Di kamar tidurnya yang temaram, Farah Nabila duduk memeluk lutut. Layar ponselnya yang retak menyala redup, menampilkan sebuah pesan singkat dari nomor yang tak disimpan namun telah menjadi mimpi buruk terbesarnya.
"Bersembunyilah di balik senyum ibumu, Nabila. Tapi ingat, bahkan saat kau menangis di hadapan istriku, tubuhmu tahu siapa pemiliknya sekarang. Tidur yang nyenyak, mainan baruku."
Pesan itu tak lebih dari dua kalimat, namun cukup untuk membuat perut Farah kembali bergejolak. Kata-kata itu adalah rantai kasat mata yang mencekik lehernya, mengunci rapat pintu kebebasan yang sempat terlintas di benaknya. Ia melempar ponselnya ke ujung kasur, kembali membenamkan wajahnya di bantal, meratapi nasibnya yang kini berada sepenuhnya di bawah telapak kaki Ahmad Kadafi.
Sementara itu, di pusat bisnis Jakarta, awan mendung menggelayut di atas gedung pencakar langit Energy Resource. Jam di dinding lobi menunjukkan pukul delapan malam. Sebagian besar karyawan telah pulang, meninggalkan kesunyian yang menggema di lorong-lorong berkarpet tebal.
Anisa Sintya melangkah keluar dari lift di lantai 40. Ia sengaja kembali ke kantor untuk menyelesaikan rekapitulasi data. Ia ingin bekerja lembur malam ini agar akhir pekannya bisa ia habiskan dengan tenang di apartemen kecilnya, menjauh dari bayang-bayang keluarga Kadafi dan intrik kotor perusahaan.
Sintya meletakkan tasnya di meja kerjanya yang berada tepat di depan ruang utama CEO. Ia merapihkan hijabnya, memakai kacamata anti-radiasinya, dan mulai menyalakan komputer. Namun, baru saja booting layar selesai, kesunyian lantai itu dipecahkan oleh dering nyaring dari telepon ekstensi di mejanya.
Lampu berkedip merah. Ekstensi 01. Ruangan CEO.
Darah Sintya seketika berdesir dingin. Ia menatap gagang telepon itu seolah menatap bisa ular kobra. Pak Kadafi masih di dalam? Bukankah pria itu seharusnya sudah pulang atau pergi ke suatu tempat setelah apa yang ia lakukan pada Farah tadi pagi?
Dengan tangan sedikit gemetar, Sintya mengangkat gagang telepon. "Y-ya, Pak Kadafi?"
"Masuk."
Hanya satu kata. Dingin, berat, dan tanpa intonasi. Bunyi klik terdengar saat sambungan diputus dari dalam.
Sintya menelan ludah. Firasat buruk langsung mencengkeram dadanya. Ia merapikan blazer-nya, menarik napas panjang untuk membangun kembali tembok profesionalitasnya, lalu melangkah menuju pintu kayu mahoni ganda itu.
Begitu pintu terbuka, hawa dingin dari AC sentral langsung menusuk kulitnya, namun yang lebih membekukan adalah atmosfer di dalam ruangan itu. Lampu utama dimatikan, hanya menyisakan lampu meja temaram dan cahaya kota Jakarta dari jendela kaca raksasa di belakang. Di sofa kulit berwarna hitam di sudut ruangan, Ahmad Kadafi duduk dengan kaki menyilang. Jasnya sudah dilepas, kemeja putihnya tergulung hingga siku, dan segelas wiski berada di tangannya.
Tatapan mata Kadafi membelah bayang-bayang, menancap langsung tepat di manik mata Sintya bak tombak es.
"Tutup pintunya dan kunci," perintah Kadafi perlahan.
Tubuh Sintya menegang. Perintah itu membangkitkan memori traumatis dua tahun lalu. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia berbalik, memutar kunci hingga terdengar bunyi klik yang menggema pelan, lalu berdiri kaku di dekat pintu.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Sintya, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Kadafi menyesap wiskinya dengan tenang, lalu meletakkan gelas kristal itu ke atas meja kaca di depannya. Pria itu berdiri. Postur tubuhnya yang menjulang perlahan mendekati Sintya, langkah kakinya tak bersuara, mengendap seperti macan kumbang yang mengunci buruannya.
"Kau tahu, Anisa... aku selalu menghargai efisiensi kerjamu. Kau adalah sekretaris yang paling bisa diandalkan," Kadafi mulai berbicara, suaranya mengalun rendah. Ia berhenti tepat satu meter di depan Sintya. Aroma alkohol dan musk menyerbak. "Tapi satu hal yang sangat kubenci dari bawahan adalah... pengkhianatan."
