Dalam fase patah hatinya seseorang, kadang ada yang tenggelam dalam kesedihan berlarut, kadang ada pula yang menjadikannya sebagai bahan kreativitas.
Saat ini gue berada di tengah-tengahnya, di antara kesedihan yang tenggelam dalam sebuah lagu, dan juga sebuah tulisan.
Lengan gue menari-nari di atas kertas, menuangkan keresahan yang gue rasakan tentang Aurel ke dalam sebuah frasa:
32Please respect copyright.PENANAM7MR3lOJDm
Sisa perih dalam jemari, luka akibat sebuah kisah singkat. Berawalan dengan kekosongan dan berakhir dengan yang terurai.
“Tak merasa berdosa kamu, wahai sepenggal nama yang membuka segalanya?”
Aku telah sisipkan harap dan doa, untuk diriku dan untuk dirimu. Meletakkannya sembari memasang selimut pada malam-malam yang kuyakini kita tidur bersama dalam jarak masing-masing.
“Kuingin bermakna hingga renta, padamu aku ingin terlelap bersama.”
Bila hati dilarang meminta, Mengapa kita harus bercinta?
32Please respect copyright.PENANA52nJmGWfxj
Kegalauan kali ini gue tuangkan ke dalam frasa yang bakal gue simpan sendiri.
32Please respect copyright.PENANA0uCPTL0Bzd
Selama dua hari setelah percakapan di kantin itu, gue terkena demam. Lucu memang, masa gara-gara shock patah hati gue sampai harus demam. Tapi gue tetap dipaksa masuk sekolah, Ibu gue sama sekali tidak mengizinkan gue bolos dengan alasan sakit. Katanya, “Ada-ada aja kamu ini sakit, Nak. Gak mungkin kamu tiba-tiba sakit gini cuma karena begadang atau apalah. Hayo... patah hati ya? Kamu habis putus atau gimana?”
32Please respect copyright.PENANAnp7VJ8fxPr
Pertanyaan Ibu kemarin enggan gue jawab. Tapi memang tidak ada yang bisa mengalahkan insting seorang ibu, bukan?
32Please respect copyright.PENANAJmLtEaSMXf
𝄞⨾𓍢ִ໋ Kuyakin dalam hatiku
Kau satu yang kuperlu 𝄞
32Please respect copyright.PENANArlkr0ymkd8
“Ah elah, bisa-bisanya lagu ini keputer!” desis gue pelan. Secara acak, playlist Spotify gue memutar lagu itu. “Hahh...” Gue menghela nafas panjang.
32Please respect copyright.PENANAscJfOOCSsX
Selama dua hari itu pula, gue dan Aurel tiba-tiba menjadi sangat canggung. Dia sempat bertanya, mengapa ada sedikit perubahan sikap dari gue setelah kejadian di kantin waktu itu. Dengan bohongnya gue jawab gak ada apa-apa. Gue gak tahu apakah dia menangkap sebuah sinyal, atau insting perempuannya sedang bekerja, tapi selama dua hari itu kami gak lagi ngobrol seperti biasanya.
32Please respect copyright.PENANAp85rqj0r7s
Ada yang berubah, ada yang berbeda gitu aja.
32Please respect copyright.PENANA1ldABwSFm1
𝄞⨾𓍢ִ໋ Kuyakin cintamu
Tak 'kan terbagi Tak 'kan berpaling 𝄞
32Please respect copyright.PENANAx3axT3mhFR
Memang gak ada satu pun yang bisa gue lupa dari hari itu.
32Please respect copyright.PENANAC0LTbJoi7r
Ucapan soal first kiss-nya, dan nama kontak Aldo di ponselnya. Pedih, dengki, benci, iri, cemburu. Segala hal yang menggambarkan patah hati berkumpul jadi satu.
“Bangsat memang, tapi gue juga... andai gue gak terlambat menyadari?”
32Please respect copyright.PENANAcjiEjfBjpz
𝄞⨾𓍢ִ໋ Hingga kupasti menunggu
Selama apapun itu
Demi cinta yang kurasakan
Yang hanyalah kepadamu 𝄞
32Please respect copyright.PENANAnQA9n1dGUm
Tapi apakah gue masih bisa memiliki kesempatan?
