Angin musim gugur berhembus dingin menyapu jalanan pribadi yang membelah hutan pinus di kawasan elit The Hamptons, Long Island, New York. Jauh dari hingar-bingar Manhattan, berdiri sebuah mansion bergaya Victoria klasik yang dikelilingi tembok batu tinggi dan penjagaan keamanan berlapis. Tempat itu tidak tercatat di brosur properti mana pun. Bagi segelintir elit dunia bawah dan mafia bisnis Wall Street, tempat ini dikenal sebagai sarang Omar Kadafi adik dari mendiang kakek Ahmad Kadafi, sekaligus mentor yang telah membentuk Ahmad menjadi monster seperti sekarang.
Di dalam ruang kerja utama mansion tersebut, aroma cerutu Cohiba Kuba dan kayu mahoni tua mendominasi udara. Perapian menyala, memberikan pendar cahaya keemasan yang menari-nari di atas permukaan perabotan antik.
Ahmad Kadafi duduk dengan postur rileks yang sangat elegan di atas kursi berlapis kulit rusa. Ia mengenakan kemeja hitam polos tanpa dasi, dipadukan dengan setelan jas Bespoke berwarna abu-abu gelap. Di seberangnya, duduk sang paman, Omar Kadafi. Pria berusia tujuh puluh tahun itu memiliki rambut perak yang disisir rapi ke belakang, sepasang mata setajam elang yang diwariskan pada keponakannya, dan tongkat berkepala serigala perak di genggamannya.
Dua generasi predator tengah berhadapan, merancang ulang peta takdir orang-orang di belahan bumi yang lain.
"Aku membaca laporan keuangan Energy Resource kuartal ini," suara Omar mengalun serak dan dalam, memecah kesunyian. Pria tua itu mengangkat gelas kristal berisi Scotch berusia lima puluh tahun. "Ayahmu terlalu konservatif. Dia bermain terlalu aman dengan proyek-proyek pemerintah. Tapi kudengar, kau punya ambisi yang jauh lebih 'berdarah' untuk tahun depan, Ahmad."
Kadafi tersenyum tipis, sebuah tarikan bibir yang sama sekali tidak mencapai matanya. Ia memutar gelas di tangannya perlahan.
"Bermain aman adalah cara orang miskin mempertahankan apa yang mereka miliki, Paman," jawab Kadafi tenang. "Energy Resource tidak akan sekadar menjadi kontraktor. Aku menginginkan monopoli penuh atas sektor energi terbarukan dan penambangan nikel di Timur Indonesia. Bukan sepuluh persen, bukan lima puluh persen. Semuanya."
Omar tertawa pelan, tawa yang terdengar seperti geraman singa tua. "Monopoli nikel di wilayah adat? Peraturan pemerintah sangat ketat di sana, Ahmad. Kau akan berhadapan dengan aktivis, menteri lingkungan hidup, dan yang paling merepotkan... Komisi Energi di parlemen yang dikuasai oleh Partai Banteng Emas."
Kadafi menyesap minumannya, membiarkan rasa panas alkohol itu membakar tenggorokannya. Matanya berkilat licik. "Tepat sekali. Dan di sanalah letak keindahan dari sebuah pernikahan yang baru saja kulangsungkan dua minggu lalu."
Alis perak Omar terangkat. "Anna Widya Krisna Mala. Aku tahu keluarga Krisna Mala punya relasi bisnis yang luas, tapi mereka tidak punya kekuatan politik untuk membungkam parlemen."
"Keluarganya memang tidak punya. Tapi, kekasih rahasianya punya," desis Kadafi, nada suaranya berubah menjadi lebih gelap dan mematikan.
Kadafi mencondongkan tubuhnya ke depan, meletakkan gelasnya di atas meja, lalu menautkan jari-jarinya. Aura intimidasi dan kelicikannya memenuhi ruangan, membuat pesona mafia yang ia miliki terpancar sempurna.
"Anna menjalin hubungan gelap dengan Bernando Kalla," lanjut Kadafi.
Mendengar nama itu, Omar terdiam sejenak. Pria tua itu lalu tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang masih utuh. "Bernando Kalla... Putra sulung dari Surya Kalla. Surya adalah Ketua Umum Partai Banteng Emas, pemegang kunci mayoritas di parlemen. Dan Bernando adalah pewaris tunggal dinasti politik itu, 'bintang emas' yang sedang disiapkan ayahnya untuk maju dalam pemilihan presiden lima tahun lagi."
"Tepat," angguk Kadafi. "Surya Kalla telah menginvestasikan triliunan rupiah dan seluruh reputasi keluarganya untuk membangun citra Bernando sebagai pemuda yang bersih, religius, dan berwibawa. Pemilih muda memujanya. Dia adalah aset terbesar partai."
