Gue mulai menggila kayaknya...
56Please respect copyright.PENANAiB9Tbs4sE4
Sudah tiga hari berlalu, sejak Aurel bercerita perihal dia yang baru pulang dari tempat tersembunyi, tapi estetik itu. Cerita yang berujung sukses membuat pikiran gue kotor dan liar di kepala gue, sampai detik ini.
56Please respect copyright.PENANAOYohR7NX8g
Bahkan ketika duduk berdua di kelas seperti biasa, gue makin merasa ada jurang yang semakin melebar di antara kami. Hal-hal yang kontras dari kebiasaan lamanya mulai jelas terasa. Terutama perihal fokus matanya, yang sekarang seolah terkunci rapat ke layar ponselnya.
56Please respect copyright.PENANAmIlZ6EIpYT
Dia sudah mulai kecanduan.
56Please respect copyright.PENANAicbwjOKgK7
Hampir tiap menit, matanya selalu terpancing ke sana. Menunggu notifikasi chat baru yang bakal muncul terus, untuk ia balas dengan senyuman kecil di bibirnya. Jujur, hal itu bikin gue risih setengah mati.
56Please respect copyright.PENANAVvULwe9cEf
Gue cemburu, cemburu berat.
56Please respect copyright.PENANAG8lKurQIYH
Gara-gara benda itu, Aurel jadi seakan gak punya waktu lagi, buat sekadar melempar obrolan random ke gue kayak biasanya. Semua waktu dan perhatian yang dia punya sekarang, habis cuma buat layar ponselnya, atau lebih tepatnya, buat cowok di seberang layar itu.
56Please respect copyright.PENANAjacfZkqxqa
“Anjinglah, gini amat ye hati gue…” Gue sadar, gue gak punya alasan atau hak yang sah buat merasa kesal kayak gini.
56Please respect copyright.PENANASilivzAfqQ
Aurel bukan milik gue, kami hanyalah teman sebangku. Teman yang dekat, teman yang ngobrol hampir tiap hari, teman yang saling bertukar contekan dan meme, atau sekadar bergosip ringan soal guru yang bikin kesal.
56Please respect copyright.PENANAwkmIQOCK5V
Kami memang tidak pernah lebih dari itu.
Tidak pernah.
56Please respect copyright.PENANANH2DVD23dX
Gue mencuri-curi pandang ke arahnya dari samping. Profil wajahnya, yang baru sadar, gue cukup kagumi diam-diam. “Walaupun kehadiran gue selalu ada di sebelah dia, apakah rasa nyaman itu gak cukup buat bikin Aurel tertarik sama gue? Atau ini semua gara-gara gue yang gak pernah berani minta lebih, gak pernah berani ngasih sinyal yang lebih jelas?” batin gue meratapi nasib.
56Please respect copyright.PENANApGcQ9cXktu
“Apakah salah selama ini kalau gue cuma diam? Gak pernah punya nyali buat melangkahi garis pertemanan yang gue buat sendiri?” Tanpa sadar, nafas gue berembus berat dan agak kencang.
56Please respect copyright.PENANADc7un3HRtw
Helaan nafas itu cukup nyaring sampai bikin Aurel mendadak menoleh.
56Please respect copyright.PENANAqp2JGWT9ap
"Kenapa, Van? Kok lo kayak sesak nafas gitu?" tanyanya sambil menurunkan ponselnya sedikit. Gue yang tersentak kaget langsung gelagapan mencari alasan. "Gak apa-apa, Rel. Tadi cuma... agak gak nyaman aja dada gue."
56Please respect copyright.PENANA83yhWY5etx
Aurel mengernyit, memiringkan kepalanya sedikit. "Idih, kenapa lu? Sakit?"
“Iye... sakit hati nih gue gara-gara lu!” umpat gue dalam hati.
56Please respect copyright.PENANAXjBnOYuiM4
Tapi tentu saja, kalimat bajingan itu gak bakal berani gue ucapkan secara langsung. "Sakit sih enggak, cuma lagi agak panas aja rasanya," jawab gue bohong.
56Please respect copyright.PENANA8T2jCGpbmN
Ya, itu kebohongan paling aman, yang bisa keluar dari mulut gue saat ini.
56Please respect copyright.PENANAk38fg0xhuS
"Ke UKS gih, mumpung belum bel ganti pelajaran Pak Dedi." Aurel menjangkau lengan gue, lalu menepuk-nepuk bahu gue pelan.
56Please respect copyright.PENANAVojMo60IhC
Perhatian kecil yang sederhana. Tapi buat gue yang lagi dilanda sakit hati berat, sentuhan singkat itu sukses bikin pertahanan diri gue runtuh seketika.
