Patah hati pertama, kepada seseorang yang bahkan gak gue dekati.
53Please respect copyright.PENANAiKNOa6M1GO
Sepanjang dua puluh menit perjalanan ke sekolah, cuma satu lagu yang berputar tanpa henti di kepala gue. Bagian lirik dari lagu Juicy Luicy berjudul Tampar, terus gue ulang-ulang dari balik helm.
53Please respect copyright.PENANA49mxRmXzke
𝄞 Hujan samarkan derasnya
Tutup air mata
Temani kecewaku, yang telah lama
Berdosakah ku berdoa
Minta kau terluka
Dan tinggalkan dirinya 𝄞
53Please respect copyright.PENANADXyVSbHp1R
Biasanya, gue bakal menyanyikan lagu-lagu yang bikin semangat di atas motor. Tapi, rasa kecewa ini bikin gue milih lagu galau. Bayangin, betapa jahatnya perasaan gue saat ini, sampai berharap kedekatan mereka bakal gagal dan gak bakal menuju ke mana-mana.
53Please respect copyright.PENANA0CJXumcYg6
Rasa sakit yang campur aduk ini bikin gue datang pagi-pagi buta ke sekolah.
53Please respect copyright.PENANAtzztO1vvyN
Ibu sampai heran dan akhirnya membungkuskan sarapan yang sudah dibuatnya untuk dijadikan bekal. Seribu satu alasan gue berikan kepada Ibu, kenapa hari ini gue milih berangkat pagi banget. Selain beralasan kalau hari ini hari Senin yang macetnya biasanya bikin emosi, gue juga beralasan ada PR yang mau dilanjutin di sekolah.
53Please respect copyright.PENANADMz0Zb23ta
Sesampainya di sekolah, halaman parkir masih kosong melompong. Motor biru tua gue, Honda Beat warisan kakak, gue parkirkan tepat di tengah-tengah. Helm full-face-nya gue gantungkan di kaca spion. Koridor sekolah juga masih sepi banget. Cuma terdengar suara srek-srek sapu petugas kebersihan di ujung lorong sama bunyi pintu-pintu kelas yang baru dibuka satu per satu.
53Please respect copyright.PENANAvcYqKKYUzL
Langkah sepatu hitam gue menimbulkan gema di lantai keramik, apalagi saat gue menaiki tangga menuju lantai dua. Tak, tak, tak, tak. Suaranya menggema di lorong yang sepi. Mungkin karena suasana hati gue yang lagi gak bersahabat, menaiki tangga menuju kelas 11 IPA 3 rasanya berat banget. Anak tangga yang sudah ratusan kali gue pijak ini rasanya bertambah banyak.
53Please respect copyright.PENANAGuoc2g22GE
“Efek galau nih kayaknya, jadi gak semangat gini. Huh!”
53Please respect copyright.PENANAR5pr8ktKS3
Di dalam kelas yang masih kosong, gue duduk lalu meletakkan tas di atas meja, menjadikannya tumpuan untuk menyandarkan kepala. Gue masih terngiang-ngiang sama unggahan kemarin. Dua story Instagram itu terus memaksa otak gue bekerja, menyusun setiap adegan imajinasi menjadi rangkaian bayangan yang menimbulkan rasa sakit. Celakanya, gue gak bisa menghentikan imajinasi itu, cuma dengan menutup aplikasi.
53Please respect copyright.PENANAlAy3fOzS6M
"Apakah Aurel sesenang itu ketemu sama orang itu?" gumam gue pelan. "Apakah habis dari GBK itu mereka langsung pulang, atau..."
53Please respect copyright.PENANAXzJYg2J6iF
Sayup-sayup, suasana di sekitar sekolah mulai riuh. Satu per satu murid mulai berdatangan, menandakan gerbang utama sepertinya sudah dibuka lebar. Suara lalu lintas di jalan raya depan sekolah juga mulai ramai, ditandai beberapa kali deru knalpot bising dari motor-motor modifikasi yang lewat. Rasa pusing dan kantuk akibat kurang tidur bikin gue memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Gue paksakan tubuh ini untuk berdiri. Rasa malas dan gak bersemangat untuk sekolah perlahan mengunci tiap pijakan kaki gue di atas lantai keramik yang dingin ini.
53Please respect copyright.PENANAkF61G0jGC6
Rasa dingin itu merambat ke atas, ke betis, ke lutut, sampai ke perut gue yang kosong, memberikan sedikit efek negatif pada mental gue.
53Please respect copyright.PENANACM02Ro5qPE
Gue berjalan ke kamar mandi lalu menyalakan keran. Airnya gak langsung keluar, selalu begitu, pompa airnya memang cukup lambat kalau di pagi hari. Gue berdiri di depan cermin, menatap wajah gue sendiri, yang sama sekali gak punya gairah untuk meraih nilai-nilai bagus hari ini. Mata gue sedikit merah, kulit wajah kelihatan kusam karena gak bisa tidur nyenyak sejak hari Sabtu malam.
53Please respect copyright.PENANAdUiK3gmdcQ
Gue cuci muka.
Tiga kali.
Empat kali.
