Lisa masih merangkak di atas tempat tidur, matanya terkunci pada kontol Arman yang berdiri tegak sempurna di depan wajahnya. Batangnya yang panjang 19 cm, tebal, dengan urat-urat biru menonjol jelas, dan kepala kontol yang besar mengkilap penuh precum. Lisa menjilat bibirnya perlahan, lidahnya bergerak sensual seolah sedang menikmati es krim favoritnya.
“Ya Tuhan… ini beneran kontol impian Tante,” bisiknya dengan suara serak penuh nafsu. “Panjang, tebal, kepalanya gede. Wanginya bikin Tante langsung basah.”
Arman duduk bersandar di kepala ranjang, napasnya sudah berat. Jantungnya berdegup kencang. “Tante… ini beneran? Aku nggak mimpi kan?”
Lisa tersenyum nakal, matanya sipit penuh godaan. “Ini nyata, sayang. Malam ini Tante Lisa milik kamu. Dan kontol gede ini… milik Tante juga.”
Dia meraih kontol Arman dengan kedua tangan. Jari-jarinya yang lentik dan kuku merahnya terlihat kontras dengan batang yang kekar. Perlahan dia mengocoknya naik-turun, pelan tapi kuat, memeras dari pangkal hingga ujung.
“Uhmm… sudah berdenyut-denyut gini. Berapa kali kamu ngocok sambil bayangin Tante hisap ini, hm?” tanya Lisa sambil menatap ke atas.
Arman menggigit bibir. “Hampir… hampir setiap hari, Tan…”
“Jujur dong,” desak Lisa sambil mempercepat gerakan tangannya sedikit. “Cerita sama Tante. Kamu bayangin apa aja?”
Arman mendengus saat jempol Lisa memutar di kepala kontolnya. “Aku… aku bayangin Tante pakai baju seksi… lalu Tante berlutut di depan aku… hisap kontol aku sambil ngeliatin mata aku…”
Lisa terkekeh puas. “Pantas Tante sering denger kamu mendengus nama Tante di kamar. Ternyata kamu mesum banget ya, Arman.”
Dia mendekatkan wajahnya. Hidungnya menyentuh batang kontol, menghirup dalam-dalam. “Wanginya enak… bikin ketagihan.” Lidahnya keluar, menjilat pelan dari bola-bola Arman naik ke pangkal, lalu terus ke ujung dalam satu garis panjang yang basah.
“Mmmhh… rasanya asin, agak manis. Tante suka,” gumamnya sebelum kembali menjilat berkali-kali, membasahi seluruh batang hingga mengkilap penuh air liur.
Lisa membuka mulutnya lebar. Bibir merah tebalnya meregang saat kepala kontol masuk ke dalam rongga mulutnya yang hangat dan basah. Dia menutup bibirnya rapat, lalu mulai mengisap pelan sambil lidahnya berputar-putar di kepala kontol.
“Gluck… slurp… mmmhh…”
Arman mengerang pelan, tangannya meraih rambut Lisa. Sensasi mulut Tante Lisa benar-benar luar biasa — panas, basah, dan hisapannya kuat.
Lisa mulai menggerakkan kepalanya naik-turun. Setiap kali turun, dia menelan lebih dalam. Setengah batang sudah masuk, lalu tiga perempat. Suara basah “gluck… gluck… gluck” mulai terdengar ritmis di kamar yang sepi.
Dia melepaskan sebentar, napasnya tersengal, air liur menetes dari bibirnya ke payudara besarnya yang hampir meluber dari lingerie.
“Masih bisa lebih dalam lagi. Tante mau coba deepthroat kontol gede kamu,” katanya sambil tersenyum mesum.
Lisa menarik napas dalam, lalu mendorong kepalanya ke depan. Kontol Arman masuk semakin dalam… semakin dalam… hingga hidungnya menempel di perut Arman. Seluruh 19 cm kontolnya tenggelam di tenggorokan Lisa.
“Fuuuuckkk… Tante!!” Arman hampir menjerit.
Lisa menahan posisi itu selama hampir 10 detik. Tenggorokannya berkontraksi kuat, memijat-mijat kepala kontol dengan ritme yang nikmat. Matanya mulai berair, tapi dia tidak mundur. Baru setelah itu dia menarik mundur dengan suara basah yang mesum, batang kontol keluar penuh air liur dan lendir tenggorokan.
“Haaah… haaah…” Lisa bernapas berat, tapi wajahnya penuh kepuasan. “Gimana? Enak nggak tenggorokan Tante?”
“Enak banget Tante… panas… sempit… aku hampir keluar tadi,” jawab Arman parau.
“Belum boleh keluar dulu,” goda Lisa. “Tante mau main lama.”
