Selama dua jam pelajaran berikutnya, semua materi cuma numpang lewat gitu aja tanpa benar-benar masuk ke otak gue.
62Please respect copyright.PENANAn2IlSTNqcg
Saat pelajaran Matematika, Pak Dedi sibuk menjelaskan limit fungsi aljabar di papan tulis, dan ketukan kapur putihnya menghasilkan bunyi tok-tok yang monoton banget. Tangan gue terus berusaha menyalin tulisan di papan, tapi tulisan gue jauh lebih berantakan dari biasanya. Saking gak fokusnya pikiran gue, gue bahkan sampai dua kali salah menuliskan lambang variabel.
62Please respect copyright.PENANA7gZGIldzPV
Di sebelah gue, Aurel lagi fokus total, pandangan matanya lurus ke depan. Dia gak membahas soal @kaelan.r lagi, tapi nama itu terlanjur nyangkut di kepala gue, memutar terus kayak potongan lirik lagu menyebalkan yang tertahan di tenggorokan. Enggan keluar, tapi menolak buat hilang.
62Please respect copyright.PENANA9KLaTpUWa2
Siang harinya di kantin saat jam istirahat kedua, gue memilih duduk sendirian. Beberapa anak cowok kelas gue yang duduk di meja sebelah lagi seru berdebat soal susunan pemain Liverpool buat Liga Champions. Gue biasanya bakal ikut nimbrung, cuma saat ini gue lagi gak ada energi buat membahas hal itu.
62Please respect copyright.PENANADnyfEES39a
Es buah di depan gue sudah mencair setengah. Ujung sendok cuma gue mainkan memutar-mutar bongkahan es batu di dasar gelas.
62Please respect copyright.PENANA8rkA9CXBI7
Gue mengeluarkan ponsel dan langsung membuka Instagram. Jari gue secara otomatis mengetik profil Aurel untuk melihat seluruh isi akunnya. Pada unggahan terakhir di feed-nya, foto selfie dirinya di perpustakaan masih terpajang di situ. Muka sengaja dia tutup setengah, cuma kelihatan bagian mata sama hidung. Caption-nya: "Hal yang kurang: waktu." Gue sudah lihat foto ini dua hari lalu dan sudah gue like juga. Tapi tetap saja gue pandangi lagi, sementara ujung jari gue tertahan di atas layar, ragu apakah melihat profilnya melulu bakal bikin gue kelihatan aneh kalau ketahuan.
62Please respect copyright.PENANAfhW6bu6Mxz
Gue beralih membuka story-nya. Yang pertama foto buku Fisika yang dia foto setelah latihan soal dari Bu Ratna. Terlihat halaman bab tiga yang terbuka, dan ada sticky note kuning menempel di sudutnya bertuliskan "Semangat semangat semangat" pakai spidol biru. Standar, gak ada yang aneh.
62Please respect copyright.PENANAWVpryKGJjT
Story kedua berupa video pendek beberapa detik yang menampilkan rintik gerimis di luar jendela kelas, yang entah kapan dia rekam, karena cuaca hari ini sedang cerah. Mungkin itu video minggu lalu, pikir gue. Story itu diiringi lagu pelan yang belum pernah gue dengar, dengan vokal cewek yang terdengar sendu tapi manis. Caption-nya: "Pengen menikmati hujan lagi."
62Please respect copyright.PENANA1N5EI1J6RX
Semuanya masih normal. Aurel memang suka posting hal yang estetik, agak melankolis, tapi tetap menjaga jarak dari hal yang terlalu pribadi. Gue sudah hafal luar kepala pola story-nya. Kalau bukan foto makanan, ya langit, tumpukan buku, atau kutipan acak dari novel yang lagi dia baca.
62Please respect copyright.PENANAKEREWhAq3g
Sampai akhirnya, story ketiga muncul: sebuah repost dari akun @kaelan.r.
62Please respect copyright.PENANAoN0Jfg5bJ5
Fotonya lapangan sepak bola milik sekolah lain. Rumput hijaunya kelihatan jauh lebih rapi dibanding lapangan sekolah gue, lengkap dengan tiang gawang yang cat putihnya masih baru. Caption asli dari @kaelan.r: "Siap buat laga besok." Dan tepat di atas postingan ulang itu, Aurel menyelipkan stiker kecil: gambar jempol dengan tulisan "Semangat!" di sampingnya.
62Please respect copyright.PENANA6bapGvjLnf
Jari gue mendadak kaku di atas layar, seluruh tubuh gue terdiam, sementara es buah di depan gue benar-benar sudah gue diamkan sampai esnya mencair total. Mata gue melirik keterangan waktu kapan story itu di-post, dan ternyata baru 3 menit yang lalu. Mata gue secepat kilat mencari keberadaan Aurel di kantin. Tapi gue sama sekali gak menemukan tanda-tanda dia ada di sini.