53Please respect copyright.PENANA2ZlqwWiKxK
Gue mencoba mensugesti diri dengan basuhan air dingin ini untuk menghilangkan rasa panas yang menjalar di seluruh tubuh. Setelah dirasa cukup, gue kembali melangkah ke kelas. Dan di sana, Aurel rupanya sudah datang. Dia duduk manis di bangkunya, fokus menatap layar ponsel. Entah kenapa, pandangan mata gue refleks langsung tertuju ke jari-jemarinya. Dan benar saja dugaan gue.
53Please respect copyright.PENANA3ev7ocsFyh
Kuteks berwarna butter yellow di kuku jarinya menjadi bukti yang tak terbantahkan, kalau yang ada di story @kaelan.r itu adalah Aurel.
53Please respect copyright.PENANAExBQpXARNR
***
53Please respect copyright.PENANAV0HRsvu37B
Selama di kelas, ada satu hal mencolok yang membedakan hari ini dengan hari-hari biasanya: intensitas obrolan kami. Biasanya, setiap kali ganti pelajaran atau ada hal random yang ingin ditanyakan, Aurel pasti selalu berusaha mengajak gue ngobrol. Tapi sedari tadi pagi, dia malah sibuk sendiri menatap layar ponselnya setiap kali ada waktu senggang.
53Please respect copyright.PENANAGFWpJxLjcD
Gue sebenarnya ingin membuka percakapan. Ada rasa ingin memancing atensi dari Aurel, ingin mengalihkan perhatiannya dari ponsel itu. “Apakah gue harus mulai membahas soal kuteks itu?”
53Please respect copyright.PENANA6AeBP1VkPQ
"Rel..." panggil gue pelan.
"Ya? Kenapa, Van?"
53Please respect copyright.PENANAV51HFeywsH
"Jadi... kuteksnya beneran dipakai?" tanya gue, yang akhirnya memberanikan diri menyinggung hal itu. "Soalnya chat terakhir di Line belum lo balas, gue pikir gak jadi lo pakai ke seluruh kuku... Tapi lo gak takut kena razia Bu BK, pakai kuteks gitu ke sekolah?"
53Please respect copyright.PENANAck5ne1lAgJ
"Hihihi, sori, sori! Gue gak balas chat soalnya udah keburu ngantuk pas fokus make kuteks ini. Jam tidur gue kan lo tahu sendiri, gue pasti udah tidur dekat-dekat jam sembilan malam. Terus soal kuteks sih santai aja, gue udah CS-an sama Bu Ai (Baca Cerita: Bimbingan Konseling, milik author: byTalitali di Victie)," ujarnya memberi penjelasan.
53Please respect copyright.PENANAkkiAsJvWb8
Gue mengangguk-angguk. "Gimana weekend lo? Seru?"
Sial, rasanya gue ingin menampar mulut sendiri saat itu juga. Kok bisa-bisanya tiba-tiba nanya gitu?!
53Please respect copyright.PENANAsGPYEMwIl7
Aurel menoleh, mata kami saling bertemu. Lalu, dia tersipu dengan gelak tawa yang jelas-jelas menyimpan rahasia. "A secret makes a woman, woman," ucapnya sambil tersenyum manis.
53Please respect copyright.PENANAmDI2pruAoG
DAMN! Kok bisa-bisanya dia malah mengutip ucapannya Vermouth dari serial Detective Conan?!
53Please respect copyright.PENANAkxRoiIkAfL
Satu kalimat itu sukses bikin gue merinding. Itu artinya, dia memang berniat menyimpan rapat-rapat apa yang terjadi selama weekend kemarin. Dengan sedikit kesal, gue berucap, "Sok Vermouth lu!" Aurel tertawa renyah. "Hihihi, nanti deh gue ceritain, belum saatnya. Tapi yang jelas ada hubungannya kok sama yang kemarin," ujarnya. "Yang kemarin?" Gue masih belum menangkap maksudnya.
53Please respect copyright.PENANAlZzOv92tOo
Sampai akhirnya dia menoleh ke arah gue lagi dan tersenyum, "Iya, yang kemarin... yang soal @kaelan.r itu."
53Please respect copyright.PENANA1MGxx7gbC4
DEG
53Please respect copyright.PENANARwmXJj9FbI
Jantung gue langsung berdetak kencang. Kalau ingat adegan film Mad Max: Fury Road yang bagian orang main gitar penyembur api itu, nah... persis kayak gitu detak jantung gue sekarang. Terkena irama adrenalin ekstrem, yang rasanya bisa bikin jantung gue bisa meledak detik ini juga.
53Please respect copyright.PENANAASANMw1hD6
"Oh ya, nanti gue gak nebeng lo kayak biasa ya pulangnya..." ucapnya lagi sambil tersenyum penuh arti. Gue cuma bisa merespons dengan, "Oke..." karena pikiran gue sudah melayang entah ke mana.
