Pagi kedua Riko di kost Gang Melati Nomor 7 dimulai dengan aroma kopi tubruk yang harum dari dapur bawah. Matahari Surabaya sudah naik cukup tinggi, menyinari halaman depan yang basah sisa hujan semalam. Rina sudah bangun sejak pukul lima, seperti biasanya. Dia memakai daster katun tipis berwarna krem yang sedikit longgar di bagian dada, rambutnya diikat ponytail sederhana, dan wajahnya tanpa riasan berlebih—hanya bedak tipis dan lip balm yang membuat bibirnya terlihat lebih segar.
Pak Budi sudah berangkat sejak subuh tadi. Dinas ke Jakarta kali ini dijadwalkan dua minggu penuh. “Jaga rumah ya, Rin. Anak-anak kost jangan sampai ribut,” pesannya sebelum naik taksi online. Rina hanya mengangguk, mencium pipi suaminya sekilas, lalu kembali ke dapur. Rasanya lega, tapi juga kosong. Dua minggu tanpa suami di rumah berarti dua minggu dia sendirian mengurus semuanya—termasuk perasaan aneh yang mulai muncul sejak kemarin.
Di lantai atas, Riko turun dengan langkah ringan. Dia sudah mandi pagi, memakai kaos polo biru navy yang pas di badan dan celana cargo pendek. Tubuh mudanya terlihat segar, otot lengan yang terbentuk dari basket kampus samar-samar terlihat saat dia mengangkat tangan untuk merapikan rambut.
“Pagi, Tante Rina,” sapanya ramah saat masuk ke dapur. Matanya langsung mencari sosok wanita itu di depan kompor.
Rina menoleh, senyumnya langsung merekah. 1284Please respect copyright.PENANAljZ1QCHGCN
“Pagi, Nak Riko. Duduk dulu. Tante lagi goreng tempe sama nasi goreng spesial. Mau telur dadar juga?”
“Wah, enak banget itu, Tante. Saya mau semua,” jawab Riko sambil duduk di kursi makan. Pandangannya tanpa sadar melirik ke arah daster Rina yang saat membungkuk sedikit memperlihatkan belahan dada yang lembut. Kulit kuning langsat itu terlihat halus di bawah cahaya pagi.
Mereka sarapan berdua lagi. Penghuni kost lain sudah berangkat lebih pagi—ada yang kuliah pagi, ada yang kerja shift. Hanya mereka berdua di meja makan panjang itu. Obrolan mengalir ringan, tapi kali ini terasa lebih dekat. Riko bercerita tentang dosen killer di UNAIR yang suka memberi tugas mendadak, Rina tertawa sambil mendengarkan, tangannya sesekali menyentuh lengan Riko saat menekankan kata 1284Please respect copyright.PENANAOkXotqJJGi
“kamu harus sabar ya, Nak”.
Setelah sarapan, Riko membantu membereskan meja tanpa diminta. Mereka berdiri berdampingan di wastafel lagi, mencuci piring. Air mengalir dingin, tapi udara di antara mereka terasa hangat. Jari Riko menyentuh punggung tangan Rina saat mengambil gelas. Kali ini bukan tak sengaja—Riko sengaja membiarkan sentuhan itu bertahan sedetik lebih lama.
“Tante tangannya lembut ya,” gumam Riko pelan, hampir tak terdengar.
Rina tersentak kecil, tapi tak menarik tangannya. 1284Please respect copyright.PENANANWZINrTkOs
“Kamu bisa aja, Nak. Tante kan sudah tua, tangan kasar karena sering cuci piring.”
“Bukan tua. Justru… enak disentuh,” balas Riko, suaranya rendah. Matanya menatap Rina langsung.
Rina merasa pipinya panas. Dia cepat membalikkan badan, pura-pura menyimpan piring ke rak atas. Saat mengangkat tangan, daster-nya naik sedikit, memperlihatkan paha bagian dalam yang mulus. Riko menelan ludah, cepat mengalihkan pandangan ke jendela.
