Udara di dalam penthouse seharga puluhan juta per malam itu terasa begitu tebal, seolah oksigen tersedot habis oleh ketegangan di antara dua manusia yang baru saja mengikat janji suci. Bunyi hak sepatu yang dilemparkan ke lantai marmer bergema nyaring.
Anna Widya duduk di depan meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin. Sanggulnya telah terlepas, membiarkan rambut hitam legamnya jatuh bergelombang menutupi sebagian bahu putih porselennya. Gaun pengantinnya yang berat telah diganti dengan gaun malam berbahan sutra tipis berwarna merah marun. Sutra itu memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat sempurna, menonjolkan proporsi tubuhnya yang menawan terutama dadanya yang ranum dan pinggangnya yang ramping.
Di sudut ruangan, dekat minibar, Ahmad Kadafi berdiri bersandar. Gelas kristal berisi wiski berada di genggamannya. Kemeja putihnya sudah berantakan, tiga kancing teratasnya terbuka, mengekspos dada bidangnya yang kecokelatan. Matanya yang setajam elang, dengan bulu mata lentik khas keturunan Arab, terus menatap punggung Anna melalui cermin.
Ahmad meneguk wiskinya dengan kasar. Sialan, rutuknya dalam hati. Pernikahan ini murni bisnis. Ia membenci kenyataan bahwa kemerdekaannya direnggut demi ekspansi perusahaan energi milik ayahnya. Namun, melihat istrinya berdandan di ranjang pengantin mereka, darah mudanya berdesir tak karuan. Anna adalah definisi sempurna dari sebuah godaan.
Secara perlahan, Ahmad meletakkan gelasnya dan melangkah mendekat. Suara langkah kakinya yang berat di atas karpet tebal membuat bahu Anna sedikit menegang.
Ahmad berhenti tepat di belakang kursi Anna. Ia menunduk, wajahnya kini berada hanya beberapa sentimeter dari ceruk leher wanita itu. Aroma vanilla dan melati dari tubuh Anna menguar, masuk ke rongga dada Ahmad dan mengaburkan akal sehatnya.
"Kau tahu, Anna..." suara bariton Ahmad terdengar serak, berbisik tepat di telinga istrinya. Hembusan napas pria itu yang hangat menerpa kulit sensitif Anna, membuat wanita itu tanpa sadar menahan napas. "Di mata media, kita adalah pasangan paling bahagia malam ini. Bukankah sayang jika ranjang sebesar itu dibiarkan dingin?"
Tangan besar Ahmad perlahan terangkat, jari-jarinya yang kasar namun hangat menyentuh bahu telanjang Anna. Sentuhan itu seperti aliran listrik bervoltase rendah. Anna memejamkan mata sesaat, tubuhnya berkhianat dengan memberikan respons berupa getaran halus.
"Singkirkan tanganmu, Ahmad," desis Anna. Suaranya terdengar dingin, tapi getaran di ujung kalimatnya tak bisa disembunyikan.
Bukannya menjauh, Ahmad malah menyelipkan jemarinya ke helaian rambut Anna, menyingkirkannya ke satu sisi untuk mengekspos leher jenjang wanita itu. Hidung mancung Ahmad menyusuri garis rahang Anna, mengendus aromanya dalam-dalam. "Tubuhmu gemetar. Kau menolakku, tapi kulitmu merespons sentuhanku. Menarik sekali, Nyonya Kadafi."
Anna memutar tubuhnya dengan cepat, menepis tangan Ahmad dan berdiri hingga mereka saling berhadapan. Jarak mereka kini tak lebih dari sejengkal. Dada Anna naik-turun dengan cepat, sutra merahnya tercetak jelas mengikuti pola napasnya yang memburu.
Mata Ahmad tertuju pada belahan dada istrinya sejenak sebelum naik menatap manik mata cokelat terang Anna. Hening menyelimuti mereka. Untuk beberapa detik, ada tarikan magnet tak kasat mata yang membuat keduanya perlahan saling mencondongkan tubuh. Wajah mereka mendekat. Tatapan angkuh di mata Anna perlahan meredup, tergantikan oleh kabut gairah yang tak bisa ia bendung. Bibir mereka hampir bersentuhan hanya butuh satu dorongan kecil dari Ahmad untuk menghancurkan semua dinding kesepakatan mereka.
