Satu minggu. Tujuh hari tanpa presensi Ahmad Kadafi di dalam penthouse mewah tersebut terasa seperti tujuh hari di surga firdaus bagi Anna Widya Krisna Mala.
Udara di dalam ruangan seluas empat ratus meter persegi itu tidak lagi terasa mencekik. Anna melangkah dengan kaki telanjang di atas karpet Persia, mengenakan kemeja kebesaran berwarna putih yang membalut tubuh indahnya. Ia membuka tirai kaca lebar-lebar, membiarkan cahaya matahari pagi Jakarta memandikan wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak cincin berlian dingin milik keluarga Kadafi melingkar di jari manisnya, Anna bisa bernapas lega.
Hatinya berbunga-bunga, bukan karena kemewahan yang mengelilinginya, melainkan karena sebentar lagi ia akan kembali ke dalam pelukan satu-satunya pria yang bertahta di hatinya: Bernando Kalla.
Sambil menyisir rambut hitam legamnya di depan cermin, ingatan Anna melayang jauh ke masa putih abu-abu. Ia dan Bernando adalah sepasang kekasih sejak SMA. Saat itu, Bernando adalah kapten tim debat yang karismatik, pemuda tampan pujaan satu sekolah, sementara Anna adalah primadona yang anggun. Cinta monyet itu tumbuh menjadi akar yang sangat dalam. Bahkan ketika Bernando harus meninggalkannya untuk berkuliah ilmu politik dan bisnis di London, Inggris, cinta mereka tidak pernah putus. Mereka bertahan melewati perbedaan zona waktu, menahan rindu demi janji masa depan yang indah.
Namun, takdir mempermainkan mereka dengan kejam. Saat Anna lulus kuliah, keluarganya mengumumkan perjodohan bisnis dengan putra tunggal Kadafi Energy.
Anna masih mengingat dengan jelas malam di mana ia menangis di pelukan Bernando saat pria itu kembali dari London. Di bawah guyuran hujan di dalam mobil Bernando, Anna memohon agar pria itu membawanya kawin lari. Namun, Bernando tidak melakukannya. Pemuda itu memeluknya erat, ikut meneteskan air mata, namun memberikan sebuah janji yang rasional: "Tunggulah aku, Anna. Kakek dan ayahku sedang mempersiapkanku untuk kursi parlemen. Aku tidak bisa menentang mereka sekarang, atau aku akan kehilangan segalanya. Jalani saja pernikahan sialan ini. Saat aku sudah memiliki kekuasaan penuh di partai, aku sendiri yang akan menghancurkan Kadafi dan membebaskanmu."
Bagi Anna yang dilanda cinta buta, janji itu adalah pegangan hidupnya. Ia rela menjadi Nyonya Kadafi di atas kertas, asalkan hatinya tetap menjadi milik Bernando.
Bunyi notifikasi dari ponselnya membuyarkan lamunan Anna.
Bernando: "Suite 701, Kalla Grand Hotel. Aku merindukanmu, Tuan Puteriku."
Senyum Anna merekah. Ia segera merias wajahnya dengan riasan natural yang membuat pesona kecantikannya semakin memabukkan, mengenakan gaun midi berwarna peach yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang proporsional, dan menyemprotkan parfum aroma vanila kesukaan Bernando. Hari ini, ia bukan istri seorang CEO yang kejam. Hari ini, ia adalah Anna milik Bernando.
Di kamar Suite 701 di hotel bintang lima milik keluarga Kalla, Bernando berdiri menghadap jendela yang menampilkan lanskap kota. Ia mengenakan celana bahan abu-abu dan kemeja putih yang lengannya digulung. Di usianya yang ke-28 tahun, Bernando adalah perwujudan politikus muda yang sempurna. Rahangnya tegas, tubuhnya bugar terawat, dan auranya memancarkan kecerdasan serta ambisi.
Mendengar suara pintu diketuk perlahan, Bernando segera berbalik. Begitu pintu terbuka, ia tidak membuang waktu satu detik pun. Ia menarik tubuh Anna ke dalam pelukannya, menutup pintu dengan kakinya, dan langsung menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang sangat dalam dan penuh kerinduan.
