Gue mengutuki diri gue sendiri.
55Please respect copyright.PENANAlt0g85HELL
“Gak seharusnya gue naik ke atas. Gak seharusnya gue mendengar apa pun dari balik pintu itu. Gue harus turun sekarang!” Kata-kata itu terus berulang di dalam kepala gue.
55Please respect copyright.PENANAw3IE0LnRtU
Gue masih gak percaya dengan apa yang gue dengar. Gue berusaha menolak segala hal yang telah terjadi di depan mata ini. “Ini pasti salah dengar, kan? Aurel yang polos itu gak mungkin nakal, kan?”
55Please respect copyright.PENANAaj7kLrzuq4
Gue kembali teringat kejadian di rumah Aurel tadi, sesaat setelah gue terdiam mematung di depan kamar Aurel. “Gak mungkin Aurel kayak gini…” Seluruh tubuh gue rasanya melemas seketika.
55Please respect copyright.PENANAqhDbnPrZzC
Dengan sisa tenaga yang ada dari rasa shock ini, gue berusaha bersusah payah melangkah turun melewati anak tangga satu per satu secara sembunyi-sembunyi. Hingga, akhirnya gue tiba di ruang tengah bawah, gue langsung menyambar gelas berisi air putih yang ada di atas meja, meneguknya sampai habis, lalu memilih kembali duduk di karpet.
55Please respect copyright.PENANATQ54cLaVac
Gue mencoba berakting sewajar mungkin, seolah gue gak pernah melangkah satu senti pun dari tempat ini. Padahal, dada gue masih bergemuruh hebat, otak gue gak bisa diajak kompromi. Terus-terusan memutar ulang suara yang sangat menyerupai desahan itu.
55Please respect copyright.PENANA68rRXIqQcw
Sekitar lima menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari tangga.
55Please respect copyright.PENANA1W5GRAbLnp
Gue mendongak pelan, menatap Aurel yang sedang turun. Dia sudah berganti pakaian menggunakan kaos oversized abu-abu dengan celana pendek hitam. Rambutnya yang sedikit lembap di ujungnya dibiarkan terurai begitu saja. Hijabnya sudah tidak ia kenakan lagi. Penampilannya yang sangat santai ini justru menambah rasa campur aduk di dalam dada gue.
55Please respect copyright.PENANAxv2473stiS
Tapi yang paling bikin gue kesal adalah, saat melihat wajahnya yang tampak sangat berseri-seri. Rona merah tipis menghiasi pipinya, matanya berbinar segar, dan auranya terasa mendadak sangat berbeda dibandingkan sebelum ia beranjak mandi tadi.
55Please respect copyright.PENANAuqiETCEqO8
Terlalu ceria, terlalu rileks untuk seseorang yang bilangnya cuma habis mandi. Dan yang paling menyebalkan... gue tahu sedikit alasan di balik perubahan aura yang berseri itu.
55Please respect copyright.PENANA9Vx6CJXiTl
"Sori ya, Van, lama banget!" ucapnya sambil berjalan menghampiri karpet tempat gue duduk. "Biasalah, cewek agak lama kalau urusan perbilasan, hihihi... Btw gak apa-apa kan gue pakai baju santai gini?"
55Please respect copyright.PENANA9bBj9p9w2i
Sebenarnya, Aurel terlihat sangat manis, lebih cantik malahan jika di bandingkan dengan penampilan ketika ia di sekolah. Dan ini pertama kalinya gue melihat dia berpenampilan seadanya seperti ini. Cuma, karena rasa kesal dan cemburu yang memenuhi diri gue, gue hanya mampu merespons dengan memaksakan senyuman paling kaku, yang pernah gue buat seumur hidup.
55Please respect copyright.PENANAa1keDWiJMC
"Santai aja, Rel. Lagian ini kan rumah lo, masa gue larang tuan rumah pakai baju yang nyaman buat dirinya? Dan tugas makalah kita juga udah selesai kok, paling tinggal dicek ulang barengan..."
