Di balik hati yang tenang, terkadang ada pikiran yang bergemuruh.
56Please respect copyright.PENANAyM4P0MM6jt
Seperti itulah yang gue rasakan saat ini, sejak gue tahu ada seseorang yang sedang mendekati Aurel. Hari-hari setelahnya, gue berusaha menahan diri untuk tidak lagi membuka profil akun bernama @kaelan.r itu.
56Please respect copyright.PENANADZZG7xkRsN
Meskipun, ya... sulit rasanya untuk tidak kepo.
56Please respect copyright.PENANA4hoZ4VyOJT
Di atas kasur ini, pikiran gue seperti menerbangkan layang-layang bertuliskan nama Aurel dan si pemilik akun @kaelan.r. Layangan itu beradu kuat di langit-langit kamar, berlomba menentukan siapa yang bakal jadi pusat perhatian gue. Gue pun menghela nafas. “Bengong kepikiran, enggak bengong juga kepikiran terus!”
56Please respect copyright.PENANAXtAJu2OHPG
Sudah setengah hari isi kepala gue sama sekali tidak beranjak dari dua nama itu. Seharusnya gue bisa menikmati weekend ini dengan menonton film atau melakukan hal lain yang menyenangkan. “Gue tuh cemburu atau apa sih? Kan gue-nya juga gak ngedeketin Aurel? Kenapa jadi gini, ya?” Gue mengutuk diri sendiri. Kenapa bisa-bisanya gue terjerat dalam pasang surut emosi yang gak jelas ini?
56Please respect copyright.PENANAhfU9rRaRox
"Kalau kayak gini, siap tempur selalu deh.” Gue jadi teringat caption foto itu lagi, kan ahh!! “Fuck it!” ucap gue pelan, tapi sedikit nyaring. Gue mengambil ponsel di samping bantal, lalu jempol gue bergerak cepat mengetik username itu lagi: @kaelan.r.
56Please respect copyright.PENANA64jDwtZpSr
Kali pertama membuka profil orang itu, awalnya cuma ada 8 foto. Tapi kini sudah ada 3 foto tambahan di sana. Gue menarik nafas panjang, mencoba menenangkan pikiran dan perasaan sebelum mengetuk salah satu foto yang baru di-upload itu. Pilihan gue jatuh pada foto baru tepat setelah foto terakhir yang dulu pertama kali gue lihat.
Foto itu di-post kemarin. Sebuah foto kaki yang menginjak bola di lapangan dengan caption: "Sesi latihannya masih terasa panas 💥". Yang membuat foto biasa itu jadi terasa tidak biasa adalah...
56Please respect copyright.PENANA6uiPHdzxEs
Adanya like dari @aureliaprmst. Ya, itu nama akun IG-nya Aurel.
56Please respect copyright.PENANA3Q1bgARt35
Jempol gue langsung berhenti bergerak. Pikiran gue langsung tertuju pada satu hal... Kenapa di-like? Kenapa Aurel menyukai foto ini? Gue mendesis pelan, menahan kekesalan. “Cuma like... cuma like...” gumam gue berulang kali. Mengulang kalimat itu seperti sedang membaca mantra. Satu like dari Aurel di foto @kaelan.r rasanya jauh lebih berat untuk diterima daripada kenyataan kalau kami sedang tidak chatting-an saat ini.
56Please respect copyright.PENANAHt4cNbDRqh
“Apakah chatting-an sama gue emang gak semenyenangkan sama si @kaelan.r ini, ya?” pikir gue tiba-tiba.
56Please respect copyright.PENANAHyRo8OcMa6
Gue lanjut menggeser layar untuk melihat foto kedua. Foto itu sama dengan foto profil yang dia pakai saat ini. Entah kapan dia mengubahnya, karena gue memang tidak men-stalk orang ini setiap hari. Foto kedua ini menampilkan otot lengannya yang menonjol dengan latar cermin gym. Caption-nya: "Off season, tapi tetap on."
