Sinar matahari Sabtu pagi memantul menyilaukan dari dinding kaca penthouse Kadafi. Di hari libur akhir pekan, saat sebagian besar orang memilih bergulung di balik selimut, Ahmad Kadafi telah sepenuhnya terjaga sejak pukul enam pagi.
Di dalam ruang gym pribadinya yang menghadap langsung ke cakrawala Jakarta, denting besi barbel beradu memenuhi ruangan. Kadafi mengenakan celana training hitam tanpa atasan, membiarkan keringat membanjiri tubuh atletisnya yang dihiasi otot-otot kokoh. Gerakannya sangat konstan dan penuh tenaga saat ia mengangkat beban berat. Baginya, olahraga ekstrem di pagi hari bukan sekadar menjaga penampilan, melainkan cara untuk memelihara insting pemangsanya agar tetap tajam.
Setelah satu jam menyiksa ototnya di gym, Kadafi melangkah menuju kolam renang infinity yang berada di balkon luar. Ia melompat masuk, membiarkan air biru yang dingin membilas keringat dari tubuhnya. Ia berenang bolak-balik dengan gaya bebas yang agresif, lengannya membelah air seolah tengah membelah rintangan apa pun yang berani berdiri di jalannya.
Tepat saat Kadafi muncul ke permukaan dan bertumpu di tepi kolam untuk mengambil napas, pintu kaca geser terbuka. Anna Widya Krisna Mala melangkah keluar menuju area santai balkon, mengenakan jubah tidur satin panjang, dengan secangkir espresso panas di tangannya.
Anna menghentikan langkahnya saat melihat suaminya. Pemandangan di depannya, harus Anna akui secara objektif, adalah pemandangan yang bisa membuat wanita mana pun menahan napas. Air menetes dari rambut Kadafi yang tersisir ke belakang, menyusuri dada bidang dan perut six-pack-nya yang mengkilap tertimpa cahaya matahari pagi. Pria itu adalah wujud nyata dari seorang alpha male.
Namun, hati Anna telah membeku untuk pria ini. Ia hanya memutar bola matanya malas.
"Rajin sekali kau memamerkan ototmu sepagi ini, Kadafi," sindir Anna dengan nada datar, menyesap kopinya tanpa minat.
Kadafi menyeka air dari wajahnya, tersenyum miring senyum sinis yang sangat khas. "Pagi yang cerah, Istriku. Aku harus memastikan tubuh ini tetap dalam kondisi prima. Siapa tahu malam nanti aku harus 'bekerja keras', bukan?"
Kalimat itu memiliki makna ganda yang sangat gelap, namun Anna hanya menangkapnya sebagai arogansi murahan. "Terserah. Asal kau tahu, jam sepuluh nanti Farah dan Adiba akan datang. Kami akan memasak dan menghabiskan waktu di sini. Kuharap kau tidak mengganggu kami dengan kehadiranmu."
"Tenang saja, Nyonya," Kadafi mengangkat tubuhnya keluar dari kolam dengan satu gerakan mulus. Ia meraih handuk dan mengeringkan rambutnya santai. "Aku punya jadwalku sendiri hari ini. Nikmatilah waktu bermainmu dengan para sahabatmu itu."
Kadafi berjalan melewati Anna, aroma klorin dan maskulinitas yang kuat menyapu indra penciuman Anna. Namun, pikiran sang istri sudah melayang pada pesan selamat pagi yang manis dari Bernando Kalla di ponselnya. Keduanya sama-sama hidup dalam ilusi kebohongan masing-masing.
Tepat pukul sepuluh pagi, bel penthouse berbunyi.
Anna, yang kini sudah mengenakan pakaian kasual rajut yang cantik, bergegas membukakan pintu. Di baliknya, berdiri Jameela Adiba yang tersenyum ceria membawa dua kantong besar belanjaan bahan makanan, dan di sampingnya berdiri Farah Nabila.
"Surpriseee! Koki andalanmu datang!" seru Adiba penuh semangat, langsung menerobos masuk dan memeluk Anna.
"Ya ampun, kalian bawa bahan sebanyak ini? Kita mau masak atau mau buka katering?" tawa Anna riang, membalas pelukan Adiba.
Pandangan Anna lalu beralih pada Farah. Senyum Anna sedikit meredup melihat sahabatnya itu. Farah tampak pucat. Ia mengenakan celana jeans panjang dan atasan turtleneck lengan panjang berwarna putih gading pilihan pakaian yang sangat tertutup untuk cuaca Jakarta yang terik, namun sangat diperlukan untuk menyembunyikan memar dan bekas gigitan Kadafi di leher dan bahunya.
