Si laki-laki kembali ke rumah degan lemah.
"Bagaimana?" tanya si perempuan penuh harap.
Si laki-laki menggelengkan kepala tanpa bersuara.
Si perempuan pun luruh dengan lemah. Ara segera membantu si perempuan untuk duduk di tempat tidurnya lagi. Ara mengerti arti gelengan itu tanpa diberitahu secara lisan. Sudah pasti mereka semua dibunuh.
"Ayah dan Ibu mengenal mereka?" tanya Ara berhati-hati.
Si laki-laki dan si perempuan menganggukkan kepala bersamaan.
"Kami mengenal mereka sejak pindah kemari. Mereka orang-orang baik. Hanya saja, nasib baik tidak berpihak pada mereka." Si laki-laki yang menjawab.
"Mereka juga yang membantu kami menyembunyikan identitasmu," tambah si perempuan.
Ara termenung mendengarnya.
"Ara, kamu belum istirahat. Kamu, istirahatlah," kata si laki-laki yang berjalan keluar.
Si perempuan sigap menyiapkan alas tempat tidur dan selimut untuk Ara.
"Ibu juga harus istirahat," seru Ara saat melihat si perempuan yang bersiap untuk pergi.
"Aku sudah cukup beristirahat. Sekarang giliranmu yang harus istirahat," balas si perempuan mulai melangkah meninggalkan kamar Ara.
Di halaman depan, si perempuan melihat si laki-laki tengah duduk lemah di dipan tepat di bawah pohon tua yang tumbuh di halaman rumah mereka.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya di perempuan ikut duduk.
Si laki-laki menghembuskan napas berat sebelum menjawab.
"Mulai besok, upeti dinaikkan dua kali lipat." Si laki-laki memberitahu.
"Apa?" si perempuan terkejut mendengarnya.
Si laki-laki menganggukkan kepala meyakinkan.
"Ap terjadi sesuatu?" tanya si perempuan sabil menatap dalam si laki-laki.
"Entah," jawab si laki-laki menatap balik. "Sepertinya memang sedang terjadi sesuatu," lanjutnya dengan bimbang.
"Jangan pergi!" sontak si perempuan mencegah dengan penuh kekhawatiran.
Si laki-laki hanya terdiam.
"Aku mohon, jangan pergi." Si perempuan memohon.
"Jika memang sedang terjadi sesuatu, aku harus pergi. Kamu tahu itu."
"Kamu sudah berjanji pada Ara, jadi aku mohon jangan pergi."
"Aku sudah gagal melindungi Tuan Putri. Itu adalah dosaku. Aku akan bertanggung jawab. Aku tidak bisa hanya diam saja jika memang benar telah terjadi sesuatu. Aku harus pergi untuk memastikan nya."
"Kamu juga tahu, jika ada yang tahu tentang Tuan Putri, bukan hanya nyawamu dan nyawaku yang terancam. Itu membahayakan semua pihak. Tolong, jangan pergi."
"Aku tetap harus pergi. Setidaknya untuk memastikan keadaan Pangeran baik-baik sana. Jangan khawatir, aku akan segera kembali. Percayalah."
"Aku yakin, Pangeran baik-baik saja. Kamu sudah melakukan tugasmu."
Tanpa kata, si laki-laki memeluk istrinya dengan erat.
Tanpa diketahui oleh keduanya, Ara mendengarkan semua pembicaraan mereka dari belakang.
Pangeran?23Please respect copyright.PENANAhnzZzoXBbd
Sebenarnya mereka siapa?23Please respect copyright.PENANAjXu6iPNHls
Mereka gagal melindungi Tuan Putri? Tuan Putri!!! Jangan-jangan anak perempuan mereka yang udah meninggal itu emang beneran Tuan Putri. 23Please respect copyright.PENANAfjzVdwY8BW
Kalau gitu, mereka...
"Ara?"
Suara itu membuyarkan lamunan Ara.
"Ya?" Ara sontak terkejut.
"Kamu sedang apa? Butuh sesuatu?" tanya si perempuan dengan perhatian.
Ara menganggukkan kepala sambil memegangi lehernya.
"Oh, minum. Tunggu sebentar," respon si perempuan yang langusng pergi untuk mengambilkan Ara minum.
"Bawa minumnya ke dalam kamarmu. Sana, cepat istirahat." Perintah si perempuan.