32Please respect copyright.PENANAWYgPzMmSAE
Karena pagi ini gue sudah mengambil sebuah langkah yang impulsif. Gue melangkah menghampiri Budi saat kelas masih sepi, meminta bertukar posisi duduk dengannya. Dengan alasan paling bodoh yang bisa gue buat, “Gue pengen coba duduk agak depan, biar lebih fokus.” Gue pindah ke baris ketiga dekat jendela, meninggalkan Aurel yang kini tak lagi menjadi teman sebangku. Ia akan duduk bersama Budi di meja pojok belakang itu.
32Please respect copyright.PENANAGRXv5Q4icq
Dan keputusan itu langsung jadi bahan perbincangan di kelas.
32Please respect copyright.PENANAlHfYKP6yA3
"Eh, Revan sama Aurel kenapa sih? Kok mendadak pisah duduk?"
"Mereka bertengkar ya? Padahal kemarin-kemarin nempel melulu kayak perangko."
"Bukannya dari dulu emang cuma temen sebangku doang? Ya wajarlah kalau mau ganti suasana, bosan kali."
32Please respect copyright.PENANAd9RShoff5w
Gue pura-pura tidak mendengar, dan Aurel kelihatannya juga melakukan hal yangsama. Bahkan dia pun tidak bertanya apa-apa ke gue, perihal mengapa gue pindah posisi duduk. Hingga beberapa hari ke depan, kami terkadang masih saling sapa kalau tidak sengaja berpapasan. Masih bisa bekerja sama jika secara mendadak, jika tergabung dalam suatu kelompok belajar yang dipilih oleh guru.
32Please respect copyright.PENANAh8giErjtiE
Tapi semuanya terasa kaku.
32Please respect copyright.PENANADpdmB36eIf
Semua yang pernah gue nantikan, apa pun tentangnya, terasa hilang. Mungkin memang masih belum waktunya untuk menjadi biasa-biasa saja.
Memang gak ada lagi yang bisa diperbuat, selain menjauh sejenak.
32Please respect copyright.PENANA2ENNihR7Qb
***
32Please respect copyright.PENANAiMFhfF6Itg
“Wah gila, ujiannya susah banget!! Bisa gak lo, Rel?”
“Ez lah! Apa gunanya tiap hari belajar kalau gak bener-bener diperhatiin?”
“Cielah, sombong banget!”
“Wkwk ya iyalah! Gue sampai rela-rela tidur maleman dikit demi ulangan ini!”
“Beuh, emang paling mantap yang si top 3 ranking kelas kita ini! Btw, kantin yuk!”
“Yuk!!”
32Please respect copyright.PENANA2TwBawaqQv
Gue menatap punggung Aurel dari bangku gue saat ia melewatinya menuju kantin.
32Please respect copyright.PENANApuaVSzrzmW
Dua minggu sudah berlalu sejak gue memutuskan untuk pindah duduk. Bangku di sebelahnya kini diduduki oleh Rani, gadis berkacamata yang selalu membawa buku setebal batu. Sedangkan Budi memilih pindah lagi karena merasa sungkan untuk duduk di sebelah cewek.
32Please respect copyright.PENANAmTsCRTrqkT
Sungguh, masih terasa aneh ketika kami mendadak menjadi kaku dan asing seperti ini.
32Please respect copyright.PENANAQFA0pnlT9D
Walaupun, ketika kami tidak sengaja berpapasan di koridor sekolah, di tangga lantai dua, atau di depan pintu kelas, Aurel masih menyepa lewat senyum tipis dan gue juga membalasnya persis seperti itu. Kami juga sudah tidak lagi bertukar cerita random ataupun meme. Mungkin Aurel sekarang melakukan hal itu bersama pacarnya, si Aldo itu. Jika bisa gue terka, mungkin mereka sudah hampir satu bulan berpacaran. Entah kemesraan apa saja yang sudah mereka lakukan.
