Gue meraih botol minum dari samping tas, meneguknya pelan, lalu melemparkan pandangan ke arah pintu kelas secara refleks.
58Please respect copyright.PENANAKPV8VOuBtF
Menanti dia yang muncul, setiap kali pintu itu terdorong ke dalam. Menanti senyum tipisnya di pagi hari. “Ah, APAAN SIH?! Buat apa gue sok-sokan Dilan di pagi buta?” gumam gue dalam hati.
58Please respect copyright.PENANAUjwd03sSz9
Suasana kelas cukup berisik. Beberapa anak cowok di belakang sudah gaduh dari sepuluh menit yang lalu, saling membandingkan jawaban PR Matematika mereka masing-masing. Sementara pada baris depan, teman-teman sekelas yang lain, yang sudah merasa yakin dengan tugasnya, malah sibuk bergosip perihal serial Netflix yang mereka tonton.
58Please respect copyright.PENANA1j4hPCbIDZ
“Great Teacher Onizuka bagus banget njir!”
“Ah, lo belum nonton Crows Zero!”
“Coba Gokusen deh!”
58Please respect copyright.PENANAUROFfsI2dO
Cuplikan-cuplikan suara itu tertangkap di telinga gue, yang sama sekali tidak tertarik untuk ikut nimbrung dalam percakapan mereka, walaupun terlihat seru. Gue sama sekali gak fomo dalam hal itu, karena pusat pikiran gue sendiri sedang terkunci saat ini. Gue baru bisa tertidur tenang setelah pikiran gue capek, dan juga...gue sempat melakukan hal yang bikin gue sendiripun malu...
58Please respect copyright.PENANAsQyGs2qu5L
Ya, gue onani.
Gue belum mau menceritakan apa yang membuat gue melakukan hal itu.
58Please respect copyright.PENANA3Lmt1sz9AD
Sejujurnya, gue sama sekali gak tahu dengan apa yang gue rasakan. Apakah gue ingin mengejar Aurel, atau lebih baik membiarkan senyumannya jadi milik orang lain?
Lima menit kemudian, bel pelajaran pertama berbunyi, dan sosok yang gue tunggu akhirnya tiba. Selama berkenalan dengannya, jarang sekali ia terlambat. Tapi hari ini wajahnya sedikit memerah, nafasnya ngos-ngosan.
58Please respect copyright.PENANAZ9ra8GPbDm
Kalau gue tebak, kelihatannya dia baru saja lari dari gerbang depan.
58Please respect copyright.PENANAX7lSp6YDhu
"Lo abis lari dari gerbang depan, Rel?" tanya gue. Dia hanya mengangguk, sambil mencoba mengatur ulang nafasnya. "Hhh... pagi, Van," ucapnya pelan-pelan.
Gue pun refleks menyodorkan botol minum gue. Yang langsung ia teguk, tanpa bibirnya menyentuh ujung botol minuman gue. “Pagi. Tumben lo telat. Kan kemarin gue gak sampe malem banget pulang dari rumah lo?” Ia meneguk air itu dengan lahap, seolah berlari dari gerbang sekolah tadi cukup menyita tenaganya.
58Please respect copyright.PENANARK3TvhyXd7
Setelah dirasa nafasnya teratur, sambil menyodorkan kembali botol minuman itu ke gue, ia berucap, "Iya, gue kan nungguin Papa Mama balik, tapi sampe jam sembilan malam masih belum pulang juga. Ya gue takutlah, jadinya gue scroll-scroll IG, terus gue teleponan."
58Please respect copyright.PENANAq3X1oezXZz
DEG.
Gue terdiam.
58Please respect copyright.PENANA5gTEsgMoiw
Dia telponan sama siapa? Kok dia gak telponan sama gue? Apakah sama si Kaelan itu lagi?
Dada bagian dalam gue seketika langsung terasa terbakar.
58Please respect copyright.PENANA0SoVzQMzwe
Otak bajingan gue otomatis memutar ulang semua kejadian kemarin. "Telponan sama siapa?" tanya gue begitu aja. Gue gak bisa menahan diri, dari rasa penasaran ini.
Lalu senyuman itu muncul. Senyuman yang sama, dengan garis bibir yang sama seperti foto yang diunggah si Kaelan-Kaelan itu, yang caption-nya masih nempel di kepala gue:
58Please respect copyright.PENANANsSxzagsPT
"I miss that smile, can I bite that again?"
