Perlahan jemari Ara bergerak.
Dibukanya matanya lalu mengerjap ringan hingga penglihatannya terang. Matanya mengedar ke sekelilingnya dengan cepat. Pepohonan besar di sekitarnya membuatnya tersadar. Dia ingat bahwa sebelumnya, dia terjatuh dan menggelinding hingga berhenti mengenai pohon yang sekarang berada di punggungnya. Dilihatnya tangan dan bajunya yang dipenuhi bercak darah.
"Oh, mengerikan." Desahnya pelan.
Kejadian mengerikan yang dialaminya kembali muncul di permukaan. Tangannya menggenggam erat. Dia berusaha menahan segala perasaan dan mencoba untuk bertahan, sendiri.
"Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja." Katanya mengulang kata-kata itu untuk menenangkan dirinya sendiri.
Menyedihkan...
Batinnya berbisik.
Air matanya mengalir begitu saja. Udara dingin dapat dirasakannya. Angin yang berhembus pelan menerpa kulit wajahnya yang tidak tertutupi lagi. Dicarinya kain penutup wajahnya yang masih terikat di belakang kepalanya. Hatinya lega saat menyadari topi jeraminya juga masih ada terikat kuat meskipun tidak tepat di kepalanya.
Dia segera membenarkan letak topi jeraminya dan kain penutup wajahnya layaknya cadar seperti biasanya. Dia berusaha menggerakkan kaki tetapi tiba-tiba tanah di sekitarnya beruntuhan. Dibatalkannya niatnya untuk bergerak. Dia kembali diam di tempatnya.
"Kenapa ini bukan mimpi? Kenapa ini nyata? Ah, bikin gua frustasi. Gua nggak tahu harus ngapain sekarang. Kenapa gua terdampar di sini, sih?! Tempat ini mengerikan. Ini lebih ngeri ketimbang mimpi buruk. Seriusan gua pengen pulang." Katanya lirih.
"Enak IU terdampar di tempat yang banyak pangerannya. Mana ganteng-ganteng lagi. Dokter cantik itu juga selalu dilindungi Lee Min Ho. Lha, gua..." Ara mengambil jeda. "...gua membunuh mereka semua." Lanjutnya dengan lemah.
Ara kembali diam.
Dia merasa lelah.
"Gua nggak tahu situasinya di sini. Gimana gua menjalaninya? Bentar! Ini Joseon, kan? Joseon...? Halah, gua nggak tahu tentang Joseon. Gua aja bukan orang Korea. Gua nggak tahu tentang sejarah Korea. Jurusan gua Sastra Inggris bukan Sastra Korea. Mana tahu gua sejarahnya!"
Ara jadi kesal sendiri.
"Masih mending IU dan dokter cantik itu yang emang orang Korea, setidaknya tahu sejarah negaranya. Lha, gua?"
Ara mengomel sendiri.
"Moon Lovers, Goryeo. Faith, Goryeo kah? Joseon kah? Nggak tahu, ah. Kalau Hwarang, Silla. Tiga drama itu nggak bantu gua sama sekali. Gua nggak terlalu suka drama kolosal, lagi. Gua harus giman? Gimana? Gimana? Gimana?!" Ara terus berbicara sendiri. Dia kehabisan akal, benar-benar gila, bahkan berbicara sendiri, kesal sendiri, bertanya sendiri, dan menjawab sendiri.
Tiba-tiba perutnya berbunyi.
"Lapar," ucapnya.
Digerakkannya kembali kakinya perlahan. Tanah di sekitarnya pun runtuh lagi. Diperhatikannya reruntuhan tanah tersebut yang menuju bawah. Banyak pepohonan dan semak-semak belukar di bawah sana. Akhirnya dia memaksakan diri untuk terjun ke bawah sana dengan berani. Benar saja, dia jatuh seperti sebelumnya menggelinding menabrak ranting-ranting kering dan dedaunan di semak-semak hingga berhenti di salah satu bebatuan besar sambil berpegangan erat.
Kain penutup wajahnya tidak membantunya terkena goresan ranting-ranting kering. Dilepaskannya pegangannya lalu loncat ke tanah yang tidak jauh berada di bawahnya. Dia berhasil mendarat dengan selamat.
16Please respect copyright.PENANA18TP6BwFMg
^ ^ ^
16Please respect copyright.PENANAusfaHa3gLf
Pandangan mara Ara langsung menyapu daerah sekitarnya.
Dia melihat area pemukiman rakyat tidak jauh dari tempatnya berdiri. Suasana di sana begitu sepi. Fajar yang baru saja muncul belum membangunkan siapa pun yang tinggal di sana. Matanya menangkap setelan pakaian laki-laki di halaman sebuah rumah yang paling dekat dari tempatnya. Diambilnya dengan cepat lalu mencari tempat untuk mengganti bajunya yang penuh bercak darah.
