Setiap pagi di dalam kelas 12 IPA 3 SMA Taruna Bakti III Jakarta, siapa pun orang pertama yang masuk kelas selalu menyambut aroma khas: perpaduan kapur kering dan penghapus papan tulis yang sudah berbulan-bulan gak dicuci. Seiring sinar mentari yang mulai meninggi, kilau cahayanya pelan-pelan menerobos masuk lewat jendela. Sinar itu merambat membelah deretan bangku, sampai jatuh tepat di pojok kanan belakang.
77Please respect copyright.PENANABuPlEmZjTV
Di sanalah meja tempat gue biasa duduk, bareng teman sebangku gue yang bernama Aurelia Pramesti, biasa dipanggil Aurel. Sedangkan gue sendiri Revan Ardiansyah, yang sering dipanggil Van atau Evan. Soal perawakan gue... ah, gak penting-penting amat. Biarlah imajinasi kalian bermain-main membayangkan sosok gue kayak gimana. Yang jelas, gue bukan tipe medium ugly, hahaha.
77Please respect copyright.PENANAujmiangewz
Karena sudah lumayan lama sekelas sama Aurel, hal-hal kecil tentang dia sudah cukup gue hafal. Setiap jam tujuh kurang sepuluh menit, Aurel pasti muncul di pintu kelas sambil menyandang tas selempang kesayangannya. Tas itu berwarna coklat muda dengan pinggiran yang sudah agak dekil. Meskipun begitu, itu tas kesayangannya, hadiah ulang tahun dari almarhum neneknya.
77Please respect copyright.PENANAul7GbdtcaX
Cara dia memakai hijab juga sudah jadi ciri khasnya. Dari yang gue dengar, gaya kayak gitu lagi trend banget sekarang. Dia cuma melipat ujung hijabnya ke belakang, menampilkan lekukan yang gak terlalu besar, tapi juga gak bisa dibilang kecil.
77Please respect copyright.PENANA3VFwgvGTsX
Penampilannya hari ini dipadu dengan kardigan biru pastel berukuran oversize. Sambil berjalan menuju meja belajar, dia selalu komat-kamit berdoa sebentar sebelum duduk. Nah, setelah selesai berdoa, barulah senyum tipisnya terbit pas mata kami saling bertemu.
77Please respect copyright.PENANA54opbieS73
"Pagi, Van." Cuma dua kata. Tapi selalu sukses bikin dada gue agak ambyar setiap harinya.
77Please respect copyright.PENANA5rvGWqD9Tw
Gue tentu membalas sapaannya dengan ramah. "Pagi, Rel," kata gue sambil melempar senyum yang sudah keseringan dipakai, sampai gue sendiri gak yakin apakah senyum itu kelihatan tulus atau cuma refleks. Aurel menurunkan tasnya, lalu mengeluarkan buku Fisika, mata pelajaran pertama setiap hari Kamis. Kemudian, dia mengeluarkan botol minum pink favoritnya yang stiker-stikernya sudah pada mengelupas.
77Please respect copyright.PENANA0OWw1UDgMe
Gue gak pernah bilang ke dia kalau gue suka memperhatikan hal-hal sedetail itu. Gak pernah cerita kalau gue tahu dia selalu minum dua teguk setiap kali baru sampai di kelas, kebiasaannya menggigit ujung pulpen tiap kali otaknya mentok, atau gimana kelingkingnya refleks menyelipin anak rambut yang keluar dari hijab ke belakang telinga.
77Please respect copyright.PENANAuK1sdwAsLA
Gue hafal semua hal kecil tentang dia, bahkan mungkin lebih banyak dari yang dia tahu tentang dirinya sendiri.
77Please respect copyright.PENANAWqxpCxQFBy
Tapi ya, itu masalahnya. Gue terlalu banyak memperhatikan. Terlalu rajin menyimpan memori di kepala. Terlalu sok tahu tentang dia, padahal gue gak punya hak untuk itu. Kalau ditanya kenapa gue bertingkah kayak gini? Gue pun gak tahu jawabannya.
77Please respect copyright.PENANA8y52644ucg
Apakah gue suka? Apakah gue tertarik sama dia?
77Please respect copyright.PENANAPgxWExKry2
Bu Ratna masuk kelas lima belas menit kemudian sambil membawa tumpukan fotokopi latihan soal. Suasana kelas yang tadinya riuh dengan gosip dan candaan langsung berubah drastis menjadi hening. Setelahnya, cuma terdengar suara gemerisik kertas yang dioper ke belakang. Aurel menyodorkan kertas bagian gue, dan jarinya sempat menyenggol punggung tangan gue. Walaupun cuma sekejap, rasanya ada aliran energi hangat dari kulitnya, agak lembap, tebakan gue sih karena gerah habis desak-desakan naik angkot dari arah Kota.
77Please respect copyright.PENANAGWdwRLfdFq
Gue mengambil kertas itu, lalu mengisi nama dan tanggal. Sambil menanti instruksi Bu Ratna soal latihan yang rasanya mirip ulangan mendadak ini, bekas sentuhan jari Aurel masih terasa hangat di punggung tangan gue. Kayak nempel terus, gak mau hilang bahkan sampai bel pelajaran ketiga berbunyi.
