Sinar matahari siang yang terik menembus celah tirai tebal apartemen mewah itu, menusuk mata Farah Nabila yang perlahan terbuka. Ia mengerjap, mencoba mengumpulkan kepingan kesadarannya yang berserakan. Kepalanya berdenyut nyeri, dan seketika itu juga, ingatan tentang neraka berbalut kenikmatan semalam menghantamnya dengan telak.
Farah mencoba bergerak, namun seluruh persendiannya menjerit protes. Otot-otot paha dan punggungnya terasa kaku dan perih. Di sekujur kulit putihnya, mulai dari leher, dada, hingga bagian perut, tercetak jelas ruam-ruam kemerahan dan keunguan jejak kepemilikan brutal dari seorang Ahmad Kadafi. Ia telah dihancurkan, dikoyak, dan dibentuk ulang menjadi sekadar objek pemuas nafsu bagi pria berengsek itu.
Dengan sekuat tenaga, Farah menyibakkan selimut tebal yang membalut tubuh polosnya. Ia menarik sebuah bathrobe putih yang tergeletak di lantai, melilitkannya erat-erat ke tubuhnya yang gemetar. Saat ia melangkah keluar dari kamar tidur utama, langkahnya tertatih. Rasa ngilu yang luar biasa berpusat di antara kedua kakinya, saksi bisu dari hujaman tiada henti yang memaksanya mengerang hingga suaranya habis.
Di ruang tengah yang luas, keheningan apartemen itu dipecahkan oleh suara samar sapu dan semprotan pembersih. Farah membeku di ambang pintu. Di sana, seorang asisten rumah tangga paruh baya sedang membersihkan meja kaca, sementara di sofa, duduk sosok yang tak asing lagi: Anisa Sintya. Sang sekretaris tampak rapi dengan setelan blazer abu-abunya, jari-jarinya menari cepat di atas tablet, memastikan segala urusan bosnya berjalan lancar, termasuk "mengurus" wanita yang baru saja ditiduri bosnya.
Melihat Farah keluar, Sintya mengangkat wajah. Ekspresinya datar, namun ada kilat simpati yang tertahan di matanya. Ia memberi isyarat kecil pada asisten paruh baya itu, yang segera mengangguk hormat dan bergegas meninggalkan apartemen, meninggalkan mereka berdua dalam kecanggungan yang mencekik.
"Selamat siang, Bu Farah. Pak Kadafi sudah berangkat ke kantor sejak pukul delapan pagi tadi," ucap Sintya memecah kesunyian, suaranya tenang dan profesional.
Farah menelan ludah, merasa sangat hina berdiri di sana dengan rambut acak-acakan dan tubuh yang penuh dosa. Ia tidak menjawab, hanya memalingkan wajah dan berjalan tertatih menuju kamar mandi luar. Di bawah guyuran air shower yang paling panas, Farah kembali menangis. Ia mencoba menggosok tubuhnya dengan sabun hingga kulitnya memerah, berharap air itu bisa melunturkan rasa kotor dan aroma maskulin Kadafi yang seolah telah meresap hingga ke pori-porinya. Namun sia-sia. Sentuhan pria itu telah membekas terlalu dalam.
Dua puluh menit kemudian, Farah keluar dari kamar mandi, mengenakan pakaian ganti kasual yang sudah disiapkan Sintya di atas sofa. Tiba-tiba, perutnya berbunyi nyaring. Sebuah ironi yang menyayat hati. Sejak siang kemarin ia belum menelan makanan apa pun. Semalaman penuh perutnya hanya dibuat mual dan terkuras habis oleh dominasi Kadafi, dijejali oleh paksaan dan jejak-jejak gairah pria itu di dalam tubuhnya yang kini membuatnya merasa kosong dan lapar secara fisik.
Mendengar bunyi itu, Sintya berdiri. "Saya sudah memesankan makanan hangat untuk Anda. Mari, Bu Farah, makanlah sedikit. Anda terlihat sangat pucat."