32Please respect copyright.PENANAlaVrSstMPV
Kadang kalimat ucapan Aurel di kantin waktu itu masih sering terngiang. Dan kadang, pikiran gue juga masih menerka apa maksud suara yang terjadi di dalam kamar Aurel hari itu. Setiap kali pikiran bajingan itu datang, ada rasa gelisah yang membakar di dalam diri gue.
32Please respect copyright.PENANAiITBTbtY2N
Dan kalau ditanya apa perasaan terdalam gue terhadap Aurel? Tentunya masih sama. Hal-hal yang tidak pernah bisa gue mengerti dengan jelas, kenapa gue bisa memiliki rasa rindu yang begitu mendalam terhadapnya?
32Please respect copyright.PENANA4VRFCNJua7
Gue masih merindukan Aurel setengah mati.
32Please respect copyright.PENANANscrYcxfHz
Sakit? Jangan ditanya, karena gue sama sekali gak bisa mengatakan hal itu kepadanya. Gak bisa dipungkiri, kalau ternyata gue masih menyukai cewek itu. Mungkin dengan kadar obsesif dan cemburu, yang jauh lebih gila dibanding sebelumnya. “Ternyata jatuh cinta tuh kayak gini ya?” gumam gue dalam hati. “Bener-bener bikin pikiran complicated!”
32Please respect copyright.PENANAOWgPim1gIP
Yang paling pedih, terkadang ketika gue sedang curi-curi pandang ke arah Aurel saat ada di posisi yang tepat untuk melihatnya. Entah itu di kantin, ataupun di kelas saat bangku-bangku harus digeser untuk tugas kelompok. Dada gue rasanya seperti ditusuk oleh ribuan pisau setiap kali melihat dia mencuri pandang menatap layar ponselnya, sambil tersenyum manis.
32Please respect copyright.PENANAlElKiZiepS
Semester ini terasa menjadi yang paling berat untuk gue jalani.
Gak hanya di sekolah, tapi juga di dalam kamar.
32Please respect copyright.PENANAqDojdzHpVZ
Pikiran gue cukup persistent untuk selalu memutar kenangan manis yang gue miliki bersama Aurel setiap kali gue rebahan di atas kasur. Gue udah gak tahan menyiksa pikiran sendiri, karena itu gue butuh pelarian. Hari Sabtu ini, gue memutuskan untuk pergi ke salah satu mall besar di daerah Jakarta Selatan. Rasanya gue ingin me-recharge diri dengan pergi ke Gramedia, melirik buku-buku menarik yang mungkin bisa gue beli.
32Please respect copyright.PENANACujD5dDc51
Gue memang harus keluar agar tidak di rumah terus memikirkan hal yang sama.
32Please respect copyright.PENANAGMYNr97KKk
Gue berpakaian seadanya, kaos hitam polos dipadukan dengan flanel sebagai outer, celana jeans longgar, dan sepatu kets. Gue berjalan menyusuri beberapa rak buku, mulai dari novel fiksi, filosofi, hingga komik. Melihat buku-buku yang terpajang rapi sangat menyenangkan buat gue. Jari-jari gue menyusuri punggung buku yang masih baru, memilih mana yang membuat gue paling berselera untuk dibaca. Dari beberapa judul yang tertera, gue memilih satu buku yang penulisnya sedang cukup diperbincangkan di media sosial.
32Please respect copyright.PENANAEv5NTUa1Ls
Gue bersandarkan pada pilar yang menyangga dinding kaca ruang Gramedia ini, yang view-nya mengarah ke pintu atrium lobby mall. Di sana terlihat beberapa orang berlalu-lalang. Gue mencari posisi yang enak untuk membaca sedikit buku ini, sebelum nantinya menentukan apakah gue bakal membelinya atau tidak.
Gue berharap, buku yang sedang gue baca ini bisa sedikit mendinginkan otak gue yang terus-terusan mendidih. Karena dari judul dan beberapa halaman yang gue baca secara acak, isinya terlihat sangat menarik.
32Please respect copyright.PENANAsS26YoVx5p
Di tengah suasana yang begitu tenang ini, takdir kayaknya memang lagi hobi bercanda kasar sama hidup gue. Saat sedang menikmati beberapa halaman pada buku itu, tiba-tiba saja mata gue ini terpancing untuk melirik keadaan sekitar. Saat arah mata gue melirik ke arah lobby... dia ada di sana.
