Waiter datang mendekat dengan senyum profesional, membawa menu cadangan meski kami sudah duduk cukup lama. Aku melirik Tante Mira sekilas sebelum menjawab pesanan. Dia masih duduk tegak dengan anggun, tangan kanannya bertumpu ringan di tepi meja, jari-jarinya yang lentik dan terawat sempurna memainkan gelas air mineral yang sudah setengah kosong.
Blouse sutra kremnya sedikit bergeser saat dia menggeser duduknya, menonjolkan garis leher yang halus dan lekuk dada yang penuh tapi tetap tertutup sopan. Aroma parfumnya — jasmine yang lembut bercampur vanilla manis — semakin terasa karena kami duduk berhadapan begitu dekat.
“Silakan, Bu, Mas,” kata waiter itu ramah.
“Sudah siap pesan?”
Mira tersenyum kecil ke arahnya, suaranya lembut dan dewasa seperti biasa.
“Salmon grill dengan salad arugula dan dressing lemon olive oil, please. Dressing-nya jangan terlalu banyak ya. Dan untuk minuman… sparkling water dengan irisan lemon.”
Aku menunggu giliranku, lalu menambahkan dengan nada santai,
“Steak medium rare, dengan mashed potato dan asparagus. Sauce-nya black pepper ya. Minumannya… iced americano, double shot.”
Waiter mencatat cepat, mengulang pesanan sekali lagi untuk memastikan, lalu berpamitan. Saat dia pergi, keheningan kecil kembali menyelimuti meja kami. Aku menyandarkan punggung ke kursi, mencoba terlihat santai meski jantungku masih berdegup lebih cepat dari biasanya.
Ini Tante Mira. Sahabat ibuku sejak kuliah. Wanita yang dulu selalu aku anggap “tante cantik yang bikin aku deg-degan” setiap kali datang ke rumah. Dan sekarang dia duduk di depanku sebagai orang yang seharusnya aku date malam ini.
Mira menatapku dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. Bibirnya yang merah muda lembut melengkung tipis.
“Jadi, Raffael… ceritain dong. Kamu kenapa sampai pakai aplikasi dating? Cowok setampan kamu, tinggi, atletis, fresh graduate pula… seharusnya banyak cewek yang antre, bukan malah nyari di aplikasi.”
Aku tertawa pelan, menggaruk tengkukku yang tidak gatal. “Wah, kalau Tante langsung puji gitu. Aku jadi malu nih.” Aku sengaja memberi jeda, menatap matanya lebih dalam.
“Sebenarnya… aku lagi capek sama yang biasa-biasa aja, Tan. Cewek seusia aku kebanyakan masih main-main, atau terlalu fokus karir sampai nggak ada waktu buat yang serius. Aku mau yang… beda. Yang lebih matang, lebih tahu apa yang dia mau.”
Mira mengangkat alisnya sedikit, tapi senyumnya masih ada.
“Lebih matang? Kamu lagi nyari tante-tante ya?” godanya ringan, nada suaranya playful tapi tetap elegan.
Aku tersenyum lebar, merasa kesempatan terbuka.
“Bukan sembarang tante-tante. Kalau tante-nya kayak Tante Mira… ya beda ceritanya.”
Dia tertawa kecil, tangannya menutup mulut sebentar dengan anggun. Pipinya sedikit memerah, tapi dia cepat menguasai diri.
“Kamu ini… masih saja suka ngegoda dari dulu. Dulu waktu kamu SMA, setiap aku datang ke rumah Nindy, kamu pasti ada aja ulahnya. Tarik rambut aku, sembunyiin kunci mobil aku di belakang sofa, bahkan pernah pura-pura jatuh pas aku lagi berdiri biar aku pegang tangan kamu. Ibumu sampai bilang, ‘Mira, anakku ini suka banget sama kamu, tapi caranya jail abis.’”
Aku tertawa mengingat kenangan itu.
“Iya, Tan. Aku emang sengaja. Biar Tante notice aku. Dulu kan aku masih anak-anak, nggak tahu cara lain buat deketin Tante. Tiap Tante pakai dress yang pas badan, atau blouse yang… yah, kayak yang Tante pakai sekarang, aku langsung salah tingkah. Tante nggak sadar ya? Aku sering ngumpet di dapur cuma buat ngintip Tante lagi ngobrol sama Ibu.”
Mira menggelengkan kepala, tapi matanya berbinar geli. Dia menyandarkan dagunya di telapak tangan, menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan — campuran antara terkejut dan… senang?
“Serius? Aku kira kamu cuma nakal biasa. Nindy sering cerita kalau kamu lagi suka cewek ini cewek itu di sekolah. Aku nggak nyangka kamu… mikirin aku juga.”
Aku mencondongkan tubuh ke depan sedikit, suaraku lebih rendah.
“Bukan mikirin doang, Tan. Aku suka banget. Tiap Tante datang, rumah jadi lebih hidup. Wangi parfum Tante selalu nempel di ruang tamu lama banget. Aku suka duduk di sofa yang baru Tante duduki cuma buat ngerasain itu.”