55Please respect copyright.PENANAWkCNDOMUdn
"Mana-mana lihat," ucapnya sambil langsung duduk di samping gue.
55Please respect copyright.PENANA0GmoQ5ZD8p
Dia menggeser duduknya cukup dekat, membuat aroma wangi sabun dan wangi tubuhnya sehabis mandi tercium jelas. Aroma itu sekarang justru makin menyiksa batin gue, memicu bayangan suara yang baru saja terjadi dari balik pintu kamarnya. “Sialan! Anjinglah! Siapa pun itu, habis ngapain dia sama Aurel?! Arrghhh!!!” jerit gue dalam hati yang terus tersiksa.
55Please respect copyright.PENANApc3rOZH3Fi
Gue pun gak mungkin melanjutkan pikiran kotor itu, gue gak mau membayangkan apa saja yang terjadi di dalam kamarnya tadi.
55Please respect copyright.PENANAS5puHkkHZF
"Nah, bagian teori ekosistem yang lo ketik ini udah rapi banget sih, Van," kata Aurel sambil menatap layar laptop, jemarinya lincah menggeser touchpad. "Paling ada dua istilah Latin di bagian rantai makanan yang lupa diketik miring. Gue benerin sekalian ya."
55Please respect copyright.PENANAdgu4BfSpvH
"Oh... iya, sori. Kelewatan kayaknya tadi," sahut gue kaku, berusaha memfokuskan mata ke layar walau pikiran gue melayang entah ke mana.
55Please respect copyright.PENANABdQ3jHTyDh
"Gak apa-apa, santai aja. Makasih ya udah mau ngetik bagian yang panjang ini," balasnya santai tanpa beban.
55Please respect copyright.PENANAXtwQqyY06M
Tepat pukul 19.10, suara klakson motor yang khas terdengar dari luar rumah. Aurel langsung berdiri dengan mata berbinar. "Nah! Itu tukang nasgor langganan gue lewat! Bentar ya, gue beli dulu." Dia berjalan ke luar sebentar, dan tak lama kembali membawa dua bungkus nasi goreng yang terasa hangat.
55Please respect copyright.PENANAHH6FdAfVha
Kami pindah duduk berhadapan di meja makan, menyantap nasi goreng itu sambil membaca ulang draf akhir makalah Biologi kami.
55Please respect copyright.PENANATTB5JXfgTp
Aurel mengajak gue ngobrol dengan sangat santai sepanjang makan. Percakapan itu mengalir tanpa canggung sedikit pun. Seolah kejadian beberapa menit lalu, di lantai dua itu tidak pernah terjadi di dalam hidupnya. Sementara gue? Gue cuma bisa merespons seadanya "Hmm, iya, betul" sambil menelan nasi goreng yang rasanya seperti mengunyah kertas hambar.
55Please respect copyright.PENANAcheFy2cNns
Gue bahkan gak sanggup menatap matanya terlalu lama.
55Please respect copyright.PENANAR5DonENvzh
Tepat pukul 19.40, seluruh tugas makalah kami resmi selesai dikoreksi dan siap cetak. Gue merapikan barang bawaan gue, memasukkan buku-buku ke dalam tas. "Rel, gue pamit pulang ya. Udah mau jam delapan juga."
55Please respect copyright.PENANAO1cXCPf112
"Oke, hati-hati di jalan ya. Bawa motornya pelan-pelan, Van," ucap Aurel penuh perhatian.
55Please respect copyright.PENANA5adp4MLaLH
Dia memberikan senyuman manisnya ke arah gue, lalu berjalan berdampingan mengantar gue sampai ke depan pagar rumahnya. "Btw, makasih banyak ya udah mau mampir dan bantuin ngerjain tugas hari ini," tambahnya saat gue sudah berada di atas motor. "Sama-sama, Rel. Gue balik dulu ya," balas gue pelan.
55Please respect copyright.PENANA7K9JV6o7bn
Gue menyalakan mesin motor, mengenakan helm, lalu melaju pergi meninggalkan kompleks rumahnya.