32Please respect copyright.PENANAjeP3eVp0Fj
Dia kelihatan begitu clingy.
32Please respect copyright.PENANAy5bSsh88OE
Sesuatu yang belum pernah gue lihat, bahwa ia memiliki sisi yang seperti itu. Kedua tangannya melingkar erat di lengan seorang cowok bertubuh agak atletis. Kepalanya sesekali bersandar ringan di bahu cowok itu saat mereka berjalan, diiringi gelak tawa lepas yang membuat matanya menyipit manis. Penampilannya terlihat begitu modis dengan hijab abu-abu muda, kaos putih terbalut kardigan kuning, celana jeans berwarna biru, dan sepatu off-white.
32Please respect copyright.PENANARt0kMB4t2X
Dia terlihat begitu cantik di antara kerumunan yang berlalu-lalang.
32Please respect copyright.PENANAAmEKJxWFqJ
Pemandangan itu benar-benar menghancurkan sisa-sisa ketahanan mental gue. Seluruh aliran darah gue berubah menjadi lahar panas. Api cemburu yang selama dua minggu ini gue pendam di dalam dada, mendadak menyembur liar. Membakar habis seluruh logika dan akal sehat yang gue punya. Tanpa mengindahkan suara peringatan di dalam kepala, gue menutup buku itu, lalu melangkah keluar dari Gramedia.
32Please respect copyright.PENANA3IuDGZb2tI
Langkah gue mengikuti mereka dari jarak yang cukup jauh untuk membuntuti mereka.
32Please respect copyright.PENANAb7v6f0JMiQ
***
32Please respect copyright.PENANASzf7bGNVss
“Kaelan...”
“Aldo...”
Ini pertama kalinya gue melihat muka aslinya.
32Please respect copyright.PENANA95G1chpt9T
Dengan menjaga jarak aman, gue mengikuti kemanapun langkah kaki mereka mengarah. Gue berusaha menjaga posisi agar selalu ada orang di antara jarak kami, untuk menyembunyikan kehadiran gue jika tiba-tiba Aurel menoleh sedikit saja. Kalau kalian membayangkan posisi gue dekat dengan mereka, tentu gue tidak sebodoh itu. Gue memberikan jarak sekitar 10 sampai 15 orang.
32Please respect copyright.PENANAezA1lb3obp
Langkah kaki gue pun pelan, tapi tetap diusahakan terlihat senormalnya orang berjalan. Bisa mencurigakan banget kalau gue sampai berjalan mengendap-endap kayak maling, di mata security ataupun CCTV. “Gila. Lo bener-bener udah gila, Revan!” tegur batin gue keras-keras. “Ngapain gue nekat melakukan tindakan stalker menyedihkan kayak gini? Kalau sampai ketahuan, mau ditaruh di mana muka gue?”
32Please respect copyright.PENANAKzPjpWncKj
Ah, tapi memang... kadang orang bisa jadi bego kalau udah jatuh cinta.
32Please respect copyright.PENANAZSiPsBcLby
Mata gue terkunci, fokus pada punggung Aldo dan kibasan ujung hijab Aurel. Mantan teman sebangku gue itu menampilkan sesuatu yang benar-benar berbeda. Saat dia saat menoleh ke atas, menatap wajah Aldo sambil tertawa lepas. Mereka terlihat cocok, terlalu cocok. Hingga bisa menimbulkan asumsi kalau mereka bukanlah pasangan baru, bukan dua orang yang baru beberapa minggu saling kenal.
32Please respect copyright.PENANAHk46b9ZxuK
Pemandangan itu cukup kontras. Jari-jari mereka yang saling menggenggam erat, berbanding terbalik dengan kencangnya kepalan tangan gue.
32Please respect copyright.PENANA6Lv7Cl3WWV
Mereka terus berjalan melewati deretan toko sepatu, belok di persimpangan atrium, hingga akhirnya mereka naik eskalator menuju satu-satunya tempat paling atas di mall ini. Bioskop XXI.