Setelahnya, dia mencari air di sumur terdekat untuk mencuci tangannya yang juga berlumuran darah yang sudah mengering. Saat membasuh wajahnya, rasa perih dirasakannya di beberapa bagian. Memang benar ada luka gores ranting kering di wajahnya. Dibasuhnya lembut lalu kembali mengenakan kain penutup wajah dan topi jeraminya. Setelah selesai, dia segera meninggalkan rumah tersebut yang masih sepi.
Ditelusuri jalan desa yang masih sepi dengan waspada.
Ketika itu, ada sebuah gerobak terguling dan kaki laki-laki tua yang ada di sana tertimpa karenanya. Seorang laki-laki muda tampak kesulitan membantu laki-laki tua tersebut dan gagal. Entah kenapa kaki Ara bergerak ke sana. Dia membantu mengangkat gerobak itu agar laki-laki tua bisa menarik kakinya yang tertimpa.
"Terima kasih," kata laki-laki tua yang terlihat berusia 60 tahun ke atas.
Ara hanya menganggukkan kepala satu kali lalu melangkah pergi.
"Tunggu, Tuan Muda!" suara laki-laki muda itu membuat kaki Ara berhenti tanpa menoleh ke belakang. Laki-laki muda itu berlari menghampiri tempatnya berdiri. Dia memberikan sesuatu kepada Ara.
"Terima kasih sudah membantu Kakekku. Aku tidak punya apa-apa selain ini. Tolong diterima. Ini masih hangat." Kata laki-laki muda itu sambil menyerahkan sebuah bungkusan pada Ara.
Ara menerimanya dengan ragu. Matanya sempat bertatapan dengan laki-laki muda itu untuk sesaat sebelum laki-laki muda itu kembali ke tempat kakeknya. Dia pun kembali melangkah.
"Kakek, Tuan Muda itu pasti tampan. Matanya indah sekali," ucap laki-laki muda itu pada kakeknya dan Ara dapat mendengarnya samar-samar sambil terus berjalan menjauh.
Setelah merasa cuku jauh, Ara membuka bungkusan itu. Kentang dan ubi jalar rebus. Dia mendesah pelan. Rasa bosan terus mengudara setiap kali melihat kentang dan ubi jalar rebus. Itu adalah makanan pokok yang selalu dimakannya selama tinggal bersama si laki-laki dan si perempuan.
"Makanan ini yang bikin gua kurus kerontang kayak sekarang," desahnya pelan sambil melihat badannya sendiri.
Matanya tiba-tiba membelalak lebar saat melihat pakaian yang dikenakannya. Dia baru tersadar. Pantas saja laki-laki tua dan cucunya tadi memanggilnya Tuan Muda. Dia mencuri pakaian bangsawan laki-laki. Warnanya ungu gelap.
Dia berusaha tidak menghiraukannya dan tetap berjalan menelusuri jalanan desa mencari jalan keluar dari desa. Tidak aman jika ada yang melihatnya. Lagipula dia tidak tahu situasi kehidupan di desa tersebut. Akhirnya dia menemukan gapura utama masuk desa tersebut yang bisa dilihatnya dari kejauhan.
Dipercepatnya langkah kakinya. Sedikit lagi mencapai gapura masuk desa, kakinya berhenti lalu membelok ke dinding yang ada di dekatnya karena ada prajurit yang menjaga. Fokusnya terletak pada kobaran api unggun yang ada di dekat gapura. Dia melepas bungkusan baju bekasnya yang dipenuhi bercak darah dari punggungnya. Dia harus membakarnya di sana agar tidak meninggalkan jejak.
Namun, para prajurit itu masih berjaga di sana. Itu yang menjadi masalah. ternyata masalah itu tidak berlangsung lama. Pergantian jam jaga dimulai. Para prajurit itu memasuki posnya dan meninggalkan gapura kosong. Kesempatan itu dimanfaatkannya. Kakinya kembali melangkah menuju gapura yang kosong. Dilemparkannya bungkusan yang sudah dilepasnya dari punggungnya tepat di kobaran api unggun.
Ketika itu, para prajurit yang menjaga mulai keluar dari posnya. Dia pun menggeser tubuhnya di balik kayu besar yang menjadi tiang gapura. Matanya menatap bungkusan baju bekasnya yang mulai terbakar. Telinganya semakin jelas mendengar langkah kaki. Perlahan dia bergeser lagi ke tiang yang lain bersamaan dengan para prajurit yang mendekati gapura.
