Ara memakai topi jerami baru pemberian si laki-laki sekembalinya dari desa tetangga. Hari ini dia mulai berburu di hutan terlarang yang ada di sekitar tempat biasa berlatih fisik bersama si laki-laki. Si perempuan menyiapkan bekal makanan untuk Ara dan si laki-laki yang akan bermalam di hutan. Mereka berangkat malam dan akan kembali malam esoknya sebelum fajar menyingsing seperti biasanya.
"Kuda itu resmi menjadi milikmu. Dia sudah patuh padamu," kata si laki-laki saat akan memulai berburu di tengah gelapnya malam.
Ara tersenyum senang. Diusapnya kepala kuda yang selalu menemaninya di kaki gunung tempat biasa dia berlatih fisik selama berbulan-bulan.
Perburuan pun dimulai.
Kini Ara sudah terbiasa dengan semua suara hewan yang awalnya asing di telinganya di negeri antah berantah tersebut. Hutan itu tidak lagi membuatnya takut. Baginya, hutan terlarang itu seperti hutan-hutan yang biasanya dipakainya untuk perkemahan pramuka saat masih sekolah menengah. Suasananya bahkan bisa membuatnya tenang dan damai.
Ketika itu, telinganya mendengar pergerakan di ujung penglihatannya. Dia mempersiapkan anak panah dan menargetkan nya di balik semak yang tidak terlalu belukar. Saat suara itu menghilang, dia melepas anak panahnya.
"Got yeah," bisiknya pelan.
Dia berjalan ke arah semak tersebut dan mengambil targetnya.
"Sekarang gua mampu membunuh hewan. Padahal dulu, lihat kecoa aja ketakutan. Kelinci, maaf." Katanya pelan sambil mengambil seekor kelinci berbadan gemuk terkapar karena anak panahnya.
Terdengar suara langkah kaki mendekati tempatnya. Dia memejamkan mata untuk konsentrasi. Dia langsung tahu bahwa itu suara langkah kaki si laki-laki. Pendengarannya yang sejak kecil memang sangat sensitif cukup membantunya dalam intuisi. Suara tetesan sisa air keran pun dulu mampu membuat tidurnya terganggu.
Itu lah alasan kenapa dia sering memakai headset ataupun earphone dan teman-temannya sering menyebutnya DJ kawak yang suka pamer. Itu bahkan mampu menjadikannya target bulian.
30Please respect copyright.PENANAt58K7CIa7I
^ ^ ^
30Please respect copyright.PENANAVjSCj2szl4
Ara memamerkan kelinci yang ada di tangannya.
"Kamu bahkan tidak membutuhkan cahaya lagi berkeliaran di hutan ini," puji si laki-laki sambil tersenyum tipis.
"Setiap hari aku menjelajahinya, Ayah." Ara menjawab ringan.
"Ayo, kita harus kembali ke kaki gunung. Itu akan mengisi perut kita sebelum fajar," ajak si laki-laki.
Ara menganggukkan kepala patuh.
Setelah matahari muncul, Ara dilarang membakar hewan buruannya. Itu karena kepulan asapnya akan diketahui rakyat desa yang aktif pada siang hari. Jika itu sampai terjadi, maka para prajurit yang bertugas menjaga desa akan memburunya dan membunuhnya. Itu lah hukum yang berlaku bagi rakyat yang melanggar peraturan. Si laki-laki memberitahu Ara saat dulu, kali pertama akan memulai pelatihan fisik.
Tidak butuh waktu lama bagi Ara untuk menyiapkan kelinci itu.
Ara sendiri yang melakukan semuanya, mulai dari berburu hingga menyiapkan untuk dibakar. Dia tidak pernah mau makan hasil buruan jika yang memasaknya bukan dirinya sendiri. Dikarenakan dia sering melihat bapaknya memotong ayam seperti yang islam ajarkan, dia jadi tahu dan melakukannya sendiri selama di negeri antah berantah tersebut.
"Bagaiman dengan tanganmu?" tanya si laki-laki sambil menikmati menu sarapan kelinci bakar.
"Sudah membaik," jawab Ara mengambil jeda. Tangannya memandangi tangan kanan dan kirinya secara bergantian. "Bahu kanan bukan hambatan lagi saat menggerakkan pedang dan tangan kiri juga tidak kaku lagi saat memanah," lanjutnya menjelaskan.
"Bagus," respon si laki-laki dengan senyum bangga.
"Apa yang harus aku lakukan setelah semu latihan ini selesai?" tanya Ara penuh harap.
Si laki-laki menghembuskan napas berat.
"Mencari jalan untuk kembali pulang?" si laki-laki tampak tidak yakin.
Ara memahaminya. Lagipula dia lebih tahu, tidak ada satu orang pun yang tahu bagaimana dia harus kembali. Bagaimana dia bisa ada di sana siang itu pun tidak ada yang tahu. Semakin lama Ara tinggal di negeri antah berantah tersebut, dia semakin yakin bahwa itu semua bukanlah mimpi belaka.