Mata Sintya sedikit melebar. "P-pengkhianatan? Maaf, Pak, saya tidak mengerti—"
"Jangan bermain bodoh denganku!" bentak Kadafi, suaranya tiba-tiba meledak, memantul di dinding ruangan.
Sintya berjengit mundur hingga punggungnya menabrak pintu. Jantungnya berpacu liar.
Kadafi maju satu langkah, menumpukan kedua tangannya di pintu kayu, tepat di sisi kiri dan kanan kepala Sintya, mengurung wanita itu tanpa ampun. Wajahnya menunduk, matanya berkilat penuh amarah yang mengerikan.
"Kau pikir apartemen itu tidak memiliki telinga?" bisik Kadafi mematikan. "Kau pikir aku membiarkan mainan baruku berada di sana bersamamu tanpa pengawasan? Berani sekali kau membuka mulut kotormu di hadapan Farah. Menceritakan masa lalumu yang menyedihkan, menghakimiku, dan bahkan menyuruhnya untuk... lari?"
Napas Sintya seakan berhenti. Paru-parunya menolak bekerja. Rekaman suara. Pria ini menyadap apartemennya sendiri. Sintya memejamkan mata, keputusasaan langsung merendam jiwanya.
"Maafkan saya, Pak... saya... saya hanya—"
"Hanya apa? Merasa bersolidaritas sesama wanita murahan?" potong Kadafi sinis. Punggung jari tangannya kini terangkat, menyusuri rahang Sintya yang menegang. "Kau sudah lupa di mana posisimu berdiri, Anisa. Kau merasa aman karena kau pikir kau sudah lepas dari genggamanku dengan pernikahan konyolmu itu?"
Kadafi tertawa pelan, tawa yang membuat darah Sintya membeku. "Kau pikir aku tidak tahu? Suamimu... pria bernama Rio itu, tidak pernah menyentuhmu. Dia bahkan tidak menyukai wanita. Kalian tinggal di apartemen terpisah, dan pernikahan itu hanyalah kedok murahan untuk menghindariku."
Mata Sintya terbuka lebar, air mata seketika luruh membasahi pipinya. Tembok pertahanan terakhir yang ia bangun mati-matian selama dua tahun ini runtuh tak bersisa. "B-bagaimana Bapak bisa..."
"Aku tahu segalanya tentang milikku," desis Kadafi, wajahnya kini berada hanya beberapa sentimeter dari wajah Sintya. "Dan kau semakin lupa diri. Kau lupa bahwa panti asuhan tempatmu dibesarkan, tempat di mana 'adik-adik' kesayanganmu tinggal... tanahnya adalah milik perusahaanku. Satu tanda tanganku besok pagi, dan buldoser akan meratakan tempat sampah itu."
"Tidak! Tolong, Pak Kadafi, jangan!" Sintya merintih, suaranya pecah oleh isak tangis. Tangannya secara refleks mencengkeram lengan kemeja pria itu, memohon dengan putus asa. "Hukum saya... hukum saya seberat-beratnya, pecat saya, bunuh saya... tapi saya mohon, biarkan panti asuhan itu! Mereka tidak salah apa-apa!"
Melihat air mata dan kehancuran di wajah sekretarisnya yang biasa tampil sedingin es, seringai puas tercetak di bibir Kadafi. Ia telah menemukan kembali tombol penakluk wanita ini.
"Pecat? Bunuh? Itu terlalu mudah, Anisa," bisik Kadafi. Tangannya bergerak mencengkeram pinggang Sintya dengan kuat, menarik tubuh wanita itu agar menempel pada dada kerasnya. "Kau memberontak dari posisimu. Maka, hukuman yang paling tepat adalah mengembalikanmu ke tempat asalmu."
Sintya menggeleng kuat-kuat, isaknya semakin keras. Ia tahu apa maksud pria ini. Trauma masa lalunya kembali mencekik lehernya. "Pak, saya mohon... saya mohon jangan lagi... saya janji tidak akan ikut campur lagi! Jangan lakukan ini..."
Namun Kadafi seolah tuli. Pria itu tidak menampar, tidak menjambak, karena ia tahu ia tak perlu melakukan kekerasan fisik untuk menghancurkan wanita di dekapannya ini. Ia memiliki senjata yang jauh lebih mematikan: kuasa mutlak atas nyawa orang-orang yang Sintya sayangi.
"Dua tahun kau tidak disentuh, Anisa. Mari kita lihat apakah tubuh yatim piatu ini masih mengingat tuannya," bisik Kadafi parau di telinga Sintya.