Dia kembali menyerang. Kali ini lebih ganas. Kepalanya naik-turun cepat, mulutnya mengisap kuat setiap kali naik. Tangan kirinya meremas dan memainkan bola-bola Arman yang penuh, sementara tangan kanannya mengocok pangkal kontol yang tidak muat masuk ke mulutnya.
“Gluck! Gluck! Gluck! Gluck! Slurrp… mmmhh!!”
Air liurnya semakin banyak, menetes-netes ke selangkangan Arman. Payudara besar Lisa bergoyang liar mengikuti gerakan kepalanya. Lisa sengaja mendongak sesekali agar Arman bisa melihat kontolnya keluar-masuk mulutnya yang merah.
“Kamu suka liat Tante berlutut gini ya?” tanya Lisa setelah melepaskan sebentar. “Suka liat mulut Tante penuh kontol kamu?”
“Iya Tante… suka banget… Tante jahat… tapi enak banget,” desah Arman.
Lisa tertawa kecil. “Tante memang jahat. Tante sengaja goda kamu selama ini. Setiap kali Tante ke sini tanpa bra, Tante tahu kamu langsung ngaceng. Tante suka bayangin kamu ngocok di kamar sambil mikirin Tante.”
Dia kembali menelan kontol Arman dalam-dalam. Kali ini dia tidak bergerak cepat, tapi menikmati setiap inci. Lidahnya menekan urat-urat di bawah batang, memijat-mijatnya. Sesekali dia mengeluarkan suara mendengung “mmmmhh” yang getarannya terasa sampai ke bola Arman.
Arman meremas rambut Lisa lebih kuat. Pinggulnya mulai bergerak pelan, mengentot mulut Tante Lisa dengan lembut.
Lisa melepaskan lagi. “Mau entot mulut Tante lebih kasar? Bilang dong.”
“Mau Tante… boleh aku entot mulut Tante?” pinta Arman dengan suara gemetar.
Lisa tersenyum lebar. “Boleh. Pegang kepala Tante dan entot sekuat yang kamu mau.”
Arman tidak perlu disuruh dua kali. Dia memegang kepala Lisa dengan kedua tangan, lalu mendorong pinggulnya ke depan. Kontolnya masuk dalam-dalam ke mulut Lisa. Dia mulai menggerakkan pinggulnya, keluar-masuk dengan ritme yang semakin cepat.
“Gluck! Gluck! Gluck! Gluck!”
Suara mesum memenuhi kamar. Air liur Lisa berceceran. Matanya berair, maskara sedikit luntur, tapi dia justru semakin excited. Tangan Lisa meremas pantat Arman, mendorongnya agar lebih dalam.
Arman merasakan orgasme mendekat lagi. “Tante… aku mau keluar… ahh… Tante!!”
Lisa langsung menelan seluruh kontolnya sampai pangkal dan menahan di sana. Tenggorokannya memijat kuat-kuat.
Semburan pertama keluar sangat deras. Arman mengerang panjang saat sperma kentalnya menyembur langsung ke tenggorokan Lisa. Semburan kedua, ketiga, keempat, kelima… dia muncrat banyak sekali. Lisa menelan semuanya tanpa meneteskan satu pun, tenggorokannya terus bergerak menelan.
Setelah semburan terakhir, Lisa melepaskan kontol Arman dengan suara “plop” basah. Mulutnya masih terbuka, lidahnya penuh sisa sperma putih kental. Dia memperlihatkannya ke Arman, lalu menutup mulut dan menelan dengan suara “glup” yang sengaja dibuat keras.
“Enak… banyak banget… Tante suka sperma muda yang kental gini,” katanya sambil menjilat sisa yang menetes di dagu dan payudaranya.
Kontol Arman masih setengah tegang, berkedut-kedut. Lisa tidak membiarkannya istirahat. Dia kembali menjilat seluruh batang, membersihkannya dengan lidahnya yang panjang dan lembut.
“Tante… aku capek…” keluh Arman pelan.
“Belum boleh capek,” jawab Lisa sambil tersenyum mesum. “Tante masih mau main. Sekarang Tante mau coba posisi lain.”
Dia mendorong Arman berbaring telentang, lalu naik ke atas tubuhnya dengan posisi 69. Memeknya yang sudah basah sekali tepat di atas wajah Arman, sementara wajahnya kembali berada di depan kontol Arman yang mulai mengeras lagi.
“Sekarang kita main bareng ya… Tante hisap lagi, kamu jilat memek Tante,” bisik Lisa sambil menggesekkan memeknya yang licin ke bibir Arman.1943Please respect copyright.PENANAjVlDa40PWq


