Lounge di lantai atas kafe itu jauh lebih tenang dibandingkan ruang makan di bawah. Lampu-lampu temaram berwarna amber menyinari ruangan dengan cahaya keemasan yang lembut, menciptakan suasana intim tanpa terasa murahan. 4487Please respect copyright.PENANAvdP9WpbOHA
Musik jazz instrumental mengalun pelan dari speaker tersembunyi — piano dan saxophone yang lembut, sempurna untuk obrolan malam. Sofa-sofa kulit cokelat tua tersusun dalam kelompok-kelompok kecil, masing-masing dikelilingi meja rendah dan tanaman hias yang memberikan sedikit privasi.
Mira berjalan di depanku dengan langkah anggun. Rok pensil hitamnya yang ketat membalut pinggul dan paha yang proporsional, membuat setiap gerakannya terlihat elegan tapi tetap memikat.4487Please respect copyright.PENANA9de2yfiHcg
Blouse sutra kremnya sedikit bergeser di bahu saat dia bergerak, memperlihatkan garis leher yang halus dan kulitnya yang terawat sempurna. Aku mengikuti di belakang, mataku tidak bisa lepas dari lekuk tubuhnya. Payudaranya yang besar dan penuh bergoyang pelan mengikuti irama langkahnya, meski tertutup sopan oleh kain sutra yang mengkilap lembut di bawah cahaya.
Kami memilih sofa sudut paling pojok, yang paling jauh dari area lain. Mira duduk lebih dulu, menyilangkan kakinya dengan anggun. Roknya naik sedikit di atas lutut, memperlihatkan betis yang ramping dan halus. Aku duduk di sebelahnya — tidak terlalu dekat, tapi cukup agar aroma parfumnya yang jasmine-vanilla itu terasa jelas setiap kali aku bernapas.
Seorang pelayan lounge mendekat. Mira memesan segelas Chardonnay, aku memilih whiskey on the rocks. Setelah pelayan pergi, keheningan kecil kembali muncul, tapi kali ini terasa lebih hangat, lebih penuh muatan.
Mira memandang ke arah jendela kaca besar yang menghadap kota malam. Lampu-lampu gedung tinggi berkelap-kelip di kejauhan. Dia menghela napas pelan, lalu menoleh ke arahku dengan senyum tipis.
“Tempatnya bagus juga ya,” katanya lembut. 4487Please respect copyright.PENANA8A6WJCMYRD
“Aku jarang ke lounge seperti ini. Biasanya langsung pulang setelah meeting atau kerja lembur di kantor.”
Aku menyandarkan punggung ke sofa, memutar gelas whiskey yang baru datang di tanganku. Es batu beradu pelan.
“Aku senang kalau Tante suka. Aku sengaja pilih kafe ini karena katanya bagus untuk obrolan malam. Ternyata… lebih dari yang aku bayangkan.”
Mira tertawa kecil, matanya berbinar di bawah cahaya amber.
“Kamu ini pintar merayu ya sekarang, Raffael. Dulu kecil cuma bisa jail. Tarik rambut, sembunyiin sepatu aku di bawah meja, atau pura-pura nangis biar aku peluk. Nindy sampai sering bilang, ‘Mira, maaf ya anakku ini suka banget gangguin kamu.’”
Aku tersenyum lebar, mengingat semua kenangan itu dengan jelas.
“Iya, Tan. Aku emang sengaja semua itu. Tiap Tante datang ke rumah, aku excited banget. Rumah jadi wangi parfum Tante. Aku suka duduk di ruang tamu lama-lama setelah Tante pulang, cuma buat ngerasain sisa aromanya. Kadang aku bahkan ngintip dari tangga atas waktu Tante lagi ngobrol sama Ibu di bawah. Tante pakai dress hitam pas badan waktu itu… aku nggak bisa berhenti liatin.”
