Napas Ara terasa sesak. Matanya menyaksikan pembantaian tragis dan mengerikan seumur hidupnya. Dia tidak percaya semua itu terjadi tepat di hadapannya. Selama ini dia hanya melihat semua adegan tersebut di televisi. Matanya terbelalak lebar saat menangkap sosok si laki-laki dan si perempuan yang dihunus pedang setelah babak belur penuh darah.
"NOOOO!!!" 16Please respect copyright.PENANAqNR90XdLK5
Ara menjerit keras tanpa disadarinya menggunakan Bahasa Inggris.
Semua prajurit dan orang-orang yang berpakaian hitam teralihkan.
"Bunuh dia," perintah laki-laki berpakaian hitam yang menghunuskan pedangnya pada si laki-laki. Dia tampak seperti pemimpinnya.
Dada Ara semakin terasa sakit. Napasnya memburu karena amarah yang berlebihan. Matanya memerah dan mengeluarkan air mata. Dapat dirasakannya kebahagiaan kecilnya hancur berkeping-keping. Kedua tangannya menggenggam erat dan siap meluapkan kemarahan. Sepanjang hidupnya dia hanya bisa menahan segala perasaan yang semakin lama semakin menyayat hatinya.
Namun, kali ini dia berjanji tidak akan menahannya lagi. Ini adalah waktu yang tepat untuk meluapkan segala rasa.
Para prajurit dan mereka yang berpakaian hitam mulai bergerak ke arahnya. Dia juga mulai bergerak menuju tempat si laki-laki dan si perempuan dihunus pedang. Tangan kanannya memegang erat pedang kayu yang dibawanya. Dia memukul keras perut prajurit pertama yang menyerangnya hingga jatuh ke tanah dalam sekali pukulan.
Prajurit kedua dan ketiga yang menyerangnya dipukulnya tepat di kepala lalu dipatahkannya kaki keduanya dalam hitungan detik. Dia berlari sambil menyerang siapa saja yang berani menghalangi jalannya menuju tempat si laki-laki dan si perempuan. Beberapa prajurit dan mereka yang memakai pakaian hitam terjerembab jatuh ke tanah tanpa ampun hanya dilawannya dengan pedang kayunya.
Pedang kayunya dijatuhkannya ke tanah setibanya di tempat si laki-laki dan si perempuan dihunus pedang. Diperiksanya denyut nadi si perempuan dan tanpa kata dia menangis. Si perempuan sudah tidak bernyawa. Dia segera beringsut ke arah si laki-laki yang masih membuka mata sedikit. Dipeganginya kepala si laki-laki sambil menangis tersedu-sedu.
Si laki-laki menggenggam tangan Ara dengan erat.
"Simpanlah dan pergi ke Hanyang..." napas si laki-laki tersengal. "...jika kamu membutuhkan bantuan.
Si laki-laki mengambil jeda.
"Siapa pun yang mengenali ini, dia pasti akan membantumu," lanjut si laki-laki kesulitan mengeluarkan suara. "Maaf, tidak bisa menepati janjiku padamu, Ara."
Si laki-laki mengambil jeda lagi.
Ara menangis semakin keras melihat keadaan si laki-laki.
"Bunuh mereka semua dan jangan tinggalkan bukti apa pun," pesan si laku-laku yang terbatuk mengeluarkan darah. Dia tidak dapat bertahan.
"Jangan pergi! Jangan pergi! Tolong, jangan pergi!!!" Ara memohon dengan suara serak.
"Hei, kamu ingat Yi dan Yang, bukan?" si laki-laki berusaha bertahan.
Ara menganggukkan kepala sambil menahan tangisnya yang menyakitkan.
"Ilmu keseimbangan," kata Ara cepat.
Si laki-laki tersenyum.
"Tidak apa jika tidak seimbang. Tapi berusahalah menjadi putih di antara banyaknya hitam," si laki-laki yang memegang tangan Ara, pegangannya mulai melemah lalu detik berikutnya terlepas.
Si laki-laki pun tidak bernyawa.
16Please respect copyright.PENANABf9dOVehkT
^ ^ ^
16Please respect copyright.PENANAfTNi8gJbJx
Ara menangis keras dengan memilukan sambil menggenggam tangan si laki-laki dan si perempuan secara bersamaan. Isak tangisnya menderu keras. Namun, dia buru-buru tersadar. Kesedihannya harus ditahan karena ada hal penting yang harus dilakukannya. Bersamaan dengan itu, para prajurit dan yang memakai pakaian hitam sudah mulai mendekati tempatnya untuk membunuhnya. Dia berdiri sambil mengambil pedang asli yang tergeletak di dekatnya.
Ya Allah, Maaf...16Please respect copyright.PENANAlB88TJ54Id
Ara harus melakukan ini.16Please respect copyright.PENANARaqbuhbSEf
Ara akan terima apa pun hukumannya di akhirat.
Ara mengayunkan pedangnya pada prajurit yang ada di sampingnya tepat di leher. Sekali tebas, prajurit itu terkapar tanpa nyawa di tanah. Ara terus mengayunkan pedang dengan ringan dan tampak lihai. Kebanyakan dari mereka ditebas tepat di leher dan dihunus tepat di jantung.
Para prajurit yang akan melarikan diri dipanahnya dengan akurat. Hanya yang berpakaian hitam yang berani hingga akhir melawannya. Saat lawannya berjatuhan, ujung matanya sempat menangkap sosok pemimpinnya yang berusaha melarikan diri dengan berkuda.
