Si perempuan berdiri di depan rumah dengan tegang menunggu si laki-laki. Suaminya itu tidak kunjung pulang untuk menyelesaikan penyelidikan mengenai sosok Ara. Beruntung dia dan suaminya menemukan Ara tepat waktu. Jika tidak, kemungkinan Ara yang dibawa prajurit tidak akan pernah kembali. Dia tidak ingin kehilangan siapa pun lagi.
Tidak lama kemudian, suaminya timbul di ujung jalan. Dia langsung berlari menyambut suaminya.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Kata si laki-laki tanpa menunggu si perempuan bertanya.
Si perempuan menghembuskan napas lega.
Si laki-laki tersenyum lalu memeluk lembut istrinya dengan kasih sayang. "Kita harus melepaskannya," seru si laki-laki memberitahu.
"Apa maksudnya?" tanya si perempuan.
"Anak itu, kita harus melepaskannya." Ulang si laki-laki dengan berat.
Si perempuan bungkam sambil menatap suaminya.
"Nyawanya akan terancam jika kita membiarkannya di sini. Begitu juga dengan nyawa kita." Jelas si laki-laki.
"Nyawanya lebih terancam jika kita melepaskannya. Kamu lebih tahu itu. Nyawa kita? Aku sudah pernah kehilangan nyawaku saat kehilangan Putri Yi Ara. Sekarang aku tidak mau kehilangan siapa pun lagi. Aku mohon." Jawab si perempuan sambil menitikkan air mata. Kesedihan menyelimuti mimik wajahnya yang ditekuk.
Si laki-laki menghembuskan napas berat.
40Please respect copyright.PENANAd8jaatt64Y
^ ^ ^
40Please respect copyright.PENANAKNYdCizQxp
"Kita harus membekalinya, jika memang harus melepaskannya pergi." Lanjut si perempuan sambil menatap serius ke arah si laki-laki.
Si laki-laki menganggukkan kepala menyetujuinya.
"Ayo, waktunya tidak banyak." Kata si laki-laki.
Mereka mengetuk pintu kamar yang ditinggali Ara lalu masuk ke dalamnya. Ara sudah bangun dan bersimpuh lemas di ujung ruangan. Dia kehilangan semangat. Dia benar-benar kacau. Berada di tempat asing, bahasa asing, dan budaya asing membuatnya kehilangan akal.
Jika ini nyata, setidaknya dia harus punya Visa berada di negara lain. Setidaknya dia bisa berkomunikasi dengan bahasa global alias Bahasa Inggris. Setidaknya dengan komunikasi dia bisa mengatasi situasinya. Akan tetapi, berada di sini, Joseon, semua itu tidak masuk akal.
Ini nggak lucu.40Please respect copyright.PENANAkFLWRaw2h3
Dikira kayak drama Faith? Moon Lovers? Kembali ke zaman dulu terus bisa balik lagi ke zaman modern, gitu? Kan, itu cuman drama bukan nyata.40Please respect copyright.PENANAZ1NVvC2dJv
Tapi kenapa ini nyata? 40Please respect copyright.PENANAaxNrfdZhug
Kenapa!!!
Si perempuan menyentuh punggung tangan Ara pelan.
Ara mengangkat kepalanya. Si laki-laki dan si perempuan sudah berada di dalam kamar yang ditinggalinya tanpa disadarinya karena melamun.
Si perempuan menggunakan bahasa isyarat memberitahu Ara bahwa dia ingin mengajari Ara sesuatu. Saat si laki-laki membawa tumpukan kertas kosong, kuas, dan sebuah benda tampak seperti batu kotak hitam, Ara langsung paham.
40Please respect copyright.PENANAISNuR4pbqw
^ ^ ^
40Please respect copyright.PENANAGvNejjIHNW
Pelajaran pertama Ara adalah baca, tulis, dan berbicara. Ara mengikuti ajaran yang diberikan si laki-laki dan si perempuan dengan serius dan fokus. Meskipun demikian, dia tetap harus waspada. Mereka adalah pembunuh. Kapan saja dia bisa mati jika keduanya menginginkannya.
Hari berlalu begitu panjang. Baru kali ini dia merasa menggunakan otaknya sangat maksimal. Belajar baca, tulis, dan berbicara dalam waktu singkat membuat otaknya langsung berlebihan muatan. Dia bahkan bisa Bahasa Inggris dan Bahasa Arab dalam kurun waktu enam tahun.
Waktu istirahatnya hanya tidur dan makan.
Namun, ada yang membuatnya selalu muram, yaitu dia tidak bisa mendirikan sholat. Dia tidak tahu cara untuk menjelaskannya. Bisa-bisa dia langsung digorok pedang. Beruntung dia masih bisa mempertahankan menutupi kepalanya.
