Jarum jam antik bergaya Renaissance di dinding ruang tamu penthouse itu menunjuk tepat pada pukul dua dini hari. Suasana hening dan beku menyelimuti ruangan seluas empat ratus meter persegi tersebut. Keheningan itu terasa sangat ironis, sebuah kontras yang tajam dengan badai gairah, air mata, dan kehancuran yang baru saja ditinggalkan Ahmad Kadafi di kantornya beberapa jam yang lalu.
Langkah sepatu kulit hitam buatan Italia itu menggema pelan melintasi lantai marmer yang mengkilap. Kadafi melonggarkan dasi suteranya dengan satu tarikan kasar, membiarkannya menggantung asal di leher, lalu melepaskan jasnya dan melemparkannya ke atas sofa ruang tengah. Wajah aristokratnya tampak lelah, namun sepasang mata elangnya masih menyala terang, dikuasai oleh sisa-sisa adrenalin dan kepuasan absolut setelah berhasil meruntuhkan kembali kewarasan Anisa Sintya.
Bagi pria normal, malam yang panjang dan melelahkan akan diakhiri dengan merebahkan diri di atas ranjang. Namun, Ahmad Kadafi bukanlah pria normal. Ia adalah predator yang hidup dari manipulasi dan dominasi.
Alih-alih melangkah ke kamar, Kadafi justru berbelok menuju area pantry bersih yang didominasi warna hitam dan krom. Ia membuka lemari pendingin khusus berlapis kaca, mengambil sebotol sampanye Dom Pérignon vintage dan sebuah gelas kristal ramping. Dengan gerakan yang sangat terlatih, elegan, dan tanpa cacat, ia membuka sumbat botol itu. Suara letupan pelan pop memecah kesunyian, disusul suara desisan halus saat cairan keemasan yang bergelembung itu dituangkan ke dalam gelas kristal.
Membawa botol di tangan kiri dan gelas di tangan kanannya, Kadafi berjalan menyusuri lorong temaram menuju pintu kayu ganda kamar tidur utama. Ia menekan kenop pintu tanpa suara.
Kamar itu gelap, hanya diterangi oleh pendar cahaya keperakan dari bulan purnama yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit. Di atas ranjang king-size yang berada di tengah ruangan, terbaring sosok Anna Widya Krisna Mala.
Kadafi berjalan dengan langkah pelan dan ritmis, lalu menarik sebuah kursi beludru berwarna burgundy, meletakkannya tepat di samping ranjang. Ia duduk di sana, menyilangkan kakinya dengan santai, lalu menyesap sampanyenya. Dingin dan tajamnya minuman itu membasahi tenggorokannya, menyegarkan otaknya yang terus berputar merangkai siasat.
Di sinilah letak sisi psikopat dari seorang Ahmad Kadafi. Ia menjadikan momen sunyi ini sebagai pertunjukan teater pribadinya. Ia menatap lekat-lekat wanita yang baru kemarin resmi menjadi istrinya itu.
Anna terlihat begitu rapuh, damai, dan sempurna dalam tidurnya. Gaun tidur berbahan sutra putih yang ia kenakan menempel dengan sangat apik, memperlihatkan siluet tubuhnya yang memabukkan—lekuk pinggangnya yang ramping dan dadanya yang penuh. Tali gaunnya sedikit merosot di bahu kiri, mengekspos kulit leher dan bahunya yang seputih porselen. Rambut hitam legamnya tergerai berantakan di atas bantal putih, membingkai wajah cantiknya yang bagaikan lukisan malaikat. Dadanya naik-turun dalam ritme napas yang teratur.
Kadafi tersenyum. Bukan senyum hangat seorang suami yang mengagumi istrinya, melainkan senyum misterius yang kelam, penuh perhitungan dan kelicikan iblis.
Di bawah cahaya bulan, ingatan Kadafi melayang kembali ke hari-hari sebelum pernikahan bisnis ini terjadi. Ayahnya, sang pendiri Kadafi Energy, terlalu bangga karena berhasil menjodohkan putra tunggalnya dengan putri keluarga Krisna Mala. Di mata publik, media, dan ayahnya, Anna adalah gadis muslimah yang alim, sosialita anggun yang tak tersentuh skandal, piala yang sempurna untuk disandingkan dengan pewaris takhta Kadafi.
Namun, Kadafi memegang kendali atas jaringan informasi bawah tanah yang sangat rapi. Jauh sebelum ia menjabat tangan ayah Anna di altar kesepakatan, Kadafi sudah mengetahui rahasia terbesar dan paling kotor dari wanita yang kini tertidur di depannya ini.
Bernando Kalla.
Nama itu bergema di kepala Kadafi, diiringi seringai meremehkan. Bernando bukanlah pria tua beruban, melainkan seorang pemuda berusia 28 tahun yang menjadi "bintang emas" di dunia politik saat ini. Bernando adalah pewaris takhta konglomerat yang terjun ke politik, digadang-gadang sebagai wajah baru partai penguasa. Tampan, klimis, berwibawa, dengan senyum khas politikus yang pandai merayu massa dan menaklukkan hati wanita. Di mata Anna, Bernando adalah pangeran impiannya. Pemuda mapan yang menjanjikan cinta sejati di balik tirai perjodohan ini.
