Ara mengerjap matanya saat ada yang membangunkannya dari tidur lelapnya. Si perempuan duduk di sampingnya untuk membangunkannya.
"Bangun, Ara. Waktunya kamu makan siang dan mengerjakan tugasmu," kata si perempuan membangunkan Ara.
Ara menganggukkan kepala dengan sisa kantuknya.
Kini jadwal istirahat Ara alias jam tidurnya berubah. Dikarenakan pada malam hari dia harus latihan fisik, maka dia tidur di pagi hari hinga siang hari. Siang hari hingga sore hari dia melakukan tugas dari si perempuan, yaitu memasak untuk makan malam, menjahit baju pribadinya seperti rakyat sekitar, dan membaca buku yang disediakan lalu menulis ulang melatih tangannya untuk menulis.
Rasa lelah sering menyerbunya. Mimpi buruk tentang pedang dan darah mulai tidak muncul di mimpinya akhir-akhir ini. Dia bisa tidur dengan lelap.
Kegiatan itu terus berulang setiap hari. Dia juga sudah terbiasa berjalan melewati hutan saat menuju kaki gunung, tempat latihan fisiknya. Bulan berganti bulan terlewati begitu saja. Kini latihan berkuda, memanah, dan berburu menjadi tantangan yang lainnya. Dia baru merasakan bahwa mengendalikan kuda lebih sulit dibandingkan mengendalikan pedang.
Si laki-laki menyarankannya agar menggunakan tangan kirinya untuk memanah. Ini tantangan terberat dalam hidupnya. Dia bukan kidal tetapi harus melakukannya seperti yang diperintahkan. Itu juga yang menyebabkan tangannya sering sakit. Si perempuan yang pada akhirnya akan memijat tangannya selama dia tertidur. Si perempuan pun merasa tidak tega melihatnya kesakitan dalam tidurnya.
"Apa kamu tidak bisa mengurangi latihan memanahnya? Kasihan Ara. Tangannya semakin sakit." Kata si perempuan.
"Tidak bisa. Waktunya tidak banyak. Suru Ara melatih Yi dan Yang lebih banyak untuk beberapa hari ke depan. Larang dia berburu selama aku pergi mengirim pesanan ke desa sebelah," jawab si laki-laki dengan tegas.
"Baik, nanti aku sampaikan." Balas si perempuan yang terpaksa mengalah.
"Aku tahu, kamu bisa merawatnya dengan baik. Kamu jangan khawatir, Ara akan baik-baik saja. Dia bukan hanya cantik dan baik hati, dia juga pintar dan terampil. Tidak mungkin semua itu bisa dilakukannya hanya dengan waktu singkat jika dia orang biasa. Para bangsawan yang tampan dan berpendidikan sekalipun tidak akan mampu mengalahkannya." Si laki-laki memuji Ara yang masih terlelap.
Si Perempuan tersenyum puas mendengarnya.
"Hati-hati di jalan dan kembalilah dengan selamat," pesan si perempuan.
Si laki-laki menganggukkan kepala. Dia menoleh melihat Ara untuk yang terakhir sebelum meninggalkan rumah.
35Please respect copyright.PENANA8s53IlYw6j
^ ^ ^
35Please respect copyright.PENANAsQ9YngnBx5
Kali ini Ara berlatih seorang diri.
Rasa takut saat menjelajahi hutan sudah menghilang. Dia bahkan tidak tahu sejak kapan rasa takut itu hilang. Ini bukan kali pertama dia berlatih seorang diri. Beberapa kali dilakukannya karena si laki-laki harus mengantarkan pesanan besi ke desa tetangga yang biasanya akan pulang setelah dua hingga empat hari atau bahkan sepekan.
Setelah selesai melatih gerakan Yi dan Yang, dia lanjut berlatih ilmu pedang yang hampir sempurna. Beberapa hari yang lalu, dia bahkan mampu mengalahkan si laki-laki hanya menggunakan beberapa jurus. Dari semua latihan fisik yang dilaluinya, ilmu pedang lah yang memimpin. Meskipun demikian, si laki-laki belum mengizinkannya menggunakan pedang asli.
Dia masih menggunakan pedang kayu yang dibuatkannya secara khusus oleh si laki-laki. Warnanya coklat tua dan ada ukiran nama Ara di ujung pemegang pedangnya.
Du tengah latihan ilmu pedangnya, tiba-tiba dia mendengar langkah kaki orang berjalan yang mendekat. Dia segera bersembunyi untuk berjaga-jaga. Saat melihat si perempuan yang datang, dia pun keluar dari tempat persembunyiannya lalu menghampirinya.
"Kenapa Anda kemari?" tanya Ara yang teta menggunakan bahasa sopan setiap kali berbicara kepala si perempuan maupun si laki-laki.
"Ini," jawab si perempuan sambil memamerkan apa yang dibawanya.
"Kentang rebus?" sebut Ara.
Si perempuan tersenyum lalu menyerahkan apa yang dibawanya pada Ara. Kemudian, di perempuan melangkah menuju makam putrinya. Ini adalah kebiasaan si laki-laki dan si perempuan setiap kali datang ke sana. Mereka selalu memberikan penghormatan terlebih dahulu.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu? Tapi aku minta maaf jika terdengar lancang," kata Ara memberanikan diri.