"Far, kamu masih sakit? Wajahmu pucat banget. Nggak usah maksain datang kalau masih capek jatuh kemarin," ucap Anna cemas, menyentuh lengan Farah dengan lembut.
Sentuhan Anna membuat Farah sedikit berjengit. Rasa bersalah kembali mengoyak dadanya. "A-aku nggak apa-apa, Na. Sudah mendingan kok. Semalam sudah minum obat. Aku... aku kangen kalian."
Farah memaksakan sebuah senyum yang tak mencapai matanya. Ponsel baru yang dibelinya tergesa-gesa tadi malam di mal digenggamnya erat-erat di dalam saku celananya.
"Wah, gila sih ini penthouse-nya Pak CEO," decak Adiba kagum, matanya menyapu seluruh penjuru ruang tamu yang bernuansa emas, hitam, dan marmer. "Na, lo bener-bener kayak Cinderella ya hidupnya sekarang."
Anna mendengus pelan, mengambil salah satu kantong belanjaan. "Cinderella yang terjebak dengan monster, lebih tepatnya. Ayo ke dapur, aku sudah siapkan peralatannya."
Ketiga wanita itu berkumpul di area kitchen island berbahan marmer putih yang sangat luas. Mereka mulai mengeluarkan bahan-bahan: daging wagyu, salmon, sayuran segar, dan berbagai bumbu. Suasana perlahan mencair. Adiba terus mengoceh menceritakan gosip-gosip terbaru di lingkaran pertemanan mereka, sementara Anna menanggapi dengan tawa.
Farah mencoba berbaur, memotong bawang dengan gerakan mekanis, meskipun pikirannya terus waspada, berharap pria iblis penghuni rumah ini sudah pergi.
"Ngomong-ngomong, suami lo mana, Na?" tanya Adiba santai sambil mencuci tomat. "Gue belum pernah ngobrol santai sama Pak Kadafi sejak resepsi."
"Oh, dia ada di dalam," jawab Anna tak acuh. "Tadi pagi-pagi buta dia sudah berenang, sok pamer badan. Nggak tahu deh sekarang di mana, paling di ruang kerjanya. Biarkan saja, aku lebih suka dia nggak ada."
Srek.
Pisau di tangan Farah meleset, nyaris mengiris jari telunjuknya. Jantung Farah seakan merosot ke perutnya. Dia... dia masih ada di rumah ini?
"Far! Hati-hati!" tegur Anna panik.
"I-iya, maaf... pisau ini licin," Farah menelan ludah, tangannya mulai gemetar halus.
"Lo pucat banget sumpah, Far. Eh, ngomong-ngomong soal cowok, lo sendiri kapan nih move on? Jangan kerja melulu. Nanti keburu keriput lho," goda Adiba, mencoba mencairkan suasana.
"Aku... aku lagi nggak kepikiran ke sana, Dib," jawab Farah lirih. Bagaimana aku bisa memikirkan pria lain saat tubuhku telah dijadikan tawanan seumur hidup oleh suami sahabatku sendiri? batinnya menjerit.
"Oh ya," Anna tiba-tiba menjentikkan jarinya. "Far, tolong ambilkan botol truffle oil dan kecap asin premium dong di walk-in pantry sebelah sana. Posisinya di rak paling ujung deretan botol saus. Tanganku lagi kotor nih ngurusin daging."
Farah menoleh ke arah lorong dapur yang ditunjuk Anna. Terdapat sebuah pintu kayu berwarna gelap yang mengarah ke ruang penyimpanan bahan makanan. Ruangan itu terpisah dari dapur utama, berada di sudut yang tidak terlihat langsung oleh Anna dan Adiba.
"A-aku..." Farah ragu-ragu.
"Buruan, Far, ini dagingnya keburu mau gue marinate," sahut Adiba ceria.
Tak punya alasan rasional untuk menolak, Farah meletakkan pisaunya, mencuci tangannya, dan berjalan perlahan menuju pintu pantry. Lorong itu terasa seperti lorong menuju sel eksekusi.
Farah membuka pintu pantry itu. Ruangan tersebut seukuran kamar kecil, berpendingin udara, dengan deretan rak kayu ek yang memajang ratusan botol anggur mahal dan bahan makanan impor. Penerangannya sedikit temaram. Farah melangkah masuk, matanya sibuk mencari botol truffle oil.