32Please respect copyright.PENANAeMkFz8NiBw
Langkah kaki gue terhenti di dekat tiang pembatas eskalator. Kepala gue mendadak pusing hebat. Gambaran liar kemesraan mereka di dalam sana nantinya terus merasuki isi kepala gue.
32Please respect copyright.PENANAuNCMb5nRDs
“Pulang!” bentak sisi logika gue.
“Naik!” paksa sisi hati gue.
32Please respect copyright.PENANAMctLs0puMh
Dua suara pertimbangan itu menuntut keputusan arah langkah kaki gue. Akankah menyakiti diri ini lebih dari yang telah terjadi, atau menyelamatkan sisa-sisanya?
Meskipun jawabannya sudah sangat jelas di depan mata dan dilihat dari dekat, tetap saja ada ego yang paling batu.
32Please respect copyright.PENANAtyHnIuGWS8
Gue melangkah naik ke eskalator itu. Rasa cemburu yang membakar membuat tubuh gue bergerak di luar kendali.
32Please respect copyright.PENANAteamLsVdDz
Sekalipun tekad gue begitu bulat untuk masuk ke XXI, jantung gue berdegup gila-gilaan. Gue tahu ini bodoh, gue tahu ini salah, dan itu membuat gue sadar kalau saat ini gue sama sekali gak bawa masker ataupun topi untuk menyamarkan wajah. Jika Aurel sedang menoleh, atau ternyata gue berjarak dekat dengan dia di bioskop ini, dia pasti akan langsung mengenali sosok mantan teman sebangkunya ini.
32Please respect copyright.PENANA9cQo5TxriY
“Fuck! Bego, bego! Makanya jangan impulsif! Makanya pikirin baik-baik, Revan!” bentak sisi logika gue lagi.
32Please respect copyright.PENANAtqQdvaRx5D
Otak gue bekerja keras, mata gue melirik ke seluruh penjuru mencari keberadaan Aurel saat ini. Dan gue menemukannya, melihat Aurel sedang menunjuk ke arah lorong toilet, sambil mengatakan sesuatu ke Aldo. Lalu berjalan meninggalkan cowok itu sendirian dari barisan antrean tiket.
32Please respect copyright.PENANA6HKPk3iZGG
“Ini kesempatan gue!”
32Please respect copyright.PENANAZ3gmsQMGZs
Tanpa membuang waktu, gue langsung masuk ke dalam barisan antrean tiket. Hanya ada dua orang yang menjadi pemisah antara gue dengan posisi cowok itu. Gue menatap layar TV yang ada di atas loket, menerka apa yang sekiranya bakal mereka tonton. Gue memutar ingatan, memfokuskan apakah ada petunjuk dari hari-hari di sekolah. Di antara aroma khas popcorn yang tercium, suara beberapa percakapan, dan hawa dingin pendingin ruangan yang menusuk kulit, gue mencoba fokus dari segala distraksi yang mengganggu.
32Please respect copyright.PENANAJ9y0Utrzb3
“Supergirl!”
Nama film itu langsung muncul di dalam otak gue. Pilihan film yang sedang populer minggu ini.
32Please respect copyright.PENANAHIkmyrIj17
Di satu sisi gue yakin mereka akan menonton itu, tapi di sisi lain gue gak yakin insting gue tepat. Tapi kalau memang gue tidak menonton film yang sama, ya udah lah ya.
Terlihat Aldo sudah selesai membayar. Dan gue pun jadi kepikiran, “Andaikan tebakan gue bener kalau mereka nonton Supergirl, terus seat yang mereka pilih apa?” Otak gue terus bekerja, seperti sedang merangkai dan menyelesaikan tugas rumus matematika.
32Please respect copyright.PENANAS12j55Tt9n
Sampai gue gak sadar, kalau mbak kasir meminta gue untuk maju.
32Please respect copyright.PENANA74zzfFkvdp
"Mas... Mas, silakan Mas," sapa mbak kasir dengan senyum ramah standar pelayanan bioskop. Gue yang tersadar langsung melangkah maju. Gue sempat melihat sekeliling, mata gue menangkap sosok Aldo yang sedang mengantri membeli popcorn.
