POV Aurel
31Please respect copyright.PENANApy256KFHYZ
Gue ngaca sebentar di depan cermin toilet XXI, merapikan hijab, lalu ngeluarin Wardah Matte Lip nomor 29 dari tas mini gue.
31Please respect copyright.PENANAtjtaQQgfDn
Jujur, gue suka banget sama shade yang ini. Warnanya pas banget di bibir gue dan bikin muka langsung kelihatan segar. Setelah merasa pas, gue masukin lagi lipstik itu ke tas dan melangkah keluar menuju area bioskop. Mata gue langsung mencari keberadaan cowok gue. Tadi sih dia chat sudah beli tiket dan bakal langsung antre beli popcorn.
31Please respect copyright.PENANAVWHu17i10R
Tepat saat mata gue menemukan cowok gue, di saat itu juga mata gue menangkap sosok yang gak asing. Langkah kaki gue gak berhenti, karena gue memang ingin menghampiri cowok gue, tapi mata gue tetap mengikuti ke mana arah dia berjalan setelah dari kasir itu.
31Please respect copyright.PENANAS43rXjiCcG
“Kenapa dia ada di sini?” pikir gue.
31Please respect copyright.PENANA9G98GdpSmU
Puk.
Aldo merangkul gue ketika gue menghampirinya, lalu berbisik, “Kamu ngelihatin apa? Ada temen kamu, ya?”
31Please respect copyright.PENANApwDTPimvtP
Gue pun mengangguk kecil. “Kok tahu?”
31Please respect copyright.PENANANjzjHoi6hG
“Temen yang pernah jadi temen sebangku kamu itu, kan? Yang fotonya aku minta kamu tunjukin pas kamu sedih dia pindah posisi? Aku lihat... dia juga beli tiket deh, tapi gak tahu apa.” katanya lagi, yang gue benarkan dengan anggukan. “Kok kamu masih ingat aja? Kan cuma sekali itu aja aku kasih lihat mukanya, dan kamu belum pernah kenalan langsung.” Jempol Aldo mengusap pipi gue, “Aku bakalan ingat sama siapa aja yang pernah bikin kamu sedih,” jawab Aldo datar.
31Please respect copyright.PENANAtviYINE7mJ
Tidak ada nada bercanda di sana. Matanya menatap tajam ke depan. “Samperin dia. Nanti aku nyusul.” Gue menggeleng cepat. “Buat apa? Mending ikut antri popcorn aja sama kamu.” Tangan kiri Aldo terangkat, lalu menyentuh bawah dagu gue, menahannya agar gue menatap langsung ke matanya. “Udah, nurut...” bisiknya sambil mengelus pelan bawah dagu gue.
31Please respect copyright.PENANAP0TpQtEoaK
Kalau udah seperti ini, gue gak bisa menolak.
31Please respect copyright.PENANAvo24LJVzxU
Dengan cemberut sedikit, gue mengangguk dan berbalik melangkah dengan agak ogah-ogahan menghampiri Revan. Rasa posesif Aldo selalu bisa bekerja dengan cara yang halus, tapi menekan seperti ini. Saat kejadian Revan yang mendadak pindah tempat duduk, jujur hati gue cukup terluka. Gue curhat kepada Aldo malamnya via telepon. Dan apa yang Aldo katakan pada gue malam itu agak sedikit bikin gue shock.
31Please respect copyright.PENANApKQ32fGky4
Mungkin memang benar, dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah, itu bisa saja jadi bukti kalau ternyata Revan punya perasaan lebih dari sekadar teman kepada gue...
Dan malam itu, di dalam hati, ada satu ruang kecil yang tiba-tiba berisik.
31Please respect copyright.PENANAeKVZdkzkl8
“Kenapa? Kenapa baru sekarang, Van? Kenapa gak dari kemarin-kemarin? Kalau aja lo gak setelat itu…”
31Please respect copyright.PENANAvdlIyzCIa8
Tapi yang telah terjadi, terjadilah. Gue menghentikan langkah tepat di dekatnya, yang terlihat bersandar sembunyi-sembunyi di dinding dekat Studio 3.
31Please respect copyright.PENANAYdAey1dGu8
***
31Please respect copyright.PENANAVCLM4KY7wg
POV Revan
31Please respect copyright.PENANAtPBkbEVjGR
“Revan...”
31Please respect copyright.PENANAAe38iwGVIt
Eh...? Saat gue melirik ke arah panggilan itu, rasanya seperti ada petir yang menyambar tepat di atas kepala gue. Seluruh aliran darah gue mendadak berhenti.
Aurel berdiri berjarak dua langkah dari gue. Otak gue langsung shutdown total. Rencana bertahan 3–5 menit di luar saat jam film dimulai hancur berkeping-keping.
