Srek, srek, srek.
53Please respect copyright.PENANAl9rwGzaORo
Revan terlihat sibuk mengayunkan gagang sapu di atas lantai keramik rumahnya. Srek, srek, srek. Membersihkan segala kotoran debu yang ada di lantai.
Ia juga seolah sengaja memutus interaksi dengan dunia sekitar, lewat sepasang earphone kabel yang menyumbat kedua telinganya. Kabel putihnya menjuntai turun, masuk ke dalam saku celana tempat ponselnya berada.
53Please respect copyright.PENANAW11xy9fifm
Tak jelas lagu apa yang sedang ia dengarkan, tapi bunyi yang bocor dari earphone itu cukup terdengar jika ada yang berdiri tepat di samping Revan.
53Please respect copyright.PENANA46VMVbnGts
♫ 𝄞 ♫ ⋆。♪ ₊˚♬
(Bunyi melodi mengalun)
53Please respect copyright.PENANAMcnA3NG1EL
Ibunya yang sedang di dapur cuma bisa menggelengkan kepala. "Hadeh, pasti patah hati nih anak. Baru juga dibilangin kemarin perihal patah hati," gumamnya, lalu kembali membalik masakan di wajan.
53Please respect copyright.PENANAOzHmJjiOpx
Ibunya sempat curiga. Ketika Revan baru pulang sekolah tadi sore, wajahnya terlihat amat lesu. Bahkan, setelah mencium tangan Ibunya, Revan langsung nyelonong masuk ke kamar. Sejenak, Ibunya berpikir bahwa Revan mungkin cuma kelelahan. Tapi beberapa menit kemudian, Revan yang sudah berganti kaos santai. Ia kemudian, mengambil gagang sapu dan menyapu seisi rumah tanpa diminta.
53Please respect copyright.PENANAdyAwUJAfhA
“Kesambet apa nih anak?!” batin Ibunya keheranan.
53Please respect copyright.PENANAIOIbutJn5y
Ia memandangi gerak-gerik anaknya yang tidak biasa itu. Hingga akhirnya, sang Ibu menarik kesimpulan sendiri. “Anak cowok, kalau udah bertingkah aneh kayak gini, pasti gara-gara cewek nih!” ucapnya dalam hati. “Dahlah, biarin dulu aja. Dipanggil juga gak bakalan nyaut tuh anak! Ibunya pun kembali bersiap-siap untuk memasak.
53Please respect copyright.PENANABBIcRMTfBn
Jengjeng♫ Jengjeng♫
53Please respect copyright.PENANACDn8qoWebU
𝄞 Akhirnya kita harus memilih
Satu yang pasti
Mana mungkin terus jalani
Cinta begini
Karena cinta tak akan ingkari
Takkan terbagi
Kembalilah pada dirinya
Biar ku yang mengalah
Biar ku yang mengalah
Aku terima 𝄞
53Please respect copyright.PENANA2FmiKRzK5M
Begitulah lirik lagu dari Tangga yang berputar dari balik earphone-nya.
53Please respect copyright.PENANAWql3KOKE08
Meskipun begitu, Revan tetap menyapu dengan bersih, tidak asal-asalan. Padahal isi pikiran dan hatinya sedang kacau balau. "Hmm... gue jadi kayak pecundang gini..."
Gue gak tahu kalau ternyata segini berdampaknya sosok Aurel di dalam diri gue. Apakah gue terlambat menyadari kalau gue cukup menyukai dirinya?
53Please respect copyright.PENANAY4gmf8gVLI
"Rasanya gue ingin melupakan seluruh ingatan gue hari ini. Tapi... gue kepo. Gue kepo Aurel dibawa ke mana sama cowok itu." Gue meraih ponsel yang ada di saku celana, mematikan lagu yang terputar di Spotify, lalu membuka Instagram.
53Please respect copyright.PENANAlTKIrpDlim
Di beranda utama, tidak ada lingkaran merah yang menunjukan profil Aurel, tanda ia tidak mengunggah story apapun hari ini. Gue pun langsung mencari dan membuka profil akunnya, tapi hasilnya tetap sama, tidak ada update apa pun.
53Please respect copyright.PENANAUBW3Xvbrbg
Gue menghela nafas, mencoba mengganti tujuan. Ada niatan untuk mengetik nama akun si cowok itu. @kaelan.r kali aja dia mengunggah sesuatu. Tapi sebelum jari gue menempel di layar, rasa takut mendadak menahan jempol gue. Dari sisi kiri telinga, rasanya seperti ada suara yang berbisik, "Mau ngapain? Mau nambah-nambahin pahitnya sakit hati?"