58Please respect copyright.PENANAaP0oXQaR4k
Gue yang tidak sabar menanti jawaban darinya, langsung melempar pertanyaan berikutnya. "Sama si Kaelan itu?" Senyumnya semakin lepas, dengan gelak tawa tersipu malu. Senyuman yang jauh lebih manis, dari semua gambaran senyumannya yang terkoleksi di dalam ingatan gue. "
58Please respect copyright.PENANArM7GpMnYAY
Huuhm..." Cuma satu kata darinya, tapi gue butuh waktu dua detik lebih lama, buat sekedar berhenti menggerakkan bibir. Karena saat dia senyuman itu ke arah gue, “Inget aja sama dia?” ucapannya itu, membuat dada gue serasa dihantam beban berat. "Nanti gue ceritain ya, belum saatnya," lanjut Aurel sambil merapikan hijabnya yang sedikit berantakan di bagian depan.
58Please respect copyright.PENANAqqXKHTf6jt
"Kenapa harus nanti? Kenapa gak sekarang aja?" desak gue pelan, berusaha menjaga nada suara, agar gak kedengaran terlalu menuntut.
58Please respect copyright.PENANAmLeSXofanG
Aurel melirik ke arah pintu depan, tepat Pak Dwi baru saja melangkah masuk, bersiap untuk mengajar. "Tuh, Pak Dwi udah masuk. Nanti pas istirahat atau pas pulang aja ya, Van. Lagian ceritanya tuh agak panjang." Dia lalu mengeluarkan buku tulis dan kotak pensil dari tasnya, meletakkannya di atas meja dengan gerakan santai. Sementara gue cuma bisa duduk terdiam kaku di sampingnya. Rasa kepo yang bercampur cemburu mendadak berkumpul di dalam diri gue, bikin lidah gue terasa pahit.
58Please respect copyright.PENANAchaEjYRHzi
Aurel duduk tepat di sebelah gue, tapi rasanya dia sedang berada di tempat yang sangat jauh, di sebuah ruangan yang cuma diisi oleh dirinya dan cowok bernama @kaelan.r itu. Gue menunduk ke arah buku catatanku sendiri, berpura-pura membuka halaman kosong, padahal tangan gue gemetaran.
58Please respect copyright.PENANAwevs2iL2pc
Menahan luapan emosi yang gak gak mampu lagi dibendung.
58Please respect copyright.PENANAU86YcTkjbD
***
58Please respect copyright.PENANAbleqsexGGc
58Please respect copyright.PENANAyR2rEt2xpY
Gue pernah mendengar, bahwa orang yang sedang berada dalam pengaruh adrenalin, ia akan terjebak dalam respons fight-or-flight.
58Please respect copyright.PENANAR58kvImRXo
Sebuah kondisi ilmiah, di mana denyut jantung melonjak drastis, pembuluh darah menyempit, dan seluruh indra dipaksa fokus penuh pada satu sumber ancaman.Begitulah yang gue rasakan saat ini.Tubuh gue dipenuhi gempuran adrenalin yang kuat, cuma untuk mendengarkan sebuah kebenaran. Setiap kali mata gue melirik Aurel, setiap detik itu pula adrenalin gue terus terjaga di puncaknya.
58Please respect copyright.PENANAUANuM6YAH4
Dan rasa cemas itu terus menahan gue dalam siksaan.
58Please respect copyright.PENANAh1She3bZ5w
Membuat konsentrasi gue dalam belajar hari ini buyar total. Sedangkan dia? Dia malah tetap terlihat biasa-biasa saja. Terlebih lagi, gue udah gak sabar banget. Sedari tadi gue cuma bisa menebak-nebak kapan dia bakal cerita. Kapan kalimat "nanti gue ceritain" itu berubah jadi "sekarang"?
58Please respect copyright.PENANALVBvzX9OdH
Hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi.
Aurel menoleh ke arah gue, lalu tersenyum manis. Seketika gue merinding, akankah ia bercerita sekarang?
58Please respect copyright.PENANAs2AfzG9i2I
Aurel menggeser posisi duduknya meliuk agak miring menghadap gue. Dia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan di atas meja. Jarak kami mendadak menipis, cukup dekat sampai gue merasa grogi setengah mati. "Jadi... mau denger ceritanya?" bisik Aurel pelan. Suaranya agak berat, setengah berbisik, seolah takut ada telinga lain di kelas yang mendengar. Gue menelan ludah yang terasa pahit. "Iya, ceritain! Ceritain sekarang, gue udah penasaran banget! Kok lo udah bisa sampe telponan sama dia?"
