Malam itu kafe di pusat kota sedang ramai, tapi meja pojok yang aku pesan lewat aplikasi terletak di sudut yang cukup privat, dikelilingi tanaman hias kecil dan lampu warm white yang redup. Cahayanya lembut menyinari meja kayu gelap bertekstur, menciptakan suasana intim yang seolah hanya untuk dua orang. Aroma kopi specialty yang kaya bercampur dengan wangi parfum berbagai pengunjung yang lewat, sesekali diselingi denting sendok dan gelas dari meja lain.
Aku, duduk dengan santai namun percaya diri. Kemeja hitam slim-fit yang aku pakai sedikit membuka dua kancing atasnya, memperlihatkan garis leher yang tegas dan sedikit belahan dada atletis hasil latihan rutin di gym. Tinggiku yang 185 cm membuatku terlihat mendominasi kursi, sementara jam tangan silver di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul 19.15. Date pertamaku seharusnya sudah datang sepuluh menit yang lalu.
Aku menghela napas pelan sambil memainkan ponsel, sesekali melirik ke arah pintu masuk. Cewek dari aplikasi itu bilang dia akan memakai blouse putih dan rok hitam. Aku sudah membayangkan bagaimana malam ini akan berjalan — obrolan ringan yang mengalir, mungkin ada chemistry yang klik, dan siapa tahu bisa berlanjut ke tempat yang lebih privat. Aku tersenyum kecil dalam hati, merasa cukup yakin malam ini akan menyenangkan.
Tiba-tiba, suara heels yang lembut dan ritmis mendekat dari arah pintu. Langkahnya anggun, tidak tergesa-gesa. Aku mendongak dengan senyum terbaikku yang sudah terlatih, siap menyapa dengan nada ramah.
Tapi senyum itu langsung membeku di bibirku.
Wanita yang berdiri di depan mejaku bukanlah cewek berusia 24-27 tahun seperti yang aku harapkan. Di depanku berdiri seorang wanita dewasa yang sangat elegan dan memukau. Blouse sutra krem berpotongan V-neck yang sopan namun tetap menonjolkan lekuk dada yang penuh, bulat, dan indah. Rok pensil hitam ketat membalut pinggul yang proporsional dan paha yang panjang serta kencang. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi dengan sedikit gelombang alami di ujung, menyentuh bahu dan punggungnya yang ramping. Wajahnya cantik dengan make-up natural yang sempurna — bibir merah muda lembut yang menggoda, mata sipit yang tajam tapi hangat, dan kulit putih mulus yang terawat dengan baik.
Itu Tante Mira.
Sahabat ibuku, Nindy.
“T… Tante Mira?” suaraku keluar lebih tinggi dari yang aku inginkan, campuran antara kaget dan tidak percaya.
Mira menatapku dengan mata melebar sesaat. Ekspresi terkejut yang sama jelas terlihat di wajah cantiknya. Kemudian bibirnya melengkung menjadi senyum tipis yang elegan, meski ada sedikit kegugupan yang tersembunyi di baliknya. Ia menarik kursi dengan gerakan anggun dan duduk di depanku, tas desainer hitamnya diletakkan rapi di samping kursi.
“Raffael?” suaranya lembut, nada dewasa yang selalu aku ingat dari dulu — tenang, percaya diri, dan sedikit serak yang membuatnya terdengar sangat feminin. 6037Please respect copyright.PENANA2NXepqce5j
“Kamu… yang janjian denganku malam ini?”
Aku masih terpaku, jantungku berdegup kencang. Bau parfumnya yang mahal dan ringan langsung menyapa hidungku — campuran jasmine, vanilla, dan sedikit woody yang lembut, membuat kepalaku sedikit pusing karena familiaritasnya.
“Ini… beneran Tante Mira?” tanyaku lagi, masih tidak percaya. 6037Please respect copyright.PENANABTo57UzU4v
“Aku kira… cewek yang dari app-nya namanya ‘Mira28’ atau apa gitu. Foto profilnya memang cantik, tapi aku nggak nyangka…”
Mira tertawa pelan, suaranya seperti musik rendah yang menenangkan tapi sekaligus membuat bulu kudukku merinding halus. Ia menyandarkan punggungnya dengan anggun ke kursi, tangan lentiknya terlipat di atas meja.
“Ya, itu aku. Mira28… umurku memang 42, tapi aku kurangi dikit biar nggak langsung di-skip oleh cowok-cowok muda,” katanya sambil menggelengkan kepala pelan, seolah menertawakan dirinya sendiri. Matanya menatapku lekat.6037Please respect copyright.PENANAWny1CzLI8D
“Aku benar-benar nggak nyangka banget. Yang selama ini chat-chat manis, bilang aku menarik, dan suka godain aku lewat pesan… ternyata anak sahabatku sendiri. Anaknya Nindy yang dulu suka ngerjain aku setiap kali aku main ke rumah kalian.”
Aku mengusap wajah dengan satu tangan, antara malu, geli, dan ada sensasi aneh yang mulai merayap di dada. Aku ingat betapa seringnya dulu aku sengaja menggoda Tante Mira. Tarik rambutnya pelan, pura-pura jatuh ke pelukannya, atau bilang “Tante kok makin seksi aja sih?” hanya untuk melihat reaksinya. Ia selalu balas dengan cubitan ringan di lengan atau pelototan manja, tapi aku tahu ia tidak benar-benar marah.