56Please respect copyright.PENANAx0pTHZUXon
Hati gue yang tadinya mendidih mendadak luluh dan adem begitu saja. "Gak perlu kok, bentar lagi juga mendingan," jawab gue sambil memaksakan senyum tipis. Tapi dalam hati, gue malah nambahin, “Terus aja nyentuh bahu gue yang lama, Rel, biar tenang nih hati.”
56Please respect copyright.PENANAcjSuADdOq3
Aurel memperhatikan raut wajah gue sebentar, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Dia menarik tangannya kembali, lalu merapikan tumpukan kertas di atas mejanya. "Btw Van, lo ingat kan hari ini lo harus ke rumah gue?" tanya Aurel. Kali ini matanya menatap tajam ke arah gue, menuntut jawaban.
56Please respect copyright.PENANAbKtsJJU95D
Gue mengedipkan mata dua kali, bingung. "Eh? Emang ada apaan?" Gue mencoba mengingat-ingat agenda hari ini. Seingat gue, gak ada janji apa-apa.
56Please respect copyright.PENANAmkJQsYMDUu
Plak!
Aurel menjitak pelan jidat gue pakai ujung pulpennya.
56Please respect copyright.PENANA3K73zvqG1V
"Yeee... Si bolot! Kan kita ada tugas kelompok Biologi yang semeja! Lo ingat gak sih, besok kita harus ngumpulin paper-nya ke Bu Endang?! Lo mau besok diamuk di depan kelas?!"
56Please respect copyright.PENANApu94065Tlg
DEG.
56Please respect copyright.PENANAb7b1CZf5bS
Oh, iya! Gue baru ingat! Minggu lalu Bu Endang memang menginstruksikan tugas makalah Biologi tentang ekosistem, dan pengerjaannya wajib berdua sama teman sebangku. Gara-gara otak gue dipenuhi nama Kaelan dan bayangan Aurel di rumah sendirian selama tiga hari terakhir, tugas penting itu amblas total dari memori gue!
56Please respect copyright.PENANA01rtoR2QJK
"Sumpah, gue lupa dong! Hahaha!" Gue tertawa canggung sambil pura-pura menggaruk tenggorokan yang gak gatal. "Untung lo ingetin! Ya udah, nanti habis bel pulang kita langsung meluncur ke rumah lo." Jawaban itu gue ucapkan dengan jantung yang mendadak berdebar dua kali lebih cepat.
56Please respect copyright.PENANAz0tBBwRnpm
Bukan cuma karena panik karena tugas Biologi yang kelupaan, tapi karena fakta baru yang menghantam kesadaran gue. “Kalau ini bakal jadi pertama kalinya gue bertamu dan masuk ke rumah Aurel!”
56Please respect copyright.PENANAtAehsh7wHo
Aurel terkekeh pelan melihat reaksi kagok gue. "Hihihi... tumben amat lu pelupa gitu. Lagi mikirin apa sih lo? Uang jajan dipotong Mama ya? Hihihi." Gue cuma bisa tersenyum kecut, sambil menatap tawanya yang renyah.
56Please respect copyright.PENANAqZAlUgMpQc
“Mikirin lu lah, Si Koplak! Mikirin lu sama cowok itu sampai gue gak bisa tidur!” jerit gue dalam hati.
56Please respect copyright.PENANAZWjiu8VOa4
“Gak lah, sok tahu lu," cetus gue akhirnya, berusaha terlihat santai. “Tapi kemarin, bukannya lo bilang, rumah lo selalu sepi ya jam segini? Jangan sampai gue diciduk warga gara-gara bertamu cuma berdua."
56Please respect copyright.PENANALnYD6Yjce6
"Tenang aja, rumah gue emang selalu sepi kalau siang," balas Aurel santai, lalu matanya kembali melirik ke layar ponselnya yang menyala. "Ortu gue kan baru pulang malam. Jadi kita bisa fokus ngerjain di ruang tamu atau meja makan." Gue cuma mengangguk pelan, sementara di dalam dada, perasaan senang dan cemas bercampur aduk jadi satu.
56Please respect copyright.PENANAVa4CNhFsfO
Di satu sisi, gue punya kesempatan berduaan sama Aurel tanpa ada gangguan di rumahnya.
Tapi di sisi lain, mendadak bikin kepala gue kembali panas dingin.
56Please respect copyright.PENANAIhaoGFtpI6
***
56Please respect copyright.PENANAOwT75zZA0T
Setibanya di rumah Aurel, gue cukup kagum, rumahnya sungguh cantik.