31Please respect copyright.PENANAzoeWF15hPq
“A-Aurel...?” ucap gue begitu aja, terbata-bata kayak maling tertangkap basah.
31Please respect copyright.PENANAWbQKSbpPNR
Aurel menatap gue, kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada. “Lo... nonton sama siapa, Van?” Gue menelan ludah, yang tiba-tiba rasa tenggorokan gue seret banget. “S-sendiri, Rel. Lo...?”
31Please respect copyright.PENANAuPVeaWx8CX
“Goblok! Bego! Kan lo udah tahu dia sama siapa, Revan!” maki batin gue kasar.
31Please respect copyright.PENANAzMBBbrBrMX
“Gue sama cowok gue,” jawab Aurel pelan. Kalimat itu sederhana, tapi efeknya bikin dada gue kayak dihantam palu, sambil diiringi lagu Upin-Ipin yang viral:
“Tamatlah sudah alkisah kami~.”
31Please respect copyright.PENANAm51YgOLsvV
Keheningan mendadak tercipta di antara kami. Mata kami masih saling bertatapan, tidak ada yang menunduk duluan atau mencoba menghentikan kecanggungan ini. Lalu, di waktu yang bersamaan, kami mengucapkan kata yang sama.
31Please respect copyright.PENANAJywqq5CnZy
“Supergirl?”
Ia tersipu, ada tawa kecil yang muncul dari ekspresinya. Dia kemudian mengangguk kecil, gue pun sama. Lalu Aurel mengalihkan pandangannya lebih dulu.
31Please respect copyright.PENANAe7aGxB8WS2
“Hmm... berarti sama-sama Studio 3, kan ya?” tanyanya lagi, mencoba basa-basi.
“Eh... iya...” jawab gue kikuk.
31Please respect copyright.PENANAi70c7WMG2u
“Tunggu-tunggu, kok gue bisa gak ngeh sih studio berapa? Bego lu! Pas beli merhatiin makanya! Fokus! Jangan Aurel-Aurel mulu!” pikiran logika maki-maki gue lagi. Gue pun mengeluarkan tiket yang disimpan di saku belakang celana, dan melihatnya dengan saksama. Dan benar aja, film Supergirl itu ada di Studio 3! Terus ngapain gue sok-sokan sembunyi di sini? Kan jadi ketahuan!
31Please respect copyright.PENANAqFPTmPkVw3
“Fuck!”
31Please respect copyright.PENANAUa5UpTj9RV
Lalu ada sebuah tangan yang tiba-tiba merangkul bahu Aurel dan menyadarkan gue. Mata kami bertemu. “Temen kamu, Sayang?” ucapnya sambil melirik ke arah Aurel.
Aurel mengangguk. Cowok ini lalu menyodorkan tangan kanannya. “Aldo...”
31Please respect copyright.PENANAIcYSgRKd8I
“Anjing, babi, bangsat, keparat…” umpat gue dalam hati. Dari sorot matanya, gue tahu dia ingin menilai diri gue. Dia ingin mengetes gue.
31Please respect copyright.PENANAtEpjhaJAyD
Cowok tuh punya unspoken rules kalau udah berurusan sama cewek yang disukai. Dan si bajingan ini sedang melakukannya. Gue pun menyodorkan tangan kanan gue.
“Revan...” Tangan kami bersalaman erat sambil terus beradu pandang. “Oh... temen sebangkunya Aurel dulu, kan ya? Aurel pernah cerita soal lo kayaknya.” Kalimat itu makin menyayat perasaan gue.
31Please respect copyright.PENANAXpGH2nBOFg
Entah karena akhirnya gue tahu kalau Aurel pernah menceritakan soal gue ke cowoknya, atau malah gue ngerasa sedang diremehkan oleh orang ini lewat kalimat tersiratnya!
31Please respect copyright.PENANAr8RO6bL3YR
Gue cuma bisa memaksakan senyum untuk menjawab. “Iya, gue pernah sebangku sama Aurel.” Aldo tersenyum sinis. Ia kemudian merangkul Aurel makin erat. “Yuk, Sayang, pintu studionya udah dibuka tuh.”
31Please respect copyright.PENANAcK6hekAWKC
“Gue... duluan ya, Van,” ucap Aurel pelan, dan gue hanya bisa mengangguk. Gue berdiri diam di lorong sampai punggung mereka hilang di balik pintu, baru gantian gue yang masuk.
31Please respect copyright.PENANAKmDX8zE4gb
***
31Please respect copyright.PENANAs0GzQkUeAW
Saat berbelok dari lorong masuk teater studio, gue berdiam sejenak.