Mira menggigit bibir bawahnya sebentar, pipinya kembali memerah tipis. Dia memutar gelas winenya pelan, jari lentiknya yang berkuku rapi terlihat elegan.
“Serius kamu? Aku kira kamu cuma nakal biasa anak kecil. Aku ingat sekali, waktu kamu kelas 2 SMA, aku datang bawa kue ulang tahun buat Nindy. Kamu tiba-tiba muncul dari belakang, peluk pinggang aku dari samping sambil bilang ‘Tante Mira cantik banget hari ini’. Nindy ketawa, tapi aku… aku langsung deg-degan waktu itu. Kamu sudah tinggi waktu itu, badan mulai atletis. Aku mikir, ‘Wah, anak Nindy ini sudah mulai dewasa ya’.”
Aku mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya, suaraku lebih rendah dan intim.
“Waktu itu aku sudah suka Tante banget, Tan. Bukan suka biasa. Setiap Tante datang, aku susah tidur malamnya. Bayangin Tante terus. Payudara Tante yang besar itu… maaf, tapi aku sering curi pandang. Waktu Tante pakai baju rumah yang longgar, atau blouse ketat waktu meeting sama Ibu… aku langsung panas dingin. Makanya aku jail terus. Biar Tante perhatiin aku, biar Tante sentuh aku, biar Tante ketawa sama ulahku.”
Mira menatapku lama. Matanya yang cokelat hangat itu sekarang penuh dengan campuran rasa terkejut, geli, dan sesuatu yang lebih dalam — seperti ada api kecil yang mulai menyala. Dia menghela napas, dada nya naik-turun pelan, membuat blouse sutranya sedikit meregang di bagian dada.
“Raffael… kamu tahu ini berbahaya kan? Aku sahabat ibumu. Nindy percaya banget sama aku. Kalau dia tahu kamu bilang kayak gini ke aku… dia bisa marah besar. Bisa putus hubungan sama aku.”
Aku mengangguk pelan, tapi tidak mundur.
“Aku tahu, Tan. Makanya aku juga takut tadi pas liat Tante duduk di depanku. Tapi sekarang… setelah ngobrol lama, rasanya aku nggak bisa bohong lagi. Dari dulu aku suka Tante. Bukan cuma fisik. Aku suka cara Tante bicara, cara Tante tertawa pelan, cara Tante selalu elegan meski lagi capek. Tante beda dari wanita lain. Lebih dewasa, lebih tahu diri, lebih… sempurna.”
Mira tersipu. Dia menunduk sebentar, memainkan ujung roknya dengan jari.
“Kamu bikin aku bingung, Raff. Aku 42 tahun. Kamu baru 24. Aku bisa jadi tante sungguhan kamu. Bahkan… aku pernah ganti popok kamu waktu kecil, tahu?”
Aku tertawa pelan, tapi mataku tetap menatapnya intens.
“Itu justru yang bikin ini spesial, Tan. Aku tumbuh liat Tante. Dari wanita cantik yang sering main ke rumah, jadi wanita sukses yang punya perusahaan sendiri. Aku bangga sama Tante. Dan sekarang… aku nggak bisa bohong lagi. Aku tertarik banget sama Tante. Bukan cuma sebagai tante, tapi sebagai wanita.”
Mira diam cukup lama. Dia menyesap winenya, lalu meletakkan gelas di meja rendah. Saat dia menoleh lagi, ekspresinya lebih lembut.
“Aku juga… sering mikirin kamu, Raffael. Setelah kamu kuliah, jarang ketemu. Nindy cerita kamu lagi sibuk, badan semakin bagus, banyak cewek yang ngejar. Aku diam-diam senang dengarnya. Tapi aku juga… kadang merasa kesepian. Perusahaan sibuk, malam-malam sendirian di apartemen. Kadang aku buka foto lama di HP, liat foto waktu kamu masih SMA, lagi jail-jailin aku. Aku tersenyum sendiri.”