Tanpa menunggu persetujuan yang memang tak pernah ia butuhkan, Kadafi meraup bibir Sintya. Ciuman itu brutal, menghukum, dan merendahkan. Sintya menangis, air matanya bercampur dalam lumatan kasar tersebut. Tangannya yang gemetar berusaha menahan bahu Kadafi, kuku-kukunya tanpa sadar menekan kemeja pria itu sebuah bentuk penolakan dari nuraninya namun ancaman tentang panti asuhan itu membuat lengannya kehilangan tenaga.
Kadafi menyapu segala rintangan. Ia membalikkan tubuh Sintya, mendorongnya hingga wanita itu terhempas ke atas sofa kulit yang dingin. Sintya terisak memilukan, menutupi wajahnya dengan kedua belah lengan, sementara Kadafi dengan gerakan efisien dan penuh dominasi menanggalkan penghalang di antara mereka.
Setiap makian yang keluar dari bibir Kadafi saat ia memulai penyatuan itu terasa lebih menyakitkan daripada goresan pisau.
"Kau miskin, kau sebatang kara, dan kau bukan siapa-siapa tanpa uang keluargaku!" geram Kadafi, menghentakkan pinggulnya dengan tempo yang kejam dan menghukum, tak memedulikan rasa sakit yang membuat Sintya merintih parau. "Dan kau berani mengatur mainanku? Kau hanyalah budak yang kuberi makan!"
"S-sakit... Mas... ampun... hiks," isak Sintya, rasa perih mengoyak area kewanitaannya karena tubuhnya belum siap dan dipaksa menerima dominasi yang begitu besar setelah dua tahun terlelap.
Namun, rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan hancurnya harga diri yang telah ia bangun susah payah. Di bawah kukungan tubuh maskulin yang mendidih oleh gairah dan amarah itu, Sintya kembali menjadi mangsa yang tak berdaya. Ia benci pada dirinya sendiri, benci karena di pertengahan siksaan itu, sentuhan Kadafi yang sudah terpatri dalam memori ototnya mulai memberikan reaksi yang berbeda.
Saat Kadafi menggigit lehernya dan meremas tubuhnya dengan ritme yang memabukkan, penolakan Sintya perlahan luntur, berubah menjadi desahan pasrah yang mengiris hati.
"Bagus... kau masih sangat sempit, tapi tubuhmu tak pernah bisa menolakku, bukan?" bisik Kadafi, napasnya memburu saat ia merasakan respons dari dalam diri Sintya. Suara tangis dan lenguhan wanita itu menjadi simfoni kemenangannya malam ini.
Ruangan CEO itu kembali menjadi saksi bisu runtuhnya kehormatan seorang wanita. Selama lebih dari tiga jam, Kadafi merendahkan, menguasai, dan menaklukkan Sintya tanpa henti. Tidak ada kasih sayang, tidak ada kelembutan; yang ada hanyalah hukuman gairah yang menyesakkan, di mana Sintya hanya bisa mencengkeram lengan sofa kulit itu, membiarkan dirinya dihancurkan berkali-kali hingga ia nyaris kehilangan kesadaran.
Tengah malam lewat beberapa menit.
Hening merajai ruangan itu, hanya menyisakan suara deru napas yang kelelahan. Sintya terbaring miring di atas sofa, menutupi tubuh polosnya yang dipenuhi ruam kemerahan dengan kemejanya yang berantakan. Matanya sembab, tatapannya kosong menatap karpet lantai. Ia tidak memiliki sisa tenaga bahkan untuk sekadar menangis.
Di sudut lain, Ahmad Kadafi berdiri di depan kaca besar yang memantulkan gemerlap Jakarta. Ia sudah kembali mengenakan kemeja dan jasnya dengan sangat rapi, menata rambutnya, seolah ia baru saja menyelesaikan rapat direksi biasa. Tak ada sedikit pun rasa bersalah di wajah aristokratnya itu.
Kadafi melirik ke arah Sintya yang setengah pingsan di sofa.
"Simpan peringatan ini di otakmu baik-baik, Anisa," ucap Kadafi dingin, mengancingkan jasnya. "Tetaplah menjadi sekretaris yang patuh. Tutup mulutmu tentang Farah, dan panti asuhanmu akan aman."
Tanpa menunggu jawaban, Kadafi melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Sintya sendirian dalam kehancuran dan rasa sakit yang menyiksa.
Langkah kaki sang CEO menggema di lorong yang sepi menuju lift pribadi. Ia harus segera pulang. Malam ini, ia punya satu urusan lagi yang harus diselesaikan. Istri sahnya, Anna Widya Krisna Mala, pasti sudah menunggunya dengan penuh amarah di penthouse hotel mereka. Dan setelah menaklukkan dua wanita dalam satu hari, ego dan gairah Kadafi justru sedang berada di puncak tertingginya untuk menghadapi sang sosialita angkuh tersebut.
ns216.73.216.66da2


