Hari kelima sejak Riko tinggal di kost Gang Melati Nomor 7 terasa berbeda. Pak Budi sudah tiga hari di Jakarta, dan kabar terakhir yang Rina terima hanyalah pesan singkat: 1196Please respect copyright.PENANA0CF5EbiIyz
“Di sini sibuk, pulangnya mundur seminggu lagi.” 1196Please respect copyright.PENANAEHdqcBeXrj
Rina membaca pesan itu sambil duduk di tepi kasur kamar utama, lalu meletakkan ponselnya dengan pelan. Rumah terasa lebih sepi, tapi justru itu yang membuat hatinya berdegup lebih cepat setiap kali mendengar langkah kaki Riko di tangga.
Pagi itu, Rina memutuskan untuk memakai baju yang sedikit berbeda. Bukan daster longgar biasanya, tapi tank top putih tipis yang biasa dia pakai di rumah saat sendirian, dipadukan dengan rok pendek katun berwarna hitam yang mencapai setengah paha. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya disisir rapi. Dia berdiri di depan cermin kamar mandi, melihat pantulan dirinya. Payudaranya yang besar terlihat lebih menonjol tanpa bra ketat, putingnya samar-samar terbayang di balik kain tipis. 1196Please respect copyright.PENANAZZ4RD1I8EA
Kenapa aku lakukan ini? gumamnya dalam hati, tapi dia tak mengganti baju.
Di dapur, aroma nasi goreng seafood dan telur mata sapi sudah menyebar. Riko turun tepat pukul enam tiga puluh, masih mengenakan celana pendek olahraga dan kaos tanpa lengan yang memperlihatkan lengan dan bahu atletisnya. Matanya langsung tertuju pada penampilan Rina. Dia berhenti sejenak di ambang pintu dapur, menelan ludah.
“Pagi, Tante… wah, Tante hari ini cantik sekali,” katanya langsung, suaranya rendah dan tulus.
Rina tersipu, tapi tak menutupi tubuhnya. 1196Please respect copyright.PENANAULKEwQD0ZQ
“Biasa aja, Nak. Duduklah, sarapan dulu sebelum kuliah.”
Mereka sarapan berdua lagi. Kali ini tak ada penghuni lain di rumah—semua sudah berangkat. Meja makan terasa lebih intim. Riko duduk tepat di sebelah Rina, bukan di depan seperti biasa. Paha mereka bersentuhan di bawah meja. Riko tak mundur, malah menggeser kakinya sedikit lebih dekat hingga lututnya menyentuh paha dalam Rina.
Saat Rina mengambil sambal, tangan Riko terulur membantu, dan jarinya sengaja mengelus punggung tangan Rina dengan gerakan lambat. 1196Please respect copyright.PENANA54BJdFcjkC
“Tante… kulitnya halus banget,” bisiknya.
Rina merasa getaran di perut bawahnya. 1196Please respect copyright.PENANAmyUzYENens
“Nak Riko… jangan mulai pagi-pagi,” katanya pelan, tapi suaranya sudah agak serak.
Riko tersenyum nakal. 1196Please respect copyright.PENANADOn1f4tkZ5
“Saya nggak mulai apa-apa, Tante. Cuma bilang jujur.”
Setelah sarapan, Riko membantu mencuci piring lagi. Dapur sempit membuat tubuh mereka sering bersenggolan. Saat Rina membungkuk untuk mengambil spons di bawah wastafel, rok pendeknya naik tinggi, memperlihatkan celana dalam hitam tipis yang membungkus bokongnya yang bulat dan kencang. Riko berdiri di belakangnya, tak bisa menahan diri untuk tidak menatap lama.
“Tante… bokongnya indah sekali,” kata Riko tiba-tiba, suaranya rendah.
Rina bangkit cepat, wajahnya merah padam. 1196Please respect copyright.PENANAjFOm12H22g
“Kamu… kurang ajar ya!”
Tapi sebelum dia bisa marah lebih lanjut, Riko sudah memeluknya dari belakang—pelukan yang lebih erat dari malam sebelumnya. Tangan kirinya melingkar di pinggang Rina, tangan kanannya diletakkan di perut, jari-jarinya mengelus pelan kain tank top tipis itu. Dada Riko menempel sempurna di punggung Rina, dan Rina bisa merasakan sesuatu yang keras dan panas di belakang roknya.
“Nak… lepasin,” bisik Rina, tapi tubuhnya tak bergerak menjauh. Malah, pinggulnya sedikit bergeser, merasakan tonjolan itu lebih jelas.
“Saya kangen peluk Tante dari kemarin,” bisik Riko di telinga Rina. Bibirnya hampir menyentuh daun telinga. 1196Please respect copyright.PENANAvi93LGdhJl
“Tante baunya enak… badannya hangat.”