Mira menggigit bibir bawahnya sebentar — gerakan kecil yang langsung membuat perutku terasa hangat. Dia mengalihkan pandangan ke gelasnya, memutar-mutar sedotan dengan jari lentiknya.
“Raffael… kamu tahu aku ini sahabat ibumu kan? Nindy dan aku udah temenan sejak kuliah. Kalau dia tahu malam ini kita… dinner bareng kayak gini, dia pasti syok berat.”
Aku mengangguk pelan, tapi tidak mundur.
“Aku tahu, Tan. Makanya aku juga kaget banget tadi. Tapi… sekarang kita sudah di sini. Nggak ada yang tahu. Kita cuma dua orang lama yang kebetulan ketemu di tempat yang salah.” Aku tersenyum nakal.
“Lagian, Tante sendiri yang bilang tadi — ‘kita sudah di sini’. Jadi… ceritain dong tentang Tante. Kenapa Tante sampai pakai app dating? Pemilik perusahaan fashion sukses, cantik, tubuhnya masih ideal banget, payudara… eh, maksudku penampilan Tante selalu perfect. Kok single?”
Mira tertawa lagi, kali ini lebih panjang. Dia menepuk lengan bajuku pelan dengan punggung tangannya — sentuhan pertama yang ringan, tapi cukup membuat kulitku merinding.
“Kamu ini berani banget ya sekarang. Dulu jail, sekarang langsung puji payudara tante di depan muka?” Dia menggelengkan kepala, tapi tidak marah. Malah ada kilau lucu di matanya.
“Jawabannya sederhana. Aku sudah 42 tahun, Raff. Pernah pacaran serius dua kali, tapi nggak ada yang sampai ke jenjang pernikahan. Yang satu sibuk karir internasional, yang satu lagi… terlalu posesif. Akhirnya aku fokus ke perusahaan aja. Bisnis fashion ini lagi berkembang, banyak klien, banyak meeting. Kesepian sih… ya ada. Makanya aku coba app ini. Cuma pengen ngobrol sama orang baru, nggak ada ekspektasi apa-apa.”
Aku mendengarkan dengan saksama, kepalaku sedikit miring.
“Dan malam ini ketemu aku. Apakah ini kebetulan yang bagus atau yang buruk menurut Tante?”
Mira menatapku lama. Matanya yang cokelat hangat itu seolah sedang menimbang sesuatu. Lampu kafe yang redup membuat bayangan lembut di wajahnya, menonjolkan tulang pipi yang tinggi dan bibir yang penuh.
“Awalnya aku kaget setengah mati. Anak sahabatku sendiri yang chat-chat manis seminggu ini… ya ampun. Tapi sekarang, setelah ngobrol sebentar ini… rasanya nggak buruk. Kamu sudah dewasa banget, Raffael. Dulu anak kecil yang suka jail, sekarang pria tinggi, bahu lebar, rahang tegas. Aku hampir nggak percaya ini kamu.”
Aku merasakan hangat di dada. Pujian dari Tante Mira selalu terasa berbeda. “Berarti Tante notice perubahan aku ya? Aku olahraga rutin sekarang, Tan. Gym empat kali seminggu biar badan tetap atletis. Biar… kalau ketemu Tante lagi, aku nggak kelihatan kayak anak kecil dulu.”
Dia tersenyum, kali ini senyumnya lebih lembut. “Tante notice kok. Dari foto profil di app itu… aku sudah curiga kok mirip anak Nindy. Tapi aku nggak begitu yakin. Eh, ternyata beneran.”
Obrolan kami terus mengalir. Waiter datang membawa makanan. Piring-piring diletakkan di depan kami dengan rapi. Aroma steak yang gurih dan salmon yang segar langsung memenuhi meja. Kami mulai makan, tapi percakapan tidak berhenti.
Mira menusuk saladnya dengan garpu, lalu bertanya lagi. “Kamu sendiri, Raff? Kerjaan gimana? Nindy bilang kamu fresh graduate dari jurusan bisnis. Sudah dapat kerjaan belum?”
Aku mengunyah sepotong steak, lalu menjawab sambil menatapnya. “Belum tetap, Tan. Lagi magang di perusahaan konsultan marketing. Lumayan lah, belajar banyak. Tapi aku masih nyari yang lebih sesuai. Aku pengen punya bisnis sendiri suatu saat, kayak Tante. Punya perusahaan sendiri, bebas atur waktu.”
Mira mengangguk setuju. “Bagus itu. Aku mulai dari nol juga dulu. Modal kecil, tapi kerja keras. Kalau kamu butuh saran, kapan-kapan tanya aja. Aku bisa kasih tips soal manajemen.”
Aku tersenyum lebar. “Beneran? Wah, berarti aku bisa sering-sering ketemu Tante dong? Bukan cuma malam ini?”