Tiba-tiba, tanpa suara sedikit pun, pintu pantry tertutup dari belakang. Bunyi klik penguncinya menggema di ruangan sempit itu.
Farah berputar dengan cepat. Matanya membelalak lebar, napasnya tercekat di tenggorokan.
Ahmad Kadafi berdiri di depan pintu, menyandarkan bahunya dengan santai. Ia sudah mandi, mengenakan kemeja linen hitam lengan pendek yang beberapa kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka, memamerkan kalung perak kecil di lehernya. Aroma parfum musk-nya yang khas aroma yang semalaman suntuk menginvasi paru-paru Farah langsung mendominasi ruangan itu.
"Ternyata tebakanku benar. Tikus kecilku datang mengunjungi sangkarku," bisik Kadafi, suaranya rendah, serak, dan sangat mematikan.
Farah mundur hingga punggungnya menabrak rak kayu. Botol-botol anggur di belakangnya bergemerincing pelan. Wajahnya pias tak berdarah. "M-Mas... tolong, buka pintunya. Anna dan Adiba ada di luar."
"Lalu kenapa?" Kadafi melangkah maju perlahan, seperti harimau yang mengurung mangsanya di sudut tebing. Jarak mereka kini tak kurang dari setengah meter. "Ini rumahku. Istriku terlalu sibuk dengan dagingnya untuk peduli apa yang dilakukan suaminya di dalam sini."
"Jangan gila..." Farah menggeleng putus asa, matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya meremas ujung meja rak. "Kita di rumahnya. Jarak mereka hanya beberapa meter dari balik dinding ini!"
"Justru itu yang membuatnya menarik, bukan?"
Kadafi mengikis jarak. Ia mengangkat tangan kanannya, menempelkannya ke dinding rak tepat di sebelah telinga Farah, mengurung wanita itu sepenuhnya. Tangan kirinya bergerak mengusap lembut kerah turtleneck putih yang Farah kenakan.
"Menutupi karya seniku dengan baju panas ini?" ejek Kadafi. Jarinya menelusup sedikit ke balik kerah itu, sengaja menekan tepat di memar keunguan di pangkal leher Farah.
Farah meringis, memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata keputusasaan menetes. Ia bisa merasakan hawa tubuh Kadafi, hembusan napasnya, dan auranya yang mencekik.
"Dengarkan aku baik-baik, Nabila," bisik Kadafi tepat di depan bibir Farah. Tangannya yang menekan leher itu kini turun, mengusap pinggang Farah dari luar celana jeans-nya dengan gerakan provokatif namun penuh ancaman. "Aku melihatmu menggenggam ponsel baru. Berusaha memblokirku? Berusaha lari?"
"T-tidak..." cicit Farah.
"Bagus," cengkeram Kadafi di pinggang Farah menguat, membuat tubuh wanita itu terdorong maju hingga dada mereka nyaris bersentuhan. "Karena di mana pun kau bersembunyi, kau adalah milikku. Kau ingat janjiku semalam? Malam ini aku tidak akan menyentuhmu, karena aku ada urusan lain. Tapi hari ini... aku butuh kau membuktikan kepatuhanmu."
Napas Farah terengah-engah. Matanya menatap panik ke arah pintu. "A-apa maumu? Kumohon, biarkan aku pergi. Mereka akan mencariku!"
"Turun," perintah Kadafi dingin, suaranya sangat rendah.
Farah membeku. "A-apa?"
"Berlutut," ulang Kadafi, menatap tajam ke mata Farah, tangannya kini mencengkeram rahang wanita itu dengan kuat. "Berlutut di depanku, sekarang. Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Lakukan dengan cepat tanpa suara, atau aku akan membuka pintu ini dan menyeretmu ke hadapan Anna dengan keadaan seperti ini."
Dunia Farah runtuh. Teror psikologis yang dijatuhkan Kadafi benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Di balik pintu itu, terdengar sayup-sayup tawa Anna dan Adiba yang sedang membicarakan resep masakan. Sementara di sini, di ruang temaram ini, ia dipaksa menelan kehinaan terbesar di bawah ancaman pria yang memegang kunci hidupnya.
Air mata deras mengalir di pipi Farah. Tubuhnya gemetar hebat, kakinya serasa kehilangan tulang. Perlahan, karena teror yang membutakan matanya tentang kehancuran persahabatannya jika Anna tahu, Farah mulai menekuk lututnya. Ia menyerah. Ia kalah telak oleh ancaman iblis ini.