Rina menggigil. Tangan Riko naik pelan, mengelus perutnya, lalu semakin atas hingga jari telunjuknya menyentuh bagian bawah payudara Rina melalui kain tipis. Puting Rina langsung mengeras, terlihat jelas menonjol di balik tank top.
“Riko… ini salah,” kata Rina dengan suara gemetar, tapi napasnya sudah mulai berat.
“Kalau salah, kenapa Tante nggak nolak?” tanya Riko sambil mencium leher Rina pelan, hanya kecupan ringan yang membuat bulu kuduk Rina berdiri.
Rina memejamkan mata. Sensasi bibir muda itu di lehernya terasa seperti listrik. Tangan Riko semakin berani—telapak tangannya sekarang merangkum payudara kiri Rina dari luar, meremas pelan, merasakan kelembutan dan beratnya yang sempurna. Jempolnya mengelus puting yang sudah keras.
“Ah…” desah Rina pelan, tak bisa ditahan.
Riko tersenyum di lehernya. 1196Please respect copyright.PENANA88BanoSYOD
“Tante suka ya?”
Rina tak menjawab, tapi tangannya terangkat dan memegang pergelangan tangan Riko, bukan untuk menariknya menjauh, melainkan menekannya lebih erat ke payudaranya. Riko meremas lebih kuat, merasakan puting itu semakin mengeras di antara jarinya. Tubuh mereka bergesekan pelan di depan wastafel. Tonjolan di celana pendek Riko semakin keras, menekan bokong Rina melalui rok tipis.
Mereka begitu selama hampir dua menit—Riko menciumi leher dan bahu Rina, tangannya bergantian meremas kedua payudara, sementara Rina hanya mendesah pelan dan menggigit bibir bawahnya. Kelembaban di antara pahanya sudah sangat terasa; celana dalamnya mulai basah.
Akhirnya, Rina mengumpulkan sisa akal sehatnya. Dia memutar tubuh, mendorong dada Riko pelan. Wajah mereka sangat dekat, napas saling bercampur.
“Cukup, Nak… Tante masih bisa mikir. Kamu berangkat kuliah sekarang,” kata Rina dengan suara parau, matanya berkabut nafsu.
Riko menatapnya intens, bibirnya hanya beberapa senti dari bibir Rina. 1196Please respect copyright.PENANA3lFKbjY8VC
“Tante… saya nggak mau kuliah hari ini. Saya mau di sini sama Tante.”
Rina menggeleng lemah. 1196Please respect copyright.PENANA5pCLZcGTFK
“Nggak boleh. Nanti dicariin dosen. Pergi dulu… nanti sore kita… ngobrol lagi.”
Riko menghela napas berat, tapi tersenyum. Dia mencium pipi Rina lama, hampir di sudut bibir. 1196Please respect copyright.PENANA22xqLK65YP
“Baik, Tante. Saya tunggu sore. Jangan pakai daster biasa lagi ya… Tante cantik pakai yang kayak gini.”
Rina mendorongnya pelan ke pintu. Saat Riko naik motor dan pergi, Rina bersandar di dinding dapur, tangannya menyentuh payudaranya sendiri yang masih terasa panas dari remasan Riko. Putingnya masih keras. Dia merasa malu, tapi juga sangat bergairah. Sudah bertahun-tahun suaminya tak pernah meremasnya seperti itu—with passion, dengan lapar.
Sepanjang hari, Rina tak bisa tenang. Dia membersihkan rumah dengan setengah hati, pikirannya penuh bayangan tangan Riko di tubuhnya. Siang hari dia mandi lama, tangannya tanpa sadar menyentuh bagian sensitifnya saat mengoles sabun, tapi lagi-lagi dia menghentikan diri. Tunggu sampai sore, pikirnya.
Sore pukul lima lebih, Riko pulang. Kali ini dia tak langsung mandi. Dia masuk ke dapur di mana Rina sedang memotong sayur untuk sup. Rina masih memakai tank top dan rok pendek yang sama. Keringat tipis membuat kain tipis itu semakin menempel di tubuhnya.
Tanpa kata, Riko mendekat dari belakang, memeluk Rina erat. Kedua tangannya langsung merangkum payudara Rina, meremas lebih berani dari pagi tadi. “Tante… seharian saya mikirin ini,” bisiknya serak.
Rina mendesah keras.1196Please respect copyright.PENANAKS6Ogf3IE7
“Riko… pintu depan belum dikunci…”
Riko cepat melepaskan satu tangan, berjalan ke pintu depan, mengunci ganda, lalu kembali. Kali ini dia memutar tubuh Rina menghadapnya. Mereka berpelukan erat, bibir Riko mencium leher Rina dengan rakus, turun ke bahu, sementara tangannya menarik tank top ke atas, memperlihatkan payudara telanjang Rina yang indah—putih kuning, besar, dengan puting cokelat muda yang sudah mengeras sempurna.