56Please respect copyright.PENANAP9xpknrQPD

(ilustrasi rumah Aurel)
56Please respect copyright.PENANAJKAoeqheyZ
Bangunan dua lantai itu didominasi cat tembok berwarna putih gading, dipadukan dengan aksen elemen kayu hangat serta sedikit warna merah sebagai pemanis. Halaman depannya lumayan luas dengan beberapa pot tanaman kaktus tertata rapi di sana. Bentuk bangunannya lebih mirip rumah "tua" bergaya old money, tapi sama sekali gak kelihatan norak. Semua elemennya didesain dengan sangat rapi dan matang.
56Please respect copyright.PENANA8fbCZZbro6
"Ortu lo taste-nya bagus juga dah," puji gue jujur sambil mengamati sekeliling.
56Please respect copyright.PENANA8yXWx0HHmf
"Ya begitulah mereka. Kalau udah BM, gak bisa dihentiin," sahut Aurel sambil mendorong pagar besi, membuka pintu depan, lalu mempersilakan gue masuk. Kita kerjanya disini ya, di ruang tengah aja. Gak mungkin kan kita ngerjain tugas di kamar gue?" ujarnya terkekeh kecil.
56Please respect copyright.PENANALrrJ17OUL0
Gue cuma mengangguk pelan. Entah kenapa, beban tas ransel di bahu gue mendadak terasa jauh lebih berat, mungkin canggung gara-gara melihat betapa mewahnya rumah ini.
56Please respect copyright.PENANA7Yw4RkrLsL

(ilustrasi ruang tamu rumah Aurel)
56Please respect copyright.PENANAj8i0Y8OIg1
"Gue ke kamar dulu ya ngambil laptop. Kalau lo mau ambil minum, tinggal ke dapur aja," ucapnya menunjuk ke arah lorong kanan. "Sorry ya, Van, self service dulu hihihi..."
Jujur saja, mendengar ucapan Aurel bikin gue makin sungkan.
56Please respect copyright.PENANAiqRkAGF9dk
Bukan apa-apa, gue cuma takut refleks, bikin barang di dapurnya pecah atau tersenggol. Kan lucu banget, baru pertama kali bertamu ke rumah cewek, tahu-tahu udah memecahkan perabotan orang.
56Please respect copyright.PENANAjus2rKi2dH
Gue meletakkan tas di ruang tamu, melangkah pelan ke dapur, mengambil gelas polos yang terlihat di rak, mengisinya dengan air dari dispenser, lalu kembali ke ruang tengah. Gue duduk di karpet dekat meja sambil menunggu Aurel kembali dari kamarnya.
56Please respect copyright.PENANAd1iBRQGZIs
Gue gak sempat memperhatikan dia kemananya, tapi tebakan gue, kamarnya ada di lantai dua.
56Please respect copyright.PENANANHVdOkxbGI
Tak lama kemudian, Aurel kembali sambil membawa laptop, buku catatan, dan beberapa lembar kertas A4. Kami pun mulai fokus mengerjakan tugas kelompok Biologi. Awalnya semua berjalan normal. Aurel membagi porsi kerja: gue menggarap bagian teori ekosistem, sementara dia menyusun bagian pembahasan dan kesimpulan.
56Please respect copyright.PENANACcR0kBvVrH
Kami saling bertukar data, sesekali dia bertanya, sesekali gue yang minta masukan.
56Please respect copyright.PENANAAmheqF28yB
Sampai akhirnya di sela-sela waktu mengetik, rasa penasaran yang memendam di dada, membuat gue memberanikan diri untuk bertanya. Gue menanyakan perasaannya yang sering sendirian di rumah sebesar ini, saat hari kerja. Apakah dia gak merasa takut, sedih, atau kesepian?
56Please respect copyright.PENANA6tFvwjUUPV
Mungkin gara-gara perasaan yang pelan-pelan tumbuh di dalam dada, gue jadi ingin tahu lebih banyak tentang sisi Aurel yang tidak pernah dia tunjukkan di sekolah. Beberapa pertanyaan gue dijawabnya dengan bercanda. Tapi ada satu responnya yang menurut gue terdengar sungguh ironis. "Yaa kalau orang-orang mah biasanya daddy issue atau mommy issue, nah kalau gue borongan, dua-duanya, hihihi," sahutnya sambil tertawa lepas, seakan itu bukan hal yang perlu dikasihani.