Sintya membimbing Farah menuju meja makan marmer di sudut ruangan. Di sana, sudah tersaji semangkuk sup asparagus hangat, nasi, dan segelas jus jeruk. Keduanya duduk berhadapan. Ruangan itu kembali hening, hanya terdengar denting halus sendok yang beradu dengan mangkuk porselen saat Farah menyuapkan makanan dengan gerakan lambat dan mekanis. Nafsu makannya sebenarnya hilang ditelan rasa depresi, namun tubuhnya butuh energi untuk sekadar berdiri dan melarikan diri dari tempat ini.
Setelah beberapa suapan, Farah menghentikan gerakannya. Ia meremas ujung sendoknya dengan kuat, menatap wanita berkacamata di hadapannya dengan mata sembab.
"Sintya..." suara Farah serak dan pecah. "Orang seperti apa sebenarnya Ahmad Kadafi itu?"
Sintya menghentikan aktivitasnya di layar tablet. Ia meletakkan alat elektronik itu di atas meja, melipat kedua tangannya, dan menghela napas panjang. Tatapan profesionalnya perlahan luntur, digantikan oleh sorot mata yang sarat akan kepahitan dan luka masa lalu.
"Dia adalah pria yang bisa memberimu dunia, sekaligus menjadikanmu tahanan di neraka terdalamnya, Bu Farah," jawab Sintya perlahan.
Farah menahan napas. "Kau... kau terlihat sangat biasa saja melihatku hancur seperti ini. Apa... apa aku bukan yang pertama?"
Sintya tersenyum miris, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Bukan. Anda bukan yang pertama. Dan ironisnya... saya tahu persis apa yang Anda rasakan saat ini. Karena saya pun pernah berada di posisi Anda."
Mata Farah membelalak lebar. Keterkejutan membuatnya lupa sejenak pada rasa sakit di tubuhnya. "K-kau...? Tapi bagaimana bisa? Kau sekretarisnya!"
Sintya menundukkan pandangannya ke arah cangkir kopi di hadapannya, menerawang jauh ke masa lalu yang selama ini ia kubur rapat-rapat.
"Ceritanya cukup panjang," Sintya memulai dengan suara pelan. "Saya bukan berasal dari keluarga berada, Bu Farah. Saya adalah seorang anak yatim piatu. Dulu, orang tua Pak Kadafi, pemilik Energy Resource, mengadakan acara santunan besar-besaran di panti asuhan tempat saya tinggal. Karena nilai akademis saya yang selalu menonjol, perusahaan memberikan saya beasiswa penuh hingga ke perguruan tinggi."
Sintya menjeda kalimatnya, menyesap kopinya perlahan. "Saya merasa sangat berutang budi. Saya belajar mati-matian, lulus sebagai lulusan terbaik di universitas, dan langsung mengabdikan diri bekerja di perusahaan ayah Pak Kadafi. Saat itu, semuanya berjalan sempurna. Saya dihormati, karir saya cemerlang."
"Lalu... apa yang terjadi?" desak Farah, tanpa sadar mencondongkan tubuhnya.
"Lalu, sang Pangeran Mahkota pulang dari Amerika," lanjut Sintya, nada suaranya berubah menjadi lebih dingin. "Ahmad Kadafi kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi bisnisnya. Ayahnya langsung menyerahkan posisi CEO kepadanya. Dan sebagai bentuk kepercayaan, ayahnya menunjuk saya, karyawan paling loyal dan berprestasi, untuk menjadi sekretaris pribadi putranya."
Jari-jari Sintya saling meremas di atas meja. "Pada awalnya, dia sangat profesional. Tapi lambat laun, saya mulai menyadari tatapan matanya. Dominasinya. Dia tahu saya tidak punya siapa-siapa, dan dia tahu saya terlalu berutang budi pada keluarganya untuk berani melawan. Sama seperti Anda semalam... suatu sore di ruang kerjanya, dia tidak membiarkan saya pulang."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Sintya. Benteng profesionalitasnya retak saat menceritakan memori kelam itu. "Saya menangis, memohon, mengingatkan dia akan kebaikan ayahnya. Tapi penolakan saya justru membuatnya semakin tertantang. Dia mengambil kehormatan saya di atas sofa ruang kerjanya. Setelah hari itu, hidup saya berubah menjadi mimpi buruk. Saya tidak lebih dari sekadar budak pemuas nafsunya setiap kali dia merasa stres dengan urusan perusahaan. Sama seperti Anda hari ini, dia memberikan saya apartemen ini, membelikan saya barang mewah, tapi sebenarnya dia mengunci saya."