“Eh, Tante… hari ini saya ada kelas siang. Sore pulang agak telat. Boleh minta tolong cuciin baju kemarin? Saya belum beli deterjen,” kata Riko mengalihkan topik.
Rina mengangguk, masih agak gugup. 1284Please respect copyright.PENANAetC9cD9rrF
“Boleh, Nak. Taruh aja di keranjang cucian belakang. Tante cuciin sore nanti.”
Sepanjang pagi, Rina tak bisa konsentrasi. Dia membersihkan rumah, menyiram tanaman, tapi pikirannya selalu kembali ke sentuhan di wastafel tadi. Dia cuma anak kost, Rin. Jangan macam-macam, tegurnya diri sendiri. Tapi tubuhnya mengkhianati—setiap kali mengingat suara Riko yang rendah, ada getar kecil di perut bawahnya.
Sore hari, sekitar pukul lima, Riko pulang. Motornya masuk ke halaman, debu jalanan menempel di kaosnya. Rina sedang duduk di teras belakang, menyortir cucian. Keranjang baju Riko sudah dia ambil—beberapa kaos, celana dalam, dan handuk. Saat Riko mendekat, Rina sedang memegang sebuah kaos hitam Riko, mencium aroma keringat muda yang masih segar.
“Baru pulang, Nak? Capek ya? Tante sudah siapin air es di kulkas,” kata Rina cepat, meletakkan kaos itu kembali.
Riko tersenyum, mendekat. 1284Please respect copyright.PENANApjGMU3Dkud
“Makasih, Tante. Saya mandi dulu ya, baru bantu Tante angkat cucian ke mesin.”
Tak lama kemudian, Riko turun lagi dengan handuk melilit pinggang, dada telanjang masih basah. Tubuhnya yang atletis berkilau di bawah lampu teras. Rina yang sedang memasukkan baju ke mesin cuci, langsung terpaku. Matanya tanpa sadar menelusuri dada bidang itu, perut rata dengan garis otot samar, dan garis V yang menghilang ke bawah handuk.
“Maaf, Tante. Handuk saya basah, kaos kotor semua,” kata Riko santai, tapi ada nada nakal di suaranya.
Rina berdehem. “Ndak apa, Nak. Duduk dulu di kursi bambu situ. Tante ambilkan baju ganti dari kamar Tante—ada kaos suami yang kebesaran, tapi bersih.”
Rina masuk ke kamar utama sebentar, mengambil kaos oblong abu-abu milik Pak Budi. Saat kembali, Riko masih berdiri di dekat mesin cuci. Rina mendekat untuk memberikan kaos itu. Jarak mereka sangat dekat. Aroma sabun mandi Riko bercampur dengan bau tubuh hangat setelah mandi.
Saat Riko mengambil kaos, tangannya sengaja menyentuh jari Rina lebih lama. “Tante… baunya enak. Parfum Tante ya?”
Rina tersipu. “Cuma sabun colek biasa, Nak.”
Mereka diam sejenak. Mesin cuci mulai berputar pelan. Suara air dan getaran mesin menjadi satu-satunya suara di teras belakang yang sepi. Riko memakai kaos itu di depan Rina—gerakannya lambat, memperlihatkan otot lengan dan dada. Rina tak bisa berpaling.
“Tante duduk sini yuk, cerita-cerita. Saya bosan kalau sendirian di kamar,” ajak Riko sambil menarik tangan Rina pelan ke kursi bambu panjang.
Mereka duduk berdampingan. Paha Riko hampir menyentuh paha Rina. Angin sore bertiup, membuat daster Rina menempel di tubuhnya, memperlihatkan bentuk bra dan payudara yang masih kencang.
Obrolan mereka mengalir lagi. Riko bercerita tentang cewek di kampus yang suka ngejar-ngejar dia, tapi dia tak tertarik. 1284Please respect copyright.PENANAdGVAH2GzI2
“Saya lebih suka yang… matang. Yang punya pengalaman hidup,” katanya pelan, matanya menatap Rina.
