Ruang kerja sang CEO kembali sunyi, menyisakan aroma tajam dari perpaduan parfum maskulin dan sisa-sisa pergumulan panas. Farah Nabila masih terduduk di karpet tebal di balik meja kebesaran Ahmad Kadafi. Tubuhnya gemetar hebat, merapatkan kemeja chiffon-nya yang kusut masai. Air mata menetes dalam diam, menyadari betapa murahnya pertahanannya runtuh oleh sentuhan suami dari sahabatnya sendiri.
Pintu ganda berderit terbuka. Anisa Sintya, sang sekretaris dengan wajah tanpa ekspresi yang selalu profesional, melangkah masuk. Ia membawa paper bag berisi pakaian ganti dan segelas teh kamomil hangat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun yang menghakimi, Anisa meletakkan teh itu di atas meja, lalu mulai memunguti dokumen laporan keuangan yang berserakan di lantai dengan cekatan.
"Minumlah, Bu Farah. Setelah itu, saya akan mengantar Anda," ucap Anisa datar, seolah pemandangan wanita yang hancur di ruangan bosnya adalah hal yang ia lihat setiap hari.
Farah menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Ia tidak berani menatap mata Anisa. Dengan tangan gemetar, ia meminum teh itu, membiarkan kehangatannya sedikit menenangkan sarafnya yang tegang. Setengah jam kemudian, dengan pakaian yang sudah lebih rapi, Farah dibimbing melewati pintu belakang khusus eksekutif.
Mobil sedan hitam perusahaan membawanya membelah kemacetan Jakarta, berhenti di pelataran parkir sebuah apartemen mewah di kawasan Sudirman. Itu adalah salah satu "sangkar" tak kasat mata milik Ahmad Kadafi.
"Pak Kadafi berpesan agar Anda beristirahat di sini hari ini," kata Anisa saat menyerahkan sebuah kartu akses ( keycard ) berwarna hitam. "Saya permisi."
Di dalam apartemen luas yang didominasi warna abu-abu dan marmer hitam itu, Farah merasa seperti burung yang kehilangan sayap. Ruangan itu dingin, steril, dan sangat mencerminkan sosok Ahmad Kadafi. Farah mengunci diri di kamar mandi, menyalakan shower air panas, dan menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran air. Ia mencoba menggosok kulitnya, berharap bisa menghapus jejak tangan, ciuman, dan dominasi Ahmad dari tubuhnya. Namun, semakin ia menggosoknya, semakin ingatannya memutar ulang desahan dan erangan kenikmatannya sendiri di atas meja kerja pria itu.
Malam perlahan turun menyelimuti ibukota. Farah duduk di tepi ranjang dengan mata sembab. Ponselnya bergetar beberapa kali. Ada pesan dari Anna dan Adiba di grup obrolan mereka.
Anna: Farah, Adiba... malam ini kita jadi ketemu di Cafe Senopati kan? Aku butuh kalian. Kepalaku rasanya mau pecah sendirian di hotel ini.
Adiba: Pasti, Sayang. Aku otw jam 7 malam. Farah, kamu nyusul dari kantor?
Membaca pesan dari Anna, dada Farah seperti ditusuk ribuan jarum. Sahabatnya sedang kesepian, meratapi nasib pernikahan perjodohannya yang tak bahagia, sementara ia sendiri menghabiskan pagi dengan mengerang di bawah kukungan suami sahabatnya itu. Rasa bersalah yang teramat besar mendorong Farah untuk bangkit. Ia harus pergi. Ia harus ada untuk Anna dan berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Farah merias wajahnya tipis-tipis untuk menutupi jejak tangis, mengenakan gaun selutut berwarna navy yang elegan. Ia menyambar tas tangannya, memantapkan hati, dan melangkah menuju pintu utama apartemen.
Namun, tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, keycard dari luar digesek. Bunyi klik mekanis terdengar, dan pintu terbuka dari luar.
Jantung Farah seakan berhenti berdetak. Sosok menjulang Ahmad Kadafi berdiri di ambang pintu. Pria itu sudah menanggalkan jas dan dasinya, kemejanya digulung hingga siku, menampilkan urat-urat kokoh di lengannya. Tatapan matanya segelap malam, memancarkan aura pemangsa yang mengunci buruannya.
"Mau ke mana, Farah?" tanya Ahmad santai, melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan rapat, lalu memutar kuncinya. Bunyi kuncian itu terdengar seperti vonis hukuman mati bagi Farah.
"A-aku ada janji... dengan Anna dan Adiba," jawab Farah, suaranya bergetar, mundur selangkah saat Ahmad mulai mengikis jarak di antara mereka. "Anna membutuhkanku malam ini. Tolong, biarkan aku pergi."
