Pesawat jet pribadi berlogo Energy Resource membelah awan malam di atas Samudra Pasifik, meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta. Di dalam kabin mewah itu, terukir dua takdir yang saling bertolak belakang: kebebasan bagi mereka yang tertinggal, dan belenggu neraka bagi dia yang dibawa serta.
Di Jakarta, kepergian Ahmad Kadafi selama satu minggu untuk urusan bisnis di Amerika Serikat disambut dengan kelegaan yang tak terucap.
Bagi Anna Widya, ketidakhadiran suaminya adalah sebuah anugerah. Di penthouse yang kini terasa sepenuhnya menjadi miliknya, Anna menikmati sarapan siangnya dengan tenang. Ponselnya terus berdenting, menampilkan pesan-pesan mesra dari Bernando Kalla. Ketiadaan Kadafi memberikan ruang bagi Anna untuk merancang pertemuan-pertemuan rahasia yang lebih berani dengan sang politikus muda. Anna sama sekali tidak peduli suaminya berada di benua mana, tidur dengan siapa, atau mengurus bisnis apa. Pernikahan ini tak lebih dari sekadar sangkar tak terkunci baginya.
Sementara itu, di sudut lain ibukota, Farah Nabila menemukan kembali setitik cahaya di tengah kegelapan yang menelannya beberapa hari terakhir.
Mendengar kabar kepergian Kadafi dari grup obrolan bersama Anna, Farah langsung menjatuhkan dirinya di atas sajadah. Di dalam kamarnya yang sunyi, wanita itu bersujud panjang, menumpahkan air mata penyesalan yang terasa panas membakar kelopak matanya.
"Ya Allah... ampuni hamba... ampuni dosa-dosa hamba yang hina ini," isak Farah bergetar, meremas ujung mukenanya.
Seminggu ini adalah masa jeda yang sangat ia syukuri. Setiap malam, Farah menghabiskan waktunya untuk membaca Al-Quran, memohon perlindungan dari iblis berwujud manusia yang telah merenggut kehormatannya. Ia berusaha menyucikan kembali jiwa dan tubuhnya, meskipun bayang-bayang dominasi Kadafi dan memar tipis di lehernya masih menjadi saksi bisu dari dosa yang tak bisa ia hapus. Farah terus berdoa, berharap keajaiban akan turun dan melepaskannya dari jerat sang predator sebelum pria itu kembali menginjakkan kaki di Jakarta.
Namun, kelegaan Farah dan Anna dibayar lunas oleh kehancuran orang lain.
Di dalam jet pribadi yang mengudara di ketinggian 40.000 kaki, Anisa Sintya duduk kaku di kursi berlapis kulit mahalnya. Dokumen-dokumen presentasi bertebaran di pangkuannya. Ia memaksakan matanya untuk tetap fokus pada angka-angka akuisisi saham, namun pikirannya berkabut.
Di seberang mejanya, Ahmad Kadafi menatapnya dengan gelas wiski di tangan. Tatapan pria itu tidak memiliki kehangatan sedikit pun; murni tatapan seorang tuan kepada budaknya.
Bagi Kadafi, perjalanan ke Amerika adalah kembali ke sarang monster. Ia harus menemui pamannya, sang mafia bisnis yang mendidiknya menjadi iblis seperti sekarang. Tekanan dari pamannya menuntut kesempurnaan mutlak, dan setiap kali beban pikiran itu menekan pundak Kadafi, Sintya-lah yang harus menjadi tempat pelampiasan. Bukan sebagai manusia, melainkan sebagai wadah pembuangan stres.
"Tinggalkan dokumen itu, Anisa," perintah Kadafi dingin, memecah dengung mesin jet. "Kemarilah."
Tubuh Sintya menegang. Matanya menatap berkas di tangannya dengan putus asa. "P-Pak Kadafi... bahan presentasi ini harus selesai sebelum kita mendarat di New York"
"Aku tidak suka mengulangi perintahku," potong Kadafi, nadanya merendah menjadi ancaman yang membekukan darah. "Kau tahu apa yang akan terjadi pada tanah panti asuhanmu jika kau membantah."
Ancaman itu adalah kartu as yang tak pernah gagal. Dengan tangan gemetar, Sintya meletakkan komputernya. Ia berdiri dengan kaki yang terasa seperti jeli, melangkah pelan menuju kursi panjang di area privat kabin jet tersebut.