Dia tidak diperbolehkan keluar rumah. Nyawanya bisa melayang jika berani keluar rumah. Dia pernah sekolah asrama selama enam tahun dan pernah mengurung diri sendiri selama tiga tahun, jadi sekarang harus menetap di rumah dan sibuk belajar, bukanlah hal yang sulit, karena baginya yang sulit adalah tidak bisa mendirikan sholat.
Itu sangat menyiksanya. Nyawa memang tidak bisa dibandingkan dengan mendirikan sholat. Tetapi bagaimanapun juga, dia harus tetap hidup dan mencari cara untuk pulang. Ada yang harus dilakukannya pada kedua orang tuanya. Jadi, apa pun itu, dia harus bertahan sekuat tenaga agar bisa kembali. Hidup-hidup.
Pelajaran kedua adalah praktik.
Kali ini dia diajari memasak dan menjahit sambil mempraktikkan dalam berbicara. Apa pun yang dia lakukan, apa pun yang dia pegang, dan apa pun yang dia lihat harus dipraktikkan dalam berbicara. Setelah 1 bulan berlalu, dia mulai bisa berkomunikasi dengan si laki-laki dan si perempuan meskipun masih belum fasih.
Dia juga terbiasa dipanggil Ara oleh keduanya. Mereka bilang nama Ara adalah nama putri mereka yang sudah wafat saat masih kecil. Mereka tidak tahu saja, bahwa namanya juga Ara. Lebih tepatnya Yiara.
"Sekarang kamu sudah cukup paham dengan bahasa kami, bukan?" tanya si perempuan saat sedang makan malam.
Ara menganggukkan kepala pelan. Rasa takut masih menetap di dalam dirinya setiap kali melihat pasangan suami-istri itu. Ingatan pertemuan pertama siang itu selalu muncul di dalam mimpinya. Bayangan pedang dan darah. Potongan tangan dan sayatan leher. Itu selalu menghantuinya dan dia tetap berusaha untuk tegar.
"Namamu siapa?" lanjut si perempuan bertanya.
Ara berhenti mengunyah makanannya mendengar pertanyaan itu.
Dikarenakan tidak ada jawaban dari Ara, si laki-laki bersuara.
"Asalmu dari mana?" si laki-laki bertanya.
Ara menundukkan kepala diam menahan ketakutannya sendiri. Dia tidak boleh mati di sini. Dia harus bertahan sedikit lebih lama lagi. Dia menyemangati diri sendiri dan tidak mau menyerah. Dia memang pernah menyerah sekali, dan itu tidak akan pernah terulang kembali.
"Tiongkok? Bangsa Ming?" lanjut si laki-laki.
Ara mengangkat wajahnya perlahan lalu menoleh ke arah di laki-laki dengan ketakutan yang disembunyikannya. Dia pun menggelengkan kepala.
"Jepang?" si laki-laki kembali bersuara dengan penekanan menunjukkan bahwa dia menahan amarahnya yang kapan saja bisa meledak.
Ara menggelengkan kepala lagi lebih cepat dari sebelumnya.
"Saya bukan berasal dari negeri yang bisa mengancam nyawa kalian ataupun negeri ini. Jadi, kalian tidak perlu khawatir." Ara memberanikan diri.
Mereka berdua saling pandang bertanya-tanya dalam hati.
"Kalian bisa mempercayai ucapanku," Ara menambahkan.
"Kenapa kamu datang ke negeri kami? Apa tujuanmu?" tanya si laki-laki lagi.
Ara menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu," jawab Ara jujur.
"Apa maksudmu, tidak tahu?" si laki-laki terus bertanya.
"Aku tidak tahu kenapa siang itu aku ada di sana," jawab Ara kembali jujur.
"Kamu tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya?" kali ini si perempuan ikut bersuara dengan lembut.
Ara menganggukkan kepala.
"Jadi kamu juga tidak ingat namamu?" lanjut si perempuan.
Ara hanya menundukkan pandangan.
"Oh, ya ampun. Malangnya nasibmu," seru si perempuan merasa iba.
"Jangan khawatir. Kamu pasti bisa kembali. Kamu harus kuat dan jangan pernah menyerah," lanjut si perempuan memberikan semangat sambil mengusap punggung tangan Ara.
Bisakah gua kembali?
Ara hanya menganggukkan kepala lemah.
"Selesaikan makanmu. Kita harus melanjutkan pelajaranmu. Ini adalah pelajaran terakhir. Mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama." Si laki-laki memotong.
Lebih lama?
Ara menurut dan segera menyelesaikan makannya.
40Please respect copyright.PENANAojCHfHA0PU
40Please respect copyright.PENANA6yIvRAFETC
40Please respect copyright.PENANAUOYcHKpmIg
Bersambung...
40Please respect copyright.PENANA85jytLfLKC
40Please respect copyright.PENANAKD12rmC7QS
40Please respect copyright.PENANAlTAR4qm35M
40Please respect copyright.PENANAcJiYgaNFnB


