Arman berbaring di tempat tidurnya, mata menatap langit-langit kamar yang gelap. Jam dinding menunjukkan pukul 22.38. Tubuhnya yang tinggi tegap dan berotot terasa panas meski AC kamar sudah dinyalakan. Kontolnya masih setengah tegang di dalam celana pendek, berdenyut-denyut mengingat kejadian tadi sore.
Tante Lisa.
Nama itu saja sudah cukup membuat darahnya berdesir. Lisa, sahabat ibunya Silvia yang berusia 38 tahun, masih terlihat seperti wanita 28 tahun. Kulitnya putih mulus, rambut hitam panjang bergelombang, mata sipit yang selalu penuh godaan, bibir tebal merah, dan tubuh yang benar-benar mematikan: payudara besar yang selalu bergoyang, pinggang ramping, pinggul lebar, dan pantat bulat sempurna. Yang paling berbahaya, Lisa tahu betul dia menggoda Arman, dan dia menyukainya.
Sejak enam bulan terakhir, frekuensi kunjungan Tante Lisa ke rumah semakin sering. Dan setiap kali datang, pakaiannya semakin berani.
Pagi itu, seperti biasa, Lisa datang saat Silvia sedang memasak. Dia memakai crop top hitam ketat yang hanya menutupi separuh payudaranya. Bagian bawahnya rok denim pendek yang nyaris memperlihatkan garis pantat. Tanpa bra. Putingnya yang kecil tapi selalu mengeras jelas terlihat menekan kain tipis.
“Silviaaaa, aku datang nih!” seru Lisa riang dari pintu masuk.
Arman yang sedang duduk di ruang tamu langsung menoleh. Matanya tak bisa lepas dari payudara besar Lisa yang bergoyang-goyang saat dia berjalan mendekat.
“Hai Arman… kangen Tante nggak?” tanya Lisa sambil memeluknya erat. Tubuhnya menempel sempurna. Arman bisa merasakan kelembutan payudara itu menekan dada bidangnya.
“Eh… hai Tante,” jawab Arman gugup, berusaha menahan kontolnya yang mulai bangun.
Lisa tersenyum nakal di telinganya. “Kok badan kamu panas gini? Atau… lagi ada yang bangun di bawah?”
Arman langsung merah padam. Lisa melepaskan pelukan tapi tangannya sempat menyapu pelan perut Arman sebelum pergi ke dapur.
Sepanjang siang, godaan terus berlanjut.
Saat mereka bertiga makan siang, Lisa duduk tepat di seberang Arman. Setiap kali mengambil lauk, dia sengaja membungkuk dalam-dalam. Leher bajunya terbuka lebar, memperlihatkan hampir seluruh payudara putihnya yang besar dan berat. Bahkan puting kirinya sempat terlihat jelas.
“Arman, liat apa terus sih?” tanya Lisa sambil tersenyum manja. “Tante ada sesuatu di baju ya?”
Silvia tertawa polos. “Lisa emang suka baju begituan, Yan. Biasa aja.”
Tapi Arman tahu ini bukan biasa. Lisa sengaja. Matanya menatap Arman dalam-dalam sambil menggigit bibir bawahnya pelan.
Sore harinya, saat Silvia mandi, Lisa mendekati Arman yang sedang duduk di sofa. Dia berdiri di depannya, lalu membungkuk untuk mengambil remote TV. Rok pendeknya naik, memperlihatkan celana dalam thong hitam yang nyaris tidak menutupi apa-apa. Garis pantatnya yang mulus dan putih terpampang jelas.
“Wah… Tante suka kalau kamu liat begini,” bisik Lisa pelan agar tidak terdengar Silvia. “Kontol kamu pasti lagi ngaceng kan sekarang? Tante mau pegang boleh?”
Arman menelan ludah keras. “Tante… jangan gitu.”
Lisa terkekeh pelan. “Kenapa? Kamu takut atau… kamu sange berat sama Tante?”
Malam itu, Silvia mendapat panggilan mendadak dari kantor.
“Maaf ya Lis, aku harus ke kantor sekarang. Proyek besar, harus lembur. Kamu nginap aja di sini, kamar tamu sudah disiapkan,” kata Silvia buru-buru.
Lisa tersenyum lebar. “Tenang aja Sil, aku jagain Arman kok malam ini.”
Begitu mobil Silvia keluar gerbang, suasana rumah langsung berubah. Udara terasa lebih panas.
Arman mencoba kabur ke kamarnya. Tapi belum sampai lima menit, pintu kamarnya terbuka pelan.