62Please respect copyright.PENANAt14G2tHRJr
Artinya dia masih di kelas, dan ada kemungkinan dia lagi chat-an lagi sama cowok random yang baru dikenalnya itu! Cowok yang tadi di kelas sempat dia tunjukkan ke gue! Gue memperhatikan lagi story itu.
62Please respect copyright.PENANAEyC3536xQU
Secara logika, ini bukan masalah besar, sama sekali bukan hal yang krusial. Memberi stiker dukungan di story orang lain yang di-repost itu hal paling lumrah di medsos sekarang. Gue juga sering mengirimi stiker api ke story teman-teman gue.
62Please respect copyright.PENANA6Ec5ycCkGP
Ini bukan apa-apa, tapi...
62Please respect copyright.PENANAlvFjIgNvxf
Otak gue menyadari satu hal lagi. Ini Aurel me-repost, bukan sekadar mengetuk tombol like atau membalas DM singkat. Ini repost!
62Please respect copyright.PENANAFt7F8cfhMj
Artinya, dia sedang melihat story profil @kaelan.r, menekan tombol share, atau mungkin si @kaelan.r itu yang men- tag dia. Terus dia membagikannya ke story-nya sendiri. Baru habis itu dia kasih stiker, dan langkah-langkah ini tentu secara sadar dia lakukan! Gue menutup aplikasi itu, lalu membukanya lagi. Cuma buat memastikan. Tiga postingan story: buku, gerimis, terus repost @kaelan.r. Urutannya beruntun: buku, hujan, Kaelan. Gak ada pola khusus, gak ada arti tersembunyi.
62Please respect copyright.PENANAj04fYod7kx
Tapi isi kepala gue terlanjur bekerja sendiri, menyusun asumsi dan menghubungkan titik-titik yang gak semestinya, dan gue benci diri gue sendiri karena hal itu. "Van, lu kenapa?" suara teman sekelas membuyarkan lamunan gue dari meja sebelah. Gue baru sadar kalau sendok di tangan gue sengaja gue genggam erat sampai warna kulit gue memucat.
62Please respect copyright.PENANAW7jDSW1nBx
"Gak, gak apa-apa." Gue buru-buru meneguk sisa air manis yang sekarang rasanya bikin seret di tenggorokan. "Lanjutin aja ngobrolnya." Mereka sempat menatap gue agak heran sejenak, sebelum balik lagi larut dalam perdebatan entah membahas apa.
62Please respect copyright.PENANASMvLzfEyFn
Otak gue bekerja, menggiring jari gue untuk membuka profil si @kaelan.r.
62Please respect copyright.PENANAG6Zh7WFoeR
Gue sempat merasa cemas, takut profilnya di-private, tapi untungnya tidak. Gue perhatikan dengan saksama profil Instagram-nya. Followers-nya ada sekitar 6.000-an, dan foto-fotonya cuma sedikit, cuma ada delapan postingan. Tapi tiap foto kelihatan kayak dipilih dengan baik sebelum di-post. Lapangan bola, senja dari atas jembatan, foto close-up sepatu Nike baru, sama satu foto muka—diambil pas sore, memperlihatkan garis rahang tegas sama sorot mata yang agak silau kena matahari. Dengan potongan rambut fade rapi dan kaus hitam yang ngepas di lengan.
62Please respect copyright.PENANAMuILgr8K7O
Jumlah like-nya banyak, tembus empat ratusan.
62Please respect copyright.PENANA4tx095WMsj
Kolom komentarnya juga ramai, didominasi akun cewek yang berkomentar dengan emoji api dan hati. “Nicholas Saputra lu?!” batin gue kesal tanpa sebab kepadanya, meskipun itu mungkin dipicu sedikit rasa cemburu perihal Aurel.
62Please respect copyright.PENANAid0YKlfRyk
@kaelan.r, sebuah username yang seharusnya gak punya efek apapun dalam hidup gue, sekarang perlahan mulai terasa kayak serpihan duri halus yang nyangkut di ujung jari. Gak bikin sakit parah, tapi ada di sana. Dan gue gak bisa menahan diri buat gak terus menyenggol duri itu. Gue membalikkan ponsel di atas meja dengan layar menghadap ke bawah untuk menenangkan diri yang mulai terasa panas oleh emosi.
62Please respect copyright.PENANAImutWoOCPJ
Tapi gak sampai semenit, gue balikkan lagi ponselnya dan membuka profil Aurel lagi.