"Nando... ah..." desah Anna di sela-sela ciuman mereka, memeluk leher pria itu erat-erat. Air mata haru menggenang di sudut matanya. "Aku sangat merindukanmu."
"Aku lebih merindukanmu, Sayang. Sangat merindukanmu," bisik Bernando, menghujani wajah, rahang, dan leher Anna dengan kecupan-kecupan hangat.
Bernando mengangkat tubuh Anna, membawanya ke atas ranjang berseprai putih bersih. Di sanalah, penyatuan dua anak manusia yang dimabuk asmara itu terjadi. Berbeda dengan aura intimidasi yang selalu dibawa Kadafi, sentuhan Bernando penuh dengan kelembutan, puji-pujian manis, dan janji-janji romantis yang membuai jiwa Anna.
Di dalam kamar itu, desahan napas dan kata-kata cinta bergema. Anna menyerahkan dirinya seutuhnya, membiarkan tubuh dan perasaannya dimanjakan oleh pria yang telah memegang hatinya selama hampir sepuluh tahun.
Namun, di balik pelukan hangat dan tatapan penuh cinta yang ia berikan pada Anna, pikiran Bernando Kalla bekerja layaknya sebuah kalkulator politik yang dingin.
Sambil membelai rambut Anna yang bersandar di dadanya setelah pergumulan panjang mereka, mata Bernando menatap lurus ke langit-langit kamar. Ia tahu persis siapa Ahmad Kadafi. Sang CEO muda itu adalah predator kelas kakap, seekor monster yang menguasai jalur urat nadi ekonomi negara. Ketika ayah dan kakek Bernando para petinggi Partai Banteng Emas mengetahui bahwa Anna dijodohkan dengan Kadafi, mereka justru melarang keras Bernando untuk mengacaukan pernikahan itu.
"Jangan bodoh, Nando," tegur ayahnya waktu itu. "Gunakan otakmu, bukan hatimu. Jika gadis itu masih mencintaimu, jadikan dia matamu di dalam istana Kadafi. Kita butuh dukungan dana raksasa dari Kadafi Energy untuk kampanye, dan kita butuh relasi mertuanya. Kendalikan gadis itu, maka kau memiliki pengaruh tak kasat mata atas kekaisaran mereka."
Itulah niat jahat di dalam dada Bernando. Ia mencintai Anna, tentu saja. Tetapi di atas cinta itu, ada ambisi untuk menjadi orang nomor satu di republik ini. Bernando berpikir bahwa dengan terus memelihara perselingkuhan ini, ia sedang mempermainkan Ahmad Kadafi. Ia merasa dirinya adalah politikus jenius yang berhasil menanam 'kuda Troya' di dalam rumah musuh terbesarnya. Ia berencana memanfaatkan informasi dari Anna, menggunakan jaringan keluarga Krisna Mala, dan saat waktunya tiba, ia akan menjebak Kadafi dalam skandal lingkungan hidup, merebut perusahaannya, dan mengambil kembali Anna sebagai piala kemenangannya.
Rencana yang menurut Bernando sangat brilian, cerdas, dan tanpa celah.
Namun, di sinilah letak ironi terbesar dalam hukum alam semesta.
Jika dunia ini adalah sebuah panggung sandiwara yang kelam, maka Bernando Kalla hanyalah seorang aktor amatir yang baru saja belajar membaca naskah, sementara Ahmad Kadafi adalah sang Sutradara Bayangan yang menulis naskah tersebut dengan tinta darah.
Bernando merasa dirinya adalah seekor serigala yang tengah menyusup ke kandang domba, padahal kenyataannya, ia hanyalah seekor ngengat bodoh yang sedang menari-nari dengan riang di atas jaring laba-laba raksasa. Rencana jahat Bernando Kalla terbuat dari kaca yang tipis dan rapuh, disusun di atas fondasi kesombongan masa muda. Ia lupa, atau mungkin terlalu arogan untuk menyadari, bahwa sang iblis Ahmad Kadafi tidak dilahirkan untuk kalah. Takdir di dalam kisah ini tidak pernah mengizinkan sang Leviathan untuk berdarah oleh gigitan seekor politikus kacangan. Sang iblis hanya sedang duduk diam di singgasananya, membiarkan mangsanya menggemukkan diri dengan ilusi kemenangan, sebelum akhirnya rahang kegelapan itu menutup dan mengunyah mereka hidup-hidup.