Ara mengejarnya dengan kuda yang ada di sana. Pengejaran itu hingga menuju hutan. Dia memacu kecepatan lari kudanya dan sengaja menabrak kuda si lawan. Kedua kuda itu terjerembab jatuh ke tanah dengan keras. Rasa sakit di sekujur tubuhnya tidak dihiraukan nya. Dia meraih pedang di tanah dan mendekati si lawan.
"Siapa kalian? Aku mengingat kalian siang itu di ladang ilalang," kata Ara.
"Kau seorang perempuan," sebut lawannya yang mengira Ara seorang laki-laki karena pakaian yang dikenakannya.
"Kenapa? Baru pertama kali dikalahkan oleh seorang perempuan?" balas Ara dengan nada bengis.
"Kau tidak akan selamat. Satu mati akan digantikan dengan yang lainnya. Tidak akan ada tempat bersembunyi bagimu meskipun lari ke ujung dunia." Kata lawannya yang memegang erat kaki kanannya.
Ara bisa melihat jelas, tulang kaki lawannya keluar dan darah berlumuran di semua tempat.
"Kayak lo tahu aja di mana ujung dunia," gumam Ara menggunakan Bahasa Indonesia. Sudah lama dia tidak pernah kelepasan secara lisan berbicara Bahasa Indonesia demi keselamatan nyawanya.
Lawannya mengerutkan kening saat mendengar gumaman Ara yang tidak jelas di telinganya.
"Katakan, siapa kalian?" tanya Ara dingin.
Lawannya tidak bersuara dan diam-diam mengambil pisau kecil yang disimpan di belakang pinggangnya lalu berusaha menyerang Ara. Tangan Ara lebih cepat menangkis lalu mencengkeram tangan lawannya hingga lawannya menjatuhkan pisau kecilnya.
"Katakan," desis Ara memaksa.
Lawannya itu tetap bergeming di tempatnya.
"Baik, jika kau tidak mau menjawabnya. Selamat tinggal." Kata Ara yang segera menghunuskan pedangnya tepat di jantung lawannya. Darah pun keluar bercucuran.
"Mereka pasti akan menemukanmu," ucap lawannya lirih.
"Dengan senang hati, aku akan menunggunya." Balas Ara sambil menarik pedang yang dihunusnya. Lawannya itu pun tertunduk tanpa nyawa.
Ara berdiri, berjalan mundur sambil memperhatikan lawannya yang sudah tidak bernyawa dengan pedang yang masih ada di genggaman tangannya. Perlahan dia membalikkan badan dan berjalan gontai. Ketakutan tiba-tiba menyerangnya. Napasnya yang penuh amarah berubah menjadi kepanikan. Dia bagaikan orang yang baru sadar setelah membunuh orang lain.
Ketakutan itu menghantuinya.
16Please respect copyright.PENANA73rzdrzjQq
^ ^ ^
16Please respect copyright.PENANAiEvFaa2T89
Tangan Ara menjatuhkan pedang yang dibawanya.
Tanpa disadarinya, kedua kakinya berlari kencang menerobos hutan yang tidak dikenalnya dengan ketakutan yang memburu. Kakinya yang melemas tersandung akar yang keluar dari tanah. Dia terjatuh dengan keras lalu menggelinding tanpa bisa ditahannya. Dia tidak tahu bahwa jalanan yang ditapakinya adalah jalan turun bukit.
Tubuhnya berhenti menerjang pohon besar. Dia bungkam seribu bahasa dan badannya gemetaran. Rasa sakit di seluruh tubuhnya tidak bisa dirasakannya. Pikirannya penuh dengan ingatan pembunuhan yang baru saja dilakukannya. Pedang dan darah lagi-lagi menjadi pemicu sesak di dadanya. Ketakutan semakin menyerangnya tanpa jeda. Matanya memerah dan air mata membasahi pipinya dengan badan yang bergetar hebat.
Tiba-tiba dia menangis keras tanpa bisa menahannya.
Ingatan tentang si laki-laki dan si perempuan menyeruak keluar. Tangisnya semakin keras. Kini tidak ada lagi orang di sisinya. Tidak ada lagi yang dikenalnya dan mengenalnya. Dia kembali seperti semula, sendiri. Kehilangan si laki-laki dan si perempuan yang begitu mendadak membuatnya teringat saat kehilangan adik pertamanya.
Orang yang disayanginya. 16Please respect copyright.PENANAbDAVKTacjT
Orang yang kehadirannya ditunggu-tunggu.16Please respect copyright.PENANAyaWDqIQLBn
Orang yang mampu membuatnya merasakan kebahagiaan kecil.16Please respect copyright.PENANAwxqGNzRuAJ
Orang yang mampu membuat dia merasa tenang, lagi-lagi pergi meninggalkannya. Perasaan kehilangan itu, rasanya tetap sama dan sulit diterimanya, bahkan hingga sekarang.
"AAAAAA!!!"
Da menjerit sekeras-kerasnya hingga membangunkan beberapa burung yang tiba-tiba beterbangan tanpa disadarinya. Jeritan memilukan penuh kesakitan dan amarah bercampur menjadi satu. Jeritannya melemah bersamaan dengan tubuhnya yang ikut melemah dan mulai menggigil. Dia menyandarkan tubuhnya di pohon yang membuatnya berhenti bergerak.
Kepalanya terasa nyeri dan penglihatan matanya mengabur.
Semuanya pun menggelap.
16Please respect copyright.PENANAESRR2sFB3D
16Please respect copyright.PENANAaCjlSpef3l
16Please respect copyright.PENANAQ6NPVrVSvV
Bersambung...
16Please respect copyright.PENANAwStv4yGGFh
16Please respect copyright.PENANAqodibweU3r
16Please respect copyright.PENANAladc7U8CU9
16Please respect copyright.PENANAqoBBDmEb7l


