63Please respect copyright.PENANA0EDAsHVI9c
Jengjeng♫ Jengjeng♫
63Please respect copyright.PENANAtikyWrXOYp
𝄞 Ingin kubunuh pacarmu
Saat dia cium bibir merahmu
Di depan kedua mataku
Hatiku terbakar jadinya, Cantik
Aku cemburu 𝄞
ns216.73.216.39da2