Kadafi memutar gelas kristalnya perlahan, memandangi gelembung sampanye yang naik ke permukaan. Anna pikir ia bisa membodohi Kadafi? Anna pikir ia bisa menjaga kesucian hatinya untuk politikus muda itu sementara ia menyandang status Nyonya Kadafi?
"Betapa naifnya dirimu, Sayang," bisik Kadafi nyaris tak bersuara.
Pertarungan ini bukan sekadar urusan ranjang, ini adalah pertarungan ego antara dua singa jantan muda yang berada di puncak rantai makanan. Bernando mungkin mengira ia berhasil mencuri hati istri CEO Energy Resource. Namun, Kadafi tahu persis siapa Bernando Kalla sebenarnya. Politikus muda itu sama liciknya dengan dirinya. Bernando memacari Anna bukan semata-mata karena cinta gila, melainkan karena ia mengincar modal politik dan relasi bisnis dari keluarga besar Krisna Mala untuk memuluskan jalan karirnya. Anna hanyalah aset bagi Bernando, sama seperti Anna adalah pion bagi Kadafi.
Rencana jahat itu sudah tersusun rapi di kepala Kadafi bagaikan papan catur raksasa. Ia sama sekali tidak peduli Anna mau tidur atau berdesah di bawah kungkungan pemuda Kalla itu. Justru, perselingkuhan istrinya adalah senjata paling mematikan yang sedang ia asah.
Kadafi akan memberikan ruang bagi mereka. Ia akan membiarkan Anna dan Bernando bermain api, merasa aman dalam kebohongan mereka. Sementara itu, Kadafi akan menyadap, merekam, dan mengumpulkan semua bukti kehancuran mereka. Saat waktunya tiba, ia akan menggunakan rahasia kotor itu untuk memeras Bernando Kalla habis-habisan. Ia butuh pengaruh politik Bernando untuk memuluskan mega-proyek ekspansi tambang dan perizinan pembebasan lahan Kadafi Energy di seluruh Indonesia.
Jika Bernando menolak menjadi anjing piaraannya, Kadafi akan menghancurkan karir politik "sang bintang muda" itu ke dasar neraka dengan skandal perselingkuhan istri CEO. Dan keluarga Anna? Mereka akan bertekuk lutut, memberikan seluruh jaringan bisnis mereka kepada Kadafi sebagai kompensasi agar aib putri mereka tak disebarkan ke publik.
Kadafi akan mendapatkan segalanya: kekuasaan mutlak, dominasi bisnis, kehancuran musuh mudanya, dan tentu saja, kemerdekaan untuk terus memuaskan hasrat liarnya di luar pernikahan ini.
Kadafi kembali menyesap minumannya. Rasa asam dan manis sampanye itu membasahi tenggorokannya. Menjadi anak tunggal dari keluarga konglomerat bukanlah sebuah keistimewaan baginya, melainkan sebuah kutukan yang menuntut dominasi. Hal itu membawanya pada memori lima tahun lalu, saat ia dikirim ke Amerika untuk menyelesaikan studi bisnisnya.
Di sanalah ia tinggal bersama pamannya, adik dari ayahnya. Pria yang secara harfiah telah membunuh sisa-sisa hati nurani di dalam dada Ahmad Kadafi. Pamannya adalah seorang serigala Wall Street, pria yang mendidiknya untuk menjadi monster berwajah malaikat.
"Perasaan adalah kelemahan orang miskin, Ahmad," suara bariton pamannya kembali terngiang, bergema di sudut-sudut pikirannya. "Di dunia ini, hanya ada dua jenis manusia: mereka yang memegang tali kekang, dan mereka yang menjadi budak tarikan. Jika kau menginginkan sesuatu, ambil. Jika ada yang menghalangimu, hancurkan dari dalam. Dan wanita... mereka adalah makhluk yang berevolusi untuk merespons kekuatan. Jangan pernah berikan hatimu pada mereka. Berikan mereka rasa takut, berikan mereka ilusi perlindungan, dan mereka akan berlutut menyerahkan tubuh serta kehormatan mereka padamu secara sukarela."
Ajaran itu meresap ke dalam sumsum tulang Kadafi. Di Amerika, ia diajarkan cara memanipulasi pasar, mengintimidasi lawan melalui bahasa tubuh, dan yang paling mengerikan, ia diajarkan seni mematahkan mental seseorang tanpa harus meninggalkan luka fisik. Ia tumbuh menjadi bajingan elegan penuh arogansi. Ia mengabsen dalam benaknya, deretan panjang wanita yang telah ia tiduri dan ia campakkan begitu saja. Ratusan. Semuanya mudah, semuanya bertekuk lutut memuja ketampanan dan kekayaannya.
Hingga matanya terbuka pada sosok Cantika Anggraini Hudiyana.