32Please respect copyright.PENANAlansOYNovs
"Mas… mau nonton film apa, Mas?" tanya mbak kasir, menyadarkan gue lagi.
32Please respect copyright.PENANAs591c2uGKg
"Ehh... Supergirl," jawab gue serak, berusaha sekuat tenaga menetralkan intonasi suara agar tidak terdengar gemetaran.
“Yang tayang jam berapa, Mas? Dan untuk berapa orang?”
32Please respect copyright.PENANAnVTBi6GZUo
“Satu orang aja, Mbak. Jam yang paling dekat.” Karena itu satu-satunya alasan mereka sudah ada di bioskop, kan?
"Oke, jam 17.15 ya, Mas. Pertunjukan sepuluh menit lagi. Silakan pilih kursinya." Layar monitor yang menampilkan denah kursi studio diputar ke arah gue.
32Please respect copyright.PENANA9T6PYN55uS
Mata gue langsung memindai layar monitor di depan kasir. Sebagian besar kotak-kotak kecil di layar sudah berwarna merah, tanda kursi yang sudah terjual. Gue berdiam diri agak lama di depan meja kasir, berpura-pura bingung memilih, padahal otak analitis gue sedang bekerja keras melakukan kalkulasi probabilitas. Mengingat Aldo pasti memesan dua tiket, maka sepasang petak merah yang posisinya bersebelahan pasti milik mereka!
32Please respect copyright.PENANAW5Gq7fwlkH
Mata gue dengan jeli menemukan dua petak merah yang berdampingan di deretan Row D bagian tengah. Posisi favorit pasangan kekasih, yang ingin menonton dengan jarak pandang paling pas ke layar. Kecuali kalau mereka ingin yang lebih mesra. Kalau kata orang-orang yang berpengalaman, biasanya bakal milih di ujung kanan atau kiri Row A.
32Please respect copyright.PENANAaUIzPXJZMy
Sekarang, tugas gue adalah memilih kursi yang memberi view paling bebas untuk mengawasi gerak-gerik mereka dari belakang. Tetapi, juga tetap aman dari jangkauan pandangan mereka, jika sewaktu-waktu Aurel menoleh ke belakang.
32Please respect copyright.PENANAJUTnL1y960
Karena gak mungkin juga, gue mengambil baris paling depan, konyol aja.
32Please respect copyright.PENANA8fC05tOAfI
Pilihan paling rasional dan taktis adalah mengambil baris paling atas, agak memojok ke sudut. Meskipun gue sendiri gak yakin apakah asumsi ini benar atau tidak, akhirnya gue memilih yang masih tersedia saja dan yang paling realistis. Gue mengarahkan telunjuk ke layar. "Di baris paling atas aja, Mbak... kursi A10."
32Please respect copyright.PENANAOP1VqGCM34
"Baik, A10 ya Mas. Totalnya lima puluh ribu rupiah." Gue pun dengan cepat menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.
32Please respect copyright.PENANARMf65joHlc
Setelah meraih selembar kertas tiket yang dicetak mesin dan menerima kembalian, gue langsung buru-buru menyelinap pergi dari area kasir. Gue berjalan menepi ke sudut lorong yang agak remang dekat pintu Studio 3. Gue bersandar di dinding dingin, menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan jantung gue yang berdetak kencang terus dari tadi.
32Please respect copyright.PENANAd6nvCB1hb8
“Beneran sakit jantung nih gue, keseringan gini terus!”
32Please respect copyright.PENANA7FEwH6yHaU
Dan sekarang, gue bakal menunggu sampai kira-kira lampu-lampu di dalam ruangan bioskop benar-benar sudah dipadamkan total. “Berarti gue harus bertahan 3–5 menitan dari waktu penayangan.” Itu adalah strategi paling realistis.
32Please respect copyright.PENANAv3XxK3rY1A
Karena dengan kondisi teater yang redup, akan menyamarkan gue dari...
32Please respect copyright.PENANAb5jmZQswAA
“Revan...”
32Please respect copyright.PENANA7DtdP9d3Na
Eh?
ns216.73.216.39da2