Farah menutup mulutnya dengan kedua tangan. Isak tangis kembali pecah dari bibirnya. Mendengar cerita Sintya seperti melihat cermin nasibnya sendiri. "Lalu bagaimana kau bisa lepas darinya, Sin? Bagaimana kau bisa bertahan bekerja di dekatnya setelah semua itu?"
"Saya bertahan selama tiga bulan di dalam siksaan psikologis itu," jawab Sintya, mengusap setitik air mata di sudut matanya dengan cepat, kembali memasang topeng tegarnya. "Saya menyadari bahwa melawannya dari dalam tidak akan berhasil. Dia terlalu berkuasa. Jadi, saya mengambil jalan keluar paling ekstrem. Saya meminta seseorang seorang teman lama untuk menikahi saya secara mendadak. Saya berpikir, jika saya berstatus istri orang, egonya sebagai pria terhormat mungkin akan mencegahnya menyentuh saya lagi."
"Apakah berhasil?"
Sintya tertawa hambar. "Pernikahan itu memang menghentikannya... tapi bukan karena dia menghormati status pernikahan saya, Bu Farah. Dia berhenti karena dia menemukan mainan baru yang jauh lebih menantang."
"Siapa?"
"Cantika Anggraini Hudiyana," sebut Sintya dengan nada meremehkan. "Selebgram hijab yang saat itu sedang naik daun. Pak Kadafi tergila-gila pada citra wanita alim namun liar di ranjang. Hubungan terlarang mereka bertahan selama dua tahun. Mereka bermain kucing-kucingan dengan media. Cantika memberinya kepuasan yang luar biasa, hingga akhirnya... perjodohan bisnis itu terjadi. Ayah Pak Kadafi memaksa beliau menikahi sahabat Anda, Bu Anna."
Nama Anna disebut, membuat dada Farah terasa dihantam godam raksasa. Ya Tuhan, Anna. Sahabatnya yang lugu dan polos itu terjebak dalam pusaran pria iblis ini, dan kini, dirinya pun ikut terseret menghancurkan hidup sahabatnya sendiri.
Sintya menatap Farah lekat-lekat, raut wajahnya kini sangat serius dan penuh peringatan. "Bu Farah, dengarkan saya baik-baik. Anda berbeda dari saya, dan Anda berbeda dari karyawati-karyawati lain yang pernah ditidurinya. Anda adalah sahabat dari wanita yang dinikahinya secara paksa."
Farah gemetar. "A-apa maksudmu?"
"Pak Kadafi tidak menyukai Bu Anna karena perjodohan itu mengekang kebebasannya bersama Cantika. Dengan menjadikan Anda sahabat istrinya sebagai mangsanya, dia mendapatkan kepuasan psikologis yang ganda. Dia menaklukkan Anda, sekaligus membalas dendam pada istrinya dengan cara yang paling keji," jelas Sintya panjang lebar.
"Lepaskan diri Anda secepat mungkin, Bu Farah. Saya menasihati Anda bukan hanya sebagai sekretarisnya, tapi sebagai sesama wanita. Jika Anda terus menuruti rasa takut Anda, dia akan menjadikan Anda boneka kesayangannya. Anda akan terikat dalam skandal kotor ini tanpa bisa keluar. Berlarilah selagi Anda punya kesempatan."
Penuturan Sintya yang panjang lebar itu menghantam kewarasan Farah hingga hancur tak bersisa. Ia menangis tersedu-sedu, menelungkupkan wajahnya di lipatan lengannya di atas meja makan. Tubuhnya berguncang hebat.
Berlari? Bagaimana caranya berlari? Farah berpikir kalut. Seharusnya ia punya keberanian untuk melawan. Seharusnya saat terbangun tadi, ia berlari menemui Anna, menceritakan semuanya, melaporkan kebejatan pria itu. Tapi ego, rasa malu, dan ancaman Kadafi tentang rekaman CCTV itu telah mengunci bibirnya rapat-rapat. Dia telah mendesah di bawah kukungan pria itu. Dia telah membohongi Anna di telepon semalam saat pria itu menyetubuhinya secara brutal.