Dia menggelengkan kepala sambil tertawa. “Kamu ini… godanya nggak berhenti ya. Tapi ya… kalau memang serius mau belajar, aku nggak keberatan. Asal jangan sampai Nindy curiga.”
Kami terus berbincang. Aku cerita tentang kuliahku yang dulu, tentang bagaimana aku sering curi-curi pandang ke foto Tante Mira di album ibuku. Mira cerita tentang perjalanan bisnisnya ke Milan tahun lalu, tentang betapa dia merindukan obrolan santai seperti ini karena kesibukannya.
Saat dessert tiba — tiramisu untukku dan panna cotta untuk dia — suasana sudah jauh lebih cair. Aku sengaja menyentuh punggung tangannya saat mengambil sendok gula dari tengah meja. Sentuhan itu hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat Mira menatapku dengan mata yang sedikit melebar.
“Raffael…” suaranya pelan, hampir bisik. “Kamu sengaja ya?”
Aku tidak menyangkal. Senyum nakalku muncul lagi. “Mungkin. Dulu aku cuma bisa jail dari jauh. Sekarang… aku berani lebih dekat.”
Mira tidak menarik tangannya. Dia hanya menatapku dengan ekspresi yang campur aduk — geli, terkejut, dan ada sesuatu yang lebih hangat di balik mata itu. “Kamu bikin aku deg-degan tahu nggak? Sahabat ibumu, tapi kamu ngomong kayak gini. Kalau Nindy dengar, dia bisa marah besar.”
Aku mencondongkan tubuh lebih dekat, suaraku rendah dan serius. “Kalau Tante nggak suka, aku berhenti sekarang juga. Tapi… dari caranya Tante nggak narik tangan tadi, kayaknya Tante juga ngerasain sesuatu.”
Dia diam sebentar. Napasnya terdengar sedikit lebih cepat. Payudaranya yang penuh naik-turun pelan di balik blouse sutra, membuat kainnya sedikit bergeser dan menampilkan garis belahan yang samar.
“Aku… nggak tahu harus jawab apa, Raff. Ini semua terlalu tiba-tiba. Tapi ya… obrolan sama kamu malam ini enak. Kamu beda dari cowok-cowok lain yang biasa aku chat di aplikasi. Mereka kebanyakan langsung mesum atau sok cool. Kamu… kamu masih punya sisi nakal yang aku ingat, tapi sekarang lebih dewasa.”
Aku tersenyum, merasa menang sedikit. “Berarti Tante nggak keberatan kalau kita lanjutin obrolan ini di tempat yang lebih nyaman? Kafe ini mau tutup sebentar lagi. Ada lounge di lantai atas, lebih sepi, sofa empuk. Kita bisa lanjut cerita sambil minum wine atau apa gitu.”
Mira memandang jam tangannya sebentar, lalu menatapku lagi. Ada keraguan di matanya, tapi juga rasa penasaran yang jelas. “Sebentar ya… aku mikir dulu.”
Dia diam beberapa detik. Aku menunggu dengan sabar, tapi dalam hati aku berharap dia setuju. Malam ini terasa seperti mimpi — Tante Mira, wanita yang selama ini hanya ada di fantasi remajaku, sekarang duduk di depanku dan kami ngobrol seperti ini.
Akhirnya dia menghela napas pelan, tersenyum tipis. “Oke. Kita pindah ke lounge. Tapi janji ya, Raffael… tetap sopan. Kita cuma ngobrol. Nggak lebih.”
Aku mengangguk, tapi senyumku pasti terlihat nakal. “Janji, Tan. Cuma ngobrol… untuk sekarang.”
Kami berdiri bersama. Saat Mira berjalan di depanku menuju lift, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan lekuk pinggulnya yang terbalut rok pensil hitam ketat itu. Tubuhnya masih sempurna, pinggang ramping, payudara besar yang bergoyang pelan mengikuti langkahnya. Aku menelan ludah.
Di dalam lift yang sempit, kami berdiri berdampingan. Bahu kami hampir bersentuhan. Aku bisa merasakan panas tubuhnya, aroma parfumnya yang semakin kuat.
Mira melirikku dari samping. “Kamu diam aja sekarang? Tadi di meja cerewet banget.”
Aku tersenyum, suaraku hampir berbisik. “Karena aku lagi mikir… betapa beruntungnya aku malam ini. Date yang salah orang, tapi ternyata orang yang paling aku inginkan sejak dulu.”
Mira tidak menjawab langsung. Dia hanya menunduk sebentar, pipinya merona lagi. Tapi sudut bibirnya terangkat sedikit.
Lift berhenti di lantai lounge. Pintu terbuka, dan kami melangkah keluar ke ruangan yang lebih redup, musik jazz pelan mengalun di latar belakang. Sofa-sofa empuk tersusun privat.
Malam masih panjang.
Dan obrolan kami baru saja mulai benar-benar hangat.
ns216.73.216.105da2