Rina tertawa gugup.1284Please respect copyright.PENANABkP5sw6jqi
“Kamu genit sekali, Nak Riko. Tante sudah ibu-ibu, punya suami.”
“Tapi Pak Budi sering nggak di rumah kan? Tante pasti kesepian,” balas Riko langsung, suaranya lembut tapi menusuk.
Rina menunduk. Tangannya memilin ujung daster. 1284Please respect copyright.PENANArVz4tZz51l
“Iya… kadang sepi. Tapi sudah biasa.”
Riko menggeser duduknya lebih dekat. Bahu mereka bersentuhan. “Kalau Tante butuh teman ngobrol, saya selalu ada. Kamar saya deket kok.”
Tangan Riko terulur, menyentuh punggung tangan Rina yang berada di pangkuan. Sentuhan itu hangat, lembut, tapi penuh listrik. Rina tak menarik tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Dia bisa merasakan napas Riko di dekat lehernya.
“Nak… jangan begitu,” bisik Rina, tapi suaranya tak meyakinkan.
“Kenapa, Tante? Saya cuma pegang tangan,” jawab Riko polos, tapi ibu jarinya mengelus punggung tangan Rina pelan.
Mereka diam lama. Mesin cuci terus berputar. Cahaya sore mulai meredup. Rina merasa tubuhnya panas, ada kelembaban yang mulai muncul di antara pahanya—sesuatu yang sudah lama tak dia rasakan.
Akhirnya Rina bangkit pelan. 1284Please respect copyright.PENANAVeGHns11zv
“Ya sudah, Tante masak makan malam dulu. Kamu istirahat aja di kamar.”
Riko berdiri juga, tubuhnya hampir menempel. 1284Please respect copyright.PENANAX6SUbGrpss
“Boleh bantu Tante masak?”
Mereka masuk ke dapur bersama. Ruangan itu sempit, jadi tubuh mereka sering bersenggolan. Saat Rina mengiris bawang, Riko berdiri di belakangnya, mengambil garam dari rak atas. Dada Riko menyentuh punggung Rina sebentar. Rina tersentak, pisau hampir jatuh.
“Maaf, Tante,” kata Riko, tapi tak mundur langsung.
Malam itu makan malam terasa berbeda. Hanya ada Riko, Rina, dan satu penghuni cewek yang cepat selesai makan lalu naik ke kamar. Rina dan Riko makan pelan, saling tatap sesekali. Kaki mereka di bawah meja tanpa sengaja bersentuhan. Rina tak menarik kakinya.
Setelah makan, Riko naik ke kamarnya. Rina membereskan dapur sendirian, tapi pikirannya kacau. Dia naik ke lantai atas dengan alasan menjemur cucian yang sudah selesai. Di koridor depan kamar Riko, dia berhenti. Pintu kamar Riko terbuka sedikit.
Rina mengetuk pelan. 1284Please respect copyright.PENANASxE7lUrWVt
“Nak Riko? Cuciannya sudah kering. Tante jemur di balkon atas ya?”
“Masuk aja, Tante,” jawab Riko dari dalam.
Rina mendorong pintu. Riko sedang duduk di kasur, memakai celana pendek dan kaos longgar. Kamarnya sudah rapi, lampu tidur kuning menyala redup.
Rina meletakkan keranjang cucian di kursi. Saat membungkuk, belahan dadanya terlihat jelas dari sudut Riko. Pemuda itu menatap tanpa malu.
“Tante… duduk sebentar dong. Saya ada yang mau tanya,” kata Riko.
Rina duduk di tepi kasur, jarak mereka hanya tiga puluh senti. “Apa, Nak?”
Riko menatap matanya dalam. “Tante pernah ngerasa… pengen sesuatu yang baru? Meski sudah punya suami?”
Pertanyaan itu langsung mengenai sasaran. Rina terdiam. Matanya berkaca-kaca sedikit. “Nak Riko… kamu jangan tanya gitu. Tante sudah berkeluarga.”