"Apa?"
Kenapa Anda selalu memberikan penghormatan pada putri Anda?" tanya Ara berusaha berhati-hati.
Si perempuan tersenyum pilu.
"Putri Anda pasti merasa terhormat dan bahagia memiliki orang tua seperti Anda dan suami," puji Ara menambahkan karena merasa tidak enak hati.
"Kami menganggapnya sebagai Tuan Putri. Kami memperlakukannya demikian sejak Tuan Putri lahir." Jawab si perempuan.
"Orang lain pasti merasa iri dengan putri Anda," balas Ara.
Si perempuan hanya mengumbar senyum tipis dan merasa aneh tidak melihat Ara terkejut saat dia mengatakan Tuan Putri.
"Bagaimana denganmu? Apakah orang tuamu memperlakukanmu dengan baik juga?" tanya si perempuan balik.
Ara mengalihkan pandangannya ke depan dan teringat kedua orang tuanya.
"Tentu saja. Mereka berusaha keras bekerja untuk tetap bisa membiayai semua kebutuhan kami. Mereka tidak mengenal lelah. Terus bekerja keras agar kami tidak direndahkan dan juga agar kami memiliki tempat tinggal yang layak. Mereka juga merelakan anak sulungnya belajar di negeri orang yang lebih makmur sehingga suatu hari nanti anak itu bisa kembali dan memakmurkan keluarga kecilnya." Jawab Ara miris.
Si perempuan mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.
"Tapi pada akhirnya, anak itu akan mengecewakan mereka." Lanjut Ara sengaja mengambil jeda karena matanya sudah berkaca-kaca.
Setiap kali terbayang orang tuanya, Ara memang selalu mengeluarkan air mata. Dia merindukan kedua orang tuanya dan adik perempuannya sejak dia masuk sekolah asrama di bangku SMP. Akan tetapi, kerinduan itu tidak pernah terobati hinga kini dia menginjak umur yang ke-26 tahun. Waktu bahkan tidak mampu mengobati kerinduannya, tetapi waktu mampu membantunya untuk merasa terbiasa.
"Entah anak itu akan kembali dengan selamat atau tidak. Mungkin, anai itu sudah kembali hanya dengan nama," lanjut Ara dengan lirih.
Karena gua masih di sini.35Please respect copyright.PENANAtvsOJyXquE
Mereka pasti nggak menemukan jasad gua. Jelas itu bikin mereka nangis.35Please respect copyright.PENANAGqsYe46kF2
Gua adalah anak itu. Anak yang mengecewakan orang tuanya.
Air mata Ara menetes saat dia menundukkan kepala. Rasa pilu mulai menggerogotinya tanpa ampun.
Si perempuan mendekatkan tubuhnya lalu memeluk Ara dan menepuk-nepuk punggungnya perlahan untuk menenangkan Ara.
"Kamu bisa menganggapku sebagai ibumu, Ara. Dan suamiku sebagai ayahmu. Kamu pasti merindukan mereka, bukan? Di sini ada aku. Semua akan baik-baik saja."
Ara agak merenggangkan pelukan lalu menatap si perempuan.
"Sungguh aku boleh melakukannya?" tanya Ara penuh harap.
"Iya, tentu saja. Meskipun kami gagal melindungi nyawa putri kami, tapi kali ini percayalah, kami pasti bisa membantumu kembali ke asalmu. Di mana pun itu, selama kami masih bernapas, kami pasti akan membantumu." Jawab si perempuan dengan tulus.
Ara terharu. Air matanya pun kembali menetes.
"Terima kasih, Ibu." Balas Ara agak canggung saat menyebut ibu.
Si perempuan kembali memeluk Ara dengan hangat.
Mama...35Please respect copyright.PENANA3phx6jueao
Bapak...35Please respect copyright.PENANA3rQsOyRDE6
Maaf, Ndok udah mengecewakan kalian.35Please respect copyright.PENANAo6fQ3OmyWo
Semoga nama Ndok belum sampai rumah.35Please respect copyright.PENANA4AO0HV8u94
Ndok lagi mengusahakan cari jalan pulang. Tolong tunggu sebentar lagi.
Ara memeluk balik si perempuan sambil menahan pilu di hatinya.
Bertahun-tahun dia bisa bertahan menangani segalanya sendirian, menahan semua perasaan yang membebaninya. Kali ini, dia juga akan memastikan bahwa dirinya bisa menangani semua yang dialaminya di negeri antah berantah tersebut. Apa pun itu, meskipun taruhannya adalah nyawa untuk bisa kembali, dia akan melaluinya tanpa menyerah.
Tekad kuat itu membantu mendorong semangatnya.
Jika benar doa-nya terkabul, mungkin bantuan yang dikirim oleh Allah SWT adalah si perempuan dan si laki-laki tersebut.
35Please respect copyright.PENANApZBXTJaUbs
35Please respect copyright.PENANAJt6bAEyP43
35Please respect copyright.PENANAbvmcW3wDEn
Bersambung...
35Please respect copyright.PENANAPe835OysgC
35Please respect copyright.PENANAtlmKt6B9WY
35Please respect copyright.PENANAZmiEwiAZFM
35Please respect copyright.PENANAtmG19FlYrW
35Please respect copyright.PENANAjXfSrX3ZvS