56Please respect copyright.PENANADn8HANoF0m
Dan ada like lagi dari akun @aureliaprmst. Tak hanya itu, Aurel juga meninggalkan komentar dengan emoji 😍, yang kemudian dibalas oleh si @kaelan.r pakai emoji 😎.
“Tunggu... Apa ini tandanya mereka sudah cukup dekat? Apakah mereka saat ini sedang saling flirting?” Meskipun di foto itu ada beberapa akun perempuan lain yang ikut berkomentar, hanya komentar dari Aurel yang dia balas.
56Please respect copyright.PENANAUVGKrOC2iQ
“Anjing... anjinggg!” geram gue pelan. Gue tidak ingin membuat Ibu berteriak gara-gara mendengar anaknya tiba-tiba mengumpat kasar dari dalam kamar.
56Please respect copyright.PENANA4yFiLbUrdx
Gue pun langsung menuju foto terakhir, dan hal itu makin membuat dada gue terasa sesak. Tentu saja, ada like dari Aurel lagi. Tapi fokus mata gue bukan pada likes itu, melainkan pada kolom komentar foto sunset yang baru di-post ini.
56Please respect copyright.PENANAcgRjYndC23
@aureliaprmst: "Langitnya indah, mirip yang aku post kemarin!"
@kaelan.r: "Makanya selera kita sama. Sama-sama suka yang indah, kayak kamu."
@aureliaprmst: "🤭"
56Please respect copyright.PENANAG99OBBDBOs
Gue membanting ponsel ke ranjang. nafas gue memburu, dada gue makin sesak.
56Please respect copyright.PENANAXmoZAKJgVo
“Fuck, gombalan macam apa itu?! Terus kenapa respons Aurel gitu? Kok gak marah?!” Gue terus mengumpat dalam hati. “Apa ini yang disebut patah hati? Apa ini yang... argh!” Gue mengacak-acak rambut sendiri. Gue raih kembali ponsel yang dibanting tadi, lalu melihat dengan cermat kapan Aurel dan cowok ini saling balas komentar. Dan ternyata... percakapan ini baru terjadi 15 menit yang lalu!
56Please respect copyright.PENANAVkiP9VXblP
“Fuck!”
56Please respect copyright.PENANAOpacHIKVld
Gue buka Line, lalu membuka chat terakhir gue dengan Aurel. Timestamp terakhir: 19.42 kemarin. Dan dia belum membalas chat gue lagi. “Haruskah? Haruskah gue chat Aurel lagi? Tapi mau ngomongin apa?” Rasanya jauh lebih mudah menyelesaikan soal Fisika yang baru kemarin gue salin PR-nya. Rumusnya saja masih nempel di kepala: “R = v² sin 2θ / g.”
56Please respect copyright.PENANAx4S60mULpm
Tapi untuk memulai obrolan dengannya, kenapa bisa sesulit ini? Apa yang harus gue lakukan?
Rasanya gue sedang dipecundangi oleh pikiran gue sendiri.
56Please respect copyright.PENANAkcdFHpieUv
***
56Please respect copyright.PENANAdCZzIrRhFG
Tidur gue gak terlalu nyenyak.
56Please respect copyright.PENANA3W6C524MkW
Gue terus bertarung dengan perasaan dan pikiran sepanjang malam, hingga akhirnya terbangun dengan rasa lapar. Gue pun keluar kamar menghampiri Ibu yang sedang di dapur. Gue tahu Ibu ada di dapur karena suara panci dan wajan terdengar riuh, menyatu dengan aroma sambal bawang yang tajam dan masakan lain yang terasa familier. Menyadari gue mendekat, Ibu langsung menyuruh gue mandi.