Omar menatap keponakannya dengan kilat kebanggaan yang tak ditutup-tutupi. "Dan Anna, istrimu yang lugu itu, sedang bermain api dengan aset terbesar negara. Ceritakan rencanamu, Ahmad."
Bagi pembaca yang bisa mendengar isi kepala Kadafi saat ini, mereka akan menyadari betapa kelam dan kosongnya hati pria itu. Tidak ada sebersit pun rasa cemburu, sakit hati, atau harga diri yang terluka karena istrinya berselingkuh. Yang ada di kepala Kadafi hanyalah perhitungan matematis tentang manipulasi, risiko, dan peluang. Anna dan Bernando bukanlah manusia baginya; mereka adalah leverage alat tawar-menawar.
"Aku membiarkan mereka," ucap Kadafi dengan ketenangan yang mengerikan. "Aku memberikan Anna kebebasan palsu. Aku membiarkan penthouse itu kosong agar mereka bisa bertemu. Aku menempatkan kamera mikro di setiap sudut strategis, menyadap ponsel istriku, dan melacak setiap transaksi kartu kreditnya. Aku sedang membiarkan mereka membangun tumpukan dosa yang cukup tinggi, hingga ketika aku menendang fondasinya, mereka akan hancur berkeping-keping."
"Lalu kau akan memeras Bernando," simpul Omar, mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai.
"Aku tidak sekadar memerasnya, Paman. Aku akan menjadikannya budakku," koreksi Kadafi. Matanya menatap lurus ke arah perapian, melihat bayangan kekuasaan di balik nyala api. "Bulan depan, Rancangan Undang-Undang Eksploitasi Lahan Timur akan dibahas di komisi yang dipimpin Bernando. Jika RUU itu tidak diloloskan dengan pasal-pasal yang menguntungkan Kadafi Energy, aku akan mengirimkan kompilasi rekaman desahan Bernando dan istriku ke meja kerja ayahnya, dan menyebarkannya ke seluruh media nasional."
Kadafi menyeringai, sebuah senyum iblis yang sangat sempurna. "Bernando punya dua pilihan: meloloskan perizinanku dan mengkhianati rakyatnya, atau melihat karir politiknya, nama baik ayahnya, dan masa depannya hancur menjadi debu dalam satu malam karena meniduri istri CEO Kadafi Energy."
Omar bertepuk tangan pelan. Bunyi tepukan itu bergema di ruang kerja yang sepi, sebuah apresiasi tertinggi dari seorang sosiopat veteran kepada penerusnya.
"Luar biasa," puji Omar, suaranya dipenuhi kepuasan. "Kau menggunakan kelemahan lawanmu untuk membangun kerajaanmu. Bernando akan menjadi anjing piaraanmu di parlemen, dan keluarga Krisna Mala akan menyerahkan apa pun agar putri mereka tidak berakhir di penjara karena pasal perzinaan. Kau mendapatkan segalanya, Ahmad."
"Itu adalah ajaranmu, Paman. Tidak ada musuh yang tidak bisa ditaklukkan jika kita tahu apa yang paling mereka takutkan untuk hilang."
"Bagaimana dengan istrimu? Jika skandal ini meledak sebagai ancaman rahasia, dia tetap akan menjadi batu sandungan."
"Anna akan hancur dengan sendirinya," jawab Kadafi tanpa sedikit pun penyesalan. "Ketika Bernando menyadari bahwa karir politiknya di ambang kehancuran karena Anna, pria licik itu pasti akan membuang Anna seperti sampah. Bernando mencintai kekuasaan jauh lebih besar daripada ia mencintai lekuk tubuh istriku. Saat Bernando meninggalkannya, Anna akan hancur secara mental. Ia akan menjadi cangkang kosong yang tak lagi memiliki harga diri. Pada saat itulah, aku akan menguncinya di dalam rumah sebagai pajangan yang patuh. Selesai."
Dialog itu mengalir dengan begitu elegan, seolah mereka hanya sedang membahas strategi bermain golf, padahal mereka baru saja memastikan kehancuran mental dan masa depan banyak nyawa.
Ahmad Kadafi menguasai seni kegelapan ini. Ia menganggap dirinya adalah Tuhan di atas papan caturnya sendiri. Ia tidak merasakan empati, tidak mengenal belas kasihan. Hatinya adalah ruangan hampa udara di mana cinta atau nurani tak akan pernah bisa bernapas.
Setelah menghabiskan hampir tiga jam membahas detail akuisisi dan strategi pencucian uang melalui perusahaan cangkang di Cayman Islands, Kadafi akhirnya berdiri. Ia mengancingkan jas abu-abunya dengan satu tangan.
