Ara selesai mengganti pakaiannya.
Bukannya ini baju cowok?
Tanpa berpikir lebih lama lagi, Ara mengenakan hijab hitam polosnya yang senada dengan pakaian yang disediakan oleh si perempuan. Beruntung saat itu dia mengenakan hijab pashmina, jadi di tempat ini pun dia hanya membutuhkan bahan kain polos panjang sudah bisa dijadikan hijab. Kemudian, dia menutupi wajahnya dengan kain lain yang juga berwarna hitam. Hal terakhir adalah mengenakan topi jerami yang juga berwarna hitam. Setelah selesai, dia keluar kamar.
"Nyaman?" tanya si perempuan.
Ara hanya menganggukkan kepala.
"Kenapa aku harus memakai semua ini? Bukankah ini sudah malam?" tanya Ara.
"Kamu bukan rakyat negeri kami. Wajahmu terlalu mencolok. Itu untuk berjaga-jaga meskipun tidak ada yang melihat. Kamu harus ingat, kamu harus tetap hidup jika ingin kembali ke asalmu," yang menjawab si laki-laki dengan tegas seperti biasanya.
Jika diperhatikan, sikap si laki-laki hampir sama dengan bapak Ara. Selalu tegas, serius, dan jarang bisa diajak bercanda. Akan tetapi, berbeda dengan adiknya yang selalu bisa bercanda dengan bapaknya. Terkadang Ara merasa iri dengan adiknya dan terkadang juga bersyukur melihat adiknya bisa selalu ceria dan bisa bercanda ria dengan kedua orangnya. Ya, setidaknya apa yang tidak bisa dilakukannya pada orang tuanya, adiknya bisa melakukannya.
"Kembalilah sebelum fajar. Kita harus pergi bersama di perkumpulan besok pagi. Jangan sampai ada yang curiga akan kehadiran Ara," si perempuan mengingatkan.
Si laki-laki menganggukkan kepala lalu pamit.
32Please respect copyright.PENANAqJKvvG6oWB
^ ^ ^
32Please respect copyright.PENANAaRQkToPX7j
Ara mengikuti setiap langkah si laki-laki keluar dari desa menuju kaki gunung. Selama diperjalanan, mereka tidak bertemu siapa pun. Dikarenakan peraturan yang ada, semua rakyat harus berada di kediamannya masing-masing saat petang tiba.
Kaki Ara tiba-tiba berhenti mengikuti si laki-laki saat mendengar suara langkah kaki. Mereka berdua bersembunyi di balik dinding rumah rakyat yang dipenuhi tumbuhan. Dua orang prajurit yang mendapat tugas menjaga desa tengah berkeliling untuk berpatroli. Setelah dua orang prajurit itu menjauh, Ara dan si laki-laki kembali melanjutkan perjalanan.
Ketika memasuki hutan, si laki-laki membawa obor bambu yang berada di balik semak pohon. Dinyalakannya lalu kembali berjalan.
"Kamu harus ingat semak belukar yang itu. Untuk melewati hutan, kamu butuh ini. Nanti saat kembali pulang, simpan di tempat semula." Seru si laki-laki.
"Baik," jawab Ara pendek.
Selama melewati hutan, Ara merasa takut. Dia terus mengikuti langkah di laki-laki tanpa jeda.
"Kamu lihat tanda kain merah itu?" tunjuk si laki-laki pada sebuah ranting.
"Iya," jawab Ara.
"Kamu harus ikuti tanda itu untuk bisa tiba di kaki gunung. Jika tidak, kamu akan tersesat. Kaki gunung yang kita tuju adalah kaki gunung yang paling ditakuti semua orang. Bahkan tidak ada satu pun yang berani ke sana. Jadi, kamu harus berhati-hati." Jelas si laki-laki.
"Ya," jawab Ara mulai merasa tidak nyaman.
Setelah berjalan kurang lebih setengah jam, mereka tiba di tempat tujuan. Si laki-laki menuju sebuah pondokan kecil yang terbuka lalu menyalakan obor lain yang ada di sana. Ketika itu, mata Ara dapat melihat sebuah gundukan tanah besar yang berada tepat di samping kiri pondokan kecil tersebut. Si laki-laki mengajak Ara. Si laki-laki membungkukkan badan memberikan penghormatan. Ara mengikutinya dengan ragu.
"Ini adalah makam putri kami," si laki-laki memberitahu.
Ara hanya menganggukkan kepala satu kali.
Setelah itu, mereka menuju tanah lapang yang berada di samping kanan pondokan kecil tersebut. Ara bisa mendengar suara jangkrik yang berbunyi di malam hari dengan begitu jelas. Terdengar juga suara hewan lain yang asing di telinganya. Dia berusaha mengabaikannya dan fokus pada pelajaran terakhirnya.