Kadafi menarik pergelangan tangan Sintya dengan kasar, menghempaskan wanita itu ke atas sofa kabin. Kemeja putih Sintya dirunggut, rok pensilnya didorong ke atas. Tidak ada foreplay, tidak ada belas kasihan, hanya tuntutan gairah buta yang lahir dari keangkuhan.
"Jadilah sekretaris yang berguna," desis Kadafi, sebelum membungkam protes di bibir Sintya dengan ciuman yang menghukum.
Di atas awan malam itu, Sintya kembali dikoyak. Hujaman Kadafi terasa tidak beradab, penuh dengan kemarahan yang sebenarnya ditujukan pria itu pada tekanan pamannya. Sintya mencengkeram jok kulit sofa dengan erat, menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan jeritan sakitnya. Namun, rasa ngilu yang mengoyak bagian bawahnya memaksa air matanya luruh.
"M-Mas... sakit... tolong pelan sedikit..." isak Sintya parau, suaranya teredam oleh deru mesin pesawat.
Namun bagi Kadafi, rintihan kesakitan Sintya adalah bahan bakarnya. Pria itu menulikan telinganya, terus mendominasi tubuh sekretarisnya hingga ia mencapai kepuasannya sendiri, membiarkan Sintya terengah-engah dalam keputusasaan di atas ketinggian puluhan ribu kaki.
Pendaratan di New York bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju siksaan yang lebih intens.
Selama satu minggu penuh, jadwal Kadafi sangat padat. Pertemuan demi pertemuan dengan para konglomerat Amerika dan sang paman menguras emosi dan mental sang CEO. Dan di setiap celah dari jadwal yang gila itu, Sintya harus membayar harga dari stres tuannya.
Di hari ketiga, setelah rapat yang sangat menegangkan di sebuah firma hukum di Wall Street, Kadafi berjalan keluar ruang rapat dengan rahang mengeras. Negosiasinya berjalan alot. Sintya mengekor di belakangnya, menunduk sambil membawa tumpukan dokumen, berusaha menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi dan jalannya yang sedikit tertatih.
Saat mereka melewati lorong eksekutif yang sepi, Kadafi tiba-tiba berbelok, menarik lengan Sintya dengan kasar dan mendorongnya masuk ke dalam toilet pria khusus VVIP.
"Pak! A-apa yang Bapak lakukan? Ini di kantor orang!" Sintya memekik panik, menjatuhkan dokumennya saat Kadafi mengunci pintu toilet dari dalam.
"Tutup mulutmu," geram Kadafi. Ia membalikkan tubuh Sintya secara kasar, menekan dada wanita itu ke pinggiran wastafel marmer yang dingin.
Tanpa basa-basi, Kadafi menyingkap rok Sintya dari belakang. Rasa dingin dari marmer yang menempel di wajahnya kontras dengan rasa panas dan perih saat Kadafi memasukinya dengan satu hentakan brutal.
"AAH!" Sintya menjerit tertahan, menutupi mulutnya sendiri dengan tangannya yang gemetar. Air mata langsung menggenang. "Ampun, Mas... jangan di sini... ku-kumohon... mereka bisa dengar..."
"Biarkan saja mereka dengar bahwa sekretarisku sedang melayaniku!" bisik Kadafi di telinga Sintya, napasnya memburu penuh emosi. Tangannya mencengkeram pinggul Sintya kuat-kuat, meninggalkan bekas memar keunguan, memaksakan ritme yang kasar dan menyakitkan.
Bagi Sintya, ini adalah bentuk penghinaan terbesar. Ia adalah lulusan terbaik, wanita cerdas yang selama di ruang rapat tadi memukau para kolega dengan kemampuan analisanya. Namun di dalam toilet ini, di atas wastafel yang dingin, ia direndahkan menjadi tak lebih dari sekadar pelacur tak berharga. Ia hanya bisa menangis dalam diam, membiarkan air matanya jatuh ke atas marmer, diiringi desahan parau dan rintihan yang tak mampu lagi ia tahan setiap kali pinggul pria itu berbenturan dengan tubuhnya.
Neraka itu tidak berhenti di sana. Di malam kelima, di dalam mobil limusin hitam yang melaju menembus gemerlap kota Manhattan, Kadafi kembali mengambil hak atas tubuh Sintya.
Kaca limusin itu kedap suara dan sangat gelap dari luar, namun bagi Sintya, rasanya seperti ditelanjangi di tengah keramaian. Di kursi belakang yang luas, Kadafi memerintahkannya untuk berada di atas pangkuannya.
