Cahaya matahari pagi Jakarta menembus celah tirai apartemen Cantika, menyoroti kekacauan sisa pergumulan semalam. Di tepi ranjang, Ahmad Kadafi berdiri sambil mengancingkan kemeja putihnya dengan ekspresi datar yang dingin. Di belakangnya, Cantika masih tertidur pulas dengan napas teratur, tubuhnya yang berbalut selimut tebal menjadi saksi bisu dari gairah yang telah dihabiskan Ahmad semalaman suntuk.
Ahmad melirik ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari keluarganya, dan tidak ada satu pun pesan dari Anna, istri barunya. Sudut bibir Ahmad berkedut membentuk seringai sinis. Bagus, batinnya. Ia mengambil jasnya, menyemprotkan sedikit parfum musk untuk menutupi aroma mawar Cantika, dan melangkah keluar tanpa mengucapkan selamat tinggal. Sisi hangatnya hanya berlaku saat ia berada di atas ranjang; selebihnya, ia adalah seorang CEO yang kejam dan tak tersentuh.
Setengah jam kemudian, langkah kaki Ahmad yang tegap menggema di lobi gedung pencakar langit Kadafi Energy. Auranya memancarkan dominasi mutlak. Setiap karyawan yang berpapasan dengannya menunduk hormat, menelan ludah dengan gugup.
Begitu pintu lift khusus eksekutif terbuka di lantai 40, ia disambut oleh Anisa Sintya, sekretaris pribadinya yang selalu tampil rapi dengan setelan blazer ketat dan kacamata berbingkai tipis. Anisa tahu betul tabiat bosnya; ia adalah pembersih segala kekacauan yang Ahmad buat, termasuk "skandal-skandal kecil" di dalam kantor.
"Selamat pagi, Pak Kadafi. Laporan keuangan kuartal ini sudah siap. Kepala Akunting sedang menunggu di ruangan Bapak," lapor Anisa dengan nada profesional, seraya membukakan pintu kayu mahoni ganda menuju ruang kerja utama.
Ahmad mengangguk pelan. Ia melangkah masuk, dan pintu ditutup rapat oleh Anisa dari luar.
Di tengah ruangan bernuansa monokromatik itu, berdiri sosok Farah Nabila. Wanita berusia 24 tahun itu mengenakan rok pensil hitam yang memeluk ketat pinggulnya dan kemeja chiffon berwarna krem. Farah adalah sahabat karib Anna, wanita yang baru saja menjadi istri sah Ahmad semalam. Di resepsi pernikahan, Farah menangis haru memeluk Anna. Namun sekarang, berdiri berhadapan dengan suami sahabatnya di ruangan tertutup ini, kegugupan yang tak wajar menyelimuti Farah.
"Selamat pagi, Pak Ahmad... Maksud saya, Pak Kadafi," sapa Farah. Suaranya sedikit bergetar saat ia menyodorkan map tebal ke atas meja kerja.
Ahmad tidak segera menjawab. Ia berjalan memutari meja kerjanya yang luas, melepaskan jasnya dan melemparkannya sembarangan ke atas sofa. Pandangan matanya yang setajam elang menyapu seluruh tubuh Farah, dari ujung rambut hingga ke ujung sepatu hak tingginya. Ini adalah rahasia umum yang dikunci rapat-rapat oleh dinding perusahaan ini: Ahmad Kadafi memiliki kelemahan pada karyawati cantik, dan banyak dari mereka yang dengan sukarela menyerahkan diri demi pesona dan kekuasaan sang CEO.
Namun, menundukkan Farah Nabila sahabat istrinya sendiri akan menjadi piala kemenangan yang paling manis untuk egonya yang tengah terluka oleh Anna.
"Kau terlihat sangat cantik semalam, Farah," suara bariton Ahmad memecah keheningan, rendah dan menggoda. Ia tidak melihat ke arah dokumen, melainkan terus menatap mata wanita itu.
Farah menelan ludah. Wajahnya merona merah muda. "Te-terima kasih, Pak. Ini laporan yang Bapak minta. Kalau sudah tidak ada lagi, saya..."
"Siapa yang mengizinkanmu pergi?" potong Ahmad pelan.
Langkah kaki Ahmad terdengar lambat namun pasti, mendekati Farah yang terpaku di tempatnya. Jarak di antara mereka terkikis hingga ujung sepatu mereka nyaris bersentuhan. Farah bisa mencium aroma maskulin bercampur tembakau dan kopi dari tubuh Ahmad, aroma yang seketika membuat akal sehatnya goyah.
Ahmad mengangkat tangan kanannya, menyentuh lembut pipi Farah dengan punggung jarinya. Sentuhan itu membuat napas Farah tercekat.
"Pak Kadafi... ini salah. Anda... Anda baru saja menikahi Anna semalam," bisik Farah dengan suara parau. Ia mencoba memundurkan wajahnya, namun tatapan dominan Ahmad menguncinya, membuatnya merasa seperti mangsa yang terhipnotis oleh sang pemangsa.