Apa yang dilihatnya, apa yang didengarnya, dan apa yang dilakukannya semuanya begitu nyata. Begitu juga dengan rasa sakit dan bekas luka memar di sekujur tubuhnya selama latihan fisik yang menghabiskan waktu berbulan-bulan. Yang lebih nyawa lagi adalah bentuk tubuhnya. Dulu dia berbadan gemuk, perbandingan tinggi 173 cm dan berat badan 95 kg.
Semua kegiatan yang sudah dilakukannya dan semua makanan hambar yang sudah dimakannya sangat membantunya dalam pembentukan tubuh dan staminanya. Kini, dia merasa ringan dan sehat. Andaikan ada cermin besar, dia ingin berkaca. Melihat perubahan pada tubuhnya.
"Dengar, Ara. Aku dan Ibumu sudah membicarakan tentang ini. Selama kami masih bernapas, kami pasti membantumu kembali ke asalmu. Meskipun kami tidak tahu dari mana asalmu. Tetapi jika suatu hari nanti kami gagal, jika itu sampai terjadi, setidaknya kami sudah memberimu bekal. Semua yang telah kamu lakukan akan menjadi bekal yang bermanfaat, percayalah." Si laki-laki menjelaskan panjang lebar.
Sepasang mata Ara berkaca-kaca, terharu. Di saat seperti ini lah Ara sering bimbang. Ada keinginan untuk kembali, tetapi juga ada keinginan untuk tetap tinggal. Ada rasa takut yang tertinggal di dasar sana.
"Kamu tahu, nama Ara sangat cocok untukmu. Ara, perempuan cantik dan baik hati. Semua sifat kebaikan ada di sana," lanjut si laki-laki tulus. Ketulusan itu terpancar jelas di matanya. Ara dapat melihatnya dengan jelas pula.
Ara ingat dengan pancaran ketulusan itu. Satu kali seumur hidupnya dia pernah melihatnya saat wisuda SMA pada mata kedua orang tuanya yang datang ke sekolah asramanya. Selama 6 tahun dia bersekolah di sekolah asrama tersebut, kedua orang tuanya tidak pernah sekalipun menjenguknya. Dikarenakan sibuk bekerja demi bisa menyekolahkan nya di sekolah asrama mahal yang dipenuhi fasilitas belajar nyaman. Ingatan itu adalah ingatan terindah di dalam hidupnya.
"Banyak hal yang aku tidak bisa lakukan dengan putriku sendiri. Waktu tidak mengizinkannya. Terima kasih, Ara. Kamu datang dan membiarkan aku melakukannya padamu. Bahkan aku belum sempat mengatakan padanya bahwa nama itu sangat cocok untuknya. Sekarang, aku melakukannya, padamu." Seru si laki-laki dengan mata yang berkaca-kaca.
Apa ini alasannya gua di sini?30Please respect copyright.PENANAR20S6s3eME
Saat gua cuman bisa mengecewakan dan menyusahkan Mama-Bapak di sana, tapi di sini gua jadi harapan orang tua lainnya.
"Dia pasti sudah tahu, jauh sebelum Ayah mengatakannya padanya," balas Ara dengan tulus.
"Begitukah?" tanya si laki-laki penuh harap.
Ara menganggukkan kepala meyakinkan.
Si laki-laki tersenyum dan Ara ikut tersenyum juga.
30Please respect copyright.PENANAfYOyRRbGk4
^ ^ ^
30Please respect copyright.PENANAhiS53zPJ02
Setelah cukup istirahat, pelatihan Ara dilanjutkan. Mulai dari pedang hingga berburu. Pelatihan terus berlanjut hingga tanpa mereka sadari hari sudah gelap kembali. Pelatihan diakhiri dengan gerakan Yi dan Yang. Setelah selesai, si laki-laki beristirahat menunggu fajar. Sedangkan Ara duduk di ujung tebing kaki gunung, melihat pemandangan di bawah sana. Cahaya-cahaya yang bersinar di bawah sana, tempat pemukiman rakyat membantunya merasa tenang.
Sampai kapan gua harus tinggal di sini?30Please respect copyright.PENANAz1o4dcAtxS
Gimana caranya gua bisa pulang?30Please respect copyright.PENANASqeQ5KeFiu
Gimana sama kos-kosan gua? 30Please respect copyright.PENANAmo47FSJ9It
Apa mereka sadar kalau gua beneran hilang?30Please respect copyright.PENANAV3CB0vdI4T
Apakah masih ada yang perduli sama gua?
Ara mengatup mulutnya dengan pikirannya yang sibuk sendiri.
Kalau drama Korea, Faith, si dokter cewek itu bisa masuk dan keluar lewat pintu yang sama. Haruskah gua ke sana? Memastikan tempat itu bisa apa nggak bawa gua pulang lagi. Seingat gua di sana nggak ada tanda apa-apa selain ilalang.30Please respect copyright.PENANALVtuFTh3dA
Tapi kalau drama Moon Lovers, si IU itu masuk lewat air dan bisa kembali setelah masa hidupnya di Goryeo habis.30Please respect copyright.PENANA29JFVEJknA
Haruskah gua nunggu sampai mati juga di sini?