Kring!
Layar ponsel Ahmad yang tergeletak di atas ranjang menyala terang, menampilkan sebuah nama: Cantika.
Seketika, kesadaran menghantam Ahmad seperti tamparan keras. Egonya memberontak. Apa yang baru saja ia lakukan? Ia hampir bertekuk lutut pada wanita yang dinikahinya karena paksaan, wanita yang bahkan hatinya milik pria brengsek bernama Bernando. Bayangan senyum Cantika, kekasih yang sungguh-sungguh ia cintai dan tengah menunggunya, merobek hasrat sesaatnya.
Ahmad mundur satu langkah dengan kasar. Wajahnya yang tadi diselimuti kabut gairah kini mengeras, rahangnya berkedut menahan emosi yang bercampur aduk. Ia menggunakan amarah untuk menutupi fakta bahwa ia baru saja hampir kehilangan kendali.
"Jangan terlalu percaya diri, Anna," decih Ahmad dengan nada sinis yang menusuk. Ia meraih jasnya yang tergeletak di sofa. "Kau pikir gaun murahan dan tubuhmu itu bisa membuatku lupa pada kesepakatan kita? Kau tak lebih dari sekadar boneka pajangan untuk para pemegang saham."
Anna terkesiap. Penghinaan itu menampar harga dirinya. Semburat merah karena gairah di wajahnya kini berubah menjadi merah karena amarah.
"Oh, ya?" Anna tertawa hambar, melipat kedua tangannya di depan dada. "Baguslah kalau begitu. Karena bagiku, kau tak lebih dari sekadar tanda tangan di atas kertas nikah. Pergilah pada pelacur selebgrammu itu. Jangan buang waktumu di sini. Bernando memberiku jauh lebih banyak kepuasan daripada pria arogan sepertimu."
Mendengar nama Bernando disebut, mata Ahmad berkilat marah. "Jaga mulutmu. Setidaknya wanitaku tidak menjual dirinya demi proyek jalan tol seperti pria tuamu itu!"
Ahmad membalikkan badan, melangkah panjang menuju pintu.
"Pergi, Ahmad! Jangan berani-berani kembali ke kamar ini malam ini!" teriak Anna sambil melemparkan bantal sofa ke arah pintu.
Brak!!
Pintu penthouse dibanting dengan keras, menyisakan Anna yang berdiri dengan napas terengah-engah dan dada bergemuruh. Sementara itu, di lorong hotel, Ahmad berjalan dengan rahang mengatup rapat. Hasrat yang tadi sempat mendidih di kamarnya tidak padam; hasrat itu justru berubah menjadi gelora panas yang menuntut untuk segera dilepaskan.
Tiga puluh menit kemudian, mobil sport hitam milik Ahmad membelah jalanan sepi ibukota, melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah apartemen mewah di kawasan elit.
Ahmad menekan kata sandi di pintu apartemen itu. Begitu pintu terbuka, aroma mawar dan musk langsung menyambutnya. Di ruang tengah yang temaram, Cantika Anggraini Hudiyana duduk bersandar di sofa. Selebgram yang biasa tampil dengan hijab syari di media sosial itu kini tampil sangat bertolak belakang. Ia hanya mengenakan lingerie berbahan lace hitam transparan yang menempel ketat di tubuh sintalnya, memperlihatkan kulitnya yang eksotis dan menggoda.
Melihat Ahmad datang dengan wajah kusut dan napas berat, Cantika tersenyum simpul. Ia meletakkan majalahnya dan berdiri, berjalan dengan langkah gemulai mendekati pria itu.
"Kukira kau sedang sibuk menunaikan kewajiban malam pertamamu dengan si putri keraton itu, Mas," goda Cantika. Suaranya lembut namun penuh dengan nada kepemilikan. Tangannya yang dihiasi kuku berpoles merah menyentuh dada Ahmad yang terbuka, mengelusnya perlahan.