"Pernikahan itu hanya di atas kertas, Farah. Kau tahu itu," bisik Ahmad tepat di depan bibir wanita itu. Tangan Ahmad kini turun, merengkuh pinggang ramping Farah dan menarik tubuh wanita itu hingga menempel erat pada dada bidangnya. "Tapi apa yang kulihat di matamu saat kau menatapku di altar semalam... itu bukan sekadar tatapan seorang sahabat yang ikut bahagia. Kau menginginkanku, bukan?"
"Ti-tidak..." Farah memejamkan matanya erat-erat, air mata penyesalan mulai menggenang di pelupuk matanya karena ia tahu, tubuhnya mengkhianati ucapannya. Dada Farah naik-turun dengan cepat, dan degup jantungnya bertalu-talu.
"Jangan berbohong padaku, Farah," desis Ahmad. Tangan pria itu kini membelai tengkuk Farah, meremas pelan helaian rambutnya. "Jika kau benar-benar ingin aku berhenti, kau bisa mendorongku sekarang dan berlari keluar. Pintu itu tidak terkunci."
Keheningan yang memekakkan telinga memenuhi ruang kerja itu. Detik demi detik berlalu, dan tangan Farah yang sedari tadi mengepal di sisi tubuhnya perlahan terbuka. Bukannya mendorong dada Ahmad, jari-jari lentik Farah justru bergerak ragu, mencengkeram kemeja putih pria itu. Pertahanannya runtuh oleh gairah terlarang yang sudah lama ia pendam sejak pertama kali Anna memperkenalkan calon suaminya itu.
Merasakan kemenangan mutlak, Ahmad tersenyum miring. Tanpa ampun, ia menundukkan kepala dan meraup bibir Farah dalam ciuman yang brutal, menuntut, dan penuh rasa lapar.
Farah mengerang pelan, erangan pertama yang lolos dari bibirnya sebelum ia membalas ciuman itu dengan sama liarnya. Rasa bersalah pada Anna menguap begitu saja, terbakar oleh cumbuan panas yang kini menenggelamkannya. Tangan Ahmad menyapu punggung Farah, menekan wanita itu ke tepi meja kerja yang dingin. Dokumen-dokumen laporan keuangan jatuh berserakan ke lantai, tak lagi dihiraukan.
"Ah... Ahmad..." desah Farah di sela-sela ciuman mereka yang terputus saat bibir Ahmad beralih menciumi rahang dan leher jenjangnya. Napas pria itu terasa panas membakar kulitnya.
Di dalam ruangan kedap suara itu, hanya terdengar suara napas yang memburu, gesekan pakaian yang dilepaskan secara terburu-buru, dan lenguhan panjang yang tak lagi bisa ditahan. Ahmad mengangkat tubuh Farah ke atas meja kebesarannya, menyingkirkan segala hambatan yang memisahkan mereka. Ia menatap lekat ke dalam mata Farah yang kini sayu dan basah oleh gairah.
"Kau tahu apa artinya ini, Farah?" bisik Ahmad, suaranya berat dan mengancam namun sangat sensual. "Begitu kau melewatinya, kau adalah milikku. Bukan lagi sekadar sahabat Anna."
Farah mengangguk lemah, air mata menetes dari sudut matanya, perpaduan antara dosa besar dan kenikmatan yang memabukkan. "Aku tahu... kumohon, Mas..."
Dan pagi itu, di atas meja kerja sang CEO, pengkhianatan terbesar terjadi. Ahmad Kadafi menemukan pelampiasan barunya, sebuah mainan favorit yang tak hanya memberinya kepuasan fisik, tetapi juga kepuasan psikologis karena berhasil menaklukkan sahabat istrinya sendiri. Desahan dan erangan tertahan memenuhi sudut-sudut ruangan selama lebih dari satu jam, seiring dengan ritme gairah yang menghentak tanpa henti, memenjarakan Farah dalam jebakan kenikmatan yang mematikan.
Ketika semuanya usai, Ahmad merapikan kembali pakaiannya dengan tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Ia berdiri menjulang di depan meja, menatap Farah yang masih terbaring lemas dengan napas terengah-engah, berusaha menutupi tubuhnya dengan kemeja yang berantakan. Tatapan mata Farah dipenuhi kabut kebingungan, rasa malu, dan gairah yang belum sepenuhnya padam.
Ahmad melangkah menuju meja telepon, menekan satu tombol ekstensi.
"Anisa," ucap Ahmad dingin.
"Ya, Pak Kadafi?" sahut Anisa dari seberang saluran.
"Kosongkan jadwalku sampai jam makan siang. Dan masuklah kemari dalam sepuluh menit. Tolong bantu Bu Farah merapikan... dokumennya yang berantakan, buatkan dia teh hangat, dan pastikan dia bisa kembali ke ruangannya tanpa menarik perhatian siapa pun."
Ahmad meletakkan gagang telepon. Ia menoleh sekilas pada Farah, memberikan senyum miring yang penuh kemenangan. "Sampai jumpa besok, Farah. Kuharap laporan keuangan selanjutnya diantarkan langsung ke mari, secara pribadi."
Tanpa rasa bersalah, Ahmad melangkah keluar menuju ruang istirahat pribadinya, meninggalkan Farah yang kini harus menghadapi hancurnya moralitas dirinya di tangan pria berengsek yang merupakan suami sahabatnya sendiri.
ns216.73.216.66da2