56Please respect copyright.PENANAYKku043yZA
“Mandi dulu sana. Palingan sejam lagi Ibu baru selesai masak,” ucapnya sambil mengaduk sesuatu di wajan. “Iya, Ma,” jawab gue, lalu menuruti perintahnya dan mengambil handuk tak jauh dari dapur. Di bawah pancuran shower, gue kembali merenungkan apa yang sedang gue rasakan. “Sebenernya perasaan ini karena apa, sih? Apakah gue emang cemburu? Atau ada hal lain?”
56Please respect copyright.PENANAyp3puQTAzc
Gue mencoba memahami alur perasaan ini. Benak gue malah mengenang beberapa memori lama. Dari awal gue duduk bareng Aurel karena kelas memang diatur duduk laki-perempuan. Saat itu, secara acak dia memilih duduk di samping gue, sampai akhirnya kami jadi makin akrab. “Apakah karena kita duduk bareng gini... gue jadi posesif ke Aurel?” kalimat itu terucap begitu saja.
56Please respect copyright.PENANAh8FcCzq07p
Kepala gue bertumpu pada dinding, membiarkan air shower terus mengguyur. Mungkin ini yang sedang gue butuhkan: berpikir dengan kepala dingin tentang apa yang harus gue perbuat dengan perasaan ini.
56Please respect copyright.PENANAWgVua2xuKk
Mandi selesai, tinggal sarapan. Tapi pikiran gue masih tidak bisa diajak kompromi. Di meja makan ini, pikiran gue terus berkelana, memainkan permainan pertanyaan yang berbahaya untuk perasaan gue sendiri. “Apa hari ini Aurel bakal chat intens sama orang itu?”
56Please respect copyright.PENANAn25KpbVfSP
“Heh, kok malah bengong! Makan! Katanya laper!” tegur Ibu yang membuat gue tersadar dari pikiran negatif ini. “Mikirin apa, sih?”
56Please respect copyright.PENANAns3OpKtbQx
“Gak mikirin apa-apa kok, Ma. Masih berasa ngantuk aja,” dalih gue sambil berpura-pura menguap.
56Please respect copyright.PENANAzlTbhoSQaB
“Dih, emak-emak kok mau dibohongin? Hayo, mikirin siapa kamu?” Waduh, insting Ibu benar-benar menakutkan. Gue cuma bisa merespons dengan nyengir, gak mampu berkata-kata lagi. “Makanya, jangan cuma pulang-belajar doang. Masa-masa sekolah tuh masa yang paling enak! Gak apa-apa kok kalau kamu mau jatuh cinta, yang penting peringkat kagak turun!” ucap Ibu yang makin membuat gue keki.
56Please respect copyright.PENANAxgz9H9WKa0
“Emang boleh Revan pacaran?” tanya gue iseng. “Kalau udah siap patah hati sih, silakan aja~” jawabnya santai.
56Please respect copyright.PENANAuGNW15IggI
“Aduh, Ma... ini aja Revan udah berasa patah hati!” batin gue. Tak mungkin kalimat itu gue ungkapkan, yang ada malah makin memperpanjang obrolan.
56Please respect copyright.PENANABJpS3tj003
Gue melirik ponsel di atas meja. Ada hasrat kuat untuk membuka Instagram lagi, mengetik username itu, dan melihat apakah ada update story atau foto feed baru yang di-like oleh Aurel. “Kalau udah siap patah hati sih, silakan aja~” Kata-kata dari Ibu barusan seakan menjadi bensin untuk hati yang baru saja berkenalan dengan rasa cemburu.
56Please respect copyright.PENANA5yRq1KoPNf
Gue letakkan sendok makan, meraih ponsel, lalu membuka Instagram. Setelah loading selesai, hal pertama yang muncul adalah lingkaran story di akun Aurel. Artinya, ada story yang dia upload. Untuk mengetahui kapan dia mengunggahnya, gue harus membuka story itu terlebih dahulu. Dengan rasa penasaran, gue pun mengetuk ikon fotonya.