Sintya sudah berada di batas toleransi fisiknya. Seluruh ototnya berdenyut nyeri, area kewanitaannya membengkak dan terasa perih setiap kali bergesekan dengan pakaian. Matanya berkantung hitam, menandakan kurangnya jam tidur.
"M-Mas... tolong..." Sintya memohon, menyatukan kedua tangannya di depan dada Kadafi. Air matanya tak henti mengalir menatap wajah tak berbelas kasihan pria di bawahnya. "Saya mohon... saya capek sekali... badan saya sakit semua... sudah cukup untuk hari ini, Mas... ampun..."
Kadafi menatap wajah Sintya yang hancur itu dengan raut datar. Ia mengusap pipi Sintya yang basah oleh air mata, sebuah sentuhan yang terasa seperti duri.
"Lakukan, Sintya. Atau aku akan menelepon anak buahku di Jakarta sekarang juga untuk mengirim traktor ke panti asuhanmu malam ini," ancam Kadafi dengan nada santai, seolah ia sedang memesan kopi.
Hati Sintya hancur berkeping-keping. Pria ini tidak memiliki hati. Pria ini murni seorang iblis.
Dengan isak tangis yang memilukan, Sintya dengan gemetar menurunkan ritsleting celana Kadafi. Ia memposisikan dirinya, dan perlahan menurunkan tubuhnya. Begitu rasa penuh dan nyeri itu kembali menghantamnya, Sintya mendongakkan kepalanya ke belakang, mengerang panjang penuh nestapa.
Mobil itu terus melaju melewati lampu-lampu jalanan New York, menjadi saksi bisu bagaimana Sintya terpaksa menggerakkan pinggulnya, menunggangi pria yang paling ia benci di dunia, sambil merintih menahan sakit dan kelelahan yang luar biasa. Kadafi mencengkeram pinggangnya, membantu pergerakannya dengan hentakan-hentakan keras dari bawah, memeras setiap tetes tenaga yang tersisa di tubuh sekretarisnya.
Malam terakhir di Amerika, di penthouse mewah Kadafi di pusat kota New York.
Sintya sudah tidak memiliki air mata lagi untuk dikeluarkan. Ia berbaring telungkup di atas karpet bulu tebal di depan perapian yang menyala. Pakaian kerjanya terlempar entah ke mana. Tubuh polosnya yang dihiasi memar di lengan, paha, dan pinggul merupakan bukti kekejaman psikologis dan dominasi fisik Kadafi selama satu minggu ini.
Kadafi duduk di sofa tunggal di belakangnya, hanya mengenakan jubah mandi, menyesap cerutunya sambil menikmati pemandangan wanita yang telah ia hancurkan hingga ke akar-akarnya itu.
"S-sudah selesai...?" suara Sintya sangat lemah, nyaris seperti hembusan angin. Ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk membalikkan badan.
"Untuk malam ini, ya," jawab Kadafi, menghembuskan asap cerutu ke udara. "Kau bekerja dengan sangat baik minggu ini, Anisa. Baik di ruang rapat, maupun di bawahku."
Sintya menutup matanya. Kegelapan dan rasa mual menyelimuti kepalanya. "Kenapa... kenapa Bapak begitu membenci saya? Apa salah saya dulu... selain karena saya miskin...?"
Kadafi menghentikan hisapannya. Matanya menatap Sintya yang tampak seperti boneka rusak. "Aku tidak membencimu, Anisa. Kau hanya pengingat yang menyenangkan bagiku. Mengingatkanku bahwa sekuat apa pun orang miskin mencoba memakai jas dan bertingkah pintar, pada akhirnya nasib kalian ditentukan oleh ujung penaku. Atau dalam kasusmu, di ujung ranjangku."
Jawaban itu adalah pukulan mental terakhir. Sintya tidak menjawab lagi. Kesadarannya perlahan memudar, menyeretnya ke dalam tidur pingsan akibat keletihan ekstrem. Di dalam kegelapan ketidaksadarannya, Sintya hanya berharap ia tidak pernah bangun lagi, atau setidaknya, terbangun dari mimpi buruk berkepanjangan bernama Ahmad Kadafi.
Namun besok, pesawat jet itu akan kembali membawanya pulang ke Jakarta. Dan di sana, roda penderitaan yang lain sudah menunggu untuk diputar, bersiap menyeret lebih banyak korban ke dalam jaring dosa sang predator.
ns216.73.216.66da2