55Please respect copyright.PENANAjLeVo7RnPu
***
55Please respect copyright.PENANAAgJF4C1wIk
Kembali ke dalam kamar.
55Please respect copyright.PENANA3ioWkZ0TOx
Gue telentang uring-uringan di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang seakan-akan lagi sibuk menertawakan kebodohan gue.
55Please respect copyright.PENANApyBDJj4Ofm
Ingin rasanya gue tertidur seketika, atau pingsan sekalian. Biar seluruh beban emosi bangsat ini ditelan malam gitu aja. Biar hilang tanpa sisa, gak perlu sampai kebawa mimpi. Tapi begitu mata gue terpejam, kegelapan di balik kelopak justru makin jelas, memutar ulang rekaman kejadian di lantai dua tadi.
55Please respect copyright.PENANAXY2Ou3cERk
Suara desahan pelan itu, tarikan nafasnya yang tersengal, dan bisikan "Aahh... ngh... cepat, teman aku nungguin..."
55Please respect copyright.PENANAJFJFTV4fLW
"Anjing... anjinggg!!" gumam gue pelan, lalu membenamkan wajah dalam-dalam ke bantal yang gue tarik kasar.
55Please respect copyright.PENANA0cbUdwprTG
Gue marah, gue cemburu, gue gak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Aurel. Gue gak rela kalau dia kenapa-kenapa, atau sampai diapa-apain sama cowok gak jelas!
55Please respect copyright.PENANAthwgI1G5YU
Tapi di satu sisi, gue sadar gue gak punya landasan atau hak sama sekali buat cemburu. Gue bukan siapa-siapanya dia. Dan gue gak tahu sejauh apa hubungan Aurel sama si Kaelan-Kaelan itu.
55Please respect copyright.PENANAb663Zs0BLK
Apakah mereka masih sebatas PDKT, atau... jangan-jangan tadi... suara desahan Aurel itu memang nyata, tapi ditujukan buat orang yang berbeda?
55Please respect copyright.PENANAvUFX4FkGjI
Pikiran gue hancur berantakan.
55Please respect copyright.PENANA5wOqqfuhE9
Rasanya seperti dihantam bom atom secara bertubi-tubi tanpa diberi jeda buat bernapas. Ponsel gue yang ada di sebelah bantal, bergetar pelan, menyisakan kerlip cahaya notifikasi di kamar yang remang. Saat gue melirik, itu adalah pesan masuk dari Aurel.
55Please respect copyright.PENANA9dpYsr7OvD
Aurel:
Van, udah sampe rumah kan? Makasih ya udah nemenin ngerjain tugas hari ini 😊 Besok gue traktir es teh di kantin deh!
55Please respect copyright.PENANAdnmh6NWI2R
Gue memandangi pesan itu selama beberapa menit. Ibu jari gue bergulir di atas layar, mengetik balasan singkat, menghapusnya lagi, mengetik ulang, sampai akhirnya cuma satu kata datar yang sanggup terkirim.
55Please respect copyright.PENANAs1F4BquFHp
Gue:
Sama-sama, Rel.
55Please respect copyright.PENANAfHG2HjGgGk
Gue melempar ponsel menghadap ke bawah di samping bantal. Mixed feelings benar-benar meracuni isi kepala gue. Rasa cemburu, asing, kotor, dan rasa bersalah bergulung jadi satu adonan perih yang meracuni pikiran gue.
55Please respect copyright.PENANAWTo8wdVirh
Tapi rasa penasaran yang gak sehat itu terus memprovokasi. Gue meraih ponsel gue lagi, membuka aplikasi Instagram, lalu jempol gue secara cepat mengetik nama akun yang sudah beberapa hari ini sengaja gue hindari.
55Please respect copyright.PENANAciHrAQrOYA
@kaelan.r.