Setelah para prajurit berada di balik tiang, dia langsung berjalan cepat menuju barisan pepohonan yang ada di dekat gapura. Pohon demi pohon dijadikan penutup tubuhnya hingga masuk ke dalam hutan. Dia berhasil keluar dari desa tersebut. Kakinya terus berjalan menelusuri jalanan setapak di hutan tersebut. Semakin lama dia berjalan, dia semakin kelelahan. Perutnya juga semakin kelaparan. Tenggorokannya pun kering kehausan.
Kakinya berhenti melangkah saat menemukan dua arah jalan setapak.
Kanan?16Please respect copyright.PENANAFCG5e4hkWV
Kiri?
16Please respect copyright.PENANAqIymgjhkTg
^ ^ ^
16Please respect copyright.PENANArlKkj8JzHA
Tanpa bicara, kaki Ara melangkah ke arah kanan. Semakin lama berjalan, jalanan itu semakin menurun hingga dia bisa mendengar suara aliran air yang mengalir. Dia tidak meneruskan mengikuti jalanan setapak yang sudah ada. Kakinya berjalan beralih ke arah sumber suara air mengalir. Dia sangat kehausan. Semak-semak belukar menyambutnya hingga menemukan sungai yang bersih dan airnya jernih. Bebatuan kecil di sadarnya pun bisa dilihatnya dengan jelas.
Air...!!!
Ditelangkupkan nya kedua telapak tangannya untuk mengambil air itu lalu meminumnya. Dilakukannya beberapa kali hingga merasa tenggorokannya bebas dari dahaga. Kemudian, dia duduk di pinggiran sungai sambil memakan isi bungkusan pemberian dari laki-laki muda sebelumnya dan menikmati pemandangan sungai bersih di hadapannya.
Sungai itu lebih jernih dibandingkan sungai yang dulu sering dilihatnya saat masih kecil tinggal di Kota Jambi, Sumatra, Indonesia. Masa kecilnya juga dikelilingi hutan. Namun, hutan di sini tidak seperti hutan yang ada di Indonesia. Rata-rata hutan yang pernah dia jelajahi sejak kecil hingga SMA menjadi anggota Pramuka yang selalu melakukan perkemahan di hutan, terasa lembab. Sedangkan hutan di sini terasa kering dan ringan serta berangin. Mengingat itu dia semakin merindukan rumah.
Berapa lama lagi gua harus jalan?16Please respect copyright.PENANArNknstQ3Y4
Bahkan gua nggak tahu tujuannya.
Tiba-tiba dia mengingat pesan terakhir si laki-laki.
Hanyang...
Buru-buru dia menghabiskan kentang yang sedang dimakannya dan menyimpan kembali sisanya. Itu akan dimakannya nanti saat lapar. Ingin dibawanya air juga tetapi dia tidak memiliki tempatnya. Tangannya pun kembali mengambil air jernih itu dan meminumnya sepuasnya sebelum pergi meninggalkan sungai.
Sekarang dia punya tujuan, yaitu Hanyang. Dia akan ke sana dan mencari siapa pun yang mengenali benda pemberian si laki-laki padanya. Dikeluarkannya benda itu dari dalam bajunya. Sebuah kayu kecil berwarna coklat yang terdapat tali berwarna kuning di atasnya. Satu sisi ada ukiran gambar naga dan satu sisi lainnya bertulisan Yi Ara. Dipandanginya kayu kecil itu dalam diam.
Yi Ara.16Please respect copyright.PENANAKjsgu2h9yl
Naga.
Ara terus memandangi kayu kecil itu.
Naga adalah simbol raja.16Please respect copyright.PENANAgwGmhdKUSZ
Yi Ara adalah Tuan Putri yang gagal dilindungi.16Please respect copyright.PENANAhcBvWwmX8y
Ayah, Ibu, kalian sebenarnya siapa?
Ara menghembuskan napas berat.
Dia itu Tuan Putri yang gagal dilindungi. Nggak aman kalau gua pakai namanya.
Ara menyadarinya lalu kembali menyimpan benda tersebut. Kemudian, dia mulai bergerak pergi meninggalkan sungai. Meskipun dia sendiri tidak tahu di mana itu Hanyang, tidak tahu situasi keadaan di sana, dan bahkan tidak tahu apa yang tengah menunggunya di sana, dia tetap harus terus bergerak.
Dia membutuhkan bantuan untuk kembali.
16Please respect copyright.PENANA84WXCUa66h
16Please respect copyright.PENANAD3fa29PkPn
16Please respect copyright.PENANAJlCv6yIhWT
Bersambung...
16Please respect copyright.PENANAOk5FTAGc38
16Please respect copyright.PENANA1CBqqMUruj
16Please respect copyright.PENANAaVDbHQLJtX
16Please respect copyright.PENANAc8nyLGf9lE