Kadafi tersenyum puas melihat wanita terhormat itu perlahan merendahkan tubuhnya, hancur oleh dominasinya.
Namun, tepat sebelum lutut Farah menyentuh lantai marmer...
Tok! Tok! Tok!
Gedoran di pintu pantry terdengar nyaring, membelah ketegangan ekstrem di dalam sana.
"Farah? Ya ampun, nyari botolnya sampai ke mana sih? Lo nggak nyasar ke Narnia kan di dalam sana?" Suara cempreng Adiba menggema dari luar, disertai suara kenop pintu yang coba diputar dari luar, namun terkunci. "Lho, kok dikunci dari dalam sih?"
Farah tersentak keras, kesadarannya kembali bagaikan ditarik paksa dari dasar lautan. Ia segera berdiri tegak, menghapus air matanya dengan kasar, dadanya naik-turun sangat cepat.
Kadafi mendecak kesal, rahangnya mengeras. Ia gagal mendapatkan pelepasannya saat ini, namun melihat ketakutan absolut di mata Farah sudah cukup memberinya kepuasan psikologis. Pria itu memperbaiki kerah kemejanya yang sedikit kusut.
"Kau berutang padaku, Sayang," bisik Kadafi di telinga Farah. "Hutang yang akan kutagih berlipat ganda nanti."
Dengan gerakan santai seolah tidak terjadi apa-apa, Kadafi meraih sebotol truffle oil di rak sebelah kirinya, lalu menekan botol itu ke dada Farah. Setelah itu, Kadafi melangkah mundur, memutar kunci, dan membuka pintu pantry.
Adiba yang berdiri di luar langsung terlonjak kaget melihat bukan hanya Farah yang ada di sana, melainkan sang Tuan Rumah.
"P-Pak Kadafi?" Adiba gelagapan, matanya bergantian menatap Kadafi dan Farah yang mematung di belakang pria itu. "Maaf, saya... saya cuma nyari Farah."
Kadafi tersenyum ramah sebuah topeng yang sempurna. "Tidak apa-apa, Adiba. Farah kebingungan mencari botol ini karena letaknya agak tersembunyi. Kebetulan saya sedang mengecek stok wine, jadi saya bantu carikan."
"Oh... b-begitu. Makasih, Pak," Adiba tersenyum canggung.
"Saya tinggal dulu. Bersenang-senanglah kalian," ucap Kadafi elegan, lalu berjalan melewati Adiba menuju ruang depan tanpa menoleh lagi.
Adiba masuk ke dalam pantry, menatap Farah yang masih berdiri mematung sambil memeluk botol minyak itu erat-erat.
"Gila, Far, lo bikin kaget aja! Gue kira lo pingsan. Eh, lo kenapa? Kok keringetan dingin gini?" tanya Adiba khawatir.
"A-AC-nya... di dalam sini dingin banget, Dib," alasan Farah dengan bibir bergetar. "Ayo... kita keluar."
Farah berjalan gontai mengikuti Adiba kembali ke dapur. Ia menyerahkan botol itu pada Anna, lalu duduk di kursi bar dengan tatapan kosong. Obrolan natural antara Anna dan Adiba kembali mengalun, membicarakan tentang karir, tas keluaran terbaru, dan sesekali Anna mengeluhkan betapa menyebalkannya pernikahan ini.
Namun bagi Farah, suara mereka terdengar mendengung seperti lebah dari kejauhan. Pikirannya stagnan. Ia baru saja lolos dari pelecehan di rumah sahabatnya sendiri, namun ia sadar, ini barulah permulaan dari mimpi buruk yang panjang.
Sore harinya menjelang magrib.
Ahmad Kadafi muncul kembali di ruang tamu. Ia kini tampil sangat memukau mengenakan celana bahan navy, kaus hitam polos yang dipadukan dengan jas casual berwarna abu-abu. Rambutnya disisir rapi, dan aroma parfumnya telah diganti menjadi sesuatu yang lebih spicy dan menggoda.
"Kalian masih di sini rupanya," sapa Kadafi singkat saat melewati area ruang keluarga tempat ketiga wanita itu sedang menonton film.
"Mau ke mana kau? Rapi sekali," tanya Anna basa-basi, meski ia sama sekali tidak peduli.