Kadafi menatap kosong ke arah selimut Anna, namun pikirannya melayang pada kulit eksotis Cantika. Mengapa ia bertahan hingga dua tahun dengan selebgram hijab yang aslinya sangat liar itu? Kadafi sendiri kadang merasa bingung. Apakah itu cinta? Tidak, Kadafi tidak mengenal cinta. Itu adalah obsesi. Cantika adalah cermin dari sisi iblisnya. Cantika tidak menuntut cinta yang cengeng, wanita itu hanya menuntut gairah yang sama brutal dan kasarnya dengan dirinya. Cantika adalah oase di mana Kadafi tidak perlu berpura-pura menjadi pria terhormat.
Namun, sehebat apa pun liarnya Cantika di ranjang, ego maskulin Kadafi ego psikopat yang dibentuk oleh pamannya selalu menuntut penaklukan yang lebih menyiksa. Penaklukan yang melibatkan air mata penyesalan dan kehancuran moral. Kepuasan terbesarnya bukan pada tubuh wanita, melainkan saat melihat mata yang dulunya menatapnya dengan penuh kebencian, berubah menjadi tatapan sayu yang memohon-mohon kenikmatan.
Pikirannya pun beralih pada dua mahakarya terbesarnya malam ini. Anisa Sintya dan Farah Nabila.
Senyum miring di bibir Kadafi semakin melebar, kali ini terlihat sangat mematikan. Mengapa ia memilih dua wanita itu? Sintya adalah wanita yang terlalu kuat, terlalu rasional, dan terlalu bangga dengan pencapaiannya dari panti asuhan. Merobohkan tembok pertahanan Sintya, memaksanya menanggalkan kacamata dan kewarasannya, lalu membuatnya mendesah di bawah ancaman... itu memberikan Kadafi orgasme psikologis yang tiada tara.
Dan Farah... oh, gadis itu adalah trofi terindahnya.
Membayangkan tubuh ramping Farah yang bergetar semalam suntuk membuat darah di bawah perut Kadafi kembali berdesir. Farah adalah representasi dari kesucian persahabatan. Gadis itu sangat menyayangi Anna. Dan justru karena itulah Kadafi menghancurkannya. Menjadikan sahabat dari istri sahnya sebagai budak pemuas nafsu adalah bentuk penghinaan paling paripurna untuk Anna, sekaligus pembuktian bahwa di dunia ini, tidak ada satu pun wanita yang bisa lari dari jeratannya.
Tanpa terasa, dua jam telah berlalu dalam keheningan yang mencekam itu.
Kadafi mengangkat botol sampanyenya; cairan itu telah habis tak bersisa. Ia meletakkan gelas kristalnya yang kosong ke atas nakas dengan gerakan pelan.
Tubuh tegapnya berdiri dari kursi beludru. Ia melangkah mendekati sisi ranjang tempat Anna tertidur pulas. Ia menunduk, wajahnya sangat dekat hingga ia bisa menghirup aroma lavender dan vanila dari leher istrinya. Jari telunjuk Kadafi yang panjang dan kokoh terangkat, menyentuh pelan helaian rambut Anna, menyingkirkannya dari pipi porselen wanita itu dengan gerakan yang sangat lembut.
Sentuhan yang begitu kontras dengan isi kepalanya yang dipenuhi oleh bisa beracun.
"Bermimpilah yang indah, Istriku," bisik Kadafi dengan suara bariton yang serak. "Nikmatilah tidurmu. Berdandanlah yang cantik esok hari, dan temuilah politikus muda kesayanganmu itu. Karena tak lama lagi, aku akan merampas semua yang kalian miliki. Tubuhmu, ambisi pemuda itu, keluargamu, dan hancurnya dunia kalian... semuanya akan menjadi pijakan kakiku menuju puncak takhta."
Kadafi menarik kembali tangannya, tak berniat sedikit pun untuk menyentuh Anna lebih jauh. Menidurinya malam ini hanya akan merusak jalannya permainan. Membiarkan Anna merasa bahwa dirinya diabaikan dan tidak diinginkan oleh suaminya adalah langkah pertama dari taktik psikologis Kadafi. Rasa kesepian itu akan mendorong Anna semakin dalam ke pelukan Bernando Kalla, dan saat itulah jebakan sang iblis akan menjepit leher mereka berdua.
Dengan rahang mengeras dan kepuasan absolut yang memenuhi rongga dadanya, sang CEO berbalik. Ia berjalan keluar dari kamar utama yang megah itu, menutup pintunya kembali tanpa suara.
Ahmad Kadafi melangkah menuju sayap barat penthouse, masuk ke dalam kamar tidur pribadinya. Malam ini, ia tidur dengan nyenyak bagaikan seorang raja kegelapan yang baru saja memastikan bahwa seluruh pion di papan caturnya telah menempati posisi yang sempurna untuk sebuah pembantaian yang indah. Esok hari, panggung sandiwara yang lebih besar dan penuh dosa telah menantinya.
ns216.73.216.66da2