62Please respect copyright.PENANAE6BvbLDwAn
Gue menatap langsung story ketiganya, dan kali ini mata gue menangkap satu detail kecil yang mungkin tadi terlewat, atau baru saja terjadi. Ada tanda balasan dari si @kaelan.r pada bagian komentar postingan itu: "Terima kasih cantik", lalu ada emoji hati di akhir ucapannya. Kepala gue langsung mendidih, berbarengan dengan bunyi bel masuk yang menandakan kelas akan dimulai lagi.
62Please respect copyright.PENANAw9lqDRUHVe
***
62Please respect copyright.PENANAv5ANXyV5e0
Di kelas, Aurel sedang tersenyum manis.
62Please respect copyright.PENANA8wqVpNU233
Jarinya bergerak cepat di atas layar ponsel, senyuman itu tidak terhenti sama sekali di wajahnya. Senyuman yang gak ditujukan buat siapa-siapa di ruangan itu, melainkan ekspresi kepuasan karena dia sedang mengobrol dengan seseorang di seberang layar. Gue mencoba mengatur seluruh energi gue biar gerak-gerik gue masih kelihatan sewajar mungkin, lalu duduk kembali di bangku gue.
62Please respect copyright.PENANAVpIuIsnxri
Melihat kedatangan gue, Aurel langsung mengunci layar ponselnya dan menyelipkan benda itu di antara halaman buku PPKn, karena sebentar lagi pelajaran dimulai.
"Van." Aurel menoleh, sisa senyuman di bibirnya terlihat masih ada. "Kalau gak salah besok ada tugas Biologi, ya? Lu udah ngerjain?" tanyanya. "Udah setengah jalan. Kenapa? Mau nyontek lagi?" jawab gue sambil mengembuskan tawa kecil.
62Please respect copyright.PENANARNan9NHNAn
"Hihihi... boleh gak? Gue belum mulai sama sekali nih." Gue pun mengambil buku tulis Biologi dari dalam tas.
62Please respect copyright.PENANAhhP23F3TgW
Sebenarnya hari ini tidak ada pelajaran Biologi, tapi buku tulis ini tetap gue bawa karena tadinya mau gue lanjut pengerjaan PR-nya pas makan siang tadi. Eh tapi, 'Negara Api' malah menyerang lebih dulu, gak jadi deh!
62Please respect copyright.PENANAqiSgSND6Yz
Gue membuka halaman buku tulis Biologi gue, dan Aurel otomatis menggeser posisi duduknya.
62Please respect copyright.PENANAG82uVMSqwc
"Wah, rajin bener lu ye, bawa buku tulis yang gak ada pelajarannya hari ini!" Bahunya sempat bersandar ringan di lengan gue, mengalirkan lagi rasa hangat yang sama kayak yang gue rasakan pagi tadi pas jarinya menyenggol punggung tangan gue. Tapi kali ini, kehangatan itu membawa impresi yang beda. Rasa nyamannya masih ada, masih bikin kulit gue merekam kehadiran dia di dekat gue, tapi sekarang ada lapisan tipis yang mengganjal di bawahnya. Sesuatu yang gak kasat mata, yang bikin kehangatan ini mendadak terasa rentan dan bisa lenyap sewaktu-waktu.
62Please respect copyright.PENANAUdCp54XE7G
Aurel mulai membaca baris demi baris jawaban PR gue, ujung jarinya bergerak mengikuti alur tulisan, sesekali kepalanya mengangguk. "Van, lu nulis ini rapi banget deh. Kelihatan kayak hasil ketikan komputer."
62Please respect copyright.PENANA22XbbxIPjG
"Biar gak pusing aja pas dibaca lagi."
62Please respect copyright.PENANARZqbHMxDz9
"Iya sih. Tapi kadang karena terlalu rapi, jadinya kelihatan... kayak sengaja banget dipikirin tiap hurufnya." Dia tertawa kecil, dan suara tawa itu menggelitik indra pendengaran gue untuk merekam tiap frekuensinya dengan jeli dan menyimpannya di satu sudut ingatan yang gak bakal pernah penuh. Gue memilih gak menyahut, cuma memperhatikan dia yang lagi serius menyalin catatan gue di tengah-tengah Bu Ida. Guru PPKn killer berdarah Batak, yang masih belum datang.
62Please respect copyright.PENANA9u4wleSuSX
Sumpah, tiap kali Bu Ida bersuara, gue cuma takut digeplak sama dia.
62Please respect copyright.PENANAlRhCx2gOFp
Ada satu momen gue menyadari kalau kardigan biru pastel yang dipakainya agak melorot di bahu sebelah kanan, menampilkan kerah seragam di bagian dalam. Ada dorongan kuat dalam diri gue buat menjulurkan tangan dan membetulkan posisinya. Jari gue bahkan sempat bergerak naik sedikit, sebelum akhirnya gue paksa berhenti dan gue kembalikan ke atas meja.