77Please respect copyright.PENANAbuBfFNqqZC
Gue sempat membatin, “Gue disantet kali ya sama Aurel? Masa baru kesentuh gitu aja rasanya membekas gini?”
77Please respect copyright.PENANAwzfh1pwyYX
“Ya, Anak-anak, sudah mengisi nama dan tanggal, kan?” tanya Bu Ratna. Kami sekelas serempak menjawab, “Sudah, Bu~!” Bu Ratna memberi tahu kalau kami punya waktu 35 menit untuk menyelesaikan 20 soal tersebut.
77Please respect copyright.PENANAHlGRHuQ92U
Seketika, kami sekelas langsung fokus mengerjakan.
77Please respect copyright.PENANACqt0Uw2iuC
Jujur saja, buat gue soal latihannya gak susah-susah amat. Cuma seputar Hukum Newton dan materi pelajaran bulan lalu. Kebetulan beberapa materi memang sering gue pelajari sendiri di rumah. Gue tipe orang yang gak bakal tenang kalau belum paham betul, bukan berarti gue ambis, ya.
77Please respect copyright.PENANAf3BZa8iC2A
Tangan gue mulai sibuk mencorat-coret kertas. Sementara di sebelah gue, Aurel mulai menggigit ujung pulpennya, tanda dia mulai kebingungan. Gue tahu kalau sudah begini, pikirannya pasti lagi mentok. Apalagi ketukan pulpen di bibirnya sudah bergerak dengan ritme yang berantakan.
77Please respect copyright.PENANAYzN61zGAqD
Tanpa mengucap sepatah kata pun, gue langsung menggeser kertas jawaban gue agak miring ke arah dia. Cukup miring supaya dia bisa menyalin cara penyelesaian nomor empat dan lima yang sudah selesai gue kerjakan. Aurel menoleh, langsung paham maksud gue. Sudut bibirnya tertarik ke atas, bukan senyum lebar, melainkan ekspresi lega yang biasa keluar kalau dapat bantuan tanpa perlu repot-repot meminta.
77Please respect copyright.PENANALvKsSMXGy6
"Makasih ya, Van," bisiknya pelan. Suaranya agak berat di ujung kalimat, kayak sebuah kata yang sudah keseringan diucapkan sampai maknanya jadi agak tumpul. Tapi buat gue gak masalah. Gue membalas ucapannya dengan senyuman singkat.
77Please respect copyright.PENANAfRPWXDCY6C
Cuma efek sampingnya, gara-gara memberi dia contekan, fokus otak gue malah buyar total. Rumus Fisika di atas kertas mendadak kelihatan buram. Gue malah jadi kedistraksi sama suara napas teratur Aurel di samping gue.
77Please respect copyright.PENANAfzqV8QFbAG
“Aduh, coba tenangin diri lo, wahai isi kepala!” gerutu gue dalam hati.
77Please respect copyright.PENANAms447ZCo8f
***
77Please respect copyright.PENANAiebtz7xHOn
Pas bel istirahat pertama berbunyi, kelas langsung bubar dan terpecah menjadi beberapa kubu kecil.
77Please respect copyright.PENANAJtfAtUcKGO
Ada yang kabur ke kantin, nongkrong di koridor, atau tetap mager di meja sambil main game di ponsel. Aurel gak beranjak dari kursinya, begitu juga gue. Ini sudah jadi kebiasaan kami: duduk diam di pojokan, sama-sama menatap layar ponsel masing-masing. Kadang kami terlibat obrolan random, kadang hening berjam-jam. Gak canggung, gak terpaksa juga. Cuma dua orang yang merasa nyaman berbagi ruang yang sama tanpa perlu banyak tingkah.
77Please respect copyright.PENANATLIpz5lzlV
Mungkin karena kami berdua bisa dibilang sama-sama introvert.
77Please respect copyright.PENANAJExpguvuzx
Sejujurnya, paras Aurel ini lumayan manis. Tapi dia memang tidak terlalu sering bergaul dengan teman-teman cewek lain di kelas. Aurel terbiasa dengan dunianya sendiri—kadang sibuk dengan ponselnya, kadang fokus membaca novel yang dibawanya ke sekolah secara sembunyi-sembunyi. Saat kami lagi anteng dengan dunia masing-masing, tiba-tiba Aurel membuka obrolan duluan. "Van, lu pernah gak sih, tiba-tiba di-chat sama cewek random yang sama sekali gak lu kenal di IG?" Gue mengernyit, pertanyaan itu benar-benar terlalu random.
77Please respect copyright.PENANAaWRVOasTjB
"Nggak pernah," jawab gue apa adanya. Akun Instagram gue bisa dibilang kayak kuburan. Followers sedikit, jarang update story atau feed juga. Jelas bukan jenis profil yang bakal bikin orang asing penasaran. Gue balik bertanya, "Emang kenapa, Rel?"