32Please respect copyright.PENANAy6IqDy0TPN
^ ^ ^
32Please respect copyright.PENANAGaq4MaFvIx
"Kali ini kamu akan belajar ilmu pedang, memanah, berkuda, berburu, dan ilmu dalam." Kata si laki-laki lalu mengambil jeda sesaat.
Ilmu dalam?32Please respect copyright.PENANAocKdzD8Pov
Udah kayak Doctor Strange aja.32Please respect copyright.PENANAgfjt9oIOWi
Ini seriusan? Makin nggak masuk akal, deh. 32Please respect copyright.PENANAm4tfKiv7O8
Emangnya gua mau jadi anggota Hwarang apa? Pakai latihan beginian segala.32Please respect copyright.PENANAI2RzeGwKJk
Yang bener aja, deh, ah!
"Karena bahu tangan kananmu patah, kita akan perbaiki yang dalam dulu. Yi dan Yang di dalam dirimu tidak seimbang, juga tidak beraturan. Jika beruntung mungkin bisa sembuh total dan jika tidak kamu tetap harus menerimanya. Setidaknya itu masih cukup berfungsi dan masih bisa digunakan." Lanjut si laki-laki tanpa ragu.
Dia tahu tentang bahu gua?
Ara memperhatikan si laki-laki untuk sesaat.
Sebenarnya, dia siapa?32Please respect copyright.PENANAeKZwmbUb2T
Gua nggak tahu lagi ini di dunia macam apa. Tapi orang yang ada di depan gua adalah satu-satunya orang yang tahu kalau bahu gua patah meskipun cuman lihat sekilas. Dokter sekalipun harus nunggu hasil tes baru tahu kondisi bahu gua. 32Please respect copyright.PENANAVm9Luo38UZ
Gua harap, ini cuman mimpi. 32Please respect copyright.PENANAsf8CaagStU
Tapi kalau begini, gua beneran bisa jadi the next of doctor strange.
Ara buru-buru menetralkan pandangannya tanpa kentara saat menyadari si laki-laki menetapnya hangat. Tampak seperti seorang ayah terhadap putrinya.
"Bagaimana bisa kamu melewati hari dengan kondisi bahu seperti itu? Pasti berat, bukan?" ucap si laki-laki.
Pertanyaan itu seketika menghancurkan balok es yang selama ini dibangun Ara dengan kokoh.
"Seperti yang Anda bilang, aku tetap harus menerimanya. Setidaknya ini masih cukup berfungsi dan masih bisa digunakan." Jawab Ara membalikkan kembali ucapan si laki-laki dengan lugas.
Si laki-laki tersenyum miris mendengarnya.
"Kamu sudah melakukan segalanya dengan sangat baik," puji si laki-laki dengan tulus. Tiba-tiba saja air mata Ara menetes tanpa izin. Menyadari itu, Ara membuang pandangan ke arah lain sambil mengusap air matanya dengan asal. Dihembuskan nya napas perlahan untuk menenangkan gemuruh di hatinya lalu kembali menoleh ke arah si laki-laki.
"Terima kasih, Anda sudah bertanya. Terima kasih juga, Anda sudah mengatakan bahwa aku melakukannya dengan sangat baik." Kata Ara yang tidak mampu membendung air matanya yang mengalir begitu saja.
Si laki-laki melangkah mendekat lalu menepuk bahu kiri Ara perlahan.
Semoga Dede selalu dapat kasih sayang dan cinta dari Mama-Bapak lebih dari cukup, biar nggak merasakan apa yang gua rasakan.
"Bisa kita mulai?" tanya si laki-laki setelah beberapa saat.
Ara menganggukkan kepala. Perasaannya sudah cukup tenang.
Si laki-laki mulai mengajarkan beberapa gerakan yang katanya berguna untuk menyeimbangkan Yi dan Yang di dalam diri Ara. Tepat di sampingnya, Ara mengikuti setiap gerakan dengan serius dan fokus. Gerakan itu terus berlanjut hingga Ara mulai terbiasa. Lalu dilanjutkan berlatih ilmu pedang dari tahap paling dasar.
Ini adalah tantangan berat bagi Ara.32Please respect copyright.PENANAGGzCftfQrd
Alasannya adalah karena ini kali pertama belajar ilmu pedang yang hanya dilihatnya di televisi dan ini kali pertama dia melakukan latihan fisik setelah kecelakaan yang membuat bahunya patah beberapa tahun lalu.
32Please respect copyright.PENANApcnEgVUe5h
32Please respect copyright.PENANAOZ7aU8Zzxj
32Please respect copyright.PENANAbNK0KgENi4
Bersambung...
32Please respect copyright.PENANA0B6PVgJNLM
32Please respect copyright.PENANAtY0zKQ7Fux
32Please respect copyright.PENANAI6C98syyYl
32Please respect copyright.PENANACxwsLFqul2
32Please respect copyright.PENANA2OEPyrMOZu