56Please respect copyright.PENANAz0xfOaEfup
Padahal gue tahu betul, di balik tawa lepas itu, hatinya pasti menyimpan luka yang gak pernah dia perlihatkan. Ingin rasanya gue beranjak dari posisi duduk gue saat ini, menghampirinya, lalu mendekap tubuhnya erat-erat.
56Please respect copyright.PENANAqlABzlJEXp
Gue ingin menenangkan hatinya yang diam-diam rapuh. Tapi logika langsung menampar gue untuk sadar. Bahwa gue gak punya hak buat melakukan hal sejauh itu.
56Please respect copyright.PENANAHlfShHHCRy
Gue takut tindakan impulsive gue, malah makin melukai perasaannya.
56Please respect copyright.PENANALh1eTe3hvb
Atau lebih buruk lagi, Aurel bakal merasa kecewa. Karena gue bertindak melangkahi batas pertemanan, padahal sinyal asmara di antara kami belum pernah ada secara jelas. Gue cuma bisa meratapi diri sendiri. Kenapa baru sekarang gue sadari, kalau gue ternyata sangat menyukai dirinya?
56Please respect copyright.PENANAj2YUeTqNXk
Namun, dalam beberapa menit kedepan, perubahan sikap Aurel kembali terasa saat waktu semakin merambat malam. Dia makin sering melirik ke layar ponselnya. Senyuman kecil itu beberapa kali muncul lagi di bibirnya, yang lantas dibalasnya dengan mengetik balasan cepat sebelum mengunci layarnya kembali.
56Please respect copyright.PENANAn5urxYElP7
Gue berpura-pura tidak melihat hal itu, padahal rasa cemburu yang perih kembali mengalir menembus seluruh pembuluh darah gue.
56Please respect copyright.PENANA1RmH0eYGgl
Sekitar jam setengah tujuh malam, Aurel mendadak menutup laptopnya.
56Please respect copyright.PENANA49WyUXm48M
"Ini kita udah beres kan ya, Van? gue ke atas dulu ya. Mau mandi sebentar, udah gak tahan gerah banget. Lo jangan pulang dulu ya, nanti kira-kira jam tujuh ada tukang nasgor favorit gue lewat. Kita makan bareng ya, Van," ucapnya menatap gue penuh harap.
56Please respect copyright.PENANAGnht9dgw7t
Gue mengangguk pelan. "Tapi gue jangan lama-lama ditinggal ya, Rel. Nanti gue bingung kalau ortu lo tiba-tiba pulang duluan gimana."
56Please respect copyright.PENANAO0JdgpD8In
"Hihihi, santai aja. Gue tinggal sebentar ya..."
"Oke."
56Please respect copyright.PENANAov2LUjCTX4
Dia berdiri, meraih ponselnya di meja, lalu melangkah menuju lantai dua dengan terburu-buru. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar tertutup dari atas.
Gue menunggu di ruang tengah.
56Please respect copyright.PENANAtQbMPLTWsw
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Dua puluh menit.
Dua puluh lima menit.
Tiga puluh menit.
56Please respect copyright.PENANAbP9DefA02L
Gue yang sudah berkali-kali memeriksa ulang ketikan makalah kami mulai dilanda cemas. Mengapa Aurel belum juga turun? Di satu sisi, gue mencoba menenangkan diri kalau cewek memang biasanya butuh waktu mandi yang agak lama.
56Please respect copyright.PENANApqba8C3RYx
Tapi rasa gelisah ini gak bisa ditepis begitu saja.
56Please respect copyright.PENANAtmOLNUvCPZ
Rumah yang sepi ini mendadak terasa terlalu hening. Gak ada suara televisi, gak ada radio, cuma detik jam dinding di atas lemari yang suaranya terdengar makin nyaring dan konstan. Gue menelan ludah yang terasa seret. "Rel?" panggil gue pelan dari ruang tengah.
56Please respect copyright.PENANAVRfeQWHMLJ
Tidak ada jawaban.
56Please respect copyright.PENANA86YlWrbQ6p
"Rel...?" panggil gue lagi, sedikit lebih keras.
56Please respect copyright.PENANAYLK7PTta6k
Masih hening.
56Please respect copyright.PENANAFYaFCSxVJ6
Gue beranjak berdiri. Jantung gue mulai berdegup lebih cepat dari ritme normal. Gue berjalan mendekati kaki tangga kayu, lalu menengadah memanggil lagi. "Rel... lo masih di atas, kan? Masih mandi?"
56Please respect copyright.PENANATBtiYuzBZ9
Tetap tidak ada balasan.
56Please respect copyright.PENANAH65ayLzHsG
"Rell...?!" Kali ini gue memberi penekanan penuh pada panggilan gue.