Sudut bibir Ahmad berkedut, membentuk seringai yang mematikan. "Istriku membutuhkan sahabatnya? Betapa mengharukan. Tapi sayangnya, aku lebih membutuhkanmu malam ini."
"Mas, kumohon... cukup," Farah memberanikan diri, air mata kembali menggenang. Ia mengangkat kedua tangannya, mendorong dada bidang Ahmad yang kini sudah berada tepat di hadapannya. "Apa yang terjadi pagi tadi... itu sebuah kesalahan besar. Aku merasa sangat kotor! Anna adalah sahabatku. Kau tidak bisa melakukan ini padaku!"
Ahmad tidak mundur satu inci pun akibat dorongan lemah itu. Tangannya yang besar justru terangkat, menangkup rahang Farah dengan cengkeraman yang tegas namun tak menyakiti, memaksa wanita itu mendongak menatap matanya yang membara.
"Kesalahan?" desis Ahmad, suaranya merendah menjadi bisikan serak yang menggetarkan perut Farah. "Jika itu kesalahan, mengapa kau mendesah begitu keras saat aku menyentuhmu? Mengapa tubuhmu melengkung memohon lebih saat aku memasukimu, hm? Jangan munafik, Farah. Kau sangat menikmatinya."
"Tidak! Lepaskan aku!" Farah memberontak, memukul-mukul dada pria itu dengan panik. "Aku mau pergi! Aku tidak mau mengkhianati Anna lagi!"
Pemberontakan itu justru menjadi bahan bakar bagi hasrat kebinatangan Ahmad. Melihat mata yang berlinang air mata dan bibir yang bergetar itu justru membuatnya semakin bergairah. Dengan satu gerakan cepat yang penuh tenaga, Ahmad meraih pinggang Farah dan membanting tubuh ramping itu ke dinding koridor.
Farah memekik tertahan. Sebelum ia bisa memaki, bibir Ahmad sudah membungkamnya dengan ciuman yang sangat kasar dan rakus. Pria itu menjarah isi mulutnya, memaksakan lidahnya masuk dan mencecap rasa manis yang telah menjadi candu barunya. Tangan Ahmad dengan beringas menyusuri gaun navy yang dikenakan Farah, meremas paha dan bokong wanita itu dengan posesif.
"Mmpphhh... lepash..." Farah mencoba memberontak di sela-sela ciuman itu. Tangannya berusaha mencengkeram kerah kemeja Ahmad untuk menjauhkannya, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Aroma maskulin pria itu kembali menginvasi akal sehatnya. Sentuhan tangan Ahmad yang kini menelusup ke balik gaunnya membelai pusat gairahnya yang tiba-tiba mengkhianatinya dengan menjadi basah membuat pertahanan moral Farah hancur berkeping-keping.
Pukulan Farah di dada Ahmad melemah, berubah menjadi cengkeraman putus asa. Penolakannya menguap, tergantikan oleh lenguhan pasrah saat ciuman Ahmad turun menyusuri lehernya, meninggalkan jejak-jejak kemerahan di sana.
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana malam ini, Nabila," geram Ahmad di telinga wanita itu.
Ahmad mengangkat tubuh Farah, menggendongnya seperti koala sementara Farah secara refleks melingkarkan kedua kakinya di pinggang kokoh pria itu. Sambil terus menghujani leher dan dada Farah dengan ciuman basah, Ahmad membawanya menuju kamar tidur utama. Ia menghempaskan Farah ke atas ranjang berseprai putih. Gaun navy indah itu robek di bagian ritsleting belakang akibat tarikan tidak sabar dari Ahmad.
Pakaian mereka terlempar ke segala arah. Di bawah sorot lampu temaram, Ahmad kembali menguasai tubuh wanita itu. Kali ini, tanpa ada sisa belas kasihan. Setiap sentuhan, setiap jilatan, dan setiap gigitan kecil yang diberikan Ahmad membuat Farah merintih, meliuk-liukkan tubuhnya di atas lautan selimut.
"Mas... ah... aah..." desah Farah, tak mampu lagi membendung suaranya. Kepalanya terlempar ke belakang saat penyatuan itu akhirnya terjadi. Ahmad memasukinya dengan satu hentakan dalam yang membuat napas Farah seakan terputus.
Ahmad menindihnya, memulai pergerakan ritmis yang mengoyak kewarasan Farah. Hujaman demi hujaman diberikan dengan tempo yang liar. Farah menangis, air mata membasahi pipinya—perpaduan antara rasa bersalah yang mengiris hati dan kenikmatan luar biasa yang membuat tubuhnya serasa melayang. Suara kulit yang beradu, deru napas yang memburu, dan erangan parau memenuhi ruangan itu.
Tepat di tengah gelora yang semakin memanas itu, membelah suara desahan mereka, sebuah nada dering nyaring memecah suasana.