“Tapi Tante cantik. Dan saya… suka sama Tante. Dari hari pertama,” aku Riko jujur. Tangannya terulur lagi, kali ini menyentuh paha Rina di atas daster, pelan sekali.
Rina menggigil. Sentuhan itu seperti api kecil yang menyala di kulitnya. Dia tak langsung menepis. “Ini nggak boleh, Nak… kita beda jauh umurnya.”
“Umur cuma angka, Tante. Saya nggak peduli. Saya cuma tahu Tante bikin saya deg-degan setiap lihat.”
Rina menarik napas dalam. Tangannya gemetar. Dia berdiri tiba-tiba. “Tante turun dulu. Kamu istirahat ya.”
Tapi saat berbalik ke pintu, Riko bangkit cepat. Dia memeluk Rina dari belakang—pelukan ringan, tangannya melingkar di pinggang Rina tanpa paksaan. Dada Riko menempel di punggung Rina. Rina bisa merasakan detak jantung pemuda itu yang cepat.
“Jangan pergi dulu, Tante. Peluk sebentar aja,” bisik Riko di telinga Rina. Napas hangatnya menyapu daun telinga wanita itu.
Rina membeku. Tubuhnya ingin melawan, tapi hatinya meleleh. Bau tubuh Riko yang muda, kekuatan lengan itu, semuanya terasa begitu… berbeda dari suaminya. Dia tak membalas pelukan, tapi juga tak menolak. Hanya berdiri diam, merasakan kehangatan itu merambat ke seluruh tubuhnya.
Beberapa detik kemudian, Riko melepaskan pelukannya pelan. “Maaf, Tante. Saya kelewatan. Tapi… saya serius.”
Rina berbalik, wajahnya merah. Matanya berkaca. “Kamu… jangan bilang siapa-siapa ya. Tante turun sekarang.”
Dia keluar kamar dengan cepat, tapi langkahnya goyah. Di tangga, dia berhenti sejenak, menyandarkan tubuh ke dinding. Tangan kanannya menyentuh pinggangnya sendiri, di tempat Riko tadi memeluk. Masih terasa hangat.
Malam itu, di kamar utama lantai bawah, Rina berbaring sendirian. Pak Budi menelepon sebentar, bilang sudah sampai hotel di Jakarta. Suaranya biasa saja. Setelah telepon ditutup, Rina mematikan lampu. Tapi tidurnya gelisah. Dia membayangkan pelukan Riko tadi, sentuhan di paha, bisikan di telinga. Tangan Rina turun pelan ke dada, meremas payudaranya sendiri melalui daster. Lalu lebih bawah, ke antara pahanya yang sudah basah.
Dia menghentikan diri di tengah jalan. Belum, Rin. Ini baru awal. Kamu harus tahan, batinnya. Tapi senyum kecil muncul di bibirnya dalam gelap.
Sementara di lantai atas, Riko berbaring telentang, tangan di belakang kepala. Dia tersenyum lebar. Bu Rina… dia merespons. Pelan-pelan aja. Besok lanjut. Tubuh mudanya penuh energi yang tertahan. Malam ini dia memutuskan untuk tidak “mengurus sendiri” dulu—biar rasa rindunya semakin besar.
Hari-hari berikutnya di kost itu berjalan dengan ritme baru. Setiap pagi sarapan bersama, setiap sore bantu-bantu di dapur atau teras belakang, setiap malam obrolan di kamar Riko yang semakin lama semakin lama. Sentuhan tak sengaja menjadi semakin sering dan semakin berani—tangan di pinggang saat lewat sempit, pelukan singkat saat tak ada orang, ciuman di pipi yang hampir meleset ke bibir.
Rina tahu ini berbahaya. Dia tahu ini selingkuh. Tapi untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia merasa diinginkan. Merasa cantik. Merasa hidup.
Dan Riko? Dia sabar. Dia tahu Bu Rina adalah wanita yang butuh dirayu pelan, bukan dipaksa. Dia menikmati setiap detik ketegangan itu.1284Please respect copyright.PENANA9j95ZSmNdP