56Please respect copyright.PENANA8DxQNLGgR1
Beberapa detik kemudian, suara Aurel akhirnya terdengar. Suaranya agak jauh, teredam rapat karena berasal dari dalam ruangan tertutup di lantai dua.
56Please respect copyright.PENANAaNPPb0nGH8
"Bentar ya, Van... ngh..." Suaranya terdengar... aneh. Agak serak, agak terengah-engah.
“Kenapa tuh anak?” Rasa penasaran yang tidak sehat, mulai menggerogoti pikiran gue.
56Please respect copyright.PENANA82Nvtd4pZz
Gue mulai menaiki anak tangga satu per satu, mengusahakan langkahan kaki sekecil dan sepelan mungkin. Area lantai dua terasa makin sepi, apalagi lampu koridornya belum dinyalakan, memberi kesan remang dan agak tegang.
56Please respect copyright.PENANACnZRftdqnF
Tapi gue berusaha menepis rasa takut itu.
Gue jauh lebih khawatir kalau Aurel kenapa-kenapa di kamarnya.
56Please respect copyright.PENANAXJAadd1yrV
Gue memperhatikan sekeliling koridor sempit itu. Ada tiga pintu terpasang di sana, dua di sisi kiri dan satu di sisi kanan. Gue memilih melangkah langsung menuju pintu kedua di ujung kiri, karena dari sela bawah pintunya memancar bias cahaya lampu kamar yang menyala. Gue berhenti tepat di depan pintu kamar itu.
56Please respect copyright.PENANAuFA5kduJYy
Ada keraguan besar untuk mengetuk atau sekadar memanggil namanya kembali. Akhirnya, gue memilih untuk menempelkan telinga di daun pintu kayu itu, memfokuskan pendengaran buat menerka apa yang sedang terjadi di dalam.
56Please respect copyright.PENANAKwINoUxyJr
“Gak mungkin dandan, kan? Tapi kalau kedengaran suara hair dryer, ya udah deh gue langsung turun lagi.” pikir gue menyusun skenario aman. Gue semakin memiringkan kepala, mendekatkan telinga, memfokuskan seluruh indra pendengaran.
56Please respect copyright.PENANAxjpFKQGFY1
Namun, apa yang gue tangkap berikutnya justru...
56Please respect copyright.PENANAZxRiEdXeJw
"Aahh..." Suara yang sangat kecil.
Sangat pelan, nyaris menyerupai bisikan halus.
56Please respect copyright.PENANAwg3oiMCv8P
Gue sangat yakin kalau itu adalah suara desahan. Gue seketika membeku, seluruh indra gue mendadak lumpuh total. Jantung gue berdegup kencang, hingga bunyinya berdentang keras di dalam telinga. Kepala gue mendadak dipenuhi bayangan-bayangan liar yang gak seharusnya ada di sana.
56Please respect copyright.PENANAowGisPr3oY
“Aurel lagi ngapain...?” pertanyaan itu langsung terlintas dan menghantam isi kepala gue.
56Please respect copyright.PENANAPYaiXgURcC
Gue mencoba fokus menguping sekali lagi dari celah pintu. Suara itu masih terdengar samar dari balik kayu tebal. Helaan nafasnya terdengar makin tidak beraturan. Dan sekali lagi, suara desahan halus itu lolos dari bibirnya...
56Please respect copyright.PENANAWHh1GyDC2d
"Aahh... ngh... cepet, teman aku nungguin... ngh..."
56Please respect copyright.PENANAKvId4zoD72
Gue mundur beberapa langkah secara refleks hingga punggung gue membentur tembok koridor. Tangan gue gemetaran hebat.
56Please respect copyright.PENANAznmn1fPK0I
Gak seharusnya gue naik ke atas. Gak seharusnya gue mendengarkan apa pun yang ada di balik pintu itu. Gue seharusnya tetap duduk tenang di ruang tamu bawah, menunggu secara sopan sebagaimana layaknya seorang tamu biasa.
56Please respect copyright.PENANACUwjGVdlo8
Tapi kedua kaki gue terasa kebas, menolak untuk bergerak.
56Please respect copyright.PENANAZ3PW0sswzs
Gue cuma bisa berdiri mematung di koridor remang ini. Telinga gue terus merekam suara Aurel yang makin jelas, desahan pelan nan halus, berpadu dengan tarikan nafasnya yang tersengal.
56Please respect copyright.PENANACUI6buGwAA
“Apakah dia... lagi teleponan? Jangan-jangan…”
ns216.73.216.39da2