Riko menatapnya sejenak dengan mata lapar. 1196Please respect copyright.PENANAN3eFAWTPbd
“Cantik banget, Tante…”
Dia menunduk, mencium payudara kiri Rina, lalu menghisap putingnya dengan lembut tapi kuat. Lidahnya berputar di sekitar puting, menggigit pelan.
“Ahh… Riko… pelan…” desah Rina, tangannya memegang kepala Riko, menekannya lebih erat ke dada.
Riko bergantian ke payudara kanan, tangannya meremas yang satunya. Pinggul Rina bergesekan dengan tonjolan keras di celana Riko. Rina bisa merasakan ukuran dan panasnya—lebih besar dan lebih keras dari yang dia bayangkan.
Mereka bergerak ke ruang tamu tanpa melepaskan pelukan. Riko mendorong Rina duduk di sofa panjang, lalu berlutut di depannya. Tangannya membuka kancing rok Rina, menariknya turun bersama celana dalam sekaligus. Sekarang Rina duduk telanjang dari pinggang ke bawah, pahanya terbuka lebar di depan wajah Riko.
Rina malu, tapi nafsunya sudah terlalu tinggi. 1196Please respect copyright.PENANAf61V6BIEL9
“Jangan lihat lama-lama… Tante malu…”
Riko tersenyum. 1196Please respect copyright.PENANA2oAx8SPZYw
“Tante… ini indah sekali.”1196Please respect copyright.PENANA2yibNIy6p1
Dia mencium paha dalam Rina, naik pelan ke arah intimnya yang sudah basah mengkilap. Aroma kewanitaan Rina yang matang memenuhi hidungnya.
Saat lidah Riko pertama kali menyentuh klitoris Rina, wanita itu menggelinjang hebat. “Ahhh!” desahnya keras, tangannya mencengkeram rambut Riko.
Riko menjilat dengan ahli—lambat dulu, lalu semakin cepat. Dua jarinya masuk pelan ke dalam liang Rina yang hangat dan basah, bergerak keluar masuk mengikuti irama lidahnya. Rina menggeliat di sofa, pinggulnya naik turun mengikuti gerakan Riko. Payudaranya naik turun cepat seiring napasnya yang memburu.
“Riko… enak… ahh… jangan berhenti…” erang Rina. Suaranya sudah tak seperti ibu kost yang sopan lagi. Ini suara wanita yang kelaparan akan sentuhan.
Riko terus bekerja dengan tekun. Dia merasakan dinding dalam Rina yang berkontraksi, cairan yang semakin deras. Tak lama kemudian, Rina mencapai klimaks pertamanya—tubuhnya menegang, pinggulnya terangkat tinggi, dan dia menjerit pelan sambil mencengkeram kepala Riko kuat-kuat.
“Ya Tuhan… aku… keluar…” desahnya saat gelombang orgasme menyapu tubuhnya.
Riko tak berhenti sampai Rina mereda. Dia bangkit, melepas celana pendeknya sendiri. Penisnya yang muda, panjang, dan tebal melompat keluar—sudah sangat keras, ujungnya mengkilap cairan praejakulasi. Rina menatapnya dengan mata setengah terpejam, tangannya terulur menyentuh batang itu, merasakan denyutnya yang kuat.
“Besok… Tante,” bisik Riko serak.1196Please respect copyright.PENANAtS84DiSOuj
“Hari ini cukup sampai sini dulu. Saya nggak mau Tante nyesel terlalu cepat.”
Rina terkejut, tapi juga lega. Nafsunya masih membara, tapi akal sehatnya mulai kembali sedikit. Dia duduk, masih telanjang, dan memeluk Riko erat. Penis Riko menekan perutnya yang lembut.
“Kamu… baik sekali menahan diri,” kata Rina pelan, mencium dada Riko.
Riko tersenyum. “Saya mau Tante benar-benar mau. Bukan karena terbawa nafsu doang.”
Mereka berpelukan lama di sofa. Rina membantu Riko “mengurus” dirinya dengan tangan—gerakan naik turun yang lembut tapi cepat hingga Riko mencapai klimaks di tangan Rina, cairannya memercik ke perut dan payudara Rina.
Setelah membersihkan diri, mereka makan malam bersama seperti biasa, tapi dengan tatapan yang jauh lebih intim. Sentuhan kaki di bawah meja, ciuman singkat di pipi saat tak ada orang, dan janji diam-diam untuk besok.1196Please respect copyright.PENANAx7M5irABQa
Api di kost kecil itu sudah menyala lebih besar. Selingkuhan terlarang antara ibu kost berpengalaman dan pemuda penuh gairah baru saja memasuki babak yang lebih intens. Dan masih banyak malam-malam panjang di depan mereka.
ns216.73.216.105da2