Aku merasa jantungku berdegup lebih kencang. Pengakuan itu seperti angin hangat yang menyapu dada.
“Jadi Tante juga notice aku ya? Bukan cuma aku yang diam-diam suka?”
Mira tersenyum malu-malu, tapi tetap elegan.
“Ya… aku notice. Kamu dulu anak kecil yang lucu, sekarang jadi pria tampan, tinggi 185 cm, bahu lebar, rahang tegas. Waktu Nindy kirim foto kamu lagi olahraga gym, aku zoom-in lama-lama. Aku mikir, ‘Wah, Raffael sudah dewasa banget’. Tapi aku langsung ingatkan diri sendiri — ini anak sahabatku. Nggak boleh.”
Aku memberanikan diri menyentuh punggung tangannya yang tergeletak di sofa. Sentuhan ringan, hanya ujung jari kami yang bersentuhan. Mira tidak menarik tangannya.
“Dan sekarang, Tan? Masih nggak boleh?”
Mira menatap tangan kami yang bersentuhan. Napasnya terdengar sedikit lebih cepat. Payudaranya yang besar naik-turun lebih jelas di balik blouse sutra, kainnya yang halus mengikuti gerakan napasnya.
“Aku… nggak tahu, Raff. Ini semua terlalu cepat. Tadi di meja bawah aku sudah deg-degan. Sekarang di sini, kamu bilang semua ini… aku merasa seperti remaja lagi. Deg-degan, tapi takut. Takut salah. Takut Nindy tahu. Takut… aku nggak bisa berhenti kalau sudah mulai.”
Aku mengusap punggung tangannya pelan dengan ibu jariku, gerakan kecil yang lembut.
“Aku juga takut, Tan. Tapi rasanya enak banget bisa ngomong jujur kayak gini sama Tante. Dulu aku cuma bisa ngimpi. Sekarang aku duduk di sini, deket banget sama Tante. Bisa liat mata Tante yang cantik, bisa cium aroma parfum Tante yang selalu aku suka, bisa… merasakan kehangatan Tante.”
Mira menggigit bibir lagi, kali ini lebih lama. Matanya menatap bibirku sebentar sebelum kembali ke mataku.
“Kamu berbahaya, Raffael. Godaan kamu nggak kasar, tapi… dalam. Aku yang seharusnya lebih dewasa, tapi kamu bikin aku merasa diinginkan lagi. Sudah lama banget nggak ada yang memuji aku kayak gini. Bukan cuma ‘cantik’, tapi detail… kayak bilang payudara aku, atau bilang suka aroma aku.”
Aku tersenyum nakal, tapi tetap lembut.
“Karena itu yang aku rasain, Tan. Tante punya tubuh yang ideal. Payudara besar tapi proporsional, pinggang ramping, kulit halus. Aku sering bayangin… maaf kalau terlalu berani… bagaimana rasanya memeluk Tante dari belakang, merasakan kehangatan tubuh Tante.”
Mira tersipu hebat. Wajahnya memerah sampai ke telinga. Dia menutup mulut dengan satu tangan sebentar, lalu tertawa gugup.
“Ya ampun, Raffael… kamu sekarang benar-benar berani. Dulu jailnya cuma tarik rambut, sekarang langsung bilang mau peluk dari belakang. Aku… aku nggak marah kok. Malah… anehnya, aku merasa tersanjung. Tapi kita harus pelan-pelan ya. Ini baru malam pertama ketemu lagi setelah lama. Jangan langsung… ke mana-mana.”
Aku mengangguk, tapi jari kami masih bersentuhan.
“Pelan-pelan, Tan. Aku janji. Aku cuma mau nikmati malam ini sama Tante. Ngobrol, ketawa, ingat-ingat masa lalu. Kalau Tante mau pulang sekarang, aku antar. Tapi kalau Tante masih mau di sini… aku senang banget.”