Hingga tibalah malam Jumat, hari keenam dari kepergian Kadafi.
Anna merasa begitu berani, begitu mabuk oleh ilusi kebebasan, hingga ia melakukan satu kesalahan paling fatal dalam hidupnya. Ia mengundang Bernando Kalla untuk datang ke penthouse suaminya.
"Kau yakin ini aman, Sayang?" tanya Bernando saat ia melangkah keluar dari lift khusus yang membawanya langsung ke ruang tamu penthouse tersebut. Matanya menyapu kemewahan interior yang bernilai miliaran rupiah itu dengan tatapan takjub bercampur iri.
"Sangat aman. Suamiku si brengsek itu baru akan mendarat lusa. Dan aku sudah meliburkan semua asisten rumah tangga untuk akhir pekan ini," jawab Anna riang. Ia menyambut Bernando dengan gaun tidur sutra berwarna merah marun, mengalungkan tangannya di leher pria itu. "Ini rumahku juga, Nando. Aku ingin kau ada di sini."
Bernando menyeringai. Ego maskulinnya melambung tinggi menembus atap. Ia berada di dalam rumah rivalnya. Ia sedang menginjak wilayah kekuasaan CEO yang ditakuti semua orang, dan ia akan meniduri istri sah pria itu tepat di atas ranjangnya. Adakah kemenangan politis dan ego yang lebih besar dari ini?
"Rumah ini terlalu besar untuk pria yang hatinya kosong seperti dia," bisik Bernando, mencium bibir Anna sekilas. "Tunjukkan padaku di mana ia menyimpan minuman terbaiknya."
Malam itu, penthouse Ahmad Kadafi diubah menjadi tempat perayaan dosa. Anna mengambil sebotol wine seharga ratusan juta rupiah dari lemari pendingin suaminya, menuangkannya ke dalam dua gelas kristal. Mereka tertawa lepas, saling melempar candaan, menari perlahan di ruang tengah diiringi alunan musik jazz yang mengalun lembut dari speaker.
"Katakan padaku, Nando... kapan semua kepura-puraan ini akan berakhir?" bisik Anna, menyandarkan kepalanya di dada Bernando saat mereka berdansa pelan. "Kapan kau akan membawaku pergi dari sini?"
Bernando menghentikan tariannya. Ia mengangkat dagu Anna, menatap mata sayu wanita itu dengan tatapan meyakinkan. "Sebentar lagi, Anna. Pemilu tinggal menghitung waktu. Begitu RUU Eksploitasi itu disahkan dan aku mendapat posisi sebagai Ketua Komisi Utama, aku akan memiliki kekuatan untuk menekan keluarga Kadafi. Kau hanya perlu bersabar sedikit lagi."
Anna mengangguk patuh. Kepercayaan buta telah menutup mata hatinya dari segala logika.
Tanpa membuang waktu lebih lama, Bernando meraih tengkuk Anna. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi liar dan menuntut. Gelas wine diletakkan begitu saja di atas meja marmer. Bernando mengangkat tubuh Anna, dan wanita itu secara refleks melingkarkan kakinya di pinggang sang politikus.
Mereka tidak melangkah menuju kamar, melainkan menjatuhkan diri di atas karpet Persia yang sangat tebal dan mahal di tengah ruang keluarga. Pakaian mereka lucuti satu per satu, dilemparkan ke sembarang arah.
"Kau cantik sekali, Anna... kau milikku, bukan miliknya," desah Bernando, menindih tubuh proporsional Anna, meraup bibir dan leher wanita itu dengan rakus.
"Aku selalu milikmu, Nando... selalu..." lenguh Anna. Matanya terpejam erat, membiarkan gairah yang telah mereka pendam kembali meledak malam ini.
Ruang keluarga yang luas itu dipenuhi oleh suara kulit yang beradu, rintihan napas yang memburu, dan desahan panjang yang bergema tanpa batas. Mereka bercinta dengan penuh hasrat, berguling di atas karpet, seolah-olah dunia ini hanya milik mereka berdua. Setelah puas di ruang tamu, Bernando menggendong Anna, membawa tarian dosa mereka menembus lorong, langsung menuju altar kesucian pernikahan itu sendiri: ranjang utama di kamar Ahmad Kadafi.