"Aku harus kembali ke Manhattan, Paman. Pesawatku kembali ke Jakarta besok pagi. Persiapan harus diselesaikan," pamit Kadafi.
Omar ikut berdiri, menepuk bahu lebar keponakannya. "Pulanglah, Ahmad. Jalankan rencanamu. Bantai mereka semua dengan senyuman."
Satu jam kemudian, sebuah mobil Maybach hitam meluncur membelah jalanan sepi menuju pusat kota Manhattan.
Di dalam kabin penumpang yang luas dan kedap suara, suhu terasa sangat dingin. Kadafi duduk menyandarkan kepalanya, matanya terpejam. Otaknya yang brilian baru saja memproses strategi bernilai triliunan rupiah, dan adrenalin dari kekuasaan itu kini menuntut pelepasan. Layaknya sebuah mesin berkinerja tinggi, ia membutuhkan katup pembuangan agar kepalanya tidak meledak.
Di kursi tepat di hadapannya, duduk Anisa Sintya.
Sekretaris berusia 27 tahun itu tampak seperti hantu dari dirinya sendiri. Sintya mengenakan kemeja dan rok kerja yang rapi, namun postur tubuhnya melengkung ke dalam, seolah ia ingin menyusut dan menghilang. Wajahnya pias, kantung matanya menghitam. Selama satu minggu penuh di Amerika, ia telah dijejali oleh rutinitas rapat eksekutif di siang hari, dan rutinitas penyiksaan psikologis-gairah di sisa waktunya. Tidak ada jeda. Tidak ada napas.
"Anisa," panggil Kadafi. Suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat bahu Sintya melonjak kaget.
Sintya mengangkat wajahnya yang gemetar. Matanya memancarkan ketakutan yang absolut dan kepatuhan yang telah dipatahkan paksa. "Y-ya, Pak Kadafi...?"
Kadafi membuka matanya. Pandangannya menyapu tubuh sekretarisnya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala dengan tatapan yang sangat merendahkan. Bagi Kadafi, Sintya tidak lebih dari sekadar perabotan bernyawa di dalam mobil ini. Sebuah asbak tempat ia membuang abunya. Tempat pelampiasan terbaik atas rasa lelah dan arogansinya.
"Pindah ke sini," perintah Kadafi datar, menepuk ruang kosong di jok kulit di sebelahnya.
Tubuh Sintya bergetar hebat. Air mata yang sudah mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya. Setiap otot di tubuhnya menjerit, memohon istirahat, namun ancaman tentang nasib panti asuhannya yang selalu dikumandangkan Kadafi adalah belenggu tak kasat mata yang merantai kakinya.
Dengan gerakan kaku dan napas yang tertahan, Sintya bangkit dari kursinya. Mobil yang sedikit berguncang membuat langkahnya goyah, hingga ia jatuh terduduk di sebelah Kadafi.
Kadafi tidak menatapnya. Pria itu justru mengalihkan pandangannya ke luar jendela gelap, menatap lampu-lampu jalanan New York yang melesat cepat. Tangan kanannya terangkat, mencengkeram tengkuk Sintya dengan kuat sebuah cengkeraman posesif dari seorang pemilik kepada barangnya.
Sintya memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya untuk menahan isak tangis. Ia tahu apa yang diharapkan darinya. Ia tahu ia tidak memiliki hak untuk menolak.
Di dalam kesunyian kabin Maybach yang mewah itu, harga diri Anisa Sintya kembali dilumat tanpa sisa. Kadafi tidak mengeluarkan sepatah kata pun, tidak memberikan satu pun sentuhan kelembutan. Ia menggunakan tangan dan dominasinya untuk memaksa Sintya melayaninya, menjadikannya objek pasif untuk menetralkan ketegangan urat saraf sang CEO.
Setiap kali Sintya meringis atau mencoba menarik napas karena kelelahan, cengkeraman Kadafi di tengkuknya akan menguat, memaksanya untuk terus tunduk dalam kehinaan. Air mata Sintya jatuh membasahi jok kulit mahal itu, meratapi nasibnya yang jauh dari pandangan dunia, terjebak di dalam neraka berjalan bersama seorang iblis berjas rapi.
Bagi Kadafi, rintihan tertahan Sintya hanyalah suara white noise. Pikirannya sudah terbang jauh ke Jakarta, ke penthouse-nya yang dingin, ke arah istri sahnya yang angkuh, ke arah Bernando yang licik, dan ke arah Farah Nabila mainan barunya yang masih suci dan menunggu untuk kembali dihancurkan.
Senyum miring kembali tersungging di bibir Kadafi. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia tak sabar untuk melihat darah dan air mata mengalir di atas papan caturnya.
ns216.73.216.66da2


