"Yang Mulia yakin akan melakukannya?" tanya Dayang Hye Won tampak begitu khawatir.
"Iya, jika kamu tidak siap, kamu bisa tetap tinggal di istana membantu Kepala Dayang Song selama aku pergi. Jangan khawatir, aku pasti kembali bersama Yang Mulia Ratu Min." Jawab Selir Choi penuh dengan keyakinan. Meskipun gelar Ratu Min sudah diturunkan menjadi Permaisuri Min dan diasingkan, Selir Choi tetap menyebutnya ratu.
"Saya akan mendampingi Yang Mulia ke mana pun Yang Mulia pergi," balas Dayang Hye Won cepat.
Selir Choi tersenyum tipis.
"Terima kasih, Hye Won." Selir Choi merasa lega hingga melupakan awalan dayang pada nama Dayang Hye Won, dayang kepercayaannya itu.
Kepala Dayang Song memasuki kamar Selir Choi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang dapat diketahui prajurit istana yang sedang berjaga.
"Yang Mulia, semuanya sudah siap. Silahkan," kata Kepala Dayang Song memberitahu sambil menyerahkan pedang yang dibawanya dengan sangat hati-hati.
Selir Choi menatap pedang itu sesaat. Dia ingat kali pertama Permaisuri Min memberinya pedang tersebut sebagai hadiah. Itu adalah hadiah yang sangat berharga baginya. Disimpannya dengan baik tanpa ada yang mengetahuinya. Hari ini, pedang itu akan menemaninya untuk membawa kembali Permaisuri Min ke istana. Keputusannya sudah bulat. Apa pun rintangan nya, dia akan menghadapinya. Dipegangnya dengan erat pedang itu lalu melangkah keluar.
Di pintu samping sudah ada Pengawal Soo Ho bersama beberapa prajurit dan dayang yang mengenakan pakaian laki-laki. Pengawal Soo Ho segera membimbing Selir Choi untuk keluar istana sambil diikuti prajurit dan dayang yang ikut serta. Mereka semua segera menaiki kuda masing-masing setelah membantu Selir Choi menaiki tandu berkuda yang disiapkan secara khusus.
Mereka harus keluar dari Ibu Kota sebelum fajar tiba.
Selama di perjalanan keluar dari Ibu Kota, Selir Choi yang ada di dalam tandu berkudanya hanya bisa menahan ketakutannya. Semenjak Selir Jang diangkat menjadi Permaisuri Jang setelah penurunan gelar Ratu Min menjadi Permaisuri Min, hampir semua prajurit istana dan Ibu Kota dikuasai Klan Jang. Ini sangat membahayakan nya jika tidak berhasil keluar dari Ibu Kota.
Waktu terus berlalu dan tiba-tiba kuda berhenti.
Selir Choi sangat tegang di dalam tandu berkudanya. Tidak ada suara apa pun di luar yang dapat didengarnya. Detak jantungnya memacu lebih cepat dari biasanya. Tidak menunggu lama, tandu berkudanya kembali berjalan. Dapat dirasakannya tandu berkudanya bergerak lebih cepat. Ketegangan menyerbunya.17Please respect copyright.PENANAsCrx2LAetM
Ketakutan membuatnya erat memegangi pedang yang ada di tangannya. Akan tetapi, itu tidak bertahan lama karena tandu berkudanya kembali berhenti dan menghentakkan tubuhnya keras mengenai dinding tandu. Di luar bahkan suara kuda dapat didengarnya dengan nyaring. Pasti terjadi sesuatu.
Suara pedang saling beradu dapat didengarnya.
Pengawal Soo Ho turun dari kudanya untuk menyerang prajurit yang menghadang jalannya. Dia menghunuskan pedangnya tanpa ampun. Setelah membuka jalan, salah satu tangannya memberikan perintah pada kelompoknya melanjutkan perjalanan lebih dulu. Setelah membunuh semua prajurit tersebut, diseretnya satu persatu ke jalanan menurun di bawah sana agar tidak ada yang menemukannya, setidaknya untuk sementara.
Setelah itu, Pengawal Soo Ho kembali menaiki kudanya dan mengejar rombongan tandu Selir Choi dengan cepat.
Akhirnya kecepatan kuda yang dinaikinya dapat mengejar rombongan Selir Choi. Namun, ada yang aneh. Dia terbelalak lebar saat menyadari tandu berkuda Selir Choi tidak bergerak. Dipacu nya kudanya lebih cepat. Sesampainya di tempat, dia menarik paksa tali kekang kudanya untuk berhenti. Dilihatnya jendela kecil tandu berkuda Selir Choi terbuka. Dia segera lompat dari kudanya dan menghampiri Selir Choi.
"Yang Mulia baik-baik saja?" tanyanya dengan khawatir.
"Iya, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" tanya Selir Choi balik yang juga khawatir.
Pengawal Soo Ho menganggukkan kepala.17Please respect copyright.PENANA9Ockbqv2qs
"Kenapa kamu perintahkan rombongan untuk pergi duluan? Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu? Bukankah kamu lebih tahu apa yang akan terjadi padaku jika terjadi sesuatu denganmu?" Selir Choi marah.
Pengawal Soo Ho menundukkan kepala.
"Kamu berjanji untuk melindungiku. Apa kamu ingin mengingkarinya?!" lanjut Selir Choi membentak Pengawal Soo Ho.
"Saya minta maaf, Yang Mulia. Ini tidak akan terulang lagi." Jawab Pengawal Soo Ho cepat sambil membungkukkan badan.
"Jangan khawatir, Yang Mulia." Sambar Dayang Hye Won.
Selir Choi pun teralihkan.
"Pengawal Soo Ho tidak mungkin melakukannya, Yang Mulia." Kata Dayang Hye Won membantu menenangkan Selir Choi.
"Sebaiknya begitu. Aku bisa kapan saja menggunakan pedang ini." Balas Selir Choi dengan tegas.
Perjalanan ini akan membutuhkan waktu yang panjang dan nyawa yang berkali-kali lipat. Melakukan hal yang membahayakan seperti yang tengah dilakukan Selir Choi saat ini taruhannya adalah nyawa. Dikarenakan tekad yang sudah bulat, apa pun rintangan nya, meskipun nyawa sebagai taruhannya dia akan tetap melakukannya.
17Please respect copyright.PENANA4yTCQuZTJB
17Please respect copyright.PENANA1j6RX8axxX
17Please respect copyright.PENANAey4ZtQTpx3
Bersambung...
17Please respect copyright.PENANAqIK6EnO7Ow
17Please respect copyright.PENANAIBNTPXM7w2
17Please respect copyright.PENANAZ3Sx1f7H6Z
17Please respect copyright.PENANAZRAKxPdhmT