62Please respect copyright.PENANAeZkT8v0YdJ
Itu bukan wilayah gue. Gue gak punya hak buat melakukan itu.
62Please respect copyright.PENANAPeA6k8WEkO
Hingga jam pelajaran terakhir, waktu terasa lambat banget. Pelajaran terakhir hari ini adalah Sejarah. Bu Wati lagi memaparkan materi seputar era kolonialisme di depan kelas, dan intonasi suaranya yang datar sukses bikin separuh murid di ruangan mulai merem-melek menahan kantuk. Aurel termasuk yang masih bertahan, dia terlihat tetap sibuk mencatat. Sedangkan gue, sudah tidak terhitung berapa kali gue menguap. Gue sempat melirik sekilas ke arah bukunya, sedikit kepo apakah dia benar-benar mencatat materi yang dibawakan oleh Bu Wati.
62Please respect copyright.PENANAycZHn7qoxY
Yang ada, mata gue malah menangkap potongan kalimat: "Gak nyangka sih dia serius banget chat aku." Di bagian bawahnya tertulis lagi: "Lucu ya." Dan sedikit lebih bawah: "Nanti dibales lagi gak ya?"
62Please respect copyright.PENANAPzXxzisEtb
Gue segera mengalihkan pandangan, menolak buat membaca lebih jauh. Gue paksa mata gue kembali menatap papan tulis di depan, memandangi deretan angka tahun kolonial yang seharusnya jadi fokus utama gue saat ini, tapi isi kepala gue sudah terlanjur penuh. Dipadati sama potongan kalimat yang sebenarnya gak ingin gue ketahui: "Dia serius banget chat aku."
62Please respect copyright.PENANAc8hEDfDn2d
Si @kaelan.r itu kah maksudnya??? Atau orang lain??
62Please respect copyright.PENANA6xPcGdlwqc
Ah, entah kenapa gue lagi mudah tersulut emosi untuk sesuatu yang memang bukan seharusnya jadi urusan pribadi gue. Gue gak berhak buat penasaran untuk hal yang orangnya juga belum tentu mau membicarakannya lebih lanjut. Tapi apakah pertanyaannya yang tadi itu sebenarnya cara dia buat mengetes gue? Gue pun melirik ke arahnya sekali lagi. Dan lagi-lagi, gue menangkap raut wajahnya sedang tersenyum manis.
62Please respect copyright.PENANAvP7kgnR1x8
Bel tanda pulang akhirnya berbunyi tepat pukul tiga lewat lima belas menit. Murid-murid di kelas langsung sibuk seketika. Ada beberapa yang sudah siap tancap gas dengan tasnya beberapa detik sebelum bel berbunyi. Isi kelas bergema dengan suara kaki kursi yang bergesekan dengan lantai keramik, menghasilkan kombinasi suara bising yang bercampur gelak tawa anak-anak yang ingin cepat sampai rumah.
62Please respect copyright.PENANAYpOSas45qI
Aurel bangkit dari duduknya, mulai merapikan mejanya, lalu menyusun buku-bukunya ke dalam tas. "Van, pulang bareng gak?" tanyanya sambil mengaitkan tali tas selempangnya ke pundak.
62Please respect copyright.PENANAOcJl7CleTv
"Enggak deh, gue ada perlu dulu."
62Please respect copyright.PENANAeLUFDutxiU
"Oh, ya udah kalau gitu." Dia melempar senyuman. Senyum yang persis sama dengan yang biasa gue lihat. Manis, polos, tanpa ada maksud tersembunyi. "Hati-hati di jalan ya." Gue mengangguk pelan. "Lu juga."
62Please respect copyright.PENANAighAjLIwV4
Aurel melangkah menuju pintu keluar kelas, sedangkan gue memilih tetap bertahan di kursi gue selama beberapa menit. Setelah ruang kelas benar-benar sepi, gue mengeluarkan ponsel dari saku celana, kembali membuka aplikasi Instagram, dan mengetik profil @kaelan.r.
62Please respect copyright.PENANAB77MfULzU4
Ada sebuah unggahan foto baru yang baru saja di-upload. Menampilkan langit sore dengan siluet beberapa anak yang lagi asyik bermain, visualnya terlihat menarik. Dan di situ tertulis: "Kalau kayak gini, siap tempur selalu deh 💪❤️".
62Please respect copyright.PENANAOJPpEgVLUu
"Fuck..." gumam gue pelan.
ns216.73.216.169da2