“Gila… ini awkward banget, Tan,” kataku sambil tersenyum miring. 6037Please respect copyright.PENANAg3rcgTgOXp
“Aku janjian date sama orang asing, eh malah ketemu Tante. Ibu tahu nggak?”
Mira mengangkat alisnya dengan elegan, bibirnya masih tersenyum tipis.6037Please respect copyright.PENANA9y7wfviGUM
“Nindy? Tentu saja tidak. Kalau dia tahu aku pakai aplikasi dating, pasti dia godain aku habis-habisan. Apalagi kalau tahu pasangannya adalah kamu… anaknya sendiri yang sekarang sudah tinggi, tampan, dan atletis begini.”
Dia tidak melanjutkan kalimatnya, hanya menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sesuatu di mata itu — campuran terkejut, geli, nostalgia, dan… sesuatu yang lebih dalam, lebih hangat, yang membuat udara di antara kami terasa sedikit lebih berat.
Aku menelan ludah, mencoba menguasai diri. Tubuhku yang tinggi dan atletis terasa sedikit tegang di kursi.
“Terus… sekarang gimana, Tan? Kita batalin aja? Atau…”
Mira memiringkan kepala sedikit, jari-jarinya yang lentik dengan kuku yang terawat rapi memainkan gelas air mineral di depannya. Cahaya lampu warm white menyinari wajahnya, membuat kulitnya terlihat semakin halus.
“Kita sudah di sini, Raffael. Sudah pesan meja, sudah duduk berdua. Kalau kamu mau pulang, aku nggak akan marah. Tapi… kalau kamu nggak keberatan, kita bisa tetap makan malam bareng. Anggap saja seperti teman lama yang kebetulan ketemu lagi setelah sekian lama.”
Aku menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Pandanganku tanpa sadar meluncur dari wajah cantiknya, turun ke garis leher yang anggun, lalu ke lekuk payudara yang penuh dan menonjol di balik blouse sutra tipis itu. Aku ingat betapa dulu aku sering mencuri pandang ke arah Tante Mira setiap kali dia datang ke rumah — tubuhnya yang ideal, payudaranya yang besar dan kencang, pinggang ramping, dan cara ia berjalan penuh percaya diri sebagai seorang pengusaha sukses.
Akhirnya aku tersenyum lebar, kembali ke sifat nakalku yang biasa.
“Kalau gitu… aku pilih tetap di sini, Tante. Lagian, jarang-jarang bisa dinner sama tante cantik yang dulu sering aku jailin. Siapa tahu malam ini aku bisa jailin Tante lagi, tapi versi yang lebih dewasa.”
Mira tersipu tipis. Pipinya yang putih sedikit memerah, membuatnya terlihat semakin cantik. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan kilatan geli dan sesuatu yang lebih.
“Kamu masih saja nakal seperti dulu, Raff. Dulu kecil suka tarik rambut aku atau pura-pura peluk aku dari belakang, sekarang malah berani bilang tante cantik langsung di depan muka. Berani sekali ya sekarang.”
Aku tertawa pelan, bahuku sedikit rileks. Suaraku sengaja aku buat lebih rendah dan intim.
“Karena memang benar, Tan. Tante nggak berubah. Malah… tambah cantik. Tambah seksi. Aku dulu sering mikir, kenapa Tante belum nikah juga? Padahal banyak yang pasti mau.”
Mira tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku dengan mata yang sedikit menyipit, seolah sedang mencoba membaca apa yang ada di pikiranku. Udara di antara kami terasa sedikit lebih tebal sekarang, meski obrolan masih terdengar ringan di permukaan.
Waiter datang mendekat untuk mencatat pesanan. Mira memesan salmon grill dengan salad segar dan segelas white wine. Aku memesan steak medium rare dengan kentang panggang. Setelah waiter pergi, Mira kembali menatapku, dagunya sedikit ditopang tangan.
“Jadi… ceritain dong, Raffael. Kamu kenapa sampai pakai aplikasi dating? Cowok setampan dan setinggi kamu seharusnya banyak yang ngejar, bukan malah nyari di app.”
Aku menyandarkan punggung ke kursi, tersenyum tipis sambil menatap matanya lekat.
“Mungkin karena aku lagi cari yang beda, Tan. Yang nggak biasa-biasa aja. Yang punya kedewasaan, pengalaman, dan… aura yang bikin aku penasaran.” Aku sengaja memberi jeda sebelum melanjutkan dengan nada lebih rendah dan sedikit genit, “Dan kayaknya malam ini… aku nemu yang sangat beda. Bahkan lebih dari yang aku bayangkan.”
Mira menggigit bibir bawahnya sebentar — gerakan kecil yang halus, tapi cukup untuk membuat jantungku berdegup lebih cepat dan sesuatu di bawah perutku mulai bereaksi pelan.
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, membuat V-neck blouse-nya sedikit terbuka lebih lebar, memperlihatkan belahan dada yang lembut dan putih.
“Kamu pintar merayu sekarang, Raffael. Dulu cuma bisa godain dengan cara anak kecil. Sekarang… suaramu sudah berat, tubuhmu sudah besar, dan cara pandangmu… berbeda.”
Malam itu baru saja dimulai, dan aku sudah bisa merasakan bahwa pertemuan tak terduga ini tidak akan berakhir hanya di meja kafe ini.
ns216.73.216.105da2