Tatapan Ahmad yang tajam mengunci mata Cantika. Tanpa membuang waktu membalas ucapan wanita itu, Ahmad langsung merengkuh pinggang Cantika dengan kasar, menarik tubuh wanita itu hingga menabrak dada bidangnya.
"Hanya kau yang kuinginkan. Tidak ada yang lain," geram Ahmad.
Detik berikutnya, bibir Ahmad membungkam bibir Cantika dengan ciuman yang sangat menuntut, liar, dan penuh dahaga. Cantika menyambut serangan itu dengan sama agresifnya. Tangannya melingkar kuat di leher Ahmad, meremas rambut pria itu sambil melenguh tertahan di sela-sela ciuman mereka.
Ahmad mengangkat tubuh Cantika, membuat wanita itu secara refleks melingkarkan kedua kakinya di pinggang Ahmad. Sambil terus melumat bibir kekasihnya, Ahmad berjalan setengah terburu-buru menuju kamar tidur, menabrak meja kecil di lorong hingga sebuah vas jatuh pecah berantakan di lantai. Namun, tak satu pun dari mereka peduli.
Sesampainya di kamar, Ahmad menghempaskan tubuh Cantika ke atas ranjang berseprai putih. Sebelum Cantika sempat mengambil napas, Ahmad sudah menindihnya, mengurung wanita itu di bawah dominasinya. Kemeja putih Ahmad melayang entah ke mana, disusul oleh sisa pakaian yang menempel di tubuh mereka berdua.
Malam itu, apartemen tersebut menjadi saksi bisu dari pelepasan gairah yang meledak-ledak. Sentuhan Ahmad di kulit Cantika terasa seperti api yang membakar habis sisa-sisa amarah dan ketegangannya dari hotel tadi. Setiap sapuan bibir dan gigitan kecil di leher hingga ke dada membuat Cantika melengkungkan punggungnya, memanggil-manggil nama Ahmad di antara napasnya yang terputus-putus.
"Mas... ah..." desah Cantika mengalun nyaring, bergema di dinding kamar yang sepi. Matanya setengah terpejam, menikmati gelombang kenikmatan yang diberikan oleh sentuhan tangan dan ciuman basah Ahmad yang kini menyusuri setiap inci tubuhnya.
Ahmad tidak memberikan ampun. Gairah yang sempat tertahan oleh ego kini ia lampiaskan sepenuhnya pada wanita yang ada di bawahnya. Ketika penyatuan itu terjadi, napas Cantika tercekat kuat. Ia mencengkeram seprai dengan erat, membiarkan gelora panas menyapu dirinya. Gerakan Ahmad yang ritmis, cepat, dan penuh tenaga membuat suara kulit yang beradu berbaur dengan desahan panjang dan erangan yang tak lagi ditahan.
Kamar itu dipenuhi oleh aroma keringat dan gairah. Ahmad menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Cantika, menatap mata sayu kekasihnya sambil terus memperdalam gerakannya. Keringat menetes dari dahi Ahmad, jatuh ke atas dada Cantika yang terus naik-turun mengikuti irama percintaan mereka.
"Kau milikku, Cantika... bukan miliknya, bukan siapa pun..." bisik Ahmad dengan napas memburu, suaranya parau oleh hasrat yang memuncak.
"Ya, Mas... terus..." lenguh Cantika, membalas tatapan pria itu dengan gairah yang sama liarnya. Ia menarik tengkuk Ahmad, membawa bibir pria itu kembali untuk ciuman yang panas dan basah.
Malam semakin larut, namun ritme percintaan mereka justru semakin menggila. Dalam pelukan Cantika, Ahmad melupakan kewajibannya, melupakan Anna, dan melupakan dunia. Di ranjang itu, hanya ada hasrat, peluh, erangan kenikmatan, dan jerat perselingkuhan yang semakin mengikat erat kehidupan mereka berdua hingga fajar menyingsing.
ns216.73.216.66da2