"Aku ada urusan di luar. Rapat dengan beberapa kolega dari Singapura. Mungkin pulang larut. Jangan menungguku," jawab Kadafi datar. Pandangannya tidak tertuju pada Anna, melainkan menembus lurus menatap Farah yang duduk meringkuk di sudut sofa. Sebuah tatapan peringatan yang mengintimidasi.
Setelah Kadafi masuk ke dalam lift khusus dan pintunya tertutup, Anna mendengus. "Rapat kolega pantatku. Paling-paling dia mau minum-minum dan main perempuan di klub eksklusifnya."
Saat tawa Adiba meledak menanggapi candaan Anna, ponsel baru Farah yang ada di pangkuannya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Layar itu menyala, menampilkan sederet kalimat dari sang predator.
Pesan: "Gunakan waktumu bersamanya malam ini untuk belajar memasak, Nabila. Karena kelak, kau yang akan melayaniku di meja makanku, di ranjangku, dan di setiap sudut ruangan yang kuinginkan. Nikmati waktu luangmu sebelum neraka sungguhan menjemputmu."
Membaca pesan itu, tangan Farah bergetar hebat hingga ponsel itu hampir jatuh dari genggamannya. Ia mematikan layar dengan cepat, menelan isak tangisnya bulat-bulat ke dalam perut, membiarkan racun ketakutan itu menggerogoti jiwanya secara perlahan.
Di tempat lain, di waktu yang sama.
Mobil sedan sport hitam milik Kadafi membelah jalanan ibu kota yang mulai dipenuhi kerlap-kerlip lampu, memasuki pelataran parkir sebuah apartemen elit di kawasan Jakarta Pusat.
Ini adalah teritori Cantika Anggraini Hudiyana. Di sini, Kadafi tidak perlu mengenakan topeng CEO yang elegan, dan Cantika tak perlu mengenakan hijab fashionable-nya. Di sini, mereka adalah dua monster yang saling memuaskan rasa lapar satu sama lain.
Kadafi menekan kata sandi di pintu apartemen itu. Begitu ia masuk, aroma mawar dan vanilla yang pekat menyambutnya. Di ruang tengah, Cantika berdiri membelakanginya, menuangkan dua gelas anggur merah. Wanita itu mengenakan gaun tidur berbahan sutra merah menyala yang sangat pendek dan bertali spageti, sengaja dirancang untuk meruntuhkan pertahanan pria mana pun.
Mendengar suara pintu ditutup, Cantika berbalik. Senyum sensual mengembang di bibir merahnya. "Kukira rapat dengan kolegamu akan membuatmu melupakanku malam ini, Sayang."
Kadafi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melepaskan jas abu-abunya, melemparnya ke lantai, lalu melangkah lebar menghampiri Cantika. Ia merebut gelas anggur dari tangan wanita itu, meletakkannya dengan kasar ke atas meja, lalu langsung merengkuh pinggang Cantika dan menariknya ke dalam pelukan.
"Aku tidak pernah melupakan apa yang menjadi canduku," geram Kadafi.
Bibir mereka bertabrakan dalam ciuman yang panas, liar, dan penuh dahaga. Tidak ada paksaan di sini, tidak ada air mata ketakutan seperti yang dialami Farah. Cantika menyambut ciuman itu dengan gairah yang sama brutalnya. Tangannya melingkar di leher Kadafi, meremas rambut pria itu, sementara lidah mereka saling bertarung mengklaim dominasi.
Kadafi mengangkat tubuh sintal Cantika, membiarkan wanita itu melingkarkan kakinya di pinggangnya, lalu membawanya menuju kamar tidur.
Malam itu, di atas ranjang Cantika, Kadafi melepaskan semua monster di dalam kepalanya. Pergumulan mereka dipenuhi oleh desahan kasar, erangan panjang, dan sentuhan yang tidak mengenal batas. Cantika mengerang memanggil namanya saat Kadafi menghujamkan gairahnya tanpa ampun, sebuah tarian panas yang dijiwai oleh obsesi dan nafsu yang gelap.
Di sinilah letak ironi terbesar dari hidup Ahmad Kadafi. Ia menghancurkan kesucian Farah Nabila untuk memuaskan ego dan sifat sosiopatnya, ia menelantarkan Anna Widya demi sebuah rencana manipulasi politik besar, dan ia menenggelamkan dirinya dalam pusaran gairah tanpa cinta bersama Cantika Anggraini. Ia menguasai segalanya, berdiri di atas rasa sakit orang lain, menjelma menjadi iblis sempurna di balik setelan jas mewahnya.
ns216.73.216.66da2