55Please respect copyright.PENANAUPDeHkAR7B
Di sana lingkaran merah melingkari foto profilnya, menandakan ada story yang dia unggah. Gue mengetuknya. Ada 6 garis bar di bagian atas layar, tanda ada 6 postingan.
55Please respect copyright.PENANAa2zdIuAYD1
Gue mengetuk layar satu per satu untuk menggeser story dari yang pertama sampai kelima. Isinya masih mirip seperti biasanya: aktivitas harian, lapangan sepak bola, sama foto random. Dan story itu di unggah dalam rentang waktu yang sama, karena jaraknya 1-2 jam. Dan kalau diperhatikan lagi, Kaelan ini sepertinya bukan anak sekolah biasa. Mungkin dia anak kuliahan, karena tidak ada tanda-tanda di profilnya yang menunjukan, ia masih menjadi seorang pelajar.
55Please respect copyright.PENANAD8JBa29dp0
Pas story berganti ke postingan keenam, foto yang baru saja di upload 50 menit yang lalu, tepat ketika gue masih berada di rumah Aurel. Sebuah foto black and white terpampang di layar.
55Please respect copyright.PENANALrd6GjMHie
Visualnya sedikit blur, tapi diambil dari jarak close-up. Gue memicingkan mata, memperhatikan objek foto itu dengan saksama. Foto close-up yang objeknya seperti seorang cewek. Cuma menampilkan senyuman dan sebagian garis pipinya. Dan di sudut foto itu, ada tulisan caption pendek:
55Please respect copyright.PENANAsNd2qQRCgM
"I miss that smile, can I bite that again?"
55Please respect copyright.PENANAviWJryu8jh
Setelah benar-benar gue perhatikan dengan baik-baik, rasa merinding muncul seketika. Tubuh gue bergetar, perut gue mendadak mual hebat. Gue kenal betul garis bibir itu.
55Please respect copyright.PENANAtqX8vQQ13K
Dan gak salah lagi, satu-satunya yang gue tahu, yang memiliki garis senyuman seperti itu hanyalah Aurel!
55Please respect copyright.PENANAfdLRiyBnhm
Setelah bukti kuteks kuning di story waktu itu, dan sekarang foto senyuman ini... gue benar-benar gak tahu sudah sejauh apa hubungan mereka.
55Please respect copyright.PENANAundAI6Xxx2
Apakah mereka sebenarnya sudah resmi jadian? Tapi kenapa secepat ini?!
55Please respect copyright.PENANA0Cb3TrL9E2
Rasanya gak masuk akal bisa secepat itu jadian sama seseorang yang baru dikenal dari media sosial. Otak gue menolak menerima kenyataan ini, ditambah lagi mata gue terkunci kejam pada kalimat bajingan itu: "Can I bite that again?" Seketika, dipadukan dengan suara desahan yang gue dengar dari balik pintu kamar Aurel tadi, pikiran gue berubah jadi sangat kotor.
55Please respect copyright.PENANA7KopCVwtV1
"Apakah... apakah Aurel... udah...?"
55Please respect copyright.PENANAIVFFxrTlqq
Setetes air mata lolos begitu saja dari sudut mata gue. “Gak… gak..gak mungkin…” Konklusi yang terbentuk di kepala gue terhadap Aurel, cewek yang selama ini gue kira sangat polos, membawa rasa sakit yang terlalu destruktif buat diungkapkan dengan kata-kata.
55Please respect copyright.PENANADTXnmWmHK1
Gue merasa haus akan kebenaran.
55Please respect copyright.PENANA8MdKRdy66h
Gue ingin tahu lebih banyak, ingin tahu seberapa jauh Aurel sudah melangkah bersama si Kaelan. Dan yang bikin dada gue makin sesak...
55Please respect copyright.PENANAftCnTW2vrI
Apakah Kaelan itu bahkan nama aslinya, atau sekadar identitas di balik layar? Yang sedang merusak semua hal tentang Aurel yang dulu pernah gue jaga di dalam pikiran gue?
ns216.73.216.39da2