53Please respect copyright.PENANApqheoeU9nX
Hingga tak terasa, seluruh jam pelajaran telah usai. Bel tanda pulang sekolah berbunyi dan kelas langsung bubar seperti biasanya. Aurel mengemas tasnya dengan santai, tidak terburu-buru seperti anak-anak lain yang langsung tancap gas. Setelahnya, dia berpamitan dan berjalan keluar sendirian. "
53Please respect copyright.PENANAqkG8CKsRGP
Duluan ya, Van," ucapnya singkat.
53Please respect copyright.PENANAyfT9gDh6jn
Gue yang sedang tidak ingin buru-buru memilih tetap di kelas, sengaja membereskan tas dengan gerakan yang sangat lambat. Gue baru keluar kelas saat keadaan koridor sudah hampir kosong. Gue melangkah ke arah parkiran, menghampiri motor, dan bersiap-siap pulang.
53Please respect copyright.PENANAcdjKaOVzvy
Saat baru akan keluar dari gerbang sekolah naik motor, dari kejauhan gue melihat sosok Aurel. Dia berdiri sendirian di bawah pohon rindang di pinggir jalan, seperti sedang menanti jemputan. Gue menahan laju motor, melirik ke spion belakang untuk memastikan tidak ada motor siswa lain yang mengantri keluar, agar posisi gue tidak menghalangi jalan.
53Please respect copyright.PENANAHfohehujEY
Gue cuma ingin tahu, Aurel pulang sama siapa.
53Please respect copyright.PENANAfYc7planLg
Karena situasi di belakang sepi, gue memutuskan untuk memarkirkan kembali motor ini di area parkir, lalu mengendap-endap ke arah pos satpam. Gue mencoba mencari posisi yang pas untuk mengintip Aurel. Jaraknya memang cukup jauh, tapi sosoknya masih bisa gue kenali dengan jelas. Tak lama kemudian, seseorang datang mengendarai motor sejenis Honda Verza 150 dan berhenti tepat di depan Aurel. Dari postur tubuhnya, gue bisa menduga kalau itu sosok cowok.
53Please respect copyright.PENANASndOgnox3K
Tapi siapa? Apakah ayahnya?
53Please respect copyright.PENANA1pQlZPsspz
Cowok itu kemudian menurunkan penutup mukanya. Dia tidak menggunakan helm full-face. Dari posisi gue berdiri saat ini, wajahnya memang belum terlalu jelas. Tapi melihat perubahan ekspresi Aurel saat menyambutnya, jantung gue pun mulai berdegup kencang lagi.
53Please respect copyright.PENANAye4xYOw6pg
Sumpah, gue bisa kena penyakit jantung ini, perkara rasa cemburu sama Aurel lama-lama!
53Please respect copyright.PENANALEvE69tkJk
Gue cuma bisa berasumsi satu nama, melihat sosok yang terlihat akrab sama dia, "Apa itu si Kaelan..." gumam gue dengan nada memelas. Dan di sana, gue melihat pemandangan yang bikin jari-jari tangan mengepal erat. Cowok itu mengatakan sesuatu, entah apa, karena jarak kami terlalu jauh. Tapi ucapannya sukses membuat Aurel tersenyum sangat manis.
53Please respect copyright.PENANAPXe8L992jE
Bukan senyum sopan, bukan senyum basa-basi. Ini senyum yang sangat gue kenal. Senyum yang muncul saat dia benar-benar merasa senang. Sudut bibirnya terangkat, matanya menyipit sedikit, dan kepalanya agak miring ke kanan. Kebiasaannya saat tertawa atau menemukan hal yang lucu.
53Please respect copyright.PENANA9VR1oBhv31
Interaksi itu berlanjut hingga gue bisa melihat Aurel mulai tertawa lepas. Bahunya bergoyang dan tangannya terangkat menutupi mulut. Gue pernah membuatnya tertawa seperti itu. Sekali, dua kali, dan gue hafal betul rasanya menjadi alasan di balik tawa itu.
53Please respect copyright.PENANAZhfz0KrkZF
Gue cemburu. Cemburu berat melihat pemandangan di depan mata ini.
53Please respect copyright.PENANAGOtyYQiAz8
Keadaan makin diperparah saat Aurel naik ke atas jok belakang motor itu, lalu kedua tangannya dengan santai memegang pinggang si cowok.
53Please respect copyright.PENANASgjnWbJpMO
Brak.
53Please respect copyright.PENANAcle3MT21mJ
Gue memukul pelan dinding pos satpam, lalu beranjak kembali menuju motor dengan langkah gontai. Saat gue melirik ke arah jalanan lagi, mereka berdua sudah menghilang ditelan arus lalu lintas. Gue pun menyalakan mesin motor dan melaju pergi, sementara potongan lirik lagu Bernadya yang baru saja rilis beberapa hari lalu, berputar tanpa henti di dalam kepala gue…
53Please respect copyright.PENANAYhIS4thvvf
𝄞 Ini hanya mimpi buruk yang panjang
Tapi mengapa ku belum bangun juga?
Yang kutakutkan terjadi (Tolong bilang ini mimpi)
Lama kusiapkan diri (Tapi tetap tak bernyali)
Haruskah aku jalani (Alur yang tak aku pilih)
Jika benar bukan mimpi, jangan bangunkanku lagi 𝄞
ns216.73.216.39da2