31Please respect copyright.PENANAjoRaEhuPsW
Gue melangkah pelan menaiki tangga sambil mencari keberadaan mereka, memindai deretan kursi dari bawah ke atas untuk membuktikan kalkulasi gue tadi. Dan ternyata, perhitungan gue meleset. Aurel dan Aldo tidak duduk di Row D. Gue mendapati mereka berjalan menuju barisan Row B, di seat B15 dan B16. Tentu saja, Aurel yang duduk paling ujung.
31Please respect copyright.PENANAsDeedH1hCr
“Sialan! Dari kursi A10 gue ini, udah pasti gak akan bisa melihat apa-apa ke arah mereka.”
31Please respect copyright.PENANAy5azyqeGVG
Film pun akhirnya dimulai. Redupnya lampu studio beriringan dengan rasa tidak nyaman yang mulai memenuhi seluruh tubuh gue. Gue terus melirik ke arah sana, mencari siluet kepala mereka untuk menerka-nerka mereka sedang apa. Otak gue hanya memutar bagaimana cara Aldo merangkulnya, membayangkan tangan Aldo yang mungkin sedang memegang tangan Aurel di balik kegelapan.
31Please respect copyright.PENANAZvS5RkZzxF
Dada gue panas, tangan gue mencengkeram sandaran kursi, seakan-akan gue lagi menonton film horor. Setiap kali bayangan layar memantul terang, gue mencondongkan badan ke depan untuk mencuri-curi pandang ke arah mereka. Tapi gue juga sadar, kalau terus melakukan ini, bakal bikin penonton di kanan-kiri gue gak nyaman.
Sikap gue bisa mengganggu ketenangan mereka dalam menikmati film yang sebenarnya gak pengen gue tonton ini.
31Please respect copyright.PENANAHNhE6D2R3h
Otak gue terus bekerja keras. Gue gelisah setengah mati, napas gue gak beraturan. Sampai orang di sebelah kanan gue berbisik tajam, “Mas, lu bisa tenang dikit napa?! Kalau sakit, pulang gih, jangan maksain nonton!”
31Please respect copyright.PENANAdPkEGHUgDV
Gue membalas berbisik, “Maaf...” lalu menyandarkan lagi punggung gue, memaksa diri untuk ya udah... pasrah menonton film yang sama sekali gak pengen gue tonton ini.
31Please respect copyright.PENANAvujQpFj1B0
Kenapa gue harus menyiksa diri sendiri sampai kayak gini, sih?
31Please respect copyright.PENANA2SWpv1D6El
***
31Please respect copyright.PENANASDoRyjsiK1
POV Aurel
31Please respect copyright.PENANAquNIlF0QDw
Gue gak bisa menikmati film ini dengan tenang.
31Please respect copyright.PENANAuqnuGFJlni
Meskipun kepala gue sedang bersandar di bahu Aldo, pikiran gue terus memikirkan Revan yang ada di dalam studio ini. Entah dia duduk di barisan mana, yang jelas kehadirannya di sini, menjadi distraksi kencan hari ini. Aldo sepertinya menyadari kegelisahan gue. Dia berbisik, “Kamu gak fokus ya, Sayang?”
31Please respect copyright.PENANAfIovS9Rz5z
Gue menggeleng, berbohong. Namun tangan kirinya yang sedang merangkul gue menarik bawah dagu gue ke atas. Gue tahu apa yang bakal dilakukannya.
“Sayang... malu, ada orang. Bukan seat...” bisik gue pelan.
31Please respect copyright.PENANAaNd4J0etDo
“Mmmph...”
31Please respect copyright.PENANAJ0hDwo3NAE
Aldo tidak menghentikan aksinya. Ia melumat bibir bawah gue, dan lidahnya mencoba masuk ke dalam mulut gue. Gue pun membalas lumatannya, saling bertukar rasa di balik kegelapan. Gue tersentak pelan saat jari telunjuk tangan kirinya membuka sedikit ikatan hijab gue, lalu menyusup masuk ke balik kain yang melonggar itu, menyentuh kulit leher gue yang terekspos.
31Please respect copyright.PENANAE7TD9Za9qh
Mengelusnya dengan lambat, dan bikin merinding.
31Please respect copyright.PENANAkdEJ5LFUco
Kemudian, ketika arah tangannya mulai turun, gue melepaskan ciuman itu. “Jangan di sini, Sayang...kamu gak bawa jaket.” pinta gue sambil berbisik.
“Mobil?” bisiknya, dan gue jawab dengan mengangguk.
31Please respect copyright.PENANAPOs39aIQo6
Dia melumat dan mengecup bibir gue sekali lagi.
ns216.73.216.39da2