Ara hanya menganggukkan kepala patuh lalu masuk kembali ke dalam kamarnya. Ara menghembuskan napas lega saat sudah berada di dalam kamarnya. Dia segera menghabiskan air minum itu lalu tidur. Apa pun itu, akan dilanjutkannya setelah bangun tidur.
23Please respect copyright.PENANAu3rrldyEsu
^ ^ ^
23Please respect copyright.PENANAw692qx8YK2
Malam ini Ara harus kembali latihan fisik sendirian.
Si laki-laki harus menyelesaikan pesanan pedang dari pusat desa malam ini juga. Setelah desa sepi, memulai perjalanannya menuju kaki gunung. Langkahnya terhenti saat mendengar banyak langkah kaki tidak jauh berada di depannya. Dia segera mencari tempat bersembunyi. Ternyata yang melewati tempatnya bersembunyi adalah rombongan prajurit yang berbaris rapi dengan baju besi.
"Ada apa? Kenapa banyak banget prajuritnya?" tanyanya sendiri dengan suara pelan.
Setelah rombongan prajurit menjauh, dia kembali mengambil langkah cepat meninggalkan desa menuju hutan. Sesampainya di sana, dia memberikan penghormatan terlebih dahulu seperti biasanya yang dilakukan oleh si laki-laki dan si perempuan, Ditatapnya makam tersebut untuk sejenak.
"Tuan Putri, terima kasih sudah meminjamkan namamu padaku. Meskipun namaku juga Ara. Salam kenal, Tuan Putri." Kata Ara yang menggunakan bahasa sopan.
Setelah itu, dia langsung melatih ilmu pedangnya hingga gerakan Yi dan Yang.
Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat. Ini sudah waktunya dia harus kembali. Akan tetapi, dia mengurungkan niatnya kembali ke rumah. Dia berjalan menuju ladang ilalang, tempat kali pertama dia tiba di negeri antah berantah tersebut. Dia ingin memastikan jika ada tanda-tanda yang bisa membawanya kembali.
Ara hanya berdiri mematung di tengah ladang ilalang tersebut. Matanya melihat ke arah tempat kali pertama dia tiba di sana. Tidak ada apa-apa. Hanya ada ilalang kering yang terdampar luas.
"Apa yang harus gua lakuin? Gimana caranya gua bisa pulang?" serunya pelan.
Angin yang berhembus mengibaskan kain renda topi jeraminya.
"Angin, bawa gua pulang." Pintanya lirih dengan frustasi.
Air mata menetes membasahi kedua pipinya tanpa disadarinya.23Please respect copyright.PENANAI5zPKHhLBo
Entah sudah berapa lama dia berdiri di sana.
Sinar matahari mulai menyapa bumi. Cahayanya mulai menghangatkan udara yang dingin saat malam hari. Saat itu dia baru sadar bahwa harus segera kembali. Dia terlambat. Tanpa berpikir panjang, dia berlari tanpa henti melewati hutan hingga masuk pintu desa. Napasnya tersengal kelelahan. Langkah kakinya tiba-tiba terhenti saat melihat ada asap menggumpal dari arah desa.
Dia berjalan tanpa waspada melewati rumah-rumah yang terbakar, jalanan desa yang dipenuhi orang-orang sedang dibunuh dengan keadaan desa yang sudah porak-poranda. Lemas menggerogoti tubuhnya. Saat berbelok menuju pusat desa, matanya melihat para prajurit menarik paksa semua orang keluar dari dalam rumahnya masing-masing.
Mereka menyeret semua rakyat bagaikan hewan. Anak-anak kecil banyak yang menangis. Ketika kepalanya menoleh ke arah kanan, matanya melihat orang-orang berpakaian serba hitam sedang menghunuskan pedang ke rakyat yang berbaris di depan mereka. Rakyat yang berusaha kabur pun dipanah beberapa prajurit yang bertugas.
Pemandangan itu membuat dadanya kembali sakit.
23Please respect copyright.PENANAomHtLTrJ0M
23Please respect copyright.PENANAUjOPaR28RZ
23Please respect copyright.PENANA7JKNxE3dba
Bersambung...
23Please respect copyright.PENANAS2exbuJbOB
23Please respect copyright.PENANA7LjNZHEKaI
23Please respect copyright.PENANAbp0LOSEsCs
23Please respect copyright.PENANAzWVJHx0qPj
23Please respect copyright.PENANAvKSJbjSLNU