Jika Anna tahu... Anna akan membencinya seumur hidup. Ia akan kehilangan sahabatnya, reputasinya akan hancur, dan keluarganya akan menanggung aib. Farah menyadari dengan keputusasaan yang absolut, bahwa ia benar-benar telah menjadi tawanan. Sangkar emas Kadafi telah mengurungnya tanpa celah.
"Terima kasih atas makanannya, Sintya," bisik Farah dengan suara serak, mengangkat wajahnya yang berantakan. Matanya kini memancarkan kepasrahan yang kosong. "Aku... aku harus pulang."
Tiga puluh menit kemudian, sebuah taksi online menjauh dari lobi apartemen mewah tersebut. Farah duduk di kursi belakang, menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang dingin. Gedung-gedung Jakarta melesat melewatinya, namun tatapan matanya kosong. Pikirannya berdengung.
Setiap kali mobil bermanuver atau melewati polisi tidur, Farah harus menggigit bibir dalamnya untuk menahan ringisan. Ngilu di pangkal pahanya dan perih di area kewanitaannya sangat menyiksa, terus mengingatkannya pada hentakan-hentakan keras Kadafi semalam.
Taksi itu akhirnya berbelok memasuki kompleks perumahan elite tempat Farah tinggal, dan berhenti perlahan di depan pagar rumah berdesain mediterania milik kedua orang tuanya.
Farah membayar taksi dan membuka pintu mobil. Ia harus menarik napas panjang dan berpegangan pada pinggiran pintu untuk bisa berdiri. Kakinya sedikit gemetar. Ia merapikan gaun kasualnya, berusaha menutupi sisa-sisa lebam di area tulang selangkanya dengan menggerai rambut hitamnya ke depan. Aku harus terlihat normal. Harus normal, rapalnya dalam hati.
Dengan langkah pelan dan sedikit tertatih yang ia paksakan untuk terlihat seperti langkah orang kelelahan bekerja, Farah mendorong pintu gerbang kecil rumahnya.
Namun, langkahnya seketika terhenti. Darahnya berdesir hebat, dan jantungnya serasa melompat keluar dari rongga dadanya.
Di teras rumahnya yang sejuk, duduk sang ayah yang sedang membaca koran, ibunya yang sedang menuangkan teh, dan di kursi rotan di seberang mereka... duduk Anna Widya Krisna Mala.
Sahabatnya itu mengenakan pakaian kasual bernuansa pastel yang membuatnya terlihat sangat cantik, anggun, dan tak bernoda. Sempurna. Sangat kontras dengan Farah yang merasa dirinya seburuk sampah.
Mendengar suara gerbang terbuka, ketiga orang di teras itu serempak menoleh.
"Farah!" panggil ibunya dengan raut wajah lega, segera meletakkan teko teh dan berdiri menghampiri putrinya. "Ya ampun, Nak! Kamu ke mana saja? Ibumu ini telepon ke kantormu, katanya kamu tidak masuk hari ini. Ditelepon ke ponselmu tidak aktif!"
Anna ikut berdiri, wajah cantiknya memancarkan kekhawatiran yang sangat tulus. Ia berjalan cepat mendekati Farah dan langsung memeluk tubuh wanita itu.
"Farah! Astaga, kamu bikin aku jantungan, tahu nggak?" omel Anna dengan mata berkaca-kaca, memeluk sahabatnya erat-erat. "Semalam waktu di telepon suaramu aneh banget, bilang jatuh tersandung. Terus tiba-tiba dimatikan. Aku hubungi dari semalam sampai pagi ini nggak aktif-aktif. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu sampai aku maksa ke sini nemuin Tante dan Om!"