"Ara," panggil si laki-laki yang membuyarkan lamunan Ara.
"Ya?"
"Kita harus pergi sekarang. Sebentar lagi fajar tiba," ajak si laki-laki yang sudah bersiap meninggalkan kaki gunung.
"Iya," balas Ara yang segera beranjak dari duduknya.
Selama di perjalanan menuju rumah, mereka berdua tidak mengeluarkan suara dan harus tetap waspada. Saat mendekati pusat desa yang biasa digunakan untuk para penjual berjualan setiap sore, mereka mendengar ada keributan. Mereka mengintip untuk bisa mengetahui apa yang sedang terjadi. Hari yang masih agak gelap membuat penglihatan tidak jelas.
Mata Ara sempat melihat beberapa prajurit memukuli rakyat yang tengah bersiap menuju perkumpulan pagi. Melihat itu, dada Ara terasa sesak kembali. Sudah lama dia tidak merasakan hal demikian karena hanya sibuk latihan dan latihan di tempat yang tidak dijangkau orang lain. Menyadari kondisi Ara, si laki-laki segera membawa Ara pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, sosok si perempuan tidak dapat ditemukan. Si laki-laki mulai panik.
"Ara, masuk kamarmu. Jangan ke mana-mana sampai aku kembali. Aku akan mencari Ibumu. Tidak akan lama. Masuklah." Perintah si laki-laki yang langsung pergi meninggalkan rumah.
Ara yang juga panik segera berlari memasuki kamarnya. Dia berusaha melawan ketakutannya sambil duduk di ujung ruangan. Bayangan pedang dan darah kembali menyerang pikirannya. Napasnya semakin sesak dadanya sakit. Itu meneror nya tanpa ampun. Dia terus berusaha melawannya kuat-kuat. Ketika itu, terdengar suara keras pintu depan di buka.
Beberapa detik kemudian, pintu kamarnya diketuk dan ada suara si laki-laki. Dia segera membuka pintu kamarnya.
Terlihat si perempuan yang digendong si laki-laki babak belur oleh luka memar dan ada bercak darah di beberapa bagian bajunya. Tanpa bicara, Ara langsung membantu si laki-laki merebahkan tubuh si perempuan di tempat tidurnya.
"Kamu harus ke sana lagi. Pastikan mereka tidak mendapat hukuman. Itu hanya kesalahpahaman. Semua prajurit tiba saat waktunya tidak tepat. Tolong, pergilah dan bantu mereka." Si perempuan memohon pada si laki-laki.
Si laki-laki meng-iya-kan dengan berat meninggalkan si perempuan.
"Ara, tolong rawat Ibumu." Pesan si laki-laki pada Ara.
Ara hanya sanggup menganggukkan kepala.
Setelah si laki-laki pergi, Ara mengambil air bersih untuk membasuh si perempuan dan membantunya mengganti baju.
"Ibu baik-baik saja? Mana yang luka?" tanya Ara dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja, Ara. Jangan khawatir, ini bukan darahku." Jawab si perempuan dengan lemah.
Ara bernapas lega mendengarnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Ara setelah selesai membantu membasuh luka memar dan mengganti pakaian si perempuan.
"Ini biasa terjadi di sini. Desa ini dipenuhi rakyat yang mempercayai Buddha. Sedangkan banyak para petinggi desa yang merasa tidak nyaman akan selalu mencari segala celah kesalahan agar rakyat jelata yang disalahkan. Begitulah hukum negeri ini. Bangsawan selalu benar dan rakyat jelata selalu salah." Jelas si perempuan yang masih lemah.
Gua sering dengar itu di drama-drama.
Si perempuan meraih tangan Ara lalu dipegangnya dengan erat.
"Maka dari itu, kamu harus kuat, Ara. Membunuh bukanlah hal asing di negeri ini. Kenangan buruk jangan membuatmu lemah. Bagi para petinggi, hanya yang kuat dan memiliki banyak harta yang bisa berkuasa. Aku tidak tahu bagaimana hukum berlaku di negeri asalmu, tapi di sini seperti ini. Jadi, selama kamu di sini, kamu harus kuat agar bisa bertahan hingga kamu kembali ke asalmu. Mengerti?"
Ara menganggukkan kepala dengan ragu.
30Please respect copyright.PENANA9nm0RJEl8f
30Please respect copyright.PENANA7diLi73Y7b
30Please respect copyright.PENANAOcyYRKlBx1
Bersambung...
30Please respect copyright.PENANA4loOWlU30a
30Please respect copyright.PENANAxyvqsQnc9b
30Please respect copyright.PENANAHnmbqBB98M
30Please respect copyright.PENANAd4zoB0F4K8
30Please respect copyright.PENANAcNzu8YNKfT
30Please respect copyright.PENANAr3DV8HJkuQ