77Please respect copyright.PENANAhOaHWoYuOb
Aurel mengarahkan layar ponselnya ke gue, menunjukkan ruang obrolan DM-nya dengan seseorang bernama akun @kaelan.r.
77Please respect copyright.PENANAsMX1mnGXjn
Foto profilnya memperlihatkan siluet seorang cowok yang lagi berdiri di tepi lapangan bola pas senja. Mukanya gak kelihatan, cuma garis rahang sama potongan rambut pendek yang rapi. Username-nya bersih tanpa angka atau garis bawah, tipikal bukan akun bodong atau alter yang umumnya bertebaran di medsos. "Dia sering banget nyepam chat," kata Aurel. Nadanya datar, gak kelihatan risau tapi gak kelihatan senang juga. Dia cerita kayak lagi membacakan prakiraan cuaca hari ini. "Ya gue tahu IG gue kan for public, gak di-private. Jadi pasti ada aja kan followers random-nya. Nah, awalnya dia cuma reply story gue yang foto langit. Gue cuma read aja. Tapi lama-lama nih orang spam terus. Pas gue lagi gabut dan dia komen lagi di story gue, ya udah gue coba balas. Eh, malah berlanjut sampai sekarang."
77Please respect copyright.PENANAx7cnbrPuJq
DEG.
77Please respect copyright.PENANAXCDXFwVE78
Sialan. Mendengar cerita gitu aja dari mulut dia ternyata bisa bikin pikiran gue langsung traveling ke mana-mana. Ada rasa kesal mendadak begitu tahu ada cowok lain yang mencoba mendekati Aurel, walaupun gue sadar, gue bukan siapa-siapanya dia. Hati gue mendadak menabuh genderang perang.
77Please respect copyright.PENANACbiNNAD5Fy
Gue menyodorkan tangan, yang direspons anggukan oleh Aurel sebelum dia menyerahkan ponselnya ke gue, tanda persetujuan kalau gue boleh melihat isi DM-nya.
Gue cukup lama memandangi layar itu, membaca isi percakapan yang diam-diam membangkitkan rasa sesak di dalam dada. Ada obrolan khas orang PDKT, seperti "kamu suka main/nonton bola?", "sekolah di mana?", sampai "eh boleh minta nomor WA gak?" bahasan-bahasan ringan khas cowok yang sudah khatam cara PDKT sama cewek di internet.
77Please respect copyright.PENANA2ntb4Cx2Zw
Kelihatan banget dia percaya diri. Gak ada kesan ragu atau emoji pemicu canggung sebagai pelengkap. Kata-katanya langsung to the point, tipe cowok yang tahu pintunya bakal dibuka kalau digedor dengan cara yang pas. "Tapi kira-kira dia tahu akun lu dari mana? Kok bisa tiba-tiba follow? Emang lo sudah jadi selebgram?" tanya gue, berusaha menahan nada suara biar gak kedengaran aneh atau terkesan menginterogasi.
77Please respect copyright.PENANAB8yJ46GyXB
"Gak paham juga, Van. Kayaknya pas foto langit gue di-repost sama akun eksplor daerah, terus dia lihat, follow, terus masuk ke DM." Aurel menarik ponselnya lagi sambil menghela napas pendek. "Sebenarnya gue gak merasa terganggu sih, biasa aja. Cuma ya... masih agak aneh aja kalau ada orang asing yang tiba-tiba ajak ngobrol se-intens itu."
77Please respect copyright.PENANADQCBR3GfKp
Gue mengangguk. "Terus sekarang mau gimana?"
77Please respect copyright.PENANAurq74dArMi
"Ya gak gimana-gimana. Gue juga masih sewajarnya aja, jawab pendek-pendek. Gak apa-apa kan, ya?" Aurel menoleh, menatap gue langsung. Sepasang matanya yang bulat berwarna coklat tua selalu punya sorot yang seolah lagi mencari pembenaran tanpa perlu diucapkan. "Lagian gue juga gak ngasih nomor pribadi kok. Semua pembicaraan masih di DM aja," ucapnya lagi.
77Please respect copyright.PENANASKdXLACpbB
"Iya, gak apa-apa. Kalau ngerasa gak nyaman, kan tinggal lo block aja orangnya," saran gue. Gue gak mungkin tiba-tiba mengintervensi siapa yang boleh dan gak boleh berkomunikasi sama dia, kan?
77Please respect copyright.PENANA94SPhlUTWC
Emang gue pacarnya?
77Please respect copyright.PENANAuGqmWeTpQQ
Meskipun saran itu terasa mudah banget keluar dari mulut gue, jauh di dalam diri gue, di satu titik di bawah tenggorokan, ada rasa ganjil yang mulai mengusik. Sesuatu yang belum punya nama, tapi perlahan mulai membentuk rasa tidak enak.
77Please respect copyright.PENANAPRlMTbYebD
Dan gue benci diri gue sendiri karena bisa mengingat nama itu secepat kilat.
Akun @kaelan.r kini sudah tersimpan rapi di kepala gue.
ns216.73.216.169da2