Pelukan hangat Anna, sentuhan tulus dari seorang sahabat yang suaminya baru saja merenggut paksa kehormatannya berkali-kali semalaman suntuk, menjadi siksaan mental terberat bagi Farah. Rasa bersalah menancap di dadanya, mencabik-cabik kewarasannya. Ia ingin menjerit, ia ingin berlutut dan mencium kaki Anna untuk memohon ampun, tapi lidahnya kelu.
"Aduh, kamu pucat sekali, Nak," tegur sang ayah, yang kini berdiri di belakang istrinya, menatap wajah putrinya dengan cemas. "Cara jalanmu juga aneh, agak pincang. Kamu benar-benar jatuh semalam? Atau sakit?"
Pertanyaan ayahnya membuat keringat dingin menetes di tengkuk Farah. Matanya membesar panik. Ia harus berbohong lagi. Ia harus terus menggali lubang kebohongan ini.
"I-iya, Pa... Ma..." suara Farah bergetar hebat. Ia memaksakan sebuah senyum tipis di bibirnya, menahan pedih yang meremas hatinya. "A-aku... semalam habis lembur... lalu lari mengejar taksi. Aku jatuh di trotoar. Lututku dan... dan pinggangku terbentur lumayan keras."
"Ya ampun! Kenapa nggak ke rumah sakit?" Anna berseru panik, memeriksa lengan dan kaki Farah. "Ponselmu kenapa mati?"
"H-habis baterai, Na, saat jatuh... ponselnya terlempar dan... sedikit rusak. Aku numpang istirahat di apartemen teman sekantorku semalaman karena tidak kuat jalan pulang," dusta Farah, setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti duri yang mencekik tenggorokannya. Ia menunduk, tak berani menatap mata jernih Anna. Jika Anna menatapnya lebih jeli, wanita itu mungkin akan melihat sisa memar gigitan di balik kerah bajunya.
"Sudah, sudah. Yang penting kamu selamat sampai rumah," sela ibunya, mengelus punggung Farah dengan lembut. "Ayo masuk. Mama kompres ya yang sakit. Anna, ayo masuk, Sayang. Tante buatkan makanan sekalian."
Anna mengangguk, masih menatap Farah dengan iba. Ia menggenggam tangan Farah erat. "Kamu ini kebiasaan deh kerja terlalu overwork. Kalau suamiku si Kadafi itu tahu salah satu petinggi akuntingnya kerja sampai jatuh begini, bakal aku marahi dia nanti," gerutu Anna polos.
Mendengar nama Kadafi disebut oleh istri sahnya dengan nada santai, pertahanan Farah nyaris runtuh. Perutnya bergejolak hebat menahan mual, dan rasa ngilu di selangkangannya terasa semakin menusuk, seolah menertawakan kemunafikannya.
"A-aku... aku mau langsung ke kamar saja, Ma," ucap Farah parau, perlahan melepaskan genggaman tangan Anna. "A-aku butuh istirahat... kepalaku sangat pusing."
"Oh, ya sudah. Kamu istirahat saja dulu," Anna tersenyum lembut penuh pengertian. "Aku pulang dulu deh kalau gitu. Nanti malam atau besok aku jenguk lagi ya. Cepat sembuh, Sayang."
"Terima kasih, Na..." bisik Farah, menahan tangis yang sudah berada di pelupuk mata.
Dengan sisa tenaga dan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tak terlihat mencurigakan, Farah berjalan melewati ruang tamu menuju kamarnya. Begitu pintu kamar tertutup dan terkunci rapat, Farah merosot ke lantai, bersandar pada pintu kayu itu.
Ia memeluk kedua lututnya, menenggelamkan wajahnya di sana, dan menangis tanpa suara. Di luar sana, Anna dan kedua orang tuanya tertawa kecil membicarakan sesuatu. Di dalam sini, Farah terjebak dalam sangkar kehancurannya sendiri.
Bayang-bayang senyum sinis Kadafi, ancaman pria itu, dan rahasia kotor yang kini bersarang di rahimnya, menjadi beban seberat gunung yang harus ia pikul sendirian. Nasihat Sintya kembali terngiang di telinganya. Berlari? Tidak. Farah tahu, mulai detik ini, hidupnya telah resmi tamat di bawah cengkeraman Ahmad Kadafi.
ns216.73.216.66da2