Tante Lisa masuk.
Dan penampilannya kali ini benar-benar gila.
Dia memakai lingerie hitam transparan super seksi. Bra berenda tipis yang hampir tidak mampu menahan payudara besarnya, celana dalam tali yang hanya berupa benang di belakang, garter belt, dan stocking hitam sampai paha. Rambutnya tergerai, bibirnya dicat merah menyala, dan parfumnya harum menggoda.
“Arman… Tante nggak bisa tidur sendirian,” katanya manja sambil menutup pintu dan menguncinya.
Arman duduk di tepi tempat tidur, matanya tak bisa lepas dari tubuh Lisa. Kontolnya langsung ngaceng maksimal, menonjol jelas di balik celana pendek.
Lisa berjalan mendekat dengan langkah lambat, pinggulnya bergoyang. Dia berhenti tepat di depan Arman, lalu memutar tubuhnya pelan agar Arman bisa melihat seluruh tubuhnya dari belakang.
“Gimana? Tante seksi nggak malam ini?” tanyanya sambil melirik ke belakang.
“Tan… Tante ini… gila,” desah Arman.
Lisa tertawa kecil. Dia membalikkan badan, lalu naik ke tempat tidur, merangkak mendekati Arman seperti kucing yang lapar.
“Kamu tahu nggak, Arman… setiap kali Tante ke sini, Tante sengaja pakai baju seksi. Tante suka liat muka kamu yang merah, suka liat kamu buru-buru nutupin kontol yang ngaceng.”
Tangan Lisa menyentuh paha Arman, merayap naik perlahan.
“Dulu Tante cuma iseng… tapi lama-lama Tante jadi beneran sange sama kamu. Badan kamu tinggi, dada bidang, dan… Tante pernah liat kamu lagi ganti baju. Kontol kamu gede banget ya? Panjang dan tebal.”
Arman mendengus. “Tante… jangan bicara gitu.”
“Kenapa? Kamu malu?” Lisa semakin dekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Arman. “Padahal Tante sering bayangin kontol gede kamu masuk ke memek Tante yang sudah basah ini.”
Jari Lisa akhirnya menyentuh tonjolan kontol Arman dari luar celana. Mengelusnya pelan naik turun.
“Wahhh… sudah segede ini. Keras banget. Kamu sange berat sama Tante Lisa kan, sayang?”
Arman menggigil. “Iya… Tante… aku sange banget sama Tante.”
Lisa tersenyum puas. “Bagus. Tante juga sange sama kamu. Setiap malam Tante suka coli sambil bayangin kamu ngentot Tante kasar dari belakang.”
Tangan Lisa masuk ke dalam celana pendek Arman, langsung menggenggam batang kontol yang panas dan berdenyut itu.
“Aduh… gede banget. Tebal. Panjang. Tante suka yang beginian,” bisiknya sambil mulai mengocok pelan. “Kamu sering ngocok sambil bayangin Tante ya? Bayangin Tante ngisep kontol kamu sampe dalam tenggorokan?”
Arman mendengus keras, pinggulnya tanpa sadar naik turun mengikuti gerakan tangan Lisa.
“Jawab, Arman… bilang sama Tante,” desak Lisa sambil mempercepat gerakan tangannya.
“Iya Tante… aku sering… aku bayangin Tante hisap kontol aku… bayangin Tante minta dientot…”
Lisa terkekeh nakal. “Pintar. Malam ini Tante mau bantu kamu keluar. Tapi pelan-pelan ya… Tante mau nikmatin dulu kontol gede keponakan Tante yang satu ini.”
Dia menarik celana pendek Arman turun hingga kontol 19 cm itu melompat keluar, tegak sempurna, kepala kontolnya sudah basah oleh precum.
“Gila… cantik banget kontolnya,” puji Lisa sambil menjilat bibirnya.
Tangan putih mulusnya mengocok batang itu dengan gerakan ahli, naik turun, kadang memilin ujungnya.
“Enak nggak, sayang? Tangan Tante enak nggak ngocok kontol kamu?”
Arman hanya bisa mendengus dan mengangguk.
“Bilang dong… Tante suka denger suara kamu,” goda Lisa lagi.
“Enak Tante… enak banget…”
Lisa mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh kepala kontol Arman yang mengkilap.
“Besok… Tante mau coba yang lebih enak lagi. Mau Tante sepong sampe kamu muncrat di mulut Tante?”
ns216.73.216.66da2