56Please respect copyright.PENANAEu8plobRsa
Story yang baru diunggah 40 menit lalu itu berisi foto pinggiran lapangan GBK, tempat orang-orang biasa jogging. Foto itu memperlihatkan sisi bangunan GBK dan beberapa orang yang sedang berlalu-lalang. Gue melirik ke garis bagian atas story-nya. Masih ada satu story lagi. Gue mengetuk layar untuk melihat foto selanjutnya. Foto berikutnya adalah meja makan dengan es teh manis dan bubur di atasnya. Di tengah foto itu, terdapat sebuah tulisan: "My POV".
56Please respect copyright.PENANAy01icGXhVl
Gue langsung berpikir, apa maksud dia menulis itu?
56Please respect copyright.PENANABSBc3TKzqx
“My POV... My POV... hmmmm…” Gue memfokuskan pikiran, seakan sedang memecahkan masalah yang sangat serius. Sambil mencoba menyuap masakan Ibu, gue terus berpikir keras. “Kayaknya gak ada yang aneh, kecuali kalau post ini ditujukan untuk seseorang?” Gue diam sejenak, memikirkan kata-kata gue barusan. “Hmm... ditujukan untuk seseorang, ya…” Perasaan tidak enak langsung menyelimuti gue.
56Please respect copyright.PENANAJesiHDj747
Secara refleks, jempol gue memilih kolom pencarian di Instagram dan mengetik nama akun cowok itu. Terlihat ternyata dia juga mengunggah story.
56Please respect copyright.PENANAUAMSUnBc0v
Dengan jantung berdebar, gue membuka story orang itu. Dari garis di atasnya, terlihat ada beberapa story yang sudah dia post. Gue mengetuk layar berkali-kali sampai garisnya menuju ke post terakhir. “Ma, Revan ke kamar sebentar, ya.” Gue beranjak dari meja makan. “Eh, mau ngapain? Itu makannya belum habis!” cegah Ibu.
Saat ini gue tahu apa yang gue lakukan itu salah, meninggalkan masakan Ibu begitu saja.
56Please respect copyright.PENANAK5Tz7BvEKR
Tapi gue sedang tidak bisa menahan diri. Rasanya tubuh gue bergetar dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Nanti Revan lanjutin makannya, Ma. Revan mau ke kamar sebentar aja...” Gue langsung berjalan menuju kamar tanpa menoleh lagi ke arah Ibu.
56Please respect copyright.PENANAhAYtiVZISU
Di dalam kamar, setelah menutup pintu, gue membanting tubuh ke kasur. Gak peduli perut gue baru saja terisi makanan dan memicu rasa sedikit mual, karena apa yang ada di layar ponsel gue saat ini jauh lebih menyakitkan. Unggahan story @kaelan.r memperlihatkan meja makan dengan corak dan warna yang sama persis dengan yang di-post oleh Aurel. Dan di akun si @kaelan.r, dia juga menulis: "My POV".
56Please respect copyright.PENANAY2oQOvbEUL
Bedanya, foto itu tidak hanya berfokus pada makanan yang dia pesan. Framing-nya agak naik sedikit, memperlihatkan seseorang yang sedang duduk di depannya. Meskipun hanya sedikit bagian tubuh yang terlihat, gue tahu betul kalau itu adalah Aurel!
56Please respect copyright.PENANAJccUNcHmJL
Kenapa gue bisa seyakin itu? Karena di jari perempuan itu, ada sapuan kuteks yang sempat dia tanyakan saat terakhir kali chatting-an di Line sama gue.
56Please respect copyright.PENANANjRkSeWFMe
"Van, kuteks gue bagus gak?" tanyanya.
"Bagus... Lagi iseng pakai itu buat jalan-jalan? Kan ke sekolah gak boleh pakai gitu," balas gue.
56Please respect copyright.PENANAcm99SESMHe
Dan dia tidak pernah membalas pesan itu lagi sampai detik ini.
ns216.73.216.169da2


