Hari masih gelap.
Beberapa laki-laki berbadan besar dan tinggi menunggangi kuda menuju Desa Yuhan. Desa tersebut dikenal sebagai desa penganut Budhha yang hidup sederhana dan harmonis. Desa tersebut juga dikenal sebagai penghasil pandai besi yang cukup makmur untuk desa-desa di sekitarnya. Akan tetapi, keharmonisan dan kemakmuran tanpa sokongan pemerintah itu kini telah tiada.
Desa Yuhan hancur porak-poranda. Tidak ada satu pun kehidupan yang tersisa. Rumah-rumah habis terbakar dan semua rakyatnya telah tewas.
Laki-laki yang berpakaian paling rapi dan mewah layaknya bangsawan di antara lak-laki lainnya yang berpakaian hitam, turun dari kudanya. Dia mendekati mayat prajurit yang berada di dekat kudanya. Diamatinya secara mendetail lalu pergi menuju mayat prajurit lainnya. Dilanjutkannya mengamati mayat-mayat yang berpakaian hitam yang sama seperti laki-laki yang datang bersamanya.
"Geledah semua tempat. Cari Komandan Han Gi Sung, hidup atau mati." Perintah laki-laki tersebut.
Semua laki-laki yang datang bersamanya segera bergerak mengelilingi desa dan melakukan apa yang diperintahkan. Baru beberapa menit berlalu, salah satu dari mereka berteriak memberitahu.
"Tuan Muda! Kami menemukannya!"
Dia segera menuju tempat tersebut. Dia mengamati mayat yang dimaksud.
"Komandan Han Gi sung, aku sudah pernah memperingatkan mu. Tidak akan ada tempat bersembunyi bagimu meskipun ke ujung dunia sekalipun," katanya pada mayat yang ada di depannya.
"Ini baru awal," lanjutnya dengan nada bengis. Senyumnya mengumbar kemenangan yang selama ini dimimpikan nya. Hari-hari yang ditunggu-tunggu datang setelah penantiannya sekian lama.
Seorang laki-laki berikat kepala biru mendekatinya.
"Kita tidak menemukan Pemimpin Jung," lapor si ikat kepala biru.
Senyumnya seketika menghilang.
"Apa maksudmu?" tanyanya cepat.
"Kami sudah mencarinya di semua tempat tapi tidak menemukannya," jawab si ikat kepala biru.
"Tuan Putri, Putri Yi Ara, bagaimana dengannya? Apakah kalian menemukannya?" tanyanya saat mengingat hal yang paling penting.
Si ikat kepala biru menoleh, melihat ke arah beberapa laki-laki berpakaian hitam lainnya yang semuanya memakai ikat kepala hitam pula, bertanya hanya lewat pandangan.
"Kami juga tidak menemukannya, di mana pun." Laki-laki yang berdiri paling depan menjawab dengan cepat.
"Kalian tidak bisa menemukan Pemimpin Jung dan juga Putri Yi Ara?" ulangnya dengan nada bertanya-tanya lalu menatap si ikat kepala biru. Si ikat kepala biru juga melihatnya balik. Pemikiran mereka mungkin sama tanpa harus diucapkan.
Tiba-tiba salah satu dari mereka berlari mendekat.
"Tuan Muda, ada jejak perempuan lain di rumah Komandan Han Gi Sung. Ada sesuatu yang aneh juga," lapornya sambil mengatur napasnya.
"Perempuan lain? Putri Yi Ara?" responnya mengambil kesimpulan sambil tersenyum menyeringai bengis.
"Apa maksudmu dengan ada yang aneh?" sambar si ikat kepala biru cepat.
"Sepertinya Anda harus melihatnya langsung, Tuan Muda."
Mereka langsung menuju rumah yang ditinggali Komandan Han Gi Sung bersama istrinya selama masa pelarian. Laki-laki tadi menunjukkan kamar yang tampak ditinggali seorang perempuan. Semua yang ada di sana menunjukkan nya demikian. Hal yang memastikan nya adalah tumpukan pakaian perempuan yang disimpan rapi. Melihat hal itu, tentu saja dia tersenyum.
"Komandan Han Gi Sung, kau melakukan tugasmu dengan baik." Pujinya dengan nada sarkastis hingga terdengar seperti cemooh.
"Di mana hal aneh yang kau sebutkan?" tanya si ikat kepala biru.
"Mari, saya tunjukkan." Ajak laki-laki itu menuju perapian samping yang tampaknya selama ini digunakan sebagai dapur.
Si ikat kepala biru meraih celana jeans hitam, kaos oblong lengan panjang hitam, jaket denim hitam, dan hijab pashmina polos hitam yang sudah terbakar setengahnya.
"Ini apa?" tanya si ikat kepala biru keheranan dan merasa aneh karena belum pernah melihat semua itu sebelumnya.
"Lebarkan," perintah si laki-laki yang pakaiannya layaknya bangsawan.
Si ikat kepala biru melaksanakannya sambil dibantu yang lainnya.
Mereka mengamatinya dengan serius setelah dihamparkan semuanya di tanah. Mereka semakin serius saat melihat ada logo pada celana jeans hitam yang tertulis HERMES. Keningnya bergaris saat merasa semakin aneh melihat tulisan tersebut. Perlahan disibak nya jaket denim pada tengah lehernya yang ada potongan kain kecil tertulis Made In Indonesia.
"Apa-apaan ini?!" desah laki-laki yang berpakaian layaknya bangsawan dengan kesal lalu berjalan pergi.
Si ikat kepala biru mengikuti laki-laki tersebut bersama yang lainnya.
Tiba-tiba laki-laki tersebut berhenti melangkah.
"Ada apa?" tanya si ikat kepala biru.
Pertanyaan itu tidak dijawabnya. Dia memandangi potongan baju, celana, dan jaket yang terbakar setengah tadi dalam diam. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, yang jelas dia berubah pikiran.
"Ambil semua itu dan simpan," perintahnya.
Si ikat kepala biru menganggukkan kepala lalu memerintahkan yang lainnya untuk mengemasnya hanya dengan pandangan mata.
"Itu bisa saja menjadi petunjuk untuk menemukan Pemimpin Jung ataupun Putri Yi Ara," lanjutnya yang masih menatap ke arah yang sama.
"Baik," jawab si ikat kepala biru hanya patuh.
19Please respect copyright.PENANAJL8RqlGJqE
19Please respect copyright.PENANAVLg7SwH4dK
19Please respect copyright.PENANAfxldQg2NOd
Bersambung...
19Please respect copyright.PENANA5iYA3r3G1T
19Please respect copyright.PENANAAhxjKzoBvs
19Please respect copyright.PENANASUNk1DbCrV
19Please respect copyright.PENANAkHE383LMGA