Kring!! Kring!!
Ponsel Farah yang tergeletak di atas bantal menyala, menampilkan nama penelepon dalam huruf kapital: ANNA WIDYA.
Tubuh Farah seketika menegang keras. Matanya membelalak penuh teror menatap layar yang berkedip itu. "Mas... tunggu, Mas... i-itu Anna," bisiknya panik, mencoba mendorong dada Ahmad yang berkeringat.
Namun, gerakan Ahmad sama sekali tidak melambat. Pria itu justru tersenyum iblis. Ia menatap layar ponsel itu, lalu menatap Farah yang ketakutan di bawahnya.
"Angkat," perintah Ahmad, suaranya berat dan penuh dengan otoritas mutlak.
"A-apa? Tidak! Aku tidak bisa Ah!"
Farah memekik tertahan karena tepat saat ia menolak, Ahmad menarik pinggul wanita itu dan menghujamkan miliknya lebih dalam dan lebih kasar dari sebelumnya. Mata Farah terpejam erat, bibirnya tergigit menahan erangan keras yang hampir meledak.
"Kukatakan angkat, Farah. Atau aku yang akan mengangkatnya dan membiarkan istriku mendengar langsung suara desahan sahabat baiknya," ancam Ahmad dengan seringai nakal, pinggulnya terus bergerak maju-mundur tanpa ampun, menyiksa Farah dengan gelombang kenikmatan yang gila.
Dengan tangan bergetar hebat, Farah meraih ponselnya. Ia mengusap layar hijau untuk menjawab panggilan itu, mendekatkan speaker ke telinganya.
"Ha-halo...?" suara Farah bergetar hebat, napasnya memburu.
"Farah! Kamu di mana? Aku dan Adiba sudah di cafe nih, nungguin kamu dari tadi," suara Anna terdengar jernih dari ujung sana, penuh dengan keakraban dan keluhan manja khas sahabat.
Mendengar suara Anna, hati Farah seakan hancur lebur. Air mata menderas dari sudut matanya. Di atasnya, Ahmad menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Farah. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Farah, menyeringai, lalu sengaja memberikan satu hentakan lambat namun sangat dalam, memutar pinggulnya di titik paling sensitif milik Farah.
"Nnggh...!" Farah menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga nyaris berdarah, berusaha keras menelan erangan panjang yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Tangannya yang bebas mencengkeram lengan berotot Ahmad, memohon tanpa suara.
"Halo? Farah? Kamu kenapa? Suaramu kok aneh begitu? Kamu lagi lari ya?" tanya Anna, sedikit curiga namun lebih terdengar khawatir.
"I-iya, Na... a-aku... ahh...!" Farah kehilangan kendali atas suaranya selama sedetik ketika Ahmad dengan sengaja meremas sebelah payudaranya dengan keras. Farah segera menjauhkan ponsel dari mulutnya, menarik napas dalam-dalam, lalu mendekatkannya kembali. "M-maaf, Na... aku... aku lagi lari ngejar... taksi... i-iya... taksi."
Ahmad menyeringai lebar mendengar kebohongan itu. Seolah ingin menguji batas kemampuan wanita di bawahnya, ia mengubah ritmenya. Hujamannya kini menjadi lebih cepat, lebih keras, menghasilkan suara plak plak plak dari kulit perutnya yang beradu dengan paha Farah.
"Oh astaga, santai aja kali. Eh, tapi kamu jadi nyusul kan? Aku bener-bener butuh teman ngobrol malam ini. Suamiku si brengsek itu bahkan nggak ngabarin aku sama sekali seharian ini," gerutu Anna di telepon.
Setiap kata yang diucapkan Anna seperti belati yang menguliti jiwa Farah. Wanita yang suaminya maki-maki itu kini sedang menindihnya, membanjirinya dengan keringat dan kenikmatan dosa.
"Na... a-aku... ahnn... m-maaf... sepertinya aku... nggh... nggak bisa da-datang," Farah tergagap, suaranya terputus-putus. Keringat dingin membanjiri dahinya. Ia harus mengerahkan seluruh sisa fokus di otaknya untuk merangkai kata, sementara bagian bawah tubuhnya seolah terbakar oleh gesekan yang luar biasa nikmat.
Ahmad kini merendahkan tubuhnya, menjilat sisa air mata di pipi Farah, lalu berbisik dengan suara parau tepat di depan bibir yang terbuka itu, "Katakan padanya kau sedang sibuk... sangat sibuk."
"Nggak bisa datang? Kenapa?!" nada Anna terdengar kecewa. "Ada kerjaan lembur? Atau jangan-jangan kamu lagi sama cowok ya? Tumben banget napasmu sampai engap begitu."