53Please respect copyright.PENANAXJtEmkvyqU
Heuhhh...
Gue mengabaikan niat itut. "Dahlah... gue cuma perlu tidur aja kayaknya."
53Please respect copyright.PENANAciI1GDpJtU
Gue pun langsung mengembalikan sapu ke tempatnya, lalu berjalan kembali ke kamar. Meskipun perut terasa agak lapar dan sebentar lagi Magrib, gue benar-benar butuh menutup mata sejenak. Memaksa pikiran yang sudah melayang jauh ini, untuk beristirahat.
53Please respect copyright.PENANAKzYA6bchBP
***
53Please respect copyright.PENANAODEGMRP13W
"Oi, bangun... bangun, Revan!!"
Tubuh gue rasanya terguncang-guncang, “Revan!... Van!!!” dengan berat, mata gue terbuka. Tanpa jeda, suara itu langsung nyerocos lagi. "Makan sana! Kamu ini, Magrib-magrib malah tidur!"
53Please respect copyright.PENANAs38NZjaEHS
Oh.. ternyata itu suara Ibu rupanya.
53Please respect copyright.PENANAAYA815bydB
"Iya mahhh... emang sekarang jam berapa, Ma?" tanya gue sambil mengucek mata. Hoahmmm... Padahal gue merasa tidur gue cukup nyenyak, tapi malah dibangunkan.
Dengan spontan, gue pun langsung mengecek ponsel di samping bantal. "Makan malam udah siap ya, Nak!" ucap Ibu sambil berjalan keluar dari kamar. Gue mencoba memfokuskan mata, karena cahaya layar ponsel cukup menyilaukan, untuk mata yang baru melek ini.
53Please respect copyright.PENANAkeZrzKiWMI
Di layar ponselku, terdapat notifikasi chat Line dari Aurel.
53Please respect copyright.PENANAXs9ml50nvZ
"Van, gue baru inget, besok kita ada tugas Sejarah kan? Bantuin kerjain please malem ini. Call bisa gak?" Gue membiarkan notifikasi itu selama beberapa detik.
Kalau dilihat dari waktunya, pesan ini baru masuk 15 menit yang lalu. Ibu jari gue menahan keinginan untuk membalas cepat, rasanya ingin mendiamkan pesan itu. "Giliran ada maunya, nih anak baru nge-chat gue duluan..." umpat gue dengan penuh kekesalan.
53Please respect copyright.PENANAjFFCWvb94k
Sepertinya, gara-gara terbangun dengan perasaan kaget tadi, emosi yang terbawa sampai sekarang adalah rasa kesal yang berlebih. Sejak pulang sekolah tadi, otak gue memang gak bisa diajak baik-baik saja setelah kejadian itu. Dengan rasa malas dan menggerutu, gue akhirnya membalas chat-nya.
53Please respect copyright.PENANAi0k3lyb7Cv
"Mau jam berapa?" ketik gue sekadarnya.
53Please respect copyright.PENANAqraxvmlg5h
Baru saja ponsel mau gue taruh lagi, sudah ada tanda dua centang biru. Tanda dia langsung membaca pesan itu. "Lu bisanya jam berapa? Jangan sekarang, gue mau bebersih dulu, baru sampe rumah gue," balasnya. Dan balasan itu sukses bikin gue kaget. “Kok dia baru sampai rumah jam segini?! Berarti dari siang tadi dia pergi sama sosok cowok itu... sampai jam segini jalan barengnya?!”
53Please respect copyright.PENANAoeIGGh8lMp
Dengan perasaan berdebar kencang dan campur aduk rasa khawatir, gue langsung mengetik balasan, "Emangnya lo dari mana, Rel? Kok baru sampe rumah?"
Otak gue langsung bekerja cepat menyusun kalimat tambahan supaya pesan ini gak kelihatan aneh atau kelewat posesif: "Lo habis nonton?" ketik gue lagi, setelah pesan sebelumnya terkirim.
53Please respect copyright.PENANAceMrnHjZcN
"Enggak, gue gak nonton. Gue habis dari tempat yang seru, agak tersembunyi, tapi estetik. Gue foto-foto tadi di sana dan keasyikan ngobrol, jadinya baru pulang deh," jawabnya.
