Si ikat kepala biru terus mengikuti langkah kaki laki-laki yang berpakaian layaknya bangsawan mengelilingi hitan di sekitar Desa Yuhan. Rasa lelah mulai menggerogoti tubuhnya. Sejak semalam belum beristirahat mencari keberadaan Pemimpin Jung dan Putri Yi Ara. Mereka tidak mungkin kehilangan Pemimpin Jung yang paling hebat dalam ilmu pedang di perguruan.
"Kenapa belum ketemu juga! Padahal jejaknya berhenti di sini!" Si laki-laki bangsawan mulai kesal dan marah.
"Anda bisa istirahat dulu, biarkan saya yang melanjutkan pencarian." Kata si ikat kepala biru menenangkan.
"Menurutmu, apakah mereka sudah jauh?" tanya laki-laki bangsawan.
"Sepertinya begitu. Kita tahu kemampuan Pemimpin Jung. Jika hingga saat ini kita belum bisa menemukannya, sepertinya Putri Yi Ara tidak bisa diremehkan." Jawab si ikat biru mengemukakan pendapatnya.
"Tenang saja, Putri Yi Ara punya kelemahan dan kita tidak." Sambung laki-laki bangsawan yang tampak bengis.
Tiba-tiba ada suara di kejauhan. Si ikat kepala biru dan laki-laki bangsawan beserta anggota pakaian hitam yang lainnya berlari menuju arah suara.
"Ada apa?" tanya laki-laki bangsawan.
"Itu," tunjuk laki-laki yang bersuara ke pohon besar di kejauhan.
Si ikat kepala biru langsung berlari dengan cepat.
Laki-laki bangsawan ikut berlari menuju arah yang sama. Si ikat biru luruh jatuh berlutut ke tanah. Si laki-laki bangsawan ikut membeku diam di tempatnya melihat apa yang ada di balik pohon tersebut. Mereka semua tidak ada yang bersuara. Mayat Pemimpin Jung yang berlumuran darah sudah memutih. Terlihat jelas keterpurukan di wajah si ikat kepala biru.
Si laki-laki bangsawan memberikan perintah pada rombongan untuk menjauh dengan tangannya. Mereka semua patuh dan mundur menjauh. Setelah itu, dia menggenggam bahu kiri si ikat kepala biru untuk menenangkannya.
"Aku tahu kamu lebih menyayangi Pemimpin Jung dibandingkan aku, tapi ini bukan waktu yang tepat bagimu menjadi lemah." Seru laki-laki bangsawan pelan.
Si ikat kepala biru mendongakkan kepala ke arah laki-laki bangsawan.
"Maaf, Hyun Tak. Aku belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Mulai detik ini, aku beri izin padamu, penggal siapa pun yang melakukan ini terhadap Pemimpin Jung." Lanjut laki-laki bangsawan.
"Terima kasih, Kak." Jawab si ikat kepala biru, Hyun Tak, menyebut laki-laki bangsawan dengan kakak. Dia memang memanggil laki-laki bangsawan dengan sebutan kakak setiap kali sedang berdua dan tetap memanggil Tuan Muda jika di hadapan banyak orang agar menjaga formal di antara mereka.
"Kamu isi posisi Pemimpin Jung dan lakukan tugasmu. Kamu tidak perlu lagi mengawal ku. Nanti biar aku yang bicara pada Ibu." Ucap laki-laki bangsawan memberikan perintah.
Hyun Tak menganggukkan kepala patuh.
Siapa pun dirimu, di mana pun kau berada, aku akan menemukanmu. Aku akan membunuhmu seperti kau membunuh Pemimpin Jung.
Batin Hyun Tak dalam hati.
Baginya, Pemimpin Jung adalah kakak sekaligus guru. Orang yang mengajarinya ilmu pedang dan menyayanginya sepenuh hati tanpa pamrih. Orang yang membuatnya tetap bertahan saat hidup menjadi bulan-bulanan ibu tiri. Dia berjanji tidak akan mengampuni siapa pun yang telah melakukan hal tersebut pada kakak sekaligus gurunya itu.
Nyawa harus dibayar dengan nyawa pula.
10Please respect copyright.PENANAFUvzW2VyRY
^ ^ ^
10Please respect copyright.PENANAPLSEQkjLDK
Hari mulai gelap.
Matahari mulai kembali ke singgasananya.
Han Joon yang selalu ditemani pengawalnya tengah dalam perjalanan pulang ke rumah setelah pelatihannya selesai. Dia selalu berlatih ilmu pedang di hutan yang paling dekat dengan desa tempat tinggalnya.
"Itu apa?" tanya Han Joon pada pengawalnya.
Pengawalnya memajukan kudanya ke depan kuda yang ditunggangi Han Joon untuk bisa melihat dengan jelas. Ada gumpalan asap putih mendekati tempat mereka.
"Asap," sebut pengawalnya pelan.
"Apa kamu melihat hal lain selain asap?" tanya Han Joon.
Pengawalnya menjawab dengan gelengan kepala.
"Kamu yakin?" tanya Han Joon memastikan.
Pengawalnya yang masih melihat ke arah asap tersebut yang semakin mendekat, merasa ada yang tidak beres. Dia segera membalikkan badan menghadap Han Joon.
"Mundur, Pangeran. Cepat!"
Ketika itu, ada suara lonceng dari arah belakang mereka tetapi tidak ada apa-apa di sana. Asap itu hampir menelan keduanya. Han Joon dan pengawalnya berusaha untuk pergi tetapi kuda mereka tidak mau bergerak. Mereka panik bukan main. Saat pengawalnya Han Joon ingin melindungi Han Joon, dia pun tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Asap putih yang menggumpal itu menerjang mereka. Han Joon dan pengawalnya merasa ringan bagai kapas. Mereka tidak sadarkan diri dan terjatuh ke tanah dengan perlahan.
Seorang perempuan cantik muncul saat gumpalan asap itu menghilang bersama beberapa laki-laki. Perempuan cantik itu mendekati tempat Han Joon. Dia memperhatikan wajah Han Joon dengan seksama lalu tangannya menyentuh pipi Han Joon.
"Kau begitu tampan, Pangeran Yi Joon, bahkan bunga-bunga yang baru bermekaran pun akan kuncup kembali karena tidak sanggup melihat ketampanan mu. Akhirnya, aku menemukanmu." Katanya lembut.
Setelah itu, dia berdiri dan melangkah pergi.
Beberapa laki-laki yang datang bersamanya segera mengangkat tubuh Han Joon dan pengawalnya lalu ikut pergi mengekori perempuan cantik tersebut.
10Please respect copyright.PENANAmoBIDEBxHE
10Please respect copyright.PENANAqWvFEWYYfk
10Please respect copyright.PENANAltKMjK91P3
Bersambung...
10Please respect copyright.PENANAktRRLXbMQq
10Please respect copyright.PENANAH7RoJiJRl7
10Please respect copyright.PENANAX4kTNFKILp
10Please respect copyright.PENANALFege8AEjh