Di atas seprai putih yang biasa ditiduri oleh sang CEO, Bernando membaringkan Anna. Ia menyetubuhi istri sah musuhnya itu dengan perasaan bangga yang luar biasa. Setiap lenguhan keras Anna yang memanggil namanya, setiap cengkeraman tangan Anna di punggungnya, dianggap Bernando sebagai medali emas kemenangannya atas Ahmad Kadafi.
"Terus, Nando... ahh... ya, di situ..." rintihan Anna semakin tinggi, bergema di dinding-dinding kedap suara kamar utama tersebut.
Namun, di tengah gelora gairah yang membutakan logika dan moralitas kedua manusia tersebut, mereka lupa bahwa mereka sedang menari di dalam telapak tangan sang iblis.
Di atas mereka, tersembunyi di balik desain rumit lampu gantung kristal di ruang tamu... Terselip di balik bingkai lukisan abstrak bernilai miliaran di lorong... Dan tertanam sempurna di dalam mata jam beker digital di nakas samping ranjang utama...
Lensa-lensa mikroskopis itu tidak pernah berkedip.
Titik-titik inframerah yang tak kasat mata itu merekam setiap detik adegan tersebut dalam resolusi definisi tinggi (4K). Mikrofon super sensitif yang tertanam di ventilasi AC menangkap setiap desahan, setiap rintihan, setiap nama yang dipanggil, hingga percakapan politis Bernando tentang rencananya menekan Kadafi di parlemen.
Sang Arsitek Kehancuran tidak bodoh. Ahmad Kadafi menguasai setiap milimeter dari istananya. Data-data biner itu mengalir dalam hitungan milidetik melalui jaringan nirkabel yang terenkripsi tingkat militer, melesat melewati dasar samudra, langsung menuju ke sebuah server pribadi yang diamankan di ruang bawah tanah Kadafi Energy.
Dan di waktu yang bersamaan, di belahan bumi yang lain, di dalam kabin jet pribadi yang tengah terbang membelah langit malam menuju Jakarta...
Ahmad Kadafi duduk menyandarkan kepalanya di kursi berlapis kulit. Di pangkuannya, sebuah tablet tipis menyala redup. Layar itu terbagi menjadi empat kolom, menampilkan siaran langsung dari kamera CCTV tersembunyi di penthouse-nya.
Mata elang Kadafi menatap layar itu dengan ketenangan yang membekukan jiwa. Ia menonton istrinya sendiri mengerang di bawah tindihan pria lain, di atas ranjangnya sendiri. Ia mendengar jelas janji-janji murahan Bernando Kalla.
Tidak ada satu urat pun di dahi Kadafi yang menegang karena cemburu. Tidak ada rahang yang mengeras karena marah. Justru, sudut bibir pria itu perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah lengkungan senyum yang sangat mengerikan. Senyum sang iblis yang baru saja disajikan hidangan utama oleh mangsanya sendiri.
Ia mengangkat gelas wiskinya, mengarahkannya ke layar tablet seolah sedang bersulang dengan dua manusia bodoh yang sedang menggali kuburan mereka sendiri di layar itu.
"Selesai sudah," bisik Kadafi pelan, suaranya sedingin es di kutub utara. "Simpan videonya dalam folder 'Kematian Banteng Emas'. Resolusi penuh."
Di kursi seberang, Anisa Sintya yang sedang tertidur meringkuk karena kelelahan, menggigil kedinginan. Meskipun ia sedang tertidur pulas, alam bawah sadarnya seolah merasakan aura kegelapan dan kematian yang memancar dengan begitu pekat dari pria di dekatnya.
Sandiwara telah usai. Kepingan catur terakhir telah masuk ke dalam perangkap. Ahmad Kadafi akan kembali ke Jakarta esok hari, dan ia tidak akan datang membawa cinta, melainkan membawa kiamat kecil bagi siapa pun yang berani bermimpi untuk mengalahkannya.
ns216.73.216.66da2