53Please respect copyright.PENANAxA9tTbi52r
Jawabannya itu seketika membuat gue kesal.
53Please respect copyright.PENANA6k3bjwZAos
“Tempat tersembunyi.”
“Keasyikan ngobrol…”
53Please respect copyright.PENANAWCM9GvZ71f
Dua frasa yang bermakna netral, tapi malah sukses membakar emosi gue. Ditambah lagi, Aurel tadi pulang sama sosok pria yang gak gue kenal, yang gue asumsikan sebagai Kaelan, meskipun gue belum punya bukti valid.
53Please respect copyright.PENANA3Knc9VEZ5h
Gue hampir mengetik, "Sama siapa?" di tengah luapan emosi ini. Tapi gue hapus lagi. Gue ganti dengan, "Emang lo kagak dicariin ya, kenapa jam segini baru pulang?" mengingat ini sudah jam 7 malam. "Aman aja~ Lo lupa ya? Kan gue emang selalu sendirian di rumah tiap pulang sekolah. Ortu gue kan sibuk kerja, mereka baru sampe rumah juga jam 8-an nanti," balasnya. "Jadi gimana, mau bantuin gue jam berapa? Gue mau mandiiii..." chat-nya lagi.
53Please respect copyright.PENANAfnaDOnixIg
"Ya udah, lo mandi dulu sana. Habis itu kasih tahu gue kalau udah kelar," balas gue. "Siap, Pak Bos!😜 " balasnya bercanda, lengkap dengan emoji menjulurkan lidah.
53Please respect copyright.PENANAp2nW1IFepZ
Gue langsung mengunci layar ponsel dan melemparnya ke sebelah kasur. Padahal sebelumnya, gue sempat berbangga diri, kalau gue tahu detail tentang Aurel. Tapi isi chat barusan justru membuktikan kelalaian gue.
53Please respect copyright.PENANAv8ZYMtqM4p
Gue lupa kalau Aurel memang sering sendirian di rumah.
53Please respect copyright.PENANAKC1T6wGwvq
Dan hal itu membuat otak gue secara kotor, kembali bekerja. Menyusun skenario paling bajingan yang bisa dibayangkan seorang cowok. “Aurel... gak bakal diapa-apain kan sama itu cowok?”
53Please respect copyright.PENANAVKrjAntszy
Dada gue mendadak terasa amat sesak setelah membayangkan hal itu. Gue berusaha menenangkan diri, menghentikan jalan pikiran liar itu dengan berhitung satu sampai sepuluh. Menghitung sambil mengatur nafas dan memejamkan mata rapat-rapat. Tetapi, malah hadir sebuah bayangan liar. Batin dan pikiran gue mendadak tak terkendali.
Muncul imajinasi, seandainya Aurel makin dekat sama pria tadi, dan karena rumahnya sepi, Aurel menggunakan kesempatan itu untuk mengajak si cowok mampir ke rumahnya.
53Please respect copyright.PENANAGVuoJlChpd
Dan...
53Please respect copyright.PENANANqznU5R56g
Gue langsung berbalik badan, tengkurap, meraup bantal untuk menutup kepala rapat-rapat. Gue menggigit sprei kasur kuat-kuat dan berteriak sekeras-kerasnya dalam hati. “KOK PIKIRAN GUE TIBA-TIBA KOTOR SIH?!!!!!”
53Please respect copyright.PENANAgnTbn3kPU3
Gue marah, sangat marah. Tak hanya karena pikiran liar itu terus bereaksi membayangkan Aurel, tapi juga karena respons fisik yang terjadi di luar kendali gue.
Sesuatu yang gak gue sangka dan tak bisa gue kendalikan... tiba-tiba berdiri tegak di bawah sana.
53Please respect copyright.PENANA8HX1Cd7O81
Hawa panas dingin langsung menyerang seluruh tubuh gue. Darah rasanya berkumpul di satu titik, sementara kepanikan dan rasa bersalah bergulung jadi satu di dalam dada. Gue makin menekan wajah ke bantal, merutuki reaksi tubuh dan otak bajingan ini yang mendadak liar cuma gara-gara membayangkan Aurel sendirian di rumahnya.
53Please respect copyright.PENANAjcwDZq8Drw
Malam ini, rasa cemburu dan pikiran kotor, benar-benar sukses bikin gue kehilangan akal sehatnya.
ns216.73.216.39da2