Mira menyesap winenya lagi, lalu meletakkan gelas. Dia menoleh ke arahku, matanya sekarang lebih berani.
“Aku masih mau di sini. Obrolan kita enak. Kamu bikin aku merasa muda lagi. Ceritain lagi dong… kenangan kamu yang paling kamu ingat tentang aku. Yang paling… bikin kamu deg-degan dulu.”
Aku tersenyum lebar, merasa pintu terbuka lebih lebar.
“Ada banyak, Tan. Satu yang paling kuat… waktu aku kelas 3 SMA. Tante datang ke rumah pakai gaun hitam panjang buat acara ulang tahun Ibu. Gaun itu pas banget di badan Tante. Payudara Tante terlihat penuh, pinggul Tante… wow. Aku duduk di sofa seberang, pura-pura main HP, tapi sebenarnya aku ngintip terus. Malam itu aku susah tidur, bayangin Tante terus. Bahkan… aku… maaf, Tan… aku masturbasi sambil bayangin Tante.”
Mira melebar matanya, tapi bukan marah. Ada kilau terkejut dan… tertarik di matanya.
“Raffael… kamu serius? Bayangin aku?”
Aku mengangguk jujur.
“Iya, Tan. Banyak kali. Aku bayangin Tante senyum ke aku, Tante peluk aku, Tante… lebih dari itu. Aku tahu itu salah, tapi nggak bisa berhenti. Tante terlalu cantik, terlalu sempurna di mata aku.”
Mira menghela napas panjang. Dadanya naik-turun lebih cepat sekarang. Blouse-nya terlihat semakin ketat di bagian dada karena gerakan itu.
“Aku… nggak tahu harus bilang apa. Itu… flattering sekaligus bikin aku shock. Aku nggak pernah nyangka anak kecil yang aku anggap lucu itu… mikirin aku kayak gitu.”
Dia diam sebentar, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, hampir bisik.
“Kalau aku jujur… aku juga pernah punya pikiran yang nggak seharusnya. Waktu kamu sudah kuliah, badan kamu semakin bagus. Aku liat foto kamu di IG, mikir ‘Raffael sudah pria dewasa’. Kadang aku bayangin… bagaimana kalau kamu bukan anak sahabatku. Tapi itu cuma sekilas. Aku langsung usir pikiran itu.”
Obrolan kami terus mengalir panjang. Kami bahas kenangan demi kenangan — dari ulah jailku yang konyol, sampai cerita Mira tentang bagaimana dia selalu merasa senang setiap kali Nindy cerita tentang aku. Waktu berlalu tanpa terasa. Gelas wine dan whiskey kami sudah hampir kosong.
Mira melirik jam tangannya.
“Sudah larut, Raff. Hampir jam 11 malam.”
Aku menatapnya dengan pandangan yang penuh harap.
“Masih mau lanjut ngobrol? Atau… Tante mau aku antar pulang?”
Mira menatapku lama. Ada perang di matanya — antara akal sehat dan hasrat yang mulai tumbuh.
“Kita… lanjut di mobil aja ya. Kamu antar aku pulang. Tapi obrolannya belum selesai.”
Aku tersenyum, merasa kemenangan kecil.
“Baik, Tan. Aku senang banget malam ini.”
Kami berdiri bersama. Saat Mira berjalan ke lift, aku mengikuti di sampingnya. Di dalam lift yang sempit, bahu kami bersentuhan. Aroma tubuhnya semakin kuat.
Mira melirikku dari samping.
“Malam ini… aneh tapi menyenangkan, Raffael. Terima kasih sudah jujur.”
Aku tersenyum, suaraku rendah.
“Aku yang berterima kasih, Tan. Karena mau dengerin semua pengakuan gila aku.”
Lift turun. Malam masih belum berakhir.
Dan kenangan lama yang terungkap malam ini baru saja membuka pintu menuju sesuatu yang lebih dalam.
ns216.73.216.105da2