58Please respect copyright.PENANADohZeCbH34
Dia pun tertawa renyah sambil menutup mulutnya. "Hihihi... udah gue sangka! Tahu gak sih, lo tuh seharian curi-curi pandang melulu ke gue? Kayak burung kakak tua nunggu dikasih jagung, tahu gak lu? Sepenasaran itu ya?"
58Please respect copyright.PENANAd7VbmWMF1M
DEG.
58Please respect copyright.PENANAv3UTByQBWA
Kalimat itu sukses bikin muka gue panas seketika. Gue merasa malu banget! Mungkin sikap freak dan kagok dari rasa penasaran gue seharian ini, ternyata tertangkap basah sama dia. "Ya udah, di kantin aja yuk?" ajaknya. Gue cuma bisa membalasnya dengan anggukan cepat, campuran antara malu, salah tingkah, dan rasa penasaran yang sudah di ujung tanduk.
58Please respect copyright.PENANAmi9MPKLGY9
Kami berjalan menuju kantin, seiring dengan riuh para siswa-siswi yang berhamburan untuk pulang. Aurel memilih bangku di sudut, ia duduk di bagian dalam lalu bersandar. Sedangkan gue memilih duduk di bagian luar, di seberangnya. Suasana ini membuat sosok Aurel memiliki kesan misterius, karena siluet dari pantulan bangunan, memberikan efek bayangan pada sebagian wajah Aurel.
58Please respect copyright.PENANAUo9pYaQX8T
“Jadi…” dia memulai, matanya menatap erat ke gue. “Udah penasaran banget belum?” tanyanya dengan nada sedikit menggoda. Gue mengangguk pelan, pura-pura tenang meski telinga gue mulai terasa panas. “Ingetkan, yang awal-awal gue bilang ada orang yang balas story ig, berujung jadi intens dm gue itu?” gue mengangguk lagi. “Nah, lo masih inget juga gak, nama akunnya apa?” tanyanya lagi kepada gue.
58Please respect copyright.PENANA6Pi37Xwn2I
“@kalean.r” jawab gue dengan cepat.
58Please respect copyright.PENANAcdYtN6f2mt
“Hihihi, lu tahu gak, kenapa gue tuh seneng berteman sama lo Van? Karena kalau gue cerita apa aja, lu tuh pasti inget! Itu bikin gue merasa dihargai Van.” entah gue harus senang, atau apa. Tapi hal ini juga mematahkan tentang persepsi diri gue, kalau ternyata sifat gue yang menghafal, ataupun memahami hal-hal detail tentang Aurel, ternyata ia sadari.
58Please respect copyright.PENANA4wF672iQHU
“Apakah gue seterbaca itu?” gumam gue dalam hati.
58Please respect copyright.PENANAXsLC4N3x4t
“Nah…emmhh gimana ya ngelanjutinnya..” sumpah entah Aurel sedang mengulur atau mamang benar-benar membutuhkan waktu untuk menyambung kepingan-kepingan kalimatnya. Dalam hati gue yang udah gelisah seharian ini, udah gak sabar banget dengan apa yang ughhh… “Nama dia Kalean?” tanya gue langsung memotongnya, karena gue gak sabar.
58Please respect copyright.PENANALJGtaJP4Gf
Pertanyaan itu gue lontarkan, karena gue memang sama sekali tidak tahu siapa identitas asli nama akun itu sebenarnya. “Hihihi.. Awalnya gue juga mikir itu Van, tapi ternyata itu memang bagian dari nama panjangnya, nama panggilannya bukan itu.”
58Please respect copyright.PENANAGbKfB8mRpL
“Lalu?” gue semakin penasaran dan deg degan.
58Please respect copyright.PENANAMbSLyknoTG
“Rivaldo, itu nama panggilannya dia, tapi biasanya lebih gampang dipanggil Aldo” gue terdiam. Akhirnya nama aslinya terungkap.
“Jadi kenapa nama akun ig nya dia @kalean.r ya karena, nama aslinya adalah Kalean Rivaldo, dia anak kampus Bina Bangsa, anak fakultas teknik sipil.”
ns216.73.216.39da2