Pertanyaan Anna yang polos menembak tepat sasaran. Dada Farah bergemuruh kencang. Ia menggelengkan kepala pada Ahmad yang berada di atasnya, memohon belas kasihan. Tapi sang predator tidak mengenal kata ampun. Ahmad menarik kakinya, mengangkat kedua kaki Farah dan menyampirkannya di bahu lebarnya, membuka pertahanan wanita itu selebar-lebarnya untuk dihujam lebih dalam lagi.
"AAAH!" Farah memekik tanpa bisa dikendalikan. Ia segera membekap mulutnya sendiri dengan punggung tangannya yang memegang ponsel.
"Farah?! Kamu kenapa teriak?!" Anna terdengar panik sekarang.
"T-tersandung, Na! Aku j-jatuh... aduh... sakit," bohong Farah dengan tangis yang sungguhan pecah. Namun itu bukan tangis rasa sakit akibat terjatuh, melainkan tangis keputusasaan karena ia tidak sanggup lagi menahan ledakan kenikmatan dari pergerakan binal Ahmad.
"Ma-maaf Na... aku pusing... aku harus t-tutup tel... eponnya. Ma... af..."
Tanpa menunggu jawaban Anna, Farah langsung menekan tombol merah dan melempar ponselnya ke sembarang arah. Seketika itu juga, pertahanannya jebol total. Tangannya yang membekap mulut terlepas, membiarkan erangan dan desahan parau yang sejak tadi ia tahan mengalun lepas, memenuhi keheningan apartemen yang kedap suara itu.
"AH! MAS... MAS AHMAD... CUKUP!" jerit Farah dalam desahan panjang, punggungnya melengkung ke atas mencari setiap inci kulit pria itu saat puncak pelepasannya menghantam dengan keras. Tubuhnya berkedut hebat di bawah kungkungan Ahmad, meremas pinggul pria itu dari dalam.
Merasakan jepitan kuat dari tubuh Farah, Ahmad menggeram keras. Urat-urat di lehernya menonjol. Ia memberikan beberapa hentakan brutal terakhir sebelum akhirnya menumpahkan seluruh hasratnya di dalam sana. Napas Ahmad tersengal, ia ambruk di atas tubuh Farah, membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita yang kini tersedu-sedu itu.
Kamar itu hanya dipenuhi oleh paduan napas yang terengah-engah dan isak tangis tertahan dari Farah. Air mata wanita itu membasahi bantal. Ia telah merusak segalanya. Persahabatannya, harga dirinya, dan kehormatannya; semuanya luluh lantak di tangan pria berdarah dingin ini.
Ahmad perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap wajah Farah yang berantakan, mengusap air mata di pipi wanita itu dengan ibu jarinya secara posesif.
"Kau pembohong yang hebat di telepon tadi, Sayang," bisik Ahmad dengan senyum yang mengerikan.
"Aku membencimu..." isak Farah, memalingkan wajahnya. "Aku sangat membencimu."
Ahmad tertawa pelan, tawa yang dalam dan mengintimidasi. Ia meremas rahang Farah, memaksanya kembali menatap matanya. "Bencilah aku sesukamu, Nabila. Tapi ingat ini baik-baik. Kalau kau berani membantahku, atau mencoba lari dariku... rekaman CCTV di ruang kerjaku pagi tadi, dan semua yang terjadi malam ini, akan sampai ke tangan Anna dalam hitungan detik. Dan kau tahu apa artinya itu? Kau akan kehilangan segalanya."
Mata Farah terbelalak lebar, napasnya tercekat di tenggorokan. Ancaman itu mengunci nasibnya. Ia benar-benar telah jatuh ke dalam jurang terdalam tanpa ada jalan untuk kembali.
"Kau adalah milikku sekarang. Sampai aku bosan," bisik Ahmad, mengecup bibir Farah yang gemetar dengan posesif. "Dan malam ini, masih sangat panjang."
Dan ancaman itu bukan sekadar bualan belaka. Malam itu menjadi neraka sekaligus surga duniawi bagi Farah. Di atas ranjang apartemen yang dingin itu, ia diubah menjadi boneka bernyawa. Ahmad menyetubuhinya berkali-kali tanpa kenal lelah hingga menjelang pagi. Setiap kali Farah memohon untuk berhenti karena kelelahan, setiap kali itu pula Ahmad membangkitkan kembali gairahnya dengan paksa, menyiksanya dengan sentuhan yang membuat tubuhnya berkhianat. Isak tangis pilu berpadu dengan desahan panjang tiada henti, menjadi saksi bisu bagaimana seorang Farah Nabila secara perlahan, namun pasti, dihancurkan lalu dibentuk ulang untuk memuaskan nafsu binatang sang predator bernama Ahmad Kadafi.
ns216.73.216.66da2


